Frilla
18.20, 24 Juni 1980


Seorang anak laki-laki berambut cokelat membuka pintu oak menuju kamar ayahnya—mendapati seorang pria dengan wajah pucat tidak sehat tengah duduk di tempat tidur merah tua di depan perapian sambil memegang cangkir putih berisi teh hangat yang masih mengepul. Dari suara-suara yang terdengar sudah bisa diketahui ayahnya sedang melakukan pembicaraan melalui floo. Padahal pria berumur kepala empat bernama Odieneer itu baru beberapa hari yang lalu keluar dari St. Mungo. Dan itupun, para penyembuh mengizinkan dengan berat hati—hanya takut karir mereka terancam jika tidak memenuhi keinginan seseorang bermarga Harvarth. Lalu belum ada seminggu, sekarang ia sudah menghubungi kolega-koleganya lagi untuk apa yang sepertinya mengurus Statoil, salah satu perusahaan muggle yang bergerak di bidang perminyakan tempat dia menanam saham—salah satu cara yang paling mudah meskipun berbahaya untuk mendapatkan uang.

“…Norsk Hydro sudah memberikan kabar? Katakan pada mereka untuk membalas secepatnya—pekerjaan di Rafsnes sudah terlalu lama ditunda. Lalu mengenai hak operasi—bagus. Tahun depan sudah harus selesai. Secepatnya,” ucap pria separuh baya di depan perapian itu dengan nada final, tanda perkataannya tidak bisa dibantah dengan argumen seperti apapun. Nada yang kerap kali digunakannya kepada anak laki-laki yang baru masuk itu ketika ia mencoba mengeluarkan pendapat menentang ayahnya mengenai suatu hal. Pria itu meneguk tehnya, sesaat tampak lebih lelah daripada biasanya. Odien akhirnya mengangkat kepalanya menemui mata bewarna kecokelatan milik anak laki-lakinya.

“Nathan.”

Anak yang dipanggil Nathan itu sedikit membungkuk dan berkata dengan agak segan, mengingat pertemuannya terakhir dengan ayahnya tidak berakhir dengan baik—sangat tidak baik malah, “sore, ayah. Bagaimana keadaanmu?”

“Baik. Bagaimana keadaanmu sendiri?”

“Yah, sama saja.”

“Kemari, duduk,” ucap sosok yang lebih tua menunjuk comfort chair di sebelah tempat tidurnya. Tidak tampak sekalipun berbeda dari biasanya, padahal Nate mengira bahwa beliau akan bersikap berbeda setelah insiden Gisselle kemarin. “Bagaimana tahun ini? Nilai-nilaimu—lalu, apa ada kejadian menarik?”

Nate tidak menjawab—kejadian menarik di sekolah. Michelle, kesalahannya hinga menyebabkan kekalahan asrama mereka dalam mempertahankan piala quidditch, detensi—tidak, ia tidak mendapat detensi tahun ini, hanya pengurangan poin asrama, lalu entah berapa kali ia tidak mengikuti kelas, nilai-nilainya yang menurun drastis... Tapi pada akhirnya ia menutup matanya dengan ekspresi seperti menderita kebosanan akut dan membuka mulutnya dengan yakin, “ah, sangat membosankan, tidak ada yang menarik.”

“Begitu...?” balas pria di depannya dengan wajah tidak percaya—seolah ia bisa mendeteksi tiap kebohongan di balik kata-kata anaknya. Tapi ia sepertinya tidak ingin mengorek lebih dalam, atau mungkin menunggu Nate untuk menceritakannya lebih dulu. Saat beberapa detik terlewat dan anak laki-laki itu tetap tidak tampak akan mengatakan apapun lagi, Odien membuka mulutnya lagi untuk mengalihkan pembicaraan, “Sudah dengar mengenai Kåre Willoch? Kalau beruntung, tahun depan dia akan menjadi perdana mentri muggle. Dan itu akan sangat menguntungkan untuk kita, tentu saja—mengingat Willoch sebenarnya seorang squib yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga kita. Perdagangan dan segala urusan kita dengan dunia muggle akan lebih mudah. Sungguh tepat keputusannya untuk berkiprah di dunia muggle.“

“Willoch, yang ada di pesta tiga tahun yang lalu?” tanya Nate dengan ekspresi tertarik.

“Ah, kau mengingatnya? Memang dia ada di sana waktu itu. Seorang pria yang karismatik, bukan? Besar kemungkinan dia terpilih di pemilu mendatang.”

Terdengar suara ketukan di pintu sebelum papan kayu oak itu terbuka dan menampilkan sosok wanita tinggi semapai dengan rambut pirang keemasan yang mencapai punggungnya. Tubuh rampingnya di balut gaun bewarna zamrud yang terlihat necis. Wajahnya memakai riasan warna natural, mempertegas kecantikan yang dimiliki wanita berdarah Itali itu. Di belakangnya peri rumah yang membawa baki dengan piring berisi scone di atasnya tampak terhuyung-huyung, sedikit kesulitan membawa benda yang lebih besar daripada tubuhnya. Meski begitu wanita itu hanya mengisyaratkan si peri rumah untuk meletakan nampan yang dibawanya di atas nakas sementara ia sendiri berjalan menghampiri suaminya, “dear, bukankah seharusnya kau beristirahat—kau kan belum sembuh benar, jangan memikirkan soal pekerjaan dulu.”

“Tidak apa-apa, Arianna.”

“Tapi kau juga harus menjaga kesehatanmu. Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi padamu—“

“Tidak apa-apa,” potong pria itu sambil mengangkat tangannya, “sampai Nathan bisa mengambil alih tugasku, aku belum bisa melepas tanggung jawabku.” ujar pria bersuara berat itu sambil menatap Nate dan tersenyum tipis.

Nate merasa nafasnya mendadak tertahan tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya nyengir tanpa arti—seperti orang idiot yang tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tahu, tahu dengan sangat pasti bahwa ayahnya selalu memiliki harapan yang besar padanya. Maklum saja, ia satu-satunya anak laki-laki yang bisa meneruskan namanya kelak. Satu-satunya yang bisa membawa nama keluarga mereka. Ia tahu tanggung jawabnya, tapi ketika disodorkan kepadanya secara langsung seperti ini, mau tidak mau ia jadi salah tingkah. Apalagi—apalagi karena ia menyadari ia tidak pantas diharapkan seperti itu. Menggantikan ayahnya berarti ia harus memiliki pengetahuan yang sangat luas dan menjadi sosok yang dihormati oleh semua orang. Penghormatan—ia bahkan tidak memiliki satupun alasan untuk dihormati.Ia hanya seorang anak tidak sah. Harapan itu terlalu tinggi, Nate tidak yakin bisa mencapainya.

“Ah, aku belum menyuruh Naine untuk merapikan barang-barangku. Aku akan datang lagi nanti,” ujarnya sambil sedikit membungkuk pada ayahnya. Baru kemudian keluar dari kamar itu dengan sedikit terburu-buru meskipun ia berusaha menutup-nutupinya.

Begitu pintu oak di belakangnya tertutup, Nate menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia menyibakan rambutnya ke belakang dengan wajah frustasi dan menghela nafas pelan. Ini sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya—bukan. Lebih tepat belum ia sadari benar-benar sebelumnya. Beban yang ada di pundaknya, belum pernah terasa seberat ini. Bagaimana mungkin ia bisa mencapai ekspektasi yang setinggi itu—ia tidak bisa apa-apa. Dia—bahkan bukan siapa-siapa. Hanya serumpun rumput liar di tengah-tengah taman bunga. Apa yang bisa ia lakukan?

“Berat, ya, ketika semua orang mengharapkanmu dan kau tahu kau tidak akan pernah memenuhi harapan mereka.”

Sebuah suara dengan nada dimanis-maniskan mencapai indranya. Bola mata bening milik anak laki-laki itu bergulir malas ke sisinya—tidak perlu melihat ia juga sudah dapat menebak siapa pemilik suara itu. Seorang gadis berambuk pirang kecokelatan yang sedang mengenakan summer dress bewarna ungu berdiri sekitar dua meter darinya. Cantik dan terlihat memikat meskipun dengan baju dengan model sederhana—tapi Nate yakin, harganya tidak mungkin masuk ke dalam kategori ‘sederhana’. Sosok cerminan dari ibunya—hanya saja lebih jauh lebih muda dan berbeda warna rambut. Dan kesan yang ditimbulkan. Itu perbedaan yang paling mencolok. Sementara ibunya—betapapun menyebalkan dan ingin ia singkirkan—terlihat anggun, gadis di dekatnya itu lebih berkesan ingin mendominasi dan penuh kepercayaan diri yang membuat darahnya mendidih. “Berisik. Ini bukan urusanmu, Miranda.”

“Touché,” ujar gadis berumur kepala dua yang bernama Miranda itu sambil memilin rambutnya dengan ekspresi puas yang tidak ditutup-tutupi—tampak menikmati setiap detik dari penderitaan yang ditimbulkan oleh kata-katanya. Sosok pirang itu membalikan tubuhnya membelakangi adik laki-lakinya dan berkata, “well, mungkin sebaiknya kau menyerah saja, Nathan. Gagal di berapa pelajaran tahun ini, hm? Sungguh—Ayah bermimpi terlalu besar untuk menjadikanmu penerusnya.”

Anak laki-laki itu menatap sosok yang berjalan menjauh tersebut dengan wajah geram. Beraninya berkata seperti itu—memangnya dia pikir dia itu siapa? Meskipun, meskipun ia tahu benar semua perkataan itu benar. Bagaimana bisa dia mewujudkan harapan ayahnya jika ia terus seperti ini. Pikirannya sibuk sendiri meratapi nasib hingga ia melupakan kewajibannya—statusnya yang tidak dapat disangkal. Memang ia bukan anak yang diharapkan, anak seorang wanita lain, hal itu tidak akan pernah berubah. Tapi setidaknya, ia tetap memiliki darah Harvarth di dalam nadinya. Harvarth—high defender, ia juga bisa bertahan, melindungi, apapun. Nate akan membuktikannya.

Ia—Nathan Kehl Harvarth—lah yang akan berdiri di posisi puncak.
Frilla
Tidakkah ini sedikit terlalu lama?

How, how am I supposed to feel—

Michelle sudah mempersiapkan diri sejak tadi untuk menghadapi yang terburuk. Apa? Dicium, dipukul, dilontari kata-kata merendahkan... apapun, sungguh. Namun Nate masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Kaku. Nyaris tidak bergerak malah. Hanya tatapan tajamnya yang seakan tengah berusaha berbicara, menyembunyikan emosi yang tak dapat ditafsirkan artinya. Gadis itu menahan napas, manik cokelatnya sendiri belum beranjak dari tempatnya terpancang sebelumnya—saling beradu pandang dengan milik lawan bicaranya. Nampak jelas ia berusaha keras meyakinkan pemuda di hadapannya maupun dirinya sendiri bahwa ia kuat—cukup kuat untuk bisa menerima apapun yang akan diputuskan Nate pantas untuk diberikan kepadanya.

—when everything surrounding me
Is nothing but a fake disguise


Dan untuk sesaat setelahnya Michelle sempat berharap bahwa Nate akan menerimanya kembali.

Bibirnya gemetar, saat ia ingin melirihkan jawaban atas pertanyaan pemuda itu. Sejak awal sedikitpun ia tidak berniat melepaskan janji itu—samasekali. Janji yang diikatnya dengan tulus, dihadiahkan sebagai bukti seberapa besar pemuda itu telah berhasil mengisi hidupnya. Nate adalah bagian paling penting dalam dirinya, terlepas dari kenyataan ibunya berada di dunia lain—dunia Muggle—dan ayahnya berkelana entah kemana, dan ia telah menggantungkan terlalu banyak hal kepada keberadaan sosok itu. Ia kira mereka saling membutuhkan satu sama lain, mereka sempurna untuk melengkapi satu sama lain... sehingga saling bergantung juga tidak mengapa.

Michelle tidak menyesal, memikirkannya saja tidak, sampai tiba fase dimana ia mengetahui bahwa ia bukan satu-satunya milik Nate. Tahukah betapa hancur kepercayaannya saat menyaksikan semua kejadian pemuda itu mencium gadis lain berlangsung di hadapannya. Begitu besar bagian dari dirinya—seluruh hatinya bahkan—telah ia serahkan dan ternyata orang yang menerimanya tidak puas dengan merasa hanya dari Michelle saja sudah cukup. Perasaannya bertepuk sebelah tangan, setidaknya itu fakta lain yang harus diterimanya.

I don't know,
I don't know where I belong


Namun ia sudah memutuskan. Kalau memang Nate bersedia, ia tetap menjadi miliknya juga tidak apa-apa. Diduakan, ditigakan, tidak menjadi nomor satu, ia rela. Sekalipun dengan semua pengorbanan dan perasaan yang ia curahkan, ia tidak menerima yang setimpal, Michelle sungguh tidak peduli. Bayangan Nate kembali ke pelukannya saja sudah begitu indah terbayang di pelupuk matanya—

—asalkan Nate bersedia, Michelle akan tetap menjadi miliknya.
"Oh, ya?" Gadis itu menyembunyikan rona merah yang sejenak meliputi kedua pipinya karena mendadak disuguhi pengakuan—membuatnya spontan mengalihkan pandang ke arah lain selama beberapa detik. "Hei, sudah mulai gelap nih." Mengalihkan pembicaraan.

"Argh... Michelle tidak seru, ah. Masa cuma begitu saja," ujar yang laki-laki diiringi oleh tawa untuk menutupi rasa malunya setelah sadar mengenai apa yang diucapkanya barusan. Ia berdiri dan mengibaskan rumput yang menempel di bajunya. Baru kemudian mengulurkan tangannya kepada gadis ikal di dekatnya. "Kembali ke kastil, yuk."

Sang gadis hanya menunjukkan cengiran tidak bersalah, menyambut uluran tangan yang ditujukan padanya dan mengangguk. Digenggamnya erat-erat, ketika langkah mereka beriringan meninggalkan kawasan danau. Pantulan warna jingga tua tersirat di atas bola mata cokelat itu, ketika pandangan sang putri mengerling pada pemilik jemari yang menggenggamnya.

"Aku juga sayang, kok."

Namun bagaimana jika Nate tidak menginginkannya?

Pemuda itu akan melepaskan pelukannya, melepaskan genggamannya, untuk selamanya. Tidak akan menoleh untuk melihatnya lagi. Tidak akan tersenyum dan berbicara lagi. Michelle tidak cukup pintar, tidak cukup berharga, untuk bahkan menjadi nomor dua atau nomor tiganya. Michelle yang naif dan dibutakan oleh cinta. Samasekali tidak pantas untuk seorang pangeran. Tidak. Pantas.

I can't stop the rain from fallin'
I'm drownin' in these tears I cry


Dan itulah yang terjadi.

Pelukan itu datang dan pergi begitu saja—tanpa pertanda, tanpa peringatan. Ketika Michelle membuka kembali kelopak matanya, punggung Nate sudah berlalu meninggalkannya. Sedikitpun, barang hanya sekejap, tidak berbalik. Mencampakkannya. Michelle yang tidak berharga bahkan untuk menerima sepatah kata perpisahan, hanya ditinggalkan khayalan yang lagi-lagi hanya ia seorang yang menikmati dan airmata untuk dihabiskan.

Ia ingin berteriak. Sangat ingin, meronta dan memohon agar pemuda itu tidak pergi dan membiarkan dirinya begitu saja seperti ini. Persetan dengan harga diri, she desperately needs him. Namun ketika bayangan mengenai apa yang akan selanjutnya terjadi jika ia melakukan hal sesuai kehendak emosinya itu, membuatnya tak ayal lagi semakin sakit. Nate sudah memutuskan, dan bukankah ia sudah menyiapkan diri untuk segalanya? Untuk kemungkinan yang terburuk bahwa—sekali lagi Nate memberinya harapan setinggi langit kemudian mencampakkannya kembali ke tanah.

Sakit. Nyeri yang perlahan menyusup, berdenyut-denyut di dadanya dengan keji. Jaket abu-abu di pangkuannya kini dipenuhi pola titik-titik air, sementara semburat jingga dengan cepat menghilang ditelan permukaan danau di kejauhan. Kenapa ia tidak menampar saja? Kenapa ia tidak mengata-ngatai saja? Akan jauh lebih baik. Ia tidak akan merasa sedemikian sakit. Kenyataannya Michelle tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang paling buruk—ia masih sekali lagi berharap. Dan mungkin keputusan Nate untuk menghempaskan semuanya barusan adalah tepat, karena tak ada lagi harapan yang tersisa kini. Sudah tidak ada lagi. Michelle menyerah.

Sudah berakhir, tidak ada lagi kelanjutan dari kisah ini. Berakhir. Meninggalkannya dalam kegelapan seorang diri.

I can't stop, I can't stop the rain
From fallin'
Frilla

Sienna Immanuela Duske

((Visualisasi: Meg Ryan))
Pureblood
Verona, Italia
20 Juli 1967


Nama Panggilan:
Sienna
Suku Bangsa Karakter: Inggris-Italia
Asrama: Slytherin
Peliharaan: Seekor burung hantu putih bersih jantan bernama Luce
Tongkat sihir: Holly, 30 1/4 senti, dengan inti urat nadi Phoenix Honduras

Latar Belakang Keluarga

Nama Ayah: Clifford Gene Duske (Pureblood)
Nama Ibu: Bianca DeFiore/Bianca Duske (Pureblood)
Nama Saudara: --
Latar Belakang Keluarga:
Clifford Duske dan Bianca DeFiore bertemu saat Clifford Duske pergi bersama keluarganya dan juga kakak laki-lakinya yang kini dibuang dari daftar nama keluarga pergi ke Italia. Pertemuan pertama mereka terjadi ketika usia mereka dua puluh tahun bagi Clifford dan delapan belas tahun bagi Bianca. Clifford, adalah lulusan Hogwarts dari asrama Slytherin dengan nilai yang bagus namun tidak terlalu istimewa sedangkan Bianca baru saja lulus dari Beauxbaton. Setelah perkenalan pertama mereka yang diatur oleh orang tua mereka, setahun kemudian mereka menikah dan baru dua tahun setelah pernikahan mereka Sienna lahir. Clifford seorang yang noble dan tahu sopan-santun, sedangkan Bianca adalah wanita yang berharga diri tinggi. Kedua sifat orang tuanya menurun kepada Sienna. Saat ini keluarga Clifford Duske sedang mengalami krisis perebutan warisan yang akan dibagikan oleh keluarga inti Duske yang lain. Jika mereka tak mendapatkannya atau jika Sienna tak dapat menjadikan dirinya sebagai pewaris, maka pewaris yang mendapatkannya bisa mendepak mereka dari silsilah keluarga Duske karena dianggap terlalu lembek terhadap Muggle.


Data Personal

Personaliti Karakter:
-Selalu mengatakan apapun dengan jelas dan tegas. Tidak suka terhadap penolakan.
-Seorang Nona Muda yang selalu dapat bersikap dengan baik, namun ia juga tidak selalu menyuruh seseorang atau pelayannya untuk memenuhi semua kebutuhannya (mandiri).
-Dapat dibilang lumayan angkuh.
-Selalu bersikap kalem, kecuali bila menyangkut sepupunya yang bernama Conrad Cassius Duske atau jika ada orang yang baginya mengesalkan dan tidak sopan.
-Menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan bunga. Ia akan sangat berterima kasih sekali kepada orang-orang yang memberikannya (apapun status orang tersebut).
-Cukup ramah dan toleran kepada Muggleborn/Muggle, namun tidak begitu diperlihatkan.

Bakat dan Kekurangan:
BAKAT: Mantra, Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Ramuan, Transfigurasi, Herbologi
KEKURANGAN: Sejarah Sihir, Astronomi, Rune Kuno, Arithmancy, Telaah Muggle, Ramalan, Pemeliharaan Satwa Gaib, Terbang




Arvid E. Corleone
((Visualisasi: James Harris))
Pureblood
Stockholm, Swedia
18 November 1967



Nama Panggilan:
Arvid, Corleone, Excal.
Suku Bangsa Karakter: Swedia
Asrama: Slytherin
Tahun Masuk Hogwarts: 1978
Peliharaan: Burung Hantu Elang -- Sven.
Tongkat sihir: Reed, 30 centimeter, Inti sisik naga Hungaria.

Latar Belakang Keluarga

Nama Ayah: Sven Corleone -- Pureblood
Nama Ibu: Charlotte Nobel, nee. Corleone -- Pureblood
Nama Saudara:
- Anthony Corleone, Kakek, Pureblood.
- Lucia Corleone, Nenek, Pureblood. [R.I.P]
- Mia. A. Corleone, Saudara Kembar , Pureblood.
- Polarish C. Quinn, Sepupu jauh, Halfblood.
- Sienna Immanuella Duske, Sepupu jauh, Pureblood.

Latar Belakang Keluarga:
Keluarga Corleone merupakan salah satu dari The Fifth Great Family (Lima keluarga besar) Mafia yang menguasai hampir seluruh aspek di dunia hitam Italia dan Amerika, serta Swedia. Diantara keluarga-keluarga Mafia tersebut, Keluarga Corleone adalah keluarga yang paling besar dan paling kuat pengaruhnya. Pengaruhnya tidak hanya tertancap di dalam dunia Muggle melalui regime-regimenya yang luar biasa, tetapi juga di Dunia penyihir melalui banyaknya para keluarga Pureblood murni yang berada di bawah naungannya. Keseimbangan dan konsistensi diantara para pengikut Muggle dan penyihir keluarga Corleone dalam tugas-tugasnya menjadikan keluarga Corleone salah satu keluarga Mafia paling berkuasa di Dunia. Keluarga Corleone sendiri merupakan keluarga Penyihir berdarah murni yang sangat disegani. Namun, fakta kalau mereka adalah keluarga penyihir hanya diketahui sebagian kecil keluarga penyihir berdarah murni lainnya.

Tentu saja karena kemahiran puluhan intel Keluarga Corleone yang dengan mudahnya memanipulasi informasi di dalam Kemetrian dunia Sihir maupun Muggle. Para intel tersebut mengubah identitas keluarga Corleone menjadi keluarga Muggle. Kenapa mereka melakukan hal itu? Jawabannya simple. Karena dengan cara itulah keluarga Corleone akan lebih mudah dalam menjalankan 'bisnis'nya. Menurut mereka, menjadi keluarga Muggle bisa diartikan lolos dari pengawasan Kementerian Sihir yang dianggap merupakan bahaya besar dalam kelancaran bisnis Keluarga Corleone.

Bisnis keluarga Corleone sendiri bervariasi, dan melingkupi banyak aspek. Diantaranya perjudian (Dengan membangun 4 Hotel berbintang di Las Vegas, Amerika), penjualan obat-obat terlarang (termasuk diantaranya Ramuan Ilmu hitam dan benda-benda berbahaya lainnya), dll. Kebangkitan keluarga Corleone sendiri dimulai di tahun 1950-an ketika kakek buyut Arvid, Michael Corleone, memindahkan Markas Keluarga Corleone dari New York City menuju Las Vegas yang saat itu masih belum berkembang. Keputusannya saat itu merupakan pilihan yang sangat tepat karena dari Las Vegas itulah Keluarga Corleone memperoleh dana yang sangat besar untuk melebarkan sayap mereka di seluruh Amerika. Dimulai dengan diskusi dan gencatan senjata dengan Al Capone di Chicago sampai pembantaian sisa-sisa Keluarga Tattaglia di New York. Setelah itu keluarga Corleone memasuki masa tenang dengan lahirnya Anthony Corleone dan Mary Corleone, anak dari Michael Corleone. Setelah beberapa tahun berlalu, pengangkatan Anthony Corleone menjadi capofamiglia atau kepala Keluarga pun dilangsungkan. Dan kebijakannya yang pertama adalah menjalin hubungan dengan keluarga Penyihir berdarah murni lainnya dengan berbagai cara, diantaranya melalui pernikahan. Karena itulah keluarga Corleone memiliki hubungan darah dengan Keluarga Harvath di Norwegia, Keluarga Quinn serta Keluarga Duske.

Anthony Corleone yang menjalin hubungan dengan Lucia Lampone menikah, dan dari pernikahan itulah Sven Corleone, ayah Arvid, lahir. Setelah beberapa tahun, Anthony menyerahkan jabatan sebagai Capofamiglia atau kepala keluarga pada Sven sementara Anthony sendiri hidup di Sicillia, Italia. Tak lama setelah pengangkatan, Sven menikah dengan Charlotte Novel, salah satu keluarga penyihir besar di Swedia untuk membina hubungan baik dengan keluarga tersebut. Pernikahan itu melahirkan Arvid dan Mia. Sayangnya, pernikahan tersebut tidak berlangsung lama karena perbedaan pandangan yang menyebabkan mereka bercerai. Mia pergi bersama dengan ibunya, Charlotta Nobel dan pindah ke Inggris sementara Arvid bersama dengan ayahnya, Sven, tinggal di Swedia.


Data Personal

Personaliti Karakter:
Pendiam, sedikit psikopatis. Tidak banyak bicara dan kurang terbuka kepada orang yang tidak ia kenal dengan baik. Mempunyai sisi melankolis yang hanya muncul sesekali. Pyromaniac. Dan tambahan terakhir: Sangat menyukai Galleon.

Bakat dan Kekurangan:
Mempunyai bakat merata hampir di semua pelajaran, kecuali Herbologi. Mempunyai ketertarikan tersendiri terhadap PTIH.


*Karakter SID adalah buatan PM yang bersangkutan, Toki :)
**karakter AEC adalah buatan PM yang bersangkutan, Ajur :)
Frilla

Szent Corvinus Istvan
((Visualisasi: Jermy Young)
Pureblood
Budapest, Hungaria
10 Desember 1967

Nama Panggilan: Szent
Suku Bangsa Karakter: Hungaria-Transylvania
Asrama: Slytherin
Tahun Masuk Hogwarts: 1978
Peliharaan: burung hantu elang
Tongkat sihir: elder 271/2 cm, inti sisik naga Hungaria
Posisi di Tim Quidditch: Chaser


Latar Belakang Keluarga

Nama Ayah: Corvinus Walfaren Istvan (pure-blood)
Nama Ibu: Joannes Laurencii Rozsa (pure-blood)
Nama Saudara: --
Latar Belakang Keluarga:
Keturunan langsung pendiri Hungaria, Santo Istvan yang merupakan keluarga ayahnya dan ibunya yang merupakan cicit langsung Vlad Draculya. Ayahnya berprofesi sebagai dokter bedah (yang membuat Szent memiliki obsesi terhadap organ tubuh manusia maupun hewan) sementara ibunya merupakan perawat yang bekerja di rumah sakit yang sama.


Data Personal

Personaliti Karakter: anak aneh yang psycho, jarang bicara dan sangat menyukai darah atau hal yang berhubungan dengan organ dalam makhluk hidup. Menyukai kesempurnaan (hingga memotong seluruh jari pelayannya karena merusak buku warisan keluarga Istvan).

Bakat dan Kekurangan:
Bakat: transfigurasi, mantra, ramuan, arithmancy. Sangat tertarik pada pemeliharaan satwa gaib (diam-diam berusaha membedah hewan-hewan itu untuk melihat organ dalamnya yang berbeda dengan hewan biasa). Tidak tertarik pada telaah muggle (orang tuanya sudah meninggalkannya sebelum sempat memberitahu hal-hal yang berhubungan dengan sihir. Dengan kata lain ia dibesarkan tanpa mengenal sihir).

Kekurangan:
pelajaran terbang, astronomi dan ramalan, sejarah sihir


*Semua mengenai SCI adalah milik PM yang bersangkutan, Haru
**
Edit soon: Sylar Lazarus
Frilla


Mi
chelline Fara Solathel

((Visualisasi: Leah Dizon))
Half-blood
Avallon, France
September 14th 1965



Nama Panggilan:
Michelle / Sola
Suku Bangsa Karakter: Perancis - Korea
Asrama: Slytherin
Peliharaan: anak kucing Russian Blue, berbulu abu-abu dengan mata bulat besar berwarna biru, Azure.
Tongkat sihir: Vine, 28.5 cms, inti helaian rambut emas Unicorn
Sapu terbang: Nimbus 1001
Posisi di Tim Quidditch: Chaser


Latar Belakang Keluarga

Nama Ayah: Jean-Édouard Crosette (Pure-blood)
Nama Ibu: Kimberly Kim, Eun-soo (Muggle)
Nama Saudara: --

Latar Belakang Keluarga:
Jean-Édouard merupakan satu-satunya keturunan yang tersisa dari keluarga Crosette, keluarga penyihir yang menyandang status pure-blood. Entah kutukan apa yang menghantui dua generasi terakhir keluarga ini, seluruh anggotanya terbunuh satu persatu secara misterius. Sebagai salah satu keturunan terakhir keluarga ini, Jean-Édouard dapat merasakan bahwa keadaannya tengah terancam. Seusai menyelesaikan pendidikan sihir di Hogwarts, lelaki ini kemudian melarikan diri ke Asia untuk menjalani kehidupan normal. Dalam penyembunyian identitasnya sebagai seorang penyihir, ia bertemu dan menjalin hubungan dengan seorang muggle berkebangsaan Korea, Kim Eun-soo.

Sayangnya sebelum mereka sempat mengecap kehidupan yang tenang, kementrian memanggil Jean-Édouard untuk kembali ke dunia sihir. Dalam kondisi yang amat sulit, ia memaksa diri untuk memboyong istrinya berdiam di negaranya, selagi ia menyelesaikan segala masalah yang perlu ia selesaikan di dunia sihir menyangkut keberadaan keluarga Crosette. Namun sesaat berselang usai kelahiran putri mereka, Jean-Édouard tidak pernah kembali lagi ke dunia muggle untuk menemui keluarganya. Juga tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Bahkan masih hidup atau tidaknya pun tidak diketahui. Sejak saat itu Kim Eun-soo terpaksa bekerja seorang diri di negara asing, membanting tulang untuk dapat menghidupi diri dan putrinya, sementara masih dengan setia tetap menanti kepulangan suaminya.


Data Personal

Personaliti Karakter:
Michelle yang sebenarnya (sebelum lupa ingatan) lebih dikenal dengan panggilan Sola, merupakan gadis yang sangat cuek, keras kepala, pecinta kebebasan dan temperamental. Apa yang ia kehendaki harus tercapai, dengan cara yang ia sukai. Sering seenaknya dan mementingkan diri sendiri. Menemukan dan membalaskan dendam kepada ayahnya adalah tujuan terbesar dalam hidupnya, sekaligus alasan mengapa ia rela meninggalkan ibunya dan memasuki dunia sihir.

Setelah ia mengalami kecelakaan dalam lupa ingatan, Michelle yang sekarang jauh lebih fleksibel dan periang, namun tidak ia tunjukkan. Dari luar ia dapat terlihat sangat judes dan menyebalkan, meski sebenarnya tidak sejauh itu. Suka melakukan hal-hal yang bertujuan untuk menarik perhatian orang lain, juga pandai menjilat. Ingatannya yang kembali tak lama kemudian membentuknya menjadi sosok yang lebih matang. Hal yang masih kentara dari seorang Michelle kini adalah kecerdasan pertimbangannya dalam melakukan segala hal, agar keinginannya dapat tercapai. Ambisi dan obsesi terbesarnya adalah menjadi seorang tuan putri.

Bakat dan Kekurangan: Sepertinya berbakat pada pelajaran: Terbang, Transfigurasi dan Mantra. Pelajaran favorit: Telaah Muggle, Astronomi dan Ramalan. Tidak berbakat dan akan melakukan apa saja agar dapat lolos dari pelajaran: Herbologi, Arithmancy, Pemeliharaan Satwa Gaib dan Sejarah Sihir.


Keterangan Lain

Mengalami kecelakaan saat libur Natal di Perancis pada tahun pertamanya, menyebabkan ia terbaring koma selama enam bulan dan kehilangan ingatannya. Ia terpaksa harus mengulang tahun pertama di Hogwarts pada tahun ajaran selanjutnya.

Mendapat petunjuk bahwa kemungkinan ayahnya masih hidup. Perlahan mulai dapat mengesampingkan dendam dan kebenciannya terhadap sang ayah.

Sudah putus dari Nathan K. Harvarth. Membuat sebagian besar hidupnya kacau, berusaha keras untuk menutupinya dengan berpura-pura baik-baik saja. Kepribadiannya banyak kembali pada dirinya yang dulu (Sola), dan sebisa mungkin melupakan hal yang menyangkut mantan kekasihnya tersebut.



*Semua hal mengenai MFS adalah ciptaan PM karakter ini, Ameh ;)
Frilla
Rasa sayang… harapan agar perasaan ini tidak pernah berubah. Aku mengharapkan kebahagiannya. Lalu kapan aku siap melepasnya? Dia selalu menarikku. Akhir-akhir ini apapun yang kulakukan, aku selalu mengambil langkah mundur.

Kalau begini terus, tidak akan bisa lepas. Diriku sendiri yang membuatku... kian dililit oleh rasa ingin memiliki. Perasaan yang membuatmu bagaikan mengejar ilusi.




Dear princess, don’t you understand? He’s not good enough. Nate tahu dengan pasti, gadis itu bukan gadis biasa yang bisa ditemukan di tiap sudut daratan Eropa. Helen of Sparta, banyak—kalau bukan semua orang, mengakui kecantikannya, pembawaannya yang anggun dan memikat, dan kepandaiannya. Sempurna, memikat. Bukan cuma Nate yang menginginkan gadis itu untuk dirinya seorang. Ia tahu dengan pasti, banyak anak laki-laki yang melirik gadis itu dengan kagum—terpana dengan kecantikannya. Keegoisan sebesar apa, kepercayaan diri yang sebesar apa, hingga Nate pernah percaya ia cukup baik untuk sang putri? Ia terlalu memandang tinggi dirinya—tapi ia sadar sekarang, selama ini ia hanya mengejar sebuah ilusi. Imajinasi yang tidak akan pernah terjadi dalam kenyataan.

Bagian mana dari dirinya yang pantas untuk disandingkan dengan seseorang yang begitu surreal—sosok sempurna yang ia kira hanya ada dalam dongeng?

Tidak ada.

Ia tampan, selama ini ia percaya hal itu. Pintar, kalau bukan jenius. Keluarganya terpandang, Harvarth—keluarga tertua di Skandinavia, kaya raya. Tiga aspek itu bisa ia banggakan, memang. Tapi—ia tidak seperti itu. Kalau ia cukup pantas—tidak akan ada orang yang mengatakan bahwa ia seharusnya tidak dilahirkan. Kalau ia memang sehebat yang dikiranya, ayahnya tidak akan merasa kecewa terhadapnya. Kalau ia memang cukup baik, tidak akan ada yang mengatakan dirinya memuakan, kotor, sampah. Ia tidak cukup baik. Ia mengerti, sangat.

Memories fade like yesterday to the setting sun
Picture us in a still frame
with every sigh it's done




“Hm… menurutmu bagaimana?” Tanya sang pemuda, membalas pertanyaan yang diajukan padanya dengan sebuah pertanyaan lain. Matanya masih terpejam, menikmati suasana senja yang hening dan sentuhan jemari gadis itu. Di sana hanya ada mereka berdua. Tidak ada orang lain.

“Menurutmu aku tipe yang sudah mengerjakan esai sebelum detik-detik terakhir atau bukan?“

Senja yang diharapnya tidak akan usai. Gadis itu menikmati detik-detik yang bergerak lambat dalam kedamaian ketika bibirnya perlahan menggumamkan jawaban, "Karena selama ini aku belum pernah dengar para profesor mengomentarimu tidak mengerjakan tugas jadi... kurasa ya, atau aku salah?" Senyum tipis terbentuk di wajahnya. "Jangan lupa mengembalikan esai Sylar tepat pada waktunya, dear."

Jemarinya bergerak menyisikan poni yang menutupi kening pemuda yang duduk di sisinya—memutar lehernya sedikit untuk dapat mendaratkan sebuah kecupan disana.

Gelak tawa yang sempat keluar dari mulut sang pemuda ketika mendengar perbuatannya menyalin esai orang lain diketahui langsung terhenti. Ia membuka matanya dan mendongak—menatap gadis itu beberapa detik sebelum nyengir senang.

“Aku sayang kamu, benar, deh.”




Satu. Dua. Tiga. Sudah berapa kali Nate menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Michelle? Entah. Dia sendiri sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali ia telah menghindar dari pertanyaan yang diajukannya pada dirinya sendiri. Semakin dihindari, semakin banyak pertanyaan yang timbul. Mati satu, tumbuh seribu—kalau menurut peribahasa. Ia tidak pernah tahu arti sesungguhnya dari kalimat itu hingga sekarang. Ketika setiap pertanyaan yang ditepisnya hanya menghadirkan seribu pertanyaan baru yang menanti jawabannya.

I'm the one who understands
Yeah, I'm the one without chance
Now I know I could never be your man


Bagaimana mungkin kalimat yang tidak bertanggung jawab itu bisa keluar dari mulut seorang Michelline Fara Solathel? Bagaimana bisa? Nate terdiam. Kaku—tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Setengah bagian dari dirinya ingin memukul gadis itu untuk mengatakan hal-hal seperti itu—seolah, seolah Michelle menganggapnya seorang laki-laki brengsek. Tapi setengah dirinya yang lain ia tahu, ia memang brengsek. Sudah sewajarnya gadis itu menganggap rendah dirinya. Bukankah itu yang ia tunggu-tunggu? Dianggap rendah, dibenci. Apapun boleh ‘kan? Asalkan memang itu keinginan Michelle—asalkan sang putri bahagia, Nate rela menanggung segala resikonya. Meskipun itu berarti merelakan gadis itu, meskipun dia harus menyerahkan jiwanya pada setan sekalipun.

Tapi egonya sekali lagi mengambil alih dirinya.

Tangannya sekali lagi menyelip ke belakang gadis itu, merengkuhnya dengan lembut. Ia egois—sangat egois. Sekali lagi, ia melakukan hal yang tidak bisa ia pertanggung jawabkan. Tapi, demi Merlin, ia tidak bisa diam saja—tanpa mengatakan apa-apa, tanpa berbuat apa-apa. Dua kutub dirinya masing-masing tidak bisa menang melawan yang lain.

“Will you keep that promise, still?” tanyanya pelan pada gadis di dalam rengkuhannya—berharap ilusi yang ada di depan matanya bisa ia rengkuh meskipun hanya sekejap. Egois. Bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan sang putri?
APA YANG KAU LAKUKAN?

Seperti tersambar listrik—ia melepas gadis itu. Berdiri dengan cepat tanpa memandang bola mata bening milik gadis itu. Tidak berani menatap gadis itu lebih lama. Lagi-lagi. Ia melakukan kesalahan lagi. Anak laki-laki itu mengumpat pelan dan melangkah pergi dengan cepat, kembali ke kastil. Tanpa kalimat perpisahan, tanpa... apa-apa. Pergi begitu saja. Berusaha tidak berbalik apapun, apapun reaksi dari gadis ikal itu. Sudah saja. Nate meninggalkan sosok yang mengisi bagian besar dari dirinya di tepi danau hitam—tempat kenangan mereka. Sudah. Selesai. Lagipula—Prince Harvarth tidak memerlukan siapa-siapa bukan? Ia sudah memiliki semuanya. Semuanya. Ketika semuanya itu tidak berarti apa-apa. Ini yang ia inginkan bukan?

Sang surya bersembunyi. Senja berganti malam, siang telah berakhir. Hari telah berakhir—seperti mereka berdua... berakhir.

With all I try still I know I can't
Cause I'm not good enough
Frilla
Oh, how about a round of applause?
Yeah, standing' ovation?


Michelline Fara Solathel, generasi terakhir keturunan langsung keluarga bangsawan Crosette yang tersohor di Perancis. Di usianya yang baru lima belas tahun lewat sedikit, ia tergolong gadis yang istimewa. Tidak sedikit gadis-gadis muda yang memandang iri pada wajah campuran oriental yang mempesona miliknya, dilengkapi dengan uraian rambut cokelat panjang mencapai pinggang yang sangat sepadan dengan tubuh semampainya. Ramping dan cantik. Penampilannya sangat terjaga, namun tidak hanya itu. Otaknya cerdas, dan orang-orang takkan meragukan bakat sihirnya yang mengundang decak kagum kemungkinan berasal dari warisan keluarga ayahnya yang notabene berdarah murni—sekalipun ia sendiri akan bersikeras bahwa hal ini tak ada hubungannya dengan silsilah keluarga terkutuk itu.

Semua orang memandangnya takjub. Semua orang memandangnya kagum.

Lalu, apakah ia merasa dirinya tidak cukup beruntung dengan semua berkat yang diturunkan kepadanya ini? Tidak. Karena asal tahu saja, selama ini apa yang menjadi keinginannya tidak pernah terwujud dengan baik. Ambisi-ambisi terbesarnya dalam hidup masih jauh dari genggaman. Dan selagi ia berusaha keras mengejar semua obsesi itu, satu persatu hal yang ia miliki terlepas; tanpa pernah memberinya kesempatan untuk mendapatkannya kembali. Hmph, ralat. Mungkin dari awal justru tidak pernah sekalipun digenggamnya. Hanya delusi semata, delusi yang mengizinnya merasakan seolah-olah ia pernah memiliki sesuatu yang begitu berharga. Seolah-olah.

Dan ia betul-betul tidak tahu harus berbuat apa atas drama yang dikemas dengan demikian manis di hadapannya—semenjak satu tahun yang lalu hingga detik ini. Tak pernah sekalipun terendus olehnya semua ini hanya suatu plot untuk membodohi dirinya. Jadi begitu. Semuanya dusta.

Ia tidak pernah benar-benar menjadi seorang tuan putri. Dalam dongeng dan khayalanpun tidak. Entah seberapa sempurnanya ia nampak di luar, ternyata tidak cukup baik untuk dapat bersanding di sisi Sang Pangeran yang terhormat. Ia kira selama ini mereka pasangan serasi. Ia kira selama ini ia berhasil membuat Nate bahagia, bangga akan keberadaannya di sisinya. Ia kira selama ini mereka pemilik kisah happy ending, happily-ever-after. Namun ia salah. Dan ia bisa bilang apa? Pemuda itu sukses membuatnya percaya dengan semua ucapan manisnya. Bahkan membuatnya menjanjikan dirinya, oh Merlin, ia tidak berani membayangkan bagaimana gelinya Nate saat itu.

Oh, and the award for the best liar goes to you
For making me believe that you could be faithful to me


Jangan bercanda. Sikap macam apa ini? Kau kira siapa dirimu? Kau kira dengan siapa kau berhadapan? Nate, tidak akan pernah bersikap seperti ini di hadapan Michelle dan terutama—bersikap seperti ini kepada Michelle. Jangan samakan dirinya dengan Anya atau entah siapa lagi gadis-gadis lemah di luar sana. Bukankah Michelle tuan putrinya? Bukankah ia bilang hanya Michelle satu-satunya? Bukankah ia tahu Michelle tidak akan tersipu dan merunduk malu saat menghadapi Nate yang berkata-kata seperti barusan? Tentu, ia tahu. Ia sengaja. Michelle hanya tidak tahu alasan mengapa ia sengaja berlaku menyebalkan seperti itu. Untuk menyakiti Michelle? Untuk mengatakan bahwa cukup sudah, ia bosan dengan permainan membodohi Michelle?

Belum cukup puas ia menyakiti Michelle atas satu tahun penuh adegan sandiwara ini?

Gadis itu dapat merasakan bagaimana peraaan campur aduk yang meliputi kekecewaan, rasa pedih dan kemarahan perlahan meluap dan memenuhi dadanya. Tidak ada emosi dan airmata, juga tidak ada tamparan. Namun manik cokelat itu jelas menatap dengan penuh rasa sakit terpatri di permukaannya. Tatapan yang menghujam pada sepasang bola mata lain yang tengah bertemu pandang dengannya—tatapan terluka. Bola mata yang disangkanya selalu mengungkap ketulusan dan kejujuran. Rasa sayang dan perlindungan. Kemana semua itu? Semua itu kini hanya terganti oleh keangkuhan, merendahkan dan mengintimidasi. Sebagaimana tatapannya pada orang-orang lain.

Ia kira tatapan itu tidak akan pernah ditujukan untuknya. Ia kira hanya senyuman manis yang akan dihadiahkan Nate kepadanya. Sekali lagi, ia salah.

Please, just cut it out

"I am." Michelle mendongak, lekat-lekat mendaratkan tatapannya pada pemuda di hadapannya, "Lakukan apa saja—I'm yours, anyway, ain't I?" lanjutnya dengan suara bergetar, namun tegas. Kalau ia mengharapkan Michelle akan sekali lagi jatuh terpuruk dan berlinang airmata, ia salah besar. Michelle memang lemah, Michelle memang rapuh. Namun tak pernah sekalipun akan ia tunjukkan. Setidaknya tidak sekarang, tidak di hadapan orang yang telah begitu keji menyakitinya. Toh, ini bukan kali pertama. Hatinya sudah lebih dulu tercungkil, dan ia sendiri tak yakin apakah matanya masih menyimpan persediaan airmata untuk dihabiskan. Lakukan apa saja... Michelle terlalu naif untuk dapat menyadari dirinya hanya sebuah mainan.
Raut cemas sedikit memudar dari wajah gadis dengan sentuhan Asia itu, ketika kemudian ia mengambil posisi duduk di sisi pemuda berambut cokelat. "Kau membuatku khawatir," jemarinya kembali merengkuh tangan kekasihnya, "jangan bicara yang bukan-bukan lagi, oke?"

Sejenak kemudian ia memandang ke dalam wajah pemuda itu dan seperti memikirkan sesuatu, "kau mirip dengan ibumu, ya?"

“Mungkin,” jawab sang pemuda sambil mengangkat bahu. Ia menatap jemari mereka yang bertautan—seperti memikirkan sesuatu sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya ke bahu gadis di sebelahnya. “Aku belum pernah bertemu dengannya,“ ujarnya lagi dengan mata terpejam seperti mengantuk.

“Hm... Aku berani bertaruh kau pasti mirip dengan ibumu,“ lanjutnya membelokan percakapan—sepertinya tidak ingin pembicaraan menjadi terlampau serius. Pemuda itu menarik genggaman mereka dan mengecup punggung tangan gadis ikal itu. “Cantik, sih.“

Sang gadis mengulum senyum, perlahan mengangkat tangannya yang bebas, "Aku tambah tidak mengerti kalau kau yang seperti ini bisa membuat ibuku tidak menyukaimu," jemarinya kini menyentuh ikal-ikal cokelat milik pemuda yang bersandar di pundaknya. "eh, sudah mengerjakan tugas Binns belum?"