Tampilkan postingan dengan label Tahun Kedua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahun Kedua. Tampilkan semua postingan
Frilla
Tidakkah ini sedikit terlalu lama?

How, how am I supposed to feel—

Michelle sudah mempersiapkan diri sejak tadi untuk menghadapi yang terburuk. Apa? Dicium, dipukul, dilontari kata-kata merendahkan... apapun, sungguh. Namun Nate masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Kaku. Nyaris tidak bergerak malah. Hanya tatapan tajamnya yang seakan tengah berusaha berbicara, menyembunyikan emosi yang tak dapat ditafsirkan artinya. Gadis itu menahan napas, manik cokelatnya sendiri belum beranjak dari tempatnya terpancang sebelumnya—saling beradu pandang dengan milik lawan bicaranya. Nampak jelas ia berusaha keras meyakinkan pemuda di hadapannya maupun dirinya sendiri bahwa ia kuat—cukup kuat untuk bisa menerima apapun yang akan diputuskan Nate pantas untuk diberikan kepadanya.

—when everything surrounding me
Is nothing but a fake disguise


Dan untuk sesaat setelahnya Michelle sempat berharap bahwa Nate akan menerimanya kembali.

Bibirnya gemetar, saat ia ingin melirihkan jawaban atas pertanyaan pemuda itu. Sejak awal sedikitpun ia tidak berniat melepaskan janji itu—samasekali. Janji yang diikatnya dengan tulus, dihadiahkan sebagai bukti seberapa besar pemuda itu telah berhasil mengisi hidupnya. Nate adalah bagian paling penting dalam dirinya, terlepas dari kenyataan ibunya berada di dunia lain—dunia Muggle—dan ayahnya berkelana entah kemana, dan ia telah menggantungkan terlalu banyak hal kepada keberadaan sosok itu. Ia kira mereka saling membutuhkan satu sama lain, mereka sempurna untuk melengkapi satu sama lain... sehingga saling bergantung juga tidak mengapa.

Michelle tidak menyesal, memikirkannya saja tidak, sampai tiba fase dimana ia mengetahui bahwa ia bukan satu-satunya milik Nate. Tahukah betapa hancur kepercayaannya saat menyaksikan semua kejadian pemuda itu mencium gadis lain berlangsung di hadapannya. Begitu besar bagian dari dirinya—seluruh hatinya bahkan—telah ia serahkan dan ternyata orang yang menerimanya tidak puas dengan merasa hanya dari Michelle saja sudah cukup. Perasaannya bertepuk sebelah tangan, setidaknya itu fakta lain yang harus diterimanya.

I don't know,
I don't know where I belong


Namun ia sudah memutuskan. Kalau memang Nate bersedia, ia tetap menjadi miliknya juga tidak apa-apa. Diduakan, ditigakan, tidak menjadi nomor satu, ia rela. Sekalipun dengan semua pengorbanan dan perasaan yang ia curahkan, ia tidak menerima yang setimpal, Michelle sungguh tidak peduli. Bayangan Nate kembali ke pelukannya saja sudah begitu indah terbayang di pelupuk matanya—

—asalkan Nate bersedia, Michelle akan tetap menjadi miliknya.
"Oh, ya?" Gadis itu menyembunyikan rona merah yang sejenak meliputi kedua pipinya karena mendadak disuguhi pengakuan—membuatnya spontan mengalihkan pandang ke arah lain selama beberapa detik. "Hei, sudah mulai gelap nih." Mengalihkan pembicaraan.

"Argh... Michelle tidak seru, ah. Masa cuma begitu saja," ujar yang laki-laki diiringi oleh tawa untuk menutupi rasa malunya setelah sadar mengenai apa yang diucapkanya barusan. Ia berdiri dan mengibaskan rumput yang menempel di bajunya. Baru kemudian mengulurkan tangannya kepada gadis ikal di dekatnya. "Kembali ke kastil, yuk."

Sang gadis hanya menunjukkan cengiran tidak bersalah, menyambut uluran tangan yang ditujukan padanya dan mengangguk. Digenggamnya erat-erat, ketika langkah mereka beriringan meninggalkan kawasan danau. Pantulan warna jingga tua tersirat di atas bola mata cokelat itu, ketika pandangan sang putri mengerling pada pemilik jemari yang menggenggamnya.

"Aku juga sayang, kok."

Namun bagaimana jika Nate tidak menginginkannya?

Pemuda itu akan melepaskan pelukannya, melepaskan genggamannya, untuk selamanya. Tidak akan menoleh untuk melihatnya lagi. Tidak akan tersenyum dan berbicara lagi. Michelle tidak cukup pintar, tidak cukup berharga, untuk bahkan menjadi nomor dua atau nomor tiganya. Michelle yang naif dan dibutakan oleh cinta. Samasekali tidak pantas untuk seorang pangeran. Tidak. Pantas.

I can't stop the rain from fallin'
I'm drownin' in these tears I cry


Dan itulah yang terjadi.

Pelukan itu datang dan pergi begitu saja—tanpa pertanda, tanpa peringatan. Ketika Michelle membuka kembali kelopak matanya, punggung Nate sudah berlalu meninggalkannya. Sedikitpun, barang hanya sekejap, tidak berbalik. Mencampakkannya. Michelle yang tidak berharga bahkan untuk menerima sepatah kata perpisahan, hanya ditinggalkan khayalan yang lagi-lagi hanya ia seorang yang menikmati dan airmata untuk dihabiskan.

Ia ingin berteriak. Sangat ingin, meronta dan memohon agar pemuda itu tidak pergi dan membiarkan dirinya begitu saja seperti ini. Persetan dengan harga diri, she desperately needs him. Namun ketika bayangan mengenai apa yang akan selanjutnya terjadi jika ia melakukan hal sesuai kehendak emosinya itu, membuatnya tak ayal lagi semakin sakit. Nate sudah memutuskan, dan bukankah ia sudah menyiapkan diri untuk segalanya? Untuk kemungkinan yang terburuk bahwa—sekali lagi Nate memberinya harapan setinggi langit kemudian mencampakkannya kembali ke tanah.

Sakit. Nyeri yang perlahan menyusup, berdenyut-denyut di dadanya dengan keji. Jaket abu-abu di pangkuannya kini dipenuhi pola titik-titik air, sementara semburat jingga dengan cepat menghilang ditelan permukaan danau di kejauhan. Kenapa ia tidak menampar saja? Kenapa ia tidak mengata-ngatai saja? Akan jauh lebih baik. Ia tidak akan merasa sedemikian sakit. Kenyataannya Michelle tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang paling buruk—ia masih sekali lagi berharap. Dan mungkin keputusan Nate untuk menghempaskan semuanya barusan adalah tepat, karena tak ada lagi harapan yang tersisa kini. Sudah tidak ada lagi. Michelle menyerah.

Sudah berakhir, tidak ada lagi kelanjutan dari kisah ini. Berakhir. Meninggalkannya dalam kegelapan seorang diri.

I can't stop, I can't stop the rain
From fallin'
Frilla
Rasa sayang… harapan agar perasaan ini tidak pernah berubah. Aku mengharapkan kebahagiannya. Lalu kapan aku siap melepasnya? Dia selalu menarikku. Akhir-akhir ini apapun yang kulakukan, aku selalu mengambil langkah mundur.

Kalau begini terus, tidak akan bisa lepas. Diriku sendiri yang membuatku... kian dililit oleh rasa ingin memiliki. Perasaan yang membuatmu bagaikan mengejar ilusi.




Dear princess, don’t you understand? He’s not good enough. Nate tahu dengan pasti, gadis itu bukan gadis biasa yang bisa ditemukan di tiap sudut daratan Eropa. Helen of Sparta, banyak—kalau bukan semua orang, mengakui kecantikannya, pembawaannya yang anggun dan memikat, dan kepandaiannya. Sempurna, memikat. Bukan cuma Nate yang menginginkan gadis itu untuk dirinya seorang. Ia tahu dengan pasti, banyak anak laki-laki yang melirik gadis itu dengan kagum—terpana dengan kecantikannya. Keegoisan sebesar apa, kepercayaan diri yang sebesar apa, hingga Nate pernah percaya ia cukup baik untuk sang putri? Ia terlalu memandang tinggi dirinya—tapi ia sadar sekarang, selama ini ia hanya mengejar sebuah ilusi. Imajinasi yang tidak akan pernah terjadi dalam kenyataan.

Bagian mana dari dirinya yang pantas untuk disandingkan dengan seseorang yang begitu surreal—sosok sempurna yang ia kira hanya ada dalam dongeng?

Tidak ada.

Ia tampan, selama ini ia percaya hal itu. Pintar, kalau bukan jenius. Keluarganya terpandang, Harvarth—keluarga tertua di Skandinavia, kaya raya. Tiga aspek itu bisa ia banggakan, memang. Tapi—ia tidak seperti itu. Kalau ia cukup pantas—tidak akan ada orang yang mengatakan bahwa ia seharusnya tidak dilahirkan. Kalau ia memang sehebat yang dikiranya, ayahnya tidak akan merasa kecewa terhadapnya. Kalau ia memang cukup baik, tidak akan ada yang mengatakan dirinya memuakan, kotor, sampah. Ia tidak cukup baik. Ia mengerti, sangat.

Memories fade like yesterday to the setting sun
Picture us in a still frame
with every sigh it's done




“Hm… menurutmu bagaimana?” Tanya sang pemuda, membalas pertanyaan yang diajukan padanya dengan sebuah pertanyaan lain. Matanya masih terpejam, menikmati suasana senja yang hening dan sentuhan jemari gadis itu. Di sana hanya ada mereka berdua. Tidak ada orang lain.

“Menurutmu aku tipe yang sudah mengerjakan esai sebelum detik-detik terakhir atau bukan?“

Senja yang diharapnya tidak akan usai. Gadis itu menikmati detik-detik yang bergerak lambat dalam kedamaian ketika bibirnya perlahan menggumamkan jawaban, "Karena selama ini aku belum pernah dengar para profesor mengomentarimu tidak mengerjakan tugas jadi... kurasa ya, atau aku salah?" Senyum tipis terbentuk di wajahnya. "Jangan lupa mengembalikan esai Sylar tepat pada waktunya, dear."

Jemarinya bergerak menyisikan poni yang menutupi kening pemuda yang duduk di sisinya—memutar lehernya sedikit untuk dapat mendaratkan sebuah kecupan disana.

Gelak tawa yang sempat keluar dari mulut sang pemuda ketika mendengar perbuatannya menyalin esai orang lain diketahui langsung terhenti. Ia membuka matanya dan mendongak—menatap gadis itu beberapa detik sebelum nyengir senang.

“Aku sayang kamu, benar, deh.”




Satu. Dua. Tiga. Sudah berapa kali Nate menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Michelle? Entah. Dia sendiri sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali ia telah menghindar dari pertanyaan yang diajukannya pada dirinya sendiri. Semakin dihindari, semakin banyak pertanyaan yang timbul. Mati satu, tumbuh seribu—kalau menurut peribahasa. Ia tidak pernah tahu arti sesungguhnya dari kalimat itu hingga sekarang. Ketika setiap pertanyaan yang ditepisnya hanya menghadirkan seribu pertanyaan baru yang menanti jawabannya.

I'm the one who understands
Yeah, I'm the one without chance
Now I know I could never be your man


Bagaimana mungkin kalimat yang tidak bertanggung jawab itu bisa keluar dari mulut seorang Michelline Fara Solathel? Bagaimana bisa? Nate terdiam. Kaku—tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Setengah bagian dari dirinya ingin memukul gadis itu untuk mengatakan hal-hal seperti itu—seolah, seolah Michelle menganggapnya seorang laki-laki brengsek. Tapi setengah dirinya yang lain ia tahu, ia memang brengsek. Sudah sewajarnya gadis itu menganggap rendah dirinya. Bukankah itu yang ia tunggu-tunggu? Dianggap rendah, dibenci. Apapun boleh ‘kan? Asalkan memang itu keinginan Michelle—asalkan sang putri bahagia, Nate rela menanggung segala resikonya. Meskipun itu berarti merelakan gadis itu, meskipun dia harus menyerahkan jiwanya pada setan sekalipun.

Tapi egonya sekali lagi mengambil alih dirinya.

Tangannya sekali lagi menyelip ke belakang gadis itu, merengkuhnya dengan lembut. Ia egois—sangat egois. Sekali lagi, ia melakukan hal yang tidak bisa ia pertanggung jawabkan. Tapi, demi Merlin, ia tidak bisa diam saja—tanpa mengatakan apa-apa, tanpa berbuat apa-apa. Dua kutub dirinya masing-masing tidak bisa menang melawan yang lain.

“Will you keep that promise, still?” tanyanya pelan pada gadis di dalam rengkuhannya—berharap ilusi yang ada di depan matanya bisa ia rengkuh meskipun hanya sekejap. Egois. Bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan sang putri?
APA YANG KAU LAKUKAN?

Seperti tersambar listrik—ia melepas gadis itu. Berdiri dengan cepat tanpa memandang bola mata bening milik gadis itu. Tidak berani menatap gadis itu lebih lama. Lagi-lagi. Ia melakukan kesalahan lagi. Anak laki-laki itu mengumpat pelan dan melangkah pergi dengan cepat, kembali ke kastil. Tanpa kalimat perpisahan, tanpa... apa-apa. Pergi begitu saja. Berusaha tidak berbalik apapun, apapun reaksi dari gadis ikal itu. Sudah saja. Nate meninggalkan sosok yang mengisi bagian besar dari dirinya di tepi danau hitam—tempat kenangan mereka. Sudah. Selesai. Lagipula—Prince Harvarth tidak memerlukan siapa-siapa bukan? Ia sudah memiliki semuanya. Semuanya. Ketika semuanya itu tidak berarti apa-apa. Ini yang ia inginkan bukan?

Sang surya bersembunyi. Senja berganti malam, siang telah berakhir. Hari telah berakhir—seperti mereka berdua... berakhir.

With all I try still I know I can't
Cause I'm not good enough
Frilla
Oh, how about a round of applause?
Yeah, standing' ovation?


Michelline Fara Solathel, generasi terakhir keturunan langsung keluarga bangsawan Crosette yang tersohor di Perancis. Di usianya yang baru lima belas tahun lewat sedikit, ia tergolong gadis yang istimewa. Tidak sedikit gadis-gadis muda yang memandang iri pada wajah campuran oriental yang mempesona miliknya, dilengkapi dengan uraian rambut cokelat panjang mencapai pinggang yang sangat sepadan dengan tubuh semampainya. Ramping dan cantik. Penampilannya sangat terjaga, namun tidak hanya itu. Otaknya cerdas, dan orang-orang takkan meragukan bakat sihirnya yang mengundang decak kagum kemungkinan berasal dari warisan keluarga ayahnya yang notabene berdarah murni—sekalipun ia sendiri akan bersikeras bahwa hal ini tak ada hubungannya dengan silsilah keluarga terkutuk itu.

Semua orang memandangnya takjub. Semua orang memandangnya kagum.

Lalu, apakah ia merasa dirinya tidak cukup beruntung dengan semua berkat yang diturunkan kepadanya ini? Tidak. Karena asal tahu saja, selama ini apa yang menjadi keinginannya tidak pernah terwujud dengan baik. Ambisi-ambisi terbesarnya dalam hidup masih jauh dari genggaman. Dan selagi ia berusaha keras mengejar semua obsesi itu, satu persatu hal yang ia miliki terlepas; tanpa pernah memberinya kesempatan untuk mendapatkannya kembali. Hmph, ralat. Mungkin dari awal justru tidak pernah sekalipun digenggamnya. Hanya delusi semata, delusi yang mengizinnya merasakan seolah-olah ia pernah memiliki sesuatu yang begitu berharga. Seolah-olah.

Dan ia betul-betul tidak tahu harus berbuat apa atas drama yang dikemas dengan demikian manis di hadapannya—semenjak satu tahun yang lalu hingga detik ini. Tak pernah sekalipun terendus olehnya semua ini hanya suatu plot untuk membodohi dirinya. Jadi begitu. Semuanya dusta.

Ia tidak pernah benar-benar menjadi seorang tuan putri. Dalam dongeng dan khayalanpun tidak. Entah seberapa sempurnanya ia nampak di luar, ternyata tidak cukup baik untuk dapat bersanding di sisi Sang Pangeran yang terhormat. Ia kira selama ini mereka pasangan serasi. Ia kira selama ini ia berhasil membuat Nate bahagia, bangga akan keberadaannya di sisinya. Ia kira selama ini mereka pemilik kisah happy ending, happily-ever-after. Namun ia salah. Dan ia bisa bilang apa? Pemuda itu sukses membuatnya percaya dengan semua ucapan manisnya. Bahkan membuatnya menjanjikan dirinya, oh Merlin, ia tidak berani membayangkan bagaimana gelinya Nate saat itu.

Oh, and the award for the best liar goes to you
For making me believe that you could be faithful to me


Jangan bercanda. Sikap macam apa ini? Kau kira siapa dirimu? Kau kira dengan siapa kau berhadapan? Nate, tidak akan pernah bersikap seperti ini di hadapan Michelle dan terutama—bersikap seperti ini kepada Michelle. Jangan samakan dirinya dengan Anya atau entah siapa lagi gadis-gadis lemah di luar sana. Bukankah Michelle tuan putrinya? Bukankah ia bilang hanya Michelle satu-satunya? Bukankah ia tahu Michelle tidak akan tersipu dan merunduk malu saat menghadapi Nate yang berkata-kata seperti barusan? Tentu, ia tahu. Ia sengaja. Michelle hanya tidak tahu alasan mengapa ia sengaja berlaku menyebalkan seperti itu. Untuk menyakiti Michelle? Untuk mengatakan bahwa cukup sudah, ia bosan dengan permainan membodohi Michelle?

Belum cukup puas ia menyakiti Michelle atas satu tahun penuh adegan sandiwara ini?

Gadis itu dapat merasakan bagaimana peraaan campur aduk yang meliputi kekecewaan, rasa pedih dan kemarahan perlahan meluap dan memenuhi dadanya. Tidak ada emosi dan airmata, juga tidak ada tamparan. Namun manik cokelat itu jelas menatap dengan penuh rasa sakit terpatri di permukaannya. Tatapan yang menghujam pada sepasang bola mata lain yang tengah bertemu pandang dengannya—tatapan terluka. Bola mata yang disangkanya selalu mengungkap ketulusan dan kejujuran. Rasa sayang dan perlindungan. Kemana semua itu? Semua itu kini hanya terganti oleh keangkuhan, merendahkan dan mengintimidasi. Sebagaimana tatapannya pada orang-orang lain.

Ia kira tatapan itu tidak akan pernah ditujukan untuknya. Ia kira hanya senyuman manis yang akan dihadiahkan Nate kepadanya. Sekali lagi, ia salah.

Please, just cut it out

"I am." Michelle mendongak, lekat-lekat mendaratkan tatapannya pada pemuda di hadapannya, "Lakukan apa saja—I'm yours, anyway, ain't I?" lanjutnya dengan suara bergetar, namun tegas. Kalau ia mengharapkan Michelle akan sekali lagi jatuh terpuruk dan berlinang airmata, ia salah besar. Michelle memang lemah, Michelle memang rapuh. Namun tak pernah sekalipun akan ia tunjukkan. Setidaknya tidak sekarang, tidak di hadapan orang yang telah begitu keji menyakitinya. Toh, ini bukan kali pertama. Hatinya sudah lebih dulu tercungkil, dan ia sendiri tak yakin apakah matanya masih menyimpan persediaan airmata untuk dihabiskan. Lakukan apa saja... Michelle terlalu naif untuk dapat menyadari dirinya hanya sebuah mainan.
Raut cemas sedikit memudar dari wajah gadis dengan sentuhan Asia itu, ketika kemudian ia mengambil posisi duduk di sisi pemuda berambut cokelat. "Kau membuatku khawatir," jemarinya kembali merengkuh tangan kekasihnya, "jangan bicara yang bukan-bukan lagi, oke?"

Sejenak kemudian ia memandang ke dalam wajah pemuda itu dan seperti memikirkan sesuatu, "kau mirip dengan ibumu, ya?"

“Mungkin,” jawab sang pemuda sambil mengangkat bahu. Ia menatap jemari mereka yang bertautan—seperti memikirkan sesuatu sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya ke bahu gadis di sebelahnya. “Aku belum pernah bertemu dengannya,“ ujarnya lagi dengan mata terpejam seperti mengantuk.

“Hm... Aku berani bertaruh kau pasti mirip dengan ibumu,“ lanjutnya membelokan percakapan—sepertinya tidak ingin pembicaraan menjadi terlampau serius. Pemuda itu menarik genggaman mereka dan mengecup punggung tangan gadis ikal itu. “Cantik, sih.“

Sang gadis mengulum senyum, perlahan mengangkat tangannya yang bebas, "Aku tambah tidak mengerti kalau kau yang seperti ini bisa membuat ibuku tidak menyukaimu," jemarinya kini menyentuh ikal-ikal cokelat milik pemuda yang bersandar di pundaknya. "eh, sudah mengerjakan tugas Binns belum?"
Frilla
Kenapa kau menciumnya?

Kenapa?

Kenapa kau melakukan itu, Nathan?

Kenapa kau tidak pernah dapat melakukan sesuatu dengan benar?

Kenapa kau harus dilahirkan?!

Kenapa—ia juga tidak tahu.

Don’t love me because I’m lost
Because it’s my destiny
Because I can’t change




Siluet dua orang di tepi danau menghiasi pemandangan senja kelabu itu. Seorang yang berdiri dengan tangan di dalam kantung celananya tampak menggigil meskipun tidak terlalu kentara. Wajahnya menghadap ke arah danau meskipun kedua bola mata mahogani sesekali bergulir ke sudut matanya—menatap sosok seorang putri berambut panjang yang duduk tidak terlalu jauh darinya. Tampak ragu-ragu untuk mengenakan benda abu-abu di tangannya. Si laki-laki ingin merenggut benda itu dan langsung menyampirkannya ke bahu gadis itu—tapi pada akhirnya ia tetap berdiam diri saja. Tidak mungkin ia melakukan hal itu—bagaimana kalau ia ditolak? Membayangkannya saja sudah membuat kepalanya tidak karuan.

Apa yang kau harapkan, Nate? Bahwa apapun yang kau lakukan—Michelle akan terus ada di sampingmu? Dia tidak akan meninggalkanmu seperti yang lain? Sungguh harapan yang sangat tinggi untuk seseorang sepertimu.

Sejujurnya, ia bahkan tidak mengerti dirinya sendiri. Di satu sisi, ia ingin bersama Michelle—tidak ada yang lebih diinginkannya dari itu. Tapi di sisi yang lain, ia tahu ia tidak cukup baik untuk mengharapkan hal itu. Karena di cerita manapun sang putri tidak pernah berakhir dengan seorang penyamun—atau seorang rakyat jelata. Meskipun sang penyamun mencoba untuk berpura-pura menjadi pangeran sekalipun—pada akhirnya penyamarannya akan terungkap. Dongeng dengan tegas menyatakan putri hanya bisa bersama pangeran. Dan siapalah dia untuk mengubah hal itu?

Don’t love me
Because my heart is breaking


Nate tahu—lebih dari siapapun—bahwa ia bukanlah tipe yang akan menjadi prontagonis dalam suatu cerita. Lantas apa yang membuatnya berpikir bisa menjadi pangeran berkuda putih untuk sang putri? Ia tidak cukup dalam semua aspek untuk menjadi seseorang yang bisa disetarakan dengan Michelle. Tapi semua hari-hari yang telah mereka lewati—setahun yang penuh dengan semua kenangan akan mereka berdua—apa itu semua tidak bisa terulang kembali? Siapa yang membuat hari-hari itu berakhir—kesalahannya kah? Apa yang telah ia lakukan…?

Tapi—apapun yang terjadi, ia tidak ingin melepaskan Michelle.



Si pemuda terdiam mendengar jawaban sang putri. Bukan masalah kata-katanya tapi justru gerak-gerik gadis itu yang membuatnya sedikit merasa tidak enak. Genggamannya terlepas dalam suasana yang canggung itu. Ia memalingkan wajahnya ke arah danau dan berujar ringan, menyembunyikan rasa was-was yang menyelimuti hatinya.

“Kau tidak menyukaiku juga tidak apa-apa. Asalkan kau merasa senang meskipun harus mengikuti keegoisanku—kurasa aku bisa menerimanya.”

Ekspresi gadis itu jelas tidak secerah sebelumnya. Tersapu rona heran dan keterkejutan yang tidak dapat ia sembunyikan, mata cokelatnya mengawasi pemuda di hadapannya dengan hati-hati. "Kenapa? Tidak biasanya kau begini," nada khawatir yang kini terdengar, sebelum ia melanjutkan dengan suara yang dalam—sepertinya menyadari pembicaraan ini sudah bukan bagian dari candaan riang lagi. "Bukankah aku sudah pernah berjanji? Selama kau menginginkannya, aku selalu disini. Selalu."

“Tapi kalau kau merasa terpaksa—“ kata-katanya terputus di tengah-tengah. Ia mengangkat bahu dan duduk bersila di tanah sebelum mengisyaratkan gadis itu untuk duduk di sampingnya.

“Ah—entah kenapa musim semi jadi membuatku melankolis. Gawat sekali ini, ya,” candanya diikuti dengan gelak tawa.




Don’t love me
You have suffered enough


Kepala pemuda berambut cokelat itu tertunduk. Matanya tidak lagi menatap kiri dan kanan—berharap bisa melihat wajah yang menghantuinya selama ini. Mungkin ini klise. Dulu Michelle—adalah gadis yang dipilihkan Sylar untuk taruhan mereka. Kemudian Michelle menjadi orang yang paling sering melewatkan waktu bersamanya. Sekarang Michelle menjadi orang yang paling penting baginya. Nate tidak sanggup—ia bukan orang yang pantas. Cukup sudah egoisme yang ada padanya—

Biarkan masa lalu lepas, untaian waktu tiada kembali. Ini adalah akhir dari keegoisannya. Michelle tidak menyukainya—membencinya—juga tidak apa-apa. Asalkan dia bahagia... Nate bisa menerimanya. Harus bisa. Sakit juga tidak apa-apa. Biar sajalah... Bukankah seharusnya ia sudah biasa? Hanya saja ini tentang Michelle—dan segalanya tentang gadis itu selalu berbeda. Tapi kalau memang ia harus memanggul penderitaan ini—tidak apa, selama gadis itu bahagia. Anything for your happiness, princess, anything.

Nate berjalan mendekati gadis itu dan membungkuk di hadapannya—perlahan mendekatkan wajahnya yang dihiasi dengan cengiran angkuh, “kenapa Michelle, dear? Cemburu? Ingin aku melakukannya padamu juga?”

Salazar, biarkanlah Michelle membencinya kalau itu dapat membuat gadis ini bahagia.

Don’t love me
Don’t love me




Setahun yang lalu, aku menyesal telah meraihmu dengan suatu alasan yang murahan. Waktu itu, kau sama sekali tidak tahu kalau aku... menyatakan perasaan dengan hati yang kotor. Aku tahu aku manusia yang tidak tertolong. Aku tahu sikapku ini hanya akan menyakitimu. Meski begitu... Aku menginginkanmu, tidak ingin melepaskanmu... selalu.

Harusnya aku cukup memendam perasaan ini. Cukup membayangkan kebahagiaanmu dan tidak ingin apa-apa lagi. Tapi entah sejak kapan, aku jadi tidak bisa melepasmu. Meski tidak bisa menatap wajahmu lagi... aku selalu gelisah kalau tida ada kau. Aku ketakutan karena merasa dekat denganmu... tidak tahu harus bagaimana. Harusnya kau merasa jijik dan menjauhiku. Lebih baik kau berikan hatimu pada orang lain dan...

tinggalkan aku.


Don’t love me.
Frilla
It never crossed my mind at all
That's what I tell myself—


Michelle belum menyerah. Selama ini ia hanya menunggu, memendam begitu banyak lontaran pertanyaan. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan kemampuan otaknya yang tergolong di atas rata-rata, pertanyaan sama yang juga tidak bisa dijawab oleh harga dirinya. Ia memendam begitu banyak ketidakpuasan. Kemarahan. Dan rasa cemburu. Mungkin jiwa dalam dirinya sendiri menolak menyatakan bahwa ia sudah menerima semua fakta dan kenyataan bahwa seseorang yang telah begitu ia percayai, dicintainya dengan sepenuh hati akan dapat meninggalkannya sampai seperti ini untuk seorang... seorang lain yang tidak berharga—setidaknya dilihat dari sudut pandangnya. Namun kenyataannya hal itu terjadi, dengan sangat jelas di depan batang hidungnya. Jadi?

—what we had has come and gone

Ia menyesal sudah berpikir akan menyerah atas pencarian jawaban tersebut. Sudah saatnya ia sadar bahwa ia harus tahu, alasan mengapa dirinya ditinggalkan.

Bukankah sangat melelahkan? Menjawab pertanyaan yang sudah jelas nonsense. Apa yang pada diri musang belang-belang itu yang tidak terdapat pada diri Michelle? Jejerkanlah semua kemungkinan yang dapat kau temukan dan lihat apakah ada bahkan satu dari seribu hal yang dimiliki gadis itu yang luput dari kecemerlangan dirinya. Cantik? Pintar? Hmph! Kalau salah satu dari opsi yang kalian maksud adalah manja, genit, dan memalukan—jelas Michelle tidak memilikinya. Dan maaf, maaf saja. Ia juga tak mengira kalau mantan kekasihnya lebih merekomendasikan sifat-sifat semacam itu yang tercantum di dalam daftar tipe gadis atau selingkuhan idamannya. Ia pikir ia segalanya yang diinginkan Nate. Ia pikir mereka sempurna untuk saling mengisi satu sama lain.

You're with her now
I just can't figure it out


Namun mungkin itu hanya bayangan yang mengisi pemikirannya saja. Hanya dirinya yang berpikir seperti itu. Ingat apa yang dikatakan Nate saat mereka berpisah? Ia lelah. Excuse moi—he's tired—saudara-saudara, lelah pada hubungannya dengan Michelle. Tidakkah itu menjelaskan bahwa sesungguhnya semua kisah indah bak dalam dongeng itu hanya khayalan dari satu pihak saja? Dan ia merasa sangat konyol setiap kali teringat hal ini. Siapa yang dibodohi dalam cerita ini? Setiap kali ia merasa luarbiasa girang hanya karena sekiranya dapat duduk di sebelah pemuda itu saat pelajaran Ramuan, atau karena malam ini mereka akan tertawa bersama sambil menikmati akhir pekan di ruang rekreasi asrama—ia samasekali tidak menyadari bahwa satu-satunya hal yang berada dalam pikiran kekasihnya adalah, ia lelah dan akan sangat bersyukur jika si gadis musang datang dan membuyarkan semua adegan ini.

Damn hell—
mana Michelle tahu!?

Terlepas dari kenyataan ia jelas-jelas belum pernah mempelajari kemampuan Legilimency, siapa pula yang dapat menduga kalau semua senyum manis, tutur kata lembut yang ditawarkannya pada Michelle selama ini kemungkinan hanyalah sandiwara belaka?
Senja itu terasa lebih lama dibanding hari-hari lain di musim semi pada tahun yang sama. Pemandangan yang terpantul di permukaan danau hitam masih belum berubah. Teduh, hangat. Seakan dipeluk oleh semburat merah jingga yang terlukis di sana. Ketenangan yang menghiasi, hanya sesekali percik air dan gemerisik daun yang terdengar. Dan gelak tawa kecil yang berasal dari sepasang remaja di tepi danau.

"Memangnya seorang Nathan Harvarth bisa takut juga?" Kata yang perempuan, suara soprannya bernada ringan dan riang. Ia mengayunkan tangannya yang saling berkait dengan milik seorang lain yang berdiri di hadapannya, tatapannya menyorot pada rona merah yang tergurat di pipi lawan bicaranya. Diam sesaat, gadis itu berhenti bergerak dan menunduk sedikit, menimpali di dekat telinga pangerannya. "Kukira tidak ada hal yang bisa membuat orang lain tidak menyukaimu."

Secara tanpa sadar, gurat yang sama kini terpeta di wajahnya setelah mengucapkan kalimat terakhir. Kini terlihat jelas ia nampak salah tingkah, mungkin merasa kata-katanya agak berlebihan sekalipun terdengar begitu tulus ketika dilontarkan olehnya. Senyum manisnya jadi terlihat agak sedikit grogi, dan tatapan bolamata cokelatnya yang bening teralih sesaat ke arah danau.

“Menurutmu begitu?” ujar yang laki-laki dengan sedikit heran tapi senang juga mendengar ucapan gadis itu. Bola matanya bergulir meneliti wajah gadis itu yang terlihat agak salah tingkah, mungkin. “Tapi kurasa, aku memiliki lebih banyak orang yang membenciku ketimbang menteri sihir sekalipun,” ujarnya ringan seolah itu hal yang biasa atau mungkin hanya sebuah lelucon.

“Tapi aku senang, kalau Michelle memang berpendapat begitu. Itu berarti—kau benar-benar menyukaiku kan?“

Gadis pemilik nama Michelle terlonjak sedikit, kembali menyatukan pandangan keduanya selama sepersekian detik sebelum kembali pura-pura merasa sangat tertarik pada pemandangan di sekitarnya. "Kau ini bicara apa sih," jemarinya bergerak gelisah di bawah genggaman kekasihnya, "sudah pasti, kan?"

Michelle tidak mau mempercayai, kalau pada momen itupun Nate hanya berpura-pura tidak lelah.

Dan ia dengan naif-nya membiarkan tubuhnya direngkuh, sekali lagi terbenam dalam pelukan Nate, merasakan semua rasa yang tidak pernah berhenti menggelegak di dasar dadanya. Tak lagi peduli, Michelle lebih memilih untuk mempercayai bahwa pernyataan 'Fine. I'm tired of this, anyway!' yang terucap hari itulah yang salah—dan bukannya harapan yang selama ini diberikan oleh Nate. Dan, please—sekalipun Michelle tahu dengan jelas bahwa ia terdengar tolol saat menyadarinya—ia masih berharap bukan hanya dirinya yang mendera rasa sakit akibat perpisahan ini. Bukan hanya dirinya... yang ingin menganggap semua itu tidak pernah terjadi. Lupakan saja, dan mereka dapat kembali ke masa-masa dimana hanya ada Michelle dan Nate. Nate dan Michelle. The end.

Tell me why—
you're so hard to forget


Gadis itu mengangkat wajahnya, berusaha menghujam Nate dengan luapan emosi campur-aduk yang ia tembakkan melalui tatapan mata cokelat pekatnya pada sosok yang mengambil beberapa langkah mundur ke belakang. Sudahkan Michelle katakan bahwa ia belum menyerah? Ia akan membuktikan kalau apa yang ia percayai selama inilah yang benar—Nate dan perasaannya yang berbalas adalah nyata—dan bukannya kekonyolan bahwa selama setahun terakhir ia hidup dalam dunia khayal. Michelle tidak akan, melepaskan kesempatan untuk mendapatkan miliknya kembali.

Don't remind me—
I'm not over it


Ia terus mengawasi dalam diam, dengan tatapan tajam sekaligus penuh harapnya, siluet anak laki-laki yang beranjak dari posisinya dan menjauh selama beberapa saat. Sedikitpun tidak ia indahkan—sekalipun menyadari—pandangan bola mata lawan bicaranya yang jelas menghindarinya. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal. Kalimat yang cepat atau lambat akan meluncur keluar dari bibir pemuda itu—jawaban. Nate takkan dibiarkan melarikan diri dengan mudah dari tentunya, kalau memang ia berniat begitu.

Michelle menarik napasnya perlahan, teratur. Tubuhnya sudah mulai mendapatkan kembali panas yang hilang, meski tentu saja belum kering betul. Untunglah angin nampaknya juga enggan bertiup sehingga ia tidak perlu bergelut lebih lama dengan sensasi bulu kuduknya yang meremang; seakan tak pula berniat mengusik dua insan yang tengah terlibat situasi yang serius di tepi danau pada senja hari itu. Ia menggerakkan tangan, kini jemari-jemarinya ditautkan satu sama lain dan diletakkan di atas kedua lututnya yang terlipat di depan dada. Kedua maniknya masih membayangi punggung Nate ketika sosok itu memungut sesuatu, dan sesaat berselang berbalik.

“Seingatku, kau yang pertama melempar dan menginjak kalung itu.”

Cih. Gadis itu menelengkan kepala, melemparkan pandangnya ke arah lain saat pemuda di hadapannya mengulurkan jaket abu-abu yang sepertinya tadi ia campakkan sesaat sebelum menceburkan diri ke dalam danau. Ia tidak bergeming, diam selama beberapa detik dalam posisi seperti itu—kedua tangannya masih menelungkup di atas lutut. Jelas bukan itu jawaban yang ia inginkan akan terlontar dari mulut mantan kekasihnya tersebut—meski ketika dipikir ulang apa yang Nate katakan memang ada benarnya. Secara harfiah, memang ia yang memutuskan untuk mengakhiri semua hubungannya dengan pemuda itu. Merenggut dan membuang kalung miliknya yang menjadi simbol ia pernah menjadi milik Nate. Pernah.

Maybe I regret
Everything I said
No way to take it all back


Jika sekarang Michelle mengatakan bahwa ia menyesal sudah melakukan hal itu, apa semuanya akan kembali seperti dulu? Hmph, you wish.

"Bukan itu yang ingin kutanyakan," Ia mendengus kecil berkata dalam nada mendekati bisikan, matanya kembali menatap Nate dan nampak ragu beberapa saat sebelum menerima tawaran jaket yang diserahkan padanya, "kukira kau tidak lupa alasan mengapa aku melakukan hal itu."

Michelle terdiam, mau tidak mau kelebatan kejadian di Hogwarts Express hari itu tereka ulang dalam ingatannya. Ia tidak sanggup menatap wajah sosok di hadapannya yang begitu menyakitkan—mengingat perannya sebagai tokoh utama dalam adegan itu. Maka pandangannya berpindah sejenak pada jaket dalam genggamannya, tidak ia gunakan. Terakhir kali Nate menyampirkan—ralat, melemparkan—pakaian miliknya ke tubuh Michelle, itu terjadi di ruang rekreasi pada tengah malam dan sampai sekarang Michelle belum memiliki kekuatan untuk dapat mengembalikan milik pemuda itu. Keberadaan sebuah benda yang merupakan milik Nate di dekatnya membuat ia merasa tidak pernah ditinggalkan oleh pemiliknya.

Tell me why—

Seakan merasa pertanyaannya sebelum ini masih terasa ambigu dan mungkin dihindari, Michelle sekali lagi membuka mulut. "Kenapa kau menciumnya?" Kali ini suaranya terdengar lebih keras dan bergetar, dan sorot matanya masih terpaku pada benda di tangannya. Masih belum dikenakan. Pikirannya terlalu sibuk mempertimbangkan jawaban apa yang dapat dilontarkan lawan bicaranya setelah ini dan mempersiapkan diri untuk mendengarnya. 'Karena aku mau'? 'Karena ia manis'? 'Karena aku bosan denganmu'? Apapun itu.

Dan ia tak bisa membohongi diri sendiri dengan mengatakan ia tidak mengharapkan pernyataan maaf keluar dari mulut seorang Nathan Harvarth—seberapapun egoisnya ia terdengar sekarang.

—I'm just a little too not over you
Frilla
Hei, Michelle, sudah tiga bulan dua puluh empat hari dan lima jam sejak kita berpisah hari itu. Mungkin di sudut hatiku—aku tahu aku tidak ingin ini terus berlangsung. Mungkin sebenarnya aku sadar aku ingin kau—kita tetap seperti hari itu. Tapi kau tahu kan betapa egoisnya aku untuk hal-hal yang seperti ini?

Ironis, sungguh.

Rasanya seperti baru kemarin kita duduk bersama di menara astronomi—menatap bintang-bintang. Rasanya baru beberapa saat yang lalu kita masih berjalan di tepi danau. Aku bahkan masih bisa merasakan kehangatanmu dalam genggamanku. Heh, kurasa aku terlalu banyak hidup dalam mimpi—dalam kebohongan. Aku bertanya pada diriku sendiri:
Apa aku melakukan sesuatu yang salah?

Aku tidak tahu.

Aku tidak mengerti.




Nafasnya masih tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat seakan habis berlari. Habis berenang lebih tepatnya. Anak laki-laki itu mendongak ke langit dengan mata terpejam—sebelah tangannya menyapu rambutnya yang basah ke belakang. Sulit dipercaya dia masih hidup setelah masuk ke dalam danau yang suhunya mungkin entah berapa minus di bawah nol derajat. Yang jadi pertanyaan adalah kenapa ia melakukan hal itu? Bukankah seharusnya ia tidak peduli lagi dengan apapun yang menimpa gadis di sebelahnya itu—seharusnya. Tapi sepertinya takdir selalu mempermainkannya. Kenapa ia harus lewat di tempat itu di saat yang begitu tepat—kenapa bukan gagak jelek itu yang menolong Michelle, atau siapapun—Lightdarker sekalipun juga tidak apa-apa. Ia tahu gadis itu cukup populer—pasti banyak anak lain yang akan menolongnya. Tapi kenapa Nate yang harus lewat di tempat itu?

Berhenti membohongi diri sendiri. Memangnya dia akan senang jika ada orang lain yang menyentuh gadisnya? Tidak.

Nate mendengus pelan—membayangkan orang-orang itu berada dalam radius lima meter dari Michelle saja sudah membuatnya muak. Anak laki-laki itu membuka matanya tepat ketika terdengar jawaban dari sebelahnya. Ia kira gadis itu tidak sadar. "Begitu? Mungkin lain kali aku coba dengan pecahan kaca saja. Setidaknya kelak tidak akan membuatmu ikut basah dan kedinginan."

Lucu. Bagaimana setelah ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa gadis itu—ternyata yang diselamatkan justru mengatakan akan menggunakan pecahan lain kali. Berkata dengan mudahnya seolah nyawa itu hanya mainan yang bisa digantikan dengan mainan baru. Berkata seolah Nate lebih mementingkan dingin yang menusuk-nusuk tubuhnya daripada keselamatan gadis itu. Usahanya tidak dihargai sama sekali. Nihil, nul. Ia memang manusia yang tidak berguna, bahkan orang-orang yang ia anggap penting berpikir seperti itu. Sedih—kecewa? Apa sebelumnya ia tidak pernah mengatakan bahwa ia akah melindungi Michelle apapun yang terjadi? Bagaimanapun, kebahagian sang putri adalah prioritasnya.
Anything for your happiness, princess, anything.

Tanpa sadar, seolah tangannya bergerak atas keinginan orang lain, Nate merengkuh gadis itu tiba-tiba. Dan sesaat ia merasa seperti kembali ke masa-masa ketika mereka masih bersama. Seolah tidak ada yang terjadi—semuanya sempurna. Hanya ada Nate dan Michelle, Michelle dan Nate. Dan saat itu sang pangeran pun hanya bisa berbisik dengan suara bergetar, “bodoh. Syukurlah kau tidak apa-apa.”

Memories of our time together
this way, they don’t go away




“I-Ibumu?!”
Tanya anak laki-laki itu sambil terbatuk-batuk dengan mata terbelak menatap sang gadis—mencari-cari bukti bahwa dia sedang bercanda di bola matanya.

“Er... apa itu tidak terlalu cepat?” tanyanya ragu dengan ekspresi gugup sambil mengacak rambutnya dengan tangannya yang bebas—sebuah kebiasaan di saat ia merasa salah tingkah sebelum melanjutkan lagi, “maksudku—bukannya aku tidak mau, pasti menyenangkan. Tapi a—ah, itu... er...”

Tak ayal, situasi berbalik. Kilat jenaka kini ganti bermain-main di atas kedua bola mata milik gadis dengan rambut ikal yang mencapai pinggang. Tampak jelas ia menikmati ekspresi lawan bicaranya yang nampak gugup dan salah tingkah. "Menurutmu begitu? Hmm, jadi kau lebih suka kalau bertemu denganku berdua saja—tanpa ada ibuku?"

Nampaknya ia tidak tahan untuk tidak menampilkan seringai geli sekarang. "Aku bercanda, tapi aku memang ingin mengenalkanmu pada ibu—yah tapi kalau kau sibuk sih..."

“Bukan,” sergah yang laki-laki dengan cepat. Rona kemerahan muncul sekilas di wajahnya yang disembunyikannya dengan menundukan kepalanya. Kali ini gilirannya mempererat genggaman tangannya dan sedikit menarik gadis di sebelahnya agar mendekat.

“Aku—sedikit, hanya sedikiiit saja, takut ibumu tidak menyukaiku.”




This is not where it ends, I’m missing you
please don’t let go of my hand


“Kenapa?”

Satu kata itu membuatnya menyadari tempatnya dan melepas pelukannya. Ia cepat-cepat berdiri dan mengambil sedikit jarak dari gadis berambut ikal itu. Ini bukan tempatnya—ia sudah kehilangan hak itu sejak lama. Sejak ia menyadari kehadirannya hanyalah beban untuk semua orang—sejak ia menyadari, ia tidak bisa diam saja ketika semua orang menyerang eksistensinya. Nate ada, ia hidup—ia pantas untuk dilahirkan.

Nate tidak mengatakan apa-apa. Tidak perlu kata-kata lagi—ia tahu apa yang ditanyakan oleh gadis itu. Tapi ia juga tidak mengerti. Kenapa dia melompat ke danau hitam meskipun seharusnya di antara mereka sudah tidak apa-apa lagi? Kenapa Nate masih merasa kacau seperti ini walaupun seharusnya ia merasa puas dengan kehidupannya yang sempurna? Mengapa ia seperti ini? Kenapa kehadiran Michelle membuatnya kacau seperti ini? Kalau ia mengeluarkan semua pertanyaan itu—mungkin pensieve ukuran paling besar pun tidak akan cukup untuk menampungnya. Ia merasa semua goresan dalam hidupnya adalah sebuah kesalahan. Apa seharusnya ia tidak dilahirkan saja? Dengan begitu tidak akan ada orang yang merasa kesal atau kecewa padanya—semua orang akan bahagia. Lagipula, tidak seperti akan ada orang yang merindukannya atau apa.

“Kenapa kita putus?”

Kenapa? Ia tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Bahkan melihat ke arah gadis itu pun ia tidak bisa. Seolah gravitasi juga menarik bola mata cokelatnya hingga ia hanya bisa menatap tanah yang diinjaknya. Ia benci semua hal ini—bagaimana gadis itu selalu membangkitkan bagian terburuk dan terbaik darinya secara bersamaan. Tidakkah Michelle mengerti—Nate tidak bisa berada dekat dengannya. Memangnya kalian pikir mudah—menjauh dari sesuatu yang sudah terbiasa ada dalam genggamannya, hanya dapat memperhatikan dari jauh—merasakan tertusuk setiap kali melihat bandul perak yang dulu tergantung di leher mereka berdua? Tapi bagaimanapun—Michelle adalah miliknya. Ia akan memastikan hal itu. Tapi—

Ia harus membuktikan bahwa ia bukanlah sampah.

Ia bukan orang yang tidak berguna.

Ia tidak ingin dipandang sebelah mata.

Ia tidak ingin menyakiti Michelle.

Ia tidak cukup baik.

Ia—adalah antagonis dalam cerita ini.



“You love nobody but yourself—you’re selfish, to you there’s nothing more important than your well being—egoist, self-centered—you’re the worst person—"



Langit senja yang menjadi latar belakang mereka semakin gelap seiring dengan bersembunyinya sang surya. Sisa-sisa sinar matahari menyinari kedua sosok itu—membuat mereka terlihat sureal. Seperti sebuah lukisan yang diciptakan oleh goresan kuas Sang Maha Kuasa. Sosok yang sedang berdiri terlihat bergerak—tangannya mengacak-acak rambut bagian belakangnya. Terlihat ia berusaha memalingkan wajahnya dari sosok yang kedua. Ia tahu—kalau ia menatapnya lebih lama lagi, ia tidak akan bisa menahan egonya lebih lama. Ini adalah takdirnya—dan ia akan menerimanya.

“Seingatku,” mulainya dengan nada datar sambil beranjak dari tempatnya berdiri—tidak menatap gadis itu sama sekali. Anak laki-laki itu mengambil jaket abu-abu yang tadi ia lemparkan asal dan akhirnya menoleh ke arah sang gadis sebelum meneruskan, “kau yang pertama melempar dan menginjak kalung itu.”

Ia mengulurkan jaketnya ke arah Michelle.

If I could just tell you I miss you
It’s so hard to say I’m sorry
Frilla
Ia tidak bergerak. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ketakutan. Tidak ada apapun. Rasanya begitu lepas dari segala batasan di satu sisi, sekaligus terbelenggu dalam saat yang bersamaan. Bukankah tak ada yang mencengkramnya? Meski demikian ia terperangkap dalam kegelapan, sekitarnya sunyi. Dingin. Matanya tidak terpejam, namun tidak ada yang dapat dilihatnya. Terjaga. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Kekosongan, kehampaan, ketiadaan—dan dingin. Sejenak ia mengira tengkuknya akan bergidik, bibirnya bergetar dan tubuhnya jatuh lemas, namun ternyata tidak. Masih bergeming, tubuhnya tidak merasakan apa-apa. Tidak, ia bahkan tidak merasakan tubuhnya. Lantas darimana rasa dingin itu berasal? Dingin. Dingin sekali.

Dia—ada dimana?

Kedua bola matanya bergerak dalam gerakan yang terasa sangat perlahan, mengawasi sekitarnya. Masih sama. Tidak ada apapun. Atas, bawah, depan, belakang—ke arah manapun—yang ada hanya kegelapan. Seharusnya ia mulai merasa panik sekarang; memikirkan apa yang sedang terjadi, di mana dirinya, ke mana ia harus pergi... dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mustahil dijawab atau paling tidak melakukan sesuatu terhadap sinyal dingin yang terus menerus berdentang di dalam kepalanya tanpa makna yang jelas. Namun tidak dari keduanya berhasil ia lakukan. Lagi-lagi—satu-satunya yang terjadi hanya tidak terjadi apa-apa. Geming.

"Tidak ada,"

sang gadis mengibaskan rambutnya yang panjang; sebuah bandul berbentuk gembok kecil yang melingkar di sekitar lehernya kini berkilau tertimpa sinar matahari. Suara soprannya terdengar tenang ketika berucap, menjawab pertanyaan yang baru saja diajukan kepadanya. Sesaat kemudian ganti dirinya melemparkan kerlingan disertai senyum yang menarik pada lawan bicaranya, "mau mengajakku pergi?"

"Inginnya sih, begitu," ujar anak laki-laki di sisi si gadis dengan nada iseng, meskipun sedikit pengharapan dalam suaranya mungkin terdengar kalau ada yang benar-benar memperhatikan. Bola mata cokelatnya mengikuti gerakan tangan sang gadis sampai perhatiannya teralihkan pada bandul perak itu. Ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman puas di wajahnya sebelum ia akhirnya meneruskan kalimatnya.

“Anyway, kau tinggal di mana?
Apa aku harus datang ke sana dan memanjat menggunakan rambutmu untuk menculikmu saat liburan atau sesuatu seperti itu?”

Gadisnya tertawa kecil, menelengkan kepala dan kemudian menyeloroh dengan senyum manis tersungging di bibir, "Avallon, Perancis—eh, memangnya aku belum pernah cerita, ya?" Ia kemudian terdiam sesaat, sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain selama selang waktu tersebut sebelum mengeratkan genggaman pada tangan kekasihnya.

"Ibuku akan lebih suka kalau kau datang dengan cara yang normal, meski kuakui ide menggunakan trik Rapunzel itu boleh juga."

Dan gadis itu belum berhenti tersenyum.

Seperti sebuah film yang diputar di depan matanya, potongan ingatan itu bergulir begitu saja dan ia hanya mampu terkesiap. Bahkan sendirinyapun ragu, apakah ia benar-benar dapat menampilkan ekspresi 'terkesiap' dalam situasinya saat ini. Ada apa? Konon orang-orang mengatakan manusia akan mengingat kembali kenangannya yang berkesan selama hidup saat menjelang kematiannya. Bukannya ia ingin berspekulasi dengan menyatakan kenangan barusan adalah adegan berkesan dalam hidupnya, tapi toh gadis itu kini terpancang di tempatnya berdiri—kalau memang ia tengah berdiri dan sejak tadi belum dikategorikan dalam kondisi terpancang—dan merasa terpanggil untuk menyadari satu hal.

Maut—tengah menjemputnya.

Dan kenyataan ini belum cukup juga untuk mengembalikan nalurinya untuk bertahan—kalau memang fungsi tubuhnya itu masih ada—karena toh ia tetap tidak melakukan suatu apa yang berarti. Kalau saja masih bisa. Mungkin justru sudah terlalu terlambat baginya untuk menyelamatkan dirinya sekarang, atau simply she doesn't want to help herself from the very beginning. Kenyataannya ia sendiri yang mengantarkan raganya pada kematian, mengeluarkan jiwanya dari tempat dimana seharusnya bercokol, sekalipun tanpa dorongan yang jelas. Mungkinkah ada secuil penyesalan yang masih tersisa?


In my dearest memories—

"Michelle!"

—I see you reaching out to me

Tercekat. Sepertinya tidak menyangka sebentuk suara dapat menggema dari dalam kegelapan yang menyelimutinya, dan terlebih merupakan milik seseorang yang dikenalinya betul. Mungkinkah berasal dari dalam ingatannya sendiri? Kegelapan pekat yang membelenggunya mengendur sedikit, membawa suatu firasat akan datangnya sesuatu dari jauh. Mau tak mau kondisi ini membuatnya wajib membulatkan kedua bola mata lebar-lebar untuk dapat menyambut sesuatu yang diyakininya akan segera muncul—entah apa—sekalipun ia tidak ingin repot-repot memikirkan darimana firasat ini berasal mengingat merasakan saja ia sudah tak mampu. Namun... benarkah? Benarkah ia sudah tak bisa merasa lagi? Lantas mengapa berharap adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan keadaannya saat ini?

Ia menajamkan telinganya. Mendengarkan dengan seksama, menikmati suara-suara yang kian lama terdengar semakin nyata. Mendekat, mendekat. Ia tidak ingin—atau tidak bisa—memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya. Menyerahkan sepenuhnya jiwa miliknya pada tangan yang mengulur dan menjangkau. Pasrah dan mempercayai. Ia memejamkan matanya erat-erat, bersiap membebaskan diri dari ruang hampa yang kini perlahan melepaskan permukaannya. Bolehkah ia berharap bahwa takdir yang telah meninggalkannya, kini datang kembali untuk melarangnya melewati batas di belakang garis kegelapan ini?


Though you're gone,
I still believe that you can call out my name

Langitnya berkabut.

Penglihatannya yang mendadak mendapatkan cahaya kembali spontan memicing, berusaha menyesuaikan diri sebagaimana sekujur tubuhnya yang tengah terbaring memberontak ketika tanpa peringatan sekonyong-konyong disergap rasa beku dan nyeri. Ia melirihkan rintihan pelan melalui bibirnya yang membiru dan pecah-pecah, namun paru-parunya yang rupanya sudah siap ingin mengeluarkan genangan air di dalamnya—sehingga detik selanjutnya ia bangkit, membalikkan tubuh menghadap tanah dan langsung terbatuk-batuk tanpa henti selama beberapa lama. Nyaris membeku. Basah kuyup, bulu kuduknya meremang dan seluruh pori-pori tubuhnya terbuka—menyimpulkan secara keseluruhan kondisinya setelah separo tenggelam di dalam danau saat musim dingin jelas menyedihkan dan kritis, namun ia tidak dapat menyembunyikan perasaan yang mendekati rasa syukur dan bahagia karena mendapati seseorang berada di sisinya.

Bagaimana tidak? Sosok tersebut adalah satu-satunya orang yang ia butuhkan; orang yang diharapkannya untuk menyelamatkan—dan ia benar-benar muncul. Kalau bukan takdir, lantas ini pasti mukjizat.

Michelle terengah, berhasil mengeluarkan sebagian besar air yang sempat masuk melalui rongga mulut dan hidungnya. Masih dalam posisi menunduk, ia mengerling pada seseorang yang baru saja menyelamatkannya. Entah mengapa detik itu ia terpancing untuk menanggapi pernyataan pertama yang ditangkap telinganya begitu kembali menjejak ke alam sadar. "Begitu? Mungkin lain kali aku coba dengan pecahan kaca saja," Ia menyeloroh sambil lalu, tidak memedulikan suaranya yang terdengar parah—sengau dan diselingi batuk-batuk kecil. "setidaknya kelak tidak akan membuatmu ikut basah dan kedinginan."

Diam sebentar, ia menyeka dagunya dan balik berganti ke posisi duduk. Pandangannya bergerak mengamati kondisi Nate yang memang tidak lebih baik darinya—wajahnya sepucat Banshee, meski tentu saja tidak mengurangi ketampanan yang melekat pada diri remaja lelaki itu. Ia belum membuka mulut lagi, masih terlalu sibuk mengumpulkan keping-keping kesadarannya... atau melelehkan kembali isi otaknya yang membeku. Lebih tepatnya lagi, semakin ia dijejali fakta bahwa pemuda di dekatnya itu adalah orang yang pernah menjadi kekasihnya selama tahun sebelumnya, yang selalu membuatnya dipenuhi dengan perasaan campur aduk, dan baru saja rela mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya di tengah danau dengan suhu di bawah nol derajat—

—ia semakin tidak tahu harus mulai bicara dari mana.

Michelle duduk sambil memeluk kedua lututnya, menggosok-gosok lengannya yang menggigil dengan kedua telapak tangan. Meski kepalanya lurus menghadap ke arah danau, tatapan matanya masih belum beranjak dari sosok yang sama. Setengahnya sibuk memikirkan apa yang harus ia katakan, setengahnya lagi berusaha menebak apa yang tengah dipikirkan Nate. Bukannya tidak ada yang ingin ia bicarakan dengan pangerannya ini, justru sebaliknya—mulai dari apa kabar hingga mengapa ia bisa ada disini, mengapa ia menyelamatkan Michelle, bagaimana perasaannya sekarang...

In your dearest memories—

"Kenapa?"

—do you remember loving me?

Benar, ada satu pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan sejak mereka tidak benar-benar pernah bicara lagi semenjak hampir enam bulan lamanya. Pertanyaan itu terus muncul, tidak pernah berhenti merongrongnya. Selalu, selalu dan tak berhasil dijawabnya; sampai ia nyaris menyerah. Sekarang ia tahu, alasan mengapa tentu ia tidak bisa menjawab—Nate tidak pernah memberitahunya.

"Kenapa kita putus?"
Frilla
Secarik perkamen yang sudah kumal tergenggam erat di kepalan tangannya. Sekali—dua—tiga kali anak laki-laki itu meluruskan kembali perkamen di tangannya dan membaca ulang kalimat-kalimat yang tertera di atasnya. Seolah ia berharap dengan membaca ulang tiap kalimat, kenyataan yang terbentang di hadapannya itu akan berubah. Tangannya yang gemetar kembali meremas perkamen itu sekuat tenaga—sekuat yang ia bisa. Sesaat ia mengangkat tangannya, siap untuk melemparkan gumpalan di tangannya jauh-jauh—siap untuk membuang, menolak, setiap kebohongan dalam goresan tinta hitam itu. Kebohongan yang ia tahu betul adalah sebuah kebenaran yang tidak ingin ia akui. Detik berikutnya ia menurunkan kembali kepalannya. Manik cokelatnya menatap tangannya dengan pandangan nanar. Pada akhirnya ia tetap tidak bisa menang dari takdir.

I could try to hide in a strange town,
But I'd still be full of doubt.


Langkahnya kembali terdengar ketika akhirnya anak itu mulai berjalan menuju tujuannya semula: danau. Tempat terakhir yang ingin ia datangi ketika ia sendiri—mungkin ia takut tidak akan bisa menahan diri untuk mengakhiri episode tidak berarti dari hidupnya, mungkin kegelapan dalam danau itu terlalu memikat untuk dilewatkan. Nate kembali terhenti sebelum mencapai tujuannya. Ia kembali mengerling kepalan tangannya dan menutup matanya. Cairan merah pekat keluar dari bibir bawahnya yang ia gigit secara tidak sadar. Ini tidak seharusnya terjadi. Kenapa? Apa? Kapan? Begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat ia hitung jumlahnya muncul di benaknya—semakin menyeretnya ke lubang tanpa dasar yang disebut keputus-asaan.

This can’t be true.

Anak laki-laki itu menyandarkan tubuhnya ke pohon di belakangnya. Tangan kirinya yang dibalut sarung tangan tebal bewarna abu tua memukul batang pohon itu sekuat tenaga—berkali-kali hingga tangannya tidak terasa lagi. Detik berikutnya mendadak seluruh kekuatan yang ada padanya menguap begitu saja—seperti api obor yang padam tertiup angin kencang. Nate menutup wajahnya dengan tangannya. Ia tidak akan menangis. Ayah dirawat di St. Mungo. Sakit. Penyembuh yang bertanggung jawab mengatakan tidak ada jaminan bisa sembuh. Ia harus pulang. Gisselle di mana? Cassandra menangis—tahun depan ia mulai sekolah.. Miranda tidak ada. Ia harus pulang. Ayah menginginkannya. Ia harus pulang. Michelle… tidak ada. Sialan.

Sialan.

All this pain makes me want to cry.
Now an urge to chase tomorrow springs up. .


Anak laki-laki itu menurunkan tangan yang menutupi wajah pucatnya. Bola mata kecokelatannya yang lebih hampa daripada biasanya menatap danau gelap yang kontras dengan warna salju—mendominasi pemandangan di tempatnya berdiri. Hitam kelam—

Pupilnya terbelak begitu melihat sesuatu yang tidak biasa di tengah danau itu. Bukan cumi-cumi raksasa yang tinggal di danau—kecuali kalau cumi-cumi itu mengenakan wig cokelat yang sewarna dengan rambut—Michelle...? Tidak mungkin. Pasti hanya bayangannya saja. Gadis itu tidak terlalu sering berada di luar kastil seperti kaum wanita barbarik macan Windstroke dan Rainier. Benarkan—danau dan Michelle...



“Memangnya kenapa dengan danau yang membeku?“ tanya anak laki-laki itu dengan kilatan jenaka di matanya. Angin yang berhembus hari itu mengacak-acak rambut kecokelatannya, sementara seulas senyum muncul di wajahnya.

“Berani taruhan, kau tidak suka es karena tidak bisa main ice skate!” ujarnya lagi sebelum diikuti dengan gelak tawa. Anak itu hanya bercanda tentu saja—ia hanya ingin melihat seulas senyum muncul di wajah gadis yang berdiri di dekatnya itu.

Sebelah alis gadis berambut ikal itu terangkat, sementara kedua manik cokelatnya ganti mengerling pada pemuda di sisinya dengan tatapan protes bercampur geli, "sebagian ada benarnya, aku memang tidak bisa main ice skate," kedua tangannya kini bersidekap di depan dada—sekedar memastikan ia tidak akan disela oleh tawa geli—"meski tidak sepenuhnya begitu—kalau mau jujur. Anyway, memangnya kau main skate di atas danau?" Balasnya bertanya. Seringai kecil tercipta di bibirnya; setengah mencibir, setengah penasaran.

“Yah, yang penting ada benarnya,“ ujar yang laki-laki sebelum tertawa lagi. Ia cepat-cepat membelokan arah pembicaraan seolah tidak mendengar pertanyaan yang terakhir tadi. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia tidak pernah mencoba skate sebelumnya ‘kan?

“Sudah musim semi—kemudian libur musim panas.
Ada rencana untuk liburan kali ini?”




If I follow the scraps of my memories,
I can return to those innocent days,
Like a little boy in another life. .


Apa yang ia lakukan di sini? Bagaimana kalau yang ada di danau itu benar-benar gadis itu? Dia bisa mati. Dia—Michelle membutuhkannya—Nate.
One can’t live without other.

Nate berlari ke danau itu. Ia tidak perlu—tidak bisa berpikir lagi. Memang mungkin ia hanya membayangkan sosok itu, mungkin saja itu hanya duyung iseng yang kebetulan berenang terlalu dekat dengan permukaan, mungkin itu hanya tipuan matanya yang ingin melihat sosok itu—mungkin hanya ganggang yang mengapung atau apa, kelpie yang lupa jalan pulang ke sumur dan tersesat ke Hogwarts atau lebih bagus lagi—seorang murid yang sok jago dan akhirnya tenggelam seperti kapal karam. Mungkin—tapi bagaimana kalau itu memang benar-benar gadis itu? Apakah ia rela mempertaruhkan sedikit kemungkinan itu?

Bukankah sudah jelas?

Jaket abu-abu muda dilemparkannya begitu saja, diikuti dengan sepasang boot hitam dan sarung tangannya—sebelum akhirnya anak laki-laki itu melompat ke danau yang setengah membeku itu. Dingin—demi Valhalla. Tubuhnya seakan ditusuk-tusuk dengan ribuan jarum. Tapi kali ini ia tidak akan mengeluh, apa artinya dingin yang seperti ini jika dengan ini ia bisa menyelamatkan sang putri? Pada akhirnya Nate hanya bisa mengutuki nasib mengapa ia tidak pernah berpikir untuk mempelajari mantra gelembung-kepala sebelumnya.

Iif I have to take this pain
to make my dreams come true—.


Sosok di depannya semakin jelas. Bocah itu memicingkan matanyanya dengan harapan bisa melihat pemandangan di depannya dengan lebih jelas—tangannya menggapai-gapai hingga akhirnya menyentuh lengan orang itu. Ternyata memang sang putri. Nate menarik lengan yang dipegangnya dengan segala kekuatan yang tersisa dan melingkarkan tangannya di sekeliling bahu gadis itu—menyeretnya dengan susah payah hingga sampai di daratan.

—it’s not so bad... .

Nate duduk di samping danau dengan nafas terengah-engah, matanya masih tidak fokus meskipun sudah keluar dari jeratan cairan yang membuatnya setengah beku. Tubuhnya mati rasa—dinginnya musim itu sudah tidak bisa ia rasakan lagi. Satu hal yang ada di kepalanya adalah sebuah pertanyaan—apakah ia berhasil tepat pada waktunya—atau...? Tidak—ia masih bernafas. Terima kasih, Salazar.

“Sialan. Sialan. Sialan.” Satu kata itu diulang-ulangnya terus dengan suara lirih, seakan itu sebuah mantra untuk menghapus kejadian barusan dari benaknya. Matanya terpejam selama beberapa detik—ia menarik nafas, mengumpulkan oksigen untuk memenuhi paru-parunya yang terasa ikut membeku setelah terjun ke danau dengan suhu entah berapa derajat di bawah celcius. Begitu membuka matanya lagi, anak laki-laki itu memukul tanah di sisi kepala gadis itu dengan sisa kekuatanya yang masih bersisa. Tidak peduli apakah gadis itu sadar atau tidak.

“Benar-benar tidak lucu, Solathel.“
Frilla
"Sudah musim semi, ya."

Gadis itu tersenyum kecil, menoleh pada seorang lain yang melangkah di sisinya. Bola mata cokelatnya berkilau, memantulkan cahaya matahari yang agak redup karena terhalang kabut senja. Sesaat pandangannya bertemu dengan bola mata dengan warna senada, milik ia yang kemudian balas berujar,

“Hm…”

Sang pemuda mengiyakan perkataan gadis di sampingnya tanpa benar-benar mengatakan apa-apa. Hanya membalas senyum si gadis dengan cengiran lebar—pelan-pelan meraih tangan miliknya dan digenggamnya lembut seiring dengan langkah mereka.

“Michelle suka musim semi?”

Dia yang dipanggil 'Michelle' nampak mengangguk. Sesaat ia mengalihkan pandangannya dari pemuda di sampingnya ke arah lain; ke suatu titik pada permukaan danau di kejauhan.

"Lebih suka musim gugur—tapi oh well, setidaknya danaunya tidak membeku."

Apa yang ia lakukan?

Alone for a while I've been searching through the dark
For traces of the love you left inside my lonely heart—

Tidak pernah berubah, permukaan danau hitam selalu setengah membeku saat musim dingin. Sinar matahari senja terpantul di beberapa bagiannya, menimbulkan semburat warna teduh yang lembut. Kini tanah di sekitarnya terselimuti bantalan tebal salju, tanpa sedikitpun mengizinkan sepetak tanah kecoklatan masih menyembul dari antaranya. Santa pasti tidak sabar ingin mendekorasi hari pertunjukannya dengan putih salju, yang seakan menghapus segala kekotoran dunia dengan tiap serpihannya. Minggu terakhir di awal musim dingin, beberapa hari sebelum Natal. Benar-benar waktu yang tepat untuk membangkitkan kembali ingatan yang serasa sudah lama sekali. How nostalgic.

Uap putih mengepul dari napas yang ia hembuskan. Dingin—tak diragukan lagi. Semestinya ia tidak berada di tempat semacam ini; bukankah ia tak menyukai sensasi ketika ujung-ujung jemari kakinya mati rasa? Namun toh kenyataannya ia tidak mendekam di ruang rekreasi asramanya, menikmati secangkir teh panas di depan perapian... ah. Entah mengapa. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu boot tebal—dengan warna yang tak jauh berbeda jika disandingkan dengan timbunan salju yang mengitarinya—meninggalkan jejak-jejak berpola di sepanjang tepi danau. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk kini sedikit terangkat, menengadah.

—to weave by picking up the pieces that remain
Melodies of life—love's lost refrain

Sepi sekali.

Tentu, siapa yang mau berkeliaran di luar pada cuaca seperti ini?—kalau bukan seseorang dengan kesadaran yang nyaris melewati batas seperti dirinya. Kenapa? Pertanyaan semudah itu entah mengapa sangat manjur untuk membuatnya tidak berkutik. Seharusnya bukan masalah besar bagi orang lain. Seharusnya dapat dilupakan dengan mudah oleh orang lain. Lantas, kenapa tidak dengan dirinya? Blank. Michelle tidak dapat menjawab pertanyaan itu, alasan apa yang sebetulnya membuat dirinya kerapkali berkutat dengan perasaan yang sama. Tidak mengerti, sampai kapanpun hanya itu yang dapat ia mengerti.

Langkahnya terhenti. Perlahan ia memutar tubuhnya dan menghadap ke tepi danau. Kabut mulai turun mendekati permukaannya, sementara matahari nampak semakin lemah termakan pekat awan di sisi lain, jauh di seberang sana. Mulai gelap. Sesaat ia menggigil, membuatnya harus memeluk kedua lengannya sendiri. Aneh, tahun lalu ia tidak perlu menghangatkan diri. Tahun lalu ia tidak merasakan bibirnya pecah-pecah, dingin dan tanpa dilihatpun ia tahu warnanya sudah sepucat warna ungu violet. Tahun lalu... ia tidak seorang diri, ia tidak diam dan dihinggapi perasaan yang penuh kecamuk seperti yang ia rasakan sekarang saat memandangi danau.

Tidak ada yang berubah, right.

Our paths they did cross, though I cannot say just why
We met, we laughed, we held on fast, and then we said goodbye
And who'll hear the echoes of stories never told?

Saat itu, untuk kedua kali dalam hidupnya sebuah pertanyaan yang sama muncul di dalam benaknya. Bagaimana rasanya kematian? Mengapa ia merasa begitu dekat, seakan ada sesuatu tak nampak yang menariknya ke dalam lubang tersebut. Begitu menggoda, menjanjikannya dengan hal-hal yang terbayang sangat indah dan jauh lebih baik daripada apa yang dapat ia peroleh di dunia—baik dunia Muggle, maupun sihir. Napas yang dihelanya semakin berat, matanya terpejam. Kakinya kembali melangkah—lurus ke depan. Benar, ia sudah pernah hilang ingatan sekali, ia sudah pernah terselamatkan dari maut sekali.

Ketika Michelle mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya, sebagian besar ruas-ruasnya sudah mati rasa. Tidak lagi terasa dingin, tidak terasa sakit—tidak terasa apa-apa. Hanya ada perasaan nyaman dan ringan. Air sudah mencapai tinggi pelupuk matanya; ketika alih-alih berusaha meronta atau berbalik, ia terus maju. Seakan suatu magnet yang ganjil tengah menariknya untuk berjalan lebih jauh ke kedalaman di bawah permukaan danau hitam, atau ada rantai tak terlihat kini mencengkram pergelangan kakinya. Tentu, padahal ia tahu dengan jelas—

—ia tidak bisa berenang.

Let them ring out loud till they unfold...
Frilla
“I just want to be happy, Nate—please?”


“Dimana kakakmu?”
“Hee? Siapa?”

Gurat-gurat kemarahan tampak jelas di wajah wanita berambut keemasan itu—suaranya terdengar bergetar sedikit ketika berkata lagi, “aku tahu kau pasti ada hubungannya dengan semua ini, Nathan. Di mana Gisselle?”

“Saa…”—who knows? Wajah laki-laki itu tidak tampak peduli—hanya mengangkat bahunya sedikit tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari buku yang baru ia beli di salah satu toko majalah di dekat hotel Karuizawa yang mereka tinggali.

“Nathan—I swear, if you don’t tell me right away—“

“Berisik. Mana aku tahu kemana Gisselle pergi—aku bukan orang tua yang bertugas mengawasinya—bukankah seharusnya itu tugasMU.“


“Nathan—kau yang paling dekat dengan Gisselle, kau pasti tahu kakakmu ada di mana sekarang—kan?”

“Aku tidak tahu, Ayah,” ujar Nate tanpa benar-benar menatap mata ayahnya. Maaf, tapi ia sudah berjanji pada Gisselle—dan Merlin tahu ia tidak pernah mengingkari apa yang sudah ia janjikan.

“Benarkah?”

“T-tentu saja, untuk apa aku berbohong!”

“Begitu. Aku kecewa padamu, Nathan.”


“Kau—memuakkan.”

“Berisik! Mau apa lagi sekarang?! Belum puas memakiku, eh?”

“Semuanya—Gisselle menghilang—semua ini karena kau... Kenapa bukan kau saja yang pergi dari sini?!”

“Apa hubunganku dengan ini semua—dia sudah cukup besar untuk memilih jalannya sendiri—bagaimana mungkin itu salahku?!”

“Pasti kau yang menanamkan ide-ide gila itu dalam otaknya—anak kotor, seharusnya aku tahu di dalam pikiranmu pasti kau merencanakan rencana gila!”

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Berhenti berkata seolah kau mengenalku!”



Nate menatap gadis di depannya—menunggu jawaban dari pertanyaannya yang tidak pernah terjawab. Kenapa ini berakhir seperti ini—apa yang ia sudah melakukan sesuatu yang salah…? Matanya terlihat hampa—tapi seringai angkuh di bibirnya tetap bertahan. Ia tidak mengerti—tolong.seseorang.jelaskan. Setan mana yang berani mengusik Nate? Kepalanya terasa penuh. Ayah. Ibu. Miranda. Gisselle. Cassandra. Sylar. Szent. Michelle. Apa semua ini belum cukup? Tidak mau, tidak bisa. Don’t leave… Apa salahnya—kenapa semua orang, semua—apa ia begitu memuakkan hingga pantas ditinggalkan. "Sorry for always getting in your way—won't happen again, for sure." Nate mengangkat alisnya dengan ekspresi tenang. Kosong. Ia tidak pernah mengerti apa yang terjadi padanya—semua bertubi-tubi datang dan pergi. Semua orang pada ahirnya meninggalkannya begitu saja—karena ia tidak cukup berarti. Pada akhirnya ia hanya mengibas-ngibaskan tangannya dengan ekspresi yang bisa dikatakan bosan dan berkata acuh tak acuh, “fine, fine. Whatever.”

Ia membungkuk dan mengambil headphone putihnya yang tadi terjatuh. Menggantungkannya di sekeliling lehernya sebelum pemiliknya merapikan t-shirt garis-garisnya yang sedikit berantakan tadi. Matanya melirik ke arah benda mengkilap yang tergeletak di lantai begitu saja. Perlahan ia memungut benda itu—wajahnya tetap tidak menampakan emosi. Hanya senyum angkuh tidak wajar seolah tubuhnya hanya bertindak sesuai memori saja—tanpa perasaan.

“Whatever. You’re still mine anyway. That, you promise me.”



I want to wipe away the moment,
But I want to cling to it all the same.
I don't understand myself.


Anak laki-laki berumur dua belas tahun itu membawa sebuah tas hitam yang dipegangnya melewati bahunya. Sebuah t-shirt bergaris-garis putih hitam yang tidak terlalu ketat ataupun longgar membalut bagian atas tubuhnya, berhenti tepat di atas ikat pinggang bewarna hitam yang menahan celana jeans gradasi abu-abunya. Sebuah wristband bewarna hitam membelit pergelangan tangan kanannya yang menggenggam tas Mon Blanc hadiah dari ayahnya sebelum pergi berlibur di musim panas. Di kepalanya, sebuah headphone bewarna putih berdiam mencolok di antara rambut cokalat gelapnya—tanpa mengalunkan musik. Hanya bertengger di sana tanpa suara—seolah memberikan ketenangan yang dibutuhkan pemiliknya untuk berpikir.

Drap. Drap.

Langkahnya berderap sepanjang koridor yang sunyi—hanya terdengar suara celoteh riang dari pintu-pintu kompartemen yang penuh. Dahi anak itu sedikit berkerut—tahun kemarin ia adalah salah satu yang mengeluarkan tawa riang itu. Kenapa sekarang rasanya untuk tersenyum pun sudah sulit—eh? Sesak. Dan semua ini karena orang-orang brengsek yang merusak semua kesenangannya—menjatuhannya ke jurang terdalam. Bibirnya mengatup hingga membentuk garis tipis, matanya menatap tajam ke pemandangan di luar jendela—seakan-akan penyebab semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini ada di luar kereta. Menertawakannya dengan raut muka puas. Entah kenapa—di dalam pikirannya terlihat sosok Miranda yang tersenyum puas dan Mic—Solathel yang juga sedang tertawa mencemooh. Yang benar saja. Nate mendengus kesal, kalau ada yang harus tertawa—ialah yang akan melakukannya.

I dreamed a world in my childhood.
I was born to make it come true.
I'm a baby, and I want to cry.


Ia membuka pintu kompartemen yang tampak masih sepi dan menemukan beberapa orang yang sudah ada lebih dahulu. Sienna dan Szent. Bocah itu memajukan bbirnya dan membuang muka begitu melihat Szent—duduk di samping gadis yang mengenakan kemeja dan rok putih pura-pura tak melihat salah satu sahabatnya ada di sana. Kok, mereka—ia dan Sienna obviously—bisa-bisanya kembaran dengan warna hitam putih begini, ya? Meskipun celana jeans-nya bewarna abu-abu, sih. Ia mengangkat bahu dan menoleh ke arah Sienna—siap untuk menyapanya seperti biasa hingga ia melihat mata sepupunya itu. Sienna itu… sahabatnya kan? Apa dia juga akan mengambil Sienna dari Nate—meninggalkannya lagi seperti yang ia lakukan barusan?

Tangannya merayap ke liontin berbentuk anak kunci yang masih bergantung dengan bangga di sekeliling lehernya. Tenggorokannya tercekat—ia memaki dalam hati sementara pandangannya jatuh ke lantai. Apa gunanya memiliki kunci yang tidak bisa dipakai? He feels lost. Seolah ia sedang mencari sebuah pintu keluar di dalam sebuah labirin—kuncinya sudah ada di tangannya, namun ia tidak dapat menemukan pintu yang dimaksud.

Nate meletakan tas hitam di tangannya di kursi sebelahnya—perlahan mengalihkan pandangannya ke wajah sepupunya. Don’t leave me. Mungkin ia memang tidak pantas memiliki siapa-siapa, tapi setidaknya—jangan biaran ia sendiri. Anak laki-laki yang biasanya berwajah angkuh itu mengangkat tangannya dan menarik pelan kemeja bagian lengan gadis di sebelahnya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu gadis itu tiba-tibat—wajahnya tidak terlihat di balik potongan rambutnya yang cukup panjang dan bewarna gelap itu. Bisikan pelan hampir tidar terdengar keluar dari bibir anak laki-laki yang mengesampingkan tingkahnya yang biasanya selalu mendatangkan akibat buruk itu—sebenarnya tetaplah seorang anak kecil, “Sien… it hurts…”

But if I have to take this pain
To make my dreams come true,
It's not so bad...





Nate menyandarkan diri di dinding koridor berpenerangan remang-remang itu. Pintu masuk ruang rekreasi asrama tidak begitu jauh darinya—tapi ia ingin diam dulu di situ untuk beberapa saat. Meskipun malam sudah larut—ia hanya mengenakan t-shirt bewarna hitam meskipun malam sudah larut, sweater cashmere warna perak kesayangannya tersampir di bahunya. Hadiah ulang tahun yang diberikan ibunya. Kepalanya terasa berat—mungkin akibat kurang tidur beberapa akhir ini. Fenrir—burung hantu elangnya—belum membawa kabar apa-apa dari rumah. Apa ia benar-benar sudah dibuang sekarang? Bagus. Sangat bagus. Sampai muak rasanya.

Nate mengacak-acak rambutnya dan mendesah pelan sebelum akhirnya melangkah memasuki ruang rekreasi. Tempat itu sudah sepi—seperti yang sudah sewajarnya. Anak itu menatap sekelilingnya dengan wajah cengo—seolah menunggu seseorang melompat dari balik kursi dan berkata ‘Kejutan! Semua ini hanya lelucon!’. Tidak lucu. Pikirannya seperti bercabang-cabang—ia mulai berpikir ia bisa gila kalau terus menerus seperti ini. Terserah. Tidak peduli. Kalaupun ada banshee mengerikan yang muncul tiba-tiba dari balik sofa dan mencekik lehernya sampai mati kehabisan nafas, mungkin yang Nate katakan hanyalah terima kasih. Setidak waras itulah ia saat ini. Matanya menatap sosok sesuatu berambut panjang—bukan banshee, sayangnya. Tapi lebih baik lagi—atau lebih buruk? Ia tidak yakin. Tapi toh laki-laki berambut kecoklatan itu tetap mendekat dengan cengiran angkuh yang sudah menjadi trademark-nya.

“Menungguku pulang sampai selarut ini? Ck, ck... Michelle memang calon istri yang baik,“ ujarnya dengan wajah sok prihatin seolah tidak ada yang berubah di antara mereka. Seolah. Right. Nate melangkah ke arah asrama siswa—sebelum ia berhenti dan menatap sweater perak di bahunya beberapa saat. Cashmere buatan Perancis—kata Gisselle cukup mahal, lembut dan terlihat classy. Sweater kesayangannya. Nate mengernyit sesaat sebelum akhirnya berbalik dan melemparkan benda itu ke arah gadis berambut ikal yang entah kenapa masih ada di tempat itu. Menunggunya? Tidak mungkin—ia terlalu banyak bermimpi. Anak laki-laki itu meneruskan langkahnya ke asramanya—tidak berbalik untuk melihat bagaimana reaksi gadis itu.