Tampilkan postingan dengan label Michelle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Michelle. Tampilkan semua postingan
Frilla
Well... apa kabar?

Suhu sekitar 15 derajat di sini. Aku hampir tidak bisa merasakan semangat musim panas, hahaha. Aku ada di Tromso sekarang, menemani ayah berurusan dengan mayor entah untuk apa. Kurasa membicarakan izin pembangunan atau apa. Kurasa tidak akan ada orang yang percaya beliau sempat sakit sebelumnya kalau melihat tingkahnya sekarang. Kesana kemari mengurus urusan yang ayah tinggalkan selama beliau dirawat. Liburan musim panas dan dia lebih memilih untuk mengurus perusahaannya daripada bersenang-senang dengan keluarga, meskipun memang bisa dibilang kami ke Tromso untuk liburan. Cassandra (adikku) tampak senang datang ke sini. Kurasa ia sedikit bosan dengan Beauxbatons, terlalu ketat untuknya. Aku akan senang kalau dia masuk ke Hogwarts saja, tapi tampaknya ibu ingin Cass mendapat pendidikan etika yang 'sepantasnya'. Terserah lady saja, aku tidak ingin berdebat dengannya. Selama Cass juga merasa senang.

Tromso kota yang menakjubkan. Matahari tidak pernah tenggelam di musim panas, meskipun aku sedikit menyayangkannya. Kudengar pemandangan di sini bagus sewaktu malam, ada aurora di malam hari. Katanya Tromso adalah salah satu tempat terbaik di dunia untuk menyaksikan fenomena ini. Sayangnya di musim panas, tidak ada kata malam. Mungkin lain kali kita bisa kesini bersama, aku yakin kau pasti menyukai tempat ini. Terutama jika ada aurora itu. Cantik, dan pasti romantis kan? Hahaha. Lalu, liburanmu sendiri bagaimana? Tidak main mata dengan siapapun kan? Bercanda. Mungkin seharusnya kau yang bertanya, ya... Tapi tenang saja, kalau aku bertemu dengan perempuan lain yang berusaha mengajakku berkencan, aku akan mengatakan padanya aku sudah punya pacar cantik yang menunggu di Inggris. Hahaha. Aku akan ke Diagon Alley untuk membeli perlengkapan sekitar Agustus. Kuharap kita bisa bertemu nanti.

Pasti aneh sekali, jauh-jauh ke Inggris sementara ada Durmstrang yang begitu dekat. Aku seharusnya bersekolah di sana, tapi ibu tidak mengizinkan. Dulu kupikir itu salah satu caranya untuk menghalangi keinginanku. Tapi sekarang... kupikir dia hanya khawatir. Bekas sekolah Grindewald dan segalanya. Well, aku mencoba untuk berpikir positif akhir-akhir ini. Lagipula aku tidak menyesal dia melarangku ke sana. Di Hogwarts, aku jadi bisa bertemu denganmu dan yang lain. Salazar, can you believe that I've missed you already? Kurasa aku harus menyeret ayah untuk ke Inggris secepatnya.

Oh, aku baru menerima lencana prefek pagi ini. Sedikit mengejutkan, haha. Kau tahu aku bukan termasuk dalam kategori murid teladan, entah berapa poin yang sudah kukurangi dari asrama kita--dan detensi yang kudapatkan... well, aneh juga. Meskipun waktu itu aku sudah berjanji padamu, masih sulit bagiku. Kau tahu, untuk berpikir aku layak mendapat semua ini. Prefek, benar-benar kekuasaan yang cukup besar. Aku tidak yakin bisa menjalankan tugas ini dengan baik. Kau menerima lencana juga? Maksudku, mengingat kurasa kau murid terbaik di angkatan kita dan segalanya. Kurasa aku tidak perlu bertanya, kau pasti dipilih. Bukan kejutan, hahaha...

Jadi, kita bertemu di Diagon Alley nanti? Can't hardly wait. Mohon bantuannya, prefek Solathel!

Love,
Nate.



PS.
Kalau Fenrir (burung hantu elang ini) macam-macam dan mulai menyebalkan, masukan saja owl treat ke paruhnya. Semoga dia bisa diam. Aku benar-benar berpikir harus mencari burung hantu yang bisu. Atau men'silencio'nya permanen juga terdengar seperti solusi yang menarik.
Frilla
It started with once upon a time.

Nathan, in Hebrew it means gift of God. Berapa kalipun diulang rasanya masih sulit sekali untuk mempercayainya. Dia, yang sejak dulu selalu merasa dipandang sebelah mata, tapi ternyata semua itu hanyalah khayalan yang diciptakan oleh hatinya yang tidak mau memaafkan. Dia mencoba untuk percaya, menancapkan dalam-dalam pengetahuan yang baginya adalah suatu hal yang sama sekali baru... dan membuatnya lega. Bukan, terlalu mengecilkan jika ia berkata hanya merasa lega. Seperti menemukan oasis setelah tersesat di gurun berhari-hari. Klise. Melebih-lebihkan. Hiperbola. Mungkin. Tidak akan ada yang mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang Nate. Tapi yang jelas ia merasa bersyukur, karena Tuhan memang ada.

I will believe
so the two of us can be together in love


Dia akan berusaha mempercayai, bahwa hidupnya tidak perlu dihabiskan untuk sesuatu yang tidak ia sukai. Tidak perlu lagi ada kata-kata haus akan perhatian dan ingin sepasang kristal terang miliki sang ibu menatapnya. Bebas menentukan, tanpa ada batasan bernama 'pantas' dan 'tidak pantas'. Penentunya adalah diri sendiri. Karena dengan mempercayai itu, kini dia bisa menemukan kembali sang putri. Jadi katakan selamat datang pada Nathan Kehl Harvarth yang baru.

Anak laki-laki itu tersenyum kecil. Semuanya akan baik-baik saja sekarang. Ia menutup matanya, merasakan vibrasi dari tiap kata yang terlontar dari gadis di depannya. Suara sopran yang mengalun lembut, sentuhan di bahunya, dan aroma lili yang menyusup tanpa diundang. Membuat saraf-sarafnya menegang sesaat karena invasi yang lama tak terjadi. Sulit dipercaya. Amat sangat sulit. Seakan segala kegalauannya selama bertahun-tahun ini tidak pernah terjadi, tidak pernah ada dari awal. Lima belas menit yang penuh dengan antisipasi sebenarnya hanya sebuah imajinasi dari dunia berbeda. Waktu tidak pernah berjalan sejak 16 Maret 1979. Ia tidak ingin membuka matanya. Ia tidak ingin membuka matanya dan menyadari bahwa ternyata semuanya hanya mimpi. Yang mana kenyataan dan yang mana mimpi, sulit dibedakan sekarang. Tempatnya sekarang berada terasa nyata, tapi terlalu indah untuk sebuah kenyataan.

Tapi selama ia bersama Michelle, ia tidak peduli di alam mana ia berada. Mimpi atau kenyataan, persetan. Jika ini mimpi biarkan dia tidur selamanya, jika ini kenyataan... Jika ini kenyataan. Yah, sentuhan di bahunya terasa nyata. Untaian kata yang terdengar juga terasa nyata, meskipun dalam bayangannya ia mengira akan ada makian atau paling tidak penolakan. Kata yang menusuk dan membuatnya harus berlutut meminta maaf. Bukti bahwa ini bukan hanya sekedar imajinasinya saja.

Ia akan menjanjikan apapun untuk Michelle.

I’ll hold your hand forever, don’t let go
let’s make a promise, the two of us


"I swear," bisiknya menanggapi kalimat terakhir gadis berdarah campuran di depannya. Kelopak matanya membuka, memperlihatkan kilauan kristal cokelat yang dipenuhi emosi yang tak terdefinisikan. Nate menghela nafas, bersyukur ketakutannya untuk membuka mata tidak terbukti. Hangat. Aroma lili dan anemone berpadu menjadi satu. Lili, keeps unwanted visitors away. Anemone, unfading love. Mengerti pesannya? Kalian tidak diinginkan dalam kisah mereka berdua, pergi jauh-jauh selagi kalian bisa. Terima kasih, selamat tinggal. Pemuda itu nyengir melihat tingkah gadis yang bersandar padanya itu. Betapa dia merindukan saat-saat yang seperti ini. Kasih ini masih ada. Dan akan selalu ada.

Tidak peduli kau menginginkannya atau tidak, Tuan Putri. Karena sekarang Nate sudah memutuskan, apapun yang terjadi, apapun, ia tidak akan lari. Dan meskipun itu berarti ia harus menyakiti dirinya sendiri, pergi ke neraka sekalipun ia tidak peduli. Lagipula dia memang setan dari awal. Apapun, bagaimanapun. Ia tidak akan melepas Michelle lagi sekarang.

“A game. The most important match in my life.”
Nathan Kehl Harvart has caught the snitch.


Tiga tahun. Entah perlu diulang sampai berapa kali satuan waktu itu hingga Nate benar-benar terbiasa dengan fakta yang terbentang di hadapannya ini. Banyak keajaiban tahun ini. Mulai dari kejadian pribadi hingga yang menyangkut nasib seluruh dunia. Anehnya, semua keajaiban itu terjadi setelah Pangeran Kegelapan jatuh. Pertanda bahwa memang penyihir itu membawa malapetaka bagi semua orang bahkan yang tidak memiliki urusan dengannya? Mungkin. Tapi persetan dengan pangeran kegelapan dan nasib seluruh dunia. Ia bisa tidak peduli dengan semua itu. Saat ia di sini, bersama Michelle. Di bawah kerlip bintang. Konstelasi di malam musim semi. Vela, Crater, Virgo, Leo, Cancer. Coma Berenices. Sedikit dari konstelasi yang namanya diambil dari tokoh sejarah. Berenices, istri dari Ptolemy III Euergetes yang mengorbankan rambut kebanggaannya pada Dewi Aphrodite untuk keselamatan suaminya.

Bahkan langit juga mengalunkan nada-nada lembut mengenai kisah cinta. Malam yang sungguh tepat untuk menjalin rangkaian kasih. Crater, Corvus, Hydra. Langit memberikan nasehat mengenai kejujuran. Nate mengerti. Kebohongan hanya akan menjadi penyakit untuk semua orang.

So in order to light your light fill me
I hug you tightly


Nate belum mengatakan apa-apa lagi. Hanya degup jantung dan suara nafas lembut terdengar di sela-sela keheningan malam. Rasanya sayang jika dia harus memperdengarkan melodi lain yang bisa mengusik alunan orkestra malam. Tapi demi mereka berdua, apa salahnya merusak sedikit melodi yang bahkan tidak didengar orang lain selain mereka? Dengan pikiran itu Nate mengangkat tangannya dan merengkuh sang putri. Dekapan lembut yang membuat berpikir berulang-ulang alasan hingga ia bisa melakukan hal-hal bodoh yang membuatnya kehilangan Michelle dulu. Kapan terakhir kali ia menyentuh gadis itu? Fairest princess, never before he imagined they'd ended like this.

"So, this means we're okay now, right?"

Smile.

"Together, once again."

And they live happily ever after.
The end.
Frilla
Michelle kecil memiliki rambut pirang kecoklatan sebahu dengan ikal-kal besar menjuntai di sekeliling wajah, sorot tajam dan waspada nyaris selalu tersirat dari sepasang manik yang minim pendar keceriaan. Tingginya sekitar satu kepala lebih tinggi daripada anak-anak perempuan sebaya di pre-school, dan ia tidak pernah menemukan cara yang benar untuk meminjam boneka beruang milik anak lain tanpa membuat mereka menangis meraung-raung.

Since the day that we met
I ain't never had anyone make me feel this way
And my heart is sure it wants to be with you


Lalu omma akan tergopoh-gopoh datang untuk meminta maaf pada orangtua si korban sambil beberapa kali membungkukkan badan dan bertutur dengan logat Asia yang kental. Celemek dengan noda saus tomat masih tersampir di pinggang, dan dari tubuhnya menguar aroma today's menu cafe di sisi perempatan pusat kota. Surai hitam sang ibu kala itu masih panjang, rapi terikat menjadi satu kuncir di belakang punggung. Sementara poni tebal yang menutupi kening nampak sedikit lepek dan berantakan, mungkin karena peluh dan terpaan angin saat terburu-buru melintasi jalan menuju sekolah setelah menerima telepon dari kepala sekolah. Michelle sudah lupa namanya.

Dengan bibir mengerucut dan hidung mengernyit seakan merasa integritas lembaga pendidikan yang dibinanya akan tercemar apabila publik menyaksikan seorang pelayan berkulit kuning dan anak perempuannya yang tidak tahu adat berada di pekarangan sekolah lebih lama lagi, ia akan mengomel dalam Bahasa Perancis dengan cepat—entah apakah sindiran terhadap orang asing terkandung di dalamnya, karena jelas si gadis kecil dan ibunya tidak dapat menangkap keseluruhan maksud ucapan dari nenek tua itu—dan menyuruh Mrs. Kim untuk membawa putrinya pulang dengan catatan, anak itu wajib menerima wejangan sopan santun tentang cara bergaul ala seorang gadis Eropa.

Wanna give you the whole world
If you make that promise to me, You're gonna stay
Without you here with me, I'm lost and so confused


Tahun-tahun berlalu, namun fille berdarah campuran dua benua itu tidak pernah berubah. Ia masih keras kepala dan cuek, juga tak segan memukuli murid-murid lain di sekolah yang memandangnya setengah mata—hanya karena tidak banyak brunette jangkung bermata sipit tinggal di Avallon. Ketika kekuatan sihir mulai menampakkan diri, ia berhasil membuat seorang anak laki-laki pingsan saat bermain bola tangkap. Semua orang berpikir tidak mungkin sebuah bola karet mampu membuat seseorang sampai terkapar dengan benjol sebesar telur ayam di dahi, maka tersiarlah cerita bagaimana seorang gadis temperamental berhasil membalas dendam pada teman sekelasnya yang sering mengolok dengan menghantam kepala anak itu dengan pemukul bisbol saat semua sedang tidak memperhatikan.

Tapi sebagaimanapun buruk pandangan orang lain, ibunya tidak pernah mengeluh. Ia mempercayai dan menyayangi putri kecil yang dia lahirkan sepenuh hati, menerima pandangan negatif dari mereka tanpa mengeluhkan apapun. Sementara bermil-mil jauhnya dari tempat itu, sang ayah duduk berpangku tangan sembari menganggap si anak perempuan tidak cukup berharga untuk dijaga baik-baik karena warisan klan hanya akan diturunkan pada kaum lelaki. Dan Michelle tidak pernah membayangkan bagaimana wujud rupanya kini jika sepanjang masa-masa sulit itu, satu-satunya orang yang mendampingi bukanlah Kim Eun-soo. Atau sikap yang ditunjukkan omma kala itu tak ubahnya seperti kisah yang baru saja mengalun. Mungkin ia sudah dibuang ke panti asuhan antah-berantah atau bunuh diri.

Dan ia tidak percaya selama ini berani mengaku-ngaku sebagai seorang korban tanpa mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa sang pangeran mengalami gejolak semacam itu berkecamuk dalam hati sepanjang waktu. Tatkala yang ada dalam pikirannya hanya konfrontasi atas adegan pemuda itu mencium gadis lain, Nate setengah mati menahan diri sebab merasa ia tak cukup pantas bersanding dengannya. Ia sendiri tak yakin jika berada di posisi pemuda itu, ia mampu melakukan hal serupa.

Now who's the little selfish princess, eh...?

I'm gonna be the love that's gonna last
And be the one that got your back
Ain't nothing ever that bad that we won't be together?


Hening. Meski tidak yakin apakah waktu berjalan lambat hanya ketika bergulir di sisinya, ia merasa detik telah jauh meninggalkan mereka dalam kehampaan ketika kesadaran kembali memecut. Ada keyakinan terpantul pada iris berlapis bening kornea milik bola mata cokelat sang fille, namun merangkai kata-kata dari bibir nampaknya bukan pekerjaan mudah pada situasi seperti ini. Gadis itu menggenggam erat buketnya, merasakan keringat dingin menjalari telapak, tapi ia tidak takut. A life with no regrets—setelah malam ini usai ia hanya menginginkan hadiah manis dari Morpheus. Ia bersyukur karena bukan kenyataan pahit yang disuguhkan kebenaran dari kisah panjang dan melelahkan milik mereka.

"And you're silly for keeping these out from me. You know it's not the perfect Nathan Harvarth that anyone else see whom I adore—it's you."

"This man,"
Michelle mengerjap sebentar, meletakkan tangan kanannya di pundak Nate. Mendongak untuk menatap lekat-lekat guratan sempurna wajah milik pemuda yang sama tiga tahun lalu—dan tercekat saat menyadari betapa orang yang dikasihinya telah bertambah dewasa. "along with his goods and his flaws; I accept him." Maniknya mengerling sepasang lain milik sang lawan bicara, terdiam, namun tidak menunjukkan tanda telah selesai bicara. Ia memejamkan mata. "But I won't forgive you—"

"—unless you swear that you will not let such thoughts come up in your mind again. Ever. I'd never be happy if it's not you."


Sesak, jadi jangan suruh ia berbicara lebih lanjut karena pastinya memang tidak mungkin. Selain karena merasa takut racauan akan membuatnya terdengar seperti aktris yang tengah memerankan sebuah roman picisan, Michelle sudah merasa jantungnya berpindah ke kepala—berdentum-dentum dalam rongga tempurung. Sedetik berselang, pemilik helaian gelombang tergerai itu menunduk, memandangi kelopak-kelopak cantik Anemone dengan pipi bersemu. Keningnya bersandar pada tubuh sosok di hadapan.

It's more than words to say.

And though we both made our mistakes
And some we never wish we made
But we'll be okay if we just stay together
Frilla
Once upon a time there was a little prince
He was so full of himself
that he never thought about anyone else

But one day, the prince met a beautiful princess
He offered his hand to the princess
and was happy when the she took his hand


Pemuda itu tidak bergeming. Hanya menatap dalam kebisuan, tidak ingin menemukan kata-kata yang mungkin bisa mengakhiri malam ini. Dan jika sang kala mau mengabulkan permintaannya untuk kali ini saja, bekukanlah waktu agar ia bisa menatap sang putri seperti ini selamanya. Sekalipun hanya sebuah ilusi semu, tenang sebelum badai. Tapi ia tidak perlu mendengar penolakan.

Nate bertanya-tanya sejak kapan ia menjadi orang yang seperti ini. Hidup sebagai anak seorang pengusaha yang kaya raya membuatnya mendapatkan semua hal yang bisa ia inginkan. Tapi justru hal yang ia inginkan adalah sesuatu yang tidak bisa didapatkan dengan emas. Kasih sang ibu sebagai contoh. Nate terbiasa untuk menyerah di saat ia tidak bisa mendapatkan sesuatu. Ia menyerah untuk kasih sayang, ia menyerah untuk kebahagiaan. Dan awalnya ia ingin menyerah untuk Michelle juga. Ia pernah menyerah untuk memiliki gadis itu. Tapi kali ini ia tidak bisa. Ia tidak bisa menyerah. Untuk pertama kalinya, ia ingin bertahan dan tidak berputus asa. Dia pernah kehilangan gadis itu sekali, ia tidak ingin kehilangannya lagi. Meski dihujam berkali-kali, meskipun pikirannya galau hingga ia hampir merasa tidak waras lagi, ia tidak ingin menyerahkan setitik harapan untuk mengulang kebersamaan mereka lagi.

Sejak kelas transfigurasi itu, pertama kali ia menemukan sosok seorang Michelle lewat bantuan Sylar. Banyak orang kurang ajar di sana. Mereka menjelek-jelekan gadis itu dan Nate ingin membelanya. Selain karena ia sendiri memang merasa tersinggung dengan ucapan mereka. Kisah mereka berdua berawal dari sana. Sebuah tantangan kecil dari sahabatnya, yang mengantarkannya pada sosok yang menghantui pikirannya selama hampir empat tahun kebelakang.


Time passed
and the prince had gotten attached to the princess
But no one knew, that the prince held a secret

His secret was his insecure feeling
Although he was acting proud and all
Actually he always thought that he was worth nothing
And he thought, he didn't deserve the princess

Then he took another girl
so that the princess would hate him
and live happily with other man who was better than him


Nathan, it means gift of God. Tidak pernah sekalipun ia punya pikiran bahwa dirinya adalah sesuatu yang baik, hadiah, karunia, apalagi dari suatu entitas Maha Kuasa seperti Tuhan. Apa yang ia bawa selain musibah? Tapi mendengar kalimat itu dari ayahnya dan pengetahuan bahwa sang ibu tidak pernah membencinya, memberikan suatu harapan baru baginya.

Harapan itu juga yang membawanya ke sini.

Sekali lagi. Berdua. Di bawah langit bertabur bintang yang menjadi saksi ikrar mereka tiga tahun lalu. Anehnya kali ini ia tidak merasa tegang atau gugup. Jantungnya tidak berdetak cepat atau apapun yang menunjukan tanda-tanda perasaan yang kacau seperti yang seharusnya ia rasakan. Aneh. Ia bisa tersenyum dengan mudah, seakan seluruh bebannya hilang tanpa bekas. Mungkin karena tanpa sadar, ia sudah siap menerima segala kemungkinan yang bisa terjadi. Meskipun ia masih juga merasa ingin melompat dari menara. Nate merasa sangat labil. Sebentar ia merasa tenang lalu di saat yang lain ia merasa kesal, sedih, gugup, frustasi. Ia benar-benar meragukan kewarasannya sekarang. Crazy in love, eh? Literally.

Kebisuan diantara mereka entah bagaimana justru membuatnya nyaman. Mungkin juga itu efek dari tatapan sepasang kristal gelap di depannya. Bagaimana bisa dulu ia sampai memikirkan untuk meninggalkan Michelle? Tolol benar dia sampai ingin menyerah. Apa yang ia lakukan dengan Crossroad waktu itu? Hanya karena si M itu berkata sesuatu yang membuatnya marah, hanya karena ia merasa begitu tidak bergunanya. Yah, itu alasannya. Karena ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Lemah. Ia sangat kecil di hadapan dunia. Tapi ia tidak cukup lemah untuk menyerah sekarang.


Years passed, the prince had grown up
and he never once forgot about the princess
His heart was aching so much he couldn't bear it

And one day the prince realized
that he had paid so much for the princess' happiness
his love was beyond pain
...so maybe he did deserve her


Ia berharap bisa menafsirkan arti dari pandangan gadis di depannya. Helaan halus yang hanya bisa ia hubungkan dengan kata 'lelah'. Lelah dengannya keheningan di antara mereka, atau lelah padanyakah? Nate tahu dia adalah orang yang pesimis. Ia selalu mencoba menghapus pikiran buruknya dengan sugesti lain. Jika dia berkata dia orang yang hebat, mungkin ada keajaiban yang membuatnya menjadi orang yang berguna. Membohongi diri sendiri agar tidak merasakan sakitnya mengetahui bahwa kehadirannya di dunia tidak memiliki arti untuk siapapun. Tapi ada saat-saat dimana ia tahu bahwa sugestinya tidak akan berguna. Sifat pesimisnya sudah menancap begitu dalamnya hingga meskipun ia akhirnya tahu bahwa keluarganya tidak menganggapnya sebuah gangguan, ia tetap merasa khawatir. Dan kali ini ia khawatir bahwa sang putri merasa sudah lelah dengan gangguan yang ia timbulkan.

"Give me one reason."

Tertegun. Apa yang harus Nate katakan? Ia tidak memiliki alasan apa-apa. Terlebih lagi, alasan untuk apa? Alasan mengapa ia memanggil gadis itu kesini? Alasan mengapa ia pergi dulu? Alasan bagi gadis itu untuk tidak langsung menghujatnya? Ia berpikir terlalu dalam. Apa alasannya berada di sini, apa alasan ia ingin bertemu dengan Michelle, ada hal yang ingin ia katakan.

"I never told you that I hated my mother, did I?"

Pemuda itu membalikan tubuhnya memunggungi sang gadis. Nate tidak memiliki satu alasan yang diminta oleh gadis itu. Tapi ada hal yang ingin ia beritahukan pada Michelle. Rahasia yang tidak pernah ia katakan pada orang lain sebelumnnya. Tarikan nafas panjang terdengar dari sosok itu sebelum ia melanjutkan kalimatnya. "She told me that I'm unworthy, because I was another woman's. Constantly being told that made me believe it. I was happy to piss off my mother and just screw my life around. But then I met you. For the first time in my life, I wanted someone to see me as more than what I showed to the world. But as the time passed, I knew that you're too good for me. I had to leave, I had to leave you, otherwise you wouldn't be happy."


He ran, searched for the princess
When he found her,
he was scared that the princess didn't want him
But the prince thought that the pain worth the princess

So he offered his hand for the second time
and hoped that the princess would take it again
And maybe the story would end happily ever after


"I’m not making excuses for my actions," ujarnya cepat, ingin menekankan bahwa ia tahu tindakannya selama ini tidak bisa dibenarkan dan ia juga tidak punya niat untuk membenarkan apa yang sudah ia lakukan. Untuk meminta maaf sekarang pun rasanya sudah tidak pantas. Ia menoleh sedikit ke arah gadis itu sebelum kembali memalingkan wajahnya. Ia menghela nafas dan meneruskan kembali ucapannya, "but I have to show you the real me. I’m not a man without flaws, I am selfish, I am possessive, I am not proud of myself, I never think myself as a man who deserve someone like you. There are thousand of men out there who are far better fitted to be with you, than me."

Ya, ia tahu. Sangat tahu malah, meskipun itu tidak membuatnya kehilangan keinginan untuk mencabik-cabik pemuda mana saja yang mendekati sang putri. Cemburu, envy. Salah satu dari tujuh dosa pokok yang hukumannya adalah kedua mata dijahit dengan kawat. Ia tidak bisa memiliki sang putri, tapi ia tidak ingin ada orang lain yang memilikinya. Ia adalah orang yang sangat brengsek. Ia tahu. Ia sudah tahu hal itu bahkan ketika akhirnya ia membalikan tubuhnya dan menatap gadis berparas oriental di hadapannya.

"But even after knowing that, I'm still wanting you."
Frilla
"berani menghadapi musang macam itu... berani sekali kau, miss..."
"Nate, Nathan Harvarth."

"Michelle, sir. Michelline Fara Solathel."

"...want to be an item?"

Rasanya sudah lama tidak mengenang kejadian tersebut. Lama, lama sekali. Seakan telah lama terkubur dalam bagian paling tak terjamah dalam rongga tengkorak. Sampai-sampai ia tak lagi ingat kapan terakhir kali rekaan ulangnya terlukis dalam pikiran, hingga tanpa dinyana detik itu mendadak kilasan dirinya di masa lalu berkelebat, memeragakan dialog serupa dengan apa yang ia lakoni hampir empat tahun silam. Entah apakah seakan terpanggil oleh situasi yang tengah berlangsung saat ini, nostalgia begitu saja ramah menghampiri.

Tersenyum, Michelle membiarkan kesadarannya tenggelam dalam dunia awal mula, mengingat bagaimana ekspresi kekakuan penuh kekesalan Arvid, rupa Chucky dan potongan rambutnya saat berusia sebelas tahun dan kondisi kelas ketika itu. Hmm, dimana McG saat seorang pangeran berkuda putih mendarat ke tengah medan perang? Dan sungguh ia tidak pernah berhasil mempercayai bahwa sebuah kebetulan yang memperkenalkannya pada seorang anak laki-laki tertampan di kelas—lantas di kemudian hari menjadi pergunjingan setiap gadis di kastil—merupakan pertanda atas terjadinya perubahan hidup pada hidup gadis itu selamanya, bak kisah dongeng.

Thousands of your smile
Getting back when I look back on those days of us
Now I feel they are still calling me


Waktu itu tak sedikitpun terpikir bahwa sebuah jawaban sambil lalu yang menyambut ajakan bocah sebelas tahun untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman, akan membuahkan perasaan yang begitu dalam. Siapa sangka semua bergulir begitu lancar, begitu manis, dan tanpa terasa rupanya butir waktu telah jauh meninggalkan. Mereka terpaut, mereka berbagi. Atau paling tidak salah satu sisi pernah merasakan demikian. Tadinya ia yakin tidak ada yang salah dari untaian cerita indah ini, begitu mempercayai setiap gurat ketulusan yang terperi. Namun kembali, kebetulan serupa muncul dan menghadapkan mereka pada persimpangan jalan—dan perpisahan menukik tajam.

Ya, kebetulan paling menakjubkan sekaligus ironis itu bernama Takdir.

Banyak hal yang terjadi selama nyaris satu tahun kebersamaan itu. Setiap hari bagaikan lembaran baru. Halaman kosong dalam diary untuk diisi dengan berbagai momen menyenangkan. Mulai dari hal-hal kecil hingga kejutan yang luarbiasa—tak ada yang tak berhasil menyentuh hati sang putri. Seluruhnya membekas, menyisakan banyak kenangan dalam memori. Tetapi di antara semua itu, rupanya hanya salah satu yang paling diingatnya. Karena ia bukan hanya meninggalkan jejak, namun sekaligus berhasil membenamkan setiap butiran kenangan yang lain, menyisakan kawah hitam menganga.

Looking for the word
Just a simple word
To open up closing door of my heart


Kalau saja siang itu takdir tidak begitu kejam menyuguhkan drama pengkhianatan sang pujaan hati, apakah detik ini mereka akan berada disini untuk tujuan yang berbeda? Apakah ia akan hidup dalam bayangan angan-angan dan kepalsuan setiap detik, setiap saat selama bersama dengan pemuda yang ia anggap segalanya? Ataukah pada lain kesempatan, takdir akan kembali mengunjungi untuk menghadiahkan pengungkapan dengan alternatif yang berbeda? We never knew.

Lalu apa yang akan kau kabarkan hari ini padaku, Tuan Takdir?

Ia tidak berhasil menebak perasaan dan isi pikiran pemilik tatapan manik cokelat di hadapannya tiga tahun lalu, dan juga tidak beranggapan akan dapat melakukan hal tersebut sekarang. Maka Michelle bertanya, apa yang takdir inginkan darinya, namun tentu saja tidak ada tanggapan—takdir tidak mengangkat telepon malam ini, seperti juga malam-malam yang lalu. Ia tidak pernah menjawab panggilan sang fille. Hanya mampu terpekur seorang diri bersama kuntum Anemone putih dalam genggaman, ia menghadapi hujaman kedua bola mata pemuda itu. Pemuda yang sama dengan setiap gambaran sosok dalam ingatan.

Sepertinya ia yang disodori tuntutan untuk memilih, mengulangi semuanya dari awal atau mengakhiri sampai disini. Mungkin sudah terlalu banyak tombol 'restart' tertera dalam jalinan kisahnya sampai tercipta dirinya yang sekarang. Kehilangan ingatan, kembalinya sang ayah, mengetahui keberadaan seorang adik dan menghapus jejak Crosette—setiap melalui percabangan, dan harus membuat satu keputusan ia bertekad untuk tidak lagi menoleh ke belakang atau merasa menyesal. Tidak pernah berpikir bahwa seharusnya the second option yang terpilih. Karena itulah, fondasi keyakinan menjadi hal yang mesti dibangun saat ini. Tiga tahun lalu janjinya dinodai, namun tidak akan lagi ia membiarkan untuk kedua kali, kejadian menyakitkan terulang.

Helaan napas kecil terdengar, diikuti anggukan kecil. Saat membuka mulutnya perlahan, sopran halus sang gadis memecah keheningan.

"Give me one reason."—to say yes.

Let me dive into your heart once again
To try to keep our story going on
Is the key of heart
Frilla
I've been alone so many nights now
And I've been waiting for the stars to fall


Lima belas manit terpanjang dalam hidupnya. Dan keseluruhannya ia habiskan dengan terdiam menatap langit seperti orang bodoh. Mengecek arloji setiap menit, menanti jarum panjang tiba di angka dua belas. Di menit-menit terakhir pikirannya mulai semakin pelik. Puluhan kemungkinan mulai dari yang terburuk hingga yang terbaik sehingga rasanya amat mustahil untuk terjadi membanjiri benaknya. Begitu sibuknya ia dengan cerveaunya hingga hal yang ia ketahui selanjutnya adalah suara langkah di belakangnya. Dekat. Ada kemungkinan lain bahwa itu sama sekali bukan orang yang ia tunggu, memang. Bisa saja itu Filch, meskipun ia ragu karena kalau memang pak tua itu yang datang, pasti langkahnya lebih berantakan dan terlebih lagi pasti langsung berteriak marah melihat seorang siswa melanggar jam malam. Mungkin Profesor Sinistra yang tiba-tiba ada kencan romantis di bawah bintang dengan suaminya yang terhitung baru. Tapi kesunyian yang mengikuti suara langkah itu memberitahunya.

Dan tiba-tiba ia merasa yakin bahwa dia memang idiot.

Apa yang ia harapkan dengan datang ke sini, dengan mengirim bunga itu, dan pesan itu, dan... segalanya. Ia dicampakan, mencampakan. Nate dan Michelle, itu hanya mimpi. Sudah waktunya ia bangun dan menyadari hal itu. Bodoh. Tolol. Narre, dalam bahasa ibunya. Bisa-bisanya ia masih mengharapkan sesuatu yang begitu di luar jangkauannya setelah semua hal yang ia lakukan.

Nate mengepalkan tangannya. Ia ingin membalikan tubuhnya sekarang, melarikan diri dari tempatnya sekarang. Jauh dan jauh dari kenyataan. Demi Tuhan, seharusnya ia mengubur diri saja bersama mandrake-mandrake di rumah kaca. Tapi ketika ia membalikan tubuhnya dan menatap sepasang kristal cokelat yang ia rindukan. Ia merasa lebih bodoh daripada sebelumnya. Bagaimana mungkin ia bisa merasa bodoh dengan melakukan tindakan yang sama sekali tidak bodoh? Kalau kau mengerti maksud anak laki-laki itu. Dan lupakanlah persoalan mengenai sebenarnya dia idiot atau tidak, karena di depannya ada masalah yang lebih penting. She's standing there. Right in front of him, no kidding. Nate merasa nafasnya kembali tercekat, seperti yang selalu terjadi ketika ia kehilangan kata-kata. Betapa ia merindukan menatap gadis itu seperti sekarang, bukan hanya kilasan di kelas atau asrama, bukan hanya sepersekian detik di meja asrama atau lorong. Helen of Troy. Cleopatra. Neferiti. Phryne. Bathsheba. Marie Antoinette. Buat daftar nama-nama wanita di dunia ini yang dikatakan sebagai mahluk tercantik di bumi dan sisakan satu tempat untuk seorang Michelline Fara Solathel.

When you're standing here in front of me
That's when I know that God does exist


Tanpa sadar seulas senyum muncul di wajah pemuda itu. Semuanya akan baik-baik saja. Meskipun terlihat mustahil, meskipun setelah semua yang terjadi di antara mereka, kisah ini akan berakhir dengan bahagia. Nate dan Michelle. Michelle dan Nate. Berdua. Bukan hanya mimpi tapi dalam kenyataan. Happily ever after. Just like the story books.


"If you're trying to attract me into somekind of joke—this isn't funny, Harvarth."


Senyumnya hilang dalam sekejap. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Tentu saja. Sejak kapan kehidupan itu mudah dan sejalan dengan keinginannya? Tapi ia sudah sampai di sini, semua sudah terlanjur terjadi, dan ia tidak berniat untuk mundur lagi. Ia sendiri yang sudah bersumpah, demi sang putri, demi secercah harapan akan kebersamaan, apapun akan ia lakukan. Ia berharap, memohon, meminta, membutuhkan masa depan itu. Bersama menyusuri danau seperti dulu, senyum dan perbincangan yang membuat bahkan kelas paling membosankan sekalipun menjadi menyenangkan, berdua saja. Jika ia bisa mendapatkan hal itu, Nate bersumpah tidak akan pernah menginginkan hal lain. Hanya satu hal itu saja, yang ingin ia miliki.

"It wasn't meant to be funny," ujar Nate, menatap gadis itu tepat di kedua matanya. Untuk menunjukan bahwa dia serius kali ini, tanpa kebohongan. Bukankah mereka berdua sama-sama sudah muak dengan kebohongan?

And I can't imagine two worlds spinning apart,
Come together eventually


Tidak ada lelucon. Anemone, dalam bahasa bunga artinya unfading love--cinta yang tak pernah sirna. Dan Nate sungguh-sungguh merasa seperti itu. Sekalipun ia menjauh, menarik diri dari sang putri, tak pernah sekalipun ia melupakannya. Masih ada begitu besarnya rasa sayang itu hingga ia terkadang ingin mengiris-iris pemuda lain yang berada dalam radius lima meter dari sang putri. Ia tahu ia luar biasa egois, masih menganggap Michelle sebagai miliknya hingga saat ini. Tapi bukankah semua manusia memang egois? Dan malam ini, ia membulatkan tekadnya. Nate akan mendapatkan sang putri kembali. Demi Tuhan, bagaimana mungkin ia bisa merasa seperti ini, sih? Ia benar-benar rela melakukan apa saja, bahkan kalaupun harus membunuh seseorang--jangankan itu, disuruh loncat dari menara ini pun ia rela kalau itu artinya ia dan Michelle bisa kembali bersama. Kali ini ia benar-benar tidak peduli lagi pada apapun. Nate menginginkan putrinya kembali. Serius. Ia akan membunuh siapapun yang berani menghalanginya.


Tapi bagaimana jika memang sang putri yang menolak?


Lidahnya kelu. Setelah mengucapkan satu kalimat itu, Nate tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya menatap nanar gadis itu. Pedih rasanya jika berpikir bahwa ada kemungkinan Michelle menolaknya. Ia yang salah, ia tahu. Dari awal. Seandainya ia tidak melakukan semua hal di masa lalu itu... Tuhan, dia hanya bisa bermimpi ia bisa mengulang kembali sang kala. Antara harapan dan putus asa. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Apa yang harus ia katakan agar gadis itu mau melihatnnya seperti dulu? Galau, khawatir, takut, berharap.

Dan akhirnya ia tetap membisu.

But this journey, it was worth the fight
To be with you
Just to be with you
Frilla
Could it be you
Or do I lose my way?
I'm here but colorblind


—dan bukunya yang berjatuhan menimbulkan bunyi debam mengerikan, bergema di sepanjang lorong bawah tanah, menyusul ekspresi terperangah tak percaya saat sebuket besar kuntum kelopak putih disodorkan ke hadapan oleh salah seorang Slytherin tahun pertama bertubuh kecil.

Anemone.

Tapi bukan hanya itu alasan atas reaksi keterkejutan gadis jangkung dengan helaian ponytail panjang tersebut pada senja seusai pelajaran, suatu hari di awal musim semi. Isi pesan yang tertera bersama rangkaian bunga tersebut, beserta tulisan tangan sang pengirim—sekalipun tidak mengukirkan nama—merupakan penyebab utama menggelegaknya suatu perasaan yang sudah lama terkubur dalam-dalam. Ia sendiri tak yakin apakah harapan adalah tanggapan tepat untuk menyambut situasi yang tengah dihadapi, namun nampaknya kuasa menjawab sudah disabotase hati.

Beribu sanggahan yang berusaha digalinya sembari menghabiskan sisa hari dengan peringai gelisah tidak juga berhasil menyumpal. Setelah menghabiskan potongan burger pada jam makan malam dengan berusaha keras menahan gerak bola mata untuk tidak melirik ke salah satu arah, ia buru-buru ambil langkah seribu untuk memendam diri dalam kamar, memandangi langit-langit rendah sambil duduk bersila di atas tempat tidur berlapis selimut zamrud. Sebelah tangannya mengelus tengkuk Azure yang meringkuk dalam pangkuan, dan sudah tak terhitung berapa kali helaan napas terdengar selama hal ini berlangsung.

Another 03.16.1979

Tidak mungkin Santa Klaus begitu baik bersedia mengabulkan permintaan hadiah Natal konyol yang ia jejalkan ke dalam kaus kaki di perapian beberapa bulan lalu.

Close my eyes
I try to hide
I'm listening to my voice inside
What's on to tell me right or wrong


Pandangannya kembali mengerling pada seikat Anemone yang teronggok di sisi—kini tengah diendus oleh si kucing pandai dan selalu ingin tahu—untuk memastikan bahwa benda pemberian itu bukan ilusi semata. Perlahan jemari tangannya yang bebas menelusuri bagian-bagian bunga cantik tersebut, menyentuh tangkai, daun, mahkota, kemudian menghirup aroma lembut yang menguar ketika ia mendekatkan buket itu. Oke, wujudnya mungkin riil, nyata. Lantas bagaimana dengan maknanya? Unfading love—cinta yang tidak pudar—dia ingin Michelle mempercayai bahwa sejak awal rasa itu pernah ada, setelah semua yang dilakukannya?

Dilematis. Pemikiran yang membuat ia ingin berteriak histeris kalau saja tidak khawatir anak-anak perempuan di luar, seperti Sienna dan Laffy khususnya, akan segera berhamburan masuk untuk mencari tahu apa ada Banshee muncul di dalam kamar mereka. Di satu sisi kenyataan bahwa sang pangeran pernah mengkhianati; menolak, mencampakkan, telah sukses meninggalkan lubang besar pada rongga dada. Tapi tentu bagian lain dari dirinya segera menegaskan bahwa selamanya tak ada seorangpun mampu mengobati lubang tersebut, tak ada seorangpun yang lebih ia harapkan kehadirannya untuk kembali mengisi, kecuali orang yang bersangkutan.

Dan kenyataan jelas mengungkap bahwa keinginan untuk menutup kembali koyakan luka itu tak putus-putus selalu ia panjatkan. Hanya saja kini setelah kesempatan itu menganga, ketakutan mengalami rasa sakit yang lebih besar justru menghampiri. Membuatnya terlalu pengecut untuk bangkit dan memacu langkah. Bagaimana kalau semua ini hanyalah serangkaian permainan lain yang sengaja dirancang? Bagaimana kalau lagi-lagi ia dijebak dalam kenaifan untuk mengucap ikrar? Ia memang tidak pernah menyesali diri yang pernah menjanjikan segalanya pada sang kekasih, tidak sekalipun. Namun siapa yang membuatnya harus menelan kembali semua dalam kepahitan?

So leave the past behind
I only wanna feel the sunlight stop the fight and see it in your eyes
Wish I just knew what I should do


Bagaimanapun hanya ada satu cara untuk mengendus sisa-sisa ketulusan.

Maka disanalah kakinya terpancang. Di hadapan portal yang akan menghubungkannya ke dunia lain—dunia dimana hanya mereka berdua yang bermukim. Nate dan Michelle. Michelle dan Nate. Dunia milik mereka, tiga tahun silam. Sekalipun sebisa mungkin berlambat-lambat selama perjalanan meniti tangga menuju ke menara ini, tetap saja ia tiba lebih awal. Lima menit sebelum waktu perjanjian, demikian jam sakunya mengabarkan.

Gerakannya terhenti saat merapatkan sweater abu-abu yang tersampir di atas kaus lengan panjang putih dan twirly skirt biru muda selutut, karena menyadari tanpa bermaksud sengaja telah mengenakan peninggalan milik pemuda yang akan ia temui sesaat lagi. Tidak mungkin ditanggalkan sekarang, apa boleh buat. Ia mendengus, memejamkan mata, kemudian menarik napas dalam-dalam—berusaha mengendalikan degup yang berdentum, entah karena habis melanglang dari bagian terendah hingga tertinggi kastil, atau faktor lain. Diabaikannya cekat yang bercokol di faring, dan tangannya memutar gagang pintu menuju ruangan kelas Astronomi.

This is it.

Ruangan yang sama. Dengan langit bertabur bintang yang tak ubahnya serupa. Dan tatapan dari manik pekat berwarna identik dengan miliknya, menghujam dari sosok yang bersandar pada selusur jendela. Detik berjalan enggan, lambat-lambat merangkak dalam keremangan di bawah siraman kubah titik keperakan, tatkala kedua insan saling menyapa dalam geming. Sang tuan putri yang lantas memalingkan wajah, sementara kedua mary-jane menimbulkan ketukan ringan pada permukaan lantai. Menghantarkannya merekat bentangan jarak. Sampai kira-kira satu meter tertinggal, ia mendongak untuk kembali mendaratkan pandang pada gurat familiar di hadapan. Jauh lebih kacau, perasaannya, di banding sekuali ramuan yang tengah meletup.

"If you're trying to attract me into somekind of joke—this," uraian gelombang cokelatnya yang tergerai hingga mencampai pinggang berkilauan tertimpa cahaya, ketika genggaman kiri fille berdarah campuran itu mengacungkan buket Anemone kepada pengirimnya. "isn't funny, Harvarth." Oke, ia berhasil. Tidak ada emosi yang boleh bergerak sebelum logika berbicara. Hanya saja, aneh menyadari alih-alih menuntut, nada suara dan sorot mata gadis itu justru menyiratkan harapan dan kerinduan yang mendalam seolah mengatakan—"Mengapa baru sekarang?"

Because as long as you wish for it,
the promise will always be there.


Maybe it is me
Used to plan to see that it's you
For everything I am, everything I need, lies in you
Frilla
On the day I couldn’t see
my heart I felt insecure
The meaning of loving somebody
it’s something I decide myself


Detik, menit, jam. Waktu memang sudah ditakdirkan untuk berjalan dan tidak ada kehendak dari siapapun yang bisa menghentikannya. Layaknya butir jam pasir yang terus jatuh, kehidupan juga terus bergulir. Meskipun tiada detik yang tidak ia lewati tanpa penyesalan. Seakan seluruh perbuatannnya bertahun-tahun ini adalah kesalahan, hanya tersisa rasa sesal yang membuncah dan harapan untuk memutar kembali sang waktu. Tapi kala yang hilang juga telah menjadi gurunya. Dan kini Nathan Kehl Harvarth akan memperbaiki salah satu kesalahannya.

Pukul sembilan lewat lima puluh lima menit. Sepuluh menit berlalu sejak anak laki-laki itu tiba di menara. Setelah melewatkan musim dingin di Norwegia yang suhunya mencapai minus dua puluh derajat tahun ini, Nate sanggup ke luar di malam hari hanya dengan berlapis sweater putih tidak seberapa tebal di atas kemejanya. Meskipun memang hangat yang dibawa musim semi sudah mulai mencairkan salju di luar. Anak laki-laki itu berdiri dalam diam. Manik cokelatnya menatap pemandangan di luar jendela yang dari ketinggiannya sekarang, hanya tampak seperti dataran hampa, siap dipenuhi benih-benih baru keesokan hari, berkilauan dalam temaram rembulan. Rasa antisipasi menjalar ke tengkuknya. Bukan gelap malam yang menjadi musuhnya, bukan angin yang membuatnya gemetar. Degup yang sama, bukan, lebih menegangkan daripada saat mengejar kemahsyuran di lapangan quidditch. Mengejar dan menangkap snitch. Dan kali ini juga.


“You've been terribly chipper these days. May I ask what merits the occasion?”
“A game. The most important match in my life.”



Tiga tahun, kurang lebih. Siapa yang bisa percaya selama waktu itu hidupnya ia habiskan dalam sebuah dunia khayal. Curiga dan dengki, tak percaya bahwa ada artinya ia dilahirkan. Berpikir selamanya ia ditakdirkan berada dalam kegelapan, sendiri karena tidak ia tidak pantas untuk didampingi. Menatap penuh rindu apa yang ia pikir bukan untuknya. Sulit dipercaya begitu bodohnya otak yang selama ini ia banggakan itu. Andai saja dari awal ia bisa melihat dengan mata yang benar-benar terbuka, Nate tahu hidupnya sebenarnya sudah sempurna dari awal. Tapi dia telah mengacaukannya, dengan tangannya sendiri. Dan penyesalan yang seperti apapun tidak akan cukup untuk menghapus kebodohan yang telah dilakukannya.

Tapi ia masih bisa memperbaikinya bukan? Ia harap... masih. Dan dengan setitik harapan itulah, ia berdiri di tempat itu. Menunggu akan datangnya sang putri. Kalau itu masih mungkin. Tiga tahun penghindaran, sesak dan tersakiti namun tahu bahwa itu adalah yang terbaik untuk orang yang begitu berarti. Nate tidak peduli betapa sakitnya penderitaan yang harus ia rasakan. Anything for her happiness, anything. Tapi tampaknya justru sebaliknya. Nate telah menyakiti, melukai hati gadis itu. Ia tidak yakin, apakah kata-katanya, tindakannya, bisa membuat sang putri kembali menatapnya seperti dahulu. Hatinya terus memanggil, berdenyut untuk satu kemungkinan kecil. Bahwa apa yang dikatakan oleh gadis itu... pengakuan yang begitu tulus itu, masih ada. Masih nyata. Meskipun Nate sendiri yang sudah mencabik kepercayaan dan harapan. Ia berharap, meminta, memohon, agar setidaknya, belum terlambat baginya. Untuk jujur pada perasaannya, untuk jujur pada orang yang dikasihinya. Untuk mendapatkan kembali apa yang telah hilang. Sekalipun ia harus menjual jiwanya sekalipun.


Satu menit.

Tinggal enam puluh detik lagi.


Gemetar. Bagaimana seandainya semua harapan yang dipegangnya selama ini hanyalah kepalsuan belaka? Seandainya ia tidak datang. Apa lagi yang bisa diharapkannya sesudah itu? Hancur. Lebur. Ucapkan selamat tinggal pada Nathan Kehl Harvarth. Gemetar. Seandainya, seandainya janji itu palsu, terlupakan. Apa lagi yang bisa ia percayai? Ia tidak berpikir sejauh itu sebelumnya. Belum terlambat baginya untuk pergi. Lebih baik ia tidak tahu daripada harus mengetahui kebenaran yang menyakiti. Kakinya ingin membawanya lari dari sana. Secepatnya pergi dari tempat itu, ikrar yang pertama. Sumpah selamanya. Mereka, berdua. Tanpa orang lain. Dan ia ingat saat itu. Seakan baru, seakan tidak pernah terlewati. Saat ia percaya bahwa segalanya sempurna, karena mereka berdua, dan itu cukup. Untuknya, untuk mereka, untuk dunia. Percaya. Harapan. Janji. Kasih. Kemana perginya hal-hal itu selama ini? Apa ia yakin akan membuang mereka sekali lagi, tanpa pernah mempelajari bagaimana perasaan sang putri sebelumnya.

Ingin tertawa, ingin menangis. Kakinya tak sanggup melangkah, tubuhnya bersandar pada bingkai jendela. Malam itu juga cerah seperti saat ini. Bintang-bintang menjadi saksi dari ikrar rahasia mereka. Berdua. Dua. Dua. Tanpa orang lain. Tuhan, betapa ia menginginkan semua itu kembali. Perasaan memuncah ini, tak bisa ditahan. Biarkanlah. Betapapun sakitnya kebenaran. Selama itu yang diinginkan oleh sang putri. Nate menerimanya. Apapun konsekuensinya. Dan Nate menyadari betul posisinya sekarang. Seorang manusia. Merasa, menginginkan, mempercayai, mengharapkan. Sakit, kecewa, sedih, senang, bahagia. Ia tidak peduli, sekalipun kali ini yang diterimanya adalah penolakan. Ketidakhadiran, muak. Nate... akan menerimanya. Meskipun, setitik harapan itu tidak pernah hilang.

Three years ago, I gave you a proposal.
Tonight, I'm offering you my hope.



I promise you, I won’t wander off anymore
I’ll be strong...and prove myself to you
I won’t run away, I’ll turn around to face you
so I can see how you feel
Frilla
Posted Image

Tower, at 10 p.m.
I'll wait.


PS.
Did you know the flower's language of anemone?
It means unfading love. Cliche, I know.
But I can't help if it's true.
Frilla
Just too many barriers
That we keep running into
Been tryin', but we just can't break through


5 tahun yang lalu, keadaannya mirip seperti ini. Malam di pertengahan musim dingin, salju turun lebat menutupi semua pemandangan dengan kasih putihnya yang semu. Ia ingat sosok masa lalunya yang saat itu berumur delapan tahun sedang bermain dengan sapu terbang mainannya. Desingan lucu mengiringi perjalanannya mengelilingi kamar tidurnya yang cukup luas. Sebelum ia berhenti mendadak karena suara keras yang membuatnya terjatuh. Suara pintu ruang kerja ayahnya yang dibanting dengan luapan amarah, sekarang ia tahu hal itu. Tapi sosok kecilnya tidak tahu dan ingin mencari tahu. Waktu menunjukan pukul lima sore—ia ingat betul. Waktu yang dipilih ibunya untuk menyisip teh sambil membaca buku di ruang keluarga. Sehingga pada waktu itu ia yang merengut karena terjatuh memutuskan untuk bertanya mengenai suara keras itu pada ibunya yang tidak perlu dicari.

Nate kecil menghampiri wanita berambut keemasan yang sedang terhenyak di sebuah kursi bewarna safir. Baki berisi teh dan kue-kuehan tampak belum di sentuh sama sekali. Pada waktu itu seharusnya ia tahu bahwa ada yang tidak beres—tapi mana bisa anak kecil membaca tanda-tanda? Senyum lebar menghiasi wajah manis anak laki-laki itu saat ia menghampiri sang ibu dan bertanya mengenai suara tadi. Orang yang ditanya mengangkat wajahnya, sisa-sisa air mata masih tampak. Bahkan dirinya yang waktu itu sudah bisa melihat ada sesuatu yang aneh. Sosok kecil itu menyentuh tangan sang ibu, hendak bertanya. Tapi bukan jawaban yang didapatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya—ia yang tidak menduga sama sekali, kehilangan keseimbangan dan jatuh menabrak meja teh. Nate bisa mengingat kejadian itu dengan jelas seolah baru kemarin. Sakit yang ia rasakan di pipinya tidak sebanding dengan rasa terluka ketika ibu yang amat disayanginya memukulnya. Sebuah tatapan tidak percaya dan pertanyaan terlontar darinya, ia masih tidak ingin percaya bahwa ibunya tega memukul dan menatapnya dengan pandangan penuh kebencian yang menusuk ulu hatinya. Wanita itu membuka mulut—mengucapkan dua hal yang mengubah segalanya dengan suara bergetar.

You are no son of mine.
I wish you were never born.


Lima tahun dan bekas pernyataan itu masih terasa. Ia pergi, ingin meninggalkan bayangan sang ibu jauh di belakangnya. Karena—bukankah selama ini ibu menyayanginya? Meskipun Nate yang sekarang tahu, semuanya hanya sandiwara semata. Anak kecil itu berlari mencari kenyataan, dan siapa yang bisa mengalahkan ayahnya dalam pengetahuan? Pikirnya waktu itu, berjinjit untuk meraih pegangan pintu besar ke kamar ayahnya. Terkunci. Padahal tempat itu selalu terbuka untuk Nate, sekalipun ayahnya sedang sibuk sekalipun—ia akan mengizinkan Nate untuk masuk meski hanya memberi tahu bahwa ia tidak bisa diganggu.

Badai datang—tangisan salju semakin deras, tapi Nate masih terpaku di depan pintu besar itu. Seolah tersesat kehilangan arah. Rumah tempat bermainnya selama ini mendadak asing dan terlalu besar untuknya. Ia putus asa dan ketakutan. Jadi dicobanya mengetuk pintu—tak ada jawaban, semakin keras dan semakin keras—tetap tidak ada jawaban meski hanya satu kata. Rasa sakit karena ditinggalkan itu masih ada. Takut dan perasaan terbuang bermain-main di hatinya. Tapi ia yang dulu masih ingin berharap, masih ingin mempertahankan keadaan yang lama. Jadi dia kembali berlari—lukisan di koridor terdiam ketika melihatnya, padahal Nate biasa bercengkrama dengan mereka. Tapi semuanya membisu dan anak itu bisa membayankan tatapan prihatin menyorotnya dari segala arah. Ini tidak benar. Pikirnya saat itu—ketika ia berlari ke kamar kakak pertamanya. Dipikirnya Miranda pasti bisa memberikan kenyataan padanya. Pasti bisa membuat segala keresahannya ini pergi.

Pintu terbuka dan ia masuk. Gadis berumur sekitar tujuh belas tahun itu tampak seperti biasa dan sesaat Nate tampak tenang. Mungkin yang tadi terjadi hanyalah mimpi buruk. Nate bercerita—mengatakan apa yang dikatakan oleh wanita yang masih ia anggap ibu beberapa saat yang lalu. Kemudian terdiam, menunggu kata-kata lembut dari sang kakak. Tapi apa yang diharapkannya tidak pernah datang. Tatapan jijik dan langkah mundur justrulah yang diberikan padanya.

I knew it, I was right.



Angin yang berhembus terasa lebih dingin daripada tadi—dan itu mengatakan sesuatu. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Demi Merlin, dia benci musim salju. Kelam dan suram, seolah segala petaka akan tiba saat ini juga. Ia tidak menanggapi lagi kata-kata anak kelas satu yang dipanggilnya kurcaci tadi. Atau siapapun yang berbicara lagi setelahnya. Entah tidak ingin atau tidak bisa. Tapi saat pikirannya dipenuhi hal-hal lain, mungkin hal itu wajar.

"Having fun, dear?"

Ada kalanya ia merasa dipermainkan, ada kalanya ia merasa dibodoh-bodohi oleh Sang Pencipta dan sekarang adalah salah satu dari kala itu. Suara itu terasa lebih menusuk daripada angin musim dingin. Itu kata-katanya. Tidak pernah ia bayangkan kondisinya bisa terbalik begini—tapi mungkin seharusnya dia sudah bisa menebak. Atau tidak? Tapi ia tidak bisa menerimanya. Keadaan berbalik, berarti keunggulan berbalik. Tidak juga, ya. Sejak awal dia memang sudah kalah. Ia hanya terperosok semakin dalam—miris rasanya. Bahkan untuk menolehkan kepalanya saja ia tak kuasa. Ia merasa seperti tenggelam, berusaha menggapai cahaya di atasnya namun terus ditarik oleh sesuatu yang berada di bawahnya. Bagaimana sulitnya menahan diri untuk tidak merengkuh sesuatu yang paling disayanginya namun tahu tidak pantas untuk melakukan itu, Nate merasakannya lebih dari siapapun.

This mountain we've been trying to climb
It's never ending
Just can't do nothing


Sebelas tahun dan masih belum berpikir jauh ke dapan. Baru merasakan kebebasan setelah lepas dari penjara yang membelenggunya. Ia senang—ia gembira dengan keadaannya yang baru. Masih dinaungi euforia kebebasan ia melupakan hakikat dirinya. Bertingkah tanpa pikir panjang, berbuat ini dan itu tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkannya. Lalu ia menemukannya. Sosok yang membuatnya tertawa lepas seakan dunia hanya milik mereka. Dia yang mau menerima Nate begitu saja di saat bahkan keluarganya sendiri hanya memandangnya sebelah mata. Itu sebuah kesalahan—karena Nate tahu ia tidak pantas untuk mendapatkan gadis itu. Ia menyesal telah jatuh. Ia menyesal telah menjadi beban untuk sang maiden. Tapi ia tidak menyesal untuk semua yang telah mereka lewati bersama. Meskipun kini ia lelah merasa karena sakit yang terus menerus ketika harus melepasnya—ia tidak menyesal. Untuk membalas semua kebahagiaan yang pernah diberikan gadis itu padanya—ia rela meskipun harus menjual nyawanya pada setan sekalipun.



”Aku juga sayang, kok.”


Manusia, benar-benar mahluk yang kompleks. Berapa kalipun ia pikirkan, tetap saja ia tidak bisa mengerti. Jangankan keseluruhan mahluk bernama manusia, bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa ia mengerti walaupun hanya setengahnya saja. Bagaimana sebagian dirinya ingin mengorbankan apa saja, apa saja yang ia miliki demi dapat kembali mengulang masa-masa bersama sang putri dan sebagian lagi yang tahu betapa tidak pantasnya keinginan itu—betapa rendah dirinya jika disandingkan oleh sang maiden, betapa ia tahu bahwa ia tidak bisa memberikan hal yang layak padanya. Dipikirkan terus pun penyelesaiannya tidak kunjung datang. Jadi dia memutuskan untuk menyingkirkan keinginan yang ia anggap egois itu. Memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan sang putri—pangeran manapun akan melakukan hal itu.

Nate membalikan tubuhnya—menoleh ke sang putri yang berada dalam jarak yan begitu dekat hingga untuk sesaat Nate merasa bisa meraihnya. Ia menatap dalam-dalam kristal kecokelatan yang berkali-kali ia kagumi keelokannya. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman culas yang tidak pernah ingin ia berikan pada gadis di depannya jika keadaannya tidak seperti ini. Kepalanya terangkat angkuh saat ia menyenderkan tubuhnya ke pagar jembatan—meletakan tangannya di atas benda kokoh itu dengan posisi santai. Andai saja ada mantra untuk kembali ke masa lalu. Ia ingin menjawab pertanyaan yang terdengar menusuk itu, memberikan kalimat balasan yang bisa membuat sang gadis membencinya meskipun yang ia ingin lakukan hanyalah mengaitkan jemari mereka seperti dua tahun yang lalu. Ia dikalahkan oleh seseorang ternyata, ”Selamat malam Michelle. Sudah lama sekali sejak kita terakhir kali bertemu."

Too many locks, too many crimes
Too many tears, too many lies
Too many barriers


Pernahkah kau merasa hidupmu tidak akan bisa lebih buruk lagi? Nate pernah. Kalau kau berasal dari Norwegia atau setidaknya, tahu mengenai kisah-kisah Norse, mungkin pernah mendengar kisah mengenai Sigurd yang mengalahkan Fafnir? Dan tidakkah kehidupannya semakin lama semakin terlihat seperti kisah sang pahlawan yang membawa shieldmaiden keluar dari lingkaran api? Dan kini babak kehidupannya mungkin sudah sampai pada adegan pertikaian antara Gudrun dan Brynhild. Demi Merlin, jangan bilang hal yang terakhir terjadi padanya adalah ia mati dibunuh pacar baru Michelle. Ia tidak sudi. Meskipun Nate tidak keberatan untuk mati sekarang—tidak seperti ada penyesalan lagi di dunia ini. Saat ia tidak memiliki apa-apa lagi, pergi ke ketiadaan juga tidak ada bedanya. Mungkinkah segalanya akan berbeda jika pertanyaannya dulu terjawab? Jika sang putri berbicara padanya, mengatakan tidak akan pernah mengkhianati janjinya—akankah segalanya berbeda? Nate tidak tahu pasti—tapi itu akan membuatnya lebih kesulitan lagi untuk merelakannya. Seharusnya ia berterima kasih, karena dengan jawaban bisu itu... ia tahu bahwa sang putri ternyata tidak menginginkannya.

”Sudah kenal dengan Michelle, Arietta?” tanyanya dengan senyum menghiasi sudut wajahnya, sengaja mengalihkan pandangannya dari gadis berdarah Korea ke gadis di dekatnya.

Bisakah Michelle melihat isyarat yang tidak terucapkan oleh sang pangeran? Sadarkah betapapun terlihat santainya Nate, buku jarinya memutih karena tangannya mengepal sedemikian eratnya. Sadarkah meskipun ia tersenyum, matanya tidak memperlihatkan kebahagiaan. Lihatkah betapapun tegarnya ia berdiri, kakinya terasa lemas karena terlalu lama berdiri mengharapkan rembulan. Lihatkah meskipun ia mendengarkan melodi alam dan ucapan semua orang, yang diharapkan indera pendengarannya hanya suara sopran yang dengan lancang terpatri di ingatannya meski tak ingin. Sadarkah, meskipun semua hal yang terjadi—hatinya masih memberikan isyarat untuk terus mencinta?

Hanya lewat isyarat ini—
ia bisa berkata jujur.

Kasih ini masih ada, untukmu seorang.

”Kami bersenang-senang, mau bergabung?” jawabnya bernada biasa dengan pertanyaan lain—kembali mengerling gadis berambut ikal panjang itu. Kepalanya kembali terasa pening, hal yang selalu terjadi ketika stress mulai merayap masuk ke dalam dirinya. Tangannya menyentuh pelipisnya—meskipun tidak cukup lama untuk membuat orang pasti mengenai sakit yang terasa. Nate meneruskan lagi, masih dengan kepala terangkat dan senyum angkuh yang sama, ”Kau sudah kenal dengan semuanya, Michelle? Arietta, kau sudah kenal, ya. Yang ini Alvera—dan satu lagi... siapa namamu, miss?”

I know I'm gonna keep wishing I was with you
But we just gotta stop
Frilla
Tidakkah ini sedikit terlalu lama?

How, how am I supposed to feel—

Michelle sudah mempersiapkan diri sejak tadi untuk menghadapi yang terburuk. Apa? Dicium, dipukul, dilontari kata-kata merendahkan... apapun, sungguh. Namun Nate masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Kaku. Nyaris tidak bergerak malah. Hanya tatapan tajamnya yang seakan tengah berusaha berbicara, menyembunyikan emosi yang tak dapat ditafsirkan artinya. Gadis itu menahan napas, manik cokelatnya sendiri belum beranjak dari tempatnya terpancang sebelumnya—saling beradu pandang dengan milik lawan bicaranya. Nampak jelas ia berusaha keras meyakinkan pemuda di hadapannya maupun dirinya sendiri bahwa ia kuat—cukup kuat untuk bisa menerima apapun yang akan diputuskan Nate pantas untuk diberikan kepadanya.

—when everything surrounding me
Is nothing but a fake disguise


Dan untuk sesaat setelahnya Michelle sempat berharap bahwa Nate akan menerimanya kembali.

Bibirnya gemetar, saat ia ingin melirihkan jawaban atas pertanyaan pemuda itu. Sejak awal sedikitpun ia tidak berniat melepaskan janji itu—samasekali. Janji yang diikatnya dengan tulus, dihadiahkan sebagai bukti seberapa besar pemuda itu telah berhasil mengisi hidupnya. Nate adalah bagian paling penting dalam dirinya, terlepas dari kenyataan ibunya berada di dunia lain—dunia Muggle—dan ayahnya berkelana entah kemana, dan ia telah menggantungkan terlalu banyak hal kepada keberadaan sosok itu. Ia kira mereka saling membutuhkan satu sama lain, mereka sempurna untuk melengkapi satu sama lain... sehingga saling bergantung juga tidak mengapa.

Michelle tidak menyesal, memikirkannya saja tidak, sampai tiba fase dimana ia mengetahui bahwa ia bukan satu-satunya milik Nate. Tahukah betapa hancur kepercayaannya saat menyaksikan semua kejadian pemuda itu mencium gadis lain berlangsung di hadapannya. Begitu besar bagian dari dirinya—seluruh hatinya bahkan—telah ia serahkan dan ternyata orang yang menerimanya tidak puas dengan merasa hanya dari Michelle saja sudah cukup. Perasaannya bertepuk sebelah tangan, setidaknya itu fakta lain yang harus diterimanya.

I don't know,
I don't know where I belong


Namun ia sudah memutuskan. Kalau memang Nate bersedia, ia tetap menjadi miliknya juga tidak apa-apa. Diduakan, ditigakan, tidak menjadi nomor satu, ia rela. Sekalipun dengan semua pengorbanan dan perasaan yang ia curahkan, ia tidak menerima yang setimpal, Michelle sungguh tidak peduli. Bayangan Nate kembali ke pelukannya saja sudah begitu indah terbayang di pelupuk matanya—

—asalkan Nate bersedia, Michelle akan tetap menjadi miliknya.
"Oh, ya?" Gadis itu menyembunyikan rona merah yang sejenak meliputi kedua pipinya karena mendadak disuguhi pengakuan—membuatnya spontan mengalihkan pandang ke arah lain selama beberapa detik. "Hei, sudah mulai gelap nih." Mengalihkan pembicaraan.

"Argh... Michelle tidak seru, ah. Masa cuma begitu saja," ujar yang laki-laki diiringi oleh tawa untuk menutupi rasa malunya setelah sadar mengenai apa yang diucapkanya barusan. Ia berdiri dan mengibaskan rumput yang menempel di bajunya. Baru kemudian mengulurkan tangannya kepada gadis ikal di dekatnya. "Kembali ke kastil, yuk."

Sang gadis hanya menunjukkan cengiran tidak bersalah, menyambut uluran tangan yang ditujukan padanya dan mengangguk. Digenggamnya erat-erat, ketika langkah mereka beriringan meninggalkan kawasan danau. Pantulan warna jingga tua tersirat di atas bola mata cokelat itu, ketika pandangan sang putri mengerling pada pemilik jemari yang menggenggamnya.

"Aku juga sayang, kok."

Namun bagaimana jika Nate tidak menginginkannya?

Pemuda itu akan melepaskan pelukannya, melepaskan genggamannya, untuk selamanya. Tidak akan menoleh untuk melihatnya lagi. Tidak akan tersenyum dan berbicara lagi. Michelle tidak cukup pintar, tidak cukup berharga, untuk bahkan menjadi nomor dua atau nomor tiganya. Michelle yang naif dan dibutakan oleh cinta. Samasekali tidak pantas untuk seorang pangeran. Tidak. Pantas.

I can't stop the rain from fallin'
I'm drownin' in these tears I cry


Dan itulah yang terjadi.

Pelukan itu datang dan pergi begitu saja—tanpa pertanda, tanpa peringatan. Ketika Michelle membuka kembali kelopak matanya, punggung Nate sudah berlalu meninggalkannya. Sedikitpun, barang hanya sekejap, tidak berbalik. Mencampakkannya. Michelle yang tidak berharga bahkan untuk menerima sepatah kata perpisahan, hanya ditinggalkan khayalan yang lagi-lagi hanya ia seorang yang menikmati dan airmata untuk dihabiskan.

Ia ingin berteriak. Sangat ingin, meronta dan memohon agar pemuda itu tidak pergi dan membiarkan dirinya begitu saja seperti ini. Persetan dengan harga diri, she desperately needs him. Namun ketika bayangan mengenai apa yang akan selanjutnya terjadi jika ia melakukan hal sesuai kehendak emosinya itu, membuatnya tak ayal lagi semakin sakit. Nate sudah memutuskan, dan bukankah ia sudah menyiapkan diri untuk segalanya? Untuk kemungkinan yang terburuk bahwa—sekali lagi Nate memberinya harapan setinggi langit kemudian mencampakkannya kembali ke tanah.

Sakit. Nyeri yang perlahan menyusup, berdenyut-denyut di dadanya dengan keji. Jaket abu-abu di pangkuannya kini dipenuhi pola titik-titik air, sementara semburat jingga dengan cepat menghilang ditelan permukaan danau di kejauhan. Kenapa ia tidak menampar saja? Kenapa ia tidak mengata-ngatai saja? Akan jauh lebih baik. Ia tidak akan merasa sedemikian sakit. Kenyataannya Michelle tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang paling buruk—ia masih sekali lagi berharap. Dan mungkin keputusan Nate untuk menghempaskan semuanya barusan adalah tepat, karena tak ada lagi harapan yang tersisa kini. Sudah tidak ada lagi. Michelle menyerah.

Sudah berakhir, tidak ada lagi kelanjutan dari kisah ini. Berakhir. Meninggalkannya dalam kegelapan seorang diri.

I can't stop, I can't stop the rain
From fallin'
Frilla


Mi
chelline Fara Solathel

((Visualisasi: Leah Dizon))
Half-blood
Avallon, France
September 14th 1965



Nama Panggilan:
Michelle / Sola
Suku Bangsa Karakter: Perancis - Korea
Asrama: Slytherin
Peliharaan: anak kucing Russian Blue, berbulu abu-abu dengan mata bulat besar berwarna biru, Azure.
Tongkat sihir: Vine, 28.5 cms, inti helaian rambut emas Unicorn
Sapu terbang: Nimbus 1001
Posisi di Tim Quidditch: Chaser


Latar Belakang Keluarga

Nama Ayah: Jean-Édouard Crosette (Pure-blood)
Nama Ibu: Kimberly Kim, Eun-soo (Muggle)
Nama Saudara: --

Latar Belakang Keluarga:
Jean-Édouard merupakan satu-satunya keturunan yang tersisa dari keluarga Crosette, keluarga penyihir yang menyandang status pure-blood. Entah kutukan apa yang menghantui dua generasi terakhir keluarga ini, seluruh anggotanya terbunuh satu persatu secara misterius. Sebagai salah satu keturunan terakhir keluarga ini, Jean-Édouard dapat merasakan bahwa keadaannya tengah terancam. Seusai menyelesaikan pendidikan sihir di Hogwarts, lelaki ini kemudian melarikan diri ke Asia untuk menjalani kehidupan normal. Dalam penyembunyian identitasnya sebagai seorang penyihir, ia bertemu dan menjalin hubungan dengan seorang muggle berkebangsaan Korea, Kim Eun-soo.

Sayangnya sebelum mereka sempat mengecap kehidupan yang tenang, kementrian memanggil Jean-Édouard untuk kembali ke dunia sihir. Dalam kondisi yang amat sulit, ia memaksa diri untuk memboyong istrinya berdiam di negaranya, selagi ia menyelesaikan segala masalah yang perlu ia selesaikan di dunia sihir menyangkut keberadaan keluarga Crosette. Namun sesaat berselang usai kelahiran putri mereka, Jean-Édouard tidak pernah kembali lagi ke dunia muggle untuk menemui keluarganya. Juga tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Bahkan masih hidup atau tidaknya pun tidak diketahui. Sejak saat itu Kim Eun-soo terpaksa bekerja seorang diri di negara asing, membanting tulang untuk dapat menghidupi diri dan putrinya, sementara masih dengan setia tetap menanti kepulangan suaminya.


Data Personal

Personaliti Karakter:
Michelle yang sebenarnya (sebelum lupa ingatan) lebih dikenal dengan panggilan Sola, merupakan gadis yang sangat cuek, keras kepala, pecinta kebebasan dan temperamental. Apa yang ia kehendaki harus tercapai, dengan cara yang ia sukai. Sering seenaknya dan mementingkan diri sendiri. Menemukan dan membalaskan dendam kepada ayahnya adalah tujuan terbesar dalam hidupnya, sekaligus alasan mengapa ia rela meninggalkan ibunya dan memasuki dunia sihir.

Setelah ia mengalami kecelakaan dalam lupa ingatan, Michelle yang sekarang jauh lebih fleksibel dan periang, namun tidak ia tunjukkan. Dari luar ia dapat terlihat sangat judes dan menyebalkan, meski sebenarnya tidak sejauh itu. Suka melakukan hal-hal yang bertujuan untuk menarik perhatian orang lain, juga pandai menjilat. Ingatannya yang kembali tak lama kemudian membentuknya menjadi sosok yang lebih matang. Hal yang masih kentara dari seorang Michelle kini adalah kecerdasan pertimbangannya dalam melakukan segala hal, agar keinginannya dapat tercapai. Ambisi dan obsesi terbesarnya adalah menjadi seorang tuan putri.

Bakat dan Kekurangan: Sepertinya berbakat pada pelajaran: Terbang, Transfigurasi dan Mantra. Pelajaran favorit: Telaah Muggle, Astronomi dan Ramalan. Tidak berbakat dan akan melakukan apa saja agar dapat lolos dari pelajaran: Herbologi, Arithmancy, Pemeliharaan Satwa Gaib dan Sejarah Sihir.


Keterangan Lain

Mengalami kecelakaan saat libur Natal di Perancis pada tahun pertamanya, menyebabkan ia terbaring koma selama enam bulan dan kehilangan ingatannya. Ia terpaksa harus mengulang tahun pertama di Hogwarts pada tahun ajaran selanjutnya.

Mendapat petunjuk bahwa kemungkinan ayahnya masih hidup. Perlahan mulai dapat mengesampingkan dendam dan kebenciannya terhadap sang ayah.

Sudah putus dari Nathan K. Harvarth. Membuat sebagian besar hidupnya kacau, berusaha keras untuk menutupinya dengan berpura-pura baik-baik saja. Kepribadiannya banyak kembali pada dirinya yang dulu (Sola), dan sebisa mungkin melupakan hal yang menyangkut mantan kekasihnya tersebut.



*Semua hal mengenai MFS adalah ciptaan PM karakter ini, Ameh ;)
Frilla
Rasa sayang… harapan agar perasaan ini tidak pernah berubah. Aku mengharapkan kebahagiannya. Lalu kapan aku siap melepasnya? Dia selalu menarikku. Akhir-akhir ini apapun yang kulakukan, aku selalu mengambil langkah mundur.

Kalau begini terus, tidak akan bisa lepas. Diriku sendiri yang membuatku... kian dililit oleh rasa ingin memiliki. Perasaan yang membuatmu bagaikan mengejar ilusi.




Dear princess, don’t you understand? He’s not good enough. Nate tahu dengan pasti, gadis itu bukan gadis biasa yang bisa ditemukan di tiap sudut daratan Eropa. Helen of Sparta, banyak—kalau bukan semua orang, mengakui kecantikannya, pembawaannya yang anggun dan memikat, dan kepandaiannya. Sempurna, memikat. Bukan cuma Nate yang menginginkan gadis itu untuk dirinya seorang. Ia tahu dengan pasti, banyak anak laki-laki yang melirik gadis itu dengan kagum—terpana dengan kecantikannya. Keegoisan sebesar apa, kepercayaan diri yang sebesar apa, hingga Nate pernah percaya ia cukup baik untuk sang putri? Ia terlalu memandang tinggi dirinya—tapi ia sadar sekarang, selama ini ia hanya mengejar sebuah ilusi. Imajinasi yang tidak akan pernah terjadi dalam kenyataan.

Bagian mana dari dirinya yang pantas untuk disandingkan dengan seseorang yang begitu surreal—sosok sempurna yang ia kira hanya ada dalam dongeng?

Tidak ada.

Ia tampan, selama ini ia percaya hal itu. Pintar, kalau bukan jenius. Keluarganya terpandang, Harvarth—keluarga tertua di Skandinavia, kaya raya. Tiga aspek itu bisa ia banggakan, memang. Tapi—ia tidak seperti itu. Kalau ia cukup pantas—tidak akan ada orang yang mengatakan bahwa ia seharusnya tidak dilahirkan. Kalau ia memang sehebat yang dikiranya, ayahnya tidak akan merasa kecewa terhadapnya. Kalau ia memang cukup baik, tidak akan ada yang mengatakan dirinya memuakan, kotor, sampah. Ia tidak cukup baik. Ia mengerti, sangat.

Memories fade like yesterday to the setting sun
Picture us in a still frame
with every sigh it's done




“Hm… menurutmu bagaimana?” Tanya sang pemuda, membalas pertanyaan yang diajukan padanya dengan sebuah pertanyaan lain. Matanya masih terpejam, menikmati suasana senja yang hening dan sentuhan jemari gadis itu. Di sana hanya ada mereka berdua. Tidak ada orang lain.

“Menurutmu aku tipe yang sudah mengerjakan esai sebelum detik-detik terakhir atau bukan?“

Senja yang diharapnya tidak akan usai. Gadis itu menikmati detik-detik yang bergerak lambat dalam kedamaian ketika bibirnya perlahan menggumamkan jawaban, "Karena selama ini aku belum pernah dengar para profesor mengomentarimu tidak mengerjakan tugas jadi... kurasa ya, atau aku salah?" Senyum tipis terbentuk di wajahnya. "Jangan lupa mengembalikan esai Sylar tepat pada waktunya, dear."

Jemarinya bergerak menyisikan poni yang menutupi kening pemuda yang duduk di sisinya—memutar lehernya sedikit untuk dapat mendaratkan sebuah kecupan disana.

Gelak tawa yang sempat keluar dari mulut sang pemuda ketika mendengar perbuatannya menyalin esai orang lain diketahui langsung terhenti. Ia membuka matanya dan mendongak—menatap gadis itu beberapa detik sebelum nyengir senang.

“Aku sayang kamu, benar, deh.”




Satu. Dua. Tiga. Sudah berapa kali Nate menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Michelle? Entah. Dia sendiri sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali ia telah menghindar dari pertanyaan yang diajukannya pada dirinya sendiri. Semakin dihindari, semakin banyak pertanyaan yang timbul. Mati satu, tumbuh seribu—kalau menurut peribahasa. Ia tidak pernah tahu arti sesungguhnya dari kalimat itu hingga sekarang. Ketika setiap pertanyaan yang ditepisnya hanya menghadirkan seribu pertanyaan baru yang menanti jawabannya.

I'm the one who understands
Yeah, I'm the one without chance
Now I know I could never be your man


Bagaimana mungkin kalimat yang tidak bertanggung jawab itu bisa keluar dari mulut seorang Michelline Fara Solathel? Bagaimana bisa? Nate terdiam. Kaku—tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Setengah bagian dari dirinya ingin memukul gadis itu untuk mengatakan hal-hal seperti itu—seolah, seolah Michelle menganggapnya seorang laki-laki brengsek. Tapi setengah dirinya yang lain ia tahu, ia memang brengsek. Sudah sewajarnya gadis itu menganggap rendah dirinya. Bukankah itu yang ia tunggu-tunggu? Dianggap rendah, dibenci. Apapun boleh ‘kan? Asalkan memang itu keinginan Michelle—asalkan sang putri bahagia, Nate rela menanggung segala resikonya. Meskipun itu berarti merelakan gadis itu, meskipun dia harus menyerahkan jiwanya pada setan sekalipun.

Tapi egonya sekali lagi mengambil alih dirinya.

Tangannya sekali lagi menyelip ke belakang gadis itu, merengkuhnya dengan lembut. Ia egois—sangat egois. Sekali lagi, ia melakukan hal yang tidak bisa ia pertanggung jawabkan. Tapi, demi Merlin, ia tidak bisa diam saja—tanpa mengatakan apa-apa, tanpa berbuat apa-apa. Dua kutub dirinya masing-masing tidak bisa menang melawan yang lain.

“Will you keep that promise, still?” tanyanya pelan pada gadis di dalam rengkuhannya—berharap ilusi yang ada di depan matanya bisa ia rengkuh meskipun hanya sekejap. Egois. Bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan sang putri?
APA YANG KAU LAKUKAN?

Seperti tersambar listrik—ia melepas gadis itu. Berdiri dengan cepat tanpa memandang bola mata bening milik gadis itu. Tidak berani menatap gadis itu lebih lama. Lagi-lagi. Ia melakukan kesalahan lagi. Anak laki-laki itu mengumpat pelan dan melangkah pergi dengan cepat, kembali ke kastil. Tanpa kalimat perpisahan, tanpa... apa-apa. Pergi begitu saja. Berusaha tidak berbalik apapun, apapun reaksi dari gadis ikal itu. Sudah saja. Nate meninggalkan sosok yang mengisi bagian besar dari dirinya di tepi danau hitam—tempat kenangan mereka. Sudah. Selesai. Lagipula—Prince Harvarth tidak memerlukan siapa-siapa bukan? Ia sudah memiliki semuanya. Semuanya. Ketika semuanya itu tidak berarti apa-apa. Ini yang ia inginkan bukan?

Sang surya bersembunyi. Senja berganti malam, siang telah berakhir. Hari telah berakhir—seperti mereka berdua... berakhir.

With all I try still I know I can't
Cause I'm not good enough
Frilla
Oh, how about a round of applause?
Yeah, standing' ovation?


Michelline Fara Solathel, generasi terakhir keturunan langsung keluarga bangsawan Crosette yang tersohor di Perancis. Di usianya yang baru lima belas tahun lewat sedikit, ia tergolong gadis yang istimewa. Tidak sedikit gadis-gadis muda yang memandang iri pada wajah campuran oriental yang mempesona miliknya, dilengkapi dengan uraian rambut cokelat panjang mencapai pinggang yang sangat sepadan dengan tubuh semampainya. Ramping dan cantik. Penampilannya sangat terjaga, namun tidak hanya itu. Otaknya cerdas, dan orang-orang takkan meragukan bakat sihirnya yang mengundang decak kagum kemungkinan berasal dari warisan keluarga ayahnya yang notabene berdarah murni—sekalipun ia sendiri akan bersikeras bahwa hal ini tak ada hubungannya dengan silsilah keluarga terkutuk itu.

Semua orang memandangnya takjub. Semua orang memandangnya kagum.

Lalu, apakah ia merasa dirinya tidak cukup beruntung dengan semua berkat yang diturunkan kepadanya ini? Tidak. Karena asal tahu saja, selama ini apa yang menjadi keinginannya tidak pernah terwujud dengan baik. Ambisi-ambisi terbesarnya dalam hidup masih jauh dari genggaman. Dan selagi ia berusaha keras mengejar semua obsesi itu, satu persatu hal yang ia miliki terlepas; tanpa pernah memberinya kesempatan untuk mendapatkannya kembali. Hmph, ralat. Mungkin dari awal justru tidak pernah sekalipun digenggamnya. Hanya delusi semata, delusi yang mengizinnya merasakan seolah-olah ia pernah memiliki sesuatu yang begitu berharga. Seolah-olah.

Dan ia betul-betul tidak tahu harus berbuat apa atas drama yang dikemas dengan demikian manis di hadapannya—semenjak satu tahun yang lalu hingga detik ini. Tak pernah sekalipun terendus olehnya semua ini hanya suatu plot untuk membodohi dirinya. Jadi begitu. Semuanya dusta.

Ia tidak pernah benar-benar menjadi seorang tuan putri. Dalam dongeng dan khayalanpun tidak. Entah seberapa sempurnanya ia nampak di luar, ternyata tidak cukup baik untuk dapat bersanding di sisi Sang Pangeran yang terhormat. Ia kira selama ini mereka pasangan serasi. Ia kira selama ini ia berhasil membuat Nate bahagia, bangga akan keberadaannya di sisinya. Ia kira selama ini mereka pemilik kisah happy ending, happily-ever-after. Namun ia salah. Dan ia bisa bilang apa? Pemuda itu sukses membuatnya percaya dengan semua ucapan manisnya. Bahkan membuatnya menjanjikan dirinya, oh Merlin, ia tidak berani membayangkan bagaimana gelinya Nate saat itu.

Oh, and the award for the best liar goes to you
For making me believe that you could be faithful to me


Jangan bercanda. Sikap macam apa ini? Kau kira siapa dirimu? Kau kira dengan siapa kau berhadapan? Nate, tidak akan pernah bersikap seperti ini di hadapan Michelle dan terutama—bersikap seperti ini kepada Michelle. Jangan samakan dirinya dengan Anya atau entah siapa lagi gadis-gadis lemah di luar sana. Bukankah Michelle tuan putrinya? Bukankah ia bilang hanya Michelle satu-satunya? Bukankah ia tahu Michelle tidak akan tersipu dan merunduk malu saat menghadapi Nate yang berkata-kata seperti barusan? Tentu, ia tahu. Ia sengaja. Michelle hanya tidak tahu alasan mengapa ia sengaja berlaku menyebalkan seperti itu. Untuk menyakiti Michelle? Untuk mengatakan bahwa cukup sudah, ia bosan dengan permainan membodohi Michelle?

Belum cukup puas ia menyakiti Michelle atas satu tahun penuh adegan sandiwara ini?

Gadis itu dapat merasakan bagaimana peraaan campur aduk yang meliputi kekecewaan, rasa pedih dan kemarahan perlahan meluap dan memenuhi dadanya. Tidak ada emosi dan airmata, juga tidak ada tamparan. Namun manik cokelat itu jelas menatap dengan penuh rasa sakit terpatri di permukaannya. Tatapan yang menghujam pada sepasang bola mata lain yang tengah bertemu pandang dengannya—tatapan terluka. Bola mata yang disangkanya selalu mengungkap ketulusan dan kejujuran. Rasa sayang dan perlindungan. Kemana semua itu? Semua itu kini hanya terganti oleh keangkuhan, merendahkan dan mengintimidasi. Sebagaimana tatapannya pada orang-orang lain.

Ia kira tatapan itu tidak akan pernah ditujukan untuknya. Ia kira hanya senyuman manis yang akan dihadiahkan Nate kepadanya. Sekali lagi, ia salah.

Please, just cut it out

"I am." Michelle mendongak, lekat-lekat mendaratkan tatapannya pada pemuda di hadapannya, "Lakukan apa saja—I'm yours, anyway, ain't I?" lanjutnya dengan suara bergetar, namun tegas. Kalau ia mengharapkan Michelle akan sekali lagi jatuh terpuruk dan berlinang airmata, ia salah besar. Michelle memang lemah, Michelle memang rapuh. Namun tak pernah sekalipun akan ia tunjukkan. Setidaknya tidak sekarang, tidak di hadapan orang yang telah begitu keji menyakitinya. Toh, ini bukan kali pertama. Hatinya sudah lebih dulu tercungkil, dan ia sendiri tak yakin apakah matanya masih menyimpan persediaan airmata untuk dihabiskan. Lakukan apa saja... Michelle terlalu naif untuk dapat menyadari dirinya hanya sebuah mainan.
Raut cemas sedikit memudar dari wajah gadis dengan sentuhan Asia itu, ketika kemudian ia mengambil posisi duduk di sisi pemuda berambut cokelat. "Kau membuatku khawatir," jemarinya kembali merengkuh tangan kekasihnya, "jangan bicara yang bukan-bukan lagi, oke?"

Sejenak kemudian ia memandang ke dalam wajah pemuda itu dan seperti memikirkan sesuatu, "kau mirip dengan ibumu, ya?"

“Mungkin,” jawab sang pemuda sambil mengangkat bahu. Ia menatap jemari mereka yang bertautan—seperti memikirkan sesuatu sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya ke bahu gadis di sebelahnya. “Aku belum pernah bertemu dengannya,“ ujarnya lagi dengan mata terpejam seperti mengantuk.

“Hm... Aku berani bertaruh kau pasti mirip dengan ibumu,“ lanjutnya membelokan percakapan—sepertinya tidak ingin pembicaraan menjadi terlampau serius. Pemuda itu menarik genggaman mereka dan mengecup punggung tangan gadis ikal itu. “Cantik, sih.“

Sang gadis mengulum senyum, perlahan mengangkat tangannya yang bebas, "Aku tambah tidak mengerti kalau kau yang seperti ini bisa membuat ibuku tidak menyukaimu," jemarinya kini menyentuh ikal-ikal cokelat milik pemuda yang bersandar di pundaknya. "eh, sudah mengerjakan tugas Binns belum?"
Frilla
Kenapa kau menciumnya?

Kenapa?

Kenapa kau melakukan itu, Nathan?

Kenapa kau tidak pernah dapat melakukan sesuatu dengan benar?

Kenapa kau harus dilahirkan?!

Kenapa—ia juga tidak tahu.

Don’t love me because I’m lost
Because it’s my destiny
Because I can’t change




Siluet dua orang di tepi danau menghiasi pemandangan senja kelabu itu. Seorang yang berdiri dengan tangan di dalam kantung celananya tampak menggigil meskipun tidak terlalu kentara. Wajahnya menghadap ke arah danau meskipun kedua bola mata mahogani sesekali bergulir ke sudut matanya—menatap sosok seorang putri berambut panjang yang duduk tidak terlalu jauh darinya. Tampak ragu-ragu untuk mengenakan benda abu-abu di tangannya. Si laki-laki ingin merenggut benda itu dan langsung menyampirkannya ke bahu gadis itu—tapi pada akhirnya ia tetap berdiam diri saja. Tidak mungkin ia melakukan hal itu—bagaimana kalau ia ditolak? Membayangkannya saja sudah membuat kepalanya tidak karuan.

Apa yang kau harapkan, Nate? Bahwa apapun yang kau lakukan—Michelle akan terus ada di sampingmu? Dia tidak akan meninggalkanmu seperti yang lain? Sungguh harapan yang sangat tinggi untuk seseorang sepertimu.

Sejujurnya, ia bahkan tidak mengerti dirinya sendiri. Di satu sisi, ia ingin bersama Michelle—tidak ada yang lebih diinginkannya dari itu. Tapi di sisi yang lain, ia tahu ia tidak cukup baik untuk mengharapkan hal itu. Karena di cerita manapun sang putri tidak pernah berakhir dengan seorang penyamun—atau seorang rakyat jelata. Meskipun sang penyamun mencoba untuk berpura-pura menjadi pangeran sekalipun—pada akhirnya penyamarannya akan terungkap. Dongeng dengan tegas menyatakan putri hanya bisa bersama pangeran. Dan siapalah dia untuk mengubah hal itu?

Don’t love me
Because my heart is breaking


Nate tahu—lebih dari siapapun—bahwa ia bukanlah tipe yang akan menjadi prontagonis dalam suatu cerita. Lantas apa yang membuatnya berpikir bisa menjadi pangeran berkuda putih untuk sang putri? Ia tidak cukup dalam semua aspek untuk menjadi seseorang yang bisa disetarakan dengan Michelle. Tapi semua hari-hari yang telah mereka lewati—setahun yang penuh dengan semua kenangan akan mereka berdua—apa itu semua tidak bisa terulang kembali? Siapa yang membuat hari-hari itu berakhir—kesalahannya kah? Apa yang telah ia lakukan…?

Tapi—apapun yang terjadi, ia tidak ingin melepaskan Michelle.



Si pemuda terdiam mendengar jawaban sang putri. Bukan masalah kata-katanya tapi justru gerak-gerik gadis itu yang membuatnya sedikit merasa tidak enak. Genggamannya terlepas dalam suasana yang canggung itu. Ia memalingkan wajahnya ke arah danau dan berujar ringan, menyembunyikan rasa was-was yang menyelimuti hatinya.

“Kau tidak menyukaiku juga tidak apa-apa. Asalkan kau merasa senang meskipun harus mengikuti keegoisanku—kurasa aku bisa menerimanya.”

Ekspresi gadis itu jelas tidak secerah sebelumnya. Tersapu rona heran dan keterkejutan yang tidak dapat ia sembunyikan, mata cokelatnya mengawasi pemuda di hadapannya dengan hati-hati. "Kenapa? Tidak biasanya kau begini," nada khawatir yang kini terdengar, sebelum ia melanjutkan dengan suara yang dalam—sepertinya menyadari pembicaraan ini sudah bukan bagian dari candaan riang lagi. "Bukankah aku sudah pernah berjanji? Selama kau menginginkannya, aku selalu disini. Selalu."

“Tapi kalau kau merasa terpaksa—“ kata-katanya terputus di tengah-tengah. Ia mengangkat bahu dan duduk bersila di tanah sebelum mengisyaratkan gadis itu untuk duduk di sampingnya.

“Ah—entah kenapa musim semi jadi membuatku melankolis. Gawat sekali ini, ya,” candanya diikuti dengan gelak tawa.




Don’t love me
You have suffered enough


Kepala pemuda berambut cokelat itu tertunduk. Matanya tidak lagi menatap kiri dan kanan—berharap bisa melihat wajah yang menghantuinya selama ini. Mungkin ini klise. Dulu Michelle—adalah gadis yang dipilihkan Sylar untuk taruhan mereka. Kemudian Michelle menjadi orang yang paling sering melewatkan waktu bersamanya. Sekarang Michelle menjadi orang yang paling penting baginya. Nate tidak sanggup—ia bukan orang yang pantas. Cukup sudah egoisme yang ada padanya—

Biarkan masa lalu lepas, untaian waktu tiada kembali. Ini adalah akhir dari keegoisannya. Michelle tidak menyukainya—membencinya—juga tidak apa-apa. Asalkan dia bahagia... Nate bisa menerimanya. Harus bisa. Sakit juga tidak apa-apa. Biar sajalah... Bukankah seharusnya ia sudah biasa? Hanya saja ini tentang Michelle—dan segalanya tentang gadis itu selalu berbeda. Tapi kalau memang ia harus memanggul penderitaan ini—tidak apa, selama gadis itu bahagia. Anything for your happiness, princess, anything.

Nate berjalan mendekati gadis itu dan membungkuk di hadapannya—perlahan mendekatkan wajahnya yang dihiasi dengan cengiran angkuh, “kenapa Michelle, dear? Cemburu? Ingin aku melakukannya padamu juga?”

Salazar, biarkanlah Michelle membencinya kalau itu dapat membuat gadis ini bahagia.

Don’t love me
Don’t love me




Setahun yang lalu, aku menyesal telah meraihmu dengan suatu alasan yang murahan. Waktu itu, kau sama sekali tidak tahu kalau aku... menyatakan perasaan dengan hati yang kotor. Aku tahu aku manusia yang tidak tertolong. Aku tahu sikapku ini hanya akan menyakitimu. Meski begitu... Aku menginginkanmu, tidak ingin melepaskanmu... selalu.

Harusnya aku cukup memendam perasaan ini. Cukup membayangkan kebahagiaanmu dan tidak ingin apa-apa lagi. Tapi entah sejak kapan, aku jadi tidak bisa melepasmu. Meski tidak bisa menatap wajahmu lagi... aku selalu gelisah kalau tida ada kau. Aku ketakutan karena merasa dekat denganmu... tidak tahu harus bagaimana. Harusnya kau merasa jijik dan menjauhiku. Lebih baik kau berikan hatimu pada orang lain dan...

tinggalkan aku.


Don’t love me.
Frilla
It never crossed my mind at all
That's what I tell myself—


Michelle belum menyerah. Selama ini ia hanya menunggu, memendam begitu banyak lontaran pertanyaan. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan kemampuan otaknya yang tergolong di atas rata-rata, pertanyaan sama yang juga tidak bisa dijawab oleh harga dirinya. Ia memendam begitu banyak ketidakpuasan. Kemarahan. Dan rasa cemburu. Mungkin jiwa dalam dirinya sendiri menolak menyatakan bahwa ia sudah menerima semua fakta dan kenyataan bahwa seseorang yang telah begitu ia percayai, dicintainya dengan sepenuh hati akan dapat meninggalkannya sampai seperti ini untuk seorang... seorang lain yang tidak berharga—setidaknya dilihat dari sudut pandangnya. Namun kenyataannya hal itu terjadi, dengan sangat jelas di depan batang hidungnya. Jadi?

—what we had has come and gone

Ia menyesal sudah berpikir akan menyerah atas pencarian jawaban tersebut. Sudah saatnya ia sadar bahwa ia harus tahu, alasan mengapa dirinya ditinggalkan.

Bukankah sangat melelahkan? Menjawab pertanyaan yang sudah jelas nonsense. Apa yang pada diri musang belang-belang itu yang tidak terdapat pada diri Michelle? Jejerkanlah semua kemungkinan yang dapat kau temukan dan lihat apakah ada bahkan satu dari seribu hal yang dimiliki gadis itu yang luput dari kecemerlangan dirinya. Cantik? Pintar? Hmph! Kalau salah satu dari opsi yang kalian maksud adalah manja, genit, dan memalukan—jelas Michelle tidak memilikinya. Dan maaf, maaf saja. Ia juga tak mengira kalau mantan kekasihnya lebih merekomendasikan sifat-sifat semacam itu yang tercantum di dalam daftar tipe gadis atau selingkuhan idamannya. Ia pikir ia segalanya yang diinginkan Nate. Ia pikir mereka sempurna untuk saling mengisi satu sama lain.

You're with her now
I just can't figure it out


Namun mungkin itu hanya bayangan yang mengisi pemikirannya saja. Hanya dirinya yang berpikir seperti itu. Ingat apa yang dikatakan Nate saat mereka berpisah? Ia lelah. Excuse moi—he's tired—saudara-saudara, lelah pada hubungannya dengan Michelle. Tidakkah itu menjelaskan bahwa sesungguhnya semua kisah indah bak dalam dongeng itu hanya khayalan dari satu pihak saja? Dan ia merasa sangat konyol setiap kali teringat hal ini. Siapa yang dibodohi dalam cerita ini? Setiap kali ia merasa luarbiasa girang hanya karena sekiranya dapat duduk di sebelah pemuda itu saat pelajaran Ramuan, atau karena malam ini mereka akan tertawa bersama sambil menikmati akhir pekan di ruang rekreasi asrama—ia samasekali tidak menyadari bahwa satu-satunya hal yang berada dalam pikiran kekasihnya adalah, ia lelah dan akan sangat bersyukur jika si gadis musang datang dan membuyarkan semua adegan ini.

Damn hell—
mana Michelle tahu!?

Terlepas dari kenyataan ia jelas-jelas belum pernah mempelajari kemampuan Legilimency, siapa pula yang dapat menduga kalau semua senyum manis, tutur kata lembut yang ditawarkannya pada Michelle selama ini kemungkinan hanyalah sandiwara belaka?
Senja itu terasa lebih lama dibanding hari-hari lain di musim semi pada tahun yang sama. Pemandangan yang terpantul di permukaan danau hitam masih belum berubah. Teduh, hangat. Seakan dipeluk oleh semburat merah jingga yang terlukis di sana. Ketenangan yang menghiasi, hanya sesekali percik air dan gemerisik daun yang terdengar. Dan gelak tawa kecil yang berasal dari sepasang remaja di tepi danau.

"Memangnya seorang Nathan Harvarth bisa takut juga?" Kata yang perempuan, suara soprannya bernada ringan dan riang. Ia mengayunkan tangannya yang saling berkait dengan milik seorang lain yang berdiri di hadapannya, tatapannya menyorot pada rona merah yang tergurat di pipi lawan bicaranya. Diam sesaat, gadis itu berhenti bergerak dan menunduk sedikit, menimpali di dekat telinga pangerannya. "Kukira tidak ada hal yang bisa membuat orang lain tidak menyukaimu."

Secara tanpa sadar, gurat yang sama kini terpeta di wajahnya setelah mengucapkan kalimat terakhir. Kini terlihat jelas ia nampak salah tingkah, mungkin merasa kata-katanya agak berlebihan sekalipun terdengar begitu tulus ketika dilontarkan olehnya. Senyum manisnya jadi terlihat agak sedikit grogi, dan tatapan bolamata cokelatnya yang bening teralih sesaat ke arah danau.

“Menurutmu begitu?” ujar yang laki-laki dengan sedikit heran tapi senang juga mendengar ucapan gadis itu. Bola matanya bergulir meneliti wajah gadis itu yang terlihat agak salah tingkah, mungkin. “Tapi kurasa, aku memiliki lebih banyak orang yang membenciku ketimbang menteri sihir sekalipun,” ujarnya ringan seolah itu hal yang biasa atau mungkin hanya sebuah lelucon.

“Tapi aku senang, kalau Michelle memang berpendapat begitu. Itu berarti—kau benar-benar menyukaiku kan?“

Gadis pemilik nama Michelle terlonjak sedikit, kembali menyatukan pandangan keduanya selama sepersekian detik sebelum kembali pura-pura merasa sangat tertarik pada pemandangan di sekitarnya. "Kau ini bicara apa sih," jemarinya bergerak gelisah di bawah genggaman kekasihnya, "sudah pasti, kan?"

Michelle tidak mau mempercayai, kalau pada momen itupun Nate hanya berpura-pura tidak lelah.

Dan ia dengan naif-nya membiarkan tubuhnya direngkuh, sekali lagi terbenam dalam pelukan Nate, merasakan semua rasa yang tidak pernah berhenti menggelegak di dasar dadanya. Tak lagi peduli, Michelle lebih memilih untuk mempercayai bahwa pernyataan 'Fine. I'm tired of this, anyway!' yang terucap hari itulah yang salah—dan bukannya harapan yang selama ini diberikan oleh Nate. Dan, please—sekalipun Michelle tahu dengan jelas bahwa ia terdengar tolol saat menyadarinya—ia masih berharap bukan hanya dirinya yang mendera rasa sakit akibat perpisahan ini. Bukan hanya dirinya... yang ingin menganggap semua itu tidak pernah terjadi. Lupakan saja, dan mereka dapat kembali ke masa-masa dimana hanya ada Michelle dan Nate. Nate dan Michelle. The end.

Tell me why—
you're so hard to forget


Gadis itu mengangkat wajahnya, berusaha menghujam Nate dengan luapan emosi campur-aduk yang ia tembakkan melalui tatapan mata cokelat pekatnya pada sosok yang mengambil beberapa langkah mundur ke belakang. Sudahkan Michelle katakan bahwa ia belum menyerah? Ia akan membuktikan kalau apa yang ia percayai selama inilah yang benar—Nate dan perasaannya yang berbalas adalah nyata—dan bukannya kekonyolan bahwa selama setahun terakhir ia hidup dalam dunia khayal. Michelle tidak akan, melepaskan kesempatan untuk mendapatkan miliknya kembali.

Don't remind me—
I'm not over it


Ia terus mengawasi dalam diam, dengan tatapan tajam sekaligus penuh harapnya, siluet anak laki-laki yang beranjak dari posisinya dan menjauh selama beberapa saat. Sedikitpun tidak ia indahkan—sekalipun menyadari—pandangan bola mata lawan bicaranya yang jelas menghindarinya. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal. Kalimat yang cepat atau lambat akan meluncur keluar dari bibir pemuda itu—jawaban. Nate takkan dibiarkan melarikan diri dengan mudah dari tentunya, kalau memang ia berniat begitu.

Michelle menarik napasnya perlahan, teratur. Tubuhnya sudah mulai mendapatkan kembali panas yang hilang, meski tentu saja belum kering betul. Untunglah angin nampaknya juga enggan bertiup sehingga ia tidak perlu bergelut lebih lama dengan sensasi bulu kuduknya yang meremang; seakan tak pula berniat mengusik dua insan yang tengah terlibat situasi yang serius di tepi danau pada senja hari itu. Ia menggerakkan tangan, kini jemari-jemarinya ditautkan satu sama lain dan diletakkan di atas kedua lututnya yang terlipat di depan dada. Kedua maniknya masih membayangi punggung Nate ketika sosok itu memungut sesuatu, dan sesaat berselang berbalik.

“Seingatku, kau yang pertama melempar dan menginjak kalung itu.”

Cih. Gadis itu menelengkan kepala, melemparkan pandangnya ke arah lain saat pemuda di hadapannya mengulurkan jaket abu-abu yang sepertinya tadi ia campakkan sesaat sebelum menceburkan diri ke dalam danau. Ia tidak bergeming, diam selama beberapa detik dalam posisi seperti itu—kedua tangannya masih menelungkup di atas lutut. Jelas bukan itu jawaban yang ia inginkan akan terlontar dari mulut mantan kekasihnya tersebut—meski ketika dipikir ulang apa yang Nate katakan memang ada benarnya. Secara harfiah, memang ia yang memutuskan untuk mengakhiri semua hubungannya dengan pemuda itu. Merenggut dan membuang kalung miliknya yang menjadi simbol ia pernah menjadi milik Nate. Pernah.

Maybe I regret
Everything I said
No way to take it all back


Jika sekarang Michelle mengatakan bahwa ia menyesal sudah melakukan hal itu, apa semuanya akan kembali seperti dulu? Hmph, you wish.

"Bukan itu yang ingin kutanyakan," Ia mendengus kecil berkata dalam nada mendekati bisikan, matanya kembali menatap Nate dan nampak ragu beberapa saat sebelum menerima tawaran jaket yang diserahkan padanya, "kukira kau tidak lupa alasan mengapa aku melakukan hal itu."

Michelle terdiam, mau tidak mau kelebatan kejadian di Hogwarts Express hari itu tereka ulang dalam ingatannya. Ia tidak sanggup menatap wajah sosok di hadapannya yang begitu menyakitkan—mengingat perannya sebagai tokoh utama dalam adegan itu. Maka pandangannya berpindah sejenak pada jaket dalam genggamannya, tidak ia gunakan. Terakhir kali Nate menyampirkan—ralat, melemparkan—pakaian miliknya ke tubuh Michelle, itu terjadi di ruang rekreasi pada tengah malam dan sampai sekarang Michelle belum memiliki kekuatan untuk dapat mengembalikan milik pemuda itu. Keberadaan sebuah benda yang merupakan milik Nate di dekatnya membuat ia merasa tidak pernah ditinggalkan oleh pemiliknya.

Tell me why—

Seakan merasa pertanyaannya sebelum ini masih terasa ambigu dan mungkin dihindari, Michelle sekali lagi membuka mulut. "Kenapa kau menciumnya?" Kali ini suaranya terdengar lebih keras dan bergetar, dan sorot matanya masih terpaku pada benda di tangannya. Masih belum dikenakan. Pikirannya terlalu sibuk mempertimbangkan jawaban apa yang dapat dilontarkan lawan bicaranya setelah ini dan mempersiapkan diri untuk mendengarnya. 'Karena aku mau'? 'Karena ia manis'? 'Karena aku bosan denganmu'? Apapun itu.

Dan ia tak bisa membohongi diri sendiri dengan mengatakan ia tidak mengharapkan pernyataan maaf keluar dari mulut seorang Nathan Harvarth—seberapapun egoisnya ia terdengar sekarang.

—I'm just a little too not over you