Frilla

Fenrir
Jantan
Jenis: Eurasian Eagle Owl
Panjang sayap: 187 cm
Tinggi: 67 cm
Berat: 3.1 kg

The Eagle Owl is largely nocturnal and is found in mountains and forests with cliffs and rocky areas, usually nesting on cliff ledges. They live for around 20 years although like many other bird species in captivity they can live much longer, perhaps up to 60 years.

Although Eagle Owls are usually considered to be a bird of the wilderness, they have been observed hunting vermin on open landfills in Northern Europe. This poses a certain risk for the owls as any pollutants the rats they feed on have ingested may be enriched in the owls. Eagle Owls that hunt on landfills have also sometimes been seen flying with waste entangled around their feet.

Label: 0 komentar | edit post
Frilla
“I just want to be happy, Nate—please?”


“Dimana kakakmu?”
“Hee? Siapa?”

Gurat-gurat kemarahan tampak jelas di wajah wanita berambut keemasan itu—suaranya terdengar bergetar sedikit ketika berkata lagi, “aku tahu kau pasti ada hubungannya dengan semua ini, Nathan. Di mana Gisselle?”

“Saa…”—who knows? Wajah laki-laki itu tidak tampak peduli—hanya mengangkat bahunya sedikit tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari buku yang baru ia beli di salah satu toko majalah di dekat hotel Karuizawa yang mereka tinggali.

“Nathan—I swear, if you don’t tell me right away—“

“Berisik. Mana aku tahu kemana Gisselle pergi—aku bukan orang tua yang bertugas mengawasinya—bukankah seharusnya itu tugasMU.“


“Nathan—kau yang paling dekat dengan Gisselle, kau pasti tahu kakakmu ada di mana sekarang—kan?”

“Aku tidak tahu, Ayah,” ujar Nate tanpa benar-benar menatap mata ayahnya. Maaf, tapi ia sudah berjanji pada Gisselle—dan Merlin tahu ia tidak pernah mengingkari apa yang sudah ia janjikan.

“Benarkah?”

“T-tentu saja, untuk apa aku berbohong!”

“Begitu. Aku kecewa padamu, Nathan.”


“Kau—memuakkan.”

“Berisik! Mau apa lagi sekarang?! Belum puas memakiku, eh?”

“Semuanya—Gisselle menghilang—semua ini karena kau... Kenapa bukan kau saja yang pergi dari sini?!”

“Apa hubunganku dengan ini semua—dia sudah cukup besar untuk memilih jalannya sendiri—bagaimana mungkin itu salahku?!”

“Pasti kau yang menanamkan ide-ide gila itu dalam otaknya—anak kotor, seharusnya aku tahu di dalam pikiranmu pasti kau merencanakan rencana gila!”

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Berhenti berkata seolah kau mengenalku!”



Nate menatap gadis di depannya—menunggu jawaban dari pertanyaannya yang tidak pernah terjawab. Kenapa ini berakhir seperti ini—apa yang ia sudah melakukan sesuatu yang salah…? Matanya terlihat hampa—tapi seringai angkuh di bibirnya tetap bertahan. Ia tidak mengerti—tolong.seseorang.jelaskan. Setan mana yang berani mengusik Nate? Kepalanya terasa penuh. Ayah. Ibu. Miranda. Gisselle. Cassandra. Sylar. Szent. Michelle. Apa semua ini belum cukup? Tidak mau, tidak bisa. Don’t leave… Apa salahnya—kenapa semua orang, semua—apa ia begitu memuakkan hingga pantas ditinggalkan. "Sorry for always getting in your way—won't happen again, for sure." Nate mengangkat alisnya dengan ekspresi tenang. Kosong. Ia tidak pernah mengerti apa yang terjadi padanya—semua bertubi-tubi datang dan pergi. Semua orang pada ahirnya meninggalkannya begitu saja—karena ia tidak cukup berarti. Pada akhirnya ia hanya mengibas-ngibaskan tangannya dengan ekspresi yang bisa dikatakan bosan dan berkata acuh tak acuh, “fine, fine. Whatever.”

Ia membungkuk dan mengambil headphone putihnya yang tadi terjatuh. Menggantungkannya di sekeliling lehernya sebelum pemiliknya merapikan t-shirt garis-garisnya yang sedikit berantakan tadi. Matanya melirik ke arah benda mengkilap yang tergeletak di lantai begitu saja. Perlahan ia memungut benda itu—wajahnya tetap tidak menampakan emosi. Hanya senyum angkuh tidak wajar seolah tubuhnya hanya bertindak sesuai memori saja—tanpa perasaan.

“Whatever. You’re still mine anyway. That, you promise me.”



I want to wipe away the moment,
But I want to cling to it all the same.
I don't understand myself.


Anak laki-laki berumur dua belas tahun itu membawa sebuah tas hitam yang dipegangnya melewati bahunya. Sebuah t-shirt bergaris-garis putih hitam yang tidak terlalu ketat ataupun longgar membalut bagian atas tubuhnya, berhenti tepat di atas ikat pinggang bewarna hitam yang menahan celana jeans gradasi abu-abunya. Sebuah wristband bewarna hitam membelit pergelangan tangan kanannya yang menggenggam tas Mon Blanc hadiah dari ayahnya sebelum pergi berlibur di musim panas. Di kepalanya, sebuah headphone bewarna putih berdiam mencolok di antara rambut cokalat gelapnya—tanpa mengalunkan musik. Hanya bertengger di sana tanpa suara—seolah memberikan ketenangan yang dibutuhkan pemiliknya untuk berpikir.

Drap. Drap.

Langkahnya berderap sepanjang koridor yang sunyi—hanya terdengar suara celoteh riang dari pintu-pintu kompartemen yang penuh. Dahi anak itu sedikit berkerut—tahun kemarin ia adalah salah satu yang mengeluarkan tawa riang itu. Kenapa sekarang rasanya untuk tersenyum pun sudah sulit—eh? Sesak. Dan semua ini karena orang-orang brengsek yang merusak semua kesenangannya—menjatuhannya ke jurang terdalam. Bibirnya mengatup hingga membentuk garis tipis, matanya menatap tajam ke pemandangan di luar jendela—seakan-akan penyebab semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini ada di luar kereta. Menertawakannya dengan raut muka puas. Entah kenapa—di dalam pikirannya terlihat sosok Miranda yang tersenyum puas dan Mic—Solathel yang juga sedang tertawa mencemooh. Yang benar saja. Nate mendengus kesal, kalau ada yang harus tertawa—ialah yang akan melakukannya.

I dreamed a world in my childhood.
I was born to make it come true.
I'm a baby, and I want to cry.


Ia membuka pintu kompartemen yang tampak masih sepi dan menemukan beberapa orang yang sudah ada lebih dahulu. Sienna dan Szent. Bocah itu memajukan bbirnya dan membuang muka begitu melihat Szent—duduk di samping gadis yang mengenakan kemeja dan rok putih pura-pura tak melihat salah satu sahabatnya ada di sana. Kok, mereka—ia dan Sienna obviously—bisa-bisanya kembaran dengan warna hitam putih begini, ya? Meskipun celana jeans-nya bewarna abu-abu, sih. Ia mengangkat bahu dan menoleh ke arah Sienna—siap untuk menyapanya seperti biasa hingga ia melihat mata sepupunya itu. Sienna itu… sahabatnya kan? Apa dia juga akan mengambil Sienna dari Nate—meninggalkannya lagi seperti yang ia lakukan barusan?

Tangannya merayap ke liontin berbentuk anak kunci yang masih bergantung dengan bangga di sekeliling lehernya. Tenggorokannya tercekat—ia memaki dalam hati sementara pandangannya jatuh ke lantai. Apa gunanya memiliki kunci yang tidak bisa dipakai? He feels lost. Seolah ia sedang mencari sebuah pintu keluar di dalam sebuah labirin—kuncinya sudah ada di tangannya, namun ia tidak dapat menemukan pintu yang dimaksud.

Nate meletakan tas hitam di tangannya di kursi sebelahnya—perlahan mengalihkan pandangannya ke wajah sepupunya. Don’t leave me. Mungkin ia memang tidak pantas memiliki siapa-siapa, tapi setidaknya—jangan biaran ia sendiri. Anak laki-laki yang biasanya berwajah angkuh itu mengangkat tangannya dan menarik pelan kemeja bagian lengan gadis di sebelahnya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu gadis itu tiba-tibat—wajahnya tidak terlihat di balik potongan rambutnya yang cukup panjang dan bewarna gelap itu. Bisikan pelan hampir tidar terdengar keluar dari bibir anak laki-laki yang mengesampingkan tingkahnya yang biasanya selalu mendatangkan akibat buruk itu—sebenarnya tetaplah seorang anak kecil, “Sien… it hurts…”

But if I have to take this pain
To make my dreams come true,
It's not so bad...





Nate menyandarkan diri di dinding koridor berpenerangan remang-remang itu. Pintu masuk ruang rekreasi asrama tidak begitu jauh darinya—tapi ia ingin diam dulu di situ untuk beberapa saat. Meskipun malam sudah larut—ia hanya mengenakan t-shirt bewarna hitam meskipun malam sudah larut, sweater cashmere warna perak kesayangannya tersampir di bahunya. Hadiah ulang tahun yang diberikan ibunya. Kepalanya terasa berat—mungkin akibat kurang tidur beberapa akhir ini. Fenrir—burung hantu elangnya—belum membawa kabar apa-apa dari rumah. Apa ia benar-benar sudah dibuang sekarang? Bagus. Sangat bagus. Sampai muak rasanya.

Nate mengacak-acak rambutnya dan mendesah pelan sebelum akhirnya melangkah memasuki ruang rekreasi. Tempat itu sudah sepi—seperti yang sudah sewajarnya. Anak itu menatap sekelilingnya dengan wajah cengo—seolah menunggu seseorang melompat dari balik kursi dan berkata ‘Kejutan! Semua ini hanya lelucon!’. Tidak lucu. Pikirannya seperti bercabang-cabang—ia mulai berpikir ia bisa gila kalau terus menerus seperti ini. Terserah. Tidak peduli. Kalaupun ada banshee mengerikan yang muncul tiba-tiba dari balik sofa dan mencekik lehernya sampai mati kehabisan nafas, mungkin yang Nate katakan hanyalah terima kasih. Setidak waras itulah ia saat ini. Matanya menatap sosok sesuatu berambut panjang—bukan banshee, sayangnya. Tapi lebih baik lagi—atau lebih buruk? Ia tidak yakin. Tapi toh laki-laki berambut kecoklatan itu tetap mendekat dengan cengiran angkuh yang sudah menjadi trademark-nya.

“Menungguku pulang sampai selarut ini? Ck, ck... Michelle memang calon istri yang baik,“ ujarnya dengan wajah sok prihatin seolah tidak ada yang berubah di antara mereka. Seolah. Right. Nate melangkah ke arah asrama siswa—sebelum ia berhenti dan menatap sweater perak di bahunya beberapa saat. Cashmere buatan Perancis—kata Gisselle cukup mahal, lembut dan terlihat classy. Sweater kesayangannya. Nate mengernyit sesaat sebelum akhirnya berbalik dan melemparkan benda itu ke arah gadis berambut ikal yang entah kenapa masih ada di tempat itu. Menunggunya? Tidak mungkin—ia terlalu banyak bermimpi. Anak laki-laki itu meneruskan langkahnya ke asramanya—tidak berbalik untuk melihat bagaimana reaksi gadis itu.
Frilla
Bocah sebelas tahun itu—bukan, hampir dua belas tepatnya, hanya tinggal beberapa bulan lagi—merapatkan jaket abu-abunya yang cukup tebal hingga membuat tubuhnya tampak lebih besar daripada yang seharusnya. Alisnya mengernyit sedikit, tampak tidak terkesan dengan keadaan di sekitar jalan yang dilaluinya—kenapa ia mau merepotkan dirinya sendiri dengan melewati tempat yang seperti ini Nate sama sekali tidak tahu. Anak laki-laki berambut kecoklatan itu mengangkat bahunya sedikit dan mulai menyusuri jalannya menuju ke kastil, sesekali menepis salju yang jatuh di atas kepalanya dengan tidak sabar. Sarung tangan hitam yang dipakainya rasanya hampir-hampir tidak bisa menahan dinginnya cuaca hari itu, atau mungkin kondisi tubuhnya memang sedang tidak cocok untuk berjalan di tengah salju begini.

Matanya yang cokelat menyusuri lautan salju yang terhampar di depannya. Ada yang membuat orang-orangan salju—entah siapa yang kurang kerjaan begitu. Seulas senyum kecil muncul di wajahnya. Pikirannya menelusuri kenangan beberapa tahun yang lalu, di hari bersalju seperti kali ini—beberapa hari menjelang Natal ketika untuk pertama kalinya, Ayahnya menghabiskan waktu satu hari penuh hanya untuk Nate seorang—dan keluarga yang lain sebenarnya, tapi sampai sekarang Nate tetap menganggap hari itu sebagai hari miliknya dan ayah, berdua saja. Beliau menemaninya bermain perang salju di halaman, meskipun awalnya pria itu sempat ingin menolak dan terlihat kaku. Ia ingat ketika itu ia yang masih berumur lima tahun sangat gembira karena ia berhasil membeli waktu ayahnya.

“Ayah, berapa uang yang ayah hasilkan dalam waktu satu jam?”

Pria itu mengangkat wajahnya dan mengerutkan dahinya, menatap putra tunggalnya dengan tatapan tidak sabar. Pertanyaan macam apa itu, apa anak itu tidak bisa melihat bahwa ia sedang sibuk? “Untuk apa kau menanyakan pertanyaan macam itu?”

“Um... hanya ingin tahu.”

Odien menarik nafas panjang. Ia tahu ia bersikap tidak adil kalau ia sampai mengusir anak itu hanya karena merasa Nate mengganggunya. “Mungkin 100 Galleon.”

“Oh—“ mungkin Odien salah dengar, tapi ia merasa mendengar nada kecewa dalam ucapan anaknya “—boleh aku minta 45 Galleon, ayah?”

Ketidak sabarannya meluap lagi. Ia menatap putranya dengan dingin dan berkata keras, “kalau kau hanya mencoba untuk mendapat uang saku tambahan, itu tidak akan berhasil, Nathan. Kembali ke kamarmu.”

“Tapi—“

“Kembali ke kamarmu!”

Pria itu menatap kepergian putranya yang tampak lesu dengan sedikit bersalah. Ia tidak bermaksud sekeras itu—tapi akhir-akhir ini pekerjaannya menumpuk dan ia merasa tidak punya waktu untuk menghadapi omong kosong anak kecil. Odien memijat-mijat pelipisnya dan mendesah pelan. Mungkin Nate memang memerlukan uang itu, mungkin anak itu ingin membeli sesuatu yang penting.

Ini bukan sifatnya, tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi mendatangi putranya. Krieet. Pintu terbuka menampilkan kamar anak-anak yang didominasi warna laut, suara tarikan nafas yang terdengar memberitahunya bahwa anak itu belum tidur. “Nate, maaf soal yang tadi. Ini 45 Galleon yang kau minta.”

Sosok di tempat tidur berbalik—senyum yang muncul di wajah bocah lima tahun itu membuatnya hampir ikut tersenyum, meskipun rasa itu hilang seketika melihat Nate menarik kantung dari bawah bantalnya yang ketika dibuka berisi kepingan galleon. Kemarahannya muncul ke permukaan lagi, “kalau kau sudah memiliki uang, kenapa kau minta lagi?!”

“Tadi uangku belum cukup, tapi sekarang sudah,” jelas anak laki-laki itu dengan cengirannya yang khas dan mata penuh kegembiraan.

“Ada 100 Galleon, boleh aku meminta ayah untuk pulang satu jam lebih awal besok? Aku ingin merayakan natal dengan ayah.”


Sudah jadi rahasia umum bahwa Nate menghormati dan menyayangi ayahnya lebih dari siapapun. Tapi kejadian itu—titik balik dari keakraban mereka—adalah rahasia kecil mereka berdua. Senyumnya tetap bertahan kalau tidak semakin lebar mengingat tahun-tahun ke belakang, beberapa hari sebelum Natal waktu ia menghabiskan waktu bersama keluarganya. Mereka berenam adalah keluarga yang sempurna, Nate tidak bisa membayangkan keluarga yang lebih akrab dibandingkan mereka. Paling tidak, waktu itu. Sampai semuanya mulai berubah, sampai ia akhirnya mengerti apa maksud dari semua perkataan—sikap, semua kebenaran dan fakta yang selama delapan tahun terkunci rapat-rapat.

Kenapa—kenapa ia harus memiliki darah terkutuk ini?

Senyum miris muncul di wajahnya. Sesaat ia menatap langit yang kelabu, seolah ingin tenggelam di dalamnya—melupakan kenangan yang paling ingin ia hapus dari memorinya.

Di akhir usianya yang kesembilan, Nate baru mengerti betapa besar kekuasaan yang di bawanya dalam namanya. Betapa besar pengaruh yang ia timbulkan dengan hanya satu kalimatnya. Kejadiannya waktu ia dimasukan ke dalam sekolah muggle, setelah tragedi yang menimpa keluarga Lazarus—dan juga setelah Nate mengetahui tentang darah terkutuk yang mengalir dalam dirinya. Satu hal yang tidak berubah adalah hubungan Nate dan ayahnya—dan ia bersyukur untuk hal itu. Suatu ketika Nate mengeluh pada ayahnya bagaimana seorang gurunya bersikap tidak adil dengan menghukumnya—apa alasannya ia sudah lupa—dan bagaimana anak itu tidak menyukainya.

"I hate her, father."

Besoknya ia tidak pernah melihat atau mendengar tentang guru itu lagi. Tampaknya Odien menganggap bahwa tindakan kecil melawan anaknya adalah penghinaan terhadap nama keluarganya, sehingga ia sendiri yang memastikan—dengan uang dan kekuasaan yang ia miliki—bahwa guru itu tidak akan pernah mengajar lagi—sesuatu yang sangat ekstrim untuk sesuatu yang sangat sepele, namun Odien memang tidak dikenal karena kebaikan hatinya. Sisi itu, hanya ia tunjukan pada keluarga dan sahabat keluarga. Di lain waktu, ketika Nate dan duo S—yang juga masuk ke sekolah yang sama—memukul beberapa siswa yang mengejek mereka—mereka mengatai Szent dan Sylar anak yatim dan berkata Nate, Sylar, dan Szent tidak bisa apa-apa kalau ayah mereka tidak ada—gurunya sama sekali tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya tersenyum dengan wajah sedikit ketakutan dan meminta mereka tidak melakukan hal seperti itu lagi. Pengaruh ayahnya sebagai donatur terbesar—bersama dengan Lazarus dan Istvan—membuat Nate merasa superior, ia tahu ia bisa melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa ada seorang pun yang merintangi jalannya.

Ia adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi pusat dari seluruh dunia—atau begitulah yang ia coba tanamkan dalam dirinya sendiri. Satu-satunya cara agar ia bisa melupakan keberadaan darah terkutuk yang mengaliri nadinya—satu-satunya cara agar ia bisa menerima eksistensinya tanpa merasa bahwa ia adalah anak yang tidak pantas hidup. Ini rahasia terbesarnya—ini rahasia yang ia kunci rapat-rapat sehingga tidak akan ada seorang pun yang tahu, agar dunia tidak membuangnya—agar keberadaannya tetap memiliki arti meskipun semu. Darah terkutuk ini...

Nate memejamkan matanya sesaat sebelum menyusuri jembatan yang seolah mengejeknya dengan mengatakan bahwa takdirnya pun akan berjalan lurus—ia tidak bisa lari, ia hanya bisa memperlambat langkahnya untuk mencapai akhir yang sudah ditentukan. Accursed.
Frilla
Nama: Nathan Kehl Harvarth
Asrama: Slytherin
Tahun ajaran: 1978-1979

ALASAN MENGAPA AKU MENGACAU


Alasan mengapa aku mengacau di pesta Hufflepuff adalah karena aku mau. Aku mau jadi aku melakukannya. Simpel saja. Tapi kalau hanya ini, esainya belum mencapai 10 inchi, jadi akan aku pikirkan alasan lain. Alasan lainnya adalah karena warna asrama itu kuning. Kuning, demi Salazar. Maksudku, siapa sih, orang yang memakai warna kuning? Memangnya mereka pisang apa, mau saja dengan warna kuning-kuning norak begitu. Warna mencolok yang bikin mata katarak itu, apa tidak bisa warna asrama itu diganti dengan yang lebih kalem? Meskipun warna merah juga cukup mencolok, tapi paling tidak—tidak membuat sakit mata.

Alasan lain lagi, karena mengacau terdengar menarik. Anggap saja sebagai pembalasan karena Mbah Suprapto tidak mau mengajarkan mantra HumbadaHumbada padaku, jadi kupikir akan menyenangkan kalau aku sendiri saja yang membuat bunyi-bunyian aneh yang DhuarDhuar begitu—yang meskipun jauh dari Humbada, tapi paling tidak feel-nya masih ada. Aku juga ingin mencoba kostum ranger yang keren itu, apalagi aku mendapat warna merah (meskipun itu warna Gryffindor) yang notabene-nya selalu menjadi pemimpin dalam super sentai. Aku jadi merasa seperti Gorou Sakurai atau lebih dikenal sebagai Spade Ace dalam ranger formnya. Tahu tidak kalau serial J.A.K.Q. sudah hampir tamat? Semoga ada seri baru yang lebih seru sebagai penggantinya. Teknologi muggle memang terkadang cukup berguna.

Belum 10 inci, ya? Ah, alasan yang terakhir mungkin supaya kelihatan keren. Naik sapu, mengenakan kostum, lalu mengatakan hal-hal yang terdengar keren. Ha, seperti antagonis dalam film bukan? Biasanya peran antagonis itu lebih keren daripada peran baik, pengecualian dalam film super sentai. Aku jauh lebih keren daripada monster-monster itu. Ah, lagipula yang lain juga tampak antusias dengan kegiatan kali ini, apa masalahnya, sih? Bukankah bagus kalau asrama kita semakin kompak?
Frilla

ODIENEER HYPERION HARVARTH
((visualisation: Hayden Christensen ))
Pureblood
Oslo, Norwegia
25 Desember, 43 yrs


Tongkat Sihir : Elm, nadi jantung naga, 13,5 inchi
Nama Ayah : Sverrir Ormr Harvarth (PB)
Nama Ibu : Cammile Bruadarr Harvarth nee. Chevarone (PB)
Nama Saudara :
Thorr –adik (PB)
Sigurd –adik (PB)
Sindri –adik (PB)

Personaliti : tegas, perfeksionis, kaku di depan kebanyakan orang namun bisa menjadi sosok yang humoris di depan anak-anaknya, sosok pria yang kebapakan dan sangat menjunjung tinggi keluarganya

Bakat & Kekurangan : pengusaha yang sukses, tipe yang lebih memilih untuk merencanakan daripada melakukan, seorang jenius dengan IQ di atas rata-rata


Meskipun berada dalam lingkungan keluarga darah murni, tapi keluarga Harvarth yang memang memiliki pandangan berbeda dengan keluarga darah murni kebanyakan, tidak membanggakan status darah mereka. Dan meskipun mereka memang menikahi sesama darah-murni, itu lebih dikarenakan oleh kedudukan keluarga tersebut. Menurut mereka, tidak peduli bahwa orang itu adalah penyihir berdarah murni, kelahiran muggle, atau muggle, yang terpenting adalah kedudukan orang itu dalam masyarakat. Pandangan itu juga yang menurun kepada Odin, sehingga ia tidak membeda-bedakan status darah dari kecil.

Pernikahannya dengan Arianna di usinya yang ke 23, adalah pernikahan yang diatur oleh kedua orang tuanya. Dengan alasan menyatukan dua keluarga besar itu untuk membina hubungan baik diantara keduanya. Mengingat keluarga Duske adalah keluarga penyihir yang terkenal di Itali dan pernikahan itu bisa menjembatani hubungan bisnis antara penyihir Norwegia dengan Italia. Meskipun lambat laun ia memiliki perasaan pada istrinya itu, sampai mereka memiliki dua orang putri. Beberapa tahun setelahnya, ia bertemu dengan Freedreth. Ia sangat tertarik pada pribadi wanita muda itu sehingga tanpa sadar ia juga jatuh cinta padanya, meskipun ia juga tetap mencintai istrinya. Tapi ia sedikit kecewa pada Arianna yang hingga saat itu belum bisa memberikannya anak laki-laki.Sehingga ia senang sekali pada waktu Freedreth dikatakan mengandung anak laki-laki. Meskipun pada akhirnya wanita itu mengorbankan nyawanya untuk anak itu.

Ia kerap kali merasa bersalah pada Arianna, namun ia juga tidak menyesalinya. Sebab kalau bukan karena Freedreth, ia tidak akan memiliki Nathan sebagai anaknya.




ARIANNA DALMACE HARVARTH nee. DUSKE
((visualisation: http://intergalacticstock.deviantart.com))
Pureblood
Surrey, England
16 Juni, 39 yrs


Tongkat Sihir: Walnut, pembuluh nadi naga, 12 inchi
Nama Ayah: Aloysius Cathal Duske (PB)
Nama Ibu: Sabina Elba Duske nee. Gaetanna
Nama Saudara:
-Benvennuto –kakak (PB)
-Luana –adik (PB)

Personaliti: Angkuh dan tegas, wanita mandiri yang sangat mendambakan keluarga yang sempurna, anggun, menyukai kerapihan, lembut namun tetap bisa marah ketika ia menginginkannya, menghargai status darahnya.

Bakat & Kekurangan: Seorang Lady di antara Lady, tuan putri dari keluarga terhormat yang sangat menghargai kesopanan, suka membaca sehingga pengetahuannya luas.

Keterangan lain: Meskipun awalnya pernikahannya dengan Odin hanyalah sekedar kesepakatan bisnis di antara keduanya, Arianna dengan cepat jatuh hati pada kepribadian tegas yang dilihatnya pada diri Odin. Pernikahan yang bahagian hingga Miranda dan Giselle lahir. Sejak kedua putrinya lahir, beberapa kali ia mengandung namun semuanya keguguran sebelum waktunya. Hal itulah yang membuat suaminya yang sangat menginginkan putra yang kelak akan mewariskan namnya, akhirnya berpaling pada Freedreth. Arianna membenci Nate karena ia menganggap Freedreth sebagai penghancur rumah tangganya, meskipun sebenarnya dalam hati ia memiliki sedikit rasa sayang pada Nate. Namun karena anak itu bertingkah ugal-ugalan dan tidak tahu aturan, semakin membuatnya memiliki alasan untuk membenci anak itu.

Kegiatan sehari-harinya adalah mengurus salah satu anak perusahaan keluarganya dan suaminya. Selain itu ia juga sibuk mengurus acara amal yang sering diselenggarakan oleh perkumpulan penyihir wanita bangsawan Eropa. Meskipun jarang berada di rumah, sama seperti suaminya ia tetap berusaha untuk meluangkan waktunya untuk anak-anaknya.




MIRANDA SEVILLENNE HARVARTH
((visualisation: http://intergalacticstock.deviantart.com))
Pureblood
Paris, Perancis
4 Januari, 19 yrs


Tongkat Sihir: Ash, hati basilisk, 10 inchi
Nama Ayah: Odieneer
Nama Ibu: Arianna
Nama Saudara: Gisselle, Nathan, Cassandra

Personaliti: intelek dan anggun, sangat memuja ibunya sehingga sering meniru tingkah lakunya tanpa tahu alasannya, dewasa , namun kolot dan tidak berpikiran terbuka, agak tidak sabaran.

Bakat & Kekurangan: suka membaca buku dan memiliki ingatan yang kuat, pintar dalan transfigurasi, karena lebih mementingkan logika ia tidak memiliki feel yang tepat sebagai ahli ramuan.

Keterangan lain: Miranda sangat menghormati ibunya, bisa dibilang memuja. Sosoknya pun sangat mirip dengan ibunya, perbedaannya hanya pada warna rambutnya yang lebih cokelat sementara ibunya sedikit pirang. Ia bisa melihat ketidak sukaan ibunya pada Nate yang membuatnya juga tidak menyukai adiknya itu tanpa alasan yang benar-benar jelas. Meskipun setelah dia lebih tua, dia menyadari bahwa Nate bukan benar-benar saudaranya. Dan ia juga akhirnya mengetahui bahwa kehadiran Nate membuatnya kehilangan sebagian besar warisan keluarga Harvarth kelak.

Sepertinya ia iri pada adik-adiknya, Gisselle dan Nate, yang memiliki otak cemerlang. Mendapat nilai-nilai bagus tanpa perlu terlalu berusaha, sedangkan dia hanya hebat di bagian hapalan.

*Miranda bersekolah di Beauxbatons, sekarang bekerja di kementrian di departemen pelaksanaan hukum sihir, sekaligus mengurus perusahaan keluarganya.



GISELLIENE BRUNHILLDE HARVARTH
((visualisation: Tricia - http://slumberdoll.deviantart.com))
Pureblood
Stavanger, Norwegia
9 Mei, 18 yrs

Tongkat Sihir: Elder, bulu ekor pheonix, 11,5 inchi
Nama Ayah: Odieneer
Nama Ibu: Arianna
Nama Saudara: Miranda, Nathan, Cassandra

Personaliti: pemberontak, periang, berpikiran terbuka dan tidak terlalu peduli dengan orang lain, cuek dan egois, jarang memikirkan hal-hal yang serius

Bakat & Kekurangan: pemusik yang berbakat terutama biola dan piano, meskipun ia juga bisa memainkan banyak alat musik lainnya, pintar

Keterangan lain: Gisselle tidak membenci keluarganya. Namun ia seringkali kesal dengan ibu dan kakaknya yang tampak tidak menyukai Nate. Karenanya dia sangat menyayangi adik laki-lakinya itu. Meskipun dampak dari kasih sayangnya itu adalah Nate mengikuti macam-macam kebiasannya seperti sering kabur di malam hari. Gadis ini jugalah yang bertanggung jawab dengan percobaan merokok pertama Nate dan macam-macam tindakan melanggar peraturan lainnya.

Cantik (mirip seperti neneknya, Cammile) dan berkepribadian menarik dilengkapi dengan keintelekannya, Gisselle adalah seorang gadis yang memiliki banyak pengagum pria. Sering berganti-ganti pacar, main kesana-kemari, dan berfoya-foya. Namun sekarang ia sedang memiliki hubungan dengan seorang laki-laki asal Filipina, Lodeva Giosingtiao. Berasal dari keluarga bangsawan, yang tidak terlalu terkenal. Hubungan keduanya sepertinya cukup serius.

*Gisselle bersekolah di sekolah sihir kecil di Norwegia. Sekarang bekerja sebagai violinist di Glenn Miller Orchestra.



CASSANDRA WILEENDRIANT HARVARTH
((visualisation: Crissey - http://crissey.deviantart.com))
Pureblood
London, England
13 September, 8 yrs

Tongkat Sihir: -
Nama Ayah: Odieneer
Nama Ibu: Arianna
Nama Saudara: Miranda, Gisselle, Nathan

Personaliti: polos dan ceria seperti anak kecil lainnya, tidak egois dan sangat menyayangi kakak-kakaknya, agak egois, pengagum Nate, suka menonton televisi, baik, sangat menyukai permen dan makanan manis lainnya.

Bakat & Kekurangan: pintar menggambar

Keterangan lain: Sebagai anak bungsu dalam keluarga Harvarth, sudah pasti ia sangat dimanja. Dicurahi segala kasih sayang dari kedua orang tuanya, ditambah lagi tiga kakaknya. Cassandra paling dekat dengan Nate sebagai satu-satunya kakak laki-laki, juga karena perbedaan umur mereka paling dekat. Ia mengagumi kakaknya yang selalu terlihat keren dengan kebiasaan seperti mugglenya. Ia juga suka meniru kebiasaan kakaknya menonton televis yang berujung pada kebiasaanya menonton film-film yang sebenarnya tidak cocok ditonton oleh anak kecil.

Karena kedua orang tuanya sibuk dan kakak-kakaknya juga bekerja, ia menjadi dekat dengan para peri rumah yang memanggilnya dengan sebutan ‘princessa’. Setelah Nate masuk Hogwarts dan tidak dapat menemaninya lagi, ia lebih sering bermain dengan Gisselle yang sering berada di rumah jika tidak ada latihan konser dan tidak ada kegiatan dengan teman-temannya.
Frilla
Mantra~ Mantra~

Lagi-lagi Gryffindor dan Slytherin sekelas. Yang artinya lagi-lagi ia akan bertemu dengan orang ini dan itu yang super menyebalkan. Lalu ada pangeran musang --wait. Nate harus benar-benar melupakan panggilan itu. Karena seperti yang ia baru ketahui setelahnya, mus--anak laki-laki itu ternyata Arvid Corleone. Yeah, Corleone. Yang berarti, ia dan Arvid itu masih bersaudara. Entah hubungan mereka apa, tapi mengingat nama itu dimiliki neneknya dulu, berarti mereka masih memiliki hubungan keluarga. Yang sebenarnya tidak mengherankan, mengingat biasanya keluarga-keluarga penyihir tua memang saling berhubungan. Sienna misalnya, ia baru tahu sepupunya juga masuk ke Hogwarts tahun ini, satu asrama dengannya pula! Ck, bisa-bisanya ia tidak sadar. Entah ada apa dengannya, padahal biasanya ia paling tahu masalah beginian. Maklumlah, ayahnya dari dulu selalu mengatakan, family means more than blood. Meskipun ia tahu hal itu lebih merujuk pada Nate sendiri daripada orang lain.

Nate mengerling ke sekeliling kelas, dengan pandangan aku-lebih-hebat-daripada-kalian-nya yang biasa. Sombong? Bukan, bukan. Hanya sekedar menyampaikan kenyataan yang ada. Oh, great, sudah ramai. Lightdarker, tuan ingin-jadi-ular-Dutie, gadis Gryffindor sok pahlawan yang belakangan ia ketahui bernama Rainier, Arvid, Michelle dan beberapa orang lain. Lucky. Masih ada tempat di kursi paling depan. Seperti yang ia bisa katakan, ia memang pemilik keberuntungan langit.

"Morning, princess..." ujarnya dengan cengirannya yang biasa saat ia melewati Solathel--Michelle dan duduk di kursi paling depan, meskipun sesaat ia sebenarnya ingin pergi ke meja dekat gadis itu. Nate bukan murid yang baik, ia tahu hal itu. Melanggar peraturan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Namun nilai adalah hal yang lain lagi. Nate harus, HARUS mendapat nilai bagus. Bukannya ia anak menyedihkan yang harus belajar dengan sangat sangat keras untuk mendapat nilai bagus, tapi ia tahu ia harus memenuhi permintaan ayahnya yang meskipun tidak diucapkan tapi bisa sangat dimengerti oleh Nate. Jadi mengesampingkan hobinya berbuat ini dan itu yang bisa mendatangkan detensi, ia bukan hanya memikirkan senang-senangnya saja, kok.

“Hari ini kita akan mempraktekkan mantra dasar untuk murid tahun pertama,”

Wingardium Leviosa. Mantra melayang. Oke. Lalu sekarang mereka harus mencobanya pada bulu-bulu putih yang tampak lembut dan akan sangat empuk untuk dijadikan isi bantalnya. Tapi kembali pada tugasnya yaitu mengangkat bulu-bulu putih ini. Nate menggenggam tongkatnya. Hawthorn, ekor unicorn, 10 inchi. Baiklah, menurut buku Kitab Mantra Standar Tingkat Satu oleh Miranda Goshawk yang terbuka di depannya di halaman lima, pelafalan dan gerakan tongkat sangat berpengaruh pada keberhasilan mantra ini. Jadi pertama, mari kita berlatih mengucapkan mantra ini (sekaligus mendengar suara Nate yang memang enak untuk didengar)!

"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."

Satu.

"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."

Dua.

"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."

Tiga.

Oke, palafalan sempurna (tentu saja, Nate memang selalu sempurna) lalu sekarang apa?


---------------------------
----------------

Kali ini ia benar-benar serius dalam mengikut kelasnya. Inginnya sih begitu. Tapi beberapa Gryffindor sial benar-benar mengganggunya, dan Nate benar-benar tidak terima kalau harus dipermainkan tanpa ia bisa membalas. Jadi ia melakukannya, hanya mantra simpel 'Petrificus Totalus' dan beberapa kalimat untuk membalas perkataan orang-orang itu. Tapi pada akhir pelajaran ia malah jadi yang sakit. Hipertensi-nya kambuh. Sialan.
Frilla
Detensi untuk keributan di kandang burung hantu.


Nate menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Cemberut. Mendengus kesal. Ia mendelik ke sana kemari dengan penuh tatapan membunuh seolah ia sedang mencari mangsa dan orang yang pertama kali bertatapan dengannya akan ia gigit sampai mati. Sialan. Ini semua sungguh menyebalkan. Detensi. Detensi. DETENSI. Baru beberapa minggu dia bersekolah di sini dan ia sudah mendapatkan detensi! Dengan guru pemeliharaan satwa gaib pula. Sungguh sial. Apa yang akan dikatakan oleh ayahnya jika mendengar hal ini? Bisa-bisa ia langsung dicoret dari silsilah keluarganya. Oke, tidak, sih. Mengingat Nate satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Siapa lagi yang bisa mewarisi nama keluarga Harvarth kalau bukan dia? Tapi kembali mengenai masalah detensi ini. Sungguh, ini menyebalkan sekali. Dan ini semua gara-gara perbuatan orang-orang di kandang burung hantu itu! Lupakan soal dia yang pertama kali menarik tongkat dari jubahnya dan memantrai orang-orang di sana. Seharusnya mereka tidak terpancing! Semua hal ini disebabkan oleh mereka yang asal menyerang sembarangan. Sial. Sial.

Ini semua gara-gara mereka.

Hmpf.

Nate menendang-nendang tanah di depannya. Menunggu dengan tidak sabar untuk mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam detensi ini. Oh tentu saja, ia sangat tidak sabar. Semoga saja detensi yang tidak pantas, sehingga nanti ia bisa mengirimkan surat pada ayahnya dan mengatakan bahwa guru di Hogwarts ini tidak bisa mengajar dan BUM! Orang itu dipecat. Semoga.

Paling tidak kalau terjadi hal seperti itu Nate akan merasa bahwa detensi kali ini tidak sia-sia belaka. Yeah, yeah. Detensi. Kata yang sungguh menyebalkan. Ia tidak seharusnya mendapat detensi. Kata 'Nate' dan 'detensi' tidak pernah bisa diletakan dalam satu kalimat yang sama. Kenapa orang-orang tidak bisa menyadari hal itu, sih? Argh, ia ingin menggigit lengan orang lain sampai putus rasanya. Kira-kira mau tidak ya, Sylar digigit olehnya? Tapi tidak, lebih baik ia menggigit lengan salah satu orang penyebab ia terjerumus dalam masalah ini. Kalau begitu kan ia puas, dendam juga terbalas. Mudah kan? Dan semua orang pun akan puas. Lalu Nate bisa tertawa terbahak-bahak dan mulai mencari target baru dalam kisah epiknya di Hogwarts. Ia sekali lagi hanya bisa mendengus dan menatap tajam ke arah prefek yang sedang berbicara dengan profesor ceret atau apapun namanya itu. Ceret. Nama yang sangat aneh.

Bosan dengan tanah yang sudah tak tampak menarik lagi di matanya ia mulai melihat-lihat ke sekeliling tempat itu. Ini... gubuk tempat si oaf itu tinggal, ya? Lalu dekat danau... Semoga saja detensinya tidak berhubungan dengan cumi-cumi raksasa yang katanya hidup di danau itu. Ih... Membayangkannya saja Nate sudah tidak mau, apalagi menghadapinya betulan. Ia mengalihkan pandangan matanya ke arah lain tapi justru menangkap sosok orang-orang yang juga kena detensi sepertinya. Ia mulai cemberut lagi. Padahal ia kira tadinya ia bisa menghindar dari detensi ini, tapi ternyata kena juga. Huuh, dasar prefek tidak adil! Sudah jelas Nate tidak seharusnya terkena detensi tapi tetap saja... Puhf.

Tidak adil.