Tampilkan postingan dengan label Tahun Pertama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahun Pertama. Tampilkan semua postingan
Frilla
Bocah sebelas tahun itu—bukan, hampir dua belas tepatnya, hanya tinggal beberapa bulan lagi—merapatkan jaket abu-abunya yang cukup tebal hingga membuat tubuhnya tampak lebih besar daripada yang seharusnya. Alisnya mengernyit sedikit, tampak tidak terkesan dengan keadaan di sekitar jalan yang dilaluinya—kenapa ia mau merepotkan dirinya sendiri dengan melewati tempat yang seperti ini Nate sama sekali tidak tahu. Anak laki-laki berambut kecoklatan itu mengangkat bahunya sedikit dan mulai menyusuri jalannya menuju ke kastil, sesekali menepis salju yang jatuh di atas kepalanya dengan tidak sabar. Sarung tangan hitam yang dipakainya rasanya hampir-hampir tidak bisa menahan dinginnya cuaca hari itu, atau mungkin kondisi tubuhnya memang sedang tidak cocok untuk berjalan di tengah salju begini.

Matanya yang cokelat menyusuri lautan salju yang terhampar di depannya. Ada yang membuat orang-orangan salju—entah siapa yang kurang kerjaan begitu. Seulas senyum kecil muncul di wajahnya. Pikirannya menelusuri kenangan beberapa tahun yang lalu, di hari bersalju seperti kali ini—beberapa hari menjelang Natal ketika untuk pertama kalinya, Ayahnya menghabiskan waktu satu hari penuh hanya untuk Nate seorang—dan keluarga yang lain sebenarnya, tapi sampai sekarang Nate tetap menganggap hari itu sebagai hari miliknya dan ayah, berdua saja. Beliau menemaninya bermain perang salju di halaman, meskipun awalnya pria itu sempat ingin menolak dan terlihat kaku. Ia ingat ketika itu ia yang masih berumur lima tahun sangat gembira karena ia berhasil membeli waktu ayahnya.

“Ayah, berapa uang yang ayah hasilkan dalam waktu satu jam?”

Pria itu mengangkat wajahnya dan mengerutkan dahinya, menatap putra tunggalnya dengan tatapan tidak sabar. Pertanyaan macam apa itu, apa anak itu tidak bisa melihat bahwa ia sedang sibuk? “Untuk apa kau menanyakan pertanyaan macam itu?”

“Um... hanya ingin tahu.”

Odien menarik nafas panjang. Ia tahu ia bersikap tidak adil kalau ia sampai mengusir anak itu hanya karena merasa Nate mengganggunya. “Mungkin 100 Galleon.”

“Oh—“ mungkin Odien salah dengar, tapi ia merasa mendengar nada kecewa dalam ucapan anaknya “—boleh aku minta 45 Galleon, ayah?”

Ketidak sabarannya meluap lagi. Ia menatap putranya dengan dingin dan berkata keras, “kalau kau hanya mencoba untuk mendapat uang saku tambahan, itu tidak akan berhasil, Nathan. Kembali ke kamarmu.”

“Tapi—“

“Kembali ke kamarmu!”

Pria itu menatap kepergian putranya yang tampak lesu dengan sedikit bersalah. Ia tidak bermaksud sekeras itu—tapi akhir-akhir ini pekerjaannya menumpuk dan ia merasa tidak punya waktu untuk menghadapi omong kosong anak kecil. Odien memijat-mijat pelipisnya dan mendesah pelan. Mungkin Nate memang memerlukan uang itu, mungkin anak itu ingin membeli sesuatu yang penting.

Ini bukan sifatnya, tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi mendatangi putranya. Krieet. Pintu terbuka menampilkan kamar anak-anak yang didominasi warna laut, suara tarikan nafas yang terdengar memberitahunya bahwa anak itu belum tidur. “Nate, maaf soal yang tadi. Ini 45 Galleon yang kau minta.”

Sosok di tempat tidur berbalik—senyum yang muncul di wajah bocah lima tahun itu membuatnya hampir ikut tersenyum, meskipun rasa itu hilang seketika melihat Nate menarik kantung dari bawah bantalnya yang ketika dibuka berisi kepingan galleon. Kemarahannya muncul ke permukaan lagi, “kalau kau sudah memiliki uang, kenapa kau minta lagi?!”

“Tadi uangku belum cukup, tapi sekarang sudah,” jelas anak laki-laki itu dengan cengirannya yang khas dan mata penuh kegembiraan.

“Ada 100 Galleon, boleh aku meminta ayah untuk pulang satu jam lebih awal besok? Aku ingin merayakan natal dengan ayah.”


Sudah jadi rahasia umum bahwa Nate menghormati dan menyayangi ayahnya lebih dari siapapun. Tapi kejadian itu—titik balik dari keakraban mereka—adalah rahasia kecil mereka berdua. Senyumnya tetap bertahan kalau tidak semakin lebar mengingat tahun-tahun ke belakang, beberapa hari sebelum Natal waktu ia menghabiskan waktu bersama keluarganya. Mereka berenam adalah keluarga yang sempurna, Nate tidak bisa membayangkan keluarga yang lebih akrab dibandingkan mereka. Paling tidak, waktu itu. Sampai semuanya mulai berubah, sampai ia akhirnya mengerti apa maksud dari semua perkataan—sikap, semua kebenaran dan fakta yang selama delapan tahun terkunci rapat-rapat.

Kenapa—kenapa ia harus memiliki darah terkutuk ini?

Senyum miris muncul di wajahnya. Sesaat ia menatap langit yang kelabu, seolah ingin tenggelam di dalamnya—melupakan kenangan yang paling ingin ia hapus dari memorinya.

Di akhir usianya yang kesembilan, Nate baru mengerti betapa besar kekuasaan yang di bawanya dalam namanya. Betapa besar pengaruh yang ia timbulkan dengan hanya satu kalimatnya. Kejadiannya waktu ia dimasukan ke dalam sekolah muggle, setelah tragedi yang menimpa keluarga Lazarus—dan juga setelah Nate mengetahui tentang darah terkutuk yang mengalir dalam dirinya. Satu hal yang tidak berubah adalah hubungan Nate dan ayahnya—dan ia bersyukur untuk hal itu. Suatu ketika Nate mengeluh pada ayahnya bagaimana seorang gurunya bersikap tidak adil dengan menghukumnya—apa alasannya ia sudah lupa—dan bagaimana anak itu tidak menyukainya.

"I hate her, father."

Besoknya ia tidak pernah melihat atau mendengar tentang guru itu lagi. Tampaknya Odien menganggap bahwa tindakan kecil melawan anaknya adalah penghinaan terhadap nama keluarganya, sehingga ia sendiri yang memastikan—dengan uang dan kekuasaan yang ia miliki—bahwa guru itu tidak akan pernah mengajar lagi—sesuatu yang sangat ekstrim untuk sesuatu yang sangat sepele, namun Odien memang tidak dikenal karena kebaikan hatinya. Sisi itu, hanya ia tunjukan pada keluarga dan sahabat keluarga. Di lain waktu, ketika Nate dan duo S—yang juga masuk ke sekolah yang sama—memukul beberapa siswa yang mengejek mereka—mereka mengatai Szent dan Sylar anak yatim dan berkata Nate, Sylar, dan Szent tidak bisa apa-apa kalau ayah mereka tidak ada—gurunya sama sekali tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya tersenyum dengan wajah sedikit ketakutan dan meminta mereka tidak melakukan hal seperti itu lagi. Pengaruh ayahnya sebagai donatur terbesar—bersama dengan Lazarus dan Istvan—membuat Nate merasa superior, ia tahu ia bisa melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa ada seorang pun yang merintangi jalannya.

Ia adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi pusat dari seluruh dunia—atau begitulah yang ia coba tanamkan dalam dirinya sendiri. Satu-satunya cara agar ia bisa melupakan keberadaan darah terkutuk yang mengaliri nadinya—satu-satunya cara agar ia bisa menerima eksistensinya tanpa merasa bahwa ia adalah anak yang tidak pantas hidup. Ini rahasia terbesarnya—ini rahasia yang ia kunci rapat-rapat sehingga tidak akan ada seorang pun yang tahu, agar dunia tidak membuangnya—agar keberadaannya tetap memiliki arti meskipun semu. Darah terkutuk ini...

Nate memejamkan matanya sesaat sebelum menyusuri jembatan yang seolah mengejeknya dengan mengatakan bahwa takdirnya pun akan berjalan lurus—ia tidak bisa lari, ia hanya bisa memperlambat langkahnya untuk mencapai akhir yang sudah ditentukan. Accursed.
Frilla
Nama: Nathan Kehl Harvarth
Asrama: Slytherin
Tahun ajaran: 1978-1979

ALASAN MENGAPA AKU MENGACAU


Alasan mengapa aku mengacau di pesta Hufflepuff adalah karena aku mau. Aku mau jadi aku melakukannya. Simpel saja. Tapi kalau hanya ini, esainya belum mencapai 10 inchi, jadi akan aku pikirkan alasan lain. Alasan lainnya adalah karena warna asrama itu kuning. Kuning, demi Salazar. Maksudku, siapa sih, orang yang memakai warna kuning? Memangnya mereka pisang apa, mau saja dengan warna kuning-kuning norak begitu. Warna mencolok yang bikin mata katarak itu, apa tidak bisa warna asrama itu diganti dengan yang lebih kalem? Meskipun warna merah juga cukup mencolok, tapi paling tidak—tidak membuat sakit mata.

Alasan lain lagi, karena mengacau terdengar menarik. Anggap saja sebagai pembalasan karena Mbah Suprapto tidak mau mengajarkan mantra HumbadaHumbada padaku, jadi kupikir akan menyenangkan kalau aku sendiri saja yang membuat bunyi-bunyian aneh yang DhuarDhuar begitu—yang meskipun jauh dari Humbada, tapi paling tidak feel-nya masih ada. Aku juga ingin mencoba kostum ranger yang keren itu, apalagi aku mendapat warna merah (meskipun itu warna Gryffindor) yang notabene-nya selalu menjadi pemimpin dalam super sentai. Aku jadi merasa seperti Gorou Sakurai atau lebih dikenal sebagai Spade Ace dalam ranger formnya. Tahu tidak kalau serial J.A.K.Q. sudah hampir tamat? Semoga ada seri baru yang lebih seru sebagai penggantinya. Teknologi muggle memang terkadang cukup berguna.

Belum 10 inci, ya? Ah, alasan yang terakhir mungkin supaya kelihatan keren. Naik sapu, mengenakan kostum, lalu mengatakan hal-hal yang terdengar keren. Ha, seperti antagonis dalam film bukan? Biasanya peran antagonis itu lebih keren daripada peran baik, pengecualian dalam film super sentai. Aku jauh lebih keren daripada monster-monster itu. Ah, lagipula yang lain juga tampak antusias dengan kegiatan kali ini, apa masalahnya, sih? Bukankah bagus kalau asrama kita semakin kompak?
Frilla
Mantra~ Mantra~

Lagi-lagi Gryffindor dan Slytherin sekelas. Yang artinya lagi-lagi ia akan bertemu dengan orang ini dan itu yang super menyebalkan. Lalu ada pangeran musang --wait. Nate harus benar-benar melupakan panggilan itu. Karena seperti yang ia baru ketahui setelahnya, mus--anak laki-laki itu ternyata Arvid Corleone. Yeah, Corleone. Yang berarti, ia dan Arvid itu masih bersaudara. Entah hubungan mereka apa, tapi mengingat nama itu dimiliki neneknya dulu, berarti mereka masih memiliki hubungan keluarga. Yang sebenarnya tidak mengherankan, mengingat biasanya keluarga-keluarga penyihir tua memang saling berhubungan. Sienna misalnya, ia baru tahu sepupunya juga masuk ke Hogwarts tahun ini, satu asrama dengannya pula! Ck, bisa-bisanya ia tidak sadar. Entah ada apa dengannya, padahal biasanya ia paling tahu masalah beginian. Maklumlah, ayahnya dari dulu selalu mengatakan, family means more than blood. Meskipun ia tahu hal itu lebih merujuk pada Nate sendiri daripada orang lain.

Nate mengerling ke sekeliling kelas, dengan pandangan aku-lebih-hebat-daripada-kalian-nya yang biasa. Sombong? Bukan, bukan. Hanya sekedar menyampaikan kenyataan yang ada. Oh, great, sudah ramai. Lightdarker, tuan ingin-jadi-ular-Dutie, gadis Gryffindor sok pahlawan yang belakangan ia ketahui bernama Rainier, Arvid, Michelle dan beberapa orang lain. Lucky. Masih ada tempat di kursi paling depan. Seperti yang ia bisa katakan, ia memang pemilik keberuntungan langit.

"Morning, princess..." ujarnya dengan cengirannya yang biasa saat ia melewati Solathel--Michelle dan duduk di kursi paling depan, meskipun sesaat ia sebenarnya ingin pergi ke meja dekat gadis itu. Nate bukan murid yang baik, ia tahu hal itu. Melanggar peraturan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Namun nilai adalah hal yang lain lagi. Nate harus, HARUS mendapat nilai bagus. Bukannya ia anak menyedihkan yang harus belajar dengan sangat sangat keras untuk mendapat nilai bagus, tapi ia tahu ia harus memenuhi permintaan ayahnya yang meskipun tidak diucapkan tapi bisa sangat dimengerti oleh Nate. Jadi mengesampingkan hobinya berbuat ini dan itu yang bisa mendatangkan detensi, ia bukan hanya memikirkan senang-senangnya saja, kok.

“Hari ini kita akan mempraktekkan mantra dasar untuk murid tahun pertama,”

Wingardium Leviosa. Mantra melayang. Oke. Lalu sekarang mereka harus mencobanya pada bulu-bulu putih yang tampak lembut dan akan sangat empuk untuk dijadikan isi bantalnya. Tapi kembali pada tugasnya yaitu mengangkat bulu-bulu putih ini. Nate menggenggam tongkatnya. Hawthorn, ekor unicorn, 10 inchi. Baiklah, menurut buku Kitab Mantra Standar Tingkat Satu oleh Miranda Goshawk yang terbuka di depannya di halaman lima, pelafalan dan gerakan tongkat sangat berpengaruh pada keberhasilan mantra ini. Jadi pertama, mari kita berlatih mengucapkan mantra ini (sekaligus mendengar suara Nate yang memang enak untuk didengar)!

"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."

Satu.

"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."

Dua.

"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."

Tiga.

Oke, palafalan sempurna (tentu saja, Nate memang selalu sempurna) lalu sekarang apa?


---------------------------
----------------

Kali ini ia benar-benar serius dalam mengikut kelasnya. Inginnya sih begitu. Tapi beberapa Gryffindor sial benar-benar mengganggunya, dan Nate benar-benar tidak terima kalau harus dipermainkan tanpa ia bisa membalas. Jadi ia melakukannya, hanya mantra simpel 'Petrificus Totalus' dan beberapa kalimat untuk membalas perkataan orang-orang itu. Tapi pada akhir pelajaran ia malah jadi yang sakit. Hipertensi-nya kambuh. Sialan.
Frilla
Detensi untuk keributan di kandang burung hantu.


Nate menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Cemberut. Mendengus kesal. Ia mendelik ke sana kemari dengan penuh tatapan membunuh seolah ia sedang mencari mangsa dan orang yang pertama kali bertatapan dengannya akan ia gigit sampai mati. Sialan. Ini semua sungguh menyebalkan. Detensi. Detensi. DETENSI. Baru beberapa minggu dia bersekolah di sini dan ia sudah mendapatkan detensi! Dengan guru pemeliharaan satwa gaib pula. Sungguh sial. Apa yang akan dikatakan oleh ayahnya jika mendengar hal ini? Bisa-bisa ia langsung dicoret dari silsilah keluarganya. Oke, tidak, sih. Mengingat Nate satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Siapa lagi yang bisa mewarisi nama keluarga Harvarth kalau bukan dia? Tapi kembali mengenai masalah detensi ini. Sungguh, ini menyebalkan sekali. Dan ini semua gara-gara perbuatan orang-orang di kandang burung hantu itu! Lupakan soal dia yang pertama kali menarik tongkat dari jubahnya dan memantrai orang-orang di sana. Seharusnya mereka tidak terpancing! Semua hal ini disebabkan oleh mereka yang asal menyerang sembarangan. Sial. Sial.

Ini semua gara-gara mereka.

Hmpf.

Nate menendang-nendang tanah di depannya. Menunggu dengan tidak sabar untuk mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam detensi ini. Oh tentu saja, ia sangat tidak sabar. Semoga saja detensi yang tidak pantas, sehingga nanti ia bisa mengirimkan surat pada ayahnya dan mengatakan bahwa guru di Hogwarts ini tidak bisa mengajar dan BUM! Orang itu dipecat. Semoga.

Paling tidak kalau terjadi hal seperti itu Nate akan merasa bahwa detensi kali ini tidak sia-sia belaka. Yeah, yeah. Detensi. Kata yang sungguh menyebalkan. Ia tidak seharusnya mendapat detensi. Kata 'Nate' dan 'detensi' tidak pernah bisa diletakan dalam satu kalimat yang sama. Kenapa orang-orang tidak bisa menyadari hal itu, sih? Argh, ia ingin menggigit lengan orang lain sampai putus rasanya. Kira-kira mau tidak ya, Sylar digigit olehnya? Tapi tidak, lebih baik ia menggigit lengan salah satu orang penyebab ia terjerumus dalam masalah ini. Kalau begitu kan ia puas, dendam juga terbalas. Mudah kan? Dan semua orang pun akan puas. Lalu Nate bisa tertawa terbahak-bahak dan mulai mencari target baru dalam kisah epiknya di Hogwarts. Ia sekali lagi hanya bisa mendengus dan menatap tajam ke arah prefek yang sedang berbicara dengan profesor ceret atau apapun namanya itu. Ceret. Nama yang sangat aneh.

Bosan dengan tanah yang sudah tak tampak menarik lagi di matanya ia mulai melihat-lihat ke sekeliling tempat itu. Ini... gubuk tempat si oaf itu tinggal, ya? Lalu dekat danau... Semoga saja detensinya tidak berhubungan dengan cumi-cumi raksasa yang katanya hidup di danau itu. Ih... Membayangkannya saja Nate sudah tidak mau, apalagi menghadapinya betulan. Ia mengalihkan pandangan matanya ke arah lain tapi justru menangkap sosok orang-orang yang juga kena detensi sepertinya. Ia mulai cemberut lagi. Padahal ia kira tadinya ia bisa menghindar dari detensi ini, tapi ternyata kena juga. Huuh, dasar prefek tidak adil! Sudah jelas Nate tidak seharusnya terkena detensi tapi tetap saja... Puhf.

Tidak adil.
Frilla
Hanya secarik perkamen pendek yang berisi tidak lebih dari tiga kalimat. Tapi Nate tahu ia harus mengirimkannya sesegera mungkin. Hanya Merlin yang tahu apa yang akan dilakukan ayahnya kalau ia tidak membalas surat beliau secepatnya. Alasan kedua, karena ia menginginkan sapu balap. Mari kita berharap ayahnya akan membelikannya sapu baru, yang sebenarnya pasti akan dilakukan oleh ayahnya. Oke, dia memang masih kelas satu. Tapi benar-benar deh, ia tidak mengerti kenapa murid kelas satu tidak boleh memiliki sapu. Peraturan yang sangat konyol, menurutnya. Mungkin ia akan tetap memaksa ayahnya membelikan satu untuknya dan menyembunyikan benda panjang itu dengan suatu cara.

Hm? Ada beberapa orang tiba di kandang burung hantu terlebih dahulu. Gadis di Diagon Alley waktu itu, seorang yang ia tidak kenal, dan...

"Jangan khawatir, Dutie. Bahkan di Slytherin ada juga yang kucurigai sebagai half-blood. Bahkan ada juga di antara mereka yang pure-blood, berlagak membela half-blood hanya karena half-blood itu seorang anak perempuan cantik! Sungguh menjijikkan! Topi Seleksi benar-benar sudah tua dan payah!"

---goddamn all.

Nate tergelak mendengar kalimat yang tercetus lagi-lagi dari seorang Mr. Lightdarker yang budiman. Manusia berotak bebal yang lagi-lagi mengatakan omong kosong mengenai darah murni dan segala hal remeh yang n cemoohan pada orang yang sudah mencari masalah dengannya untuk kbenar-benar membuatnya ingin muntah. Sayang sekali kali ini ia sedang mengenakan sweater cashmere perak hadiah dari ayahnya yang harganya sangat mahal, kalau tidak mengingat hal itu, mungkin di sudah benar-benar akan memuntahkan seluruh sarapannya tadi pagi. Berlagak membela darah-campuran hanya karena dia seorang anak perempuan cantik. Kita sependapat dalam hal ini tuan, Solathel memang perempuan yang cantik. Tapi mengatakan bahwa hal yang ia lakukan --menjijikan. Kata yang seharusnya ia lontarkan pada laki-laki brengsek itu, adalah perbuatan yang menjijikan. Orang ini benar-benar mencari masalah dengannya.

Tangannya merogoh kantung jubahnya, menyentuh benda dingin yang ada di sakunya. Bagus sekali. Selama ada benda ini, ia tidak perlu takut akan kalah. Yang sebenarnya, sudah pasti. Nate dan kalah tidak bisa dimasukan dalam kalimat yang sama. Seharusnya semua orang sudah mengetahui hal itu.

"Membicarakan tentang seseorang yang kukenal, Lightdarker?" ujarnya enteng seolah ia hanya mengomentari keadaan cuaca hari itu. Nate mengangkat kepalanya sedikit sementara matanya memancarkan cemoohan untuk dua kalinya, dan kali ini ia tidak berjanji akan memaafkannya semudah itu. Ia tersenyum dengan keramahan yang dibuat-buat, "aku harus sependapat denganmu, topi seleksi memang payah. Aku heran betapa banyaknya mahluk-mahluk idiot yang ditempatkan di asrama kebanggan Salazar. Mereka lebih buruk daripada seorang Hufflepuff. Menurutku pribadi, seharusnya mereka tidak usah diterima di tempat ini, hanya akan mendatangkan aib untuk keluarga darah-murni mereka yang tersayang."

Harvarth adalah keluarga penyihir tua dengan kebiasaan keluarga darah-murni pada umumnya tapi juga sekaligus tidak umum, karena mereka adalah penyihir Norwegia yang berbeda dengan penyihir Eropa kebanyakan. Tapi cerita itu akan kita simpan untuk lain kali. Yang perlu ditekankan adalah, semua keturunan keluarga Harvarth adalah orang-orang yang memiliki harga diri yang sangat tinggi. Berani macam-macam dengan mereka, maka tanggunglah akibatnya.

"Yeah, kau sudah dengar sendiri kan dari Mr. Chuck, nona Rainier? Jadi, aku nggak perlu repot-repot mengatakannya kepadamu! Aku sangat alergi berbicara dengan seorang Gryffindor, apalagi setelah kutahu kau adalah seorang pembela darah-lumpur! Aku memang Gryffindor, seharusnya kau tau itu, karena jelas-jelas seekor singa jelek telah menangkring di jubahku ini. Dimana kau letakkan matamu, nona?" Orang yang malang. Dunia tidak pernah berputar sesuai keinginanmu, ya? Yeah, memang banyak orang yang tidak memiliki keberuntungan, nasib, dan takdir yang dimiliki oleh Nate yang memiliki segalanya. Tapi sungguh deh, mendengar orang-orang mengatakan darah-lumpur begini, darah-murni begitu, ia jadi semakin muak. Kalian ingin membela Pangeran Kegelapan? Then go! Tidak usah merusak nama baik Salazar yang terhormat. Pergi sana menyembah Pangeran Kegelapan, dan matilah kalian ketika Pangeran Kegelapan tahu betapa tidak berharganya orang-orang seperti kalian yang hanya bisa berbicara.

Dasar.Idiot.

"Alergi berbicara dengan seorang Gryffindor, eh? Tapi anda sendiri seorang Gryffindor. Apa itu berarti anda juga alergi pada diri anda sendiri?"

Jangan tertawa.

Tahan emosi, Nate.

"Lagipula, anda baru saja berbicara dengan nona itu, apa alergi anda akan kumat sekarang?" tanyanya lagi dengan keingin tahuan yang dibuat-buat. Demi Salazar, dia ingin benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak sekarang. Tapi tidak, Nate. Jangan sekarang. Kalau ingin menertawakan mereka, tunggulah beberapa saat lagi. Salazar yang agung, ini sungguh menggelikan. Bahkan mengatakan hal yang tidak kontradiktif saja tidak bisa. Hmpf, dosa apa sih yang ia lakukan sampai harus dipertemukan dengan mahluk semacam ini? Tapi sudahlah Nate, nikmati saja pertunjukan kecil ini. Lagipula, Tuan Muda Harvarth sudah lama tidak beraksi kan? Kita lihat saja, bagaimana kerennya Nate setelah ini...

---------

Baiklah, kejadian di kandang burung hantu itu memang salahnya. Dan semoga saja ia tidak mendapatkan detensi karenanya. Tapi demi Salazar yang agung, siapa sih yang tidak akan naik darah mendengar seseorang mengataimu 'menjijikan', perlu diulang? Menjijikan. Seperti ia hanya selevel dengan cacing tanah. Dan itu hanya dikarenakan ia membela Michelle pada waktu transfigurasi. Oh, apa dia sudah menyebutkan sebelumnya kalau nona Michelle sekarang sudah menjadi pacarnya?

Kembali masalah kandang burung hantu itu, memang sih, Nate inilah yang terlebih dahulu melancarkan mantera (dengan dukungan Sylar dan Szent tentu saja). Tapi situasi semakin tidak terkendali dan macam-macam terjadi termasuk pingsannya Michelle karena pisau yang dilemparkan oleh si Lightdarker itu. Akhirnya Nate memanggil prefek (tiga prefek dari tiga asrama datang! Wow!) dan mengatakan semua ini kesalahan si brengsek dan kroni-kroninya. Entah apakah pada akhirnya ia akan kena detensi atau tidak. Semoga saja tidak.
Frilla
Kelas transfigurasi bersama si nenek keriput. Pelajaran pertama tahun ini pula. Malasnya... Semoga tidak akan ada tugas, pekerjaan rumah atau apapun. Kalau ada, semoga saja Szent atau Sylar mau berbaik hati untuk 'meminjamkan' pekerjaan mereka. Ah, tapi kalau hanya pekerjaan kelas satu seperti ini sih, bukan masalah besar untuk Nate. Tidak ada hal yang tidak bisa ia lakukan, tentu saja. Seolah hal sepele itu sulit baginya. Meskipun dia berandalan (atau apapun sebutan yang pantas untuknya) bukan berarti ia anak bodoh, kan? Tidak. Ia sangat pintar, jenius bahkan. Transfigurasi?

...sepele.

Nate mengangkat bahu dan melenggang masuk ke dalam kelas dengan gayanya yang cuek seolah dia memiliki seluruh dunia seperti biasa. Bocah itu sempat melayangkan pandangannya pada seisi kelas yang sudah lumayan ramai. Setelah mengambil posisi duduk di tengah kelas, tepat di sebelah Sylar dan tidak jauh dari Szent ia mengeluarkan tongkatnya dan memutar-mutarnya dengan ekspresi santai. Tampaknya sama sekali tidak takut kalau-kalau tongkat itu tiba-tiba menyihir seseorang dan menyebabkan kekacauan. Sekali-sekali ia melirik kanan-kiri, mengamati beberapa orang yang sudah berada di sana. Sampai ia menangkap sosok nenek keriput yang mulai memberikan ceramah mengenai mantra pengubah tisue menjadi perkamen. Puhh. Sungguh mantra yang tidak penting... apa gunanya mengubah tisue menjadi perkamen kalau dia punya cukup banyak uang untuk membeli segudang perkamen kualitas nomor satu? My, my... tampaknya sekolah ini hanya mengajarkan hal-hal merepotkan...

Seandainya ayah mendengar hal ini, pasti beliau akan berpikir dua kali sebelum memasukannya ke sini. Bagaimanapun, katanya kualitas murid-murid Dumstrang lebih baik daripada sekolah mainan ini. Apalagi kepala sekolah Dumstrang sekarang adalah kenalan beliau... Ah, seandainya ia dulu berpikir lebih jauh mengenai bersekolah di tempat ini...

Nate menatap selembar tisue yang melayang ke meja di depannya. Ia menatapnya dengan tatapan bosan, hampir-hampir tidak punya niat untuk mengangkat tongkatanya dan mengatakan mantra pengubah itu. Bocah berambut kecoklatan itu hanya memutar-mutar tongkatnya dengan tatapan bosan, sebelum cengiran sombong muncul di wajahnya. Ia menoleh ke arah Sylar dan berkata cepat, "eh, Sylar... menurutmu kali ini siapa yang lebih cocok jadi targetku? Meskipun sebenarnya membosankan, ya. Sama sekali bukan tantangan kalau mereka begitu saja meleleh dengan satu dua kata manis dariku. Kalau bukan karena wajah mereka yang cantik, Arlyn, Milliane, dan yang lain, kurasa aku tidak akan pernah tertarik pada mereka."

Nate mengatakan semua itu dengan nada merendahkan, seolah tingkatannya jauh di atas nama-nama yang ia sebut. Dalam pandangannya, memang begitulah adanya. Kesombongan yang kelak mungkin akan menghancurkannya. Tapi untuk saat ini, ia tidak merasa hal itu akan terjadi padanya. Dia hebat, ayahnya salah seorang penyihir paling sukses dalam sejarah. Siapa yang berani berada di jalannya? Tidak ada.

"Fan.Dan.Go."

Tisuenya bergetar sedikit.

Crap.

--------------------------------------------------


Kelas pertama di tahun ajaran ini dan dia sudah bertemu dengan mahluk-mahluk menyebalkan yang merasa diri mereka hebat karena mereka menyebut diri mereka sebagai darah murni. Oke, memang salah satu diantaranya akhirnya mengajaknya berdamai. Tapi ia rasa itu karena mereka tidak mengetahui... forget it.

Tidak mungkin ia memberitahukan hal itu.

Dan tebak, ada dua orang saudara jauhnya yang satu angkatan dengannya. Corleone dan Duske. Nice, nice... Meskipun ia sempat bertengkar dengan musang--er, Corleone itu. Tapi yang paling disukainya di kelas itu adalah, saat ia mengajak seorang gadis cantik bernama Michelline Fara Solathel yang sudah menerima ajakannya untuk menjalin hubungan. Yang berarti ia memenangkan taruhannya dengan Sylar dan ia bisa menyuruh temannya itu untuk melakukan apapun yang ia mau. Yeah!
Frilla
Slytherin!

Itu yang diteriakan oleh topi berkutu itu. Hmpf, sudah ia duga. Bagaimana ia tidak dimasukan ke dalam asrama ular itu? Semua orang tahu keluarga Harvarth turun temurun bercokol di sana. Dan dia tentu saja mengikuti tradisi itu yang pastinya akan membuat ayahnya bangga padanya dan ibu tirinya tersayang hanya bisa menjambak rambutnya karena frustasi atas prestasi yang diraihnya. Nah, itu baru yang ia sebut kemenangan. Telak. Hahaha, ia tidak sabar menunggu pulang ke rumah untuk melihat ekspresi wanita itu.

Tapi masih tentang asrama, ini hebat sekali. Semua orang tahu Nate paling cocok mengenakan jubah warna emerald. Dan bayangkan kalau nanti ia masuk ke dalam tim quidditch? Wow. Ayah pernah bilang, adalah suatu kejahatan kalau ia sampai tidak terpilih masuk ke dalam tim asrama. Dan Nate harus setuju dengan perkataan beliau. Bagaimanapun dia adalah sang Nathan Kehl Harvarth yang sudah bermain quidditch sejak masih sangat-sangat kecil, tentu saja dia HARUS terpilih. Oke, dia memang masih kelas satu. Tapi benar-benar deh, ia tidak mengerti kenapa murid kelas satu tidak boleh memiliki sapu. Peraturan yang sangat konyol, menurutnya. Mungkin ia akan tetap memaksa ayahnya membelikan satu untuknya dan menyembunyikan benda panjang itu dengan suatu cara.

Tahu apa lagi yang hebat?

Dia juga seasrama dengan Sylar dan Sent! Bayangkan segala hal yang dapat mereka kerjakan nanti... Apalagi kalau sudah senior nanti... bisa membully anak baru, cool.