Frilla
Ia tidak bergerak. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ketakutan. Tidak ada apapun. Rasanya begitu lepas dari segala batasan di satu sisi, sekaligus terbelenggu dalam saat yang bersamaan. Bukankah tak ada yang mencengkramnya? Meski demikian ia terperangkap dalam kegelapan, sekitarnya sunyi. Dingin. Matanya tidak terpejam, namun tidak ada yang dapat dilihatnya. Terjaga. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Kekosongan, kehampaan, ketiadaan—dan dingin. Sejenak ia mengira tengkuknya akan bergidik, bibirnya bergetar dan tubuhnya jatuh lemas, namun ternyata tidak. Masih bergeming, tubuhnya tidak merasakan apa-apa. Tidak, ia bahkan tidak merasakan tubuhnya. Lantas darimana rasa dingin itu berasal? Dingin. Dingin sekali.

Dia—ada dimana?

Kedua bola matanya bergerak dalam gerakan yang terasa sangat perlahan, mengawasi sekitarnya. Masih sama. Tidak ada apapun. Atas, bawah, depan, belakang—ke arah manapun—yang ada hanya kegelapan. Seharusnya ia mulai merasa panik sekarang; memikirkan apa yang sedang terjadi, di mana dirinya, ke mana ia harus pergi... dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mustahil dijawab atau paling tidak melakukan sesuatu terhadap sinyal dingin yang terus menerus berdentang di dalam kepalanya tanpa makna yang jelas. Namun tidak dari keduanya berhasil ia lakukan. Lagi-lagi—satu-satunya yang terjadi hanya tidak terjadi apa-apa. Geming.

"Tidak ada,"

sang gadis mengibaskan rambutnya yang panjang; sebuah bandul berbentuk gembok kecil yang melingkar di sekitar lehernya kini berkilau tertimpa sinar matahari. Suara soprannya terdengar tenang ketika berucap, menjawab pertanyaan yang baru saja diajukan kepadanya. Sesaat kemudian ganti dirinya melemparkan kerlingan disertai senyum yang menarik pada lawan bicaranya, "mau mengajakku pergi?"

"Inginnya sih, begitu," ujar anak laki-laki di sisi si gadis dengan nada iseng, meskipun sedikit pengharapan dalam suaranya mungkin terdengar kalau ada yang benar-benar memperhatikan. Bola mata cokelatnya mengikuti gerakan tangan sang gadis sampai perhatiannya teralihkan pada bandul perak itu. Ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman puas di wajahnya sebelum ia akhirnya meneruskan kalimatnya.

“Anyway, kau tinggal di mana?
Apa aku harus datang ke sana dan memanjat menggunakan rambutmu untuk menculikmu saat liburan atau sesuatu seperti itu?”

Gadisnya tertawa kecil, menelengkan kepala dan kemudian menyeloroh dengan senyum manis tersungging di bibir, "Avallon, Perancis—eh, memangnya aku belum pernah cerita, ya?" Ia kemudian terdiam sesaat, sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain selama selang waktu tersebut sebelum mengeratkan genggaman pada tangan kekasihnya.

"Ibuku akan lebih suka kalau kau datang dengan cara yang normal, meski kuakui ide menggunakan trik Rapunzel itu boleh juga."

Dan gadis itu belum berhenti tersenyum.

Seperti sebuah film yang diputar di depan matanya, potongan ingatan itu bergulir begitu saja dan ia hanya mampu terkesiap. Bahkan sendirinyapun ragu, apakah ia benar-benar dapat menampilkan ekspresi 'terkesiap' dalam situasinya saat ini. Ada apa? Konon orang-orang mengatakan manusia akan mengingat kembali kenangannya yang berkesan selama hidup saat menjelang kematiannya. Bukannya ia ingin berspekulasi dengan menyatakan kenangan barusan adalah adegan berkesan dalam hidupnya, tapi toh gadis itu kini terpancang di tempatnya berdiri—kalau memang ia tengah berdiri dan sejak tadi belum dikategorikan dalam kondisi terpancang—dan merasa terpanggil untuk menyadari satu hal.

Maut—tengah menjemputnya.

Dan kenyataan ini belum cukup juga untuk mengembalikan nalurinya untuk bertahan—kalau memang fungsi tubuhnya itu masih ada—karena toh ia tetap tidak melakukan suatu apa yang berarti. Kalau saja masih bisa. Mungkin justru sudah terlalu terlambat baginya untuk menyelamatkan dirinya sekarang, atau simply she doesn't want to help herself from the very beginning. Kenyataannya ia sendiri yang mengantarkan raganya pada kematian, mengeluarkan jiwanya dari tempat dimana seharusnya bercokol, sekalipun tanpa dorongan yang jelas. Mungkinkah ada secuil penyesalan yang masih tersisa?


In my dearest memories—

"Michelle!"

—I see you reaching out to me

Tercekat. Sepertinya tidak menyangka sebentuk suara dapat menggema dari dalam kegelapan yang menyelimutinya, dan terlebih merupakan milik seseorang yang dikenalinya betul. Mungkinkah berasal dari dalam ingatannya sendiri? Kegelapan pekat yang membelenggunya mengendur sedikit, membawa suatu firasat akan datangnya sesuatu dari jauh. Mau tak mau kondisi ini membuatnya wajib membulatkan kedua bola mata lebar-lebar untuk dapat menyambut sesuatu yang diyakininya akan segera muncul—entah apa—sekalipun ia tidak ingin repot-repot memikirkan darimana firasat ini berasal mengingat merasakan saja ia sudah tak mampu. Namun... benarkah? Benarkah ia sudah tak bisa merasa lagi? Lantas mengapa berharap adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan keadaannya saat ini?

Ia menajamkan telinganya. Mendengarkan dengan seksama, menikmati suara-suara yang kian lama terdengar semakin nyata. Mendekat, mendekat. Ia tidak ingin—atau tidak bisa—memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya. Menyerahkan sepenuhnya jiwa miliknya pada tangan yang mengulur dan menjangkau. Pasrah dan mempercayai. Ia memejamkan matanya erat-erat, bersiap membebaskan diri dari ruang hampa yang kini perlahan melepaskan permukaannya. Bolehkah ia berharap bahwa takdir yang telah meninggalkannya, kini datang kembali untuk melarangnya melewati batas di belakang garis kegelapan ini?


Though you're gone,
I still believe that you can call out my name

Langitnya berkabut.

Penglihatannya yang mendadak mendapatkan cahaya kembali spontan memicing, berusaha menyesuaikan diri sebagaimana sekujur tubuhnya yang tengah terbaring memberontak ketika tanpa peringatan sekonyong-konyong disergap rasa beku dan nyeri. Ia melirihkan rintihan pelan melalui bibirnya yang membiru dan pecah-pecah, namun paru-parunya yang rupanya sudah siap ingin mengeluarkan genangan air di dalamnya—sehingga detik selanjutnya ia bangkit, membalikkan tubuh menghadap tanah dan langsung terbatuk-batuk tanpa henti selama beberapa lama. Nyaris membeku. Basah kuyup, bulu kuduknya meremang dan seluruh pori-pori tubuhnya terbuka—menyimpulkan secara keseluruhan kondisinya setelah separo tenggelam di dalam danau saat musim dingin jelas menyedihkan dan kritis, namun ia tidak dapat menyembunyikan perasaan yang mendekati rasa syukur dan bahagia karena mendapati seseorang berada di sisinya.

Bagaimana tidak? Sosok tersebut adalah satu-satunya orang yang ia butuhkan; orang yang diharapkannya untuk menyelamatkan—dan ia benar-benar muncul. Kalau bukan takdir, lantas ini pasti mukjizat.

Michelle terengah, berhasil mengeluarkan sebagian besar air yang sempat masuk melalui rongga mulut dan hidungnya. Masih dalam posisi menunduk, ia mengerling pada seseorang yang baru saja menyelamatkannya. Entah mengapa detik itu ia terpancing untuk menanggapi pernyataan pertama yang ditangkap telinganya begitu kembali menjejak ke alam sadar. "Begitu? Mungkin lain kali aku coba dengan pecahan kaca saja," Ia menyeloroh sambil lalu, tidak memedulikan suaranya yang terdengar parah—sengau dan diselingi batuk-batuk kecil. "setidaknya kelak tidak akan membuatmu ikut basah dan kedinginan."

Diam sebentar, ia menyeka dagunya dan balik berganti ke posisi duduk. Pandangannya bergerak mengamati kondisi Nate yang memang tidak lebih baik darinya—wajahnya sepucat Banshee, meski tentu saja tidak mengurangi ketampanan yang melekat pada diri remaja lelaki itu. Ia belum membuka mulut lagi, masih terlalu sibuk mengumpulkan keping-keping kesadarannya... atau melelehkan kembali isi otaknya yang membeku. Lebih tepatnya lagi, semakin ia dijejali fakta bahwa pemuda di dekatnya itu adalah orang yang pernah menjadi kekasihnya selama tahun sebelumnya, yang selalu membuatnya dipenuhi dengan perasaan campur aduk, dan baru saja rela mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya di tengah danau dengan suhu di bawah nol derajat—

—ia semakin tidak tahu harus mulai bicara dari mana.

Michelle duduk sambil memeluk kedua lututnya, menggosok-gosok lengannya yang menggigil dengan kedua telapak tangan. Meski kepalanya lurus menghadap ke arah danau, tatapan matanya masih belum beranjak dari sosok yang sama. Setengahnya sibuk memikirkan apa yang harus ia katakan, setengahnya lagi berusaha menebak apa yang tengah dipikirkan Nate. Bukannya tidak ada yang ingin ia bicarakan dengan pangerannya ini, justru sebaliknya—mulai dari apa kabar hingga mengapa ia bisa ada disini, mengapa ia menyelamatkan Michelle, bagaimana perasaannya sekarang...

In your dearest memories—

"Kenapa?"

—do you remember loving me?

Benar, ada satu pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan sejak mereka tidak benar-benar pernah bicara lagi semenjak hampir enam bulan lamanya. Pertanyaan itu terus muncul, tidak pernah berhenti merongrongnya. Selalu, selalu dan tak berhasil dijawabnya; sampai ia nyaris menyerah. Sekarang ia tahu, alasan mengapa tentu ia tidak bisa menjawab—Nate tidak pernah memberitahunya.

"Kenapa kita putus?"
0 Responses