Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Frilla

Oslo, Norwegia. Kota yang suhunya bisa mencapai minus tiga puluh derajat celcius di musim dingin dan bahkan di musim panas pun suhu tertingginya hanya sekitar dua puluh derajat celcius. Kota yang identik dengan salju dan di musim dingin seperti sekarang ini matahari hanya terbit selama enam jam. Dibesarkan dalam keadaan alam yang sangat dingin, Nathan Kehl Harvarth selalu merasa menderita saat harus melewatkan liburan musim panas di London. Meskipun bukan berarti satu-satunya anak laki-laki dari Odieneer Harvarth itu menyukai salju. Nate—begitu ia biasa dipanggil, tidak menyukai musim dingin ataupun musim panas. Meskipun begitu, anak laki-laki itu menyukai semua musim di Norwegia. Bahkan meskipun baginya musim dingin di Hogwarts hampir hangat-hangat kuku, ia tetap lebih memilih berada di Oslo, sedingin apapun temperaturnya saat itu.


Beberapa hari sebelum natal tiba., sebuah mobil sedan bewarna hitam mengilap berhenti di depan kastil Arkeshus yang juga diketahui sebagai salah satu kediaman keluarga Harvarth. Bertuan rumahkan Odieneer, sosok dibalik kesuksesan Statoil, perusahaan energi terbesar di Norwegia.


Dari balik pintu kastil, seorang peri rumah bergegas menyambut mobil yang mengantar putera mahkota dari keluarga itu. Langkahnya terburu-buru hingga dua-tiga kali peri rumah malang itu hampir jatuh tersandung serbet putih dengan lambang keluarga yang dilayaninya tersulam di bagian depan, satu-satunya kain yang menempel di tubuh mahluk mungil itu. Matanya yang sebesar bola tenis semakin melebar karena takut, tergopoh-gopoh membuka pintu belakang mobil hitam itu sekaligus menunduk serendah yang bisa ia lakukan pada sosok berambut kecokelatan yang keluar dari dalamnya.


Anak laki-laki itu bertubuh tinggi dalam balutan mantel tebal bewarna putih yang membuatnya tampak lebih besar daripada tubuh aslinya. Berkali-kali angin dari utara berhembus dan membawa rambut cokelatnya mengganggu penglihatannya. Tapi laki-laki itu tidak mengacuhkannya, mengerling ke arah bangunan kokoh di hadapannya dengan tatapan yang mungkin bisa dideskripsikan seperti rindu atau justru muak. Sepasang bola mata cokelatnya bahkan tidak melirik ke arah peri rumah yang berdiri di dekatnya sewaktu ia langsung berjalan memasuki gerbang utama kastil itu, menciptakan jejak-jejak dengan sepatu boot hitamnya. Tidak mempedulikan bagaimana si peri rumah kesulitan membawa koper-koper yang ukurannya lima kali tubuhnya. Itu memang tugas peri rumah, sang tuan muda bisa peduli setan dengan hal itu.


Nathan Kehl Harvarth telah kembali ke rumah.


Ia melepas mantelnya dan menyerahkannya pada seorang pelayan. Manik cokelatnya bergulir dalam rongga matanya, menatap perubahan yang terjadi di rumah itu selama kepergiannya. Lukisan nenek moyangnya diganti dengan lukisan keluarganya, satu hal yang langsung disadarinya karena sosok dirinya dalam lukisan melambaikan tangan padanya. Lukisan itu beraliran romantisme, tidak diragukan lagi dibuat atas permintaan ibunnya. Meskipun Nate heran juga kenapa ibunya membiarkan anak laki-laki itu dilukis juga. Ditatapnya sosok wanita berambut keemasan dalam lukisan itu.


“Kau sudah sampai, Nathan,” ucap seseorang dari atas tangga. Pemilik nama yang disebut itu mengangkat kepalanya, menatap wanita yang identik dengan yang baru saja ia lihat di lukisan. Rambut ikal keemasan yang dipilin menjadi sanggul anggun di belakang kepalanya seakan menegaskan kecantikan yang dimiliki bangsawan Inggris itu. Nate sendiri mengakui bahwa ibunya memang cantik meskipun sudah dalam kategori berumur, betapapun ia membencinya.


“Ibu,” sapanya tanpa kehangatan yang biasa ditunjukan seorang anak kepada orang tuanya. Kristal karamel itu menatap sang wanita tanpa emosi. Nate tidak tahu lagi harus bersikap seperti pada ibunya itu. Karena itu—biarlah wanita itu yang menebak apa yang sebenarnya Nate rasakan. Kebencian yang mereka rasakan itu mutual. Dan tanpa ia duga, seulas senyum tipis muncul di wajah sang ibu. Tipis, tapi tetap saja sebuah senyum.


“Ayahmu sudah menunggu daritadi.”


Nate mengangkat bahu dan mengikuti Arianna setelah memberi perintah pada peri rumah pribadinya untuk menyiapkan kudapan dan air panas di kamarnya. Perbedaan lainnya yang ia baru sadari adalah rumah itu terlihat lebih cerah daripada biasanya. Entah karena warna perabotan yang terlihat lebih cemerlang atau memang suasana yang membuatnya seperti itu. Perbedaan lain adalah—kali ini ia berjalan di samping ibunya, hal yang tidak pernah ia lakukan sejak enam tahun yang lalu. Biasanya ia berjalan dengan jarak dua meter di belakang ibunya, menjauh dari wanita itu sebisanya. Nate tidak menyamakan langkah dengan ibunya jelas, ia berjalan seperti biasa. Aneh, tapi seakan-akan ibunya memang sengaja berjalan di sampingnya yang jelas tidak mungkin sama sekali. Kebetulan pasti, ia tahu pasti wanita menyebalkan itu tidak mungkin mau berjalan dekat dengannya meskipun hanya untuk semenit. Anehnya, Nate sendiri tidak merasa terlalu keberatan.


Mereka berhenti di depan pintu besar di sayap kiri kastil. Yang berambut emas mengetuk pintu. Beberapa saat, terdengar suara balasan yang mempersilahkan mereka masuk. Suara dalam seorang pria yang terdengar agak lebih lemah daripada yang Nate ingat. Tapi anak laki-laki itu berusaha tidak peduli, ia sama sekali tidak ingin mengingat bahwa sang ayah sempat dirawat di St. Mungo beberapa waktu yang lalu.


Sosok yang berbaring di atas tempat tidur tampak memilukan. Guratan umur terpatri di wajahnya dan Nate sedikit tertegun karenanya. Untuk orang yang selalu berpikir bahwa dunia ini abadi, kenyataan bahwa ayahnya tidak lagi muda membuatnya terkejut. Hampir lima puluh tahun—dan meskipun dalam ukuran penyihir itu masih tergolong muda, penyakit mulai menggerogoti nyawa pria itu. Kenyataan lain yang membuat sang anak hanya bisa menggigit bibir.


“Var1…”


“Nathan, kau sudah pulang…” ucap Odieneer pada putranya itu. Meskipun ia baru keluar dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu, meja di samping tempat tidurnya sudah dipenuhi dengan berkas-berkas yang harus ditanda tangani dan map berisi laporan saat ia tidak ada. Pria itu mengangguk mendengar balasan dari Nate, perlahan mengalihkan perhatiannya pada istrinya. “Bisa kau pergi sebentar? Ada yang ingin kubicarakan dengan Nate.”


Wanita itu tersenyum, melangkah keluar kamar setelah mengerling ke arah putra tirinya. Sesuatu yang membuat Nate tidak habis pikir. Pertama, karena ibunya langsung mengikuti apa yang ayahnya katakan padahal biasanya ia tidak pernah tidak mencoba mengikuti pembicaraan ayahnya dengannya. Kedua, karena biasanya ibunya menganggapnya tidak ada tapi kali ini mengerling kepadanya—betapapun tidak berartinya kerlingan itu. Rumah ini semakin aneh saja menurutnya. Ia kira sesudah ini akan ada hal buruk terjadi padanya. Tidak mungkin kan wanita itu menaruh racun pada minumnya atau minum ayahnya?


“Sepertinya hubunganmu dengan ibumu sudah membaik.”


Nate tersentak, tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut ayahnya. Selama ini, ia selalu bertindak biasa di depan ayahnya. Tidak pernah sekalipun ia bertengkar dengan sang ibu di depan pria yang menjadi panutannya dan ia rasa ayahnya sama sekali tidak menyadari ketegangan antara dia dengan ibu atau kakaknya. Dibekali dengan pikiran itu, Nate mengeluarkan ekspresi tidak mengerti sebaik yang ia bisa dan berkata, “Aku tidak mengerti maksud ayah.”


“Aku tahu hubungan kalian tidak sebaik yang kalian coba tunjukan padaku. Please, Nate, I’m the head of this house. I know everything that happened in this house,” ucap pria itu. Meskipun wajahnya masih terlihat pucat, namun seringai yang identik dengan seringai yang sering muncul di wajah putranya menghiasi wajahnya. Odieneer memberikan isyarat kepada Nate untuk duduk di dekatnya. Ibarat pribahasa dinding pun memiliki telinga, ia sebagai tuan rumah tahu segala hal yang terjadi di rumah ini. Salah satu keistimewaan dari Harvarth yang memiliki kastil tempat mereka berada sekarang, selain mantra proteksi yang kuat dan tak akan bisa ditembus oleh orang yang tidak memiliki darah Harvarth, masih banyak mantra lain yang hanya diketahui oleh pemilik sah tempat itu.


Anak laki-laki berambut cokelat itu menggelengkan kepalanya, entah apa yang ia maksud. Tapi ia tetap mengikuti isyarat ayahnya untuk duduk di tepi tempat tidur. Nate tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap sang ayah dengan ekspresi ragu-ragu.


Aldri så god hest at den ikkje kan snuble2. Your mother did a horrible mistake, but nobody’s perfect. Bahkan sebenarnya, itu semua adalah kesalahanku.”


“Bukan, Var—“ ucap Nate langsung sebelum dipotong oleh ucapan sang ayah.


“It was my fault,” tegas Odieneer. Mata dingin itu tampak menyesal—dan sesaat sosok angkuh dibalik nama Harvarth itu tampak rapuh. Tenggelam dalam penyesalannya di masa lalu. Ia menarik nafas dengan berat—seakan tiap tarikan nafasnya membawa kesakitan, dan meneruskan lagi, “ketika nama Harvarth sedang mengalami goncangan karena permasalahan internal dalam Statoil3, aku tidak bisa mengontrol emosiku dengan baik. Ketika Arianna datang kepadaku—aku membentaknya dan berkata bahwa kalau Freedret, ibu kandungmu, ia tidak akan mengangguku di saat seperti ini.”


“….”


“Kalau saja aku tidak mengatakan hal itu—Arianna juga tidak akan berkata apa-apa padamu.”


“No, Var,” ucap Nate sambil menggelengkan kepalanya keras-keras. Menolak dengan sangat tiap perkataan ayahnya. Ia tahu dengan pasti, bahwa ibunya memang tidak pernah menyayanginya dari awal. Masa kecilnya adalah kepalsuan. Meskipun mungkin memang perkataan ayahnya pada sang ibulah yang menguak tabir palsu itu. Nate mengepalkan tangannya, amarah yang dirasakannya dulu kembali mengisi rongga hatinya. “You never heard what she had said to me, Av ingen ting kjem ingen ting4. How can you expect me not to hate her after that?”


“Because she loves you—and I know that you love her as well.”


Nate menggeleng lagi. Tidak habis pikir kenapa ayahnya bisa memiliki pendapat seperti itu. Ia yang mengalami semua hal itu, ia yang mendengar semua perkataan wanita itu. Ia sendiri yang merasakan sakit dari tiap kata yang dilontarkan oleh wanita itu. Dan ayahnya masih berpendapat bahwa ada kasih sayang di antara mereka—setelah selama ini?


“She hates me, Var, she wouldn’t call me names otherwise. And I hate her too.”


Blindast er den som ikkje vil sjå5.”


“She hit me, Var! And, and…” suaranya menghilang, sejenak ia menggertakan gigi. Rasa frustasinya memuncah. Baiklah, mungkin ada bagian dari dirinya, hanya sedikit, yang merasa kehilangan sosok ibu yang ia kenal dulu. Wanita lembut yang selalu ada di sampingnya kala ia membutuhkan, kehadiran yang ia perlukan ketika sang ayah tidak bisa hadir karena terlalu sibuk. Tapi untuk apa ia merindukan sesuatu yang tidak akan pernah kembali? Nate menundukan kepalanya. “She never called me Nate the way you do…”


“ Nama…” ucap pria di akhir usia empat puluh itu perlahan. Senyum kecil muncul di wajahnya saat ia mengenang kejadian yang terjadi hampir lima belas tahun yang lalu. Saat itu musim semi dan suhu di tempat ini sekitar sepuluh derajat celcius. Odien masih bisa mengingat hal itu seakan baru kemarin terjadi. “Apa kau tahu siapa yang memberikan namamu?”


“…”


“Bukan Freedret atau aku atau siapapun yang mungkin kau kira. Ibumu, Ariannalah yang memberikan nama itu,” ujar Odien tenang, sama sekali tidak mengacuhkan ekspresi tidak percaya di wajah putranya. Kenyataanya memang itulah yang terjadi. Arianna memeluk bayi mungil itu—setidak suka apapun Arianna pada Freedret, wanita itu tetaplah seseorang yang lembut. Dan ia langsung menganggap bayi itu sebagai miliknya sendiri ketika ibu kandungnya meninggal sehabis melahirkan. Dan meskipun Odieneer merasa kehilangan sosok wanita Jerman yang merupakan ibu dari putranya, ia tidak bisa tidak merasa bangga melihat istrinya yang bisa merelakan segalanya dan memeluk putra kebanggannya. Dan sekalipun ia merasa menyesal telah mengkhianati Arianna, ia tidak akan menyesali apa yang telah ia lakukan. Karena jika tidak, ia tidak akan memiliki Nate sebagai putra.


“Nathan, it means gift of God. Kau adalah karunia Tuhan untuknya, untukku, untuk Freedret, dan semua orang yang menyayangimu.”


Nate sekali lagi menggeleng keras, menolak tiap kata yang diucapkan oleh ayahnya. Ia tidak bisa mempercayainya, tidak ingin. Ia sudah terbiasa dengan tingkahnya membenci sang ibu dan sulit baginya untuk menerima bahwa selama ini ia telah bersalah—mengucapkan kata-kata yang menusuk wanita itu. “That’s not possible… Aku bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya, she can’t love me…”


“She can, son. She is.”


Because family means more than blood.

((OOC:

1Ayah

2Even the best horse may stumble

3Perusahaan energi di Norwegia

4From nothing comes nothing

5Blindest is he who doesn't want to see. ))

Frilla
Just too many barriers
That we keep running into
Been tryin', but we just can't break through


5 tahun yang lalu, keadaannya mirip seperti ini. Malam di pertengahan musim dingin, salju turun lebat menutupi semua pemandangan dengan kasih putihnya yang semu. Ia ingat sosok masa lalunya yang saat itu berumur delapan tahun sedang bermain dengan sapu terbang mainannya. Desingan lucu mengiringi perjalanannya mengelilingi kamar tidurnya yang cukup luas. Sebelum ia berhenti mendadak karena suara keras yang membuatnya terjatuh. Suara pintu ruang kerja ayahnya yang dibanting dengan luapan amarah, sekarang ia tahu hal itu. Tapi sosok kecilnya tidak tahu dan ingin mencari tahu. Waktu menunjukan pukul lima sore—ia ingat betul. Waktu yang dipilih ibunya untuk menyisip teh sambil membaca buku di ruang keluarga. Sehingga pada waktu itu ia yang merengut karena terjatuh memutuskan untuk bertanya mengenai suara keras itu pada ibunya yang tidak perlu dicari.

Nate kecil menghampiri wanita berambut keemasan yang sedang terhenyak di sebuah kursi bewarna safir. Baki berisi teh dan kue-kuehan tampak belum di sentuh sama sekali. Pada waktu itu seharusnya ia tahu bahwa ada yang tidak beres—tapi mana bisa anak kecil membaca tanda-tanda? Senyum lebar menghiasi wajah manis anak laki-laki itu saat ia menghampiri sang ibu dan bertanya mengenai suara tadi. Orang yang ditanya mengangkat wajahnya, sisa-sisa air mata masih tampak. Bahkan dirinya yang waktu itu sudah bisa melihat ada sesuatu yang aneh. Sosok kecil itu menyentuh tangan sang ibu, hendak bertanya. Tapi bukan jawaban yang didapatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya—ia yang tidak menduga sama sekali, kehilangan keseimbangan dan jatuh menabrak meja teh. Nate bisa mengingat kejadian itu dengan jelas seolah baru kemarin. Sakit yang ia rasakan di pipinya tidak sebanding dengan rasa terluka ketika ibu yang amat disayanginya memukulnya. Sebuah tatapan tidak percaya dan pertanyaan terlontar darinya, ia masih tidak ingin percaya bahwa ibunya tega memukul dan menatapnya dengan pandangan penuh kebencian yang menusuk ulu hatinya. Wanita itu membuka mulut—mengucapkan dua hal yang mengubah segalanya dengan suara bergetar.

You are no son of mine.
I wish you were never born.


Lima tahun dan bekas pernyataan itu masih terasa. Ia pergi, ingin meninggalkan bayangan sang ibu jauh di belakangnya. Karena—bukankah selama ini ibu menyayanginya? Meskipun Nate yang sekarang tahu, semuanya hanya sandiwara semata. Anak kecil itu berlari mencari kenyataan, dan siapa yang bisa mengalahkan ayahnya dalam pengetahuan? Pikirnya waktu itu, berjinjit untuk meraih pegangan pintu besar ke kamar ayahnya. Terkunci. Padahal tempat itu selalu terbuka untuk Nate, sekalipun ayahnya sedang sibuk sekalipun—ia akan mengizinkan Nate untuk masuk meski hanya memberi tahu bahwa ia tidak bisa diganggu.

Badai datang—tangisan salju semakin deras, tapi Nate masih terpaku di depan pintu besar itu. Seolah tersesat kehilangan arah. Rumah tempat bermainnya selama ini mendadak asing dan terlalu besar untuknya. Ia putus asa dan ketakutan. Jadi dicobanya mengetuk pintu—tak ada jawaban, semakin keras dan semakin keras—tetap tidak ada jawaban meski hanya satu kata. Rasa sakit karena ditinggalkan itu masih ada. Takut dan perasaan terbuang bermain-main di hatinya. Tapi ia yang dulu masih ingin berharap, masih ingin mempertahankan keadaan yang lama. Jadi dia kembali berlari—lukisan di koridor terdiam ketika melihatnya, padahal Nate biasa bercengkrama dengan mereka. Tapi semuanya membisu dan anak itu bisa membayankan tatapan prihatin menyorotnya dari segala arah. Ini tidak benar. Pikirnya saat itu—ketika ia berlari ke kamar kakak pertamanya. Dipikirnya Miranda pasti bisa memberikan kenyataan padanya. Pasti bisa membuat segala keresahannya ini pergi.

Pintu terbuka dan ia masuk. Gadis berumur sekitar tujuh belas tahun itu tampak seperti biasa dan sesaat Nate tampak tenang. Mungkin yang tadi terjadi hanyalah mimpi buruk. Nate bercerita—mengatakan apa yang dikatakan oleh wanita yang masih ia anggap ibu beberapa saat yang lalu. Kemudian terdiam, menunggu kata-kata lembut dari sang kakak. Tapi apa yang diharapkannya tidak pernah datang. Tatapan jijik dan langkah mundur justrulah yang diberikan padanya.

I knew it, I was right.



Angin yang berhembus terasa lebih dingin daripada tadi—dan itu mengatakan sesuatu. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Demi Merlin, dia benci musim salju. Kelam dan suram, seolah segala petaka akan tiba saat ini juga. Ia tidak menanggapi lagi kata-kata anak kelas satu yang dipanggilnya kurcaci tadi. Atau siapapun yang berbicara lagi setelahnya. Entah tidak ingin atau tidak bisa. Tapi saat pikirannya dipenuhi hal-hal lain, mungkin hal itu wajar.

"Having fun, dear?"

Ada kalanya ia merasa dipermainkan, ada kalanya ia merasa dibodoh-bodohi oleh Sang Pencipta dan sekarang adalah salah satu dari kala itu. Suara itu terasa lebih menusuk daripada angin musim dingin. Itu kata-katanya. Tidak pernah ia bayangkan kondisinya bisa terbalik begini—tapi mungkin seharusnya dia sudah bisa menebak. Atau tidak? Tapi ia tidak bisa menerimanya. Keadaan berbalik, berarti keunggulan berbalik. Tidak juga, ya. Sejak awal dia memang sudah kalah. Ia hanya terperosok semakin dalam—miris rasanya. Bahkan untuk menolehkan kepalanya saja ia tak kuasa. Ia merasa seperti tenggelam, berusaha menggapai cahaya di atasnya namun terus ditarik oleh sesuatu yang berada di bawahnya. Bagaimana sulitnya menahan diri untuk tidak merengkuh sesuatu yang paling disayanginya namun tahu tidak pantas untuk melakukan itu, Nate merasakannya lebih dari siapapun.

This mountain we've been trying to climb
It's never ending
Just can't do nothing


Sebelas tahun dan masih belum berpikir jauh ke dapan. Baru merasakan kebebasan setelah lepas dari penjara yang membelenggunya. Ia senang—ia gembira dengan keadaannya yang baru. Masih dinaungi euforia kebebasan ia melupakan hakikat dirinya. Bertingkah tanpa pikir panjang, berbuat ini dan itu tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkannya. Lalu ia menemukannya. Sosok yang membuatnya tertawa lepas seakan dunia hanya milik mereka. Dia yang mau menerima Nate begitu saja di saat bahkan keluarganya sendiri hanya memandangnya sebelah mata. Itu sebuah kesalahan—karena Nate tahu ia tidak pantas untuk mendapatkan gadis itu. Ia menyesal telah jatuh. Ia menyesal telah menjadi beban untuk sang maiden. Tapi ia tidak menyesal untuk semua yang telah mereka lewati bersama. Meskipun kini ia lelah merasa karena sakit yang terus menerus ketika harus melepasnya—ia tidak menyesal. Untuk membalas semua kebahagiaan yang pernah diberikan gadis itu padanya—ia rela meskipun harus menjual nyawanya pada setan sekalipun.



”Aku juga sayang, kok.”


Manusia, benar-benar mahluk yang kompleks. Berapa kalipun ia pikirkan, tetap saja ia tidak bisa mengerti. Jangankan keseluruhan mahluk bernama manusia, bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa ia mengerti walaupun hanya setengahnya saja. Bagaimana sebagian dirinya ingin mengorbankan apa saja, apa saja yang ia miliki demi dapat kembali mengulang masa-masa bersama sang putri dan sebagian lagi yang tahu betapa tidak pantasnya keinginan itu—betapa rendah dirinya jika disandingkan oleh sang maiden, betapa ia tahu bahwa ia tidak bisa memberikan hal yang layak padanya. Dipikirkan terus pun penyelesaiannya tidak kunjung datang. Jadi dia memutuskan untuk menyingkirkan keinginan yang ia anggap egois itu. Memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan sang putri—pangeran manapun akan melakukan hal itu.

Nate membalikan tubuhnya—menoleh ke sang putri yang berada dalam jarak yan begitu dekat hingga untuk sesaat Nate merasa bisa meraihnya. Ia menatap dalam-dalam kristal kecokelatan yang berkali-kali ia kagumi keelokannya. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman culas yang tidak pernah ingin ia berikan pada gadis di depannya jika keadaannya tidak seperti ini. Kepalanya terangkat angkuh saat ia menyenderkan tubuhnya ke pagar jembatan—meletakan tangannya di atas benda kokoh itu dengan posisi santai. Andai saja ada mantra untuk kembali ke masa lalu. Ia ingin menjawab pertanyaan yang terdengar menusuk itu, memberikan kalimat balasan yang bisa membuat sang gadis membencinya meskipun yang ia ingin lakukan hanyalah mengaitkan jemari mereka seperti dua tahun yang lalu. Ia dikalahkan oleh seseorang ternyata, ”Selamat malam Michelle. Sudah lama sekali sejak kita terakhir kali bertemu."

Too many locks, too many crimes
Too many tears, too many lies
Too many barriers


Pernahkah kau merasa hidupmu tidak akan bisa lebih buruk lagi? Nate pernah. Kalau kau berasal dari Norwegia atau setidaknya, tahu mengenai kisah-kisah Norse, mungkin pernah mendengar kisah mengenai Sigurd yang mengalahkan Fafnir? Dan tidakkah kehidupannya semakin lama semakin terlihat seperti kisah sang pahlawan yang membawa shieldmaiden keluar dari lingkaran api? Dan kini babak kehidupannya mungkin sudah sampai pada adegan pertikaian antara Gudrun dan Brynhild. Demi Merlin, jangan bilang hal yang terakhir terjadi padanya adalah ia mati dibunuh pacar baru Michelle. Ia tidak sudi. Meskipun Nate tidak keberatan untuk mati sekarang—tidak seperti ada penyesalan lagi di dunia ini. Saat ia tidak memiliki apa-apa lagi, pergi ke ketiadaan juga tidak ada bedanya. Mungkinkah segalanya akan berbeda jika pertanyaannya dulu terjawab? Jika sang putri berbicara padanya, mengatakan tidak akan pernah mengkhianati janjinya—akankah segalanya berbeda? Nate tidak tahu pasti—tapi itu akan membuatnya lebih kesulitan lagi untuk merelakannya. Seharusnya ia berterima kasih, karena dengan jawaban bisu itu... ia tahu bahwa sang putri ternyata tidak menginginkannya.

”Sudah kenal dengan Michelle, Arietta?” tanyanya dengan senyum menghiasi sudut wajahnya, sengaja mengalihkan pandangannya dari gadis berdarah Korea ke gadis di dekatnya.

Bisakah Michelle melihat isyarat yang tidak terucapkan oleh sang pangeran? Sadarkah betapapun terlihat santainya Nate, buku jarinya memutih karena tangannya mengepal sedemikian eratnya. Sadarkah meskipun ia tersenyum, matanya tidak memperlihatkan kebahagiaan. Lihatkah betapapun tegarnya ia berdiri, kakinya terasa lemas karena terlalu lama berdiri mengharapkan rembulan. Lihatkah meskipun ia mendengarkan melodi alam dan ucapan semua orang, yang diharapkan indera pendengarannya hanya suara sopran yang dengan lancang terpatri di ingatannya meski tak ingin. Sadarkah, meskipun semua hal yang terjadi—hatinya masih memberikan isyarat untuk terus mencinta?

Hanya lewat isyarat ini—
ia bisa berkata jujur.

Kasih ini masih ada, untukmu seorang.

”Kami bersenang-senang, mau bergabung?” jawabnya bernada biasa dengan pertanyaan lain—kembali mengerling gadis berambut ikal panjang itu. Kepalanya kembali terasa pening, hal yang selalu terjadi ketika stress mulai merayap masuk ke dalam dirinya. Tangannya menyentuh pelipisnya—meskipun tidak cukup lama untuk membuat orang pasti mengenai sakit yang terasa. Nate meneruskan lagi, masih dengan kepala terangkat dan senyum angkuh yang sama, ”Kau sudah kenal dengan semuanya, Michelle? Arietta, kau sudah kenal, ya. Yang ini Alvera—dan satu lagi... siapa namamu, miss?”

I know I'm gonna keep wishing I was with you
But we just gotta stop
Frilla
Senja hampir usai, malam menjelma hampir sempurna. Pemandangan luar yang tertutup salju seolah berkilauan karena tertimpa berkas-berkas cahaya jingga dari jendela kastil. Seorang anak laki-laki berjalan keluar dari kastil. Udara malam musim dingin tampak tidak menyurutkan niatnya untuk menghindari kehangatan yang disediakan dalam kastil. Tangannya menggenggam robekan perkamen. Masih ada waktu sebelum makan malam, masih cukup waktu baginya untuk sekedar berpikir sebelum menghadapi keramaian. Sepatu bootnya meninggalkan jejak-jejak di atas salju yang ditapakinya. Selangkah demi selangkah hingga ia tiba di jembatan. Ia berhenti di tengah-tengah—meletakan tangannya di pagar jembatan. Ia membuang robekan kertas di tangannya ke bawah jembatan, menatap robekan itu melayang dan perlahan hilang ditelan kegelapan.

Kenapa kau tidak pulang? Pertanyaan basa-basi pembuka, Nate kira semua orang akan lebih senang kalau ia tidak ada. Tidak perlu diucapkan juga ia sudah mengerti bahwa kehadirannya tidak diharapkan. Untuk apa bertanya seperti itu—pasti mengejeknya. Layaknya seseorang yang diasingkan karena tindakan kriminal, tempat yang dulu disebutnya rumah sudah tidak lagi menerimanya. Perbedaannya, ia tidak melakukan tindakan kriminal atau hal apapun yang menyerempet hal itu. What’s in a name? Ucap Shakespeare dalam karyanya. Nama menentukan nasib, tuan pujangga, sangat menentukan. Andai saja namanya diganti, takdirnya akan berubah. Ia tidak akan seperti sekarang ini.

Apalah artinya sebuah nama?
Harapan pemberinya—
—dan takdir penerimanya.

Bukan, bukan kalimat ejekan itu yang mengganggunya. Tapi di bagian akhir perkamen. Bibi Sindri meninggal. Tidak mungkin. Kepalan tangannya mengeras hingga buku jarinya memutih. Kepalanya pening. Ia ingin berteriak namun tak kuasa. Katakan, bagian mana yang bisa dikatakan adil dari kehidupan manusia? Takdir itu kejam—kata orang. Bukan, lebih dari itu. Mengoyak dirinya tanpa belas kasihan, sama sekali tidak mempertimbangkan luka yang masih belum menutup. Katakan padanya, Sang Pencipta, apa Kau belum puas mempermainkan hidupnya selama ini?

Belum pernah ia merasa kematian sedekat ini—tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa kematian bisa datang menjemput siapapun setiap saat. Waktu yang dimiliki oleh manusia untuk menikmati kehidupan terbatas. Tidak, belum ada vonis atau semacamnya. Tapi ia melihat pada liburan musim panas kemarin, ia tahu. Bahkan untuknya yang masih muda pun terlihat. Kekuasaan El Maut membayang-bayangi keluarganya, mungkin kelak akan ada banshee yang menyanyikan lagu kematian di rumah mereka. Masa-masa kegelapan, tidak pernah terlintas di benaknya masa ini juga berpengaruh dalam kehidupannya. Bibinya yang anggun dan banyak mengajarinya berbagai hal sejak kecil—dibunuh pelahap maut. Salah satu korban dalam serangan pelahap maut di Surrey. Apa Nicholas Flammel yang dikatakan bisa hidup abadi dan awet muda juga bisa bertahan jika terkena kutukan kematian dari mahluk-mahluk bertopeng itu?

Hari kiamat hampir tiba. Tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi. Saat semua orang berhati cepat atau lambat musnah dalam perburuan manusia, menyisakan manusia-manusia tanpa nurani haus kekuasaan yang lebih tepat disebut hewan liar.

All hail, death.
Mungkin lebih menyenangkan daripada hidup di dunia yang sekarang ini.
Frilla
18.20, 24 Juni 1980


Seorang anak laki-laki berambut cokelat membuka pintu oak menuju kamar ayahnya—mendapati seorang pria dengan wajah pucat tidak sehat tengah duduk di tempat tidur merah tua di depan perapian sambil memegang cangkir putih berisi teh hangat yang masih mengepul. Dari suara-suara yang terdengar sudah bisa diketahui ayahnya sedang melakukan pembicaraan melalui floo. Padahal pria berumur kepala empat bernama Odieneer itu baru beberapa hari yang lalu keluar dari St. Mungo. Dan itupun, para penyembuh mengizinkan dengan berat hati—hanya takut karir mereka terancam jika tidak memenuhi keinginan seseorang bermarga Harvarth. Lalu belum ada seminggu, sekarang ia sudah menghubungi kolega-koleganya lagi untuk apa yang sepertinya mengurus Statoil, salah satu perusahaan muggle yang bergerak di bidang perminyakan tempat dia menanam saham—salah satu cara yang paling mudah meskipun berbahaya untuk mendapatkan uang.

“…Norsk Hydro sudah memberikan kabar? Katakan pada mereka untuk membalas secepatnya—pekerjaan di Rafsnes sudah terlalu lama ditunda. Lalu mengenai hak operasi—bagus. Tahun depan sudah harus selesai. Secepatnya,” ucap pria separuh baya di depan perapian itu dengan nada final, tanda perkataannya tidak bisa dibantah dengan argumen seperti apapun. Nada yang kerap kali digunakannya kepada anak laki-laki yang baru masuk itu ketika ia mencoba mengeluarkan pendapat menentang ayahnya mengenai suatu hal. Pria itu meneguk tehnya, sesaat tampak lebih lelah daripada biasanya. Odien akhirnya mengangkat kepalanya menemui mata bewarna kecokelatan milik anak laki-lakinya.

“Nathan.”

Anak yang dipanggil Nathan itu sedikit membungkuk dan berkata dengan agak segan, mengingat pertemuannya terakhir dengan ayahnya tidak berakhir dengan baik—sangat tidak baik malah, “sore, ayah. Bagaimana keadaanmu?”

“Baik. Bagaimana keadaanmu sendiri?”

“Yah, sama saja.”

“Kemari, duduk,” ucap sosok yang lebih tua menunjuk comfort chair di sebelah tempat tidurnya. Tidak tampak sekalipun berbeda dari biasanya, padahal Nate mengira bahwa beliau akan bersikap berbeda setelah insiden Gisselle kemarin. “Bagaimana tahun ini? Nilai-nilaimu—lalu, apa ada kejadian menarik?”

Nate tidak menjawab—kejadian menarik di sekolah. Michelle, kesalahannya hinga menyebabkan kekalahan asrama mereka dalam mempertahankan piala quidditch, detensi—tidak, ia tidak mendapat detensi tahun ini, hanya pengurangan poin asrama, lalu entah berapa kali ia tidak mengikuti kelas, nilai-nilainya yang menurun drastis... Tapi pada akhirnya ia menutup matanya dengan ekspresi seperti menderita kebosanan akut dan membuka mulutnya dengan yakin, “ah, sangat membosankan, tidak ada yang menarik.”

“Begitu...?” balas pria di depannya dengan wajah tidak percaya—seolah ia bisa mendeteksi tiap kebohongan di balik kata-kata anaknya. Tapi ia sepertinya tidak ingin mengorek lebih dalam, atau mungkin menunggu Nate untuk menceritakannya lebih dulu. Saat beberapa detik terlewat dan anak laki-laki itu tetap tidak tampak akan mengatakan apapun lagi, Odien membuka mulutnya lagi untuk mengalihkan pembicaraan, “Sudah dengar mengenai Kåre Willoch? Kalau beruntung, tahun depan dia akan menjadi perdana mentri muggle. Dan itu akan sangat menguntungkan untuk kita, tentu saja—mengingat Willoch sebenarnya seorang squib yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga kita. Perdagangan dan segala urusan kita dengan dunia muggle akan lebih mudah. Sungguh tepat keputusannya untuk berkiprah di dunia muggle.“

“Willoch, yang ada di pesta tiga tahun yang lalu?” tanya Nate dengan ekspresi tertarik.

“Ah, kau mengingatnya? Memang dia ada di sana waktu itu. Seorang pria yang karismatik, bukan? Besar kemungkinan dia terpilih di pemilu mendatang.”

Terdengar suara ketukan di pintu sebelum papan kayu oak itu terbuka dan menampilkan sosok wanita tinggi semapai dengan rambut pirang keemasan yang mencapai punggungnya. Tubuh rampingnya di balut gaun bewarna zamrud yang terlihat necis. Wajahnya memakai riasan warna natural, mempertegas kecantikan yang dimiliki wanita berdarah Itali itu. Di belakangnya peri rumah yang membawa baki dengan piring berisi scone di atasnya tampak terhuyung-huyung, sedikit kesulitan membawa benda yang lebih besar daripada tubuhnya. Meski begitu wanita itu hanya mengisyaratkan si peri rumah untuk meletakan nampan yang dibawanya di atas nakas sementara ia sendiri berjalan menghampiri suaminya, “dear, bukankah seharusnya kau beristirahat—kau kan belum sembuh benar, jangan memikirkan soal pekerjaan dulu.”

“Tidak apa-apa, Arianna.”

“Tapi kau juga harus menjaga kesehatanmu. Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi padamu—“

“Tidak apa-apa,” potong pria itu sambil mengangkat tangannya, “sampai Nathan bisa mengambil alih tugasku, aku belum bisa melepas tanggung jawabku.” ujar pria bersuara berat itu sambil menatap Nate dan tersenyum tipis.

Nate merasa nafasnya mendadak tertahan tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya nyengir tanpa arti—seperti orang idiot yang tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tahu, tahu dengan sangat pasti bahwa ayahnya selalu memiliki harapan yang besar padanya. Maklum saja, ia satu-satunya anak laki-laki yang bisa meneruskan namanya kelak. Satu-satunya yang bisa membawa nama keluarga mereka. Ia tahu tanggung jawabnya, tapi ketika disodorkan kepadanya secara langsung seperti ini, mau tidak mau ia jadi salah tingkah. Apalagi—apalagi karena ia menyadari ia tidak pantas diharapkan seperti itu. Menggantikan ayahnya berarti ia harus memiliki pengetahuan yang sangat luas dan menjadi sosok yang dihormati oleh semua orang. Penghormatan—ia bahkan tidak memiliki satupun alasan untuk dihormati.Ia hanya seorang anak tidak sah. Harapan itu terlalu tinggi, Nate tidak yakin bisa mencapainya.

“Ah, aku belum menyuruh Naine untuk merapikan barang-barangku. Aku akan datang lagi nanti,” ujarnya sambil sedikit membungkuk pada ayahnya. Baru kemudian keluar dari kamar itu dengan sedikit terburu-buru meskipun ia berusaha menutup-nutupinya.

Begitu pintu oak di belakangnya tertutup, Nate menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia menyibakan rambutnya ke belakang dengan wajah frustasi dan menghela nafas pelan. Ini sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya—bukan. Lebih tepat belum ia sadari benar-benar sebelumnya. Beban yang ada di pundaknya, belum pernah terasa seberat ini. Bagaimana mungkin ia bisa mencapai ekspektasi yang setinggi itu—ia tidak bisa apa-apa. Dia—bahkan bukan siapa-siapa. Hanya serumpun rumput liar di tengah-tengah taman bunga. Apa yang bisa ia lakukan?

“Berat, ya, ketika semua orang mengharapkanmu dan kau tahu kau tidak akan pernah memenuhi harapan mereka.”

Sebuah suara dengan nada dimanis-maniskan mencapai indranya. Bola mata bening milik anak laki-laki itu bergulir malas ke sisinya—tidak perlu melihat ia juga sudah dapat menebak siapa pemilik suara itu. Seorang gadis berambuk pirang kecokelatan yang sedang mengenakan summer dress bewarna ungu berdiri sekitar dua meter darinya. Cantik dan terlihat memikat meskipun dengan baju dengan model sederhana—tapi Nate yakin, harganya tidak mungkin masuk ke dalam kategori ‘sederhana’. Sosok cerminan dari ibunya—hanya saja lebih jauh lebih muda dan berbeda warna rambut. Dan kesan yang ditimbulkan. Itu perbedaan yang paling mencolok. Sementara ibunya—betapapun menyebalkan dan ingin ia singkirkan—terlihat anggun, gadis di dekatnya itu lebih berkesan ingin mendominasi dan penuh kepercayaan diri yang membuat darahnya mendidih. “Berisik. Ini bukan urusanmu, Miranda.”

“Touché,” ujar gadis berumur kepala dua yang bernama Miranda itu sambil memilin rambutnya dengan ekspresi puas yang tidak ditutup-tutupi—tampak menikmati setiap detik dari penderitaan yang ditimbulkan oleh kata-katanya. Sosok pirang itu membalikan tubuhnya membelakangi adik laki-lakinya dan berkata, “well, mungkin sebaiknya kau menyerah saja, Nathan. Gagal di berapa pelajaran tahun ini, hm? Sungguh—Ayah bermimpi terlalu besar untuk menjadikanmu penerusnya.”

Anak laki-laki itu menatap sosok yang berjalan menjauh tersebut dengan wajah geram. Beraninya berkata seperti itu—memangnya dia pikir dia itu siapa? Meskipun, meskipun ia tahu benar semua perkataan itu benar. Bagaimana bisa dia mewujudkan harapan ayahnya jika ia terus seperti ini. Pikirannya sibuk sendiri meratapi nasib hingga ia melupakan kewajibannya—statusnya yang tidak dapat disangkal. Memang ia bukan anak yang diharapkan, anak seorang wanita lain, hal itu tidak akan pernah berubah. Tapi setidaknya, ia tetap memiliki darah Harvarth di dalam nadinya. Harvarth—high defender, ia juga bisa bertahan, melindungi, apapun. Nate akan membuktikannya.

Ia—Nathan Kehl Harvarth—lah yang akan berdiri di posisi puncak.
Frilla
“I just want to be happy, Nate—please?”


“Dimana kakakmu?”
“Hee? Siapa?”

Gurat-gurat kemarahan tampak jelas di wajah wanita berambut keemasan itu—suaranya terdengar bergetar sedikit ketika berkata lagi, “aku tahu kau pasti ada hubungannya dengan semua ini, Nathan. Di mana Gisselle?”

“Saa…”—who knows? Wajah laki-laki itu tidak tampak peduli—hanya mengangkat bahunya sedikit tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari buku yang baru ia beli di salah satu toko majalah di dekat hotel Karuizawa yang mereka tinggali.

“Nathan—I swear, if you don’t tell me right away—“

“Berisik. Mana aku tahu kemana Gisselle pergi—aku bukan orang tua yang bertugas mengawasinya—bukankah seharusnya itu tugasMU.“


“Nathan—kau yang paling dekat dengan Gisselle, kau pasti tahu kakakmu ada di mana sekarang—kan?”

“Aku tidak tahu, Ayah,” ujar Nate tanpa benar-benar menatap mata ayahnya. Maaf, tapi ia sudah berjanji pada Gisselle—dan Merlin tahu ia tidak pernah mengingkari apa yang sudah ia janjikan.

“Benarkah?”

“T-tentu saja, untuk apa aku berbohong!”

“Begitu. Aku kecewa padamu, Nathan.”


“Kau—memuakkan.”

“Berisik! Mau apa lagi sekarang?! Belum puas memakiku, eh?”

“Semuanya—Gisselle menghilang—semua ini karena kau... Kenapa bukan kau saja yang pergi dari sini?!”

“Apa hubunganku dengan ini semua—dia sudah cukup besar untuk memilih jalannya sendiri—bagaimana mungkin itu salahku?!”

“Pasti kau yang menanamkan ide-ide gila itu dalam otaknya—anak kotor, seharusnya aku tahu di dalam pikiranmu pasti kau merencanakan rencana gila!”

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Berhenti berkata seolah kau mengenalku!”



Nate menatap gadis di depannya—menunggu jawaban dari pertanyaannya yang tidak pernah terjawab. Kenapa ini berakhir seperti ini—apa yang ia sudah melakukan sesuatu yang salah…? Matanya terlihat hampa—tapi seringai angkuh di bibirnya tetap bertahan. Ia tidak mengerti—tolong.seseorang.jelaskan. Setan mana yang berani mengusik Nate? Kepalanya terasa penuh. Ayah. Ibu. Miranda. Gisselle. Cassandra. Sylar. Szent. Michelle. Apa semua ini belum cukup? Tidak mau, tidak bisa. Don’t leave… Apa salahnya—kenapa semua orang, semua—apa ia begitu memuakkan hingga pantas ditinggalkan. "Sorry for always getting in your way—won't happen again, for sure." Nate mengangkat alisnya dengan ekspresi tenang. Kosong. Ia tidak pernah mengerti apa yang terjadi padanya—semua bertubi-tubi datang dan pergi. Semua orang pada ahirnya meninggalkannya begitu saja—karena ia tidak cukup berarti. Pada akhirnya ia hanya mengibas-ngibaskan tangannya dengan ekspresi yang bisa dikatakan bosan dan berkata acuh tak acuh, “fine, fine. Whatever.”

Ia membungkuk dan mengambil headphone putihnya yang tadi terjatuh. Menggantungkannya di sekeliling lehernya sebelum pemiliknya merapikan t-shirt garis-garisnya yang sedikit berantakan tadi. Matanya melirik ke arah benda mengkilap yang tergeletak di lantai begitu saja. Perlahan ia memungut benda itu—wajahnya tetap tidak menampakan emosi. Hanya senyum angkuh tidak wajar seolah tubuhnya hanya bertindak sesuai memori saja—tanpa perasaan.

“Whatever. You’re still mine anyway. That, you promise me.”



I want to wipe away the moment,
But I want to cling to it all the same.
I don't understand myself.


Anak laki-laki berumur dua belas tahun itu membawa sebuah tas hitam yang dipegangnya melewati bahunya. Sebuah t-shirt bergaris-garis putih hitam yang tidak terlalu ketat ataupun longgar membalut bagian atas tubuhnya, berhenti tepat di atas ikat pinggang bewarna hitam yang menahan celana jeans gradasi abu-abunya. Sebuah wristband bewarna hitam membelit pergelangan tangan kanannya yang menggenggam tas Mon Blanc hadiah dari ayahnya sebelum pergi berlibur di musim panas. Di kepalanya, sebuah headphone bewarna putih berdiam mencolok di antara rambut cokalat gelapnya—tanpa mengalunkan musik. Hanya bertengger di sana tanpa suara—seolah memberikan ketenangan yang dibutuhkan pemiliknya untuk berpikir.

Drap. Drap.

Langkahnya berderap sepanjang koridor yang sunyi—hanya terdengar suara celoteh riang dari pintu-pintu kompartemen yang penuh. Dahi anak itu sedikit berkerut—tahun kemarin ia adalah salah satu yang mengeluarkan tawa riang itu. Kenapa sekarang rasanya untuk tersenyum pun sudah sulit—eh? Sesak. Dan semua ini karena orang-orang brengsek yang merusak semua kesenangannya—menjatuhannya ke jurang terdalam. Bibirnya mengatup hingga membentuk garis tipis, matanya menatap tajam ke pemandangan di luar jendela—seakan-akan penyebab semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini ada di luar kereta. Menertawakannya dengan raut muka puas. Entah kenapa—di dalam pikirannya terlihat sosok Miranda yang tersenyum puas dan Mic—Solathel yang juga sedang tertawa mencemooh. Yang benar saja. Nate mendengus kesal, kalau ada yang harus tertawa—ialah yang akan melakukannya.

I dreamed a world in my childhood.
I was born to make it come true.
I'm a baby, and I want to cry.


Ia membuka pintu kompartemen yang tampak masih sepi dan menemukan beberapa orang yang sudah ada lebih dahulu. Sienna dan Szent. Bocah itu memajukan bbirnya dan membuang muka begitu melihat Szent—duduk di samping gadis yang mengenakan kemeja dan rok putih pura-pura tak melihat salah satu sahabatnya ada di sana. Kok, mereka—ia dan Sienna obviously—bisa-bisanya kembaran dengan warna hitam putih begini, ya? Meskipun celana jeans-nya bewarna abu-abu, sih. Ia mengangkat bahu dan menoleh ke arah Sienna—siap untuk menyapanya seperti biasa hingga ia melihat mata sepupunya itu. Sienna itu… sahabatnya kan? Apa dia juga akan mengambil Sienna dari Nate—meninggalkannya lagi seperti yang ia lakukan barusan?

Tangannya merayap ke liontin berbentuk anak kunci yang masih bergantung dengan bangga di sekeliling lehernya. Tenggorokannya tercekat—ia memaki dalam hati sementara pandangannya jatuh ke lantai. Apa gunanya memiliki kunci yang tidak bisa dipakai? He feels lost. Seolah ia sedang mencari sebuah pintu keluar di dalam sebuah labirin—kuncinya sudah ada di tangannya, namun ia tidak dapat menemukan pintu yang dimaksud.

Nate meletakan tas hitam di tangannya di kursi sebelahnya—perlahan mengalihkan pandangannya ke wajah sepupunya. Don’t leave me. Mungkin ia memang tidak pantas memiliki siapa-siapa, tapi setidaknya—jangan biaran ia sendiri. Anak laki-laki yang biasanya berwajah angkuh itu mengangkat tangannya dan menarik pelan kemeja bagian lengan gadis di sebelahnya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu gadis itu tiba-tibat—wajahnya tidak terlihat di balik potongan rambutnya yang cukup panjang dan bewarna gelap itu. Bisikan pelan hampir tidar terdengar keluar dari bibir anak laki-laki yang mengesampingkan tingkahnya yang biasanya selalu mendatangkan akibat buruk itu—sebenarnya tetaplah seorang anak kecil, “Sien… it hurts…”

But if I have to take this pain
To make my dreams come true,
It's not so bad...





Nate menyandarkan diri di dinding koridor berpenerangan remang-remang itu. Pintu masuk ruang rekreasi asrama tidak begitu jauh darinya—tapi ia ingin diam dulu di situ untuk beberapa saat. Meskipun malam sudah larut—ia hanya mengenakan t-shirt bewarna hitam meskipun malam sudah larut, sweater cashmere warna perak kesayangannya tersampir di bahunya. Hadiah ulang tahun yang diberikan ibunya. Kepalanya terasa berat—mungkin akibat kurang tidur beberapa akhir ini. Fenrir—burung hantu elangnya—belum membawa kabar apa-apa dari rumah. Apa ia benar-benar sudah dibuang sekarang? Bagus. Sangat bagus. Sampai muak rasanya.

Nate mengacak-acak rambutnya dan mendesah pelan sebelum akhirnya melangkah memasuki ruang rekreasi. Tempat itu sudah sepi—seperti yang sudah sewajarnya. Anak itu menatap sekelilingnya dengan wajah cengo—seolah menunggu seseorang melompat dari balik kursi dan berkata ‘Kejutan! Semua ini hanya lelucon!’. Tidak lucu. Pikirannya seperti bercabang-cabang—ia mulai berpikir ia bisa gila kalau terus menerus seperti ini. Terserah. Tidak peduli. Kalaupun ada banshee mengerikan yang muncul tiba-tiba dari balik sofa dan mencekik lehernya sampai mati kehabisan nafas, mungkin yang Nate katakan hanyalah terima kasih. Setidak waras itulah ia saat ini. Matanya menatap sosok sesuatu berambut panjang—bukan banshee, sayangnya. Tapi lebih baik lagi—atau lebih buruk? Ia tidak yakin. Tapi toh laki-laki berambut kecoklatan itu tetap mendekat dengan cengiran angkuh yang sudah menjadi trademark-nya.

“Menungguku pulang sampai selarut ini? Ck, ck... Michelle memang calon istri yang baik,“ ujarnya dengan wajah sok prihatin seolah tidak ada yang berubah di antara mereka. Seolah. Right. Nate melangkah ke arah asrama siswa—sebelum ia berhenti dan menatap sweater perak di bahunya beberapa saat. Cashmere buatan Perancis—kata Gisselle cukup mahal, lembut dan terlihat classy. Sweater kesayangannya. Nate mengernyit sesaat sebelum akhirnya berbalik dan melemparkan benda itu ke arah gadis berambut ikal yang entah kenapa masih ada di tempat itu. Menunggunya? Tidak mungkin—ia terlalu banyak bermimpi. Anak laki-laki itu meneruskan langkahnya ke asramanya—tidak berbalik untuk melihat bagaimana reaksi gadis itu.
Frilla
Bocah sebelas tahun itu—bukan, hampir dua belas tepatnya, hanya tinggal beberapa bulan lagi—merapatkan jaket abu-abunya yang cukup tebal hingga membuat tubuhnya tampak lebih besar daripada yang seharusnya. Alisnya mengernyit sedikit, tampak tidak terkesan dengan keadaan di sekitar jalan yang dilaluinya—kenapa ia mau merepotkan dirinya sendiri dengan melewati tempat yang seperti ini Nate sama sekali tidak tahu. Anak laki-laki berambut kecoklatan itu mengangkat bahunya sedikit dan mulai menyusuri jalannya menuju ke kastil, sesekali menepis salju yang jatuh di atas kepalanya dengan tidak sabar. Sarung tangan hitam yang dipakainya rasanya hampir-hampir tidak bisa menahan dinginnya cuaca hari itu, atau mungkin kondisi tubuhnya memang sedang tidak cocok untuk berjalan di tengah salju begini.

Matanya yang cokelat menyusuri lautan salju yang terhampar di depannya. Ada yang membuat orang-orangan salju—entah siapa yang kurang kerjaan begitu. Seulas senyum kecil muncul di wajahnya. Pikirannya menelusuri kenangan beberapa tahun yang lalu, di hari bersalju seperti kali ini—beberapa hari menjelang Natal ketika untuk pertama kalinya, Ayahnya menghabiskan waktu satu hari penuh hanya untuk Nate seorang—dan keluarga yang lain sebenarnya, tapi sampai sekarang Nate tetap menganggap hari itu sebagai hari miliknya dan ayah, berdua saja. Beliau menemaninya bermain perang salju di halaman, meskipun awalnya pria itu sempat ingin menolak dan terlihat kaku. Ia ingat ketika itu ia yang masih berumur lima tahun sangat gembira karena ia berhasil membeli waktu ayahnya.

“Ayah, berapa uang yang ayah hasilkan dalam waktu satu jam?”

Pria itu mengangkat wajahnya dan mengerutkan dahinya, menatap putra tunggalnya dengan tatapan tidak sabar. Pertanyaan macam apa itu, apa anak itu tidak bisa melihat bahwa ia sedang sibuk? “Untuk apa kau menanyakan pertanyaan macam itu?”

“Um... hanya ingin tahu.”

Odien menarik nafas panjang. Ia tahu ia bersikap tidak adil kalau ia sampai mengusir anak itu hanya karena merasa Nate mengganggunya. “Mungkin 100 Galleon.”

“Oh—“ mungkin Odien salah dengar, tapi ia merasa mendengar nada kecewa dalam ucapan anaknya “—boleh aku minta 45 Galleon, ayah?”

Ketidak sabarannya meluap lagi. Ia menatap putranya dengan dingin dan berkata keras, “kalau kau hanya mencoba untuk mendapat uang saku tambahan, itu tidak akan berhasil, Nathan. Kembali ke kamarmu.”

“Tapi—“

“Kembali ke kamarmu!”

Pria itu menatap kepergian putranya yang tampak lesu dengan sedikit bersalah. Ia tidak bermaksud sekeras itu—tapi akhir-akhir ini pekerjaannya menumpuk dan ia merasa tidak punya waktu untuk menghadapi omong kosong anak kecil. Odien memijat-mijat pelipisnya dan mendesah pelan. Mungkin Nate memang memerlukan uang itu, mungkin anak itu ingin membeli sesuatu yang penting.

Ini bukan sifatnya, tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi mendatangi putranya. Krieet. Pintu terbuka menampilkan kamar anak-anak yang didominasi warna laut, suara tarikan nafas yang terdengar memberitahunya bahwa anak itu belum tidur. “Nate, maaf soal yang tadi. Ini 45 Galleon yang kau minta.”

Sosok di tempat tidur berbalik—senyum yang muncul di wajah bocah lima tahun itu membuatnya hampir ikut tersenyum, meskipun rasa itu hilang seketika melihat Nate menarik kantung dari bawah bantalnya yang ketika dibuka berisi kepingan galleon. Kemarahannya muncul ke permukaan lagi, “kalau kau sudah memiliki uang, kenapa kau minta lagi?!”

“Tadi uangku belum cukup, tapi sekarang sudah,” jelas anak laki-laki itu dengan cengirannya yang khas dan mata penuh kegembiraan.

“Ada 100 Galleon, boleh aku meminta ayah untuk pulang satu jam lebih awal besok? Aku ingin merayakan natal dengan ayah.”


Sudah jadi rahasia umum bahwa Nate menghormati dan menyayangi ayahnya lebih dari siapapun. Tapi kejadian itu—titik balik dari keakraban mereka—adalah rahasia kecil mereka berdua. Senyumnya tetap bertahan kalau tidak semakin lebar mengingat tahun-tahun ke belakang, beberapa hari sebelum Natal waktu ia menghabiskan waktu bersama keluarganya. Mereka berenam adalah keluarga yang sempurna, Nate tidak bisa membayangkan keluarga yang lebih akrab dibandingkan mereka. Paling tidak, waktu itu. Sampai semuanya mulai berubah, sampai ia akhirnya mengerti apa maksud dari semua perkataan—sikap, semua kebenaran dan fakta yang selama delapan tahun terkunci rapat-rapat.

Kenapa—kenapa ia harus memiliki darah terkutuk ini?

Senyum miris muncul di wajahnya. Sesaat ia menatap langit yang kelabu, seolah ingin tenggelam di dalamnya—melupakan kenangan yang paling ingin ia hapus dari memorinya.

Di akhir usianya yang kesembilan, Nate baru mengerti betapa besar kekuasaan yang di bawanya dalam namanya. Betapa besar pengaruh yang ia timbulkan dengan hanya satu kalimatnya. Kejadiannya waktu ia dimasukan ke dalam sekolah muggle, setelah tragedi yang menimpa keluarga Lazarus—dan juga setelah Nate mengetahui tentang darah terkutuk yang mengalir dalam dirinya. Satu hal yang tidak berubah adalah hubungan Nate dan ayahnya—dan ia bersyukur untuk hal itu. Suatu ketika Nate mengeluh pada ayahnya bagaimana seorang gurunya bersikap tidak adil dengan menghukumnya—apa alasannya ia sudah lupa—dan bagaimana anak itu tidak menyukainya.

"I hate her, father."

Besoknya ia tidak pernah melihat atau mendengar tentang guru itu lagi. Tampaknya Odien menganggap bahwa tindakan kecil melawan anaknya adalah penghinaan terhadap nama keluarganya, sehingga ia sendiri yang memastikan—dengan uang dan kekuasaan yang ia miliki—bahwa guru itu tidak akan pernah mengajar lagi—sesuatu yang sangat ekstrim untuk sesuatu yang sangat sepele, namun Odien memang tidak dikenal karena kebaikan hatinya. Sisi itu, hanya ia tunjukan pada keluarga dan sahabat keluarga. Di lain waktu, ketika Nate dan duo S—yang juga masuk ke sekolah yang sama—memukul beberapa siswa yang mengejek mereka—mereka mengatai Szent dan Sylar anak yatim dan berkata Nate, Sylar, dan Szent tidak bisa apa-apa kalau ayah mereka tidak ada—gurunya sama sekali tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya tersenyum dengan wajah sedikit ketakutan dan meminta mereka tidak melakukan hal seperti itu lagi. Pengaruh ayahnya sebagai donatur terbesar—bersama dengan Lazarus dan Istvan—membuat Nate merasa superior, ia tahu ia bisa melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa ada seorang pun yang merintangi jalannya.

Ia adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi pusat dari seluruh dunia—atau begitulah yang ia coba tanamkan dalam dirinya sendiri. Satu-satunya cara agar ia bisa melupakan keberadaan darah terkutuk yang mengaliri nadinya—satu-satunya cara agar ia bisa menerima eksistensinya tanpa merasa bahwa ia adalah anak yang tidak pantas hidup. Ini rahasia terbesarnya—ini rahasia yang ia kunci rapat-rapat sehingga tidak akan ada seorang pun yang tahu, agar dunia tidak membuangnya—agar keberadaannya tetap memiliki arti meskipun semu. Darah terkutuk ini...

Nate memejamkan matanya sesaat sebelum menyusuri jembatan yang seolah mengejeknya dengan mengatakan bahwa takdirnya pun akan berjalan lurus—ia tidak bisa lari, ia hanya bisa memperlambat langkahnya untuk mencapai akhir yang sudah ditentukan. Accursed.
Frilla

ODIENEER HYPERION HARVARTH
((visualisation: Hayden Christensen ))
Pureblood
Oslo, Norwegia
25 Desember, 43 yrs


Tongkat Sihir : Elm, nadi jantung naga, 13,5 inchi
Nama Ayah : Sverrir Ormr Harvarth (PB)
Nama Ibu : Cammile Bruadarr Harvarth nee. Chevarone (PB)
Nama Saudara :
Thorr –adik (PB)
Sigurd –adik (PB)
Sindri –adik (PB)

Personaliti : tegas, perfeksionis, kaku di depan kebanyakan orang namun bisa menjadi sosok yang humoris di depan anak-anaknya, sosok pria yang kebapakan dan sangat menjunjung tinggi keluarganya

Bakat & Kekurangan : pengusaha yang sukses, tipe yang lebih memilih untuk merencanakan daripada melakukan, seorang jenius dengan IQ di atas rata-rata


Meskipun berada dalam lingkungan keluarga darah murni, tapi keluarga Harvarth yang memang memiliki pandangan berbeda dengan keluarga darah murni kebanyakan, tidak membanggakan status darah mereka. Dan meskipun mereka memang menikahi sesama darah-murni, itu lebih dikarenakan oleh kedudukan keluarga tersebut. Menurut mereka, tidak peduli bahwa orang itu adalah penyihir berdarah murni, kelahiran muggle, atau muggle, yang terpenting adalah kedudukan orang itu dalam masyarakat. Pandangan itu juga yang menurun kepada Odin, sehingga ia tidak membeda-bedakan status darah dari kecil.

Pernikahannya dengan Arianna di usinya yang ke 23, adalah pernikahan yang diatur oleh kedua orang tuanya. Dengan alasan menyatukan dua keluarga besar itu untuk membina hubungan baik diantara keduanya. Mengingat keluarga Duske adalah keluarga penyihir yang terkenal di Itali dan pernikahan itu bisa menjembatani hubungan bisnis antara penyihir Norwegia dengan Italia. Meskipun lambat laun ia memiliki perasaan pada istrinya itu, sampai mereka memiliki dua orang putri. Beberapa tahun setelahnya, ia bertemu dengan Freedreth. Ia sangat tertarik pada pribadi wanita muda itu sehingga tanpa sadar ia juga jatuh cinta padanya, meskipun ia juga tetap mencintai istrinya. Tapi ia sedikit kecewa pada Arianna yang hingga saat itu belum bisa memberikannya anak laki-laki.Sehingga ia senang sekali pada waktu Freedreth dikatakan mengandung anak laki-laki. Meskipun pada akhirnya wanita itu mengorbankan nyawanya untuk anak itu.

Ia kerap kali merasa bersalah pada Arianna, namun ia juga tidak menyesalinya. Sebab kalau bukan karena Freedreth, ia tidak akan memiliki Nathan sebagai anaknya.




ARIANNA DALMACE HARVARTH nee. DUSKE
((visualisation: http://intergalacticstock.deviantart.com))
Pureblood
Surrey, England
16 Juni, 39 yrs


Tongkat Sihir: Walnut, pembuluh nadi naga, 12 inchi
Nama Ayah: Aloysius Cathal Duske (PB)
Nama Ibu: Sabina Elba Duske nee. Gaetanna
Nama Saudara:
-Benvennuto –kakak (PB)
-Luana –adik (PB)

Personaliti: Angkuh dan tegas, wanita mandiri yang sangat mendambakan keluarga yang sempurna, anggun, menyukai kerapihan, lembut namun tetap bisa marah ketika ia menginginkannya, menghargai status darahnya.

Bakat & Kekurangan: Seorang Lady di antara Lady, tuan putri dari keluarga terhormat yang sangat menghargai kesopanan, suka membaca sehingga pengetahuannya luas.

Keterangan lain: Meskipun awalnya pernikahannya dengan Odin hanyalah sekedar kesepakatan bisnis di antara keduanya, Arianna dengan cepat jatuh hati pada kepribadian tegas yang dilihatnya pada diri Odin. Pernikahan yang bahagian hingga Miranda dan Giselle lahir. Sejak kedua putrinya lahir, beberapa kali ia mengandung namun semuanya keguguran sebelum waktunya. Hal itulah yang membuat suaminya yang sangat menginginkan putra yang kelak akan mewariskan namnya, akhirnya berpaling pada Freedreth. Arianna membenci Nate karena ia menganggap Freedreth sebagai penghancur rumah tangganya, meskipun sebenarnya dalam hati ia memiliki sedikit rasa sayang pada Nate. Namun karena anak itu bertingkah ugal-ugalan dan tidak tahu aturan, semakin membuatnya memiliki alasan untuk membenci anak itu.

Kegiatan sehari-harinya adalah mengurus salah satu anak perusahaan keluarganya dan suaminya. Selain itu ia juga sibuk mengurus acara amal yang sering diselenggarakan oleh perkumpulan penyihir wanita bangsawan Eropa. Meskipun jarang berada di rumah, sama seperti suaminya ia tetap berusaha untuk meluangkan waktunya untuk anak-anaknya.




MIRANDA SEVILLENNE HARVARTH
((visualisation: http://intergalacticstock.deviantart.com))
Pureblood
Paris, Perancis
4 Januari, 19 yrs


Tongkat Sihir: Ash, hati basilisk, 10 inchi
Nama Ayah: Odieneer
Nama Ibu: Arianna
Nama Saudara: Gisselle, Nathan, Cassandra

Personaliti: intelek dan anggun, sangat memuja ibunya sehingga sering meniru tingkah lakunya tanpa tahu alasannya, dewasa , namun kolot dan tidak berpikiran terbuka, agak tidak sabaran.

Bakat & Kekurangan: suka membaca buku dan memiliki ingatan yang kuat, pintar dalan transfigurasi, karena lebih mementingkan logika ia tidak memiliki feel yang tepat sebagai ahli ramuan.

Keterangan lain: Miranda sangat menghormati ibunya, bisa dibilang memuja. Sosoknya pun sangat mirip dengan ibunya, perbedaannya hanya pada warna rambutnya yang lebih cokelat sementara ibunya sedikit pirang. Ia bisa melihat ketidak sukaan ibunya pada Nate yang membuatnya juga tidak menyukai adiknya itu tanpa alasan yang benar-benar jelas. Meskipun setelah dia lebih tua, dia menyadari bahwa Nate bukan benar-benar saudaranya. Dan ia juga akhirnya mengetahui bahwa kehadiran Nate membuatnya kehilangan sebagian besar warisan keluarga Harvarth kelak.

Sepertinya ia iri pada adik-adiknya, Gisselle dan Nate, yang memiliki otak cemerlang. Mendapat nilai-nilai bagus tanpa perlu terlalu berusaha, sedangkan dia hanya hebat di bagian hapalan.

*Miranda bersekolah di Beauxbatons, sekarang bekerja di kementrian di departemen pelaksanaan hukum sihir, sekaligus mengurus perusahaan keluarganya.



GISELLIENE BRUNHILLDE HARVARTH
((visualisation: Tricia - http://slumberdoll.deviantart.com))
Pureblood
Stavanger, Norwegia
9 Mei, 18 yrs

Tongkat Sihir: Elder, bulu ekor pheonix, 11,5 inchi
Nama Ayah: Odieneer
Nama Ibu: Arianna
Nama Saudara: Miranda, Nathan, Cassandra

Personaliti: pemberontak, periang, berpikiran terbuka dan tidak terlalu peduli dengan orang lain, cuek dan egois, jarang memikirkan hal-hal yang serius

Bakat & Kekurangan: pemusik yang berbakat terutama biola dan piano, meskipun ia juga bisa memainkan banyak alat musik lainnya, pintar

Keterangan lain: Gisselle tidak membenci keluarganya. Namun ia seringkali kesal dengan ibu dan kakaknya yang tampak tidak menyukai Nate. Karenanya dia sangat menyayangi adik laki-lakinya itu. Meskipun dampak dari kasih sayangnya itu adalah Nate mengikuti macam-macam kebiasannya seperti sering kabur di malam hari. Gadis ini jugalah yang bertanggung jawab dengan percobaan merokok pertama Nate dan macam-macam tindakan melanggar peraturan lainnya.

Cantik (mirip seperti neneknya, Cammile) dan berkepribadian menarik dilengkapi dengan keintelekannya, Gisselle adalah seorang gadis yang memiliki banyak pengagum pria. Sering berganti-ganti pacar, main kesana-kemari, dan berfoya-foya. Namun sekarang ia sedang memiliki hubungan dengan seorang laki-laki asal Filipina, Lodeva Giosingtiao. Berasal dari keluarga bangsawan, yang tidak terlalu terkenal. Hubungan keduanya sepertinya cukup serius.

*Gisselle bersekolah di sekolah sihir kecil di Norwegia. Sekarang bekerja sebagai violinist di Glenn Miller Orchestra.



CASSANDRA WILEENDRIANT HARVARTH
((visualisation: Crissey - http://crissey.deviantart.com))
Pureblood
London, England
13 September, 8 yrs

Tongkat Sihir: -
Nama Ayah: Odieneer
Nama Ibu: Arianna
Nama Saudara: Miranda, Gisselle, Nathan

Personaliti: polos dan ceria seperti anak kecil lainnya, tidak egois dan sangat menyayangi kakak-kakaknya, agak egois, pengagum Nate, suka menonton televisi, baik, sangat menyukai permen dan makanan manis lainnya.

Bakat & Kekurangan: pintar menggambar

Keterangan lain: Sebagai anak bungsu dalam keluarga Harvarth, sudah pasti ia sangat dimanja. Dicurahi segala kasih sayang dari kedua orang tuanya, ditambah lagi tiga kakaknya. Cassandra paling dekat dengan Nate sebagai satu-satunya kakak laki-laki, juga karena perbedaan umur mereka paling dekat. Ia mengagumi kakaknya yang selalu terlihat keren dengan kebiasaan seperti mugglenya. Ia juga suka meniru kebiasaan kakaknya menonton televis yang berujung pada kebiasaanya menonton film-film yang sebenarnya tidak cocok ditonton oleh anak kecil.

Karena kedua orang tuanya sibuk dan kakak-kakaknya juga bekerja, ia menjadi dekat dengan para peri rumah yang memanggilnya dengan sebutan ‘princessa’. Setelah Nate masuk Hogwarts dan tidak dapat menemaninya lagi, ia lebih sering bermain dengan Gisselle yang sering berada di rumah jika tidak ada latihan konser dan tidak ada kegiatan dengan teman-temannya.
Frilla
HARVARTH FAMILY


Harvarth –dari kata Havarth yang berarti ‘high defender’ adalah sebuah keluarga penyihir yang berasal dari daerah Scandinavia lebih tepatnya Norwegia. Keluarga Harvarth sudah ada sejak awal tahun 1300an. Tepatnya dimulai dari putra Raja Leaf Eriksson, pemimpin Swedia dan Norwegia di tahun 1319. Adanya pandemik ‘black death’ tahun 1349, dikatakan adalah perbuatan dari putra Raja Eriksson yang kecewa karena tidak mendapatkan tahta sehingga dia memutuskan hubungan dari keluarganya dan mengganti namanya menjadi, Ormarr Rig Harvarth. Dia inilah pendiri keluarga Harvarth yang sampai sekarang masih menjadi keluarga penting di wilayah Scandinavia.

Dewasa ini, keluarga Harvarth adalah keluarga penyihir yang paling berpengaruh di daerah Scandinavia. Kebanyakan bergerak dalam bidang perdagangan internasional baik dengan penyihir maupun muggle. Meski tempat tinggal keluarga besar ini tersebar di seluruh dunia, tapi kebanyakan masing-masing tetap memiliki rumah di Norwegia. Keluarga Odieneer Harvarth misalnya, tinggal di kastil Arkhesus, Oslo.



AKERSHUS CASTLE
---Oslo, Norwegia


Kastil ini dibangun pada awal tahun 1290-an oleh King Håkon V untuk menggantikan benteng Tonsberg sebagai pusat pertahanan yang paling penting di Norwegia. Pembangunan benteng ini dikarenakan serangan Earl Alv Erlingsson dari Sarpsborg pada Oslo.Benteng ini pertama kali digunakan pada tahun 1308 oleh Duke Eriksson (ayah dari Ormarr Rig Harvartg) dari Södermanland, yang pada tahun itu juga mendapatkan gelar sebagai raja Swedia. Letak benteng yang dekat dengan laut ini menyebabkan benteng ini menjadi pusat pertahanan Norwegia yang kekuatan militernya terletak pada angkatan lautnya. Karena itulah benteng ini sangat openting untuk ibu kota sekaligus untuk Norwegia. Sehingga dikatakan bahwa orang yang memerintah benteng ini sama saja dengan memerintah Norwegia.

Ormarr Rig Harvarth merebut benteng ini pada tahun 1350, menganggap bangunan ini adalah haknya mengingat seharusnya ia yang menjadi raja dari Scandinavia. Hingga saat ini benteng Akershus ini masih didiami oleh keluarga Harvarth turun menurun.


.::Akhersus Castle::.


Garden
Ballroom
Living room 1
Living room 2
Meeting room
Dining room
Library

Master bedroom
Miranda's bedroom
Gisselle's bedroom
Nate's bedroom
Cassandra's bedroom
Odien's room