Tampilkan postingan dengan label Kelas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas. Tampilkan semua postingan
Frilla
Nate biasanya tidak banyak berkomentar pada guru-guru PTIH yang terus berganti tiap tahunnya. Paling tidak seingatnya, sih, ia tidak banyak berkomentar. Tapi kali ini ia benar-benar terbelak. Madam Simms tidak terlalu buruk, sebenarnya. Memang make-up di wajahnya agak terlalu banyak untuknya, tapi guru wanita muda jarang ditemukan di kastil ini dan harusnya Nate merasa senang dengan pergantian ini, hanya saja wanita itu terlalu... bersinar, kalau kau mengerti maksudnya. Entah memang Simms memang berbeda atau ini karena ia sudah terlalu biasa dengan perempuan-perempuan asramanya yang memiliki aura kelam. Disebut kelam juga tidak seluruhnya benar sih, tapi jelas tidak ada pemenang kontes senyum paling indah atau semacam itu. Bukannya ia tahu apa benar si Simms ikut kontes yang seperti itu.

Tapi yang ia tidak sukai bukan masalah make-up atau sifat yang terlalu berkilau sampai menyakitkan mata itu, melainkan entah kenapa profesor di depan itu mengingatkannya sedikit banyak pada kakaknya (fakta yang tidak bisa disangkal walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak ingin mengakui bahwa wanita itu masih memiliki hubungan darah dengannya). Bukan persamaan bahwa rambut mereka sama-sama pirang--meskipun dengan berat hati Nate akan mengakui ia lebih menyukai warna rambut Miranda, rambut si Simms itu terlihat seperti buatan. Terlalu pirang dan mengkilat. Inilah sebabnya Nate lebih menyukai wanita berambut gelap. Tapi sekali lagi, bukan itu yang membuatnya teringat akan Miranda. Mungkin senyum di wajah cantik itu, yang seakan menyembunyikan jutaan kebusukan di dalamnya. Iblis yang berkedok wanita suci yang lugu. Mungkin Nate berpikir terlalu banyak, bagaimanapun ia baru pertama kali melihat guru ini dan tidak tahu banyak tentangnya. Meskipun ia berani bertaruh guru itu pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi selama itu tidak mengganggunya, seharusnya ia tidak ambil pusing. Seharusnya. Tapi setiap nama M itu disebut, sel-sel otaknya langsung bekerja dengan giat. Mungkin hal ini berguna dalam ujian.

Jemarinya memutar-mutar pena bulunya (bulu merak albino, 127 galleon 14 sickle). Sepasang kristal gelap menatap penuh perhitungan di balik tirai cokelat tua. Ia sepertinya harus memotong rambutnya, sudah mulai sering mengganggu penglihatannya. Nate mengacak-acak rambutnya, mulai bosan dengan penuturan panjang guru di depannya. Hingga ia mulai berpikir apakah ia bisa mendapat nilai O dengan mengajak si guru kencan kapan-kapan. Tapi soal itu bisa menunggu hingga akhir pelajaran. Atau kapanlah waktu yang tepat.

Nobody can resist him anyway.

Nate menaruh kepalanya di atas meja beralaskan kedua tangannya. Menatap dengan hampir tidak tertarik bagaimana orang-orang langsung sibuk mengerjakan karangan menenai kutukan tidak termaafkan yang diperintahkan oleh pengajar di depan. Putera Harvarth itu melirik ke anak Ravenclaw yang kebetulan duduk di sebelahnya. Dengan semangat menggebu-gebu anak itu mengerjakan karangannya yang tampaknya panjangnya akan mencapai satu meter nantinya. Membayangkannya saja Nate sudah mual. Tapi mengesampingkan rasa malasnya, ia akan mengerjakan tugas itu. Setidaknya setelah ia melirik esai milik orang di sebelahnya. Bukannya Nate tidak bisa mengerjakannya sendiri, ia tahu, kok, dasar-dasar mengenai kutukan itu. Tapi untuk apa ia susah-susah berpikir ketika ada orang lain yang bisa berpikir untuknya? Dengan alasan itu, Nate mengintip esai milik Lightdarker yang duduk tidak jauh di depannya, lalu milik Michelle dan Sylar... bercanda. Memangnya ia memiliki penglihatan bagaimana sampai bisa melihat tulisan kecil-kecil yang berada sedemikian jauhnya. Yang mengingatkannya untuk mencari mantra untuk memperkuat penglihatan nanti. Untuk sementara ini, ia bisa melihat karangan anak Ravenclaw itu dulu.

Nate mengangkat kepalanya, dengan berat hati mengambil perkamen (kualitas nomor satu, tentu saja) dari tas bewarna hitam miliknnya. Jadi... kutukan tidak termaafkan, mengingatkannya pada pangeran kegelapan dan antek-anteknya. Dan kini ia harus memberikan alasan kenapa kutukan itu bisa dipakai? Rasanya ia ingin tertawa dengan keironisan ini.



In Parchment:

Esai PTIH
KUTUKAN TAK TERMAAFKAN
dibuat untuk memenuhi nilai mata pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam

Oleh: Nathan Kehl Lothurr Harvarth
Tahun keempat, Slytherin


Kutukan Tak Termaafkan adalah kutukan yang penggunaannya kepada manusia lain akan dijatuhi hukuman seumur hidup di Azkaban. Kutukan ini ilegal untuk digunakan dengan alasan apapun. Namun demikian Bartemius Crouch, Kepala Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir, memberikan kekuasaan baru pada auror untuk menggunakan kutukan ini kepada mereka yang dicurigai sebagai pelahap maut. Kutukan Tak Termaafkan terdiri dari tiga macam, dan ketiganya adalah terlarang baik berdasarkan hukum maupun moral. Adapun kutukan ini yaitu Imperius, Cruciatus, dan Avada Kedavra. Ketiganya dikategorikan sebagai Kutukan Tak Termaafkan pada tahun 1717.

{Meskipun dikatakan terlarang, merusak, dan sebagainya, saya justru jadi bertanya-tanya alasan mengapa kutukan ini diciptakan pada awalnya. Apakah orang pada zaman dahulu memiliki nilai-nilai yang berbeda dengan kita sekarang? Ataukah dari awal memang kutukan ini diciptakan oleh orang-orang yang haus kekuasaan? Meskipun entah kenapa saya memiliki firasat bahwa sebenarnya kutukan ini diciptakan oleh anak kecil. Ya, saya tidak salah tulis atau gila. Tapi mungkin saja memang anak kecil yang menciptakannya. Bagaimanapun pelafalan ketiga kutukan ini misalnya saja Avada Kedavra) terdengar seperti kesalahan pelafalan dari Abra Kadabra. Mungkin anak-anak salah mengucapkan ketiga kata itu (tahulah bagaimana bocah-bocah suka sulit mengulang perkataan orang lain) dan akhirnya BOOM terciptalah kutukan ini. Tentu saja ini hanya teori saya yang belum terbukti kebenarannya, tapi patut diperhitungkan bukan? Bagaimanapun ini adalah teori yang masuk akal.}


I. Kutukan Imperius
Kutukan Imperius adalah kutukan yang digunakan untuk mengambil alih kontrol atas tubuh seseorang. Dikatakan bahwa korbannya akan berada dalam kondisi setengah sadar dan merasa seakan seluruh bebannya hilang sehingga korban merasa tidak ada ruginya untuk mengikuti kehendak sang pengguna kutukan. {Entah ada apa dengan orang-orang yang dikutuk ini, tapi kalau saya sendiri tidak akan semudah itu mengikuti perintah orang lain tanpa tahu untung ruginya}

Kutukan imperius, layaknya sihir hitam yang lain, digunakan untuk kegiatan yang bertujuan untuk meraih kekuasaan, merusak, mencelakai orang lain, dan kegiatan kriminal lainnya. Catatan sejarah belum pernah menunjukan adanya penggunaan kutukan ini untuk tujuan yang baik.

{Tidak mengherankan, karena mempelajari ilmu hitam saja sudah menunjukan tabiat yang tidak baik sebenarnya. Tapi saya rasa imperius terkadang bisa diterapkan untuk hal-hal yang cukup baik. Misalnya untuk laki-laki malang yang menyukai gadis paling populer di sekolah, namun gadis itu menatapnya saja tidak mau (bukannya ini pernah terjadi pada saya, maaf-maaf, ada juga yang terjadi kebalikannya). Kutukan imperius ini bisa digunakan kepada si gadis, siapa tahu ia akan sadar dengan kebaikan yang ada di hati si laki-laki. Meskipun penggunaan kutukan ilegal macam itu menunjukan sebaliknya mungkin, tapi yang penting niat dan cinta si laki-laki yang sangat besar hingga rela melanggar peraturan. Betul?}


II. Kutukan Cruciatus
Kutukan Cruciatus digunakan untuk memberikan rasa sakit yang amat sangat pada korbannya. Beberapa ahli sejarah percaya bahwa kutukan ini pertama kali digunakan pada zaman Kekaisaran Romawi untuk menghukum para tahanan dan budak. Hal ini dikarenakan Crucio atau Cruciatus berasal dari bahasa Latin cruciare yang artinya untuk menyiksa atau menyakiti.

{Jadi, alasan untuk menggunakan kutukan ini agak lebih mudah. Bisa digunakan di beberapa kalangan masyarakat yang masih memiliki adat hukuman siksa seperti Asia Barat dan Eropa Selatan. Atau bagi para masokis, mungkin mantra ini dapat berguna. Dan tidak akan meninggalkan bekas! Itu hal yang paling penting saya rasa. Terkadang ada orang-orang menyukai rasa sakit namun tidak ingin ketahuan oleh orang lain atau tidak ingin melihat luka di tubuh mereka. Jadi tentu kutukan ini bagus juga untuk mereka. Lagipula, tidak ada larangan untuk menggunakan kutukan ini pada tubuh sendiri bukan? Bukannya saya ingin mencoba atau apa. Maaf, saya dan kutukan Cruciatus? Jelas bukan pasangan yang baik.}


III. Kutukan Avada Kedavra
Kutukan Avada Kedavra adalah kutukan yang mengakibatkan kematian pada korbannya, tanpa luka dan tanpa jejak sehingga mustahil untuk mengetahui siapa orang yang mengucapkan mantra tersebut apabila tidak ada saksi mata. {Kecuali jika ada tanda tengkorak di atas mayat itu, sudah jelas pelakunya adalah kawanan yang itu.}

Avada Kedavra berasal dari kata archaic Sanskrit yang artinya 'from life, nothing'. Kebalikan dari kata Abra Kadabra yang berasal dari bahasa yang sama yang artinya 'from nothing, life'. Beberapa etimologist menyimpulkan bahwa mantra ini pertama kali digunakan di wilayah India yang sebenarnya sama sekali tidak mengherankan mengingat banyak sekali penyihir hebat berasal dari daerah ini.

{Saya curiga bahwa awalnya mantera ini digunakan untuk membunuh sapi. Maksud saya, di India, mamalia yang satu ini dianggap keramat dan sebagainya sehingga tidak mungkin disembelih layaknya ayam atau hewan lain. Tapi dengan mantra ini VOILA! mereka bisa tetap makan daging sapi yang lezat dan bergizi tanpa harus khawatir tidak menghormati leluhur atau dewa mereka! Meskipun saya masih berpendapat bahwa mantra ini awalnya ditemukan karena salah pelafalan.}



PS.
Maaf saya menggunakan kata ganti orang pertama di dalam tugas, ma'am. Tidak tahan untuk tidak melakukannya. Mungkin bisa dibayar dengan, ehem, detensi pribadi?
Frilla
Ngantuk.

Seorang anak laki-laki berambut kecokelatan berjalan dengan wajah terkantuk-kantuk—mengacak rambutnya sesekali. Lingkaran hitam yang buruk rupa menghiasi sekeliling matanya. Ia tampak seperti panda. Sial. Oke,mungkin tidak seburuk itu—since, apa, sih, yang bisa membuat Nate tampak kurang dari tampan? Manik caramelnya melirik kanan-kiri dengan tidak fokus—dengan suatu cara berhasil menuntun sang anak laki-laki menaiki tangga spiral bewarna perak menuju kelas ramalan. Kelas yang sampai sekarang ia tidak mengerti kenapa ia ikuti. Ayolah—ini ramalan. Cabang ilmu yang paling tidak pasti, sama sekali tidak relevan, tidak bisa dipikirkan dengan logika. Kenapa juga ia mau memilih kelas ini? Oh ya, karena ia berpikir ini kelas yang paling mudah diikuti daripada segala macam kelas merepotkan yang lainnya. Ah, seandainya ia tahu apa yang sebenarnya dilakukan di kelas itu, mungkin ia tidak akan pernah meskipun hanya untuk mempertimbangkan masuk kelas ini.

Bola Kristal.

Astrologi.

Pergerakan bintang.

Membaca daun teh.
Omong kosong.

Nate menarik hood jubah seragamnya menutupi kepalanya. Ia harus berterima kasih pada siapapun yang merancang seragam Hogwarts—paling tidak hood itu membuatnya bisa menutupi wajah tidak niatnya saat melewati profesor ramalan yang nyentrik itu. Siapa namanya—rasanya sempat disebutkan di pesta awal tahun. Wanita yang seperti kelelawar tua renta dengan selera berpakaian yang pasti membuat banshee sekalipun kehilangan suara melengkingnya. Ah, ya—Trewlaney, namanya. Lihatkan, dari namanya saja sudah bisa dilihat kalau staff pengajar yang satu ini aneh. Bukannya staff yang lain tidak aneh, ya. Ia sering berpikir apa memang Hogwarts ini kurang staff berkualitas. Bukannya ia mementingkan pengajar ramalan—siapapun gurunya. Pelajaran aneh begini… tapi sudahlah, jangan membicaraka keburukan pelajaran ramalan. Kalau kena karma bisa gawat juga kan. Bukannya ia percaya dengan hal-hal tidak logis seperti itu. Tidak—ia sama sekali tidak percaya. Tapi tetap saja ia tidak ingin mengalaminya. Ia tidak percaya tapi.

Ruangan itu tampak lebih sumpek daripada ruangan lain. Kursi-kursi berlengan tampak asal dijejalkan ke dalamnya, membuat ruangan itu menjadi jauh lebih sempit daripada yang seharusnya. Panas yang menguar dari perapian membuat ruangan itu hangat, bukan, panas lebih tepatnya lagi. Apalagi dengan cahaya temaram yang ditimbulkan lampu-lampu yang dilapisi selendang. Nate dengan terpaksa—tanpa mengeluh seperti biasanya—menghempaskan dirinya di salah satu kursi berlengan. Meletakan kepalanya di atas meja dengan beralaskan tangannya sebagai bantal. Demi Merlin—ia benar-benar berharap tidak melakukan apa yang ia lakukan tadi malam. Tebak apa yang membuatnya sampai terkantuk-kantuk ke kelas begini? Belajar, ya. Tidak perlu membelakan mata begitu—semua orang juga tahu kalau Nate bukan murid yang asal-asalan. Oke, tahun kemarin memang ia kehilangan semua nilai-nilainya. Tapi akan ia buktikan kepada si Miranda itu—tahun ini, ia berbeda. Bukan berarti ia itu seorang kutu buku—oh, please—seorang Nate tidak bisa disamakan dengan seekor kutu buku yang merasa kepalanya terlalu tertinggi sehingga memutuskan untuk berada di menara terus. Lagipula, imej seorang kutu buku selalu dekat dengan anak-anak jelek yang tidak punya teman dan well—jauh dari Nate-lah.

"Pada pelajaran... kita... dengan daun teh... Tasseomancy. tertinggal di dalam cangkir... masa kini dan masa depan...melihat yang tak terlihat. ...kosongkan pikiran... duniawi karena... pusat kosmos...melampaui... masa depan.” anda bilang apa tadi, prof? Nate mengangkat kepalanya dengan wajah sembab—bukan, ia tidak menangis, idiot—mengangkat tangannya untuk menggosok mukanya sekedar untuk memastikan bahwa ia bukan berada di alam mimpi dimana semua hal bewarna merah dan jingga. Demi banshee yang mengikik di tangga, kenapa kelas ini harus begini? Pasti ini sebuh konspirasi untuk menjatuhkan Nate. Dengan cara membuatnya ngantuk dengan kondisi kelas yang hangat dan dipenuhi harum teh. Tapi—ia tidak akan kalah.

Tidak akan pernah kalah.

Nate menarik poci teh di mejanya—menyajikan teh untuk dirinya sendiri. Tanpa sengaja menjatuhkan sendok yang dipakainya untuk mengaduk teh. Saat ia menunduk untuk mengambil benda itu dari lantai, ia justru mendengar sesuatu yang membuat kepalanya terantuk meja saat akan menegakan tubuhnya. ”Ehem, Michelle, bentuk pertama aku melihat bintang yang berarti kesuksesan dan penghargaan. Berikutnya segitiga berati kau terlibat hubungan cinta segitiga.” Hei, Dewi Fortuna... kau membenciku, ya? Seharusnya ia memang tidak mengambil kelas ini—kenapa dari semua kelas pilihan yang disediakan, mereka harus mengambil pelajaran yang sama? Dan apapula cinta segitiga yang dimaksud... Ck, sudahlah. Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya—mengusir pikiran apapun yang memasuki kepalanya. Ia meletakan sendoknya di atas meja dan mengangkat bahu. Well—bagaimanapun juga, masih ada janji itu—ia tidak peduli apapun, selama masih ada janji itu. Ia masih memiliki hak. And life goes on.

zZzzZzz....

Nate mencubit pipinya sendiri—jangan tidur, hoi. Jangan tidur.

Anak laki-laki itu mengangkat cangkirnya—meneguk isinya pelan-pelan. Teh hangat dan scone, sungguh Inggris. Seperti ibundanya tercinta, ck. Bikin kesal saja. Tapi kalau ia tidak salah ingat kata si Trewlaney tadi—jangan memikirkan hal-hal duniawi. Jelas saja, Nate sama sekali tidak dekat dengan dunia. Pikirannya sudah mendekati gerbang dunia mimpi begini. Anak itu memutar cangkirnya tiga kali sebelum meletakannya di tatakan, sementara satu tangannya sibuk memijit pelipisnya yang berdenyut menyakitkan karena kurang tidur.

Posted Image

Cangkir di depannya tampak menertawakan dirinya yang sedang kesusahan mempertahankan diri di ambang kesadaran yang menipis. Oh, sialan kalian udara hangat dan kursi yang terlalu empuk. Nate menggelengkan kepalanya beberapa kali—dia tidak akan kalah dari kantuk. Sekarang intruksi selanjutnya... argh, ia tidak mendengarkan apa kata si kelelawar tua itu tadi. Setelah itu apa—makan kue inginnya, sih, sayang bukan. Tapi sudah pastilah, berhubung mereka akan membaca daun teh, sekarang waktunya kegiatan utama berarti. Amati cangkir—eh, bukan—amati daun teh. Mari kita lihat, ramalan untuk seorang Nate (tolong camkan bahwa Nate tidak pernah percaya dengan yang namanya ramalan, sama sekali tidak percaya). Baiklah, yang sebelah kanan itu tampak seperti tikus—artinya... demi Merlin. Peringatan—tidak mungkin. Bukan, tadi dia pasti salah lihat. Ia memperhatikan cangkirnya dari arah yang lain—menyipitkan matanya dan mengangguk-angguk saat ia melihat bentuk lain yang terlihat seperti bell baginya. Bel—aha!

”Unexpected goodnews in love,” ujarnya keras dengan puas—oke, lupakan saja semua tentang si tikus aneh itu, yang ini lebih baik. Ia mengerling sosok di depannya dengan cengiran lebar sambil menyerahkan cangkirnya pada partnernya yang entah disadarinya atau tidak sudah ada dari tadi. ”Lihat Sylar, ramalanku cukup bagus, nih.”

Masih mengantuk...



ZzzZzZz…

Gunakan logikamu, bagaimana kira-kira keadaan orang yang dipikirannya hanya ada bantal dan selimut chincila yang hangat? Nah, begitulah keadaan bocah ini sekarang. Ditambah suasana yang hangat ini, ia merasa seperti landak yang sudah tidak sabar memasuki hibernasi tapi terus diganggu oleh setan-setan jahat. Salah satunya Trewlaney yang pastinya tidak mengizinkannya tidur di sini, kecuali kalau ia pura-pura mendapat penglihatan ketika mimpi. Tapi bagaimana caranya coba—seolah ia bisa mengatur tingkah lakunya sewaktu tidur saja. Setan yang kedua adalah Sylar yang tumben-tumbennya datang ke kelas dengan wajah segar bugar, tidak ada satupun gurat-gurat kurang tidur muncul di wajahnya. Ini pasti kutukan. Pasti jembalang yang pernah ia tendang marah dan memberinya kutukan kantuk dan pasti juga jembalang itu suka pada Sylar hingga justru membuatnya sembuh dari penyakitnya. Cih. Jembalang sial, setan ketiga. Setan yang keempat... bukan, bukan setan, Succubus. Iblis wanita cantik yang gemar menjebak kaum adam. Ia pasti sudah sedikit terperosok ke alam mimpi.

Nate dengan enggan meraih cangkir rekannya—Sylar, tidak salah lagi.

Memang kau kira siapa?

Posted Image

Wahai kekuatan kosmos dan alam semesta, tunjukan masa depan pemilik cangkir ini lewar bentuk daun teh. Nah. Apa yang ia lihat di sana? Coba tebak? Burung, buku, anjing, kucing? Bukan. Yang ia lihat adalah... daun teh. Seperti yang seharusnya ia lihat. Mana tanda apapun itu yang seharusnya ada di dalam cangkir? Jangan bilang daya imajinasinya kurang, di saat ia justru memiliki imajinasi yang berlebihan begini, mana mungkin kurang. Pokoknya ia melihat daun teh. Bentuknya seperti... kepiting mungkin? Entah, deh. Abstrak. Boleh tidak ia mengatakan bentuk lukisan Picaso? Tidak—tidak ada arti bentuk Picaso di buku buatan Cassandra Vablatsky itu, berarti tidak boleh menyebutnya seperti itu. Ck. Seperti bantal? Atau tempat tidur...?

Baiklah, ia akan mengatakan ini sekali saja seumur hidupnya, bahwa ada satu hal yang tidak bisa dilakukan dengan sempurna oleh seorang Nathan Kehl Harvarth. Dan hal itu adalah… ia tidak mempunyai mata batin a.k.a. ia tidak bisa meramal. Darimana kesimpulan itu bisa ia ambil? Well, lihat saja. Sudah lima menit ia memandangi cangkir Sylar, berharap mata batin dan kekuatan kosmos pelingkup bumi yang dikatakan itu akan muncul dan memberikan gambaran yang seharusnya datang menurut teori ramalan dari Trewlaney, dan apakah hasilnya? Nul. Zero. Nihil. Tidak, mata batinnya tidak memberikan bimbingan sama sekali. Dan ia terpaksa mengakui ia tidak punya bakat di bidang ini. Bukan berarti ia ingin memiliki bakat ramalan atau apa—ia sudah bilangkan kalau pelajaran ini hanya omong kosong dan sama sekali tidak pasti dibandingkan pelajaran lainnya. Tapi kegagalan tetap membuatnya kesal dan merasa kalah. Dan semua orang tahu Nate benci kekalahan.

Jadi di saat seperti ini—hanya ada satu yang bisa ia lakukan.

Meramal, jelas. Apa yang kau harapkan?

Nate memutar-mutar cangkir rekannya. Sesekali mengangguk dengan wajah sok yakin—percaya diri dengan entah teori macam apa yang muncul di kepalanya. Ekspresinya serius, seolah kali ini ia benar-benar sedang menghayati perannya sebagai peramal. Ia berdeham dan mulai berbicara, ”well, yang kulihat di cangkirmu adalah.... jam, yang berarti peringatan pada penundaan. Dengar itu Sylar, jangan suka terlambat lagi. Lalu kalau diputar begini... aku melihat gurita yang berarti peringatan juga. Aneh, apa akhir-akhir ini ada yang dendam padamu, Sylar?”

Menyenangkan.

Hehe.

Peringatan untukmu Sylar, makanya... bagaimana bisa orang ini menularkan kantuk yang sedemikian berat padanya sementara ia sendiri bisa datang ke sini tanpa susah payah dengan mata terbuka lebar? Tidak adil. Pasti Sylar sudah menjampi-jampi dirinya, membuat sindrom kantuk berpindah tempat dengan indahnya. Heh. Tunggu, sejak kapan Sylar dan jembalang itu berteman? Uwoh, menyebalkan. Mereka berdua pasti berkonspirasi agar Nate mendapat nilai jelek di pelajaran ini. Pasti jembalang itu naksir Sylar sampai rela mengutuk Nate seperti ini. Hm... apakah jembalang bisa mengutuk? Rasanya mahluk berkepala kentang itu bahkan tidak punya otak... apa itu berarti Sylar yang memanfaatkan mahluk lemah tak berdaya dengan taring super tajam itu? Wogh. Tidak ia sangka rekannya itu tidak punya rasa keprijembalangan. Setidaknya Nate hanya menendang mahluk malang itu.

Malang kepala nenekmu.
Frilla
Hari yang baru dan kelas yang baru. Sadar tidak sih, setiap memikirkan mengenai kelas yang akan dimulai Nate selalu mengeluhkan sesuatu tentangnya. Baik tentang waktu yang tidak tepat, materi yang membosankan, guru yang aneh, well, apapun yang bisa ia keluhkan. Andaikan sang Dumbledore sendiri yang rela turun dari tahtanya di kantor kepala sekolah untuk mengajar pasti Nate juga tetap akan menemukan kekurangan untuk dikeluhkan. Bukannya ia menganggap Dumbledore guru yang luar biasa baik atau apa—jauh dari sempurna menurutnya. Ayahnya kurang menyukai si tua itu, dan pendapat ayahnya selalu ia cerna dengan kelewat baik. Jadi kalau dia punya pandangan yang seenaknya sendiri, silahkan tunjuk ayahnya sebagai alasan dia seperti ini. Semua pemikirannya berasal dari beliau. Meskipun itu hanya pendapat Nate semata, narator sendiri berpendapat otak anak itu pernah terbentur sewaktu kecil sehingga saraf rendah hatinya putus tanpa ada kemungkinan untuk dibetulkan.

Tapi kenapa juga perlu rendah hati saat ia memang sudah berada di tempat tertinggi?

Nate memilin-milin tongkatnya dengan wajah angkuh seperti biasa. Kepalanya terangkat sementara ia bersandar pada kursinya yang jauh dari empuk. Kenapa bukan kursi berlengan—satu pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada staff sekolah. Bukankah suasana yang nyaman juga menjadi pemicu anak-anak belajar dengan lebih keras. Dengan suasana yang tidak kondusif begini siapa coba yang bisa belajar dengan suka cita?

Jadi materi kali ini adalah boggart—entah ia harus merasa senang atau kecewa. Inderanya samar-samar menangkap suara Lightdarker dan Crossroad yang menjawab pertanyaan mengenai definisi boggart. Mahluk yang penuh misteri memang, boggart itu. Nate sendiri tidak bisa dibilang tidak tertarik dengan bahan kelinci percobaan mereka kali ini. Menarik dan ia belum bisa mengetahui penjelasan yang masuk akal mengenai kemampuan boggart itu. Apa semua mahluk itu memiliki kemampuan untuk melakukan legillimens yang luar biasa hingga bisa mengetahui ketakutan terbesar mahluk yang mengancamnya—lalu memproyeksikannya dengan mengubah bentuknya. Tapi jika kemampuan membaca ketakutan itu seperti legillimens, apakah orang yang menguasai occlumens bisa mencegahnya? Kalau tidak, apa pangeran kegelapan juga bisa dikalahkan oleh boggart? Dan katanya satu-satunya orang yang ditakutkan oleh pangeran kegelapan adalah Dumbledore. Apakah itu berarti boggartnya akan berubah menjadi sang kepala sekolah? Apa boggart dalam jumlah banyak bisa mengalahkan pangeran kegelapan dan pengikutnya? Entahlah. Semua pertanyaan itu belum bisa ia jawab.

Jadi marilah kita kembali pada hakikat pelajaran kali ini dan bentuk boggartnya sendiri. Ketakutan terbesar seorang Nathan Kehl Harvarth. Apa kira-kira? Beberapa waktu ke belakang mungkin ia mengatakan kematian dirinya adalah hal yang ia paling takuti. Ia masih muda, belum puas menikmati hidup. Mati benar-benar bukan pilihan untuknya. Tapi akhir-akhir ini ia menyadari ada banyak hal yang lebih buruk daripada kematian. Dan itu membuat ketakutannya pada kematian kian menghilang. Apakah itu berarti ia mulai menyerah pada kehidupan—berpendapat itu adalah salah satu solusi yang bisa dijadikan pilihan? Entah. Tapi yang jelas hal itu tidak terasa menakutkan lagi sekarang. Toh bisa dibilang kita diciptakan untuk mati.

Ia sudah mengerti lebih dari itu.

Kembali lagi pada hal yang ditakutkan, coba pikirkan kemungkinan lain—melihat Michelle berjalan dengan orang lain? Mungkin. Tidak terbayangkan bagaimana kalau sampai hal itu benar-benar terjadi di depan matanya. Ia sama sekali tidak ingin membayangkannya. Entah seperti apa sakit yang akan terasa. Belum membayangkannya saja rasanya wajahnya kaku mendadak tidak bisa tersenyum. Tapi ia akan belajar untuk merelakan—sakit memang, ia tidak yakin bisa hidup bahagia lagi kalau hal itu benar-benar terjadi. Tapi ia bersumpah, dan Nate pantang mengingkari sumpahnya sendiri. Sekalipun itu pada dirinya seorang saja. Jadi mungkin hal itu tidak jadi ketakutan lagi untuknya, menyakitkan—namun bukan hal yang ia takuti. Lagipula sang putri berhak mendapatkan yang terbaik. Benar bukan? Please—konsentrasilah Nate. Anak laki-laki itu menertawakan pemikirannya sendiri dalam hati.

Konyol benar.

Nama: Nathan Kehl Harvarth
Ketakutan terbesar: Kesempurnaan diriku sendiri, becanda, prof :p
Solusi: ...


Nate masih memilin-milin tongkatnya, berpikir keras mengenai hal yang ia takuti. Kelereng bewarna karamelnya melirik orang-orang yang maju bergantian. Mayat, mayat. Puji Merlin, apakah ia satu-satunya orang yang bisa menerima kematian sebagai sesuatu yang wajar?—apa maksudmu, Nate. Seolah kau tidak akan jadi gila kalau sampai ada seseorang di dekatmu yang mati—tapi itu karena mereka sedikit orang yang mengenal Nate bukan? Kalian yang dibesarkan dalam keluarga yang sempurna mana mengerti apa yang pangeran Norwegia ini rasakan.

Alisnya mengerut ketika melihat Sylar maju dan—mengubah boggartnya menjadi sosok seorang Nathan dengan baju berenda khas boneka porselen. Hei, Lazarus—mau mati, ya? MAU MATI?! Setan kau Sylar. Manusia es menyebalkan, awas saja lain kali. Ia akan berikan alamat rumah teman masa kecilnya itu pada salah seorang gadis yang terobsesi padanya itu. Matilah kau dengan salah satu mahluk yang paling kau benci. Lalu apa lagi untuk membalas? Heh, ketakutan terbesarnya cokelat, eh? Lihat saja—sesampainya di kamar, tumpukan cokelat akan menanti di atas tempat tidurmu, Sylar. Kau sangat menyukai cokelat kan—sampai rela mendapat ganjaran dengan berbuat hal-yang-tidak-terkatakan itu? Demi Salazar, dia ingin menggilas orang itu dalam tong tempat menggerus monster yang pernah ia baca itu. Di saat-saat begini nih, ia ingin meminjam buku-buku mengerikan milik Szent. Mungkin pinjam sedikit tidak masalah—100 Cara Menyiksa Seorang Lazarus. Nice.

Ck, persetan dengan Sylar—gilirannya hampir tiba.

Szent mengerikan seperti biasa—dan mananya yang lucu dari solusi anak itu? Banyak pisau yang menusuk-nusuk dan darah yang mengalir membentuk genangan merah yang amis. Dasar mengerikan. Untung dia tidak menakutkan seperti Szent. Hiii... Seolah seseorang memutar kepalanya tiba-tiba, ia bisa melihat kelebatan warna-warni yang diakhiri dengan darah yang menetes dari tangannya. Bulu-bulu yang sekilas terlihat lembut tapi Nate tahu lebih dari itu. Dan ya, dia tahu apa yang ia takutkan. Terima kasih pada Szent yang sudah membangkitkan kenangannya di Diagon Alley waktu itu.

Nama: Nathan Kehl Harvarth
Ketakutan terbesar: Kucing super besar dengan cakar keluar dan nyengir menunjukan taringnya. Mendesis mengancam dan menjilat mulutnya seolah tidak sabar untuk menyantap hidangan lezat sementara matanya menyipit mengerikan menembus kulit targetnya.
Solusi: Mengubahnya menjadi bola bulu jinak tak berbahaya yang menebrak tembok


Pangeran Skandinavia itu melangkah ke depan—bersiap untuk menyambut gilirannya. Semua orang sepertinya senang sekali mempermainkan staff pengajar, hm... dan kenapa dia takut pada boneka? Oh, well... bukan urusannya. Ia tidak punya urusan sedikitpun mau gadis itu benci pada boneka atau suka mobil-mobilan atau alergi kuda-kudaan. Konsentrasi, ia harus konsentrasi pada konsep yang sudah ia tulis. Dan mudah saja, boggart itu menjelma menjadi bola bulu yang semakin lama semakin besar. Tingginya dua setengah meter mungkin. Bulunya yang hitam kelam tampak kontras dengan mata keemasan yang menatap tajam pada Nate. Taringnya yang tajam tampak berkilat mengancam—tiga puluh senti mungkin ukurannya. Desisan marah terdengar keras, oh—Merlin’s bunny slipper. Ini mengerikan, sumpah.

Nate tercenung.

Bayangkan kucing itu menyusut dan menjadi bola bulu yang menggelingding menjauh. Jauh dan jauuuuh... sangat jauh dari Nate. Sip.

”Riddikulus!” ujarnya keras sebelum cakar-cakar tajam itu merobek-robek tubuhnya. Nate tidak takut, benar, deh. Sama sekali tidak takut—sama sekali tidak takut.... berubahlah menjadi bola bulu, sekarang. SEKARANG, hoi. Tanpa menunda—dan kenapa kucing itu tampak semakin dekat dan dekaaaat... damnit.

Poof.

Monster itu tidak berubah menjadi bola bulu sepenuhnya, tapi kucing kecil yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bola bulu yang jinak tanpa cakar dan taring sebesar lengannya. Kucing ini terlihat familiar—apakah ia pernah memelihara kucing sebelumnya? Rasanya tidak pernah. Kuda poni, salamander, ular, tupai, tikus, merak—tapi belum pernah ia memelihara kucing. Ibunya melarang, kotor katanya. Padahal bilang saja wanita itu tidak ingin mengabulkan permintaannya—tidak perlu pakai alasan busuk begitu. Heh. Mungkin itu sebabnya ia punya ketidak sukaan khusus pada hewan yang satu itu. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang justru memilih mamalia satu itu sebagai peliharaan. Dan hal itu mengingatkannya pada sesuatu. Kucing di depannya ini mirip dengan—

Azure?

Brengsek.
Frilla
Ngantuk.

Seorang anak laki-laki berambut kecokelatan berjalan dengan wajah terkantuk-kantuk—mengacak rambutnya sesekali. Lingkaran hitam yang buruk rupa menghiasi sekeliling matanya. Ia tampak seperti panda. Sial. Oke,mungkin tidak seburuk itu—since, apa, sih, yang bisa membuat Nate tampak kurang dari tampan? Manik caramelnya melirik kanan-kiri dengan tidak fokus—dengan suatu cara berhasil menuntun sang anak laki-laki menaiki tangga spiral bewarna perak menuju kelas ramalan. Kelas yang sampai sekarang ia tidak mengerti kenapa ia ikuti. Ayolah—ini ramalan. Cabang ilmu yang paling tidak pasti, sama sekali tidak relevan, tidak bisa dipikirkan dengan logika. Kenapa juga ia mau memilih kelas ini? Oh ya, karena ia berpikir ini kelas yang paling mudah diikuti daripada segala macam kelas merepotkan yang lainnya. Ah, seandainya ia tahu apa yang sebenarnya dilakukan di kelas itu, mungkin ia tidak akan pernah meskipun hanya untuk mempertimbangkan masuk kelas ini.

Bola Kristal.

Astrologi.

Pergerakan bintang.

Membaca daun teh.
Omong kosong.

Nate menarik hood jubah seragamnya menutupi kepalanya. Ia harus berterima kasih pada siapapun yang merancang seragam Hogwarts—paling tidak hood itu membuatnya bisa menutupi wajah tidak niatnya saat melewati profesor ramalan yang nyentrik itu. Siapa namanya—rasanya sempat disebutkan di pesta awal tahun. Wanita yang seperti kelelawar tua renta dengan selera berpakaian yang pasti membuat banshee sekalipun kehilangan suara melengkingnya. Ah, ya—Trewlaney, namanya. Lihatkan, dari namanya saja sudah bisa dilihat kalau staff pengajar yang satu ini aneh. Bukannya staff yang lain tidak aneh, ya. Ia sering berpikir apa memang Hogwarts ini kurang staff berkualitas. Bukannya ia mementingkan pengajar ramalan—siapapun gurunya. Pelajaran aneh begini… tapi sudahlah, jangan membicaraka keburukan pelajaran ramalan. Kalau kena karma bisa gawat juga kan. Bukannya ia percaya dengan hal-hal tidak logis seperti itu. Tidak—ia sama sekali tidak percaya. Tapi tetap saja ia tidak ingin mengalaminya. Ia tidak percaya tapi.

Ruangan itu tampak lebih sumpek daripada ruangan lain. Kursi-kursi berlengan tampak asal dijejalkan ke dalamnya, membuat ruangan itu menjadi jauh lebih sempit daripada yang seharusnya. Panas yang menguar dari perapian membuat ruangan itu hangat, bukan, panas lebih tepatnya lagi. Apalagi dengan cahaya temaram yang ditimbulkan lampu-lampu yang dilapisi selendang. Nate dengan terpaksa—tanpa mengeluh seperti biasanya—menghempaskan dirinya di salah satu kursi berlengan. Meletakan kepalanya di atas meja dengan beralaskan tangannya sebagai bantal. Demi Merlin—ia benar-benar berharap tidak melakukan apa yang ia lakukan tadi malam. Tebak apa yang membuatnya sampai terkantuk-kantuk ke kelas begini? Belajar, ya. Tidak perlu membelakan mata begitu—semua orang juga tahu kalau Nate bukan murid yang asal-asalan. Oke, tahun kemarin memang ia kehilangan semua nilai-nilainya. Tapi akan ia buktikan kepada si Miranda itu—tahun ini, ia berbeda. Bukan berarti ia itu seorang kutu buku—oh, please—seorang Nate tidak bisa disamakan dengan seekor kutu buku yang merasa kepalanya terlalu tertinggi sehingga memutuskan untuk berada di menara terus. Lagipula, imej seorang kutu buku selalu dekat dengan anak-anak jelek yang tidak punya teman dan well—jauh dari Nate-lah.

"Pada pelajaran... kita... dengan daun teh... Tasseomancy. tertinggal di dalam cangkir... masa kini dan masa depan...melihat yang tak terlihat. ...kosongkan pikiran... duniawi karena... pusat kosmos...melampaui... masa depan.” anda bilang apa tadi, prof? Nate mengangkat kepalanya dengan wajah sembab—bukan, ia tidak menangis, idiot—mengangkat tangannya untuk menggosok mukanya sekedar untuk memastikan bahwa ia bukan berada di alam mimpi dimana semua hal bewarna merah dan jingga. Demi banshee yang mengikik di tangga, kenapa kelas ini harus begini? Pasti ini sebuh konspirasi untuk menjatuhkan Nate. Dengan cara membuatnya ngantuk dengan kondisi kelas yang hangat dan dipenuhi harum teh. Tapi—ia tidak akan kalah.

Tidak akan pernah kalah.

Nate menarik poci teh di mejanya—menyajikan teh untuk dirinya sendiri. Tanpa sengaja menjatuhkan sendok yang dipakainya untuk mengaduk teh. Saat ia menunduk untuk mengambil benda itu dari lantai, ia justru mendengar sesuatu yang membuat kepalanya terantuk meja saat akan menegakan tubuhnya. ”Ehem, Michelle, bentuk pertama aku melihat bintang yang berarti kesuksesan dan penghargaan. Berikutnya segitiga berati kau terlibat hubungan cinta segitiga.” Hei, Dewi Fortuna... kau membenciku, ya? Seharusnya ia memang tidak mengambil kelas ini—kenapa dari semua kelas pilihan yang disediakan, mereka harus mengambil pelajaran yang sama? Dan apapula cinta segitiga yang dimaksud... Ck, sudahlah. Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya—mengusir pikiran apapun yang memasuki kepalanya. Ia meletakan sendoknya di atas meja dan mengangkat bahu. Well—bagaimanapun juga, masih ada janji itu—ia tidak peduli apapun, selama masih ada janji itu. Ia masih memiliki hak. And life goes on.

zZzzZzz....

Nate mencubit pipinya sendiri—jangan tidur, hoi. Jangan tidur.

Anak laki-laki itu mengangkat cangkirnya—meneguk isinya pelan-pelan. Teh hangat dan scone, sungguh Inggris. Seperti ibundanya tercinta, ck. Bikin kesal saja. Tapi kalau ia tidak salah ingat kata si Trewlaney tadi—jangan memikirkan hal-hal duniawi. Jelas saja, Nate sama sekali tidak dekat dengan dunia. Pikirannya sudah mendekati gerbang dunia mimpi begini. Anak itu memutar cangkirnya tiga kali sebelum meletakannya di tatakan, sementara satu tangannya sibuk memijit pelipisnya yang berdenyut menyakitkan karena kurang tidur.

Posted Image

Cangkir di depannya tampak menertawakan dirinya yang sedang kesusahan mempertahankan diri di ambang kesadaran yang menipis. Oh, sialan kalian udara hangat dan kursi yang terlalu empuk. Nate menggelengkan kepalanya beberapa kali—dia tidak akan kalah dari kantuk. Sekarang intruksi selanjutnya... argh, ia tidak mendengarkan apa kata si kelelawar tua itu tadi. Setelah itu apa—makan kue inginnya, sih, sayang bukan. Tapi sudah pastilah, berhubung mereka akan membaca daun teh, sekarang waktunya kegiatan utama berarti. Amati cangkir—eh, bukan—amati daun teh. Mari kita lihat, ramalan untuk seorang Nate (tolong camkan bahwa Nate tidak pernah percaya dengan yang namanya ramalan, sama sekali tidak percaya). Baiklah, yang sebelah kanan itu tampak seperti tikus—artinya... demi Merlin. Peringatan—tidak mungkin. Bukan, tadi dia pasti salah lihat. Ia memperhatikan cangkirnya dari arah yang lain—menyipitkan matanya dan mengangguk-angguk saat ia melihat bentuk lain yang terlihat seperti bell baginya. Bel—aha!

”Unexpected goodnews in love,” ujarnya keras dengan puas—oke, lupakan saja semua tentang si tikus aneh itu, yang ini lebih baik. Ia mengerling sosok di depannya dengan cengiran lebar sambil menyerahkan cangkirnya pada partnernya yang entah disadarinya atau tidak sudah ada dari tadi. ”Lihat Sylar, ramalanku cukup bagus, nih.”

Masih mengantuk...
Frilla
Mulai lagi. Pagi yang mengerikan dipenuhi dengan kecemasan dalam mengerjakan tugas—sudah dimulai. Seperti sebuah lingkaran setan—lagi dan lagi. Well, tapi—bukannya Nate cemas atau apa. Anak laki-laki berambut kecokelatan itu mengedikan bahunya dan menguap bosan—sesekali mengacak rambutnya. Kepalanya terangkat saat membuka pintu menuju ruang kelas mantra. Matanya meneliti ruangan itu sejenak—mendapati si profesor mini itu sedang berada di mejanya, di atas buku-buku yang tebalnya pasti membuat pelupuk mata orang yang membacanya meleber seperti butterbeer yang tumpah dari cangkirnya. Dan—hee... tidakkah rambut dan jenggot beruban milik keluarga jembalang itu semakin lebat saja tiap hari. Pakai ramuan penumbuh rambut atau apa, ya? Bukannya Nate mau memanjangkan rambutnya—mengerikan sekali kalau ia sampai memiliki rambut yang keriting panjang seperti Flitwick. Atau lebih mengerikan lagi.... memiliki jenggot seperti Dumbledore. Brr...

"Baik, hari ini kita akan mencoba sebuah mantra yang cukup menarik—" menarik demi apa—mata kelpie buta. Idih. Ia selalu berpikir dari dulu—selera humor milik staff Hogwarts itu tidak ada yang benar. Mulai dari yang nyentrik sampai mengerikan—astaga, seperti kekurangan staff pengajar yang berkualitas saja. Katanya menarik—ck, memantrai mata trol yang mengamuk. Nah, itu menarik. Menaiki naga—sangat menarik. Blah, menarik sekali—seperti Nate mau saja mempertaruhkan nyawanya untuk hal-hal tidak berguna semacam itu. Bukannya ada profesor yang mengajarkan hal seperti itu—satu-satunya hal yang paling berbahaya yang diajarkan di hogwarts adalah menghadapi burung hantu sekolah yang tua renta. Kenapa tidak ada pelajaran menangkap snitch saja, sih?

CTAAAR

Salazar—

BRUAAAAK

Nate yang dari tadi duduk menopang dagu tidak sengaja memukul mejanya karena kaget—menimbulkan bunyi keras yang bergaung di ruangan itu. Wajahnya yang tadi sempat terlihat bosan langsung nyalang—seperti baru terbangun dari tidur yang panjang. Bunyi apa tadi—mengagetkan saja... astaga. Astaga. Anak laki-laki itu mengernyitkan alisnya, menatap si profesor dengan tatapan sebal. Seenaknya saja—mengagetkannya seperti itu. Dasar jembalang kerdil, goblin sinting, mahluk mini. Mau mempermalukannya, ya? Ck. Anda pikir tadi itu lucu, eh—profesor??

Tes tes tes

Nate memutar bola matanya. Tadi petir, sekarang hujan. Basah, nih. Dia basah, nih. Merusak rambut dan semua peralatannya. Ck, mahal tau, prof, mahaaal. Barang-barangnya mungkin lebih mahal daripada gaji anda setahun. Demi Merlin—si kakek tua ini maunya apa, sih? Hah, pasti dia juga ikut dalam persekongkolan menjatuhkan Nate. Semua orang—iri dengannya pasti, ya. Berdoa saja, kakek kerdil, anda tidak akan pernah menjadi seperti Nate.

“Impervius,” gumamnya pelan ke arah kepalanya, masih mendelik ke arah sang profesor.

Nate mengacungkan tongkatnya ke arah barang-barangnya dan menggumamkan ’impervius’ pelan. Tidak banyak gunanya, sih, terlanjur basah—mengingat hujannya sudah turun sejak beberapa menit yang lalu. Brengsek. Pena bulu angsanya yang diberikan oleh Bibi Cammile saat berlibur ke Perancis—buku tentang quidditch yang ia pinjam dari perpustakaan. Gawat, nih... Madam Pince pasti akan sangat murka kalau melihat bukunya basah. Mati dia. Ia pasti PASTI akan dibunuh kalau wanita mengerikan itu mengetahui hal ini. Sampai di asrama, terpaksa ia harus repot-repot mengeringkannya dengan suatu cara. Kalau beli baru... pasti ketahuan, argh. Nate mengernyitkan alisnya, kembali kesal mengingat semua hal itu. Akhirnya ia mencoba menggumamkan ’glacius’ beberapa kali. Pertama, pelafalan. Oke. Huf, kalau memang begini maunya si Flitwick itu—ya, sudah. Ia akan melakukannya.

"Glacius."

Suara sopran yang terdengar familiar itu otomatis membuatnya menoleh ke arah sang pemilik suara. Ekspresi wajahnya yang sesaat kesal tadi langsung digantikan dengan wajah yang cerah begitu melihat sosok gadis berambut prang itu. Habisnya—ia kira tidak ada orang yang bisa diajaknya mengobrol—ternyata dia memang selalu beruntung. Baru berpikir begitu, langsung muncul Sienna yang dikirim oleh Dewi Fortuna padanya. Ah—benar, memang tidak ada orang yang tidak mencintai Nate. Seorang dewi sekalipun/

”Sien,” sapanya pelan sambil melompat duduk ke kursi di sebelah sepupunya itu. Cengiran lebar terplester di wajahnya—ia melirik ke arah gadis di sebelah sepupunya itu dan melebarkan matanya sesaat sebelum mengangkat bahu dan menyapa gadis itu juga, ”hai, Dark—kalau aku boleh memanggil seperti itu.” Ya, pasti boleh, dong, permintaan Nate sama dengan perintah dari Kau-Tahu-Siapa. Ck, anak laki-laki yang ini—pasti belum menyadari betapa besar bahaya yang ditimbulkan kalau ia sampai mengucapkan kalimat itu. Cari mati—kata orang. Tapi ini ’kan hanya istilah—ya? Ya? Lagipula misalnya nih, misalnya dia bertemu dengan Kau-Tahu-Siapa, pastinya orang itu juga menjadikan Nate anak emasnya. Ya, kan? Kan? Well, terkadang ada juga orang yang tidak tahu kapan harus berhenti menilai dirinya terlalu tinggi. Apa boleh dikata—ketika hidup begitu sempurna terbentang di depannya, tidak ada yang terasa lebih tinggi.

Anak laki-laki itu menoleh kembali ke arah gadis berambut pirang di sebelahnya dan berkata dengan mimik yang berubah-ubah di setiap kalimat. ”Sien—si Flitwick itu menyebalkan sekali. Semua barang-barangku basah, ck. Ngomong-ngomong bagaimana liburan musim panasmu?”

Musim panas—

—cukup buruk.

”Glacius,” ujarnya sambil mengacungkan tongkatnya ke arah mejanya yang basah. Beku, membekulah semuanya! Gagal. Cih. Pupilnya melebar ketika menangkap kilatan mantera yang mengarah ke seorang laki-laki yang sudah sangat akrab di matanya. Seringai jahil muncul di wajahnya—ikut mengarahkan tongkatnya dan menggumamkan ”glacius” ke arah tongkat laki-laki itu. Seringainya semakin lebar melihat kilatan mantera yang keluar dari ujung tongkatnya. Nah, kalau tongkat membeku kira-kira apa yang bisa dilakukan? Percobaan yang menarik bukan—efek dari mantra Glacius pada tongkat sihir.

”Nice aim,” ujarnya pada orang yang duduk di belakangnya itu. Tersentak sedikit sebelum menyadari siapa yang diajaknya berbicara. Goddamnall. Ia memutar bola matanya dan kembali menatap Sienna. Apapun selain dia.



Norwegia, salah satu negara Skandinavia yang terletak di bagian utara daratan Eropa. Tanah nenek moyangnya yang agung. Begitu banyak cerita yang diwariskan di tanah Skandinavia itu—tentang Loki dan Ragnarok—hari kiamat bagi para dewa, saat para dewa lenyap menjadi abu, tentang Sigmund dan Hiordis—kisah mengenai dendam dan kebencian, cerita-cerita yang tidak kalah dikenang dari mitologi Perseus dan Andromeda. Tahu kenapa mitologi Norse berbeda? Karena jarang ada akhir yang bahagia dalam tiap ceritanya. Pernah mendengar cerita tentang Sigurd dan Brynhild? Brunhilde, seorang perawan dengan kecantikan yang luar biasa yang terkurung dalam lingkaran api dan Sigurd, seorang ksatria pemberani yang berhasil melompati api itu dan bertemu dengan sang maiden. Mereka berdua bertemu dan jatuh cinta pada pandangan pertama. And they live happily ever after. Tidak akan. Ini bukan dongeng para muggle dimana semuanya berakhir bahagia.

Kalian pikir, setelah beribu cobaan yang menghalangi Sigurd, pada akhirnya ia akan menemukan akhir yang bahagia dalam seorang Brynhild bukan?

Kenyataan—memang tidak sesuai dengan harapan.

Dia juga.

Sang pangeran menyentuh pelipisnya—mendengus kesal kepada dirinya sendiri. Brengsek. Bagaimana mungkin ia bisa tidak menyadari suara yang sudah familiar itu? Lupa—tidak mungkin. Memangnya ia Sigurd yang bisa dengan mudahnya ditipu untuk meminum ramuan pelupa. Tolong seseorang bunuh dia—tidak, jangan—kasihan orang-orang yang nanti akan merindukannya. Cukup cubit pipinya dan bangunkan dia dari mimpi yang aneh ini Ck. Sialan. Nate adalah orang yang benar-benar terkutuk. Alisnya bertautan—ia menggumamkan glacius beberapa kali ke arah meja dan bukunya secara asal—tidak terjadi apa-apa. Gagal semua, menambah jumlah urat merah di pelipisnya yang berdenyut seiring kekesalannya yang terus meningkat. Sialan. Konsentrasi, konsentrasi—hal paling mutlak dalam penguasaan mantra apapun. Sekaligus juga merupakan hal yang paling sulit dilakukannya di saat-saat seperti ini. Argh. Lupakan saja.

Kembali ke persoalan yang lebih menarik daripada membekukan air yang menetes akibat hujan buatan goblin tampan di depan, Sienna mengatakan liburannya tidak istimewa—oh, bagus. Masih lebih baik daripada liburannya kalau begitu—yang sebenarnya akan berlangsung dengan baik kalau saja tidak ada Miranda, penyihir iblis yang ingin ia tusuk-tusuk dan umpankan pada naga moncong pendek Swedia atau ibunya yang ingin ia asingkan ke Ethiopia dengan iringan tarian peri rumah yang merasa senang terbebas dari penyihir wanita itu. Nate menunjukan cengirannya lagi dan mengangkat bahu, “lebih baik daripada liburanku berarti, mengerikan—musim panas kali ini. Eh, ngomong-ngomong, memangnya aku belum pernah memintamu untuk berhenti memanggilku dengan sebutan ‘Nathan’? Kau terdengar seperti ibuku.”

"Dia memang gila, Harvarth. Sepertinya Hoggie-Woggie tidak mampu membayar pengajar yang lebih professional," ujar suara tanpa perasaan dari sebelah kanannya—sebelah Sienna lebih tepatnya. Membuatnya mengangguk setuju meskipun tidak sepenuhnya sependapat dengan perkataan Dawghew. Hogwarts seharusnya mampu membayar pengajar yang professional, ia lebih setuju dengan pendapat bahwa Flitwick dan Dumbledore merencanakan sesuatu. Hm… ia mencium ada bau-bau nepotisme di sini. Atau mungkin Flitwick punya affair dengan Mcgonaggal? Oh, tidak. Yang terakhir itu jangan dibayangkan—ARGH. Mental imej yang sungguh mengerikan. Ck, imajinasi yang terlalu tinggi terkadang membawa kesengsaraan. Ta-tapi, kalau ternyata ia benar bagaimana? Wah, gossip ini benar-benar perlu diluruskan! Nate menatap mata Dawghew dengan wajah serius sambil berbisik pelan, “menurutmu—mungkin tidak Flitwick punya affair dengan McGonaggal?”

Imajinasimu hebat sekali, Nathan.

Pasti cukup untuk membuatnya tidak bisa tidur seminggu.

Nate melirik ke seorang anak laki-laki yang duduk di sebelahnya—yang menanyakan apa tugas mereka dengan wajah sembab seperti baru bangun tidur—yang menurut Nate, memang itulah yang tadi dikerjakan oleh teman sepermainannya itu sebelum entah apa membangunkannya. Sebelum Nate menjawab, sepupu berambut pirangnya sudah menjawab terlebih dahulu, menyisakan hanya sebuah kalimat untuk diucapkan olehnya, “hei, landak tua, sudah puas tidurnya?” Kalau bukan Nate yang mengatakan kalimat itu, pasti Sylar akan mendelik dan melakukan entah hal apa pada yang berani memanggilnya seperti itu. Oh, segala keuntungan yang didapatkannya… Menyenangkan.

Nate memutar-mutar tongkat dengan inti helaian bulu unicorn di tangannya. Kalau tidak sengaja muncul kilatan mantra dari tongkatnya dan mengenai seseorang—ck, jelas bukan salahnya. Siapa suruh punya keberuntungan yang tidak bagus sampai bisa terkena mantra nyasar. Lalu omong-omong tentang mantra nyasar—siapa itu yang memantrai kenop pintu? Demi Merlin, kalau mereka terkunci di sini… bagaimana, ya? Manik caramel itu menyusuri asal mula kilatan itu dan menemukan pelaku dari pengrusakan itu. Bingo. Seharusnya dia sudah menduga, siapa lagi orang yang lebih gila daripada troll Ravenclaw itu? Meskipun bagaimana otak troll bisa disamakan dengan kecerdasan otak yang dijunjung oleh penghuni langit itu ia sama sekali tidak mengerti. Bukannya ia perlu atau ingin mengerti—sama sekali bukan urusannya, benar, deh. Apakah menurutmu Nate terlalu mulia untuk memikirkan hal remeh semacam itu? Dipandangannya sendiri, jelas iya.

“Glacius.” Cukup satu kata, tidak perlu lebih, sudah membuat anak laki-laki berambut ikal kecokelatan itu kembali menoleh ke meja di belakangnya. Menatap tepat ke dalam dua Kristal bening yang sudah lebih dari familiar di matanya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dimantrai oleh gadis itu—yang jelas sesuatu yang berada di bawah, di lantai. Tapi meja di depan gadis itu menghalangi pandangannya. Bukan masalah kan? Seperti ia tertarik saja dengan apapun yang terjadi pada gadis itu.

Katakan, Nathan—apa kau masih peduli padanya?
Tidak.
Tidak usah munafik, semua orang juga tahu hal yang sebenarnya…
Tutup mulut, brengsek.
Kau tidak akan mengkhawatirkannya kalau kau sudah tidak peduli padanya.
Hanya karena dia miliku, bukan karena aku peduli.
Baiklah, terserah…
Tentu saja, aku melakukan apapun yang kuinginkan.


“Perlu bantuan, Michelle, dear?” ujarnya sambil menunjukan cengirannya yang biasa. Baiklah, anggap saja ini salah satu dari tindakan yang biasa ia lakukan. Kenapa juga harus dianggap lebih? Orang bilang, orang yang mengaku tidak pernah berbuat kesalahan adalah orang yang paling sering berbuat kesalahan. Karena orang yang tidak merasa salah tidak akan melakukan evaluasi terhadap tindakan ataupun perkataannya yang salah. Tapi teorema ini tidak berlaku pada Nate, karena apapun yang terjadi—Nate selalu benar. Tindakannya saat ini pun bisa dibenarkan, ia tidak pernah berkata tidak akan pernah berbicara dengan Michelle atau apa. Apa yang ia lakukan ini tidak salah, mengerti? Bagus.
Frilla
Mantra~ Mantra~

Lagi-lagi Gryffindor dan Slytherin sekelas. Yang artinya lagi-lagi ia akan bertemu dengan orang ini dan itu yang super menyebalkan. Lalu ada pangeran musang --wait. Nate harus benar-benar melupakan panggilan itu. Karena seperti yang ia baru ketahui setelahnya, mus--anak laki-laki itu ternyata Arvid Corleone. Yeah, Corleone. Yang berarti, ia dan Arvid itu masih bersaudara. Entah hubungan mereka apa, tapi mengingat nama itu dimiliki neneknya dulu, berarti mereka masih memiliki hubungan keluarga. Yang sebenarnya tidak mengherankan, mengingat biasanya keluarga-keluarga penyihir tua memang saling berhubungan. Sienna misalnya, ia baru tahu sepupunya juga masuk ke Hogwarts tahun ini, satu asrama dengannya pula! Ck, bisa-bisanya ia tidak sadar. Entah ada apa dengannya, padahal biasanya ia paling tahu masalah beginian. Maklumlah, ayahnya dari dulu selalu mengatakan, family means more than blood. Meskipun ia tahu hal itu lebih merujuk pada Nate sendiri daripada orang lain.

Nate mengerling ke sekeliling kelas, dengan pandangan aku-lebih-hebat-daripada-kalian-nya yang biasa. Sombong? Bukan, bukan. Hanya sekedar menyampaikan kenyataan yang ada. Oh, great, sudah ramai. Lightdarker, tuan ingin-jadi-ular-Dutie, gadis Gryffindor sok pahlawan yang belakangan ia ketahui bernama Rainier, Arvid, Michelle dan beberapa orang lain. Lucky. Masih ada tempat di kursi paling depan. Seperti yang ia bisa katakan, ia memang pemilik keberuntungan langit.

"Morning, princess..." ujarnya dengan cengirannya yang biasa saat ia melewati Solathel--Michelle dan duduk di kursi paling depan, meskipun sesaat ia sebenarnya ingin pergi ke meja dekat gadis itu. Nate bukan murid yang baik, ia tahu hal itu. Melanggar peraturan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Namun nilai adalah hal yang lain lagi. Nate harus, HARUS mendapat nilai bagus. Bukannya ia anak menyedihkan yang harus belajar dengan sangat sangat keras untuk mendapat nilai bagus, tapi ia tahu ia harus memenuhi permintaan ayahnya yang meskipun tidak diucapkan tapi bisa sangat dimengerti oleh Nate. Jadi mengesampingkan hobinya berbuat ini dan itu yang bisa mendatangkan detensi, ia bukan hanya memikirkan senang-senangnya saja, kok.

“Hari ini kita akan mempraktekkan mantra dasar untuk murid tahun pertama,”

Wingardium Leviosa. Mantra melayang. Oke. Lalu sekarang mereka harus mencobanya pada bulu-bulu putih yang tampak lembut dan akan sangat empuk untuk dijadikan isi bantalnya. Tapi kembali pada tugasnya yaitu mengangkat bulu-bulu putih ini. Nate menggenggam tongkatnya. Hawthorn, ekor unicorn, 10 inchi. Baiklah, menurut buku Kitab Mantra Standar Tingkat Satu oleh Miranda Goshawk yang terbuka di depannya di halaman lima, pelafalan dan gerakan tongkat sangat berpengaruh pada keberhasilan mantra ini. Jadi pertama, mari kita berlatih mengucapkan mantra ini (sekaligus mendengar suara Nate yang memang enak untuk didengar)!

"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."

Satu.

"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."

Dua.

"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."

Tiga.

Oke, palafalan sempurna (tentu saja, Nate memang selalu sempurna) lalu sekarang apa?


---------------------------
----------------

Kali ini ia benar-benar serius dalam mengikut kelasnya. Inginnya sih begitu. Tapi beberapa Gryffindor sial benar-benar mengganggunya, dan Nate benar-benar tidak terima kalau harus dipermainkan tanpa ia bisa membalas. Jadi ia melakukannya, hanya mantra simpel 'Petrificus Totalus' dan beberapa kalimat untuk membalas perkataan orang-orang itu. Tapi pada akhir pelajaran ia malah jadi yang sakit. Hipertensi-nya kambuh. Sialan.
Frilla
Kelas transfigurasi bersama si nenek keriput. Pelajaran pertama tahun ini pula. Malasnya... Semoga tidak akan ada tugas, pekerjaan rumah atau apapun. Kalau ada, semoga saja Szent atau Sylar mau berbaik hati untuk 'meminjamkan' pekerjaan mereka. Ah, tapi kalau hanya pekerjaan kelas satu seperti ini sih, bukan masalah besar untuk Nate. Tidak ada hal yang tidak bisa ia lakukan, tentu saja. Seolah hal sepele itu sulit baginya. Meskipun dia berandalan (atau apapun sebutan yang pantas untuknya) bukan berarti ia anak bodoh, kan? Tidak. Ia sangat pintar, jenius bahkan. Transfigurasi?

...sepele.

Nate mengangkat bahu dan melenggang masuk ke dalam kelas dengan gayanya yang cuek seolah dia memiliki seluruh dunia seperti biasa. Bocah itu sempat melayangkan pandangannya pada seisi kelas yang sudah lumayan ramai. Setelah mengambil posisi duduk di tengah kelas, tepat di sebelah Sylar dan tidak jauh dari Szent ia mengeluarkan tongkatnya dan memutar-mutarnya dengan ekspresi santai. Tampaknya sama sekali tidak takut kalau-kalau tongkat itu tiba-tiba menyihir seseorang dan menyebabkan kekacauan. Sekali-sekali ia melirik kanan-kiri, mengamati beberapa orang yang sudah berada di sana. Sampai ia menangkap sosok nenek keriput yang mulai memberikan ceramah mengenai mantra pengubah tisue menjadi perkamen. Puhh. Sungguh mantra yang tidak penting... apa gunanya mengubah tisue menjadi perkamen kalau dia punya cukup banyak uang untuk membeli segudang perkamen kualitas nomor satu? My, my... tampaknya sekolah ini hanya mengajarkan hal-hal merepotkan...

Seandainya ayah mendengar hal ini, pasti beliau akan berpikir dua kali sebelum memasukannya ke sini. Bagaimanapun, katanya kualitas murid-murid Dumstrang lebih baik daripada sekolah mainan ini. Apalagi kepala sekolah Dumstrang sekarang adalah kenalan beliau... Ah, seandainya ia dulu berpikir lebih jauh mengenai bersekolah di tempat ini...

Nate menatap selembar tisue yang melayang ke meja di depannya. Ia menatapnya dengan tatapan bosan, hampir-hampir tidak punya niat untuk mengangkat tongkatanya dan mengatakan mantra pengubah itu. Bocah berambut kecoklatan itu hanya memutar-mutar tongkatnya dengan tatapan bosan, sebelum cengiran sombong muncul di wajahnya. Ia menoleh ke arah Sylar dan berkata cepat, "eh, Sylar... menurutmu kali ini siapa yang lebih cocok jadi targetku? Meskipun sebenarnya membosankan, ya. Sama sekali bukan tantangan kalau mereka begitu saja meleleh dengan satu dua kata manis dariku. Kalau bukan karena wajah mereka yang cantik, Arlyn, Milliane, dan yang lain, kurasa aku tidak akan pernah tertarik pada mereka."

Nate mengatakan semua itu dengan nada merendahkan, seolah tingkatannya jauh di atas nama-nama yang ia sebut. Dalam pandangannya, memang begitulah adanya. Kesombongan yang kelak mungkin akan menghancurkannya. Tapi untuk saat ini, ia tidak merasa hal itu akan terjadi padanya. Dia hebat, ayahnya salah seorang penyihir paling sukses dalam sejarah. Siapa yang berani berada di jalannya? Tidak ada.

"Fan.Dan.Go."

Tisuenya bergetar sedikit.

Crap.

--------------------------------------------------


Kelas pertama di tahun ajaran ini dan dia sudah bertemu dengan mahluk-mahluk menyebalkan yang merasa diri mereka hebat karena mereka menyebut diri mereka sebagai darah murni. Oke, memang salah satu diantaranya akhirnya mengajaknya berdamai. Tapi ia rasa itu karena mereka tidak mengetahui... forget it.

Tidak mungkin ia memberitahukan hal itu.

Dan tebak, ada dua orang saudara jauhnya yang satu angkatan dengannya. Corleone dan Duske. Nice, nice... Meskipun ia sempat bertengkar dengan musang--er, Corleone itu. Tapi yang paling disukainya di kelas itu adalah, saat ia mengajak seorang gadis cantik bernama Michelline Fara Solathel yang sudah menerima ajakannya untuk menjalin hubungan. Yang berarti ia memenangkan taruhannya dengan Sylar dan ia bisa menyuruh temannya itu untuk melakukan apapun yang ia mau. Yeah!