Frilla
Kenapa kau menciumnya?

Kenapa?

Kenapa kau melakukan itu, Nathan?

Kenapa kau tidak pernah dapat melakukan sesuatu dengan benar?

Kenapa kau harus dilahirkan?!

Kenapa—ia juga tidak tahu.

Don’t love me because I’m lost
Because it’s my destiny
Because I can’t change




Siluet dua orang di tepi danau menghiasi pemandangan senja kelabu itu. Seorang yang berdiri dengan tangan di dalam kantung celananya tampak menggigil meskipun tidak terlalu kentara. Wajahnya menghadap ke arah danau meskipun kedua bola mata mahogani sesekali bergulir ke sudut matanya—menatap sosok seorang putri berambut panjang yang duduk tidak terlalu jauh darinya. Tampak ragu-ragu untuk mengenakan benda abu-abu di tangannya. Si laki-laki ingin merenggut benda itu dan langsung menyampirkannya ke bahu gadis itu—tapi pada akhirnya ia tetap berdiam diri saja. Tidak mungkin ia melakukan hal itu—bagaimana kalau ia ditolak? Membayangkannya saja sudah membuat kepalanya tidak karuan.

Apa yang kau harapkan, Nate? Bahwa apapun yang kau lakukan—Michelle akan terus ada di sampingmu? Dia tidak akan meninggalkanmu seperti yang lain? Sungguh harapan yang sangat tinggi untuk seseorang sepertimu.

Sejujurnya, ia bahkan tidak mengerti dirinya sendiri. Di satu sisi, ia ingin bersama Michelle—tidak ada yang lebih diinginkannya dari itu. Tapi di sisi yang lain, ia tahu ia tidak cukup baik untuk mengharapkan hal itu. Karena di cerita manapun sang putri tidak pernah berakhir dengan seorang penyamun—atau seorang rakyat jelata. Meskipun sang penyamun mencoba untuk berpura-pura menjadi pangeran sekalipun—pada akhirnya penyamarannya akan terungkap. Dongeng dengan tegas menyatakan putri hanya bisa bersama pangeran. Dan siapalah dia untuk mengubah hal itu?

Don’t love me
Because my heart is breaking


Nate tahu—lebih dari siapapun—bahwa ia bukanlah tipe yang akan menjadi prontagonis dalam suatu cerita. Lantas apa yang membuatnya berpikir bisa menjadi pangeran berkuda putih untuk sang putri? Ia tidak cukup dalam semua aspek untuk menjadi seseorang yang bisa disetarakan dengan Michelle. Tapi semua hari-hari yang telah mereka lewati—setahun yang penuh dengan semua kenangan akan mereka berdua—apa itu semua tidak bisa terulang kembali? Siapa yang membuat hari-hari itu berakhir—kesalahannya kah? Apa yang telah ia lakukan…?

Tapi—apapun yang terjadi, ia tidak ingin melepaskan Michelle.



Si pemuda terdiam mendengar jawaban sang putri. Bukan masalah kata-katanya tapi justru gerak-gerik gadis itu yang membuatnya sedikit merasa tidak enak. Genggamannya terlepas dalam suasana yang canggung itu. Ia memalingkan wajahnya ke arah danau dan berujar ringan, menyembunyikan rasa was-was yang menyelimuti hatinya.

“Kau tidak menyukaiku juga tidak apa-apa. Asalkan kau merasa senang meskipun harus mengikuti keegoisanku—kurasa aku bisa menerimanya.”

Ekspresi gadis itu jelas tidak secerah sebelumnya. Tersapu rona heran dan keterkejutan yang tidak dapat ia sembunyikan, mata cokelatnya mengawasi pemuda di hadapannya dengan hati-hati. "Kenapa? Tidak biasanya kau begini," nada khawatir yang kini terdengar, sebelum ia melanjutkan dengan suara yang dalam—sepertinya menyadari pembicaraan ini sudah bukan bagian dari candaan riang lagi. "Bukankah aku sudah pernah berjanji? Selama kau menginginkannya, aku selalu disini. Selalu."

“Tapi kalau kau merasa terpaksa—“ kata-katanya terputus di tengah-tengah. Ia mengangkat bahu dan duduk bersila di tanah sebelum mengisyaratkan gadis itu untuk duduk di sampingnya.

“Ah—entah kenapa musim semi jadi membuatku melankolis. Gawat sekali ini, ya,” candanya diikuti dengan gelak tawa.




Don’t love me
You have suffered enough


Kepala pemuda berambut cokelat itu tertunduk. Matanya tidak lagi menatap kiri dan kanan—berharap bisa melihat wajah yang menghantuinya selama ini. Mungkin ini klise. Dulu Michelle—adalah gadis yang dipilihkan Sylar untuk taruhan mereka. Kemudian Michelle menjadi orang yang paling sering melewatkan waktu bersamanya. Sekarang Michelle menjadi orang yang paling penting baginya. Nate tidak sanggup—ia bukan orang yang pantas. Cukup sudah egoisme yang ada padanya—

Biarkan masa lalu lepas, untaian waktu tiada kembali. Ini adalah akhir dari keegoisannya. Michelle tidak menyukainya—membencinya—juga tidak apa-apa. Asalkan dia bahagia... Nate bisa menerimanya. Harus bisa. Sakit juga tidak apa-apa. Biar sajalah... Bukankah seharusnya ia sudah biasa? Hanya saja ini tentang Michelle—dan segalanya tentang gadis itu selalu berbeda. Tapi kalau memang ia harus memanggul penderitaan ini—tidak apa, selama gadis itu bahagia. Anything for your happiness, princess, anything.

Nate berjalan mendekati gadis itu dan membungkuk di hadapannya—perlahan mendekatkan wajahnya yang dihiasi dengan cengiran angkuh, “kenapa Michelle, dear? Cemburu? Ingin aku melakukannya padamu juga?”

Salazar, biarkanlah Michelle membencinya kalau itu dapat membuat gadis ini bahagia.

Don’t love me
Don’t love me




Setahun yang lalu, aku menyesal telah meraihmu dengan suatu alasan yang murahan. Waktu itu, kau sama sekali tidak tahu kalau aku... menyatakan perasaan dengan hati yang kotor. Aku tahu aku manusia yang tidak tertolong. Aku tahu sikapku ini hanya akan menyakitimu. Meski begitu... Aku menginginkanmu, tidak ingin melepaskanmu... selalu.

Harusnya aku cukup memendam perasaan ini. Cukup membayangkan kebahagiaanmu dan tidak ingin apa-apa lagi. Tapi entah sejak kapan, aku jadi tidak bisa melepasmu. Meski tidak bisa menatap wajahmu lagi... aku selalu gelisah kalau tida ada kau. Aku ketakutan karena merasa dekat denganmu... tidak tahu harus bagaimana. Harusnya kau merasa jijik dan menjauhiku. Lebih baik kau berikan hatimu pada orang lain dan...

tinggalkan aku.


Don’t love me.
Frilla
It never crossed my mind at all
That's what I tell myself—


Michelle belum menyerah. Selama ini ia hanya menunggu, memendam begitu banyak lontaran pertanyaan. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan kemampuan otaknya yang tergolong di atas rata-rata, pertanyaan sama yang juga tidak bisa dijawab oleh harga dirinya. Ia memendam begitu banyak ketidakpuasan. Kemarahan. Dan rasa cemburu. Mungkin jiwa dalam dirinya sendiri menolak menyatakan bahwa ia sudah menerima semua fakta dan kenyataan bahwa seseorang yang telah begitu ia percayai, dicintainya dengan sepenuh hati akan dapat meninggalkannya sampai seperti ini untuk seorang... seorang lain yang tidak berharga—setidaknya dilihat dari sudut pandangnya. Namun kenyataannya hal itu terjadi, dengan sangat jelas di depan batang hidungnya. Jadi?

—what we had has come and gone

Ia menyesal sudah berpikir akan menyerah atas pencarian jawaban tersebut. Sudah saatnya ia sadar bahwa ia harus tahu, alasan mengapa dirinya ditinggalkan.

Bukankah sangat melelahkan? Menjawab pertanyaan yang sudah jelas nonsense. Apa yang pada diri musang belang-belang itu yang tidak terdapat pada diri Michelle? Jejerkanlah semua kemungkinan yang dapat kau temukan dan lihat apakah ada bahkan satu dari seribu hal yang dimiliki gadis itu yang luput dari kecemerlangan dirinya. Cantik? Pintar? Hmph! Kalau salah satu dari opsi yang kalian maksud adalah manja, genit, dan memalukan—jelas Michelle tidak memilikinya. Dan maaf, maaf saja. Ia juga tak mengira kalau mantan kekasihnya lebih merekomendasikan sifat-sifat semacam itu yang tercantum di dalam daftar tipe gadis atau selingkuhan idamannya. Ia pikir ia segalanya yang diinginkan Nate. Ia pikir mereka sempurna untuk saling mengisi satu sama lain.

You're with her now
I just can't figure it out


Namun mungkin itu hanya bayangan yang mengisi pemikirannya saja. Hanya dirinya yang berpikir seperti itu. Ingat apa yang dikatakan Nate saat mereka berpisah? Ia lelah. Excuse moi—he's tired—saudara-saudara, lelah pada hubungannya dengan Michelle. Tidakkah itu menjelaskan bahwa sesungguhnya semua kisah indah bak dalam dongeng itu hanya khayalan dari satu pihak saja? Dan ia merasa sangat konyol setiap kali teringat hal ini. Siapa yang dibodohi dalam cerita ini? Setiap kali ia merasa luarbiasa girang hanya karena sekiranya dapat duduk di sebelah pemuda itu saat pelajaran Ramuan, atau karena malam ini mereka akan tertawa bersama sambil menikmati akhir pekan di ruang rekreasi asrama—ia samasekali tidak menyadari bahwa satu-satunya hal yang berada dalam pikiran kekasihnya adalah, ia lelah dan akan sangat bersyukur jika si gadis musang datang dan membuyarkan semua adegan ini.

Damn hell—
mana Michelle tahu!?

Terlepas dari kenyataan ia jelas-jelas belum pernah mempelajari kemampuan Legilimency, siapa pula yang dapat menduga kalau semua senyum manis, tutur kata lembut yang ditawarkannya pada Michelle selama ini kemungkinan hanyalah sandiwara belaka?
Senja itu terasa lebih lama dibanding hari-hari lain di musim semi pada tahun yang sama. Pemandangan yang terpantul di permukaan danau hitam masih belum berubah. Teduh, hangat. Seakan dipeluk oleh semburat merah jingga yang terlukis di sana. Ketenangan yang menghiasi, hanya sesekali percik air dan gemerisik daun yang terdengar. Dan gelak tawa kecil yang berasal dari sepasang remaja di tepi danau.

"Memangnya seorang Nathan Harvarth bisa takut juga?" Kata yang perempuan, suara soprannya bernada ringan dan riang. Ia mengayunkan tangannya yang saling berkait dengan milik seorang lain yang berdiri di hadapannya, tatapannya menyorot pada rona merah yang tergurat di pipi lawan bicaranya. Diam sesaat, gadis itu berhenti bergerak dan menunduk sedikit, menimpali di dekat telinga pangerannya. "Kukira tidak ada hal yang bisa membuat orang lain tidak menyukaimu."

Secara tanpa sadar, gurat yang sama kini terpeta di wajahnya setelah mengucapkan kalimat terakhir. Kini terlihat jelas ia nampak salah tingkah, mungkin merasa kata-katanya agak berlebihan sekalipun terdengar begitu tulus ketika dilontarkan olehnya. Senyum manisnya jadi terlihat agak sedikit grogi, dan tatapan bolamata cokelatnya yang bening teralih sesaat ke arah danau.

“Menurutmu begitu?” ujar yang laki-laki dengan sedikit heran tapi senang juga mendengar ucapan gadis itu. Bola matanya bergulir meneliti wajah gadis itu yang terlihat agak salah tingkah, mungkin. “Tapi kurasa, aku memiliki lebih banyak orang yang membenciku ketimbang menteri sihir sekalipun,” ujarnya ringan seolah itu hal yang biasa atau mungkin hanya sebuah lelucon.

“Tapi aku senang, kalau Michelle memang berpendapat begitu. Itu berarti—kau benar-benar menyukaiku kan?“

Gadis pemilik nama Michelle terlonjak sedikit, kembali menyatukan pandangan keduanya selama sepersekian detik sebelum kembali pura-pura merasa sangat tertarik pada pemandangan di sekitarnya. "Kau ini bicara apa sih," jemarinya bergerak gelisah di bawah genggaman kekasihnya, "sudah pasti, kan?"

Michelle tidak mau mempercayai, kalau pada momen itupun Nate hanya berpura-pura tidak lelah.

Dan ia dengan naif-nya membiarkan tubuhnya direngkuh, sekali lagi terbenam dalam pelukan Nate, merasakan semua rasa yang tidak pernah berhenti menggelegak di dasar dadanya. Tak lagi peduli, Michelle lebih memilih untuk mempercayai bahwa pernyataan 'Fine. I'm tired of this, anyway!' yang terucap hari itulah yang salah—dan bukannya harapan yang selama ini diberikan oleh Nate. Dan, please—sekalipun Michelle tahu dengan jelas bahwa ia terdengar tolol saat menyadarinya—ia masih berharap bukan hanya dirinya yang mendera rasa sakit akibat perpisahan ini. Bukan hanya dirinya... yang ingin menganggap semua itu tidak pernah terjadi. Lupakan saja, dan mereka dapat kembali ke masa-masa dimana hanya ada Michelle dan Nate. Nate dan Michelle. The end.

Tell me why—
you're so hard to forget


Gadis itu mengangkat wajahnya, berusaha menghujam Nate dengan luapan emosi campur-aduk yang ia tembakkan melalui tatapan mata cokelat pekatnya pada sosok yang mengambil beberapa langkah mundur ke belakang. Sudahkan Michelle katakan bahwa ia belum menyerah? Ia akan membuktikan kalau apa yang ia percayai selama inilah yang benar—Nate dan perasaannya yang berbalas adalah nyata—dan bukannya kekonyolan bahwa selama setahun terakhir ia hidup dalam dunia khayal. Michelle tidak akan, melepaskan kesempatan untuk mendapatkan miliknya kembali.

Don't remind me—
I'm not over it


Ia terus mengawasi dalam diam, dengan tatapan tajam sekaligus penuh harapnya, siluet anak laki-laki yang beranjak dari posisinya dan menjauh selama beberapa saat. Sedikitpun tidak ia indahkan—sekalipun menyadari—pandangan bola mata lawan bicaranya yang jelas menghindarinya. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal. Kalimat yang cepat atau lambat akan meluncur keluar dari bibir pemuda itu—jawaban. Nate takkan dibiarkan melarikan diri dengan mudah dari tentunya, kalau memang ia berniat begitu.

Michelle menarik napasnya perlahan, teratur. Tubuhnya sudah mulai mendapatkan kembali panas yang hilang, meski tentu saja belum kering betul. Untunglah angin nampaknya juga enggan bertiup sehingga ia tidak perlu bergelut lebih lama dengan sensasi bulu kuduknya yang meremang; seakan tak pula berniat mengusik dua insan yang tengah terlibat situasi yang serius di tepi danau pada senja hari itu. Ia menggerakkan tangan, kini jemari-jemarinya ditautkan satu sama lain dan diletakkan di atas kedua lututnya yang terlipat di depan dada. Kedua maniknya masih membayangi punggung Nate ketika sosok itu memungut sesuatu, dan sesaat berselang berbalik.

“Seingatku, kau yang pertama melempar dan menginjak kalung itu.”

Cih. Gadis itu menelengkan kepala, melemparkan pandangnya ke arah lain saat pemuda di hadapannya mengulurkan jaket abu-abu yang sepertinya tadi ia campakkan sesaat sebelum menceburkan diri ke dalam danau. Ia tidak bergeming, diam selama beberapa detik dalam posisi seperti itu—kedua tangannya masih menelungkup di atas lutut. Jelas bukan itu jawaban yang ia inginkan akan terlontar dari mulut mantan kekasihnya tersebut—meski ketika dipikir ulang apa yang Nate katakan memang ada benarnya. Secara harfiah, memang ia yang memutuskan untuk mengakhiri semua hubungannya dengan pemuda itu. Merenggut dan membuang kalung miliknya yang menjadi simbol ia pernah menjadi milik Nate. Pernah.

Maybe I regret
Everything I said
No way to take it all back


Jika sekarang Michelle mengatakan bahwa ia menyesal sudah melakukan hal itu, apa semuanya akan kembali seperti dulu? Hmph, you wish.

"Bukan itu yang ingin kutanyakan," Ia mendengus kecil berkata dalam nada mendekati bisikan, matanya kembali menatap Nate dan nampak ragu beberapa saat sebelum menerima tawaran jaket yang diserahkan padanya, "kukira kau tidak lupa alasan mengapa aku melakukan hal itu."

Michelle terdiam, mau tidak mau kelebatan kejadian di Hogwarts Express hari itu tereka ulang dalam ingatannya. Ia tidak sanggup menatap wajah sosok di hadapannya yang begitu menyakitkan—mengingat perannya sebagai tokoh utama dalam adegan itu. Maka pandangannya berpindah sejenak pada jaket dalam genggamannya, tidak ia gunakan. Terakhir kali Nate menyampirkan—ralat, melemparkan—pakaian miliknya ke tubuh Michelle, itu terjadi di ruang rekreasi pada tengah malam dan sampai sekarang Michelle belum memiliki kekuatan untuk dapat mengembalikan milik pemuda itu. Keberadaan sebuah benda yang merupakan milik Nate di dekatnya membuat ia merasa tidak pernah ditinggalkan oleh pemiliknya.

Tell me why—

Seakan merasa pertanyaannya sebelum ini masih terasa ambigu dan mungkin dihindari, Michelle sekali lagi membuka mulut. "Kenapa kau menciumnya?" Kali ini suaranya terdengar lebih keras dan bergetar, dan sorot matanya masih terpaku pada benda di tangannya. Masih belum dikenakan. Pikirannya terlalu sibuk mempertimbangkan jawaban apa yang dapat dilontarkan lawan bicaranya setelah ini dan mempersiapkan diri untuk mendengarnya. 'Karena aku mau'? 'Karena ia manis'? 'Karena aku bosan denganmu'? Apapun itu.

Dan ia tak bisa membohongi diri sendiri dengan mengatakan ia tidak mengharapkan pernyataan maaf keluar dari mulut seorang Nathan Harvarth—seberapapun egoisnya ia terdengar sekarang.

—I'm just a little too not over you
Frilla
Hei, Michelle, sudah tiga bulan dua puluh empat hari dan lima jam sejak kita berpisah hari itu. Mungkin di sudut hatiku—aku tahu aku tidak ingin ini terus berlangsung. Mungkin sebenarnya aku sadar aku ingin kau—kita tetap seperti hari itu. Tapi kau tahu kan betapa egoisnya aku untuk hal-hal yang seperti ini?

Ironis, sungguh.

Rasanya seperti baru kemarin kita duduk bersama di menara astronomi—menatap bintang-bintang. Rasanya baru beberapa saat yang lalu kita masih berjalan di tepi danau. Aku bahkan masih bisa merasakan kehangatanmu dalam genggamanku. Heh, kurasa aku terlalu banyak hidup dalam mimpi—dalam kebohongan. Aku bertanya pada diriku sendiri:
Apa aku melakukan sesuatu yang salah?

Aku tidak tahu.

Aku tidak mengerti.




Nafasnya masih tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat seakan habis berlari. Habis berenang lebih tepatnya. Anak laki-laki itu mendongak ke langit dengan mata terpejam—sebelah tangannya menyapu rambutnya yang basah ke belakang. Sulit dipercaya dia masih hidup setelah masuk ke dalam danau yang suhunya mungkin entah berapa minus di bawah nol derajat. Yang jadi pertanyaan adalah kenapa ia melakukan hal itu? Bukankah seharusnya ia tidak peduli lagi dengan apapun yang menimpa gadis di sebelahnya itu—seharusnya. Tapi sepertinya takdir selalu mempermainkannya. Kenapa ia harus lewat di tempat itu di saat yang begitu tepat—kenapa bukan gagak jelek itu yang menolong Michelle, atau siapapun—Lightdarker sekalipun juga tidak apa-apa. Ia tahu gadis itu cukup populer—pasti banyak anak lain yang akan menolongnya. Tapi kenapa Nate yang harus lewat di tempat itu?

Berhenti membohongi diri sendiri. Memangnya dia akan senang jika ada orang lain yang menyentuh gadisnya? Tidak.

Nate mendengus pelan—membayangkan orang-orang itu berada dalam radius lima meter dari Michelle saja sudah membuatnya muak. Anak laki-laki itu membuka matanya tepat ketika terdengar jawaban dari sebelahnya. Ia kira gadis itu tidak sadar. "Begitu? Mungkin lain kali aku coba dengan pecahan kaca saja. Setidaknya kelak tidak akan membuatmu ikut basah dan kedinginan."

Lucu. Bagaimana setelah ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa gadis itu—ternyata yang diselamatkan justru mengatakan akan menggunakan pecahan lain kali. Berkata dengan mudahnya seolah nyawa itu hanya mainan yang bisa digantikan dengan mainan baru. Berkata seolah Nate lebih mementingkan dingin yang menusuk-nusuk tubuhnya daripada keselamatan gadis itu. Usahanya tidak dihargai sama sekali. Nihil, nul. Ia memang manusia yang tidak berguna, bahkan orang-orang yang ia anggap penting berpikir seperti itu. Sedih—kecewa? Apa sebelumnya ia tidak pernah mengatakan bahwa ia akah melindungi Michelle apapun yang terjadi? Bagaimanapun, kebahagian sang putri adalah prioritasnya.
Anything for your happiness, princess, anything.

Tanpa sadar, seolah tangannya bergerak atas keinginan orang lain, Nate merengkuh gadis itu tiba-tiba. Dan sesaat ia merasa seperti kembali ke masa-masa ketika mereka masih bersama. Seolah tidak ada yang terjadi—semuanya sempurna. Hanya ada Nate dan Michelle, Michelle dan Nate. Dan saat itu sang pangeran pun hanya bisa berbisik dengan suara bergetar, “bodoh. Syukurlah kau tidak apa-apa.”

Memories of our time together
this way, they don’t go away




“I-Ibumu?!”
Tanya anak laki-laki itu sambil terbatuk-batuk dengan mata terbelak menatap sang gadis—mencari-cari bukti bahwa dia sedang bercanda di bola matanya.

“Er... apa itu tidak terlalu cepat?” tanyanya ragu dengan ekspresi gugup sambil mengacak rambutnya dengan tangannya yang bebas—sebuah kebiasaan di saat ia merasa salah tingkah sebelum melanjutkan lagi, “maksudku—bukannya aku tidak mau, pasti menyenangkan. Tapi a—ah, itu... er...”

Tak ayal, situasi berbalik. Kilat jenaka kini ganti bermain-main di atas kedua bola mata milik gadis dengan rambut ikal yang mencapai pinggang. Tampak jelas ia menikmati ekspresi lawan bicaranya yang nampak gugup dan salah tingkah. "Menurutmu begitu? Hmm, jadi kau lebih suka kalau bertemu denganku berdua saja—tanpa ada ibuku?"

Nampaknya ia tidak tahan untuk tidak menampilkan seringai geli sekarang. "Aku bercanda, tapi aku memang ingin mengenalkanmu pada ibu—yah tapi kalau kau sibuk sih..."

“Bukan,” sergah yang laki-laki dengan cepat. Rona kemerahan muncul sekilas di wajahnya yang disembunyikannya dengan menundukan kepalanya. Kali ini gilirannya mempererat genggaman tangannya dan sedikit menarik gadis di sebelahnya agar mendekat.

“Aku—sedikit, hanya sedikiiit saja, takut ibumu tidak menyukaiku.”




This is not where it ends, I’m missing you
please don’t let go of my hand


“Kenapa?”

Satu kata itu membuatnya menyadari tempatnya dan melepas pelukannya. Ia cepat-cepat berdiri dan mengambil sedikit jarak dari gadis berambut ikal itu. Ini bukan tempatnya—ia sudah kehilangan hak itu sejak lama. Sejak ia menyadari kehadirannya hanyalah beban untuk semua orang—sejak ia menyadari, ia tidak bisa diam saja ketika semua orang menyerang eksistensinya. Nate ada, ia hidup—ia pantas untuk dilahirkan.

Nate tidak mengatakan apa-apa. Tidak perlu kata-kata lagi—ia tahu apa yang ditanyakan oleh gadis itu. Tapi ia juga tidak mengerti. Kenapa dia melompat ke danau hitam meskipun seharusnya di antara mereka sudah tidak apa-apa lagi? Kenapa Nate masih merasa kacau seperti ini walaupun seharusnya ia merasa puas dengan kehidupannya yang sempurna? Mengapa ia seperti ini? Kenapa kehadiran Michelle membuatnya kacau seperti ini? Kalau ia mengeluarkan semua pertanyaan itu—mungkin pensieve ukuran paling besar pun tidak akan cukup untuk menampungnya. Ia merasa semua goresan dalam hidupnya adalah sebuah kesalahan. Apa seharusnya ia tidak dilahirkan saja? Dengan begitu tidak akan ada orang yang merasa kesal atau kecewa padanya—semua orang akan bahagia. Lagipula, tidak seperti akan ada orang yang merindukannya atau apa.

“Kenapa kita putus?”

Kenapa? Ia tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Bahkan melihat ke arah gadis itu pun ia tidak bisa. Seolah gravitasi juga menarik bola mata cokelatnya hingga ia hanya bisa menatap tanah yang diinjaknya. Ia benci semua hal ini—bagaimana gadis itu selalu membangkitkan bagian terburuk dan terbaik darinya secara bersamaan. Tidakkah Michelle mengerti—Nate tidak bisa berada dekat dengannya. Memangnya kalian pikir mudah—menjauh dari sesuatu yang sudah terbiasa ada dalam genggamannya, hanya dapat memperhatikan dari jauh—merasakan tertusuk setiap kali melihat bandul perak yang dulu tergantung di leher mereka berdua? Tapi bagaimanapun—Michelle adalah miliknya. Ia akan memastikan hal itu. Tapi—

Ia harus membuktikan bahwa ia bukanlah sampah.

Ia bukan orang yang tidak berguna.

Ia tidak ingin dipandang sebelah mata.

Ia tidak ingin menyakiti Michelle.

Ia tidak cukup baik.

Ia—adalah antagonis dalam cerita ini.



“You love nobody but yourself—you’re selfish, to you there’s nothing more important than your well being—egoist, self-centered—you’re the worst person—"



Langit senja yang menjadi latar belakang mereka semakin gelap seiring dengan bersembunyinya sang surya. Sisa-sisa sinar matahari menyinari kedua sosok itu—membuat mereka terlihat sureal. Seperti sebuah lukisan yang diciptakan oleh goresan kuas Sang Maha Kuasa. Sosok yang sedang berdiri terlihat bergerak—tangannya mengacak-acak rambut bagian belakangnya. Terlihat ia berusaha memalingkan wajahnya dari sosok yang kedua. Ia tahu—kalau ia menatapnya lebih lama lagi, ia tidak akan bisa menahan egonya lebih lama. Ini adalah takdirnya—dan ia akan menerimanya.

“Seingatku,” mulainya dengan nada datar sambil beranjak dari tempatnya berdiri—tidak menatap gadis itu sama sekali. Anak laki-laki itu mengambil jaket abu-abu yang tadi ia lemparkan asal dan akhirnya menoleh ke arah sang gadis sebelum meneruskan, “kau yang pertama melempar dan menginjak kalung itu.”

Ia mengulurkan jaketnya ke arah Michelle.

If I could just tell you I miss you
It’s so hard to say I’m sorry
Frilla
Ia tidak bergerak. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ketakutan. Tidak ada apapun. Rasanya begitu lepas dari segala batasan di satu sisi, sekaligus terbelenggu dalam saat yang bersamaan. Bukankah tak ada yang mencengkramnya? Meski demikian ia terperangkap dalam kegelapan, sekitarnya sunyi. Dingin. Matanya tidak terpejam, namun tidak ada yang dapat dilihatnya. Terjaga. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Kekosongan, kehampaan, ketiadaan—dan dingin. Sejenak ia mengira tengkuknya akan bergidik, bibirnya bergetar dan tubuhnya jatuh lemas, namun ternyata tidak. Masih bergeming, tubuhnya tidak merasakan apa-apa. Tidak, ia bahkan tidak merasakan tubuhnya. Lantas darimana rasa dingin itu berasal? Dingin. Dingin sekali.

Dia—ada dimana?

Kedua bola matanya bergerak dalam gerakan yang terasa sangat perlahan, mengawasi sekitarnya. Masih sama. Tidak ada apapun. Atas, bawah, depan, belakang—ke arah manapun—yang ada hanya kegelapan. Seharusnya ia mulai merasa panik sekarang; memikirkan apa yang sedang terjadi, di mana dirinya, ke mana ia harus pergi... dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mustahil dijawab atau paling tidak melakukan sesuatu terhadap sinyal dingin yang terus menerus berdentang di dalam kepalanya tanpa makna yang jelas. Namun tidak dari keduanya berhasil ia lakukan. Lagi-lagi—satu-satunya yang terjadi hanya tidak terjadi apa-apa. Geming.

"Tidak ada,"

sang gadis mengibaskan rambutnya yang panjang; sebuah bandul berbentuk gembok kecil yang melingkar di sekitar lehernya kini berkilau tertimpa sinar matahari. Suara soprannya terdengar tenang ketika berucap, menjawab pertanyaan yang baru saja diajukan kepadanya. Sesaat kemudian ganti dirinya melemparkan kerlingan disertai senyum yang menarik pada lawan bicaranya, "mau mengajakku pergi?"

"Inginnya sih, begitu," ujar anak laki-laki di sisi si gadis dengan nada iseng, meskipun sedikit pengharapan dalam suaranya mungkin terdengar kalau ada yang benar-benar memperhatikan. Bola mata cokelatnya mengikuti gerakan tangan sang gadis sampai perhatiannya teralihkan pada bandul perak itu. Ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman puas di wajahnya sebelum ia akhirnya meneruskan kalimatnya.

“Anyway, kau tinggal di mana?
Apa aku harus datang ke sana dan memanjat menggunakan rambutmu untuk menculikmu saat liburan atau sesuatu seperti itu?”

Gadisnya tertawa kecil, menelengkan kepala dan kemudian menyeloroh dengan senyum manis tersungging di bibir, "Avallon, Perancis—eh, memangnya aku belum pernah cerita, ya?" Ia kemudian terdiam sesaat, sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain selama selang waktu tersebut sebelum mengeratkan genggaman pada tangan kekasihnya.

"Ibuku akan lebih suka kalau kau datang dengan cara yang normal, meski kuakui ide menggunakan trik Rapunzel itu boleh juga."

Dan gadis itu belum berhenti tersenyum.

Seperti sebuah film yang diputar di depan matanya, potongan ingatan itu bergulir begitu saja dan ia hanya mampu terkesiap. Bahkan sendirinyapun ragu, apakah ia benar-benar dapat menampilkan ekspresi 'terkesiap' dalam situasinya saat ini. Ada apa? Konon orang-orang mengatakan manusia akan mengingat kembali kenangannya yang berkesan selama hidup saat menjelang kematiannya. Bukannya ia ingin berspekulasi dengan menyatakan kenangan barusan adalah adegan berkesan dalam hidupnya, tapi toh gadis itu kini terpancang di tempatnya berdiri—kalau memang ia tengah berdiri dan sejak tadi belum dikategorikan dalam kondisi terpancang—dan merasa terpanggil untuk menyadari satu hal.

Maut—tengah menjemputnya.

Dan kenyataan ini belum cukup juga untuk mengembalikan nalurinya untuk bertahan—kalau memang fungsi tubuhnya itu masih ada—karena toh ia tetap tidak melakukan suatu apa yang berarti. Kalau saja masih bisa. Mungkin justru sudah terlalu terlambat baginya untuk menyelamatkan dirinya sekarang, atau simply she doesn't want to help herself from the very beginning. Kenyataannya ia sendiri yang mengantarkan raganya pada kematian, mengeluarkan jiwanya dari tempat dimana seharusnya bercokol, sekalipun tanpa dorongan yang jelas. Mungkinkah ada secuil penyesalan yang masih tersisa?


In my dearest memories—

"Michelle!"

—I see you reaching out to me

Tercekat. Sepertinya tidak menyangka sebentuk suara dapat menggema dari dalam kegelapan yang menyelimutinya, dan terlebih merupakan milik seseorang yang dikenalinya betul. Mungkinkah berasal dari dalam ingatannya sendiri? Kegelapan pekat yang membelenggunya mengendur sedikit, membawa suatu firasat akan datangnya sesuatu dari jauh. Mau tak mau kondisi ini membuatnya wajib membulatkan kedua bola mata lebar-lebar untuk dapat menyambut sesuatu yang diyakininya akan segera muncul—entah apa—sekalipun ia tidak ingin repot-repot memikirkan darimana firasat ini berasal mengingat merasakan saja ia sudah tak mampu. Namun... benarkah? Benarkah ia sudah tak bisa merasa lagi? Lantas mengapa berharap adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan keadaannya saat ini?

Ia menajamkan telinganya. Mendengarkan dengan seksama, menikmati suara-suara yang kian lama terdengar semakin nyata. Mendekat, mendekat. Ia tidak ingin—atau tidak bisa—memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya. Menyerahkan sepenuhnya jiwa miliknya pada tangan yang mengulur dan menjangkau. Pasrah dan mempercayai. Ia memejamkan matanya erat-erat, bersiap membebaskan diri dari ruang hampa yang kini perlahan melepaskan permukaannya. Bolehkah ia berharap bahwa takdir yang telah meninggalkannya, kini datang kembali untuk melarangnya melewati batas di belakang garis kegelapan ini?


Though you're gone,
I still believe that you can call out my name

Langitnya berkabut.

Penglihatannya yang mendadak mendapatkan cahaya kembali spontan memicing, berusaha menyesuaikan diri sebagaimana sekujur tubuhnya yang tengah terbaring memberontak ketika tanpa peringatan sekonyong-konyong disergap rasa beku dan nyeri. Ia melirihkan rintihan pelan melalui bibirnya yang membiru dan pecah-pecah, namun paru-parunya yang rupanya sudah siap ingin mengeluarkan genangan air di dalamnya—sehingga detik selanjutnya ia bangkit, membalikkan tubuh menghadap tanah dan langsung terbatuk-batuk tanpa henti selama beberapa lama. Nyaris membeku. Basah kuyup, bulu kuduknya meremang dan seluruh pori-pori tubuhnya terbuka—menyimpulkan secara keseluruhan kondisinya setelah separo tenggelam di dalam danau saat musim dingin jelas menyedihkan dan kritis, namun ia tidak dapat menyembunyikan perasaan yang mendekati rasa syukur dan bahagia karena mendapati seseorang berada di sisinya.

Bagaimana tidak? Sosok tersebut adalah satu-satunya orang yang ia butuhkan; orang yang diharapkannya untuk menyelamatkan—dan ia benar-benar muncul. Kalau bukan takdir, lantas ini pasti mukjizat.

Michelle terengah, berhasil mengeluarkan sebagian besar air yang sempat masuk melalui rongga mulut dan hidungnya. Masih dalam posisi menunduk, ia mengerling pada seseorang yang baru saja menyelamatkannya. Entah mengapa detik itu ia terpancing untuk menanggapi pernyataan pertama yang ditangkap telinganya begitu kembali menjejak ke alam sadar. "Begitu? Mungkin lain kali aku coba dengan pecahan kaca saja," Ia menyeloroh sambil lalu, tidak memedulikan suaranya yang terdengar parah—sengau dan diselingi batuk-batuk kecil. "setidaknya kelak tidak akan membuatmu ikut basah dan kedinginan."

Diam sebentar, ia menyeka dagunya dan balik berganti ke posisi duduk. Pandangannya bergerak mengamati kondisi Nate yang memang tidak lebih baik darinya—wajahnya sepucat Banshee, meski tentu saja tidak mengurangi ketampanan yang melekat pada diri remaja lelaki itu. Ia belum membuka mulut lagi, masih terlalu sibuk mengumpulkan keping-keping kesadarannya... atau melelehkan kembali isi otaknya yang membeku. Lebih tepatnya lagi, semakin ia dijejali fakta bahwa pemuda di dekatnya itu adalah orang yang pernah menjadi kekasihnya selama tahun sebelumnya, yang selalu membuatnya dipenuhi dengan perasaan campur aduk, dan baru saja rela mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya di tengah danau dengan suhu di bawah nol derajat—

—ia semakin tidak tahu harus mulai bicara dari mana.

Michelle duduk sambil memeluk kedua lututnya, menggosok-gosok lengannya yang menggigil dengan kedua telapak tangan. Meski kepalanya lurus menghadap ke arah danau, tatapan matanya masih belum beranjak dari sosok yang sama. Setengahnya sibuk memikirkan apa yang harus ia katakan, setengahnya lagi berusaha menebak apa yang tengah dipikirkan Nate. Bukannya tidak ada yang ingin ia bicarakan dengan pangerannya ini, justru sebaliknya—mulai dari apa kabar hingga mengapa ia bisa ada disini, mengapa ia menyelamatkan Michelle, bagaimana perasaannya sekarang...

In your dearest memories—

"Kenapa?"

—do you remember loving me?

Benar, ada satu pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan sejak mereka tidak benar-benar pernah bicara lagi semenjak hampir enam bulan lamanya. Pertanyaan itu terus muncul, tidak pernah berhenti merongrongnya. Selalu, selalu dan tak berhasil dijawabnya; sampai ia nyaris menyerah. Sekarang ia tahu, alasan mengapa tentu ia tidak bisa menjawab—Nate tidak pernah memberitahunya.

"Kenapa kita putus?"
Frilla
Secarik perkamen yang sudah kumal tergenggam erat di kepalan tangannya. Sekali—dua—tiga kali anak laki-laki itu meluruskan kembali perkamen di tangannya dan membaca ulang kalimat-kalimat yang tertera di atasnya. Seolah ia berharap dengan membaca ulang tiap kalimat, kenyataan yang terbentang di hadapannya itu akan berubah. Tangannya yang gemetar kembali meremas perkamen itu sekuat tenaga—sekuat yang ia bisa. Sesaat ia mengangkat tangannya, siap untuk melemparkan gumpalan di tangannya jauh-jauh—siap untuk membuang, menolak, setiap kebohongan dalam goresan tinta hitam itu. Kebohongan yang ia tahu betul adalah sebuah kebenaran yang tidak ingin ia akui. Detik berikutnya ia menurunkan kembali kepalannya. Manik cokelatnya menatap tangannya dengan pandangan nanar. Pada akhirnya ia tetap tidak bisa menang dari takdir.

I could try to hide in a strange town,
But I'd still be full of doubt.


Langkahnya kembali terdengar ketika akhirnya anak itu mulai berjalan menuju tujuannya semula: danau. Tempat terakhir yang ingin ia datangi ketika ia sendiri—mungkin ia takut tidak akan bisa menahan diri untuk mengakhiri episode tidak berarti dari hidupnya, mungkin kegelapan dalam danau itu terlalu memikat untuk dilewatkan. Nate kembali terhenti sebelum mencapai tujuannya. Ia kembali mengerling kepalan tangannya dan menutup matanya. Cairan merah pekat keluar dari bibir bawahnya yang ia gigit secara tidak sadar. Ini tidak seharusnya terjadi. Kenapa? Apa? Kapan? Begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat ia hitung jumlahnya muncul di benaknya—semakin menyeretnya ke lubang tanpa dasar yang disebut keputus-asaan.

This can’t be true.

Anak laki-laki itu menyandarkan tubuhnya ke pohon di belakangnya. Tangan kirinya yang dibalut sarung tangan tebal bewarna abu tua memukul batang pohon itu sekuat tenaga—berkali-kali hingga tangannya tidak terasa lagi. Detik berikutnya mendadak seluruh kekuatan yang ada padanya menguap begitu saja—seperti api obor yang padam tertiup angin kencang. Nate menutup wajahnya dengan tangannya. Ia tidak akan menangis. Ayah dirawat di St. Mungo. Sakit. Penyembuh yang bertanggung jawab mengatakan tidak ada jaminan bisa sembuh. Ia harus pulang. Gisselle di mana? Cassandra menangis—tahun depan ia mulai sekolah.. Miranda tidak ada. Ia harus pulang. Ayah menginginkannya. Ia harus pulang. Michelle… tidak ada. Sialan.

Sialan.

All this pain makes me want to cry.
Now an urge to chase tomorrow springs up. .


Anak laki-laki itu menurunkan tangan yang menutupi wajah pucatnya. Bola mata kecokelatannya yang lebih hampa daripada biasanya menatap danau gelap yang kontras dengan warna salju—mendominasi pemandangan di tempatnya berdiri. Hitam kelam—

Pupilnya terbelak begitu melihat sesuatu yang tidak biasa di tengah danau itu. Bukan cumi-cumi raksasa yang tinggal di danau—kecuali kalau cumi-cumi itu mengenakan wig cokelat yang sewarna dengan rambut—Michelle...? Tidak mungkin. Pasti hanya bayangannya saja. Gadis itu tidak terlalu sering berada di luar kastil seperti kaum wanita barbarik macan Windstroke dan Rainier. Benarkan—danau dan Michelle...



“Memangnya kenapa dengan danau yang membeku?“ tanya anak laki-laki itu dengan kilatan jenaka di matanya. Angin yang berhembus hari itu mengacak-acak rambut kecokelatannya, sementara seulas senyum muncul di wajahnya.

“Berani taruhan, kau tidak suka es karena tidak bisa main ice skate!” ujarnya lagi sebelum diikuti dengan gelak tawa. Anak itu hanya bercanda tentu saja—ia hanya ingin melihat seulas senyum muncul di wajah gadis yang berdiri di dekatnya itu.

Sebelah alis gadis berambut ikal itu terangkat, sementara kedua manik cokelatnya ganti mengerling pada pemuda di sisinya dengan tatapan protes bercampur geli, "sebagian ada benarnya, aku memang tidak bisa main ice skate," kedua tangannya kini bersidekap di depan dada—sekedar memastikan ia tidak akan disela oleh tawa geli—"meski tidak sepenuhnya begitu—kalau mau jujur. Anyway, memangnya kau main skate di atas danau?" Balasnya bertanya. Seringai kecil tercipta di bibirnya; setengah mencibir, setengah penasaran.

“Yah, yang penting ada benarnya,“ ujar yang laki-laki sebelum tertawa lagi. Ia cepat-cepat membelokan arah pembicaraan seolah tidak mendengar pertanyaan yang terakhir tadi. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia tidak pernah mencoba skate sebelumnya ‘kan?

“Sudah musim semi—kemudian libur musim panas.
Ada rencana untuk liburan kali ini?”




If I follow the scraps of my memories,
I can return to those innocent days,
Like a little boy in another life. .


Apa yang ia lakukan di sini? Bagaimana kalau yang ada di danau itu benar-benar gadis itu? Dia bisa mati. Dia—Michelle membutuhkannya—Nate.
One can’t live without other.

Nate berlari ke danau itu. Ia tidak perlu—tidak bisa berpikir lagi. Memang mungkin ia hanya membayangkan sosok itu, mungkin saja itu hanya duyung iseng yang kebetulan berenang terlalu dekat dengan permukaan, mungkin itu hanya tipuan matanya yang ingin melihat sosok itu—mungkin hanya ganggang yang mengapung atau apa, kelpie yang lupa jalan pulang ke sumur dan tersesat ke Hogwarts atau lebih bagus lagi—seorang murid yang sok jago dan akhirnya tenggelam seperti kapal karam. Mungkin—tapi bagaimana kalau itu memang benar-benar gadis itu? Apakah ia rela mempertaruhkan sedikit kemungkinan itu?

Bukankah sudah jelas?

Jaket abu-abu muda dilemparkannya begitu saja, diikuti dengan sepasang boot hitam dan sarung tangannya—sebelum akhirnya anak laki-laki itu melompat ke danau yang setengah membeku itu. Dingin—demi Valhalla. Tubuhnya seakan ditusuk-tusuk dengan ribuan jarum. Tapi kali ini ia tidak akan mengeluh, apa artinya dingin yang seperti ini jika dengan ini ia bisa menyelamatkan sang putri? Pada akhirnya Nate hanya bisa mengutuki nasib mengapa ia tidak pernah berpikir untuk mempelajari mantra gelembung-kepala sebelumnya.

Iif I have to take this pain
to make my dreams come true—.


Sosok di depannya semakin jelas. Bocah itu memicingkan matanyanya dengan harapan bisa melihat pemandangan di depannya dengan lebih jelas—tangannya menggapai-gapai hingga akhirnya menyentuh lengan orang itu. Ternyata memang sang putri. Nate menarik lengan yang dipegangnya dengan segala kekuatan yang tersisa dan melingkarkan tangannya di sekeliling bahu gadis itu—menyeretnya dengan susah payah hingga sampai di daratan.

—it’s not so bad... .

Nate duduk di samping danau dengan nafas terengah-engah, matanya masih tidak fokus meskipun sudah keluar dari jeratan cairan yang membuatnya setengah beku. Tubuhnya mati rasa—dinginnya musim itu sudah tidak bisa ia rasakan lagi. Satu hal yang ada di kepalanya adalah sebuah pertanyaan—apakah ia berhasil tepat pada waktunya—atau...? Tidak—ia masih bernafas. Terima kasih, Salazar.

“Sialan. Sialan. Sialan.” Satu kata itu diulang-ulangnya terus dengan suara lirih, seakan itu sebuah mantra untuk menghapus kejadian barusan dari benaknya. Matanya terpejam selama beberapa detik—ia menarik nafas, mengumpulkan oksigen untuk memenuhi paru-parunya yang terasa ikut membeku setelah terjun ke danau dengan suhu entah berapa derajat di bawah celcius. Begitu membuka matanya lagi, anak laki-laki itu memukul tanah di sisi kepala gadis itu dengan sisa kekuatanya yang masih bersisa. Tidak peduli apakah gadis itu sadar atau tidak.

“Benar-benar tidak lucu, Solathel.“
Frilla
"Sudah musim semi, ya."

Gadis itu tersenyum kecil, menoleh pada seorang lain yang melangkah di sisinya. Bola mata cokelatnya berkilau, memantulkan cahaya matahari yang agak redup karena terhalang kabut senja. Sesaat pandangannya bertemu dengan bola mata dengan warna senada, milik ia yang kemudian balas berujar,

“Hm…”

Sang pemuda mengiyakan perkataan gadis di sampingnya tanpa benar-benar mengatakan apa-apa. Hanya membalas senyum si gadis dengan cengiran lebar—pelan-pelan meraih tangan miliknya dan digenggamnya lembut seiring dengan langkah mereka.

“Michelle suka musim semi?”

Dia yang dipanggil 'Michelle' nampak mengangguk. Sesaat ia mengalihkan pandangannya dari pemuda di sampingnya ke arah lain; ke suatu titik pada permukaan danau di kejauhan.

"Lebih suka musim gugur—tapi oh well, setidaknya danaunya tidak membeku."

Apa yang ia lakukan?

Alone for a while I've been searching through the dark
For traces of the love you left inside my lonely heart—

Tidak pernah berubah, permukaan danau hitam selalu setengah membeku saat musim dingin. Sinar matahari senja terpantul di beberapa bagiannya, menimbulkan semburat warna teduh yang lembut. Kini tanah di sekitarnya terselimuti bantalan tebal salju, tanpa sedikitpun mengizinkan sepetak tanah kecoklatan masih menyembul dari antaranya. Santa pasti tidak sabar ingin mendekorasi hari pertunjukannya dengan putih salju, yang seakan menghapus segala kekotoran dunia dengan tiap serpihannya. Minggu terakhir di awal musim dingin, beberapa hari sebelum Natal. Benar-benar waktu yang tepat untuk membangkitkan kembali ingatan yang serasa sudah lama sekali. How nostalgic.

Uap putih mengepul dari napas yang ia hembuskan. Dingin—tak diragukan lagi. Semestinya ia tidak berada di tempat semacam ini; bukankah ia tak menyukai sensasi ketika ujung-ujung jemari kakinya mati rasa? Namun toh kenyataannya ia tidak mendekam di ruang rekreasi asramanya, menikmati secangkir teh panas di depan perapian... ah. Entah mengapa. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu boot tebal—dengan warna yang tak jauh berbeda jika disandingkan dengan timbunan salju yang mengitarinya—meninggalkan jejak-jejak berpola di sepanjang tepi danau. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk kini sedikit terangkat, menengadah.

—to weave by picking up the pieces that remain
Melodies of life—love's lost refrain

Sepi sekali.

Tentu, siapa yang mau berkeliaran di luar pada cuaca seperti ini?—kalau bukan seseorang dengan kesadaran yang nyaris melewati batas seperti dirinya. Kenapa? Pertanyaan semudah itu entah mengapa sangat manjur untuk membuatnya tidak berkutik. Seharusnya bukan masalah besar bagi orang lain. Seharusnya dapat dilupakan dengan mudah oleh orang lain. Lantas, kenapa tidak dengan dirinya? Blank. Michelle tidak dapat menjawab pertanyaan itu, alasan apa yang sebetulnya membuat dirinya kerapkali berkutat dengan perasaan yang sama. Tidak mengerti, sampai kapanpun hanya itu yang dapat ia mengerti.

Langkahnya terhenti. Perlahan ia memutar tubuhnya dan menghadap ke tepi danau. Kabut mulai turun mendekati permukaannya, sementara matahari nampak semakin lemah termakan pekat awan di sisi lain, jauh di seberang sana. Mulai gelap. Sesaat ia menggigil, membuatnya harus memeluk kedua lengannya sendiri. Aneh, tahun lalu ia tidak perlu menghangatkan diri. Tahun lalu ia tidak merasakan bibirnya pecah-pecah, dingin dan tanpa dilihatpun ia tahu warnanya sudah sepucat warna ungu violet. Tahun lalu... ia tidak seorang diri, ia tidak diam dan dihinggapi perasaan yang penuh kecamuk seperti yang ia rasakan sekarang saat memandangi danau.

Tidak ada yang berubah, right.

Our paths they did cross, though I cannot say just why
We met, we laughed, we held on fast, and then we said goodbye
And who'll hear the echoes of stories never told?

Saat itu, untuk kedua kali dalam hidupnya sebuah pertanyaan yang sama muncul di dalam benaknya. Bagaimana rasanya kematian? Mengapa ia merasa begitu dekat, seakan ada sesuatu tak nampak yang menariknya ke dalam lubang tersebut. Begitu menggoda, menjanjikannya dengan hal-hal yang terbayang sangat indah dan jauh lebih baik daripada apa yang dapat ia peroleh di dunia—baik dunia Muggle, maupun sihir. Napas yang dihelanya semakin berat, matanya terpejam. Kakinya kembali melangkah—lurus ke depan. Benar, ia sudah pernah hilang ingatan sekali, ia sudah pernah terselamatkan dari maut sekali.

Ketika Michelle mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya, sebagian besar ruas-ruasnya sudah mati rasa. Tidak lagi terasa dingin, tidak terasa sakit—tidak terasa apa-apa. Hanya ada perasaan nyaman dan ringan. Air sudah mencapai tinggi pelupuk matanya; ketika alih-alih berusaha meronta atau berbalik, ia terus maju. Seakan suatu magnet yang ganjil tengah menariknya untuk berjalan lebih jauh ke kedalaman di bawah permukaan danau hitam, atau ada rantai tak terlihat kini mencengkram pergelangan kakinya. Tentu, padahal ia tahu dengan jelas—

—ia tidak bisa berenang.

Let them ring out loud till they unfold...
Frilla

Fenrir
Jantan
Jenis: Eurasian Eagle Owl
Panjang sayap: 187 cm
Tinggi: 67 cm
Berat: 3.1 kg

The Eagle Owl is largely nocturnal and is found in mountains and forests with cliffs and rocky areas, usually nesting on cliff ledges. They live for around 20 years although like many other bird species in captivity they can live much longer, perhaps up to 60 years.

Although Eagle Owls are usually considered to be a bird of the wilderness, they have been observed hunting vermin on open landfills in Northern Europe. This poses a certain risk for the owls as any pollutants the rats they feed on have ingested may be enriched in the owls. Eagle Owls that hunt on landfills have also sometimes been seen flying with waste entangled around their feet.

Label: 0 komentar | edit post