<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206</id><updated>2011-07-28T11:22:25.373-07:00</updated><category term='Summer'/><category term='Detensi'/><category term='Repletion'/><category term='Tahun Ketiga'/><category term='Cousins'/><category term='Michelle'/><category term='Sylar'/><category term='Sienna'/><category term='Ten Commandments'/><category term='Arvid'/><category term='Keluarga'/><category term='Kelas'/><category term='Szent'/><category term='Quotation'/><category term='Friends'/><category term='Tahun Keempat'/><category term='Anemone'/><category term='Rumah'/><category term='Tahun Kedua'/><category term='Signatures'/><category term='Pet'/><category term='Slytherin'/><category term='Tahun Pertama'/><category term='Liburan'/><title type='text'>Mr. Harvarth</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-6433472732243633365</id><published>2009-09-06T09:26:00.000-07:00</published><updated>2009-09-06T09:31:42.216-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Signatures'/><title type='text'>Signatures #3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/NATENATENATE.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/NATENATENATE.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nate-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nate-1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nate2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nate2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nate3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nate3.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/natee2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 334px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/natee2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-6433472732243633365?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/6433472732243633365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=6433472732243633365' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6433472732243633365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6433472732243633365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/09/signatures-3.html' title='Signatures #3'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/th_NATENATENATE.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-2782129472627505855</id><published>2009-07-07T06:55:00.000-07:00</published><updated>2009-07-07T08:27:02.359-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Summer Letter #1</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: times;"&gt;Well... apa kabar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu sekitar 15 derajat di sini. Aku hampir tidak bisa merasakan semangat musim panas, hahaha. Aku ada di Tromso sekarang, menemani ayah berurusan dengan mayor entah untuk apa. Kurasa membicarakan izin pembangunan atau apa. Kurasa tidak akan ada orang yang percaya beliau sempat sakit sebelumnya kalau melihat tingkahnya sekarang. Kesana kemari mengurus urusan yang ayah tinggalkan selama beliau dirawat. Liburan musim panas dan dia lebih memilih untuk mengurus perusahaannya daripada bersenang-senang dengan keluarga, meskipun memang bisa dibilang kami ke Tromso untuk liburan. Cassandra (adikku) tampak senang datang ke sini. Kurasa ia sedikit bosan dengan Beauxbatons, terlalu ketat untuknya. Aku akan senang kalau dia masuk ke Hogwarts saja, tapi tampaknya ibu ingin Cass mendapat pendidikan etika yang 'sepantasnya'. Terserah lady saja, aku tidak ingin berdebat dengannya. Selama Cass juga merasa senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tromso kota yang menakjubkan. Matahari tidak pernah tenggelam di musim panas, meskipun aku sedikit menyayangkannya. Kudengar pemandangan di sini bagus sewaktu malam, ada aurora di malam hari. Katanya Tromso adalah salah satu tempat terbaik di dunia untuk menyaksikan fenomena ini. Sayangnya di musim panas, tidak ada kata malam. Mungkin lain kali kita bisa kesini bersama, aku yakin kau pasti menyukai tempat ini. Terutama jika ada aurora itu. Cantik, dan pasti romantis kan? Hahaha. Lalu, liburanmu sendiri bagaimana? Tidak main mata dengan siapapun kan? Bercanda. Mungkin seharusnya kau yang bertanya, ya... Tapi tenang saja, kalau aku bertemu dengan perempuan lain yang berusaha mengajakku berkencan, aku akan mengatakan padanya aku sudah punya pacar cantik yang menunggu di Inggris. Hahaha. Aku akan ke Diagon Alley untuk membeli perlengkapan sekitar Agustus. Kuharap kita bisa bertemu nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti aneh sekali, jauh-jauh ke Inggris sementara ada Durmstrang yang begitu dekat. Aku seharusnya bersekolah di sana, tapi ibu tidak mengizinkan. Dulu kupikir itu salah satu caranya untuk menghalangi keinginanku. Tapi sekarang... kupikir dia hanya khawatir. Bekas sekolah Grindewald dan segalanya. Well, aku mencoba untuk berpikir positif akhir-akhir ini. Lagipula aku tidak menyesal dia melarangku ke sana. Di Hogwarts, aku jadi bisa bertemu denganmu dan yang lain. Salazar, &lt;em&gt;can you believe that I've missed you already&lt;/em&gt;? Kurasa aku harus menyeret ayah untuk ke Inggris secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, aku baru menerima lencana prefek pagi ini. Sedikit mengejutkan, haha. Kau tahu aku bukan termasuk dalam kategori murid teladan, entah berapa poin yang sudah kukurangi dari asrama kita--dan detensi yang kudapatkan... well, aneh juga. Meskipun waktu itu aku sudah berjanji padamu, masih sulit bagiku. Kau tahu, untuk berpikir aku layak mendapat semua ini. Prefek, benar-benar kekuasaan yang cukup besar. Aku tidak yakin bisa menjalankan tugas ini dengan baik. Kau menerima lencana juga? Maksudku, mengingat kurasa kau murid terbaik di angkatan kita dan segalanya. Kurasa aku tidak perlu bertanya, kau pasti dipilih. Bukan kejutan, hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita bertemu di Diagon Alley nanti? &lt;em&gt;Can't hardly wait.&lt;/em&gt; Mohon bantuannya, prefek Solathel!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love,&lt;br /&gt;&lt;big&gt;&lt;span style="font-family: monotype corsiva;"&gt;Nate.&lt;/span&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS.&lt;br /&gt;Kalau Fenrir (burung hantu elang ini) macam-macam dan mulai menyebalkan, masukan saja owl treat ke paruhnya. Semoga dia bisa diam. Aku benar-benar berpikir harus mencari burung hantu yang bisu. Atau men'silencio'nya permanen juga terdengar seperti solusi yang menarik.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-2782129472627505855?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/2782129472627505855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=2782129472627505855' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/2782129472627505855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/2782129472627505855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/07/summer-letter-1.html' title='Summer Letter #1'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-538963253823356994</id><published>2009-07-04T10:54:00.001-07:00</published><updated>2009-07-04T10:55:08.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anemone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Anemone - 7 - Nate</title><content type='html'>&lt;big&gt;&lt;span style="font-family: monotype corsiva;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;It started with once upon a time.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathan, &lt;em&gt;in Hebrew it means gift of God&lt;/em&gt;. Berapa kalipun diulang rasanya masih sulit sekali untuk mempercayainya. Dia, yang sejak dulu selalu merasa dipandang sebelah mata, tapi ternyata semua itu hanyalah khayalan yang diciptakan oleh hatinya yang tidak mau memaafkan. Dia mencoba untuk percaya, menancapkan dalam-dalam pengetahuan yang baginya adalah suatu hal yang sama sekali baru... dan membuatnya lega. Bukan, terlalu mengecilkan jika ia berkata hanya merasa lega. Seperti menemukan oasis setelah tersesat di gurun berhari-hari. &lt;em&gt;Klise.&lt;/em&gt; Melebih-lebihkan. Hiperbola. Mungkin. Tidak akan ada yang mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang Nate. Tapi yang jelas ia merasa bersyukur, karena Tuhan memang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;I will believe&lt;br /&gt;so the two of us can be together in love&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia akan berusaha mempercayai, bahwa hidupnya tidak perlu dihabiskan untuk sesuatu yang tidak ia sukai. Tidak perlu lagi ada kata-kata haus akan perhatian dan ingin sepasang kristal terang miliki sang ibu menatapnya. Bebas menentukan, tanpa ada batasan bernama 'pantas' dan 'tidak pantas'. Penentunya adalah diri sendiri. Karena dengan mempercayai itu, kini dia bisa menemukan kembali sang putri. Jadi katakan selamat datang pada Nathan Kehl Harvarth yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu tersenyum kecil. Semuanya akan baik-baik saja sekarang. Ia menutup matanya, merasakan vibrasi dari tiap kata yang terlontar dari gadis di depannya. Suara sopran yang mengalun lembut, sentuhan di bahunya, dan aroma lili yang menyusup tanpa diundang. Membuat saraf-sarafnya menegang sesaat karena invasi yang lama tak terjadi. Sulit dipercaya. Amat sangat sulit. Seakan segala kegalauannya selama bertahun-tahun ini tidak pernah terjadi, tidak pernah ada dari awal. Lima belas menit yang penuh dengan antisipasi sebenarnya hanya sebuah imajinasi dari dunia berbeda. Waktu tidak pernah berjalan sejak 16 Maret 1979. Ia tidak ingin membuka matanya. Ia tidak ingin membuka matanya dan menyadari bahwa ternyata semuanya hanya mimpi. Yang mana kenyataan dan yang mana mimpi, sulit dibedakan sekarang. Tempatnya sekarang berada terasa nyata, tapi terlalu indah untuk sebuah kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi selama ia bersama Michelle, ia tidak peduli di alam mana ia berada. Mimpi atau kenyataan, persetan. Jika ini mimpi biarkan dia tidur selamanya, jika ini kenyataan... Jika ini kenyataan. Yah, sentuhan di bahunya terasa nyata. Untaian kata yang terdengar juga terasa nyata, meskipun dalam bayangannya ia mengira akan ada makian atau paling tidak penolakan. Kata yang menusuk dan membuatnya harus berlutut meminta maaf. Bukti bahwa ini bukan hanya sekedar imajinasinya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akan menjanjikan apapun untuk Michelle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;I’ll hold your hand forever, don’t let go&lt;br /&gt;let’s make a promise, the two of us&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"I swear,"&lt;/em&gt; bisiknya menanggapi kalimat terakhir gadis berdarah campuran di depannya. Kelopak matanya membuka, memperlihatkan kilauan kristal cokelat yang dipenuhi emosi yang tak terdefinisikan. Nate menghela nafas, bersyukur ketakutannya untuk membuka mata tidak terbukti. Hangat. Aroma lili dan anemone berpadu menjadi satu. Lili, &lt;em&gt;keeps unwanted visitors away&lt;/em&gt;. Anemone, &lt;em&gt;unfading love&lt;/em&gt;. Mengerti pesannya? Kalian tidak diinginkan dalam kisah mereka berdua, pergi jauh-jauh selagi kalian bisa. Terima kasih, selamat tinggal. Pemuda itu &lt;em&gt;nyengir&lt;/em&gt; melihat tingkah gadis yang bersandar padanya itu. Betapa dia merindukan saat-saat yang seperti ini. Kasih ini masih ada. Dan akan selalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak peduli kau menginginkannya atau tidak, Tuan Putri. Karena sekarang Nate sudah memutuskan, apapun yang terjadi, &lt;em&gt;apapun&lt;/em&gt;, ia tidak akan lari. Dan meskipun itu berarti ia harus menyakiti dirinya sendiri, pergi ke neraka sekalipun ia tidak peduli. Lagipula dia memang setan dari awal. Apapun, bagaimanapun. Ia tidak akan melepas Michelle lagi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;“A game. The most important match in my life.”&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nathan Kehl Harvart has caught the snitch.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tiga tahun&lt;/em&gt;. Entah perlu diulang sampai berapa kali satuan waktu itu hingga Nate benar-benar terbiasa dengan fakta yang terbentang di hadapannya ini. Banyak keajaiban tahun ini. Mulai dari kejadian pribadi hingga yang menyangkut nasib seluruh dunia. Anehnya, semua keajaiban itu terjadi setelah Pangeran Kegelapan jatuh. Pertanda bahwa memang penyihir itu membawa malapetaka bagi semua orang bahkan yang tidak memiliki urusan dengannya? Mungkin. Tapi persetan dengan pangeran kegelapan dan nasib seluruh dunia. Ia bisa tidak peduli dengan semua itu. Saat ia di sini, bersama Michelle. Di bawah kerlip bintang. Konstelasi di malam musim semi. Vela, Crater, Virgo, Leo, Cancer. &lt;em&gt;Coma Berenices&lt;/em&gt;. Sedikit dari konstelasi yang namanya diambil dari tokoh sejarah. Berenices, istri dari Ptolemy III Euergetes yang mengorbankan rambut kebanggaannya pada Dewi Aphrodite untuk keselamatan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan langit juga mengalunkan nada-nada lembut mengenai kisah cinta. Malam yang sungguh tepat untuk menjalin rangkaian kasih. Crater, Corvus, Hydra. Langit memberikan nasehat mengenai kejujuran. Nate mengerti. Kebohongan hanya akan menjadi penyakit untuk semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;So in order to light your light fill me&lt;br /&gt;I hug you tightly&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate belum mengatakan apa-apa lagi. Hanya degup jantung dan suara nafas lembut terdengar di sela-sela keheningan malam. Rasanya sayang jika dia harus memperdengarkan melodi lain yang bisa mengusik alunan orkestra malam. Tapi demi mereka berdua, apa salahnya merusak sedikit melodi yang bahkan tidak didengar orang lain selain mereka? Dengan pikiran itu Nate mengangkat tangannya dan merengkuh sang putri. Dekapan lembut yang membuat berpikir berulang-ulang alasan hingga ia bisa melakukan hal-hal bodoh yang membuatnya kehilangan Michelle dulu. Kapan terakhir kali ia menyentuh gadis itu? &lt;em&gt;Fairest princess, never before he imagined they'd ended like this.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"So, this means we're okay now, right?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;&lt;em&gt;Smile.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Together, once again."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;&lt;span style="font-family: monotype corsiva;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;And they live happily ever after.&lt;br /&gt;The end.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/big&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-538963253823356994?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/538963253823356994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=538963253823356994' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/538963253823356994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/538963253823356994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/07/anemone-7-nate.html' title='Anemone - 7 - Nate'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-5199085771366703870</id><published>2009-07-04T10:53:00.001-07:00</published><updated>2009-07-04T10:53:50.422-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anemone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Anemone - 6 - Michelle</title><content type='html'>Michelle kecil memiliki rambut pirang kecoklatan sebahu dengan ikal-kal besar menjuntai di sekeliling wajah, sorot tajam dan waspada nyaris selalu tersirat dari sepasang manik yang minim pendar keceriaan. Tingginya sekitar satu kepala lebih tinggi daripada anak-anak perempuan sebaya di &lt;em&gt;pre-school&lt;/em&gt;, dan ia tidak pernah menemukan cara yang benar untuk meminjam boneka beruang milik anak lain tanpa membuat mereka menangis meraung-raung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;Since the day that we met&lt;br /&gt;I ain't never had anyone make me feel this way&lt;br /&gt;And my heart is sure it wants to be with you&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu &lt;em&gt;omma&lt;/em&gt; akan tergopoh-gopoh datang untuk meminta maaf pada orangtua si korban sambil beberapa kali membungkukkan badan dan bertutur dengan logat Asia yang kental. Celemek dengan noda saus tomat masih tersampir di pinggang, dan dari tubuhnya menguar aroma &lt;em&gt;today's menu&lt;/em&gt; cafe di sisi perempatan pusat kota. Surai hitam sang ibu kala itu masih panjang, rapi terikat menjadi satu kuncir di belakang punggung. Sementara poni tebal yang menutupi kening nampak sedikit lepek dan berantakan, mungkin karena peluh dan terpaan angin saat terburu-buru melintasi jalan menuju sekolah setelah menerima telepon dari kepala sekolah. Michelle sudah lupa namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bibir mengerucut dan hidung mengernyit seakan merasa integritas lembaga pendidikan yang dibinanya akan tercemar apabila publik menyaksikan seorang pelayan berkulit kuning dan anak perempuannya yang tidak tahu adat berada di pekarangan sekolah lebih lama lagi, ia akan mengomel dalam Bahasa Perancis dengan cepat—entah apakah sindiran terhadap orang asing terkandung di dalamnya, karena jelas si gadis kecil dan ibunya tidak dapat menangkap keseluruhan maksud ucapan dari nenek tua itu—dan menyuruh Mrs. Kim untuk membawa putrinya pulang dengan catatan, anak itu wajib menerima wejangan sopan santun tentang cara bergaul ala seorang gadis Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;Wanna give you the whole world&lt;br /&gt;If you make that promise to me, You're gonna stay&lt;br /&gt;Without you here with me, I'm lost and so confused&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun berlalu, namun &lt;em&gt;fille&lt;/em&gt; berdarah campuran dua benua itu tidak pernah berubah. Ia masih keras kepala dan cuek, juga tak segan memukuli murid-murid lain di sekolah yang memandangnya setengah mata—hanya karena tidak banyak &lt;em&gt;brunette&lt;/em&gt; jangkung bermata sipit tinggal di Avallon. Ketika kekuatan sihir mulai menampakkan diri, ia berhasil membuat seorang anak laki-laki pingsan saat bermain bola tangkap. Semua orang berpikir tidak mungkin sebuah bola karet mampu membuat seseorang sampai terkapar dengan benjol sebesar telur ayam di dahi, maka tersiarlah cerita bagaimana seorang gadis temperamental berhasil membalas dendam pada teman sekelasnya yang sering mengolok dengan menghantam kepala anak itu dengan pemukul bisbol saat semua sedang tidak memperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebagaimanapun buruk pandangan orang lain, ibunya tidak pernah mengeluh. Ia mempercayai dan menyayangi putri kecil yang dia lahirkan sepenuh hati, menerima pandangan negatif dari mereka tanpa mengeluhkan apapun. Sementara bermil-mil jauhnya dari tempat itu, sang ayah duduk berpangku tangan sembari menganggap si anak perempuan tidak cukup berharga untuk dijaga baik-baik karena warisan klan hanya akan diturunkan pada kaum lelaki. Dan Michelle tidak pernah membayangkan bagaimana wujud rupanya kini jika sepanjang masa-masa sulit itu, satu-satunya orang yang mendampingi bukanlah Kim Eun-soo. Atau sikap yang ditunjukkan &lt;em&gt;omma&lt;/em&gt; kala itu tak ubahnya seperti kisah yang baru saja mengalun. Mungkin ia sudah dibuang ke panti asuhan antah-berantah atau bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia tidak percaya selama ini berani mengaku-ngaku sebagai seorang korban tanpa mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa sang pangeran mengalami gejolak semacam itu berkecamuk dalam hati sepanjang waktu. Tatkala yang ada dalam pikirannya hanya konfrontasi atas adegan pemuda itu mencium gadis lain, Nate setengah mati menahan diri sebab merasa ia tak cukup pantas bersanding dengannya. Ia sendiri tak yakin jika berada di posisi pemuda itu, ia mampu melakukan hal serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Now who's the little selfish princess, eh&lt;/em&gt;...&lt;em&gt;?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;I'm gonna be the love that's gonna last&lt;br /&gt;And be the one that got your back&lt;br /&gt;Ain't nothing ever that bad that we won't be together?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening. Meski tidak yakin apakah waktu berjalan lambat hanya ketika bergulir di sisinya, ia merasa detik telah jauh meninggalkan mereka dalam kehampaan ketika kesadaran kembali memecut. Ada keyakinan terpantul pada iris berlapis bening kornea milik bola mata cokelat sang &lt;em&gt;fille&lt;/em&gt;, namun merangkai kata-kata dari bibir nampaknya bukan pekerjaan mudah pada situasi seperti ini. Gadis itu menggenggam erat buketnya, merasakan keringat dingin menjalari telapak, tapi ia tidak takut. &lt;em&gt;A life with no regrets&lt;/em&gt;—setelah malam ini usai ia hanya menginginkan hadiah manis dari Morpheus. Ia bersyukur karena bukan kenyataan pahit yang disuguhkan kebenaran dari kisah panjang dan melelahkan milik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"&lt;em&gt;And you're silly for keeping these out from me. You know it's not the perfect&lt;/em&gt; Nathan Harvarth &lt;em&gt;that anyone else see whom I adore—it's you&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;This man&lt;/em&gt;,"&lt;/strong&gt; Michelle mengerjap sebentar, meletakkan tangan kanannya di pundak Nate. Mendongak untuk menatap lekat-lekat guratan sempurna wajah milik pemuda yang sama tiga tahun lalu—dan tercekat saat menyadari betapa orang yang dikasihinya telah bertambah dewasa. &lt;strong&gt;"&lt;em&gt;along with his goods and his flaws; I accept him&lt;/em&gt;."&lt;/strong&gt; Maniknya mengerling sepasang lain milik sang lawan bicara, terdiam, namun tidak menunjukkan tanda telah selesai bicara. Ia memejamkan mata. &lt;strong&gt;"&lt;em&gt;But I won't forgive you—&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;—unless you swear that you will not let such thoughts come up in your mind again&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Ever&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;I'd never be happy if it's not you&lt;/em&gt;."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesak, jadi jangan suruh ia berbicara lebih lanjut karena pastinya memang tidak mungkin. Selain karena merasa takut racauan akan membuatnya terdengar seperti aktris yang tengah memerankan sebuah roman picisan, Michelle sudah merasa jantungnya berpindah ke kepala—berdentum-dentum dalam rongga tempurung. Sedetik berselang, pemilik helaian gelombang tergerai itu menunduk, memandangi kelopak-kelopak cantik Anemone dengan pipi bersemu. Keningnya bersandar pada tubuh sosok di hadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;It's more than words to say&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;And though we both made our mistakes&lt;br /&gt;And some we never wish we made&lt;br /&gt;But we'll be okay if we just stay together&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-5199085771366703870?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/5199085771366703870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=5199085771366703870' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/5199085771366703870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/5199085771366703870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/07/anemone-6-michelle.html' title='Anemone - 6 - Michelle'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-6945039161589356609</id><published>2009-07-04T10:52:00.000-07:00</published><updated>2009-07-04T10:53:19.103-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anemone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Anemone - 5 - Nate</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;Once upon a time there was a little prince&lt;br /&gt;He was so full of himself&lt;br /&gt;that he never thought about anyone else&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But one day, the prince met a beautiful princess&lt;br /&gt;He offered his hand to the princess&lt;br /&gt;and was happy when the she took his hand&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu tidak bergeming. Hanya menatap dalam kebisuan, tidak ingin menemukan kata-kata yang mungkin bisa mengakhiri malam ini. Dan jika sang kala mau mengabulkan permintaannya untuk kali ini saja, bekukanlah waktu agar ia bisa menatap sang putri seperti ini selamanya. Sekalipun hanya sebuah ilusi semu, tenang sebelum badai. Tapi ia tidak perlu mendengar penolakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate bertanya-tanya sejak kapan ia menjadi orang yang seperti ini. Hidup sebagai anak seorang pengusaha yang kaya raya membuatnya mendapatkan semua hal yang bisa ia inginkan. Tapi justru hal yang ia inginkan adalah sesuatu yang tidak bisa didapatkan dengan emas. Kasih sang ibu sebagai contoh. Nate terbiasa untuk menyerah di saat ia tidak bisa mendapatkan sesuatu. Ia menyerah untuk kasih sayang, ia menyerah untuk kebahagiaan. Dan awalnya ia ingin menyerah untuk Michelle juga. Ia pernah menyerah untuk memiliki gadis itu. Tapi kali ini ia tidak bisa. Ia tidak bisa menyerah. Untuk pertama kalinya, ia ingin bertahan dan tidak berputus asa. Dia pernah kehilangan gadis itu sekali, ia tidak ingin kehilangannya lagi. Meski dihujam berkali-kali, meskipun pikirannya galau hingga ia hampir merasa tidak waras lagi, ia tidak ingin menyerahkan setitik harapan untuk mengulang kebersamaan mereka lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kelas transfigurasi itu, pertama kali ia menemukan sosok seorang Michelle lewat bantuan Sylar. Banyak orang kurang ajar di sana. Mereka menjelek-jelekan gadis itu dan Nate ingin membelanya. Selain karena ia sendiri memang merasa tersinggung dengan ucapan mereka. Kisah mereka berdua berawal dari sana. Sebuah tantangan kecil dari sahabatnya, yang mengantarkannya pada sosok yang menghantui pikirannya selama hampir empat tahun kebelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;Time passed&lt;br /&gt;and the prince had gotten attached to the princess&lt;br /&gt;But no one knew, that the prince held a secret&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;His secret was his insecure feeling&lt;br /&gt;Although he was acting proud and all&lt;br /&gt;Actually he always thought that he was worth nothing&lt;br /&gt;And he thought, he didn't deserve the princess&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then he took another girl&lt;br /&gt;so that the princess would hate him&lt;br /&gt;and live happily with other man who was better than him&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nathan, it means gift of God.&lt;/em&gt; Tidak pernah sekalipun ia punya pikiran bahwa dirinya adalah sesuatu yang baik, hadiah, karunia, apalagi dari suatu entitas Maha Kuasa seperti Tuhan. Apa yang ia bawa selain musibah? Tapi mendengar kalimat itu dari ayahnya dan pengetahuan bahwa sang ibu tidak pernah membencinya, memberikan suatu harapan baru baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan itu juga yang membawanya ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi. Berdua. Di bawah langit bertabur bintang yang menjadi saksi ikrar mereka tiga tahun lalu. Anehnya kali ini ia tidak merasa tegang atau gugup. Jantungnya tidak berdetak cepat atau apapun yang menunjukan tanda-tanda perasaan yang kacau seperti yang seharusnya ia rasakan. &lt;em&gt;Aneh.&lt;/em&gt; Ia bisa tersenyum dengan mudah, seakan seluruh bebannya hilang tanpa bekas. Mungkin karena tanpa sadar, ia sudah siap menerima segala kemungkinan yang bisa terjadi. Meskipun ia masih juga merasa ingin melompat dari menara. Nate merasa sangat labil. Sebentar ia merasa tenang lalu di saat yang lain ia merasa kesal, sedih, gugup, frustasi. Ia benar-benar meragukan kewarasannya sekarang. &lt;em&gt;Crazy in love&lt;/em&gt;, eh? &lt;em&gt;Literally.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebisuan diantara mereka entah bagaimana justru membuatnya nyaman. Mungkin juga itu efek dari tatapan sepasang kristal gelap di depannya. Bagaimana bisa dulu ia sampai memikirkan untuk meninggalkan Michelle? Tolol benar dia sampai ingin menyerah. Apa yang ia lakukan dengan Crossroad waktu itu? Hanya karena si M itu berkata sesuatu yang membuatnya marah, hanya karena ia merasa begitu tidak bergunanya. Yah, itu alasannya. Karena ia merasa tidak bisa melakukan apa-apa. Lemah. Ia sangat kecil di hadapan dunia. Tapi ia tidak cukup lemah untuk menyerah sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;Years passed, the prince had grown up&lt;br /&gt;and he never once forgot about the princess&lt;br /&gt;His heart was aching so much he couldn't bear it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And one day the prince realized&lt;br /&gt;that he had paid so much for the princess' happiness&lt;br /&gt;his love was beyond pain&lt;br /&gt;...so maybe he did deserve her&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap bisa menafsirkan arti dari pandangan gadis di depannya. Helaan halus yang hanya bisa ia hubungkan dengan kata 'lelah'. Lelah dengannya keheningan di antara mereka, atau lelah padanyakah? Nate tahu dia adalah orang yang pesimis. Ia selalu mencoba menghapus pikiran buruknya dengan sugesti lain. Jika dia berkata dia orang yang hebat, mungkin ada keajaiban yang membuatnya menjadi orang yang berguna. Membohongi diri sendiri agar tidak merasakan sakitnya mengetahui bahwa kehadirannya di dunia tidak memiliki arti untuk siapapun. Tapi ada saat-saat dimana ia tahu bahwa sugestinya tidak akan berguna. Sifat pesimisnya sudah menancap begitu dalamnya hingga meskipun ia akhirnya tahu bahwa keluarganya tidak menganggapnya sebuah gangguan, ia tetap merasa khawatir. Dan kali ini ia khawatir bahwa sang putri merasa sudah lelah dengan gangguan yang ia timbulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;"Give me one reason."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertegun. Apa yang harus Nate katakan? Ia tidak memiliki alasan apa-apa. Terlebih lagi, alasan untuk apa? Alasan mengapa ia memanggil gadis itu kesini? Alasan mengapa ia pergi dulu? Alasan bagi gadis itu untuk tidak langsung menghujatnya? Ia berpikir terlalu dalam. Apa alasannya berada di sini, apa alasan ia ingin bertemu dengan Michelle, ada hal yang ingin ia katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I never told you that I hated my mother, did I?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu membalikan tubuhnya memunggungi sang gadis. Nate tidak memiliki satu alasan yang diminta oleh gadis itu. Tapi ada hal yang ingin ia beritahukan pada Michelle. Rahasia yang tidak pernah ia katakan pada orang lain sebelumnnya. Tarikan nafas panjang terdengar dari sosok itu sebelum ia melanjutkan kalimatnya. "She told me that I'm unworthy, because I was another woman's. Constantly being told that made me believe it. I was happy to piss off my mother and just screw my life around. But then I met you. For the first time in my life, I wanted someone to see me as more than what I showed to the world. But as the time passed, I knew that you're too good for me. I &lt;em&gt;had&lt;/em&gt; to leave, I had to leave you, otherwise you wouldn't be happy."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;He ran, searched for the princess&lt;br /&gt;When he found her,&lt;br /&gt;he was scared that the princess didn't want him&lt;br /&gt;But the prince thought that the pain worth the princess&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So he offered his hand for the second time&lt;br /&gt;and hoped that the princess would take it again&lt;br /&gt;And maybe the story would end happily ever after&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I’m not making excuses for my actions," ujarnya cepat, ingin menekankan bahwa ia tahu tindakannya selama ini tidak bisa dibenarkan dan ia juga tidak punya niat untuk membenarkan apa yang sudah ia lakukan. Untuk meminta maaf sekarang pun rasanya sudah tidak pantas. Ia menoleh sedikit ke arah gadis itu sebelum kembali memalingkan wajahnya. Ia menghela nafas dan meneruskan kembali ucapannya, "but I have to show you the real me. I’m not a man without flaws, I am selfish, I am possessive, I am not proud of myself, I never think myself as a man who deserve someone like you. There are thousand of men out there who are far better fitted to be with you, than me."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ia tahu. Sangat tahu malah, meskipun itu tidak membuatnya kehilangan keinginan untuk mencabik-cabik pemuda mana saja yang mendekati sang putri. Cemburu, &lt;em&gt;envy&lt;/em&gt;. Salah satu dari tujuh dosa pokok yang hukumannya adalah kedua mata dijahit dengan kawat. Ia tidak bisa memiliki sang putri, tapi ia tidak ingin ada orang lain yang memilikinya. Ia adalah orang yang sangat brengsek. Ia tahu. Ia sudah tahu hal itu bahkan ketika akhirnya ia membalikan tubuhnya dan menatap gadis berparas oriental di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"But even after knowing that, I'm still wanting you."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-6945039161589356609?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/6945039161589356609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=6945039161589356609' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6945039161589356609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6945039161589356609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/07/once-upon-time-there-was-little-prince.html' title='Anemone - 5 - Nate'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-6672059717035117657</id><published>2009-07-04T10:51:00.001-07:00</published><updated>2009-07-04T10:51:48.847-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anemone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Anemone - 4 - Michelle</title><content type='html'>&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;"berani menghadapi musang macam itu... berani sekali kau, miss..."&lt;br /&gt;"Nate, Nathan Harvarth."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Michelle, sir. Michelline Fara Solathel."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...want to be an item?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr /&gt;Rasanya sudah lama tidak mengenang kejadian tersebut. Lama, lama sekali. Seakan telah lama terkubur dalam bagian paling tak terjamah dalam rongga tengkorak. Sampai-sampai ia tak lagi ingat kapan terakhir kali rekaan ulangnya terlukis dalam pikiran, hingga tanpa dinyana detik itu mendadak kilasan dirinya di masa lalu berkelebat, memeragakan dialog serupa dengan apa yang ia lakoni hampir empat tahun silam. Entah apakah seakan terpanggil oleh situasi yang tengah berlangsung saat ini, nostalgia begitu saja ramah menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum, Michelle membiarkan kesadarannya tenggelam dalam dunia awal mula, mengingat bagaimana ekspresi kekakuan penuh kekesalan Arvid, rupa Chucky dan potongan rambutnya saat berusia sebelas tahun dan kondisi kelas ketika itu. Hmm, dimana McG saat seorang pangeran berkuda putih mendarat ke tengah medan perang? Dan sungguh ia tidak pernah berhasil mempercayai bahwa sebuah kebetulan yang memperkenalkannya pada seorang anak laki-laki tertampan di kelas—lantas di kemudian hari menjadi pergunjingan setiap gadis di kastil—merupakan pertanda atas terjadinya perubahan hidup pada hidup gadis itu selamanya, bak kisah dongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;Thousands of your smile&lt;br /&gt;Getting back when I look back on those days of us&lt;br /&gt;Now I feel they are still calling me&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu tak sedikitpun terpikir bahwa sebuah jawaban sambil lalu yang menyambut ajakan bocah sebelas tahun untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman, akan membuahkan perasaan yang begitu dalam. Siapa sangka semua bergulir begitu lancar, begitu manis, dan tanpa terasa rupanya butir waktu telah jauh meninggalkan. Mereka terpaut, mereka berbagi. Atau paling tidak salah satu sisi pernah merasakan demikian. Tadinya ia yakin tidak ada yang salah dari untaian cerita indah ini, begitu mempercayai setiap gurat ketulusan yang terperi. Namun kembali, kebetulan serupa muncul dan menghadapkan mereka pada persimpangan jalan—dan perpisahan menukik tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya, kebetulan paling menakjubkan sekaligus ironis itu bernama Takdir&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang terjadi selama nyaris satu tahun kebersamaan itu. Setiap hari bagaikan lembaran baru. Halaman kosong dalam &lt;em&gt;diary&lt;/em&gt; untuk diisi dengan berbagai momen menyenangkan. Mulai dari hal-hal kecil hingga kejutan yang luarbiasa—tak ada yang tak berhasil menyentuh hati sang putri. Seluruhnya membekas, menyisakan banyak kenangan dalam memori. Tetapi di antara semua itu, rupanya hanya salah satu yang paling diingatnya. Karena ia bukan hanya meninggalkan jejak, namun sekaligus berhasil membenamkan setiap butiran kenangan yang lain, menyisakan kawah hitam menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;Looking for the word&lt;br /&gt;Just a simple word&lt;br /&gt;To open up closing door of my heart&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja siang itu takdir tidak begitu kejam menyuguhkan drama pengkhianatan sang pujaan hati, apakah detik ini mereka akan berada disini untuk tujuan yang berbeda? Apakah ia akan hidup dalam bayangan angan-angan dan kepalsuan setiap detik, setiap saat selama bersama dengan pemuda yang ia anggap segalanya? Ataukah pada lain kesempatan, takdir akan kembali mengunjungi untuk menghadiahkan pengungkapan dengan alternatif yang berbeda? &lt;em&gt;We never knew&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lalu apa yang akan kau kabarkan hari ini padaku, Tuan Takdir?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak berhasil menebak perasaan dan isi pikiran pemilik tatapan manik cokelat di hadapannya tiga tahun lalu, dan juga tidak beranggapan akan dapat melakukan hal tersebut sekarang. Maka Michelle bertanya, apa yang takdir inginkan darinya, namun tentu saja tidak ada tanggapan—takdir tidak mengangkat telepon malam ini, seperti juga malam-malam yang lalu. Ia tidak pernah menjawab panggilan sang &lt;em&gt;fille&lt;/em&gt;. Hanya mampu terpekur seorang diri bersama kuntum Anemone putih dalam genggaman, ia menghadapi hujaman kedua bola mata pemuda itu. Pemuda yang sama dengan setiap gambaran sosok dalam ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya ia yang disodori tuntutan untuk memilih, mengulangi semuanya dari awal atau mengakhiri sampai disini. Mungkin sudah terlalu banyak tombol &lt;em&gt;'restart'&lt;/em&gt; tertera dalam jalinan kisahnya sampai tercipta dirinya yang sekarang. Kehilangan ingatan, kembalinya sang ayah, mengetahui keberadaan seorang adik dan menghapus jejak Crosette—setiap melalui percabangan, dan harus membuat satu keputusan ia bertekad untuk tidak lagi menoleh ke belakang atau merasa menyesal. Tidak pernah berpikir bahwa seharusnya &lt;em&gt;the second option&lt;/em&gt; yang terpilih. Karena itulah, fondasi keyakinan menjadi hal yang mesti dibangun saat ini. Tiga tahun lalu janjinya dinodai, namun tidak akan lagi ia membiarkan untuk kedua kali, kejadian menyakitkan terulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Helaan napas kecil terdengar, diikuti anggukan kecil. Saat membuka mulutnya perlahan, sopran halus sang gadis memecah keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"&lt;em&gt;Give me one reason.&lt;/em&gt;"&lt;/strong&gt;—&lt;em&gt;to say yes&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;Let me dive into your heart once again&lt;br /&gt;To try to keep our story going on&lt;br /&gt;Is the key of heart&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-6672059717035117657?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/6672059717035117657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=6672059717035117657' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6672059717035117657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6672059717035117657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/07/anemone-4-michelle.html' title='Anemone - 4 - Michelle'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-7858141615944798966</id><published>2009-07-04T10:50:00.000-07:00</published><updated>2009-07-04T10:51:20.869-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anemone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Anemone - 3 - Nate</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;I've been alone so many nights now&lt;br /&gt;And I've been waiting for the stars to fall&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas manit terpanjang dalam hidupnya. Dan keseluruhannya ia habiskan dengan terdiam menatap langit seperti orang bodoh. Mengecek arloji setiap menit, menanti jarum panjang tiba di angka dua belas. Di menit-menit terakhir pikirannya mulai semakin pelik. Puluhan kemungkinan mulai dari yang terburuk hingga yang terbaik sehingga rasanya amat mustahil untuk terjadi membanjiri benaknya. Begitu sibuknya ia dengan &lt;em&gt;cerveau&lt;/em&gt;nya hingga hal yang ia ketahui selanjutnya adalah suara langkah di belakangnya. &lt;em&gt;Dekat&lt;/em&gt;. Ada kemungkinan lain bahwa itu sama sekali bukan orang yang ia tunggu, memang. Bisa saja itu Filch, meskipun ia ragu karena kalau memang pak tua itu yang datang, pasti langkahnya lebih berantakan dan terlebih lagi pasti langsung berteriak marah melihat seorang siswa melanggar jam malam. Mungkin Profesor Sinistra yang tiba-tiba ada kencan romantis di bawah bintang dengan suaminya yang terhitung baru. Tapi kesunyian yang mengikuti suara langkah itu memberitahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba ia merasa yakin bahwa dia memang idiot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ia harapkan dengan datang ke sini, dengan mengirim bunga itu, dan pesan itu, dan... segalanya. Ia dicampakan, mencampakan. Nate dan Michelle, itu hanya mimpi. Sudah waktunya ia bangun dan menyadari hal itu. Bodoh. Tolol. &lt;em&gt;Narre&lt;/em&gt;, dalam bahasa ibunya. Bisa-bisanya ia masih mengharapkan sesuatu yang begitu di luar jangkauannya setelah semua hal yang ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mengepalkan tangannya. Ia ingin membalikan tubuhnya sekarang, melarikan diri dari tempatnya sekarang. Jauh dan jauh dari kenyataan. Demi Tuhan, seharusnya ia mengubur diri saja bersama mandrake-mandrake di rumah kaca. Tapi ketika ia membalikan tubuhnya dan menatap sepasang kristal cokelat yang ia rindukan. Ia merasa lebih bodoh daripada sebelumnya. Bagaimana mungkin ia bisa merasa bodoh dengan melakukan tindakan yang sama sekali tidak bodoh? Kalau kau mengerti maksud anak laki-laki itu. Dan lupakanlah persoalan mengenai sebenarnya dia idiot atau tidak, karena di depannya ada masalah yang lebih penting. &lt;em&gt;She's standing there. Right in front of him, no kidding.&lt;/em&gt; Nate merasa nafasnya kembali tercekat, seperti yang selalu terjadi ketika ia kehilangan kata-kata. Betapa ia merindukan menatap gadis itu seperti sekarang, bukan hanya kilasan di kelas atau asrama, bukan hanya sepersekian detik di meja asrama atau lorong. Helen of Troy. Cleopatra. Neferiti. Phryne. Bathsheba. Marie Antoinette. Buat daftar nama-nama wanita di dunia ini yang dikatakan sebagai mahluk tercantik di bumi dan sisakan satu tempat untuk seorang Michelline Fara Solathel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;When you're standing here in front of me&lt;br /&gt;That's when I know that God does exist&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar seulas senyum muncul di wajah pemuda itu. Semuanya akan baik-baik saja. Meskipun terlihat mustahil, meskipun setelah semua yang terjadi di antara mereka, kisah ini akan berakhir dengan bahagia. Nate dan Michelle. Michelle dan Nate. Berdua. Bukan hanya mimpi tapi dalam kenyataan. &lt;em&gt;Happily ever after. Just like the story books.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;em&gt;"If you're trying to attract me into somekind of joke—this isn't funny, Harvarth."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyumnya hilang dalam sekejap. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Tentu saja. Sejak kapan kehidupan itu mudah dan sejalan dengan keinginannya? Tapi ia sudah sampai di sini, semua sudah terlanjur terjadi, dan ia tidak berniat untuk mundur lagi. Ia sendiri yang sudah bersumpah, demi sang putri, demi secercah harapan akan kebersamaan, apapun akan ia lakukan. Ia berharap, memohon, meminta, membutuhkan masa depan itu. Bersama menyusuri danau seperti dulu, senyum dan perbincangan yang membuat bahkan kelas paling membosankan sekalipun menjadi menyenangkan, berdua saja. Jika ia bisa mendapatkan hal itu, Nate bersumpah tidak akan pernah menginginkan hal lain. Hanya satu hal itu saja, yang ingin ia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"It wasn't meant to be funny,"&lt;/em&gt; ujar Nate, menatap gadis itu tepat di kedua matanya. Untuk menunjukan bahwa dia serius kali ini, tanpa kebohongan. Bukankah mereka berdua sama-sama sudah muak dengan kebohongan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;And I can't imagine two worlds spinning apart,&lt;br /&gt;Come together eventually&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada lelucon. Anemone, dalam bahasa bunga artinya &lt;em&gt;unfading love&lt;/em&gt;--cinta yang tak pernah sirna. Dan Nate sungguh-sungguh merasa seperti itu. Sekalipun ia menjauh, menarik diri dari sang putri, tak pernah sekalipun ia melupakannya. Masih ada begitu besarnya rasa sayang itu hingga ia terkadang ingin mengiris-iris pemuda lain yang berada dalam radius lima meter dari sang putri. Ia tahu ia luar biasa egois, masih menganggap Michelle sebagai miliknya hingga saat ini. Tapi bukankah semua manusia memang egois? Dan malam ini, ia membulatkan tekadnya. Nate akan mendapatkan sang putri kembali. Demi Tuhan, bagaimana mungkin ia bisa merasa seperti ini, sih? Ia benar-benar rela melakukan apa saja, bahkan kalaupun harus membunuh seseorang--jangankan itu, disuruh loncat dari menara ini pun ia rela kalau itu artinya ia dan Michelle bisa kembali bersama. Kali ini ia benar-benar tidak peduli lagi pada apapun. Nate menginginkan putrinya kembali. Serius. Ia akan membunuh siapapun yang berani menghalanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana jika memang sang putri yang menolak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahnya kelu. Setelah mengucapkan satu kalimat itu, Nate tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya menatap nanar gadis itu. Pedih rasanya jika berpikir bahwa ada kemungkinan Michelle menolaknya. Ia yang salah, ia tahu. Dari awal. Seandainya ia tidak melakukan semua hal di masa lalu itu... Tuhan, dia hanya bisa bermimpi ia bisa mengulang kembali sang kala. Antara harapan dan putus asa. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Apa yang harus ia katakan agar gadis itu mau melihatnnya seperti dulu? Galau, khawatir, takut, berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya ia tetap membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center; color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;But this journey, it was worth the fight&lt;br /&gt;To be with you&lt;br /&gt;Just to be with you&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-7858141615944798966?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/7858141615944798966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=7858141615944798966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7858141615944798966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7858141615944798966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/07/anemone-3-nate.html' title='Anemone - 3 - Nate'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-5875752191333192317</id><published>2009-07-04T10:49:00.000-07:00</published><updated>2009-07-04T10:50:19.227-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anemone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Anemone - 2 - Michelle</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;Could it be you&lt;br /&gt;Or do I lose my way?&lt;br /&gt;I'm here but colorblind&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—dan bukunya yang berjatuhan menimbulkan bunyi debam mengerikan, bergema di sepanjang lorong bawah tanah, menyusul ekspresi terperangah tak percaya saat sebuket besar kuntum kelopak putih disodorkan ke hadapan oleh salah seorang Slytherin tahun pertama bertubuh kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anemone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan hanya itu alasan atas reaksi keterkejutan gadis jangkung dengan helaian &lt;em&gt;ponytail&lt;/em&gt; panjang tersebut pada senja seusai pelajaran, suatu hari di awal musim semi. Isi pesan yang tertera bersama rangkaian bunga tersebut, beserta tulisan tangan sang pengirim—sekalipun tidak mengukirkan nama—merupakan penyebab utama menggelegaknya suatu perasaan yang sudah lama terkubur dalam-dalam. Ia sendiri tak yakin apakah harapan adalah tanggapan tepat untuk menyambut situasi yang tengah dihadapi, namun nampaknya kuasa menjawab sudah disabotase hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribu sanggahan yang berusaha digalinya sembari menghabiskan sisa hari dengan peringai gelisah tidak juga berhasil menyumpal. Setelah menghabiskan potongan &lt;em&gt;burger&lt;/em&gt; pada jam makan malam dengan berusaha keras menahan gerak bola mata untuk tidak melirik ke salah satu arah, ia buru-buru ambil langkah seribu untuk memendam diri dalam kamar, memandangi langit-langit rendah sambil duduk bersila di atas tempat tidur berlapis selimut zamrud. Sebelah tangannya mengelus tengkuk Azure yang meringkuk dalam pangkuan, dan sudah tak terhitung berapa kali helaan napas terdengar selama hal ini berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Another 03.16.1979&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin Santa Klaus begitu baik bersedia mengabulkan permintaan hadiah Natal konyol yang ia jejalkan ke dalam kaus kaki di perapian beberapa bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;Close my eyes&lt;br /&gt;I try to hide&lt;br /&gt;I'm listening to my voice inside&lt;br /&gt;What's on to tell me right or wrong&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya kembali mengerling pada seikat Anemone yang teronggok di sisi—kini tengah diendus oleh si kucing pandai dan selalu ingin tahu—untuk memastikan bahwa benda pemberian itu bukan ilusi semata. Perlahan jemari tangannya yang bebas menelusuri bagian-bagian bunga cantik tersebut, menyentuh tangkai, daun, mahkota, kemudian menghirup aroma lembut yang menguar ketika ia mendekatkan buket itu. Oke, wujudnya mungkin riil, nyata. Lantas bagaimana dengan maknanya? &lt;em&gt;Unfading love&lt;/em&gt;—cinta yang tidak pudar—dia ingin Michelle mempercayai bahwa sejak awal rasa itu pernah ada, setelah semua yang dilakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilematis. Pemikiran yang membuat ia ingin berteriak histeris kalau saja tidak khawatir anak-anak perempuan di luar, seperti Sienna dan Laffy khususnya, akan segera berhamburan masuk untuk mencari tahu apa ada Banshee muncul di dalam kamar mereka. Di satu sisi kenyataan bahwa sang pangeran pernah mengkhianati; menolak, mencampakkan, telah sukses meninggalkan lubang besar pada rongga dada. Tapi tentu bagian lain dari dirinya segera menegaskan bahwa selamanya tak ada seorangpun mampu mengobati lubang tersebut, tak ada seorangpun yang lebih ia harapkan kehadirannya untuk kembali mengisi, kecuali orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kenyataan jelas mengungkap bahwa keinginan untuk menutup kembali koyakan luka itu tak putus-putus selalu ia panjatkan. Hanya saja kini setelah kesempatan itu menganga, ketakutan mengalami rasa sakit yang lebih besar justru menghampiri. Membuatnya terlalu pengecut untuk bangkit dan memacu langkah. Bagaimana kalau semua ini hanyalah serangkaian permainan lain yang sengaja dirancang? Bagaimana kalau lagi-lagi ia dijebak dalam kenaifan untuk mengucap ikrar? Ia memang tidak pernah menyesali diri yang pernah menjanjikan segalanya pada sang kekasih, tidak sekalipun. Namun siapa yang membuatnya harus menelan kembali semua dalam kepahitan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;So leave the past behind&lt;br /&gt;I only wanna feel the sunlight stop the fight and see it in your eyes&lt;br /&gt;Wish I just knew what I should do&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun hanya ada satu cara untuk mengendus sisa-sisa ketulusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka disanalah kakinya terpancang. Di hadapan portal yang akan menghubungkannya ke dunia lain—dunia dimana hanya mereka berdua yang bermukim. Nate dan Michelle. Michelle dan Nate. Dunia milik mereka, tiga tahun silam. Sekalipun sebisa mungkin berlambat-lambat selama perjalanan meniti tangga menuju ke menara ini, tetap saja ia tiba lebih awal. Lima menit sebelum waktu perjanjian, demikian jam sakunya mengabarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakannya terhenti saat merapatkan &lt;em&gt;sweater&lt;/em&gt; abu-abu yang tersampir di atas kaus lengan panjang putih dan &lt;em&gt;twirly skirt&lt;/em&gt; biru muda selutut, karena menyadari tanpa bermaksud sengaja telah mengenakan peninggalan milik pemuda yang akan ia temui sesaat lagi. Tidak mungkin ditanggalkan sekarang, apa boleh buat. Ia mendengus, memejamkan mata, kemudian menarik napas dalam-dalam—berusaha mengendalikan degup yang berdentum, entah karena habis melanglang dari bagian terendah hingga tertinggi kastil, atau faktor lain. Diabaikannya cekat yang bercokol di faring, dan tangannya memutar gagang pintu menuju ruangan kelas Astronomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;This is it&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan yang sama. Dengan langit bertabur bintang yang tak ubahnya serupa. Dan tatapan dari manik pekat berwarna identik dengan miliknya, menghujam dari sosok yang bersandar pada selusur jendela. Detik berjalan enggan, lambat-lambat merangkak dalam keremangan di bawah siraman kubah titik keperakan, tatkala kedua insan saling menyapa dalam geming. Sang tuan putri yang lantas memalingkan wajah, sementara kedua &lt;em&gt;mary-jane&lt;/em&gt; menimbulkan ketukan ringan pada permukaan lantai. Menghantarkannya merekat bentangan jarak. Sampai kira-kira satu meter tertinggal, ia mendongak untuk kembali mendaratkan pandang pada gurat familiar di hadapan. Jauh lebih kacau, perasaannya, di banding sekuali ramuan yang tengah meletup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"&lt;em&gt;If you're trying to attract me into somekind of joke—this,&lt;/em&gt;"&lt;/strong&gt; uraian gelombang cokelatnya yang tergerai hingga mencampai pinggang berkilauan tertimpa cahaya, ketika genggaman kiri &lt;em&gt;fille&lt;/em&gt; berdarah campuran itu mengacungkan buket Anemone kepada pengirimnya. &lt;strong&gt;"&lt;em&gt;isn't funny&lt;/em&gt;, Harvarth."&lt;/strong&gt; Oke, ia berhasil. Tidak ada emosi yang boleh bergerak sebelum logika berbicara. Hanya saja, aneh menyadari alih-alih menuntut, nada suara dan sorot mata gadis itu justru menyiratkan harapan dan kerinduan yang mendalam seolah mengatakan—&lt;span style="color: gray;"&gt;"Mengapa baru sekarang?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Because as long as you wish for it,&lt;br /&gt;the promise will always be there.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;span style="font-family: optima;"&gt;Maybe it is me&lt;br /&gt;Used to plan to see that it's you&lt;br /&gt;For everything I am, everything I need, lies in you&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-5875752191333192317?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/5875752191333192317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=5875752191333192317' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/5875752191333192317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/5875752191333192317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/07/anemone-2-michelle.html' title='Anemone - 2 - Michelle'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-1204143046261936518</id><published>2009-07-04T10:48:00.000-07:00</published><updated>2009-07-04T10:49:40.268-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anemone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Anemone - 1 - Nate</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;On the day I couldn’t see&lt;br /&gt;my heart I felt insecure&lt;br /&gt;The meaning of loving somebody&lt;br /&gt;it’s something I decide myself&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik, menit, jam. Waktu memang sudah ditakdirkan untuk berjalan dan tidak ada kehendak dari siapapun yang bisa menghentikannya. Layaknya butir jam pasir yang terus jatuh, kehidupan juga terus bergulir. Meskipun tiada detik yang tidak ia lewati tanpa penyesalan. Seakan seluruh perbuatannnya bertahun-tahun ini adalah kesalahan, hanya tersisa rasa sesal yang membuncah dan harapan untuk memutar kembali sang waktu. Tapi kala yang hilang juga telah menjadi gurunya. Dan kini Nathan Kehl Harvarth akan memperbaiki salah satu kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul sembilan lewat lima puluh lima menit. Sepuluh menit berlalu sejak anak laki-laki itu tiba di menara. Setelah melewatkan musim dingin di Norwegia yang suhunya mencapai minus dua puluh derajat tahun ini, Nate sanggup ke luar di malam hari hanya dengan berlapis sweater putih tidak seberapa tebal di atas kemejanya. Meskipun memang hangat yang dibawa musim semi sudah mulai mencairkan salju di luar. Anak laki-laki itu berdiri dalam diam. Manik cokelatnya menatap pemandangan di luar jendela yang dari ketinggiannya sekarang, hanya tampak seperti dataran hampa, siap dipenuhi benih-benih baru keesokan hari, berkilauan dalam temaram rembulan. Rasa antisipasi menjalar ke tengkuknya. Bukan gelap malam yang menjadi musuhnya, bukan angin yang membuatnya gemetar. Degup yang sama, bukan, lebih menegangkan daripada saat mengejar kemahsyuran di lapangan quidditch. Mengejar dan menangkap snitch. Dan kali ini juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;“You've been terribly chipper these days. May I ask what merits the occasion?”&lt;br /&gt;“A game. The most important match in my life.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun, kurang lebih. Siapa yang bisa percaya selama waktu itu hidupnya ia habiskan dalam sebuah dunia khayal. Curiga dan dengki, tak percaya bahwa ada artinya ia dilahirkan. Berpikir selamanya ia ditakdirkan berada dalam kegelapan, sendiri karena tidak ia tidak pantas untuk didampingi. Menatap penuh rindu apa yang ia pikir bukan untuknya. Sulit dipercaya begitu bodohnya otak yang selama ini ia banggakan itu. Andai saja dari awal ia bisa melihat dengan mata yang benar-benar terbuka, Nate tahu hidupnya sebenarnya sudah sempurna dari awal. Tapi dia telah mengacaukannya, dengan tangannya sendiri. Dan penyesalan yang seperti apapun tidak akan cukup untuk menghapus kebodohan yang telah dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia masih bisa memperbaikinya bukan? Ia harap... masih. Dan dengan setitik harapan itulah, ia berdiri di tempat itu. Menunggu akan datangnya sang putri. Kalau itu masih mungkin. Tiga tahun penghindaran, sesak dan tersakiti namun tahu bahwa itu adalah yang terbaik untuk orang yang begitu berarti. Nate tidak peduli betapa sakitnya penderitaan yang harus ia rasakan. &lt;em&gt;Anything for her happiness, anything&lt;/em&gt;. Tapi tampaknya justru sebaliknya. Nate telah menyakiti, melukai hati gadis itu. Ia tidak yakin, apakah kata-katanya, tindakannya, bisa membuat sang putri kembali menatapnya seperti dahulu. Hatinya terus memanggil, berdenyut untuk satu kemungkinan kecil. Bahwa apa yang dikatakan oleh gadis itu... pengakuan yang begitu tulus itu, masih ada. Masih nyata. Meskipun Nate sendiri yang sudah mencabik kepercayaan dan harapan. Ia berharap, meminta, memohon, agar setidaknya, belum terlambat baginya. Untuk jujur pada perasaannya, untuk jujur pada orang yang dikasihinya. Untuk mendapatkan kembali apa yang telah hilang. Sekalipun ia harus menjual jiwanya sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal enam puluh detik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemetar. Bagaimana seandainya semua harapan yang dipegangnya selama ini hanyalah kepalsuan belaka? Seandainya ia tidak datang. Apa lagi yang bisa diharapkannya sesudah itu? Hancur. Lebur. Ucapkan selamat tinggal pada Nathan Kehl Harvarth. Gemetar. Seandainya, seandainya janji itu palsu, terlupakan. Apa lagi yang bisa ia percayai? Ia tidak berpikir sejauh itu sebelumnya. Belum terlambat baginya untuk pergi. Lebih baik ia tidak tahu daripada harus mengetahui kebenaran yang menyakiti. Kakinya ingin membawanya lari dari sana. Secepatnya pergi dari tempat itu, ikrar yang pertama. Sumpah selamanya. Mereka, berdua. Tanpa orang lain. Dan ia ingat saat itu. Seakan baru, seakan tidak pernah terlewati. Saat ia percaya bahwa segalanya sempurna, karena mereka berdua, dan itu cukup. Untuknya, untuk mereka, untuk dunia. Percaya. Harapan. Janji. Kasih. Kemana perginya hal-hal itu selama ini? Apa ia yakin akan membuang mereka sekali lagi, tanpa pernah mempelajari bagaimana perasaan sang putri sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin tertawa, ingin menangis. Kakinya tak sanggup melangkah, tubuhnya bersandar pada bingkai jendela. Malam itu juga cerah seperti saat ini. Bintang-bintang menjadi saksi dari ikrar rahasia mereka. Berdua. Dua. Dua. Tanpa orang lain. Tuhan, betapa ia menginginkan semua itu kembali. Perasaan memuncah ini, tak bisa ditahan. Biarkanlah. Betapapun sakitnya kebenaran. Selama itu yang diinginkan oleh sang putri. Nate menerimanya. Apapun konsekuensinya. Dan Nate menyadari betul posisinya sekarang. Seorang manusia. Merasa, menginginkan, mempercayai, mengharapkan. Sakit, kecewa, sedih, senang, bahagia. Ia tidak peduli, sekalipun kali ini yang diterimanya adalah penolakan. Ketidakhadiran, muak. Nate... akan menerimanya. Meskipun, setitik harapan itu tidak pernah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Three years ago, I gave you a proposal.&lt;br /&gt;Tonight, I'm offering you my hope.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;I promise you, I won’t wander off anymore&lt;br /&gt;I’ll be strong...and prove myself to you&lt;br /&gt;I won’t run away, I’ll turn around to face you&lt;br /&gt;so I can see how you feel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-1204143046261936518?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/1204143046261936518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=1204143046261936518' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/1204143046261936518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/1204143046261936518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/07/anemone-1-nate.html' title='Anemone - 1 - Nate'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-8991013878123400345</id><published>2009-06-30T08:25:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T08:26:46.644-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><title type='text'>Noel</title><content type='html'>Di suatu tempat di bagian Eropa Utara, ada sebuah kerajaan yang memiliki seorang raja yang arif dan bijaksana. Didampingi oleh permaisuri yang tersohor karena kelembutan dan kecantikannya, mereka berdua membentuk pemerintahan yang adil dan dicintai oleh rakyatnya. Suatu ketika, sang ratu mengandung. Seluruh kerajaan bersuka cita, menunggu selama sembilan bulan untuk menyaksikan kelahiran putera mahkota yang akan meneruskan pemerintahan sang raja arif. Tapi penantian itu dikecewakan oleh kelahiran sang bayi yang ternyata adalah perempuan. Sang raja kecewa dan sang permaisuri bersedih. Seluruh kerajaan menyayangkan hal itu. Sampai akhirnya, sang permaisuri mengandung untuk yang kedua kalinya. Lagi-lagi semua bergembira, menanti penuh harapan akan kedatangan sang putera mahkota. Namun mereka harus menelan kekecewaan lagi. Karena kali ini juga yang lahir adalah seorang puteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun terlewat, namun kerajaan itu belum juga dikaruniai seorang putera. Dua kali sang permaisuri mengandung, dan dua kali bayinya gugur. Pedih hati sang permaisuri karena tidak bisa melaksanakan tugasnya untuk melahirkan putera mahkota. Namun tidak sekalipun ia menyesali kelahiran kedua putrinya yang cantik. Lain halnya dengan sang raja. Rasa kecewa yang sedemikian besar membuatnya rikuh. Tanpa adanya penerus, bagaimana nasib kerajaan yang sudah ia bangun sedemikian rupa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, sang raja pergi mengunjungi kerajaan lain guna mempererat persahabatan di antara keduanya. Di sana, sang raja terpana oleh sosok seorang wanita. Wanita itu adalah bangsawan muda yang memiliki semangat hidup yang tinggi. Keceriaan sang bangsawan begitu memikatnya hingga sang raja pun takluk. Permaisuri yang mengetahui hal ini terkejut dan merasa telah dikhianati. Dendamnya terus menyala pada bangsawan yang telah berani merebut rajanya. Terutama, ketika ternyata bangsawan itu melahirkan seorang anak laki-laki. Sang raja berbahagia akan kelahiran penerusnya. Rakyat gembira dengan kedatangan sang putera mahkota. Tapi permaisuri yang masih memendam kebencian pada sang bangsawan yang meninggal setelah melahirkan puteranya tidak ikut senang. Kendatipun objek kebenciannya telah tiada ia meneruskan perasaannya itu pada sang putera mahkota. Rakyat dan penghuni istana yang lain juga berbisik-bisik. 'Pangeran yang tidak pantas mendapatkan kedudukannya'. Karena dia dilahirkan oleh wanita yang bahkan belum menjadi istri raja. &lt;em&gt;Anak haram.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah ada akhir yang bahagia untuk sang pangeran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu sebabnya, Nate memiliki ketidak sukaan tersendiri pada dongeng. Memikirkannya saja sudah membuat alisnya berkerut. Manik kecokelatan miliknya menatap lekat pada api di perapian seakan menimpakan kesalahan pada energi kemerahan yang menimbulkan bunyi berderak. Ia berdiri di hadapan perapian dengan tangan bersidekap di depan dada. Sweater hitam di atas t-shirt bewarna abu-abu dan jeans hitam menjadi pilihannya sore itu. Ia mengetuk-ngetuk lantai dengan kakinya yang beralaskan sepatu kanvas hitam putih. Sedikit banyak merasa bersyukur hari itu ruang rekreasi cukup kosong, sehingga tidak ada orang yang memperhatikan tingkahnya yang tidak wajar di depan perapian. Sudah lima belas menit ia berdiri sambil memperhatikan sang api menjilat kayu bakar hingga menjadi abu. Orang pasti akan bertanya apa yang ia lakukan di sini, bermurung ria seorang diri sementera yang lain sedang menikmati semangat natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, Natal. Sulit melupakannya di saat seluruh koridor di dekorasi dengan hiasan-hiasan khas acara ini. Belum lagi nyanyian hantu yang kebetulan berpapasan dengannya dan juga para lukisan yang juga gembira sekali merayakan hari raya yang satu ini. Ditambah dengan pohon natal di aula dan anak-anak lain yang semuanya membicarakan hadiah yang mereka inginkan untuk natal atau yang ingin mereka berikan. Indah sekali. Membuatnya ingat dengan hal-hal yang menyebalkan. Tolog diingat bahwa Nate sama sekali tidak berterima kasih dengan suasana nista ini. Dan untuk mengingat bahwa bertahun-tahun yang lalu juga ia pernah merasa senang dengan datangnya hari natal. Bodoh sekali dia waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mendengus ketika melihat beberapa kaus kaki tergantung di atas perapian. Kaus kaki, permohonan, santa klaus. Kebohongan yang biasa. Terlalu kekanak-kanakan sampai Nate sendiri malas untuk menyebutkan poin-poin yang tidak masuk diakal dalam cerita kakek berjanggut itu. Dan permohonan, yang benar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putera Harvarth tidak pernah memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memangnya ia bisa meminta apalagi? Emas bergelimpangan, jubah dan tas baru sudah menjadi makanan sehari-harinya, set gobstone emas 24 karat dengan bertahtakan permata pun bisa ia dapatkan dengan jentikan jari, sapu terbang paling baru juga hanya memerlukan sehelai perkamen yang dilayangkan pada ayahnya, bertemu dengan tim quidditch favoritnya pun hanya perlu satu kontak floo dengan menyebutkan namanya, makanan Perancis mewah selalu dihidangkan koki di rumahnya, malah Nate yakin ia bisa mendapatkan naga untuk peliharaan jika ia benar-benar menginginkannya. Maaf untuk mereka yang miskin dan tidak bisa memenuhi segala keinginannya. Takdir. Katakan, apa lagi yang bisa ia minta di saat semua kebutuhannya sudah terpenuhi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate meringis. Mau tidak mau mengakuti peribahasa &lt;em&gt;money can't buy everything&lt;/em&gt;. Ia punya permintaan tentu saja. Rahasia. Tapi ia tidak akan menuliskannya di atas secarik perkamen dan memasukannya ke dalam kaus kaki seperti orang bodoh. Ia sudah tahu itu hanya tradisi konyol dan tidak ada gunanya ia melakukannya. Dicap sebagai orang aneh yang masih mempercayai keajaiban natal jelas adalah 'tidak' untuknya. Tapi pada akhirnya ia melakukannya juga. Memasukan perkamen maksudnya. Bukan mempercayai keajaiban natal atau apa. Ia tidak percaya. Sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;I want to be worthy&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-8991013878123400345?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/8991013878123400345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=8991013878123400345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8991013878123400345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8991013878123400345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/06/noel.html' title='Noel'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-7710303504386241204</id><published>2009-06-30T03:14:00.001-07:00</published><updated>2009-06-30T03:21:10.348-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Winter Holiday</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Oslo, Norwegia. Kota yang suhunya bisa mencapai minus tiga puluh derajat celcius di musim dingin dan bahkan di musim panas pun suhu tertingginya hanya sekitar dua puluh derajat celcius. Kota yang identik dengan salju dan di musim dingin seperti sekarang ini matahari hanya terbit selama enam jam. Dibesarkan dalam keadaan alam yang sangat dingin, Nathan Kehl Harvarth selalu merasa menderita saat harus melewatkan liburan musim panas di London. Meskipun bukan berarti satu-satunya anak laki-laki dari Odieneer Harvarth itu menyukai salju. Nate—begitu ia biasa dipanggil, tidak menyukai musim dingin ataupun musim panas. Meskipun begitu, anak laki-laki itu menyukai semua musim di Norwegia. Bahkan meskipun baginya musim dingin di Hogwarts hampir hangat-hangat kuku, ia tetap lebih memilih berada di Oslo, sedingin apapun temperaturnya saat itu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Beberapa hari sebelum natal tiba., sebuah mobil sedan bewarna hitam mengilap berhenti di depan kastil Arkeshus yang juga diketahui sebagai salah satu kediaman keluarga Harvarth. Bertuan rumahkan Odieneer, sosok dibalik kesuksesan Statoil, perusahaan energi terbesar di Norwegia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dari balik pintu kastil, seorang peri rumah bergegas menyambut mobil yang mengantar putera mahkota dari keluarga itu. Langkahnya terburu-buru hingga dua-tiga kali peri rumah malang itu hampir jatuh tersandung serbet putih dengan lambang keluarga yang dilayaninya tersulam di bagian depan, satu-satunya kain yang menempel di tubuh mahluk mungil itu. Matanya yang sebesar bola tenis semakin melebar karena takut, tergopoh-gopoh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membuka pintu belakang mobil hitam itu sekaligus menunduk serendah yang bisa ia lakukan pada sosok berambut kecokelatan yang keluar dari dalamnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Anak laki-laki itu bertubuh tinggi dalam balutan mantel tebal bewarna putih yang membuatnya tampak lebih besar daripada tubuh aslinya. Berkali-kali angin dari utara berhembus dan membawa rambut cokelatnya mengganggu penglihatannya. Tapi laki-laki itu tidak mengacuhkannya, mengerling ke arah bangunan kokoh di hadapannya dengan tatapan yang mungkin bisa dideskripsikan seperti rindu atau justru muak. Sepasang bola mata cokelatnya bahkan tidak melirik ke arah peri rumah yang berdiri di dekatnya sewaktu ia langsung berjalan memasuki gerbang utama kastil itu, menciptakan jejak-jejak dengan sepatu boot hitamnya. Tidak mempedulikan bagaimana si peri rumah kesulitan membawa koper-koper yang ukurannya lima kali tubuhnya. Itu memang tugas peri rumah, sang tuan muda bisa peduli setan dengan hal itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Nathan Kehl Harvarth telah kembali ke rumah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Ia melepas mantelnya dan menyerahkannya pada seorang pelayan. Manik cokelatnya bergulir dalam rongga matanya, menatap perubahan yang terjadi di rumah itu selama kepergiannya. Lukisan nenek moyangnya diganti dengan lukisan keluarganya, satu hal yang langsung disadarinya karena sosok dirinya dalam lukisan melambaikan tangan padanya. Lukisan itu beraliran romantisme, tidak diragukan lagi dibuat atas permintaan ibunnya. Meskipun Nate heran juga kenapa ibunya membiarkan anak laki-laki itu dilukis juga. Ditatapnya sosok wanita berambut keemasan dalam lukisan itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;“Kau sudah sampai, Nathan,” ucap seseorang dari atas tangga. Pemilik nama yang disebut itu mengangkat kepalanya, menatap wanita yang identik dengan yang baru saja ia lihat di lukisan. Rambut ikal keemasan yang dipilin menjadi sanggul anggun di belakang kepalanya seakan menegaskan kecantikan yang dimiliki bangsawan Inggris itu. Nate sendiri mengakui bahwa ibunya memang cantik meskipun sudah dalam kategori berumur, betapapun ia membencinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;“Ibu,” sapanya tanpa kehangatan yang biasa ditunjukan seorang anak kepada orang tuanya. Kristal karamel itu menatap sang wanita tanpa emosi. Nate tidak tahu lagi harus bersikap seperti pada ibunya itu. Karena itu—biarlah wanita itu yang menebak apa yang sebenarnya Nate rasakan. Kebencian yang mereka rasakan itu mutual. Dan tanpa ia duga, seulas senyum tipis muncul di wajah sang ibu. Tipis, tapi tetap saja sebuah senyum. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Ayahmu sudah menunggu daritadi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Nate mengangkat bahu dan mengikuti Arianna setelah memberi perintah pada peri rumah pribadinya untuk menyiapkan kudapan dan air panas di kamarnya. Perbedaan lainnya yang ia baru sadari adalah rumah itu terlihat lebih cerah daripada biasanya. Entah karena warna perabotan yang terlihat lebih cemerlang atau memang suasana yang membuatnya seperti itu. Perbedaan lain adalah—kali ini ia berjalan di samping ibunya, hal yang tidak pernah ia lakukan sejak enam tahun yang lalu. Biasanya ia berjalan dengan jarak dua meter di belakang ibunya, menjauh dari wanita itu sebisanya. Nate tidak menyamakan langkah dengan ibunya jelas, ia berjalan seperti biasa. Aneh, tapi seakan-akan ibunya memang sengaja berjalan di sampingnya yang jelas tidak mungkin sama sekali. Kebetulan pasti, ia tahu pasti wanita menyebalkan itu tidak mungkin mau berjalan dekat dengannya meskipun hanya untuk semenit. Anehnya, Nate sendiri tidak merasa terlalu keberatan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Mereka berhenti di depan pintu besar di sayap kiri kastil. Yang berambut emas mengetuk pintu. Beberapa saat, terdengar suara balasan yang mempersilahkan mereka masuk. Suara dalam seorang pria yang terdengar agak lebih lemah daripada yang Nate ingat. Tapi anak laki-laki itu berusaha tidak peduli, ia sama sekali tidak ingin mengingat bahwa sang ayah sempat dirawat di St. Mungo beberapa waktu yang lalu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sosok yang berbaring di atas tempat tidur tampak memilukan. Guratan umur terpatri di wajahnya dan Nate sedikit tertegun karenanya. Untuk orang yang selalu berpikir bahwa dunia ini abadi, kenyataan bahwa ayahnya tidak lagi muda membuatnya terkejut. Hampir lima puluh tahun—dan meskipun dalam ukuran penyihir itu masih tergolong muda, penyakit mulai menggerogoti nyawa pria itu. Kenyataan lain yang membuat sang anak hanya bisa menggigit bibir.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Var&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;“Nathan, kau sudah pulang…” ucap Odieneer pada putranya itu. Meskipun ia baru keluar dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu, meja di samping tempat tidurnya sudah dipenuhi dengan berkas-berkas yang harus ditanda tangani dan map berisi laporan saat ia tidak ada. Pria itu mengangguk mendengar balasan dari Nate, perlahan mengalihkan perhatiannya pada istrinya. “Bisa kau pergi sebentar? Ada yang ingin kubicarakan dengan Nate.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Wanita itu tersenyum, melangkah keluar kamar setelah mengerling ke arah putra tirinya. Sesuatu yang membuat Nate tidak habis pikir. Pertama, karena ibunya langsung mengikuti apa yang ayahnya katakan padahal biasanya ia tidak pernah tidak mencoba mengikuti pembicaraan ayahnya dengannya. Kedua, karena biasanya ibunya menganggapnya tidak ada tapi kali ini mengerling kepadanya—betapapun tidak berartinya kerlingan itu. Rumah ini semakin aneh saja menurutnya. Ia kira sesudah ini akan ada hal buruk terjadi padanya. Tidak mungkin kan wanita itu menaruh racun pada minumnya atau minum ayahnya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Sepertinya hubunganmu dengan ibumu sudah membaik.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Nate tersentak, tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut ayahnya. Selama ini, ia selalu bertindak biasa di depan ayahnya. Tidak pernah sekalipun ia bertengkar dengan sang ibu di depan pria yang menjadi panutannya dan ia rasa ayahnya sama sekali tidak menyadari ketegangan antara dia dengan ibu atau kakaknya. Dibekali dengan pikiran itu, Nate mengeluarkan ekspresi tidak mengerti sebaik yang ia bisa dan berkata, “Aku tidak mengerti maksud ayah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;“Aku tahu hubungan kalian tidak sebaik yang kalian coba tunjukan padaku. Please, Nate, I’m the head of this house. I know everything that happened in this house,” ucap pria itu. Meskipun wajahnya masih terlihat pucat, namun seringai yang identik dengan seringai yang sering muncul di wajah putranya menghiasi wajahnya. Odieneer memberikan isyarat kepada Nate untuk duduk di dekatnya. Ibarat pribahasa dinding pun memiliki telinga, ia sebagai tuan rumah tahu segala hal yang terjadi di rumah ini. Salah satu keistimewaan dari Harvarth yang memiliki kastil tempat mereka berada sekarang, selain mantra proteksi yang kuat dan tak akan bisa ditembus oleh orang yang tidak memiliki darah Harvarth, masih banyak mantra lain yang hanya diketahui oleh pemilik sah tempat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Anak laki-laki berambut cokelat itu menggelengkan kepalanya, entah apa yang ia maksud. Tapi ia tetap mengikuti isyarat ayahnya untuk duduk di tepi tempat tidur. Nate tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap sang ayah dengan ekspresi ragu-ragu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“&lt;b style=""&gt;Aldri så god hest at den ikkje kan snuble&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Your mother did a horrible mistake, but nobody’s perfect.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bahkan sebenarnya, itu semua adalah kesalahanku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Bukan, &lt;i style=""&gt;Var&lt;/i&gt;—“ ucap Nate langsung sebelum dipotong oleh ucapan sang ayah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“It was my fault,” tegas Odieneer. Mata dingin itu tampak menyesal—dan sesaat sosok angkuh dibalik nama Harvarth itu tampak rapuh. Tenggelam dalam penyesalannya di masa lalu. Ia &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menarik nafas dengan berat—seakan tiap tarikan nafasnya membawa kesakitan, dan meneruskan lagi, “ketika nama Harvarth sedang mengalami goncangan karena permasalahan internal dalam Statoil&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;, aku tidak bisa mengontrol emosiku dengan baik. Ketika Arianna datang kepadaku—aku membentaknya dan berkata bahwa kalau Freedret, ibu kandungmu, ia tidak akan mengangguku di saat seperti ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“….”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Kalau saja aku tidak mengatakan hal itu—Arianna juga tidak akan berkata apa-apa padamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;“No, Var,” &lt;/i&gt;ucap Nate sambil menggelengkan kepalanya keras-keras. Menolak dengan sangat tiap perkataan ayahnya. Ia tahu dengan pasti, bahwa ibunya memang tidak pernah menyayanginya dari awal. Masa kecilnya adalah kepalsuan. Meskipun mungkin memang perkataan ayahnya pada sang ibulah yang menguak tabir palsu itu. Nate mengepalkan tangannya, amarah yang dirasakannya dulu kembali mengisi rongga hatinya.&lt;i style=""&gt; “You never heard what she had said to me, &lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Av ingen ting kjem ingen ting&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. How can you expect me not to hate her after &lt;b style=""&gt;that&lt;/b&gt;?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;“Because she loves you—and I know that you love her as well.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Nate menggeleng lagi. Tidak habis pikir kenapa ayahnya bisa memiliki pendapat seperti itu. Ia yang mengalami semua hal itu, ia yang mendengar semua perkataan wanita itu. Ia sendiri yang merasakan sakit dari tiap kata yang dilontarkan oleh wanita itu. Dan ayahnya masih berpendapat bahwa ada kasih sayang di antara mereka—setelah selama ini? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;“She hates me, Var, she wouldn’t call me names otherwise. And I hate her too.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;i&gt;“&lt;b style=""&gt;Blindast er den som ikkje vil sjå&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;/b&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;“She hit me, Var! And, and…” suaranya menghilang, sejenak ia menggertakan gigi. Rasa frustasinya memuncah. Baiklah, mungkin ada bagian dari dirinya, hanya sedikit, yang merasa kehilangan sosok ibu yang ia kenal dulu. Wanita lembut yang selalu ada di sampingnya kala ia membutuhkan, kehadiran yang ia perlukan ketika sang ayah tidak bisa hadir karena terlalu sibuk. Tapi untuk apa ia merindukan sesuatu yang tidak akan pernah kembali? Nate menundukan kepalanya. “She never called me Nate the way you do…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“ Nama…” ucap pria di akhir usia empat puluh itu perlahan. Senyum kecil muncul di wajahnya saat ia mengenang kejadian yang terjadi hampir lima belas tahun yang lalu. Saat itu musim semi dan suhu di tempat ini sekitar sepuluh derajat celcius. Odien masih bisa mengingat hal itu seakan baru kemarin terjadi. “Apa kau tahu siapa yang memberikan namamu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Bukan Freedret atau aku atau siapapun yang mungkin kau kira. Ibumu, Ariannalah yang memberikan nama itu,” ujar Odien tenang, sama sekali tidak mengacuhkan ekspresi tidak percaya di wajah putranya. Kenyataanya memang itulah yang terjadi. Arianna memeluk bayi mungil itu—setidak suka apapun Arianna pada Freedret, wanita itu tetaplah seseorang yang lembut. Dan ia langsung menganggap bayi itu sebagai miliknya sendiri ketika ibu kandungnya meninggal sehabis melahirkan. Dan meskipun Odieneer merasa kehilangan sosok wanita Jerman yang merupakan ibu dari putranya, ia tidak bisa tidak merasa bangga melihat istrinya yang bisa merelakan segalanya dan memeluk putra kebanggannya. Dan sekalipun ia merasa menyesal telah mengkhianati Arianna, ia tidak akan menyesali apa yang telah ia lakukan. Karena jika tidak, ia tidak akan memiliki Nate sebagai putra. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;“Nathan,&lt;i style=""&gt; it means&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;gift of God&lt;/i&gt;. Kau adalah karunia Tuhan untuknya, untukku, untuk Freedret, dan semua orang yang menyayangimu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;Nate sekali lagi menggeleng keras, menolak tiap kata yang diucapkan oleh ayahnya. Ia tidak bisa mempercayainya, tidak ingin. Ia sudah terbiasa dengan tingkahnya membenci sang ibu dan sulit baginya untuk menerima bahwa selama ini ia telah bersalah—mengucapkan kata-kata yang menusuk wanita itu. “That’s not possible…&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aku bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya, she can’t love me…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;“She can, son. She is.”&lt;/p&gt;  &lt;div style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color windowtext; border-width: medium medium 1pt; padding: 0in 0in 1pt;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i style=""&gt;Because family means more than blood.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0in; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;((OOC:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;Ayah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;Even the best horse may stumble&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;Perusahaan energi di Norwegia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;From nothing comes nothing&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;Blindest is he who doesn't want to see. ))&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-7710303504386241204?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/7710303504386241204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=7710303504386241204' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7710303504386241204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7710303504386241204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/06/winter-holiday_30.html' title='Winter Holiday'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-5475188399667394041</id><published>2009-06-29T10:09:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T08:32:07.230-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anemone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Anemone - Prologue</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/anemonee.jpg" alt="Posted Image" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;Tower, at 10 p.m.&lt;br /&gt;I'll wait.&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS.&lt;br /&gt;Did you know the flower's language of anemone?&lt;br /&gt;It means unfading love. Cliche, I know.&lt;br /&gt;But I can't help if it's true.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-5475188399667394041?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/5475188399667394041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=5475188399667394041' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/5475188399667394041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/5475188399667394041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/06/anemone-prologue.html' title='Anemone - Prologue'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-4958700732739900719</id><published>2009-06-26T03:59:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T04:02:35.232-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><title type='text'>Kelas PTIH - Tahun Keempat</title><content type='html'>Nate biasanya tidak banyak berkomentar pada guru-guru PTIH yang terus berganti tiap tahunnya. Paling tidak seingatnya, sih, ia tidak banyak berkomentar. Tapi kali ini ia benar-benar terbelak. Madam Simms tidak terlalu buruk, sebenarnya. Memang make-up di wajahnya agak terlalu banyak untuknya, tapi guru wanita muda jarang ditemukan di kastil ini dan harusnya Nate merasa senang dengan pergantian ini, hanya saja wanita itu terlalu... bersinar, kalau kau mengerti maksudnya. Entah memang Simms memang berbeda atau ini karena ia sudah terlalu biasa dengan perempuan-perempuan asramanya yang memiliki aura kelam. Disebut kelam juga tidak seluruhnya benar sih, tapi jelas tidak ada pemenang kontes senyum paling indah atau semacam itu. Bukannya ia tahu apa benar si Simms ikut kontes yang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang ia tidak sukai bukan masalah make-up atau sifat yang terlalu berkilau sampai menyakitkan mata itu, melainkan entah kenapa profesor di depan itu mengingatkannya sedikit banyak pada kakaknya (fakta yang tidak bisa disangkal walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak ingin mengakui bahwa wanita itu masih memiliki hubungan darah dengannya). Bukan persamaan bahwa rambut mereka sama-sama pirang--meskipun dengan berat hati Nate akan mengakui ia lebih menyukai warna rambut Miranda, rambut si Simms itu terlihat seperti buatan. Terlalu pirang dan mengkilat. Inilah sebabnya Nate lebih menyukai wanita berambut gelap. Tapi sekali lagi, bukan itu yang membuatnya teringat akan Miranda. Mungkin senyum di wajah cantik itu, yang seakan menyembunyikan jutaan kebusukan di dalamnya. Iblis yang berkedok wanita suci yang lugu. Mungkin Nate berpikir terlalu banyak, bagaimanapun ia baru pertama kali melihat guru ini dan tidak tahu banyak tentangnya. Meskipun ia berani bertaruh guru itu pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi selama itu tidak mengganggunya, seharusnya ia tidak ambil pusing. Seharusnya. Tapi setiap nama M itu disebut, sel-sel otaknya langsung bekerja dengan giat. Mungkin hal ini berguna dalam ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemarinya memutar-mutar pena bulunya (bulu merak albino, 127 galleon 14 sickle). Sepasang kristal gelap menatap penuh perhitungan di balik tirai cokelat tua. Ia sepertinya harus memotong rambutnya, sudah mulai sering mengganggu penglihatannya. Nate mengacak-acak rambutnya, mulai bosan dengan penuturan panjang guru di depannya. Hingga ia mulai berpikir apakah ia bisa mendapat nilai O dengan mengajak si guru kencan kapan-kapan. Tapi soal itu bisa menunggu hingga akhir pelajaran. Atau kapanlah waktu yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Nobody can resist him anyway.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate menaruh kepalanya di atas meja beralaskan kedua tangannya. Menatap dengan hampir tidak tertarik bagaimana orang-orang langsung sibuk mengerjakan karangan menenai kutukan tidak termaafkan yang diperintahkan oleh pengajar di depan. Putera Harvarth itu melirik ke anak Ravenclaw yang kebetulan duduk di sebelahnya. Dengan semangat menggebu-gebu anak itu mengerjakan karangannya yang tampaknya panjangnya akan mencapai satu meter nantinya. Membayangkannya saja Nate sudah mual. Tapi mengesampingkan rasa malasnya, ia akan mengerjakan tugas itu. Setidaknya setelah ia melirik esai milik orang di sebelahnya. Bukannya Nate tidak bisa mengerjakannya sendiri, ia tahu, kok, dasar-dasar mengenai kutukan itu. Tapi untuk apa ia susah-susah berpikir ketika ada orang lain yang bisa berpikir untuknya? Dengan alasan itu, Nate mengintip esai milik Lightdarker yang duduk tidak jauh di depannya, lalu milik Michelle dan Sylar... bercanda. Memangnya ia memiliki penglihatan bagaimana sampai bisa melihat tulisan kecil-kecil yang berada sedemikian jauhnya. Yang mengingatkannya untuk mencari mantra untuk memperkuat penglihatan nanti. Untuk sementara ini, ia bisa melihat karangan anak Ravenclaw itu dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mengangkat kepalanya, dengan berat hati mengambil perkamen (kualitas nomor satu, tentu saja) dari tas bewarna hitam miliknnya. Jadi... kutukan tidak termaafkan, mengingatkannya pada pangeran kegelapan dan antek-anteknya. Dan kini ia harus memberikan alasan kenapa kutukan itu bisa dipakai? Rasanya ia ingin tertawa dengan keironisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;dl&gt;&lt;dt style="font-style: italic;"&gt;In Parchment:&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt;&lt;br /&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;Esai PTIH&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;big&gt;KUTUKAN TAK TERMAAFKAN&lt;/big&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;dibuat untuk memenuhi nilai mata pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nathan Kehl Lothurr Harvarth&lt;br /&gt;Tahun keempat, Slytherin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kutukan Tak Termaafkan&lt;/strong&gt; adalah kutukan yang penggunaannya kepada manusia lain akan dijatuhi hukuman seumur hidup di Azkaban. Kutukan ini ilegal untuk digunakan dengan alasan apapun. Namun demikian Bartemius Crouch, Kepala Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir, memberikan kekuasaan baru pada auror untuk menggunakan kutukan ini kepada mereka yang dicurigai sebagai pelahap maut. Kutukan Tak Termaafkan terdiri dari tiga macam, dan ketiganya adalah terlarang baik berdasarkan hukum maupun moral. Adapun kutukan ini yaitu Imperius, Cruciatus, dan Avada Kedavra. Ketiganya dikategorikan sebagai Kutukan Tak Termaafkan pada tahun 1717.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);" &gt;{Meskipun dikatakan terlarang, merusak, dan sebagainya, saya justru jadi bertanya-tanya alasan mengapa kutukan ini diciptakan pada awalnya. Apakah orang pada zaman dahulu memiliki nilai-nilai yang berbeda dengan kita sekarang? Ataukah dari awal memang kutukan ini diciptakan oleh orang-orang yang haus kekuasaan? Meskipun entah kenapa saya memiliki firasat bahwa sebenarnya kutukan ini diciptakan oleh anak kecil. Ya, saya tidak salah tulis atau gila. Tapi mungkin saja memang anak kecil yang menciptakannya. Bagaimanapun pelafalan ketiga kutukan ini misalnya saja Avada Kedavra) terdengar seperti kesalahan pelafalan dari Abra Kadabra. Mungkin anak-anak salah mengucapkan ketiga kata itu (tahulah bagaimana bocah-bocah suka sulit mengulang perkataan orang lain) dan akhirnya BOOM terciptalah kutukan ini. Tentu saja ini hanya teori saya yang belum terbukti kebenarannya, tapi patut diperhitungkan bukan? Bagaimanapun ini adalah teori yang masuk akal.}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. Kutukan Imperius&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kutukan Imperius adalah kutukan yang digunakan untuk mengambil alih kontrol atas tubuh seseorang. Dikatakan bahwa korbannya akan berada dalam kondisi setengah sadar dan merasa seakan seluruh bebannya hilang sehingga korban merasa tidak ada ruginya untuk mengikuti kehendak sang pengguna kutukan.&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);" &gt;{Entah ada apa dengan orang-orang yang dikutuk ini, tapi kalau saya sendiri tidak akan semudah itu mengikuti perintah orang lain tanpa tahu untung ruginya}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutukan imperius, layaknya sihir hitam yang lain, digunakan untuk kegiatan yang bertujuan untuk meraih kekuasaan, merusak, mencelakai orang lain, dan kegiatan kriminal lainnya. Catatan sejarah belum pernah menunjukan adanya penggunaan kutukan ini untuk tujuan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);" &gt;{Tidak mengherankan, karena mempelajari ilmu hitam saja sudah menunjukan tabiat yang tidak baik sebenarnya. Tapi saya rasa imperius terkadang bisa diterapkan untuk hal-hal yang cukup baik. Misalnya untuk laki-laki malang yang menyukai gadis paling populer di sekolah, namun gadis itu menatapnya saja tidak mau (bukannya ini pernah terjadi pada saya, maaf-maaf, ada juga yang terjadi kebalikannya). Kutukan imperius ini bisa digunakan kepada si gadis, siapa tahu ia akan sadar dengan kebaikan yang ada di hati si laki-laki. Meskipun penggunaan kutukan ilegal macam itu menunjukan sebaliknya mungkin, tapi yang penting niat dan cinta si laki-laki yang sangat besar hingga rela melanggar peraturan. Betul?}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. Kutukan Cruciatus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kutukan Cruciatus digunakan untuk memberikan rasa sakit yang amat sangat pada korbannya. Beberapa ahli sejarah percaya bahwa kutukan ini pertama kali digunakan pada zaman Kekaisaran Romawi untuk menghukum para tahanan dan budak. Hal ini dikarenakan Crucio atau Cruciatus berasal dari bahasa Latin &lt;em&gt;cruciare&lt;/em&gt; yang artinya untuk menyiksa atau menyakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);" &gt;{Jadi, alasan untuk menggunakan kutukan ini agak lebih mudah. Bisa digunakan di beberapa kalangan masyarakat yang masih memiliki adat hukuman siksa seperti Asia Barat dan Eropa Selatan. Atau bagi para masokis, mungkin mantra ini dapat berguna. Dan tidak akan meninggalkan bekas! Itu hal yang paling penting saya rasa. Terkadang ada orang-orang menyukai rasa sakit namun tidak ingin ketahuan oleh orang lain atau tidak ingin melihat luka di tubuh mereka. Jadi tentu kutukan ini bagus juga untuk mereka. Lagipula, tidak ada larangan untuk menggunakan kutukan ini pada tubuh sendiri bukan? Bukannya saya ingin mencoba atau apa. Maaf, saya dan kutukan Cruciatus? Jelas bukan pasangan yang baik.}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. Kutukan Avada Kedavra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kutukan Avada Kedavra adalah kutukan yang mengakibatkan kematian pada korbannya, tanpa luka dan tanpa jejak sehingga mustahil untuk mengetahui siapa orang yang mengucapkan mantra tersebut apabila tidak ada saksi mata. &lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);" &gt;{Kecuali jika ada tanda tengkorak di atas mayat itu, sudah jelas pelakunya adalah kawanan yang itu.}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Avada Kedavra berasal dari kata archaic Sanskrit yang artinya &lt;em&gt;'from life, nothing'&lt;/em&gt;. Kebalikan dari kata Abra Kadabra yang berasal dari bahasa yang sama yang artinya &lt;em&gt;'from nothing, life'&lt;/em&gt;. Beberapa etimologist menyimpulkan bahwa mantra ini pertama kali digunakan di wilayah India yang sebenarnya sama sekali tidak mengherankan mengingat banyak sekali penyihir hebat berasal dari daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);" &gt;{Saya curiga bahwa awalnya mantera ini digunakan untuk membunuh sapi. Maksud saya, di India, mamalia yang satu ini dianggap keramat dan sebagainya sehingga tidak mungkin disembelih layaknya ayam atau hewan lain. Tapi dengan mantra ini &lt;em&gt;VOILA!&lt;/em&gt; mereka bisa tetap makan daging sapi yang lezat dan bergizi tanpa harus khawatir tidak menghormati leluhur atau dewa mereka! Meskipun saya masih berpendapat bahwa mantra ini awalnya ditemukan karena salah pelafalan.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 102);"&gt;}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;PS.&lt;br /&gt;Maaf saya menggunakan kata ganti orang pertama di dalam tugas, ma'am. Tidak tahan untuk tidak melakukannya. &lt;del&gt;Mungkin bisa dibayar dengan, ehem, detensi pribadi?&lt;/del&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-4958700732739900719?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/4958700732739900719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=4958700732739900719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4958700732739900719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4958700732739900719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/06/kelas-ptih-tahun-keempat.html' title='Kelas PTIH - Tahun Keempat'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-2206067275727456099</id><published>2009-06-18T10:35:00.000-07:00</published><updated>2009-06-18T10:36:35.045-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><title type='text'>Rot in Hell 1</title><content type='html'>Malam itu cerah. Bahkan angin musim gugur malam itu tidak bisa meredakan kehangatan yang meliputi kelegaan semua orang. Mungkin tidak semua, tapi kebanyakan orang. Dan di atas jembatan itu seorang pemuda berdiri. Sebuah piala emas dalam genggamannya. Cairan jingga di dalamnya ikut bergerak ketika sang laki-laki mengangkat piala itu. Senyum asimetris terpahat dalam wajah anak laki-laki bernama Nate itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana dunia pasti sedang gempar. Kau-Tahu-Siapa sang penebar terror telah lenyap untuk selama-lamanya. Bahkan ia sendiri masih mengalami kesulitan untuk mempercayainya. 31 Oktober, hari haloween yang tidak memiliki keunikan tersendiri dibandingkan tahun lalu minus berita serangan pelahap maut yang semakin merajalela tiap harinya. Lalu berita menyebar dengan cepat bahwa pangeran kegelapan telah kalah. Lenyap tanpa bekas. Mati. Karena seseorang dengan nama—Potter? Ia tahu nama itu, (selain itu salah satu keluarga berdarah murni) seeker Gryffindor yang dulu selalu bersaing dengan salah satu Slytherin yang legendaries, Regulus Black. Entah detil mengenai hal itu bagaimana, meskipun berita yang beredar mengatakan anak dari James Potter berhasil menolak kutukan kematian. Nate tidak tahu dan tidak berniat untuk mencari tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua senang, semua puas, semua lega. Suasana kastil terlalu ceria hingga dia merasa muak. Bukannya Nate tidak suka dengan kepergian Kau-Tahu-Siapa. Hanya saja, suasana itu sama sekali tidak cocok untuknnya. Memang tahun-tahun kegelapan akhirnya berakhir setelah semua kehilangan yang menimpa. Meskipun Norwegia tidak sekelam Inggris, ia sudah merasakan kepahitan akibat kehilangan keluarganya dalam perang. Tidak sekalipun ia sudi memaafkan pangeran kegelapan yang berani mengusik keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu bergulir.&lt;br /&gt;Surya terbit dan tenggelam.&lt;br /&gt;Hari berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa memuncah tanpa rasa humor di dalamnya. Itu hanya suatu bentuk ekspresi dari kenyataan ironis yang baru diketahuinya. Kakaknya tewas sesaat sebelum kejatuhan pangeran kegelapan. Entah berada di pihak siapa sebenarnya gadis berumur dua puluh tahunan itu. Korban yang berada di saat dan waktu yang tak tepat, membantu aurorkah, atau justru sebenarnya pelahap maut. Terpukul ia. Meskipun kakak tertuanya itu membencinya. Tapi Nate tidak sedih atau merasa kehilangan. Dan ia merasa bersalah karena sedikit banyak merasa senang dengan kematian ini. Apakah itu berarti dia orang jahat? Ia senang karena salah seorang kakaknya mati. Ia merasa lega. Apakah ini berarti pendapat gadis yang lebih tua darinya itu memang benar? Bahwa Nate memiliki hati yang busuk dan hanya akan menyengsarakan orang lain. Peduli setan. Miranda sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“For the Dark Lord and may he rest in peace.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Or rot in hell.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mengangkat pialanya ke arah langit dan meneguk isinya. Jus labu tidak pernah terasa seenak ini sebelumnya. Dan boleh dia berkata persetan dengan anggapan orang lain yang mungkin lewat tentang dirinya yang berdiri sendiri dengan piala emas khas Hogwarts di tangan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-2206067275727456099?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/2206067275727456099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=2206067275727456099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/2206067275727456099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/2206067275727456099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/06/rot-in-hell-1.html' title='Rot in Hell 1'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-4113324179118028712</id><published>2009-06-17T10:31:00.001-07:00</published><updated>2009-06-17T10:31:40.492-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Keempat'/><title type='text'>Quidditch: S vs H</title><content type='html'>Hatinya mencelos.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sekali.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;Surat itu datang di pagi hari. Sarapan dengan menu yang biasa dengan keadaan yang seperti biasa. Langit-langit sihir yang cerah, identik dengan langit musim gugur di luar. Sang tuan muda Harvarth duduk di ujung meja asrama berpanji hijau. Sekali dua kali ia mengetuk-ngetuk jarinya di meja, sementara tangannya yang satu memegang koran yang baru tiba. Serangan Kau-Tahu-Siapa masuk dalam halaman utama, seperti biasanya. Di kolom iklan ada orang yang menjual sapu PanahPerak yang sudah cukup langka. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya. Firasat pemuda itu sudah tidak enak sejak bangun. Ia tahu hari ini pasti tidak akan menyenangkan. Yang tidak ia ketahui adalah burung hantu elang milik keluarganya akan datang dan membawa goresan tinta yang membuatnya menjatuhkan piala emas dalam genggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;&lt;em&gt;Ayahmu masuk rumah sakit.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya berderap cepat meninggalkan gerbang Hogwarts, meninggalkan dunia di luar gerbang yang penuh dengan kesengsaraan. Mantel cokelatnya bahkan tidak bisa mengusir dinginnya musim gugur padahal ia sudah terbiasa dengan suhu minus sepuluh derajat di tanah kelahirannya. Mungkin bukan dingin musim gugur yang membuatnya menggigil, mungkin bukan angin yang membawa hawa yang menusuk tubuhnya. Putra Harvarth itu mempercepat langkahnya, berharap pada kemungkinan yang sedikit saja, bahwa ia tidak terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;Hatinya mencelos.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dua kali.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;Tidak sekalipun ia menyiakan waktunya yang terbatas. Izin untuk keluar dari sekolah tidak sulit begitu ia menunjukan suratnya. Tapi tetap saja ada orang yang tidak mengerti kebutuhan seseorang untuk bertemu dengan orang tuanya, apalagi kalau mungkin waktu mereka hanya sedikit. Tidak ada yang bisa melarang seorang anak untuk menemui ayahnya—dan ia ingin mengajarkan pelajaran itu pada seorang penyembuh yang menolak memberikannya izin masuk. Ia berdebat lama dan pria tua sok tahu itu sama sekali tidak bergeming. Malaikat penyelamat datang, wanita berambut ikal keemasan yang tampak benar-benar seperti malaikat saat itu. Sayang pangeran Harvarth itu terlanjur menyadari siapa sebenarnya malaikat itu—dan dia hanya bisa menerobos masuk langsung ke bangsal kelas VVIP tempat Odieneer Harvarth dirawat, tanpa ucapan terima kasih pada sang ibu. Pilu menginvasi hatinya. Sesaat ia merasa dunia runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana  terbaring sang ayah, pucat dan dikelilingi oleh tim penyembuh St. Mungo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Derapnya terdengar semakin cepat. Ia tahu ini saat-saat yang penting. Namun semakin ia mendesak kakinya untuk berlari, tubuhnya semakin tidak menuruti perintahnya. Jantungnya terus memompa darah ke seluruh tubuhnya—memberikan asupan oksigen pada sel-sel yang kelelahan. Ia tidak ingin dikalahkan oleh keadaan, Nathan Kehl Harvarth bisa memenangkan semua pertandingan. Sekalipun itu adalah pertandingan antara niatnya dengan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristal cokelat milik pangeran Harvarth itu menyipit, memfokuskan pemandangan di depan yang terlihat buram. Di sana, berdiri dengan gagahnya stadion tempatnya mengejar kemasyuran selama ini. Suara-suara terdengar dari dalam, sorak-sorai gegap gempita merayakan kemenangan salah satu tim yang berhasil mendapat angka terbanyak. Ia terhenyak, perlahan mengehentikan langkahnya. Jantungnya berdegup semakin kencang. Siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ia melangkah memasuki stadion itu perlahan—menunda ilmu tentang kemenangan dan kekalahan meski asa ingin menarik kerah seseorang dan bertanya secepatnya. Seiring dengan langkahnya, jantungnya berdetak semakin cepat kalau memang masih mungkin. Dan mereka keluar—supporter dari tim yang menang selalu keluar sambil bernyanyi dengan penuh euphoria. Kali ini mereka membawa panji—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ia terlambat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;Hatinya mencelos, darahnya tersirap.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tiga kali.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra Slytherin itu tahu bahwa asrama berlambang ular itu tidak pernah kalah dari sang musang penjunjung loyalitas. Seakan itu sudah menjadi suatu kenyataan yang diketahui khalayak umum, bahwa predator selalu unggul atas mangsanya. Tapi kali ini keadaan berbalik—dan itu semua mungkin karena dia terlambat. Bahunya terasa lunglai, mendadak beban berat seakan dijatuhkan di atas punggungnya. Ia melangkah ke arah tim berjubah emerald yang mendarat di tepi lapangan. Raut tidak percaya dan kekecewaan menghiasi wajah-wajah itu. Sang pemuda menggertakan giginya menatap semua itu. Menyaksikan ke tujuh pemain turun perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Kalian bermain,”&lt;/strong&gt; sesaat nafasnya tercekat, &lt;strong&gt;“bagus.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya menyuruhnya untuk menyalahkan mereka yang bermain, karena telah dikalahkan oleh tim lawan. Tapi yang ia rasakan hanyalah rasa bersalah. Seakan apa yang ia lakukan tidak pernah benar, seakan semua keputus asaannya mendatangkan keburukan pada orang lain, seakan artinya hidup di dunia adalah untuk menyengsarakan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya terasa terbakar saking perihnya. Tapi Nate tetap diam—berdiri di sana dan memberikan senyum hampa pada mereka yang berjuang. Sampai akhirnya ia sendiri tidak tahan. Siapa yang bermain dan siapa yang tidak. Kakinya terasa mati rasa setelah berlari secepat yang ia bisa dan hasilnya—nihil. Ia ingin tertawa, ia ingin menangis. Tidak memiliki kemampuan untuk melakukan apapun—tidak sanggup menolong timnya. Tidak sanggup mengusir kekecewaan yang dirasakan oleh orang yang paling penting baginya. Ingin membuka mulut tapi tak ada lagi suara yang dapat keluar. Hanya kehampaan yang bisa ia rasakan dan kali itu, ia berpikir bahwa matipun tak apa. Sesak memenuhi rongga dadanya, memuncah dan membuatnya kesulitan bernafas. Engahnya semakin cepat dan ia mundur—akhirnya menjatuhkan diri di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat belas tahun dan ia merasa semakin kecil. Empat belas tahun dan ia merasa semakin tidak berguna. Di sana ia terduduk—memperhatikan sepupunya dan kapten singa menghampiri sang putri dalam diam. Rindu. Betapa dia berharap dia bisa menggantikan mereka—merengkuh gadis itu dan mengusir rasa kecewa yang dirasakannya. Tapia apa daya ia tak mampu—ia tidak bisa melakukan apa-apa, bagaimana dia berpikir bisa membahagiakan orang itu? Pikirannya tahu untuk menjauh, otaknya memerintahkannya untuk tidak memikirkan apa yang tidak seharusnya ia pikirkan. Tapi hatinya terus berbisik, perasaannya semakin mendorongnya untuk menarik sang putri ke dalam pelukannya. Tapia apa daya ia tak mampu. Dan ia hanya bisa merindu. Mengasihi. Menyayangi. Mencinta. Menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Menyedihkan.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-4113324179118028712?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/4113324179118028712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=4113324179118028712' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4113324179118028712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4113324179118028712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/06/quidditch-s-vs-h.html' title='Quidditch: S vs H'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-6045996301355383346</id><published>2009-05-25T08:42:00.000-07:00</published><updated>2009-05-25T08:43:22.005-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Ketiga'/><title type='text'>Puing</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Just too many barriers&lt;br /&gt;That we keep running into&lt;br /&gt;Been tryin', but we just can't break through&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 tahun yang lalu, keadaannya mirip seperti ini. Malam di pertengahan musim dingin, salju turun lebat menutupi semua pemandangan dengan kasih putihnya yang semu. Ia ingat sosok masa lalunya yang saat itu berumur delapan tahun sedang bermain dengan sapu terbang mainannya. Desingan lucu mengiringi perjalanannya mengelilingi kamar tidurnya yang cukup luas. Sebelum ia berhenti mendadak karena suara keras yang membuatnya terjatuh. Suara pintu ruang kerja ayahnya yang dibanting dengan luapan amarah, sekarang ia tahu hal itu. Tapi sosok kecilnya tidak tahu dan ingin mencari tahu. Waktu menunjukan pukul lima sore—ia ingat betul. Waktu yang dipilih ibunya untuk menyisip teh sambil membaca buku di ruang keluarga. Sehingga pada waktu itu ia yang merengut karena terjatuh memutuskan untuk bertanya mengenai suara keras itu pada ibunya yang tidak perlu dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate kecil menghampiri wanita berambut keemasan yang sedang terhenyak di sebuah kursi bewarna safir. Baki berisi teh dan kue-kuehan tampak belum di sentuh sama sekali. Pada waktu itu seharusnya ia tahu bahwa ada yang tidak beres—tapi mana bisa anak kecil membaca tanda-tanda? Senyum lebar menghiasi wajah manis anak laki-laki itu saat ia menghampiri sang ibu dan bertanya mengenai suara tadi. Orang yang ditanya mengangkat wajahnya, sisa-sisa air mata masih tampak. Bahkan dirinya yang waktu itu sudah bisa melihat ada sesuatu yang aneh. Sosok kecil itu menyentuh tangan sang ibu, hendak bertanya. Tapi bukan jawaban yang didapatnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya—ia yang tidak menduga sama sekali, kehilangan keseimbangan dan jatuh menabrak meja teh. Nate bisa mengingat kejadian itu dengan jelas seolah baru kemarin. Sakit yang ia rasakan di pipinya tidak sebanding dengan rasa terluka ketika ibu yang amat disayanginya memukulnya. Sebuah tatapan tidak percaya dan pertanyaan terlontar darinya, ia masih tidak ingin percaya bahwa ibunya tega memukul dan menatapnya dengan pandangan penuh kebencian yang menusuk ulu hatinya. Wanita itu membuka mulut—mengucapkan dua hal yang mengubah segalanya dengan suara bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;You are no son of mine.&lt;br /&gt;I wish you were never born.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun dan bekas pernyataan itu masih terasa. Ia pergi, ingin meninggalkan bayangan sang ibu jauh di belakangnya. Karena—bukankah selama ini ibu menyayanginya? Meskipun Nate yang sekarang tahu, semuanya hanya sandiwara semata. Anak kecil itu berlari mencari kenyataan, dan siapa yang bisa mengalahkan ayahnya dalam pengetahuan? Pikirnya waktu itu, berjinjit untuk meraih pegangan pintu besar ke kamar ayahnya. Terkunci. Padahal tempat itu selalu terbuka untuk Nate, sekalipun ayahnya sedang sibuk sekalipun—ia akan mengizinkan Nate untuk masuk meski hanya memberi tahu bahwa ia tidak bisa diganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai datang—tangisan salju semakin deras, tapi Nate masih terpaku di depan pintu besar itu. Seolah tersesat kehilangan arah. Rumah tempat bermainnya selama ini mendadak asing dan terlalu besar untuknya. Ia putus asa dan ketakutan. Jadi dicobanya mengetuk pintu—tak ada jawaban, semakin keras dan semakin keras—tetap tidak ada jawaban meski hanya satu kata. Rasa sakit karena ditinggalkan itu masih ada. Takut dan perasaan terbuang bermain-main di hatinya. Tapi ia yang dulu masih ingin berharap, masih ingin mempertahankan keadaan yang lama. Jadi dia kembali berlari—lukisan di koridor terdiam ketika melihatnya, padahal Nate biasa bercengkrama dengan mereka. Tapi semuanya membisu dan anak itu bisa membayankan tatapan prihatin menyorotnya dari segala arah. Ini tidak benar. Pikirnya saat itu—ketika ia berlari ke kamar kakak pertamanya. Dipikirnya Miranda pasti bisa memberikan kenyataan padanya. Pasti bisa membuat segala keresahannya ini pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu terbuka dan ia masuk. Gadis berumur sekitar tujuh belas tahun itu tampak seperti biasa dan sesaat Nate tampak tenang. Mungkin yang tadi terjadi hanyalah mimpi buruk. Nate bercerita—mengatakan apa yang dikatakan oleh wanita yang masih ia anggap ibu beberapa saat yang lalu. Kemudian terdiam, menunggu kata-kata lembut dari sang kakak. Tapi apa yang diharapkannya tidak pernah datang. Tatapan jijik dan langkah mundur justrulah yang diberikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I knew it, I was right.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Angin yang berhembus terasa lebih dingin daripada tadi—dan itu mengatakan sesuatu. Atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Demi Merlin, dia benci musim salju. Kelam dan suram, seolah segala petaka akan tiba saat ini juga. Ia tidak menanggapi lagi kata-kata anak kelas satu yang dipanggilnya kurcaci tadi. Atau siapapun yang berbicara lagi setelahnya. Entah tidak ingin atau tidak bisa. Tapi saat pikirannya dipenuhi hal-hal lain, mungkin hal itu wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;&lt;em&gt;"Having fun, dear?"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya ia merasa dipermainkan, ada kalanya ia merasa dibodoh-bodohi oleh Sang Pencipta dan sekarang adalah salah satu dari kala itu. Suara itu terasa lebih menusuk daripada angin musim dingin. &lt;em&gt;Itu kata-katanya.&lt;/em&gt; Tidak pernah ia bayangkan kondisinya bisa terbalik begini—tapi mungkin seharusnya dia sudah bisa menebak. Atau tidak? Tapi ia tidak bisa menerimanya. Keadaan berbalik, berarti keunggulan berbalik. Tidak juga, ya. Sejak awal dia memang sudah kalah. Ia hanya terperosok semakin dalam—miris rasanya. Bahkan untuk menolehkan kepalanya saja ia tak kuasa. Ia merasa seperti tenggelam, berusaha menggapai cahaya di atasnya namun terus ditarik oleh sesuatu yang berada di bawahnya. Bagaimana sulitnya menahan diri untuk tidak merengkuh sesuatu yang paling disayanginya namun tahu tidak pantas untuk melakukan itu, Nate merasakannya lebih dari siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;This mountain we've been trying to climb&lt;br /&gt;It's never ending&lt;br /&gt;Just can't do nothing&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas tahun dan masih belum berpikir jauh ke dapan. Baru merasakan kebebasan setelah lepas dari penjara yang membelenggunya. Ia senang—ia gembira dengan keadaannya yang baru. Masih dinaungi euforia kebebasan ia melupakan hakikat dirinya. Bertingkah tanpa pikir panjang, berbuat ini dan itu tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkannya. Lalu ia menemukannya. Sosok yang membuatnya tertawa lepas seakan dunia hanya milik mereka. Dia yang mau menerima Nate begitu saja di saat bahkan keluarganya sendiri hanya memandangnya sebelah mata. Itu sebuah kesalahan—karena Nate tahu ia tidak pantas untuk mendapatkan gadis itu. Ia menyesal telah jatuh. Ia menyesal telah menjadi beban untuk sang maiden. Tapi ia tidak menyesal untuk semua yang telah mereka lewati bersama. Meskipun kini ia lelah merasa karena sakit yang terus menerus ketika harus melepasnya—ia tidak menyesal. Untuk membalas semua kebahagiaan yang pernah diberikan gadis itu padanya—ia rela meskipun harus menjual nyawanya pada setan sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;”Aku juga sayang, kok.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Manusia, benar-benar mahluk yang kompleks. Berapa kalipun ia pikirkan, tetap saja ia tidak bisa mengerti. Jangankan keseluruhan mahluk bernama manusia, bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa ia mengerti walaupun hanya setengahnya saja. Bagaimana sebagian dirinya ingin mengorbankan apa saja, &lt;em&gt;apa saja&lt;/em&gt; yang ia miliki demi dapat kembali mengulang masa-masa bersama sang putri dan sebagian lagi yang tahu betapa tidak pantasnya keinginan itu—betapa rendah dirinya jika disandingkan oleh sang maiden, betapa ia tahu bahwa ia tidak bisa memberikan hal yang layak padanya. Dipikirkan terus pun penyelesaiannya tidak kunjung datang. Jadi dia memutuskan untuk menyingkirkan keinginan yang ia anggap egois itu. Memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan sang putri—pangeran manapun akan melakukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate membalikan tubuhnya—menoleh ke sang putri yang berada dalam jarak yan begitu dekat hingga untuk sesaat Nate merasa bisa meraihnya. Ia menatap dalam-dalam kristal kecokelatan yang berkali-kali ia kagumi keelokannya. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman culas yang tidak pernah ingin ia berikan pada gadis di depannya jika keadaannya tidak seperti ini. Kepalanya terangkat angkuh saat ia menyenderkan tubuhnya ke pagar jembatan—meletakan tangannya di atas benda kokoh itu dengan posisi santai. Andai saja ada mantra untuk kembali ke masa lalu. Ia ingin menjawab pertanyaan yang terdengar menusuk itu, memberikan kalimat balasan yang bisa membuat sang gadis membencinya meskipun yang ia ingin lakukan hanyalah mengaitkan jemari mereka seperti dua tahun yang lalu. Ia dikalahkan oleh seseorang ternyata, &lt;span style="font-family: times;"&gt;”Selamat malam Michelle. Sudah lama sekali sejak kita terakhir kali bertemu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Too many locks, too many crimes&lt;br /&gt;Too many tears, too many lies&lt;br /&gt;Too many barriers&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kau merasa hidupmu tidak akan bisa lebih buruk lagi? Nate pernah. Kalau kau berasal dari Norwegia atau setidaknya, tahu mengenai kisah-kisah Norse, mungkin pernah mendengar kisah mengenai Sigurd yang mengalahkan Fafnir? Dan tidakkah kehidupannya semakin lama semakin terlihat seperti kisah sang pahlawan yang membawa &lt;em&gt;shieldmaiden&lt;/em&gt; keluar dari lingkaran api? Dan kini babak kehidupannya mungkin sudah sampai pada adegan pertikaian antara Gudrun dan Brynhild. Demi Merlin, jangan bilang hal yang terakhir terjadi padanya adalah ia mati dibunuh pacar baru Michelle. Ia tidak sudi. Meskipun Nate tidak keberatan untuk mati sekarang—tidak seperti ada penyesalan lagi di dunia ini. Saat ia tidak memiliki apa-apa lagi, pergi ke ketiadaan juga tidak ada bedanya. Mungkinkah segalanya akan berbeda jika pertanyaannya dulu terjawab? Jika sang putri berbicara padanya, mengatakan tidak akan pernah mengkhianati janjinya—akankah segalanya berbeda? Nate tidak tahu pasti—tapi itu akan membuatnya lebih kesulitan lagi untuk merelakannya. Seharusnya ia berterima kasih, karena dengan jawaban bisu itu... ia tahu bahwa sang putri ternyata tidak menginginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah kenal dengan Michelle, Arietta?” tanyanya dengan senyum menghiasi sudut wajahnya, sengaja mengalihkan pandangannya dari gadis berdarah Korea ke gadis di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah Michelle melihat isyarat yang tidak terucapkan oleh sang pangeran? Sadarkah betapapun terlihat santainya Nate, buku jarinya memutih karena tangannya mengepal sedemikian eratnya. Sadarkah meskipun ia tersenyum, matanya tidak memperlihatkan kebahagiaan. Lihatkah betapapun tegarnya ia berdiri, kakinya terasa lemas karena terlalu lama berdiri mengharapkan rembulan. Lihatkah meskipun ia mendengarkan melodi alam dan ucapan semua orang, yang diharapkan indera pendengarannya hanya suara sopran yang dengan lancang terpatri di ingatannya meski tak ingin. Sadarkah, meskipun semua hal yang terjadi—hatinya masih memberikan isyarat untuk terus mencinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya lewat isyarat ini—&lt;br /&gt;ia bisa berkata jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kasih ini masih ada, untukmu seorang.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami bersenang-senang, mau bergabung?” jawabnya bernada biasa dengan pertanyaan lain—kembali mengerling gadis berambut ikal panjang itu. Kepalanya kembali terasa pening, hal yang selalu terjadi ketika stress mulai merayap masuk ke dalam dirinya. Tangannya menyentuh pelipisnya—meskipun tidak cukup lama untuk membuat orang pasti mengenai sakit yang terasa. Nate meneruskan lagi, masih dengan kepala terangkat dan senyum angkuh yang sama, ”Kau sudah kenal dengan semuanya, &lt;em&gt;Michelle&lt;/em&gt;? Arietta, kau sudah kenal, ya. Yang ini Alvera—dan satu lagi... siapa namamu, miss?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;I know I'm gonna keep wishing I was with you&lt;br /&gt;But we just gotta stop&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-6045996301355383346?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/6045996301355383346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=6045996301355383346' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6045996301355383346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6045996301355383346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/05/puing.html' title='Puing'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-4034155197254874079</id><published>2009-05-25T08:34:00.002-07:00</published><updated>2009-05-25T08:40:23.316-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Ketiga'/><title type='text'>Kelas Ramalan</title><content type='html'>Ngantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak laki-laki berambut kecokelatan berjalan dengan wajah terkantuk-kantuk—mengacak rambutnya sesekali. Lingkaran hitam yang buruk rupa menghiasi sekeliling matanya. Ia tampak seperti panda. Sial. Oke,mungkin tidak seburuk itu—since, apa, sih, yang bisa membuat Nate tampak kurang dari tampan? Manik caramelnya melirik kanan-kiri dengan tidak fokus—dengan suatu cara berhasil menuntun sang anak laki-laki menaiki tangga spiral bewarna perak menuju kelas ramalan. Kelas yang sampai sekarang ia tidak mengerti kenapa ia ikuti. Ayolah—ini ramalan. Cabang ilmu yang paling tidak pasti, sama sekali tidak relevan, tidak bisa dipikirkan dengan logika. Kenapa juga ia mau memilih kelas ini? Oh ya, karena ia berpikir ini kelas yang paling mudah diikuti daripada segala macam kelas merepotkan yang lainnya. Ah, seandainya ia tahu apa yang sebenarnya dilakukan di kelas itu, mungkin ia tidak akan pernah meskipun hanya untuk mempertimbangkan masuk kelas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola Kristal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astrologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca daun teh.&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Omong kosong.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate menarik hood jubah seragamnya menutupi kepalanya. Ia harus berterima kasih pada siapapun yang merancang seragam Hogwarts—paling tidak hood itu membuatnya bisa menutupi wajah tidak niatnya saat melewati profesor ramalan yang nyentrik itu. Siapa namanya—rasanya sempat disebutkan di pesta awal tahun. Wanita yang seperti kelelawar tua renta dengan selera berpakaian yang pasti membuat banshee sekalipun kehilangan suara melengkingnya. Ah, ya—Trewlaney, namanya. Lihatkan, dari namanya saja sudah bisa dilihat kalau staff pengajar yang satu ini aneh. Bukannya staff yang lain tidak aneh, ya. Ia sering berpikir apa memang Hogwarts ini kurang staff berkualitas. Bukannya ia mementingkan pengajar ramalan—siapapun gurunya. Pelajaran aneh begini… tapi sudahlah, jangan membicaraka keburukan pelajaran ramalan. Kalau kena karma bisa gawat juga kan. Bukannya ia percaya dengan hal-hal tidak logis seperti itu. Tidak—ia sama sekali tidak percaya. Tapi tetap saja ia tidak ingin mengalaminya. Ia tidak percaya tapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan itu tampak lebih sumpek daripada ruangan lain. Kursi-kursi berlengan tampak asal dijejalkan ke dalamnya, membuat ruangan itu menjadi jauh lebih sempit daripada yang seharusnya. Panas yang menguar dari perapian membuat ruangan itu hangat, bukan, panas lebih tepatnya lagi. Apalagi dengan cahaya temaram yang ditimbulkan lampu-lampu yang dilapisi selendang. Nate dengan terpaksa—tanpa mengeluh seperti biasanya—menghempaskan dirinya di salah satu kursi berlengan. Meletakan kepalanya di atas meja dengan beralaskan tangannya sebagai bantal. Demi Merlin—ia benar-benar berharap tidak melakukan apa yang ia lakukan tadi malam. Tebak apa yang membuatnya sampai terkantuk-kantuk ke kelas begini? Belajar, ya. Tidak perlu membelakan mata begitu—semua orang juga tahu kalau Nate bukan murid yang asal-asalan. Oke, tahun kemarin memang ia kehilangan semua nilai-nilainya. Tapi akan ia buktikan kepada si Miranda itu—tahun ini, ia berbeda. Bukan berarti ia itu seorang kutu buku—oh, please—seorang Nate tidak bisa disamakan dengan seekor kutu buku yang merasa kepalanya terlalu tertinggi sehingga memutuskan untuk berada di menara terus. Lagipula, imej seorang kutu buku selalu dekat dengan anak-anak jelek yang tidak punya teman dan well—jauh dari Nate-lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada pelajaran... kita... dengan daun teh... Tasseomancy. tertinggal di dalam cangkir... masa kini dan masa depan...melihat yang tak terlihat. ...kosongkan pikiran... duniawi karena... pusat kosmos...melampaui... masa depan.” anda bilang apa tadi, prof? Nate mengangkat kepalanya dengan wajah sembab—bukan, ia tidak menangis, idiot—mengangkat tangannya untuk menggosok mukanya sekedar untuk memastikan bahwa ia bukan berada di alam mimpi dimana semua hal bewarna merah dan jingga. Demi banshee yang mengikik di tangga, kenapa kelas ini harus begini? Pasti ini sebuh konspirasi untuk menjatuhkan Nate. Dengan cara membuatnya ngantuk dengan kondisi kelas yang hangat dan dipenuhi harum teh. Tapi—ia tidak akan kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tidak akan pernah kalah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate menarik poci teh di mejanya—menyajikan teh untuk dirinya sendiri. Tanpa sengaja menjatuhkan sendok yang dipakainya untuk mengaduk teh. Saat ia menunduk untuk mengambil benda itu dari lantai, ia justru mendengar sesuatu yang membuat kepalanya terantuk meja saat akan menegakan tubuhnya. ”Ehem, Michelle, bentuk pertama aku melihat bintang yang berarti kesuksesan dan penghargaan. Berikutnya segitiga berati kau terlibat hubungan cinta segitiga.” Hei, Dewi Fortuna... kau membenciku, ya? Seharusnya ia memang tidak mengambil kelas ini—kenapa dari semua kelas pilihan yang disediakan, mereka harus mengambil pelajaran yang sama? Dan apapula cinta segitiga yang dimaksud... Ck, sudahlah. Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya—mengusir pikiran apapun yang memasuki kepalanya. Ia meletakan sendoknya di atas meja dan mengangkat bahu. Well—bagaimanapun juga, masih ada janji itu—ia tidak peduli apapun, selama masih ada janji itu. Ia masih memiliki hak. And life goes on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;zZzzZzz....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mencubit pipinya sendiri—jangan tidur, hoi. Jangan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu mengangkat cangkirnya—meneguk isinya pelan-pelan. Teh hangat dan scone, sungguh Inggris. Seperti ibundanya tercinta, ck. Bikin kesal saja. Tapi kalau ia tidak salah ingat kata si Trewlaney tadi—jangan memikirkan hal-hal duniawi. Jelas saja, Nate sama sekali tidak dekat dengan dunia. Pikirannya sudah mendekati gerbang dunia mimpi begini. Anak itu memutar cangkirnya tiga kali sebelum meletakannya di tatakan, sementara satu tangannya sibuk memijit pelipisnya yang berdenyut menyakitkan karena kurang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/040109214901.jpg" alt="Posted Image" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cangkir di depannya tampak menertawakan dirinya yang sedang kesusahan mempertahankan diri di ambang kesadaran yang menipis. Oh, sialan kalian udara hangat dan kursi yang terlalu empuk. Nate menggelengkan kepalanya beberapa kali—dia tidak akan kalah dari kantuk. Sekarang intruksi selanjutnya... argh, ia tidak mendengarkan apa kata si kelelawar tua itu tadi. Setelah itu apa—makan kue inginnya, sih, sayang bukan. Tapi sudah pastilah, berhubung mereka akan membaca daun teh, sekarang waktunya kegiatan utama berarti. Amati cangkir—eh, bukan—amati daun teh. Mari kita lihat, ramalan untuk seorang Nate (tolong camkan bahwa Nate tidak pernah percaya dengan yang namanya ramalan, sama sekali tidak percaya). Baiklah, yang sebelah kanan itu tampak seperti tikus—artinya... demi Merlin. Peringatan—tidak mungkin. Bukan, tadi dia pasti salah lihat. Ia memperhatikan cangkirnya dari arah yang lain—menyipitkan matanya dan mengangguk-angguk saat ia melihat bentuk lain yang terlihat seperti bell baginya. Bel—aha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Unexpected goodnews in love,” ujarnya keras dengan puas—oke, lupakan saja semua tentang si tikus aneh itu, yang ini lebih baik. Ia mengerling sosok di depannya dengan cengiran lebar sambil menyerahkan cangkirnya pada partnernya yang entah disadarinya atau tidak sudah ada dari tadi. ”Lihat Sylar, ramalanku cukup bagus, nih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masih mengantuk...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;ZzzZzZz…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan logikamu, bagaimana kira-kira keadaan orang yang dipikirannya hanya ada bantal dan selimut chincila yang hangat? Nah, begitulah keadaan bocah ini sekarang. Ditambah suasana yang hangat ini, ia merasa seperti landak yang sudah tidak sabar memasuki hibernasi tapi terus diganggu oleh setan-setan jahat. Salah satunya Trewlaney yang pastinya tidak mengizinkannya tidur di sini, kecuali kalau ia pura-pura mendapat penglihatan ketika mimpi. Tapi bagaimana caranya coba—seolah ia bisa mengatur tingkah lakunya sewaktu tidur saja. Setan yang kedua adalah Sylar yang tumben-tumbennya datang ke kelas dengan wajah segar bugar, tidak ada satupun gurat-gurat kurang tidur muncul di wajahnya. Ini pasti kutukan. Pasti jembalang yang pernah ia tendang marah dan memberinya kutukan kantuk dan pasti juga jembalang itu suka pada Sylar hingga justru membuatnya sembuh dari penyakitnya. Cih. Jembalang sial, setan ketiga. Setan yang keempat... bukan, bukan setan, Succubus. Iblis wanita cantik yang gemar menjebak kaum adam. Ia pasti sudah sedikit terperosok ke alam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate dengan enggan meraih cangkir rekannya—Sylar, tidak salah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kau kira siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://img403.imageshack.us/img403/9666/1664505786l.jpg" alt="Posted Image" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kekuatan kosmos dan alam semesta, tunjukan masa depan pemilik cangkir ini lewar bentuk daun teh. Nah. Apa yang ia lihat di sana? Coba tebak? Burung, buku, anjing, kucing? Bukan. Yang ia lihat adalah... daun teh. Seperti yang seharusnya ia lihat. Mana tanda apapun itu yang seharusnya ada di dalam cangkir? Jangan bilang daya imajinasinya kurang, di saat ia justru memiliki imajinasi yang berlebihan begini, mana mungkin kurang. Pokoknya ia melihat daun teh. Bentuknya seperti... kepiting mungkin? Entah, deh. Abstrak. Boleh tidak ia mengatakan bentuk lukisan Picaso? Tidak—tidak ada arti bentuk Picaso di buku buatan Cassandra Vablatsky itu, berarti tidak boleh menyebutnya seperti itu. Ck. Seperti bantal? Atau tempat tidur...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, ia akan mengatakan ini sekali saja seumur hidupnya, bahwa ada satu hal yang tidak bisa dilakukan dengan sempurna oleh seorang Nathan Kehl Harvarth. Dan hal itu adalah… ia tidak mempunyai mata batin a.k.a. ia tidak bisa meramal. Darimana kesimpulan itu bisa ia ambil? Well, lihat saja. Sudah lima menit ia memandangi cangkir Sylar, berharap mata batin dan kekuatan kosmos pelingkup bumi yang dikatakan itu akan muncul dan memberikan gambaran yang seharusnya datang menurut teori ramalan dari Trewlaney, dan apakah hasilnya? Nul. Zero. Nihil. Tidak, mata batinnya tidak memberikan bimbingan sama sekali. Dan ia terpaksa mengakui ia tidak punya bakat di bidang ini. Bukan berarti ia ingin memiliki bakat ramalan atau apa—ia sudah bilangkan kalau pelajaran ini hanya omong kosong dan sama sekali tidak pasti dibandingkan pelajaran lainnya. Tapi kegagalan tetap membuatnya kesal dan merasa kalah. Dan semua orang tahu Nate benci kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi di saat seperti ini—hanya ada satu yang bisa ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meramal, jelas. Apa yang kau harapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate memutar-mutar cangkir rekannya. Sesekali mengangguk dengan wajah sok yakin—percaya diri dengan entah teori macam apa yang muncul di kepalanya. Ekspresinya serius, seolah kali ini ia benar-benar sedang menghayati perannya sebagai peramal. Ia berdeham dan mulai berbicara, ”well, yang kulihat di cangkirmu adalah.... jam, yang berarti peringatan pada penundaan. Dengar itu Sylar, jangan suka terlambat lagi. Lalu kalau diputar begini... aku melihat gurita yang berarti peringatan juga. Aneh, apa akhir-akhir ini ada yang dendam padamu, Sylar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan untukmu Sylar, makanya... bagaimana bisa orang ini menularkan kantuk yang sedemikian berat padanya sementara ia sendiri bisa datang ke sini tanpa susah payah dengan mata terbuka lebar? Tidak adil. Pasti Sylar sudah menjampi-jampi dirinya, membuat sindrom kantuk berpindah tempat dengan indahnya. Heh. Tunggu, sejak kapan Sylar dan jembalang itu berteman? Uwoh, menyebalkan. Mereka berdua pasti berkonspirasi agar Nate mendapat nilai jelek di pelajaran ini. Pasti jembalang itu naksir Sylar sampai rela mengutuk Nate seperti ini. Hm... apakah jembalang bisa mengutuk? Rasanya mahluk berkepala kentang itu bahkan tidak punya otak... apa itu berarti Sylar yang memanfaatkan mahluk lemah tak berdaya dengan taring super tajam itu? Wogh. Tidak ia sangka rekannya itu tidak punya rasa keprijembalangan. Setidaknya Nate hanya menendang mahluk malang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Malang kepala nenekmu.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-4034155197254874079?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/4034155197254874079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=4034155197254874079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4034155197254874079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4034155197254874079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/05/kelas-ramalan.html' title='Kelas Ramalan'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-8075576625819210233</id><published>2009-05-25T08:34:00.001-07:00</published><updated>2009-05-25T08:34:48.179-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Ketiga'/><title type='text'>Kelas PTIH</title><content type='html'>Hari yang baru dan kelas yang baru. Sadar tidak sih, setiap memikirkan mengenai kelas yang akan dimulai Nate selalu mengeluhkan sesuatu tentangnya. Baik tentang waktu yang tidak tepat, materi yang membosankan, guru yang aneh, well, apapun yang bisa ia keluhkan. Andaikan sang Dumbledore sendiri yang rela turun dari tahtanya di kantor kepala sekolah untuk mengajar pasti Nate juga tetap akan menemukan kekurangan untuk dikeluhkan. Bukannya ia menganggap Dumbledore guru yang luar biasa baik atau apa—jauh dari sempurna menurutnya. Ayahnya kurang menyukai si tua itu, dan pendapat ayahnya selalu ia cerna dengan kelewat baik. Jadi kalau dia punya pandangan yang seenaknya sendiri, silahkan tunjuk ayahnya sebagai alasan dia seperti ini. Semua pemikirannya berasal dari beliau. Meskipun itu hanya pendapat Nate semata, narator sendiri berpendapat otak anak itu pernah terbentur sewaktu kecil sehingga saraf rendah hatinya putus tanpa ada kemungkinan untuk dibetulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa juga perlu rendah hati saat ia memang sudah berada di tempat tertinggi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate memilin-milin tongkatnya dengan wajah angkuh seperti biasa. Kepalanya terangkat sementara ia bersandar pada kursinya yang jauh dari empuk. Kenapa bukan kursi berlengan—satu pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada staff sekolah. Bukankah suasana yang nyaman juga menjadi pemicu anak-anak belajar dengan lebih keras. Dengan suasana yang tidak kondusif begini siapa coba yang bisa belajar dengan suka cita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi materi kali ini adalah boggart—entah ia harus merasa senang atau kecewa. Inderanya samar-samar menangkap suara Lightdarker dan Crossroad yang menjawab pertanyaan mengenai definisi boggart. Mahluk yang penuh misteri memang, boggart itu. Nate sendiri tidak bisa dibilang tidak tertarik dengan bahan kelinci percobaan mereka kali ini. Menarik dan ia belum bisa mengetahui penjelasan yang masuk akal mengenai kemampuan boggart itu. Apa semua mahluk itu memiliki kemampuan untuk melakukan legillimens yang luar biasa hingga bisa mengetahui ketakutan terbesar mahluk yang mengancamnya—lalu memproyeksikannya dengan mengubah bentuknya. Tapi jika kemampuan membaca ketakutan itu seperti legillimens, apakah orang yang menguasai occlumens bisa mencegahnya? Kalau tidak, apa pangeran kegelapan juga bisa dikalahkan oleh boggart? Dan katanya satu-satunya orang yang ditakutkan oleh pangeran kegelapan adalah Dumbledore. Apakah itu berarti boggartnya akan berubah menjadi sang kepala sekolah? Apa boggart dalam jumlah banyak bisa mengalahkan pangeran kegelapan dan pengikutnya? Entahlah. Semua pertanyaan itu belum bisa ia jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi marilah kita kembali pada hakikat pelajaran kali ini dan bentuk boggartnya sendiri. Ketakutan terbesar seorang Nathan Kehl Harvarth. Apa kira-kira? Beberapa waktu ke belakang mungkin ia mengatakan kematian dirinya adalah hal yang ia paling takuti. Ia masih muda, belum puas menikmati hidup. Mati benar-benar bukan pilihan untuknya. Tapi akhir-akhir ini ia menyadari ada banyak hal yang lebih buruk daripada kematian. Dan itu membuat ketakutannya pada kematian kian menghilang. Apakah itu berarti ia mulai menyerah pada kehidupan—berpendapat itu adalah salah satu solusi yang bisa dijadikan pilihan? Entah. Tapi yang jelas hal itu tidak terasa menakutkan lagi sekarang. Toh bisa dibilang kita diciptakan untuk mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah mengerti lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi pada hal yang ditakutkan, coba pikirkan kemungkinan lain—melihat Michelle berjalan dengan orang lain? Mungkin. Tidak terbayangkan bagaimana kalau sampai hal itu benar-benar terjadi di depan matanya. Ia sama sekali tidak ingin membayangkannya. Entah seperti apa sakit yang akan terasa. Belum membayangkannya saja rasanya wajahnya kaku mendadak tidak bisa tersenyum. Tapi ia akan belajar untuk merelakan—sakit memang, ia tidak yakin bisa hidup bahagia lagi kalau hal itu benar-benar terjadi. Tapi ia bersumpah, dan Nate pantang mengingkari sumpahnya sendiri. Sekalipun itu pada dirinya seorang saja. Jadi mungkin hal itu tidak jadi ketakutan lagi untuknya, menyakitkan—namun bukan hal yang ia takuti. Lagipula sang putri berhak mendapatkan yang terbaik. Benar bukan? &lt;em&gt;Please&lt;/em&gt;—konsentrasilah Nate. Anak laki-laki itu menertawakan pemikirannya sendiri dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Konyol benar.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;&lt;strong&gt;Nama:&lt;/strong&gt; Nathan Kehl Harvarth&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketakutan terbesar:&lt;/strong&gt; &lt;del&gt;Kesempurnaan diriku sendiri, becanda, prof :p &lt;/del&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Solusi:&lt;/strong&gt; ...&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate masih memilin-milin tongkatnya, berpikir keras mengenai hal yang ia takuti. Kelereng bewarna karamelnya melirik orang-orang yang maju bergantian. Mayat, mayat. Puji Merlin, apakah ia satu-satunya orang yang bisa menerima kematian sebagai sesuatu yang wajar?—apa maksudmu, Nate. Seolah kau tidak akan jadi gila kalau sampai ada seseorang di dekatmu yang mati—tapi itu karena mereka sedikit orang yang mengenal Nate bukan? Kalian yang dibesarkan dalam keluarga yang sempurna mana mengerti apa yang pangeran Norwegia ini rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alisnya mengerut ketika melihat Sylar maju dan—mengubah boggartnya menjadi sosok seorang Nathan dengan baju berenda khas boneka porselen. Hei, Lazarus—mau mati, ya? MAU MATI?! Setan kau Sylar. Manusia es menyebalkan, awas saja lain kali. Ia akan berikan alamat rumah teman masa kecilnya itu pada salah seorang gadis yang terobsesi padanya itu. Matilah kau dengan salah satu mahluk yang paling kau benci. Lalu apa lagi untuk membalas? Heh, ketakutan terbesarnya cokelat, eh? Lihat saja—sesampainya di kamar, tumpukan cokelat akan menanti di atas tempat tidurmu, Sylar. Kau sangat menyukai cokelat kan—sampai rela mendapat ganjaran dengan berbuat hal-yang-tidak-terkatakan itu? Demi Salazar, dia ingin menggilas orang itu dalam tong tempat menggerus monster yang pernah ia baca itu. Di saat-saat begini nih, ia ingin meminjam buku-buku mengerikan milik Szent. Mungkin pinjam sedikit tidak masalah—100 Cara Menyiksa Seorang Lazarus. Nice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ck, persetan dengan Sylar—gilirannya hampir tiba.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Szent mengerikan seperti biasa—dan mananya yang lucu dari solusi anak itu? Banyak pisau yang menusuk-nusuk dan darah yang mengalir membentuk genangan merah yang amis. Dasar mengerikan. Untung dia tidak menakutkan seperti Szent. Hiii... Seolah seseorang memutar kepalanya tiba-tiba, ia bisa melihat kelebatan warna-warni yang diakhiri dengan darah yang menetes dari tangannya. Bulu-bulu yang sekilas terlihat lembut tapi Nate tahu lebih dari itu. Dan ya, dia tahu apa yang ia takutkan. Terima kasih pada Szent yang sudah membangkitkan kenangannya di Diagon Alley waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;&lt;strong&gt;Nama:&lt;/strong&gt; Nathan Kehl Harvarth&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ketakutan terbesar:&lt;/strong&gt; Kucing super besar dengan cakar keluar dan nyengir menunjukan taringnya. Mendesis mengancam dan menjilat mulutnya seolah tidak sabar untuk menyantap hidangan lezat sementara matanya menyipit mengerikan menembus kulit targetnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Solusi:&lt;/strong&gt; Mengubahnya menjadi bola bulu jinak tak berbahaya yang menebrak tembok&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran Skandinavia itu melangkah ke depan—bersiap untuk menyambut gilirannya. Semua orang sepertinya senang sekali mempermainkan staff pengajar, hm... dan kenapa dia takut pada boneka? Oh, well... bukan urusannya. Ia tidak punya urusan sedikitpun mau gadis itu benci pada boneka atau suka mobil-mobilan atau alergi kuda-kudaan. Konsentrasi, ia harus konsentrasi pada konsep yang sudah ia tulis. Dan mudah saja, boggart itu menjelma menjadi bola bulu yang semakin lama semakin besar. Tingginya dua setengah meter mungkin. Bulunya yang hitam kelam tampak kontras dengan mata keemasan yang menatap tajam pada Nate. Taringnya yang tajam tampak berkilat mengancam—tiga puluh senti mungkin ukurannya. Desisan marah terdengar keras, oh—Merlin’s bunny slipper. Ini mengerikan, sumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate tercenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan kucing itu menyusut dan menjadi bola bulu yang menggelingding menjauh. Jauh dan jauuuuh... sangat jauh dari Nate. Sip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Riddikulus!” ujarnya keras sebelum cakar-cakar tajam itu merobek-robek tubuhnya. Nate tidak takut, benar, deh. Sama sekali tidak takut—sama sekali tidak takut.... berubahlah menjadi bola bulu, sekarang. SEKARANG, hoi. Tanpa menunda—dan kenapa kucing itu tampak semakin dekat dan dekaaaat... &lt;em&gt;damnit.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Poof.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monster itu tidak berubah menjadi bola bulu sepenuhnya, tapi kucing kecil yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bola bulu yang jinak tanpa cakar dan taring sebesar lengannya. Kucing ini terlihat familiar—apakah ia pernah memelihara kucing sebelumnya? Rasanya tidak pernah. Kuda poni, salamander, ular, tupai, tikus, merak—tapi belum pernah ia memelihara kucing. Ibunya melarang, kotor katanya. Padahal bilang saja wanita itu tidak ingin mengabulkan permintaannya—tidak perlu pakai alasan busuk begitu. Heh. Mungkin itu sebabnya ia punya ketidak sukaan khusus pada hewan yang satu itu. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang justru memilih mamalia satu itu sebagai peliharaan. Dan hal itu mengingatkannya pada sesuatu. Kucing di depannya ini mirip dengan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azure?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Brengsek.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-8075576625819210233?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/8075576625819210233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=8075576625819210233' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8075576625819210233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8075576625819210233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/05/kelas-ptih.html' title='Kelas PTIH'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-3589326001288632763</id><published>2009-04-21T09:04:00.000-07:00</published><updated>2009-04-21T09:10:30.581-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Detensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Ketiga'/><title type='text'>Detention - #3</title><content type='html'>Jadi begini logikanya, nikahkan sebuah ceret dengan salamander tidak berotak. Apa yang akan kau hasilkan? Persilangan antara ceret dengan salamander, tepat. Bisa lebih spesifik lagi menjadi ceret yang terbakar. Yang benar saja. Kalau sampai ada orang yang bisa menyilangkan salamander dengan ceret akan ia makan dasi seragamnya. Tidak mungkin? Tepat. Karena itu, apa kira-kira alasan ada orang yang memilih nama Kettleburn sebagai nama keluarga—nama yang kiranya akan bertahan beratus-ratus generasi kalau sanggup bertahan? Ia sudah memikirkan banyak hipotesa mengenai hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu, orang yang menciptakan nama itu tidak punya sense nama yang baik. Dua, orang yang menciptakan nama itu tanpa tahu artinya. Tiga, yang menciptakannya adalah troll yang juga berarti menggabungkan dua hipotesa sebelumnya. Empat, orang yang menciptakannya punya obesesi terhadap ceret. Lima, orang yang menciptakannya tahu nama itu jelek tapi tetap memakainya karena miskin ide. Enam, orang yang menciptakannya sebenarnya hanya bercanda tapi ternyata dianggap serius dan akhirnya dipanggil dengan nama itu. Tujuh, orang yang menciptakannya memang memiliki wajah seperti ceret gosong. Delapan, nama itu memang diciptakan untuk dihina agar anak-anak yang dendam pada orang bernama itu bisa mengumpat-ngumpat dalam hati dan memikirkan kenapa nama orang itu aneh. Nate paling menyukai teorinya yang ke tujuh. &lt;em&gt;Wajah seperti ceret gosong&lt;/em&gt;. Meskipun ia belum pernah masuk ke dalam dapur dan melihat ceret gosong—ada peri rumah yang berani menggosongkan barang pasti akan langsung dipecat bahkan sebelum mahluk kerdil itu bisa membelakan matanya dan berkata, ’But, Master...’ dengan suara melengkingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi seperti yang pasti sudah kebanyakan orang tahu—kalau bukan seluruh mahluk di Hogwarts tahu baik manusia, hantu, maupun lukisan-lukisan tukang gosip di menara—Nate terkena detensi lagi. Tebak alasannya, karena memantrai Pixies. Kejutan. Takdir—siapa yang harus ia salahkan kali ini? Tentu saja si ceret yang seenaknya memberinya detensi seolah ia anak kelas satu yang perlu didisiplinkan. Seolah mengurangi poinnya saja tidak cukup. Kesal, nih, kesal. Dan tebak apa yang lebih mengerikan lagi, ia mendapat detensi bersama-sama dengan Pixies dan... target mantra sepanjang masa, bebek peking. Bisakah hidupnya lebih sempurna daripada ini? Bayangkan, bermain bersama mahluk biru bertelinga runcing yang mendengung seperti lalat dan mendengarkan kicau unggas centil sok jago. Sempurna. Sungguh malam minggu yang ia nantikan seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November kelabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, Alison dan Katherine, janji kita terpaksa ditunda lain kali. Ia ada janji lain untuk berkencan dengan Acromantula dan Centaur malam ini. Jikalau ia masih hidup untuk menyongsong hari esok, tolong sambut ia dengan secangkir Javachips dan cheesecake. Kalau ternyata ia tidak kembali, tolong seseorang urus Fenrir dan Aryzki. Mereka akan kesepian tanpa majikan mereka. Berikan makanan yang sehat untuk burung, jangan sampai mereka sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mengerling ke kiri dan ke kanan. Tubuhnya gemetar meskipun sudah dibalut dengan jaket hitam dengan lambang dua buah ’C’ di bagian saku. Oh, hebat. Masih ada Dawghew dan Ravn. Ia bisa hidup malam ini. Meskipun ironis sekali, pangeran Harvarth ini bukannya menghabiskan waktunya dengan berkencan di salah satu kelas kosong—justru terjebak di pinggiran hutan terlarang dengan mahluk-mahluk yang tidak jelas asal usulnya. Acromantula, centaur, manusia serigala, vampir, benar-benar mahluk yang berada paling bawah di dalam list mahluk yang ingin diajaknya menghabiskan malam minggu. Malahan, satu-satunya mahluk bukan manusia yang memenuhi syaratnya hanyalah Veela. Sayang habitatnya bukan di Inggris. Ia akan dengan senang hati mendapat detensi demi menghabiskan malam bersama mahluk dengan kecantikan yang luar biasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;But—seriously.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ia mati malam ini, tolong sampaikan selamat malam pada sang putri.&lt;br /&gt;Berlebihan, tapi ia tidak akan mengambil resiko.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-3589326001288632763?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/3589326001288632763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=3589326001288632763' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3589326001288632763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3589326001288632763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/04/detention-3.html' title='Detention - #3'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-3130636752527963079</id><published>2009-04-21T08:58:00.001-07:00</published><updated>2009-04-21T09:00:33.152-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Ketiga'/><title type='text'>Puing</title><content type='html'>Senja hampir usai, malam menjelma hampir sempurna. Pemandangan luar yang tertutup salju seolah berkilauan karena tertimpa berkas-berkas cahaya jingga dari jendela kastil. Seorang anak laki-laki berjalan keluar dari kastil. Udara malam musim dingin tampak tidak menyurutkan niatnya untuk menghindari kehangatan yang disediakan dalam kastil. Tangannya menggenggam robekan perkamen. Masih ada waktu sebelum makan malam, masih cukup waktu baginya untuk sekedar berpikir sebelum menghadapi keramaian. Sepatu bootnya meninggalkan jejak-jejak di atas salju yang ditapakinya. Selangkah demi selangkah hingga ia tiba di jembatan. Ia berhenti di tengah-tengah—meletakan tangannya di pagar jembatan. Ia membuang robekan kertas di tangannya ke bawah jembatan, menatap robekan itu melayang dan perlahan hilang ditelan kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kenapa kau tidak pulang?&lt;/em&gt; Pertanyaan basa-basi pembuka, Nate kira semua orang akan lebih senang kalau ia tidak ada. Tidak perlu diucapkan juga ia sudah mengerti bahwa kehadirannya tidak diharapkan. Untuk apa bertanya seperti itu—pasti mengejeknya. Layaknya seseorang yang diasingkan karena tindakan kriminal, tempat yang dulu disebutnya rumah sudah tidak lagi menerimanya. Perbedaannya, ia tidak melakukan tindakan kriminal atau hal apapun yang menyerempet hal itu. &lt;em&gt;What’s in a name?&lt;/em&gt; Ucap Shakespeare dalam karyanya. Nama menentukan nasib, tuan pujangga, sangat menentukan. Andai saja namanya diganti, takdirnya akan berubah. Ia tidak akan seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apalah artinya sebuah nama?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Harapan pemberinya—&lt;br /&gt;—dan takdir penerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan, bukan kalimat ejekan itu yang mengganggunya. Tapi di bagian akhir perkamen. &lt;em&gt;Bibi Sindri meninggal.&lt;/em&gt; Tidak mungkin. Kepalan tangannya mengeras hingga buku jarinya memutih. Kepalanya pening. Ia ingin berteriak namun tak kuasa. Katakan, bagian mana yang bisa dikatakan adil dari kehidupan manusia? Takdir itu kejam—kata orang. Bukan, lebih dari itu. Mengoyak dirinya tanpa belas kasihan, sama sekali tidak mempertimbangkan luka yang masih belum menutup. Katakan padanya, Sang Pencipta, apa Kau belum puas mempermainkan hidupnya selama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pernah ia merasa kematian sedekat ini—tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa kematian bisa datang menjemput siapapun setiap saat. Waktu yang dimiliki oleh manusia untuk menikmati kehidupan terbatas. Tidak, belum ada vonis atau semacamnya. Tapi ia melihat pada liburan musim panas kemarin, ia tahu. Bahkan untuknya yang masih muda pun terlihat. Kekuasaan El Maut membayang-bayangi keluarganya, mungkin kelak akan ada banshee yang menyanyikan lagu kematian di rumah mereka. Masa-masa kegelapan, tidak pernah terlintas di benaknya masa ini juga berpengaruh dalam kehidupannya. Bibinya yang anggun dan banyak mengajarinya berbagai hal sejak kecil—dibunuh pelahap maut. Salah satu korban dalam serangan pelahap maut di Surrey. Apa Nicholas Flammel yang dikatakan bisa hidup abadi dan awet muda juga bisa bertahan jika terkena kutukan kematian dari mahluk-mahluk bertopeng itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kiamat hampir tiba. Tidak ada lagi manusia yang hidup di bumi. Saat semua orang berhati cepat atau lambat musnah dalam perburuan manusia, menyisakan manusia-manusia tanpa nurani haus kekuasaan yang lebih tepat disebut hewan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;All hail, death.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Mungkin lebih menyenangkan daripada hidup di dunia yang sekarang ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-3130636752527963079?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/3130636752527963079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=3130636752527963079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3130636752527963079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3130636752527963079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/04/puing.html' title='Puing'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-4783825030120483026</id><published>2009-04-06T03:48:00.001-07:00</published><updated>2009-04-06T03:48:18.776-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Ketiga'/><title type='text'>Kelas Ramalan</title><content type='html'>Ngantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak laki-laki berambut kecokelatan berjalan dengan wajah terkantuk-kantuk—mengacak rambutnya sesekali. Lingkaran hitam yang buruk rupa menghiasi sekeliling matanya. Ia tampak seperti panda. Sial. Oke,mungkin tidak seburuk itu—since, apa, sih, yang bisa membuat Nate tampak kurang dari tampan? Manik caramelnya melirik kanan-kiri dengan tidak fokus—dengan suatu cara berhasil menuntun sang anak laki-laki menaiki tangga spiral bewarna perak menuju kelas ramalan. Kelas yang sampai sekarang ia tidak mengerti kenapa ia ikuti. Ayolah—ini ramalan. Cabang ilmu yang paling tidak pasti, sama sekali tidak relevan, tidak bisa dipikirkan dengan logika. Kenapa juga ia mau memilih kelas ini? Oh ya, karena ia berpikir ini kelas yang paling mudah diikuti daripada segala macam kelas merepotkan yang lainnya. Ah, seandainya ia tahu apa yang sebenarnya dilakukan di kelas itu, mungkin ia tidak akan pernah meskipun hanya untuk mempertimbangkan masuk kelas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola Kristal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astrologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca daun teh.&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Omong kosong.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate menarik hood jubah seragamnya menutupi kepalanya. Ia harus berterima kasih pada siapapun yang merancang seragam Hogwarts—paling tidak hood itu membuatnya bisa menutupi wajah tidak niatnya saat melewati profesor ramalan yang nyentrik itu. Siapa namanya—rasanya sempat disebutkan di pesta awal tahun. Wanita yang seperti kelelawar tua renta dengan selera berpakaian yang pasti membuat banshee sekalipun kehilangan suara melengkingnya. Ah, ya—Trewlaney, namanya. Lihatkan, dari namanya saja sudah bisa dilihat kalau staff pengajar yang satu ini aneh. Bukannya staff yang lain tidak aneh, ya. Ia sering berpikir apa memang Hogwarts ini kurang staff berkualitas. Bukannya ia mementingkan pengajar ramalan—siapapun gurunya. Pelajaran aneh begini… tapi sudahlah, jangan membicaraka keburukan pelajaran ramalan. Kalau kena karma bisa gawat juga kan. Bukannya ia percaya dengan hal-hal tidak logis seperti itu. Tidak—ia sama sekali tidak percaya. Tapi tetap saja ia tidak ingin mengalaminya. Ia tidak percaya tapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan itu tampak lebih sumpek daripada ruangan lain. Kursi-kursi berlengan tampak asal dijejalkan ke dalamnya, membuat ruangan itu menjadi jauh lebih sempit daripada yang seharusnya. Panas yang menguar dari perapian membuat ruangan itu hangat, bukan, panas lebih tepatnya lagi. Apalagi dengan cahaya temaram yang ditimbulkan lampu-lampu yang dilapisi selendang. Nate dengan terpaksa—tanpa mengeluh seperti biasanya—menghempaskan dirinya di salah satu kursi berlengan. Meletakan kepalanya di atas meja dengan beralaskan tangannya sebagai bantal. Demi Merlin—ia benar-benar berharap tidak melakukan apa yang ia lakukan tadi malam. Tebak apa yang membuatnya sampai terkantuk-kantuk ke kelas begini? Belajar, ya. Tidak perlu membelakan mata begitu—semua orang juga tahu kalau Nate bukan murid yang asal-asalan. Oke, tahun kemarin memang ia kehilangan semua nilai-nilainya. Tapi akan ia buktikan kepada si Miranda itu—tahun ini, ia berbeda. Bukan berarti ia itu seorang kutu buku—oh, please—seorang Nate tidak bisa disamakan dengan seekor kutu buku yang merasa kepalanya terlalu tertinggi sehingga memutuskan untuk berada di menara terus. Lagipula, imej seorang kutu buku selalu dekat dengan anak-anak jelek yang tidak punya teman dan well—jauh dari Nate-lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada pelajaran... kita... dengan daun teh... Tasseomancy. tertinggal di dalam cangkir... masa kini dan masa depan...melihat yang tak terlihat. ...kosongkan pikiran... duniawi karena... pusat kosmos...melampaui... masa depan.” anda bilang apa tadi, prof? Nate mengangkat kepalanya dengan wajah sembab—bukan, ia tidak menangis, idiot—mengangkat tangannya untuk menggosok mukanya sekedar untuk memastikan bahwa ia bukan berada di alam mimpi dimana semua hal bewarna merah dan jingga. Demi banshee yang mengikik di tangga, kenapa kelas ini harus begini? Pasti ini sebuh konspirasi untuk menjatuhkan Nate. Dengan cara membuatnya ngantuk dengan kondisi kelas yang hangat dan dipenuhi harum teh. Tapi—ia tidak akan kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tidak akan pernah kalah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate menarik poci teh di mejanya—menyajikan teh untuk dirinya sendiri. Tanpa sengaja menjatuhkan sendok yang dipakainya untuk mengaduk teh. Saat ia menunduk untuk mengambil benda itu dari lantai, ia justru mendengar sesuatu yang membuat kepalanya terantuk meja saat akan menegakan tubuhnya. ”Ehem, Michelle, bentuk pertama aku melihat bintang yang berarti kesuksesan dan penghargaan. Berikutnya segitiga berati kau terlibat hubungan cinta segitiga.” Hei, Dewi Fortuna... kau membenciku, ya? Seharusnya ia memang tidak mengambil kelas ini—kenapa dari semua kelas pilihan yang disediakan, mereka harus mengambil pelajaran yang sama? Dan apapula cinta segitiga yang dimaksud... Ck, sudahlah. Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya—mengusir pikiran apapun yang memasuki kepalanya. Ia meletakan sendoknya di atas meja dan mengangkat bahu. Well—bagaimanapun juga, masih ada janji itu—ia tidak peduli apapun, selama masih ada janji itu. Ia masih memiliki hak. And life goes on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;zZzzZzz....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mencubit pipinya sendiri—jangan tidur, hoi. Jangan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu mengangkat cangkirnya—meneguk isinya pelan-pelan. Teh hangat dan scone, sungguh Inggris. Seperti ibundanya tercinta, ck. Bikin kesal saja. Tapi kalau ia tidak salah ingat kata si Trewlaney tadi—jangan memikirkan hal-hal duniawi. Jelas saja, Nate sama sekali tidak dekat dengan dunia. Pikirannya sudah mendekati gerbang dunia mimpi begini. Anak itu memutar cangkirnya tiga kali sebelum meletakannya di tatakan, sementara satu tangannya sibuk memijit pelipisnya yang berdenyut menyakitkan karena kurang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/040109214901.jpg" alt="Posted Image" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cangkir di depannya tampak menertawakan dirinya yang sedang kesusahan mempertahankan diri di ambang kesadaran yang menipis. Oh, sialan kalian udara hangat dan kursi yang terlalu empuk. Nate menggelengkan kepalanya beberapa kali—dia tidak akan kalah dari kantuk. Sekarang intruksi selanjutnya... argh, ia tidak mendengarkan apa kata si kelelawar tua itu tadi. Setelah itu apa—makan kue inginnya, sih, sayang bukan. Tapi sudah pastilah, berhubung mereka akan membaca daun teh, sekarang waktunya kegiatan utama berarti. Amati cangkir—eh, bukan—amati daun teh. Mari kita lihat, ramalan untuk seorang Nate (tolong camkan bahwa Nate tidak pernah percaya dengan yang namanya ramalan, sama sekali tidak percaya). Baiklah, yang sebelah kanan itu tampak seperti tikus—artinya... demi Merlin. Peringatan—tidak mungkin. Bukan, tadi dia pasti salah lihat. Ia memperhatikan cangkirnya dari arah yang lain—menyipitkan matanya dan mengangguk-angguk saat ia melihat bentuk lain yang terlihat seperti bell baginya. Bel—aha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Unexpected goodnews in love,” ujarnya keras dengan puas—oke, lupakan saja semua tentang si tikus aneh itu, yang ini lebih baik. Ia mengerling sosok di depannya dengan cengiran lebar sambil menyerahkan cangkirnya pada partnernya yang entah disadarinya atau tidak sudah ada dari tadi. ”Lihat Sylar, ramalanku cukup bagus, nih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Masih mengantuk...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-4783825030120483026?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/4783825030120483026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=4783825030120483026' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4783825030120483026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4783825030120483026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/04/kelas-ramalan.html' title='Kelas Ramalan'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-6389087778615599534</id><published>2009-04-06T03:44:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T03:45:50.247-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Ketiga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Slytherin'/><title type='text'>When All is Lost</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masa-masa kegelapan. Berapa kalipun diucapkan tidak membuat anak laki-laki berambut cokelat itu menyadari apa artinya. Merasa tidak tersentuh dengan hal itu—mungkin. Kepercayaan diri yang begitu besar hingga menggelapkan matanya akan bahaya di sekelilingnya. Padahal dunia sihir sedang—meminjam istilah Master Morcerf untuk menggambarkan asrama mereka tadi—terpuruk. Tapi itu tidak ada kaitannya dengan nate bukan? Dia hidup, bahagia, berkecukupan, dan semua hal lain sama sekali bukan urusannya. Benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate duduk di sebuah kursi berlengan, menyandarkan kepalanya ke punggung kursi—mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang-orang. Mulai dari Greatweather yang mengatakan mengenai ular-ular saling menggigit, Macbeth yang mengatakan soal kesombongan darah murni dan apa—ada yang membela diri mengatakan Slytherin memang membela darah murni dan segalanya. Oh, omong kosong. Benar, deh. Bicaralah seperti itu kalau kelahiran muggle di asrama ini sudah tidak ada. Masih banyak kan yang kelahiran muggle—bahkan tahun ini bertambah. Bernadette itu—orang tuanya muggle kan? Lalu rasanya beberapa murid di tingkat atasnya juga ada. Dan masih saja orang berpikiran dangkal dengan mengatakan hal-hal sepele tentang kemurnian darah—seolah darah mereka berbeda warna saja. Memangnya warna darah mereka apa—hijau? Dasar troll. Mengingatkannya pada editor ’War of Warlock’ yang sampai meminta dongeng—hanya sebuah dongeng, demi Merlin—direvisi hanya karena dongeng itu mengatakan menolong muggle adalah perbuatan baik. Kuno sekali pemikiran orang itu—siapa namanya, Brutus Malfoy. Ah, ya—yang dikatakan pernah bersitegang dengan kakek Beowulf dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu, sih, pendiri asrama tempatnya sekarang—Salazar Slytherin—adalah orang yang paling membanggakan kemurnian darah di masanya. Sampai terjadi perpecahan di antara pendiri Hogwarts pun karena permasalahan itu. Menggelikan—bukannya ia tidak menghormati Salazar atau apa. Bagaimanapun dia tetap seorang penyihir besar, legillimens yang handal dan seorang parselmouth pula. Dan ia cukup mengerti rasa dengki yang dimiliki orang itu—mengingat dulu muggle bertindak sewenang-wenang dengan memburu penyihir dan segalanya. Tapi tetap saja—sampai sekarang saat muggle tidak memberikan kesulitan pada mereka, masih banyak orang yang membangga-banggakan darah seolah mereka tidak memiliki hal lain untuk dibanggakan. Atau mungkin memang tidak punya? Yah, ia rasa memang karena hal itu. Untung saja Nate masih memiliki banyak hal lain yang bisa dibanggakan sehingga tidak perlu ikut-ikutan membanggakan darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia jadi seperti orang idiot nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kalimat yang meluncur dari mulut Szent membuatnya hampir meledak tertawa. Ini... lucu. Tapi tidak usah berkomentar dalam hal ini, ah. Tidak ada niat baginya untuk menambah atau menyanggah pernyataan itu. Ini semakin menggelikan saja. Mungkin sudah sepantasnya ia angkat bicara. Mereka mengatakan senang berada di sini—mereka yang lain mengatakan asrama ini adalah rumah. Tapi kembali ke permasalahan yang disebutkan oleh Prefek Morcerf tercinta, katanya Slytherin sudah terpuruk akhir-akhir ini. Memang—salahkan saja Nate. Karena dialah mereka gagal mempertahankan piala quidditch tahun kemarin. Karena itu mereka gagal mendapatkan poin yang mungkin bisa menyelamatkan posisi mereka. Karena dia juga—poin asrama mereka dikurangi. Salahkan saja dia. Brengsek. Terpuruk—semuanya karena Nate, begitu maksud anda prefek-prefek yang terhormat? Cara meraih kembali kejayaan itu—berlatih dan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, sabotase selalu menjadi sebuah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merebut kembali piala quidditch,” ujar Nate dengan wajah yakin—mengangkat kepalanya. Ini salahnya kan, tidak bisa memenangkan piala. Salahkan saja dia, seeker tidak berguna. Ha. Merasa disalahkan—meskipun sebenarnya tidak ada seorang pun yang mengatakan hal itu. Tapi ia yakin, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa dia akar permasalahan ini. Lawannya hanya seorang Ziegmowit—dan dia kalah. Sekian dan terima kasih. Tapi yang benar saja—bilang saja kalian hanya iri, karena Natelah yang terpilih sebagai seeker dan bukan kalian. Ayolah, bukankah itu wajar kalau ia terpilih? Ayahnya juga pernah berkata adalah suatu kesalahan yang sangat besar kalau ia sampai tidak terpilih. Kalau sekarang ada yang iri padanya—wajar sajalah. Memang segala hal dari Nate patut untuk diirikan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran—kenapa tidak para prefek saja yang memberikan 1000 poin untuk Slytherin dan mengurangi poin sebanyak-banyaknya dari asrama lain dengan berbagai alasan, sepele ataupun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mudah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mulai membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya hanya bisa mengatakan hal-hal yang membosankan—mengulang-ulang pernyataan berisi sama yang intinya pun tidak jelas. Tidak perlu dikatakan ia rasa semua juga mengerti bahwa ambisi dan kecerdikan adalah dua hal yang dapat mengangkat kita ke posisi teratas. Seperti Seth yang bisa menyingkirkan Osiris dan duduk di kursi pharaoh dengan kelicikan yang ditopang oleh ambisinya yang luar biasa besar—sebuah contoh yang layak mereka tiru. Tapi mari kita kesampingkan semua itu, Slyhterin tercinta ini yang katanya berada di ambang kehancuran karena poin mereka yang miris, salah satu cara untuk mengangkat nama mereka lagi adalah dengan memenangkan piala quidditch. Sesuai dengan perkataan Prefek du Noir yang cukup tegas mengenai tim ular yang kehilangan piala tahun kemarin. Sepertinya Quidditch hanya sebuah alat untuk mencapai kejayaan bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya menaruh masalah Slytherin di tujuh orang—tapi sejak memutuskan untuk masuk ke dalam tim, ia sudah tahu bahwa ini adalah tanggung jawab besar. Meskipun memenangkan pertandingan quidditch tidak berarti mendapat kejayaan mereka kembali—paling tidak mereka punya andil dalam menyumbangkan poin yang cukup besar. Jauh lebih baik daripada mereka yang mengecilkan arti quidditch tapi sama sekali tidak menyumbang apa-apa untuk Slytherin. Nate mengorbankan segalanya untuk piala quidditch dan 150 poin yang bisa mereka dapatkan sebagai hadiah. Kalian—apa andil kalian dalam mempertahankan kejayaan Slytherin, eh? Usahanya untuk merebut salah satu piala masih lebih baik. Dan mereka semua berkata—seolah-olah itu tidak ada artinya. Bahkan sang kapten sendiri tampak mengecilkan arti quidditch mereka. Brengsek. Bagaimana mungkin dia yang terpilih menjadi kapten, eh? Hei, Steinegger, kau sama sekali tidak pantas menyandang posisi sebagai Kapten. Sampah. Amakusa masih jauh—jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu menopang kepalanya dengan satu tangan bertumpu di lengan kursi. Alis matanya terangkat sementara matanya menatap satu-persatu orang yang berada di sana. Baik prefek-prefek yang tampak tidak ingin berada di sini, anak-anak yang seangkatan dengannya, beberapa anak yang beberapa tahun lebih muda, kaptennya yang tercinta, dan tersangka utama penyebab sidang ini diadakan. Bocah berambut pirang yang ia tidak peduli siapa namanya yang telah menerbangkan pasir emerald mereka yang memang sudah tipis dari awal. Sekarang katakan, siapa yang salah? SIAPA yang salah? Yang jelas bukan Nate. Kalau bukan si pirang &lt;em&gt;tengil&lt;/em&gt; itu, berarti siapapun orang yang sudah mengurangi poin mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara sopran yang terdengar dari belakangnya membuat anak itu tersentak sedikit. Bukan—bukan punggung kursinya yang berbicara, tapi jelas ia tidak menyangka seorang Michelle ada di balik kursinya. Kenapa Michelle—tidak tahan untuk tidak berada di dekatnya barang semenit? Seringai angkuh menghiasi wajah anak laki-laki berumur tiga belas tahun itu, alisnya terangkat ketika sepasang kristal karamel miliknya mengikuti tiap pergerakan yang ditimbulkan gadis berparas Asia itu. Bahasa tubuhnya yang gemulai dan helaian rambutnya yang bergerak ketika ia membalikan tubuhnya masih persis sama dengan ingatannya. Manik cokelat miliknya balas menatap bola mata bening milik gadis itu. Seringainya semakin lebar. Katakan tuan putri, apa yang ingin kau katakan di hadapan pangeran ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelek-jelekan asrama sendiri tidak membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya justru orang-orang tolol di sini terlalu bahagia masuk ke dalam asrama ini hingga bertindak seenaknya. Melanggar peraturan ini dan itu—bukannya ia munafik, ia juga pernah kena detensi dan mendapat pengurangan poin. Tapi langsung lima puluh poin? Tidak pernah. Lagipula poin yang ia kurangi sudah ditutupi dengan tugas-tugasnya di kelas dan keaktifannya di tim. Jadi katakan sekarang—sebenarnya siapa yang tidak berguna? Mereka yang hanya bisa berbicara ini dan itu panjang lebar—atau dia? Jelas bukan Nate yang mendapat definisi sebagai orang tidak berguna. Mereka sampah, dia permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle duduk kembali, Sienna angkat berbicara. Beberapa orang lain juga menyatakan pendapat—Dawghew laki-laki, Ravn, Sirius dan kalimatnya yang terdengar seperti musik di telinga Nate. Oke, berlebihan memang. Tapi setidaknya kalimat itulah yang paling ingin ia dengar malam ini.Dan cukup untuk membuatnya tersenyum puas ketika menangkap lirikan anak laki-laki itu. Sulit sekali ya, ketika berbeda pendapat. Yang satu mengatakan ikuti peraturan (pendapat Sienna, sungguh siswi yang baik), yang satu lagi mengatakan tidak apa melanggar peraturan. Pendapatnya pribadi, silahkan langgar semua peraturan yang kalian mau asalkan jangan menjadi beban untuk yang lain. Bukankah Slytherin terkenal dengan kelicikinnnya? Seharusnya bukan hal yang sulit untuk menghindari hukuman, terutama pengurangan poin. Meskipun kembali pada pendapatnya sebelum ini, kalau hanya memusingkan mengenai poin, para prefek kan bisa megurangi poin asrama lain dan menambah poin asrama mereka sendiri secara besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"What we've lost is not the points, instead, we've lost our identity. Perang terjadi di luar, dan sebagian orang tua kalian berjuang di sana. Dan di dalam kastil ini adalah anak musuh dan calon musuhmu. Hancurkan saat mereka belum berbahaya."&lt;/span&gt; Kalau yang ini ia cukup setuju. Krisis identitas—sekarang pikirkan apa kualitas terbaik dari Slytherin? Independen—mereka bergerak untuk tujuan sendiri tapi bukan berarti tidak bisa bekerja sama, untuk mencapai tujuan kerja sama hanyalah satu pengorbanan kecil. Licik, licin, pintar—apapun yang berarti sama dengan tiga kata itu, hanya saja kebanyakan tidak memiliki tiga kualitas itu—hanya bermodalkan status darah mereka. Ambisius—hal yang ia rasa benar-benar sudah hilang dari mereka. Tidak ada ambisi, tidak ada keinginan untuk menjadi yang terbaik—pantas saja mereka terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Intinya, mari kita hancurkan asrama lain—tanpa merusak harga diri kita kita sebagai yang terbaik."                           &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-6389087778615599534?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/6389087778615599534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=6389087778615599534' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6389087778615599534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6389087778615599534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/04/when-all-is-lost.html' title='When All is Lost'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-8408435886640482849</id><published>2009-04-06T03:43:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T03:44:05.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Ketiga'/><title type='text'>Be The One</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamat siang, dunia. Di sini Nate hadir membawakan berita dari kastil Hogwarts, salah satu dari tiga sekolah sihir terbesar di daratan Eropa. Minggu ini cuaca sudah mulai dingin, membawa angin dingin dari utara pertanda musim salju yang akan segera tiba. Dingin dan lembab diakibat oleh hujan deras semalam. Ia sendiri juga harus mengenakan jaket bewarna abu-abu tua dan sarung tangan cokelat agar tidak kedinginan. Dan dia sedang melakukan tindakan bodoh dengan mendatangi danau di hari yang seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, tidak sepenuhnya bodoh. Karena ia melihat pemandangan menarik di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringai yang sudah lama tidak muncul di wajahnya akhirnya kembali. Setelah satu tahun lamanya tidak berbuat apa-apa, akhirnya gilirannya tiba. Lihat siapa yang berada di tepi danau di sana, Dawghew, Sirius, dan Ravn. Memegang anak yang tampaknya target kali ini, Pixies &lt;em&gt;or whatever&lt;/em&gt;. Pixies seperti nama mahluk lemah kecil dengan warna biru elektrik yang membuat mata katarak tapi punya keangkuhan setinggi langit itu. Oh, oh... sampah lainnya, mari kita buang ke Cornwall, ke Devon. Kembalikan ke habitat asalnya darimana ia diimpor ke Inggris atau dibuang karena menganggu ketentraman masyarakat di sana. Ck, anak-anak kelas dua itu, berbuat seperti ini tanpa mengajaknya—izinkan Nate untuk ikut bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;“Sebutkan satu alasan, apa motivasi kalian melakukan lelucon...”&lt;/span&gt; &lt;em&gt;nguiiiingnguiiing.&lt;/em&gt; Seperti bunyi denging yang sangat menganggu kelancaran darah ke dalam otak. Membuatnya nyaris menyumpal telinganya hanya agar ia bisa mendekat. Tidak separah itu sih, ia juga malas menyamakan denging konyol itu dengan tangisan mandrake yang membunuh. Oh, mengingat soal mandrake—membuatnya kesal saja. Untung jarinya tidak putus karena gigitan mahluk sialan itu. Apa pixie yang satu ini juga bisa menggigit? Hm... diragukan. Seingatnya dalam buku &lt;strong&gt;Hewan-hewan Fantastis dan Dimana Menemukannya&lt;/strong&gt; pixie suka menggigit telinga manusia dan menerbangkannya. Ah, hewan yang benar-benar unik. Umurnya tidak panjang lagi, menurut buku—bukan karangannya sendiri. Kita buktikan saja kalau begitu, apa benar pixie itu umurnya pendek?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Well, well, what do we have here?”&lt;/em&gt; sebuah pertanyaan retoris bernada riang keluar dari lubang di antara dua bibir kemerahan milik anak laki-laki itu. Rambut ikalnya menggelitik pipinya seiring dengan tiupan angin. Alisnya sempat berkedut dengan pandangan aneh ketika melihat seorang anak perempuan berwajah Asia yang menempel pada Dawghew. Oh—pasti hanya bayangannya saja. Pura-pura tidak lihat, ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Peskipiksi pesternomi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembalilah ke tempat asalmu, wahai pixie budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Locomotor Motris,” ujarnya kalem sambil mengarahkan tongkatnya ke arah si anak-penghilang-poin-yang-tampaknya-akan-jadi-korban-kdls-alias-kekerasan-dalam-lingkungan-sekolah. Nah, kalau ia beruntung, ia akan lolos dari detensi lagi. Tapi ah—bukankah sejak dulu memang ia selalu beruntung? Karena Dewi Fortuna seorang wanita, yang pasti lebih memilih laki-laki dengan wajah tampan daripada mahluk biru dengan telinga runcing. Dan dia cukup (kalau tidak lebih) memenuhi kriteria orang yang akan ditolong sang keberuntungan. Bukankah sudah jelas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat siang, Dewi Fortuna, Nate di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan dia keberuntungan untuk &lt;u&gt;mengeliminasi&lt;/u&gt; sampah masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-8408435886640482849?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/8408435886640482849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=8408435886640482849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8408435886640482849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8408435886640482849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/04/be-one.html' title='Be The One'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-2736949098299070395</id><published>2009-04-06T03:03:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T03:43:22.307-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Ketiga'/><title type='text'>Kelas Mantra</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mulai lagi. Pagi yang mengerikan dipenuhi dengan kecemasan dalam mengerjakan tugas—sudah dimulai. Seperti sebuah lingkaran setan—lagi dan lagi. Well, tapi—bukannya Nate cemas atau apa. Anak laki-laki berambut kecokelatan itu mengedikan bahunya dan menguap bosan—sesekali mengacak rambutnya. Kepalanya terangkat saat membuka pintu menuju ruang kelas mantra. Matanya meneliti ruangan itu sejenak—mendapati si profesor mini itu sedang berada di mejanya, di atas buku-buku yang tebalnya pasti membuat pelupuk mata orang yang membacanya meleber seperti butterbeer yang tumpah dari cangkirnya. Dan—hee... tidakkah rambut dan jenggot beruban milik keluarga jembalang itu semakin lebat saja tiap hari. Pakai ramuan penumbuh rambut atau apa, ya? Bukannya Nate mau memanjangkan rambutnya—mengerikan sekali kalau ia sampai memiliki rambut yang keriting panjang seperti Flitwick. Atau lebih mengerikan lagi.... memiliki jenggot seperti Dumbledore. Brr...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, hari ini kita akan mencoba sebuah mantra yang cukup menarik—" menarik demi apa—mata kelpie buta. Idih. Ia selalu berpikir dari dulu—selera humor milik staff Hogwarts itu tidak ada yang benar. Mulai dari yang nyentrik sampai mengerikan—astaga, seperti kekurangan staff pengajar yang berkualitas saja. Katanya menarik—ck, memantrai mata trol yang mengamuk. Nah, itu menarik. Menaiki naga—sangat menarik. Blah, menarik sekali—seperti Nate mau saja mempertaruhkan nyawanya untuk hal-hal tidak berguna semacam itu. Bukannya ada profesor yang mengajarkan hal seperti itu—satu-satunya hal yang paling berbahaya yang diajarkan di hogwarts adalah menghadapi burung hantu sekolah yang tua renta. Kenapa tidak ada pelajaran menangkap snitch saja, sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;CTAAAR&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salazar—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;BRUAAAAK&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate yang dari tadi duduk menopang dagu tidak sengaja memukul mejanya karena kaget—menimbulkan bunyi keras yang bergaung di ruangan itu. Wajahnya yang tadi sempat terlihat bosan langsung nyalang—seperti baru terbangun dari tidur yang panjang. Bunyi apa tadi—mengagetkan saja... astaga. Astaga. Anak laki-laki itu mengernyitkan alisnya, menatap si profesor dengan tatapan sebal. Seenaknya saja—mengagetkannya seperti itu. Dasar jembalang kerdil, goblin sinting, mahluk mini. Mau mempermalukannya, ya? Ck. Anda pikir tadi itu lucu, eh—profesor??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tes tes tes&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate memutar bola matanya. Tadi petir, sekarang hujan. Basah, nih. Dia basah, nih. Merusak rambut dan semua peralatannya. Ck, mahal tau, prof, mahaaal. Barang-barangnya mungkin lebih mahal daripada gaji anda setahun. Demi Merlin—si kakek tua ini maunya apa, sih? Hah, pasti dia juga ikut dalam persekongkolan menjatuhkan Nate. Semua orang—iri dengannya pasti, ya. Berdoa saja, kakek kerdil, anda tidak akan pernah menjadi seperti Nate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Impervius,” gumamnya pelan ke arah kepalanya, masih mendelik ke arah sang profesor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mengacungkan tongkatnya ke arah barang-barangnya dan menggumamkan ’impervius’ pelan. Tidak banyak gunanya, sih, terlanjur basah—mengingat hujannya sudah turun sejak beberapa menit yang lalu. Brengsek. Pena bulu angsanya yang diberikan oleh Bibi Cammile saat berlibur ke Perancis—buku tentang quidditch yang ia pinjam dari perpustakaan. Gawat, nih... Madam Pince pasti akan sangat murka kalau melihat bukunya basah. Mati dia. Ia pasti PASTI akan dibunuh kalau wanita mengerikan itu mengetahui hal ini. Sampai di asrama, terpaksa ia harus repot-repot mengeringkannya dengan suatu cara. Kalau beli baru... pasti ketahuan, argh. Nate mengernyitkan alisnya, kembali kesal mengingat semua hal itu. Akhirnya ia mencoba menggumamkan ’glacius’ beberapa kali. Pertama, pelafalan. Oke. Huf, kalau memang begini maunya si Flitwick itu—ya, sudah. Ia akan melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Glacius."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara sopran yang terdengar familiar itu otomatis membuatnya menoleh ke arah sang pemilik suara. Ekspresi wajahnya yang sesaat kesal tadi langsung digantikan dengan wajah yang cerah begitu melihat sosok gadis berambut prang itu. Habisnya—ia kira tidak ada orang yang bisa diajaknya mengobrol—ternyata dia memang selalu beruntung. Baru berpikir begitu, langsung muncul Sienna yang dikirim oleh Dewi Fortuna padanya. Ah—benar, memang tidak ada orang yang tidak mencintai Nate. Seorang dewi sekalipun/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;”Sien,”&lt;/span&gt; sapanya pelan sambil melompat duduk ke kursi di sebelah sepupunya itu. Cengiran lebar terplester di wajahnya—ia melirik ke arah gadis di sebelah sepupunya itu dan melebarkan matanya sesaat sebelum mengangkat bahu dan menyapa gadis itu juga, &lt;span style="color:black;"&gt;”hai, Dark—kalau aku boleh memanggil seperti itu.”&lt;/span&gt; Ya, pasti boleh, dong, permintaan Nate sama dengan perintah dari Kau-Tahu-Siapa. Ck, anak laki-laki yang ini—pasti belum menyadari betapa besar bahaya yang ditimbulkan kalau ia sampai mengucapkan kalimat itu. Cari mati—kata orang. Tapi ini ’kan hanya istilah—ya? Ya? Lagipula misalnya nih, misalnya dia bertemu dengan Kau-Tahu-Siapa, pastinya orang itu juga menjadikan Nate anak emasnya. Ya, kan? Kan? Well, terkadang ada juga orang yang tidak tahu kapan harus berhenti menilai dirinya terlalu tinggi. Apa boleh dikata—ketika hidup begitu sempurna terbentang di depannya, tidak ada yang terasa lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu menoleh kembali ke arah gadis berambut pirang di sebelahnya dan berkata dengan mimik yang berubah-ubah di setiap kalimat. &lt;span style="color:black;"&gt;”Sien—si Flitwick itu menyebalkan sekali. Semua barang-barangku basah, ck. Ngomong-ngomong bagaimana liburan musim panasmu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Musim panas—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;—cukup buruk.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Glacius,” ujarnya sambil mengacungkan tongkatnya ke arah mejanya yang basah. Beku, membekulah semuanya! Gagal. Cih. Pupilnya melebar ketika menangkap kilatan mantera yang mengarah ke seorang laki-laki yang sudah sangat akrab di matanya. Seringai jahil muncul di wajahnya—ikut mengarahkan tongkatnya dan menggumamkan ”glacius” ke arah tongkat laki-laki itu. Seringainya semakin lebar melihat kilatan mantera yang keluar dari ujung tongkatnya. Nah, kalau tongkat membeku kira-kira apa yang bisa dilakukan? Percobaan yang menarik bukan—efek dari mantra Glacius pada tongkat sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;”Nice aim,”&lt;/span&gt; ujarnya pada orang yang duduk di belakangnya itu. Tersentak sedikit sebelum menyadari siapa yang diajaknya berbicara. &lt;em&gt;Goddamnall&lt;/em&gt;. Ia memutar bola matanya dan kembali menatap Sienna. &lt;em&gt;Apapun selain dia.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Norwegia, salah satu negara Skandinavia yang terletak di bagian utara daratan Eropa. Tanah nenek moyangnya yang agung. Begitu banyak cerita yang diwariskan di tanah Skandinavia itu—tentang Loki dan Ragnarok—hari kiamat bagi para dewa, saat para dewa lenyap menjadi abu, tentang Sigmund dan Hiordis—kisah mengenai dendam dan kebencian, cerita-cerita yang tidak kalah dikenang dari mitologi Perseus dan Andromeda. Tahu kenapa mitologi Norse berbeda? Karena jarang ada akhir yang bahagia dalam tiap ceritanya. Pernah mendengar cerita tentang Sigurd dan Brynhild? Brunhilde, seorang perawan dengan kecantikan yang luar biasa yang terkurung dalam lingkaran api dan Sigurd, seorang ksatria pemberani yang berhasil melompati api itu dan bertemu dengan sang maiden. Mereka berdua bertemu dan jatuh cinta pada pandangan pertama. And they live happily ever after. Tidak akan. Ini bukan dongeng para muggle dimana semuanya berakhir bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian pikir, setelah beribu cobaan yang menghalangi Sigurd, pada akhirnya ia akan menemukan akhir yang bahagia dalam seorang Brynhild bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan—memang tidak sesuai dengan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pangeran menyentuh pelipisnya—mendengus kesal kepada dirinya sendiri. Brengsek. Bagaimana mungkin ia bisa tidak menyadari suara yang sudah familiar itu? Lupa—tidak mungkin. Memangnya ia Sigurd yang bisa dengan mudahnya ditipu untuk meminum ramuan pelupa. Tolong seseorang bunuh dia—tidak, jangan—kasihan orang-orang yang nanti akan merindukannya. Cukup cubit pipinya dan bangunkan dia dari mimpi yang aneh ini Ck. Sialan. Nate adalah orang yang benar-benar terkutuk. Alisnya bertautan—ia menggumamkan glacius beberapa kali ke arah meja dan bukunya secara asal—tidak terjadi apa-apa. Gagal semua, menambah jumlah urat merah di pelipisnya yang berdenyut seiring kekesalannya yang terus meningkat. &lt;em&gt;Sialan.&lt;/em&gt; Konsentrasi, konsentrasi—hal paling mutlak dalam penguasaan mantra apapun. Sekaligus juga merupakan hal yang paling sulit dilakukannya di saat-saat seperti ini. Argh. Lupakan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke persoalan yang lebih menarik daripada membekukan air yang menetes akibat hujan buatan goblin tampan di depan, Sienna mengatakan liburannya tidak istimewa—oh, bagus. Masih lebih baik daripada liburannya kalau begitu—yang sebenarnya akan berlangsung dengan baik kalau saja tidak ada Miranda, penyihir iblis yang ingin ia tusuk-tusuk dan umpankan pada naga moncong pendek Swedia atau ibunya yang ingin ia asingkan ke Ethiopia dengan iringan tarian peri rumah yang merasa senang terbebas dari penyihir wanita itu. Nate menunjukan cengirannya lagi dan mengangkat bahu, &lt;strong&gt;“lebih baik daripada liburanku berarti, mengerikan—musim panas kali ini. Eh, ngomong-ngomong, memangnya aku belum pernah memintamu untuk berhenti memanggilku dengan sebutan ‘Nathan’? Kau terdengar seperti ibuku.”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Dia memang gila, Harvarth. Sepertinya Hoggie-Woggie tidak mampu membayar pengajar yang lebih professional,"&lt;/span&gt; ujar suara tanpa perasaan dari sebelah kanannya—sebelah Sienna lebih tepatnya. Membuatnya mengangguk setuju meskipun tidak sepenuhnya sependapat dengan perkataan Dawghew. Hogwarts seharusnya mampu membayar pengajar yang professional, ia lebih setuju dengan pendapat bahwa Flitwick dan Dumbledore merencanakan sesuatu. Hm… ia mencium ada bau-bau nepotisme di sini. Atau mungkin &lt;u&gt;Flitwick punya affair dengan Mcgonaggal?&lt;/u&gt; Oh, tidak. Yang terakhir itu jangan dibayangkan—ARGH. Mental imej yang sungguh mengerikan. Ck, imajinasi yang terlalu tinggi terkadang membawa kesengsaraan. Ta-tapi, kalau ternyata ia benar bagaimana? Wah, gossip ini benar-benar perlu diluruskan! Nate menatap mata Dawghew dengan wajah serius sambil berbisik pelan, &lt;strong&gt;“menurutmu—mungkin tidak Flitwick punya affair dengan McGonaggal?”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasimu hebat sekali, Nathan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti cukup untuk membuatnya tidak bisa tidur seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate melirik ke seorang anak laki-laki yang duduk di sebelahnya—yang menanyakan apa tugas mereka dengan wajah sembab seperti baru bangun tidur—yang menurut Nate, memang itulah yang tadi dikerjakan oleh teman sepermainannya itu sebelum entah apa membangunkannya. Sebelum Nate menjawab, sepupu berambut pirangnya sudah menjawab terlebih dahulu, menyisakan hanya sebuah kalimat untuk diucapkan olehnya, &lt;strong&gt;“hei, landak tua, sudah puas tidurnya?”&lt;/strong&gt; Kalau bukan Nate yang mengatakan kalimat itu, pasti Sylar akan mendelik dan melakukan entah hal apa pada yang berani memanggilnya seperti itu. Oh, segala keuntungan yang didapatkannya… &lt;em&gt;Menyenangkan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate memutar-mutar tongkat dengan inti helaian bulu unicorn di tangannya. Kalau tidak sengaja muncul kilatan mantra dari tongkatnya dan mengenai seseorang—ck, jelas bukan salahnya. Siapa suruh punya keberuntungan yang tidak bagus sampai bisa terkena mantra nyasar. Lalu omong-omong tentang mantra nyasar—siapa itu yang memantrai kenop pintu? Demi Merlin, kalau mereka terkunci di sini… bagaimana, ya? Manik caramel itu menyusuri asal mula kilatan itu dan menemukan pelaku dari pengrusakan itu. &lt;em&gt;Bingo&lt;/em&gt;. Seharusnya dia sudah menduga, siapa lagi orang yang lebih gila daripada troll Ravenclaw itu? Meskipun bagaimana otak troll bisa disamakan dengan kecerdasan otak yang dijunjung oleh penghuni langit itu ia sama sekali tidak mengerti. Bukannya ia perlu atau ingin mengerti—sama sekali bukan urusannya, benar, deh. Apakah menurutmu Nate terlalu mulia untuk memikirkan hal remeh semacam itu? Dipandangannya sendiri, jelas iya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;“Glacius.”&lt;/span&gt; Cukup satu kata, tidak perlu lebih, sudah membuat anak laki-laki berambut ikal kecokelatan itu kembali menoleh ke meja di belakangnya. Menatap tepat ke dalam dua Kristal bening yang sudah lebih dari familiar di matanya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dimantrai oleh gadis itu—yang jelas sesuatu yang berada di bawah, di lantai. Tapi meja di depan gadis itu menghalangi pandangannya. Bukan masalah kan? Seperti ia tertarik saja dengan apapun yang terjadi pada gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: times;"&gt;Katakan, Nathan—apa kau masih peduli padanya?&lt;br /&gt;Tidak.&lt;br /&gt;Tidak usah munafik, semua orang juga tahu hal yang sebenarnya…&lt;br /&gt;Tutup mulut, brengsek.&lt;br /&gt;Kau tidak akan mengkhawatirkannya kalau kau sudah tidak peduli padanya.&lt;br /&gt;Hanya karena dia miliku, bukan karena aku peduli.&lt;br /&gt;Baiklah, terserah…&lt;br /&gt;Tentu saja, aku melakukan &lt;u&gt;apapun&lt;/u&gt; yang kuinginkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;“Perlu bantuan, Michelle, dear?&lt;/strong&gt;” ujarnya sambil menunjukan cengirannya yang biasa. Baiklah, anggap saja ini salah satu dari tindakan yang biasa ia lakukan. Kenapa juga harus dianggap lebih? Orang bilang, orang yang mengaku tidak pernah berbuat kesalahan adalah orang yang paling sering berbuat kesalahan. Karena orang yang tidak merasa salah tidak akan melakukan evaluasi terhadap tindakan ataupun perkataannya yang salah. Tapi teorema ini tidak berlaku pada Nate, karena apapun yang terjadi—Nate selalu benar. Tindakannya saat ini pun bisa dibenarkan, ia tidak pernah berkata tidak akan pernah berbicara dengan Michelle atau apa. Apa yang ia lakukan ini tidak salah, mengerti? Bagus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-2736949098299070395?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/2736949098299070395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=2736949098299070395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/2736949098299070395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/2736949098299070395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/04/kelas-mantra.html' title='Kelas Mantra'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-8705172278881395009</id><published>2009-03-23T21:09:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T21:13:07.685-07:00</updated><title type='text'>N. K. H</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/91987-0069ur-122-1087lo.jpg" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-8705172278881395009?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/8705172278881395009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=8705172278881395009' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8705172278881395009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8705172278881395009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/n-k-h.html' title='N. K. H'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-9146454632857393168</id><published>2009-03-22T08:16:00.000-07:00</published><updated>2009-04-05T19:40:57.992-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Slytherin'/><title type='text'>Il-luinanté (Nate Vr.)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malam telah tiba. Mentari tiba di peraduan—menyembunyikan cahayanya dari manusia yang tidak pernah puas mengharapkan siang agar tak pernah berakhir. Kesunyian yang menyelimuti jalan yang tadi siang dipenuhi oleh orang-orang yang berteriak seperti kesetanan ketika menjajakan barang dagangannya tampak surreal. Seperti ilusi—&lt;em&gt;terlalu kontras&lt;/em&gt;. Seorang anak laki-laki berambut cokelat ikal menyusuri jalan setapak itu. Wajahnya masih terangkat meskipun di sudut hatinya tersimpan ketakutan. Masa-masa rawan—sekarang ini. Ia—bagaimanapun ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sebagai yang terbaik dan pasti menang dalam segala hal—tahu bahwa ada sudut-sudut yang tidak terjangkau oleh seorang anak berumur tiga belas tahun. Seorang Harvarth sekalipun. Sudut gelap tempat kuasa jahat bersemayam, melemparkan kepingan-kepingan perpecahan. Kau-Tahu-Siapa dan pengikutnya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—sedang &lt;em&gt;Berjaya&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu apa dia untuk melawan sosok sebesar itu? Tidak ada. Tidak ada sama sekali. Jadi apa yang dilakukannya di sini—di tempat yang begitu rawan ketika kemungkinan ia bisa mati sebelum ia bisa mengucapkan &lt;em&gt;‘kau-‘&lt;/em&gt; mencapai lebih dari delapan puluh persen. Selesaikan perjalanan sebelum gelap. Begitu kata selebaran yang dibagikan melalui Daily Prophet, terpampang besar-besar di kaca etalase toko. Tapi ia melanggarnya. Kalau ia mati—&lt;em&gt;setan&lt;/em&gt;. Lucifer akan menariknya ke neraka paling bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok yang bergerak-gerak di ujung jalan membuatnya was-was. Berhenti. &lt;em&gt;Ketakutan&lt;/em&gt;—mencoba berbalik dan kabur. Menyelamatkan diri. Nyawanya adalah yang terpenting. Memangnya ia peduli sekalipun satu-dua keluarga mati karena ia pergi tanpa memperingatkan orang lain? Tidak. Tidak akan. Lagipula tidak akan ada yang tahu—ia &lt;em&gt;hidup&lt;/em&gt;. Itulah yang terpenting. Nate menyipitkan pupilnya, memaksa daya akomodasi matanya untuk bekerja lebih keras. Bukan. Bukan mereka yang para pengikut Kau-Tahu-Siapa, bukan. Setidaknya ia kira bukan—mereka, murid. Prefek-prefek berkumpul… du Noir, Beau, Bloomberg. Ada Morcerf dan seorang perempuan berambut hitam. Dan dua orang lulusan terbaik tahun kemarin… Pavarell dan Zeev. Hebat juga dia masih hafal nama orang-orang ini. &lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;—dia Nate yang itu. Jelas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dia harus berterima kasih karena tidak bertemu dengan apa yang dicemaskannya atau merasa heran terlebih dahulu dengan pertemuan yang—aneh ini. Seperti sebuah reuni dari &lt;em&gt;keluarga besar&lt;/em&gt;. Takdirkah yang membuatnya menyaksikan pertemuan ini? Bisa saja. Meskipun kepercayaan bahwa dunia berpusat padanya juga cukup menggiurkan. Dua kemungkinan. Ia lebih menyukai yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tap. Tap. Tap.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam semuanya, reuni?” ucapan yang terlontar dari mulut anak itu bernada dipanjang-panjangkan dengan kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman percaya diri. Percaya bahwa dirinya patut berada di sana—berada di tengah-tengah prefek-prefek yang sama artinya dengan yang siswa terbaik di angkatan mereka. Memang ada yang bukan—yang perempuan dan Morcerf yang entah mendapat lencana ‘P’ itu tahun ini atau tidak. Tapi berada di &lt;em&gt;sini&lt;/em&gt;—berarti mereka orang yang diakui oleh orang-orang itu. Mungkin ini bukan reuni atau kebetulan semata—mungkin ini perkumpulan rahasia dari orang-orang yang terbaik. Perkumpulan rahasia—ia suka bunyi kalimat itu. &lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;, kalau begitu ia tidak salah—Nate adalah yang terbaik juga. Sesuai dengan pasal ke empat dalam Sepuluh Pasal dalam Pedoman Hidup N.K.H.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-9146454632857393168?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/9146454632857393168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=9146454632857393168' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/9146454632857393168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/9146454632857393168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/il-luinante-nate-vr.html' title='Il-luinanté (Nate Vr.)'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-1515865360413340266</id><published>2009-03-20T06:17:00.000-07:00</published><updated>2009-04-05T19:40:47.238-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ten Commandments'/><title type='text'>Ten Commandments</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;SEPULUH PASAL &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:courier new;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;DALAM PEDOMAN HIDUP&lt;/span&gt;: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;NATHAN KEHL HARVARTH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Nate selalu benar&lt;br /&gt;2. Apa yang Nate mau, pasti ia dapatkan&lt;br /&gt;3. Orang yang mencari masalah dengan Nate sama dengan cari mati&lt;br /&gt;4. Tidak ada orang yang lebih baik daripada Nate&lt;br /&gt;5. Jika seseorang melakukan hal yang tidak disukai Nate, wajib dibalas seratus kali lipat&lt;br /&gt;6. Nate hanya boleh membeli, memakai, dan mendapatkan yang terbaik&lt;br /&gt;7. Poligami itu bukan dosa&lt;br /&gt;8. Nate bebas melakukan apapun, dimanapun, dan kapanpun yang ia inginkan&lt;br /&gt;9. Kesempurnaan hanya milik Nate seorang&lt;br /&gt;10. Ketika seseorang mengatakan ia berbuat kesalahan, kembali ke pasal pertama&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-1515865360413340266?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/1515865360413340266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=1515865360413340266' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/1515865360413340266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/1515865360413340266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/ten-commandments.html' title='Ten Commandments'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-8314983444158965693</id><published>2009-03-18T06:10:00.000-07:00</published><updated>2009-04-05T19:40:34.750-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Summer'/><title type='text'>Summer, 1980</title><content type='html'>&lt;strong&gt;18.20, 24 Juni 1980&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang anak laki-laki berambut cokelat membuka pintu oak menuju kamar ayahnya—mendapati seorang pria dengan wajah pucat tidak sehat tengah duduk di tempat tidur merah tua di depan perapian sambil memegang cangkir putih berisi teh hangat yang masih mengepul. Dari suara-suara yang terdengar sudah bisa diketahui ayahnya sedang melakukan pembicaraan melalui floo. Padahal pria berumur kepala empat bernama Odieneer itu baru beberapa hari yang lalu keluar dari St. Mungo. Dan itupun, para penyembuh mengizinkan dengan berat hati—hanya takut karir mereka terancam jika tidak memenuhi keinginan seseorang bermarga Harvarth. Lalu belum ada seminggu, sekarang ia sudah menghubungi kolega-koleganya lagi untuk apa yang sepertinya mengurus Statoil, salah satu perusahaan muggle yang bergerak di bidang perminyakan tempat dia menanam saham—salah satu cara yang paling mudah meskipun berbahaya untuk mendapatkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Norsk Hydro sudah memberikan kabar? Katakan pada mereka untuk membalas secepatnya—pekerjaan di Rafsnes sudah terlalu lama ditunda. Lalu mengenai hak operasi—bagus. Tahun depan sudah harus selesai. Secepatnya,” ucap pria separuh baya di depan perapian itu dengan nada final, tanda perkataannya tidak bisa dibantah dengan argumen seperti apapun. Nada yang kerap kali digunakannya kepada anak laki-laki yang baru masuk itu ketika ia mencoba mengeluarkan pendapat menentang ayahnya mengenai suatu hal. Pria itu meneguk tehnya, sesaat tampak lebih lelah daripada biasanya. Odien akhirnya mengangkat kepalanya menemui mata bewarna kecokelatan milik anak laki-lakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nathan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang dipanggil Nathan itu sedikit membungkuk dan berkata dengan agak segan, mengingat pertemuannya terakhir dengan ayahnya tidak berakhir dengan baik—sangat tidak baik malah, “sore, ayah. Bagaimana keadaanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik. Bagaimana keadaanmu sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, sama saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemari, duduk,” ucap sosok yang lebih tua menunjuk &lt;em&gt;comfort chair&lt;/em&gt; di sebelah tempat tidurnya. Tidak tampak sekalipun berbeda dari biasanya, padahal Nate mengira bahwa beliau akan bersikap berbeda setelah insiden Gisselle kemarin. “Bagaimana tahun ini? Nilai-nilaimu—lalu, apa ada kejadian menarik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate tidak menjawab—kejadian menarik di sekolah. Michelle, kesalahannya hinga menyebabkan kekalahan asrama mereka dalam mempertahankan piala quidditch, detensi—tidak, ia tidak mendapat detensi tahun ini, hanya pengurangan poin asrama, lalu entah berapa kali ia tidak mengikuti kelas, nilai-nilainya yang menurun drastis... Tapi pada akhirnya ia menutup matanya dengan ekspresi seperti menderita kebosanan akut dan membuka mulutnya dengan yakin, “ah, sangat membosankan, tidak ada yang menarik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitu...?” balas pria di depannya dengan wajah tidak percaya—seolah ia bisa mendeteksi tiap kebohongan di balik kata-kata anaknya. Tapi ia sepertinya tidak ingin mengorek lebih dalam, atau mungkin menunggu Nate untuk menceritakannya lebih dulu. Saat beberapa detik terlewat dan anak laki-laki itu tetap tidak tampak akan mengatakan apapun lagi, Odien membuka mulutnya lagi untuk mengalihkan pembicaraan, “Sudah dengar mengenai Kåre Willoch? Kalau beruntung, tahun depan dia akan menjadi perdana mentri muggle. Dan itu akan sangat menguntungkan untuk kita, tentu saja—mengingat Willoch sebenarnya seorang squib yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga kita. Perdagangan dan segala urusan kita dengan dunia muggle akan lebih mudah. Sungguh tepat keputusannya untuk berkiprah di dunia muggle.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Willoch, yang ada di pesta tiga tahun yang lalu?” tanya Nate dengan ekspresi tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kau mengingatnya? Memang dia ada di sana waktu itu. Seorang pria yang karismatik, bukan? Besar kemungkinan dia terpilih di pemilu mendatang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara ketukan di pintu sebelum papan kayu oak itu terbuka dan menampilkan sosok wanita tinggi semapai dengan rambut pirang keemasan yang mencapai punggungnya. Tubuh rampingnya di balut gaun bewarna zamrud yang terlihat necis. Wajahnya memakai riasan warna natural, mempertegas kecantikan yang dimiliki wanita berdarah Itali itu. Di belakangnya peri rumah yang membawa baki dengan piring berisi scone di atasnya tampak terhuyung-huyung, sedikit kesulitan membawa benda yang lebih besar daripada tubuhnya. Meski begitu wanita itu hanya mengisyaratkan si peri rumah untuk meletakan nampan yang dibawanya di atas nakas sementara ia sendiri berjalan menghampiri suaminya, “dear, bukankah seharusnya kau beristirahat—kau kan belum sembuh benar, jangan memikirkan soal pekerjaan dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, Arianna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kau juga harus  menjaga kesehatanmu. Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi padamu—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa,” potong pria itu sambil mengangkat tangannya, “sampai Nathan bisa mengambil alih tugasku, aku belum bisa melepas tanggung jawabku.” ujar pria bersuara berat itu sambil menatap Nate dan tersenyum tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate merasa nafasnya mendadak tertahan tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya nyengir tanpa arti—seperti orang idiot yang tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tahu, tahu dengan sangat pasti bahwa ayahnya selalu memiliki harapan yang besar padanya. Maklum saja, ia satu-satunya anak laki-laki yang bisa meneruskan namanya kelak. Satu-satunya yang bisa membawa nama keluarga mereka. Ia tahu tanggung jawabnya, tapi ketika disodorkan kepadanya secara langsung seperti ini, mau tidak mau ia jadi salah tingkah. Apalagi—apalagi karena ia menyadari ia tidak pantas diharapkan seperti itu. Menggantikan ayahnya berarti ia harus memiliki pengetahuan yang sangat luas dan menjadi sosok yang dihormati oleh semua orang. Penghormatan—ia bahkan tidak memiliki satupun alasan untuk dihormati.Ia hanya seorang anak tidak sah. Harapan itu terlalu tinggi, Nate tidak yakin bisa mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, aku belum menyuruh Naine untuk merapikan barang-barangku. Aku akan datang lagi nanti,” ujarnya sambil sedikit membungkuk pada ayahnya. Baru kemudian keluar dari kamar itu dengan sedikit terburu-buru meskipun ia berusaha menutup-nutupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pintu oak di belakangnya tertutup, Nate menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia menyibakan rambutnya ke belakang dengan wajah frustasi dan menghela nafas pelan. Ini sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya—bukan. Lebih tepat belum ia sadari benar-benar sebelumnya. Beban yang ada di pundaknya, belum pernah terasa seberat ini. Bagaimana mungkin ia bisa mencapai ekspektasi yang setinggi itu—ia tidak bisa apa-apa. Dia—bahkan bukan siapa-siapa. Hanya serumpun rumput liar di tengah-tengah taman bunga. Apa yang bisa ia lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berat, ya, ketika semua orang mengharapkanmu dan kau tahu kau tidak akan pernah memenuhi harapan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah suara dengan nada dimanis-maniskan mencapai indranya. Bola mata bening milik anak laki-laki itu bergulir malas ke sisinya—tidak perlu melihat ia juga sudah dapat menebak siapa pemilik suara itu. Seorang gadis berambuk pirang kecokelatan yang sedang mengenakan summer dress bewarna ungu berdiri sekitar dua meter darinya. Cantik dan terlihat memikat meskipun dengan baju dengan model sederhana—tapi Nate yakin, harganya tidak mungkin masuk ke dalam kategori ‘sederhana’. Sosok cerminan dari ibunya—hanya saja lebih jauh lebih muda dan berbeda warna rambut. Dan kesan yang ditimbulkan. Itu perbedaan yang paling mencolok. Sementara ibunya—betapapun menyebalkan dan ingin ia singkirkan—terlihat anggun, gadis di dekatnya itu lebih berkesan ingin mendominasi dan penuh kepercayaan diri yang membuat darahnya mendidih. “Berisik. Ini bukan urusanmu, Miranda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Touché,” ujar gadis berumur kepala dua yang bernama Miranda itu sambil memilin rambutnya dengan ekspresi puas yang tidak ditutup-tutupi—tampak menikmati setiap detik dari penderitaan yang ditimbulkan oleh kata-katanya. Sosok pirang itu membalikan tubuhnya membelakangi adik laki-lakinya dan berkata, “well, mungkin sebaiknya kau menyerah saja, Nathan. Gagal di berapa pelajaran tahun ini, hm? Sungguh—Ayah bermimpi terlalu besar untuk menjadikanmu penerusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu menatap sosok yang berjalan menjauh tersebut dengan wajah geram. Beraninya berkata seperti itu—memangnya dia pikir dia itu siapa? Meskipun, meskipun ia tahu benar semua perkataan itu benar. Bagaimana bisa dia mewujudkan harapan ayahnya jika ia terus seperti ini. Pikirannya sibuk sendiri meratapi nasib hingga ia melupakan kewajibannya—statusnya yang tidak dapat disangkal. Memang ia bukan anak yang diharapkan, anak seorang wanita lain, hal itu tidak akan pernah berubah. Tapi setidaknya, ia tetap memiliki darah Harvarth di dalam nadinya. Harvarth—high defender, ia juga bisa bertahan, melindungi, apapun. Nate akan membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia—Nathan Kehl Harvarth—lah yang akan berdiri di posisi puncak.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-8314983444158965693?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/8314983444158965693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=8314983444158965693' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8314983444158965693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8314983444158965693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/summer-1980.html' title='Summer, 1980'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-4240124101566387958</id><published>2009-03-12T23:22:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T03:34:38.789-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Repletion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Repletion 9 - Michelle</title><content type='html'>Tidakkah ini sedikit terlalu lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;How, how am I supposed to feel—&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle sudah mempersiapkan diri sejak tadi untuk menghadapi yang terburuk. Apa? Dicium, dipukul, dilontari kata-kata merendahkan... apapun, sungguh. Namun Nate masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Kaku. Nyaris tidak bergerak malah. Hanya tatapan tajamnya yang seakan tengah berusaha berbicara, menyembunyikan emosi yang tak dapat ditafsirkan artinya. Gadis itu menahan napas, manik cokelatnya sendiri belum beranjak dari tempatnya terpancang sebelumnya—saling beradu pandang dengan milik lawan bicaranya. Nampak jelas ia berusaha keras meyakinkan pemuda di hadapannya maupun dirinya sendiri bahwa ia kuat—cukup kuat untuk bisa menerima apapun yang akan diputuskan Nate pantas untuk diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;—when everything surrounding me&lt;br /&gt;Is nothing but a fake disguise&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk sesaat setelahnya Michelle sempat berharap bahwa Nate akan menerimanya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibirnya gemetar, saat ia ingin melirihkan jawaban atas pertanyaan pemuda itu. Sejak awal sedikitpun ia tidak berniat melepaskan janji itu—samasekali. Janji yang diikatnya dengan tulus, dihadiahkan sebagai bukti seberapa besar pemuda itu telah berhasil mengisi hidupnya. Nate adalah bagian paling penting dalam dirinya, terlepas dari kenyataan ibunya berada di dunia lain—dunia Muggle—dan ayahnya berkelana entah kemana, dan ia telah menggantungkan terlalu banyak hal kepada keberadaan sosok itu. Ia kira mereka saling membutuhkan satu sama lain, mereka sempurna untuk melengkapi satu sama lain... sehingga saling bergantung juga tidak mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle tidak menyesal, memikirkannya saja tidak, sampai tiba fase dimana ia mengetahui bahwa ia bukan satu-satunya milik Nate. Tahukah betapa hancur kepercayaannya saat menyaksikan semua kejadian pemuda itu mencium gadis lain berlangsung di hadapannya. Begitu besar bagian dari dirinya—seluruh hatinya bahkan—telah ia serahkan dan ternyata orang yang menerimanya tidak puas dengan merasa hanya dari Michelle saja sudah cukup. Perasaannya bertepuk sebelah tangan, setidaknya itu fakta lain yang harus diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;I don't know,&lt;br /&gt;I don't know where I belong&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia sudah memutuskan. Kalau memang Nate bersedia, ia tetap menjadi miliknya juga tidak apa-apa. Diduakan, ditigakan, tidak menjadi nomor satu, ia rela. Sekalipun dengan semua pengorbanan dan perasaan yang ia curahkan, ia tidak menerima yang setimpal, Michelle sungguh tidak peduli. Bayangan Nate kembali ke pelukannya saja sudah begitu indah terbayang di pelupuk matanya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—asalkan Nate bersedia, Michelle akan tetap menjadi miliknya.&lt;hr /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:Maiandra GD;"&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Oh, ya?" Gadis itu menyembunyikan rona merah yang sejenak meliputi kedua pipinya karena mendadak disuguhi pengakuan—membuatnya spontan mengalihkan pandang ke arah lain selama beberapa detik. "Hei, sudah mulai gelap nih." Mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Argh... Michelle tidak seru, ah. Masa cuma begitu saja," ujar yang laki-laki diiringi oleh tawa untuk menutupi rasa malunya setelah sadar mengenai apa yang diucapkanya barusan. Ia berdiri dan mengibaskan rumput yang menempel di bajunya. Baru kemudian mengulurkan tangannya kepada gadis ikal di dekatnya. "Kembali ke kastil, yuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang gadis hanya menunjukkan cengiran tidak bersalah, menyambut uluran tangan yang ditujukan padanya dan mengangguk. Digenggamnya erat-erat, ketika langkah mereka beriringan meninggalkan kawasan danau. Pantulan warna jingga tua tersirat di atas bola mata cokelat itu, ketika pandangan sang putri mengerling pada pemilik jemari yang menggenggamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga sayang, kok."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr /&gt;Namun bagaimana jika Nate tidak menginginkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu akan melepaskan pelukannya, melepaskan genggamannya, untuk selamanya. Tidak akan menoleh untuk melihatnya lagi. Tidak akan tersenyum dan berbicara lagi. Michelle tidak cukup pintar, tidak cukup berharga, untuk bahkan menjadi nomor dua atau nomor tiganya. Michelle yang naif dan dibutakan oleh cinta. Samasekali tidak pantas untuk seorang pangeran. Tidak. Pantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;I can't stop the rain from fallin'&lt;br /&gt;I'm drownin' in these tears I cry&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukan itu datang dan pergi begitu saja—tanpa pertanda, tanpa peringatan. Ketika Michelle membuka kembali kelopak matanya, punggung Nate sudah berlalu meninggalkannya. Sedikitpun, barang hanya sekejap, tidak berbalik. Mencampakkannya. Michelle yang tidak berharga bahkan untuk menerima sepatah kata perpisahan, hanya ditinggalkan khayalan yang lagi-lagi hanya ia seorang yang menikmati dan airmata untuk dihabiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin berteriak. Sangat ingin, meronta dan memohon agar pemuda itu tidak pergi dan membiarkan dirinya begitu saja seperti ini. Persetan dengan harga diri, &lt;em&gt;she desperately needs him&lt;/em&gt;. Namun ketika bayangan mengenai apa yang akan selanjutnya terjadi jika ia melakukan hal sesuai kehendak emosinya itu, membuatnya tak ayal lagi semakin sakit. Nate sudah memutuskan, dan bukankah ia sudah menyiapkan diri untuk segalanya? Untuk kemungkinan yang terburuk bahwa—sekali lagi Nate memberinya harapan setinggi langit kemudian mencampakkannya kembali ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit. Nyeri yang perlahan menyusup, berdenyut-denyut di dadanya dengan keji. Jaket abu-abu di pangkuannya kini dipenuhi pola titik-titik air, sementara semburat jingga dengan cepat menghilang ditelan permukaan danau di kejauhan. Kenapa ia tidak menampar saja? Kenapa ia tidak mengata-ngatai saja? Akan jauh lebih baik. Ia tidak akan merasa sedemikian sakit. Kenyataannya Michelle tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang paling buruk—ia masih &lt;em&gt;sekali lagi&lt;/em&gt; berharap. Dan mungkin keputusan Nate untuk menghempaskan semuanya barusan adalah tepat, karena tak ada lagi harapan yang tersisa kini. Sudah tidak ada lagi. Michelle menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berakhir, tidak ada lagi kelanjutan dari kisah ini. Berakhir. Meninggalkannya dalam kegelapan seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;I can't stop, I can't stop the rain&lt;br /&gt;From fallin'&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-4240124101566387958?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/4240124101566387958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=4240124101566387958' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4240124101566387958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4240124101566387958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/repletion-9-michelle.html' title='Repletion 9 - Michelle'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-4632910513522576459</id><published>2009-03-12T20:02:00.000-07:00</published><updated>2009-04-05T19:40:09.901-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cousins'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sienna'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arvid'/><title type='text'>Cousins</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://img7.imageshack.us/img7/7981/sidsig.jpg" /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;Sienna Immanuela Duske&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;((Visualisasi: Meg Ryan))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pureblood&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Verona, Italia&lt;br /&gt;20 Juli 1967&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Nama Panggilan:&lt;/strong&gt;  Sienna&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suku Bangsa Karakter:&lt;/strong&gt; Inggris-Italia&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asrama:&lt;/strong&gt; Slytherin&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peliharaan&lt;/strong&gt;: Seekor burung hantu putih bersih jantan bernama Luce&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tongkat sihir:&lt;/strong&gt; Holly, 30 1/4 senti, dengan inti urat nadi Phoenix Honduras&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Ayah:&lt;/strong&gt; Clifford Gene Duske (Pureblood)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Ibu:&lt;/strong&gt; Bianca DeFiore/Bianca Duske (Pureblood)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Saudara:&lt;/strong&gt; --&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Clifford Duske dan Bianca DeFiore bertemu saat Clifford Duske pergi bersama keluarganya dan juga kakak laki-lakinya yang kini dibuang dari daftar nama keluarga pergi ke Italia. Pertemuan pertama mereka terjadi ketika usia mereka dua puluh tahun bagi Clifford dan delapan belas tahun bagi Bianca. Clifford, adalah lulusan Hogwarts dari asrama Slytherin dengan nilai yang bagus namun tidak terlalu istimewa sedangkan Bianca baru saja lulus dari Beauxbaton. Setelah perkenalan pertama mereka yang diatur oleh orang tua mereka, setahun kemudian mereka menikah dan baru dua tahun setelah pernikahan mereka Sienna lahir. Clifford seorang yang &lt;em&gt;noble&lt;/em&gt; dan tahu sopan-santun, sedangkan Bianca adalah wanita yang berharga diri tinggi. Kedua sifat orang tuanya menurun kepada Sienna. Saat ini keluarga Clifford Duske sedang mengalami krisis perebutan warisan yang akan dibagikan oleh keluarga inti Duske yang lain. Jika mereka tak mendapatkannya atau jika Sienna tak dapat menjadikan dirinya sebagai pewaris, maka pewaris yang mendapatkannya bisa mendepak mereka dari silsilah keluarga Duske karena dianggap terlalu lembek terhadap Muggle.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Data Personal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Personaliti Karakter&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;-Selalu mengatakan apapun dengan jelas dan tegas. Tidak suka terhadap penolakan.&lt;br /&gt;-Seorang Nona Muda yang selalu dapat bersikap dengan baik, namun ia juga tidak selalu menyuruh seseorang atau pelayannya untuk memenuhi semua kebutuhannya (mandiri).&lt;br /&gt;-Dapat dibilang lumayan angkuh.&lt;br /&gt;-Selalu bersikap kalem, kecuali bila menyangkut sepupunya yang bernama Conrad Cassius Duske atau jika ada orang yang baginya mengesalkan dan tidak sopan.&lt;br /&gt;-Menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan bunga. Ia akan sangat berterima kasih sekali kepada orang-orang yang memberikannya (apapun status orang tersebut).&lt;br /&gt;-Cukup ramah dan toleran kepada Muggleborn/Muggle, namun tidak begitu diperlihatkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bakat dan Kekurangan&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;BAKAT&lt;/u&gt;: Mantra, Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Ramuan, Transfigurasi, Herbologi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;KEKURANGAN&lt;/u&gt;: Sejarah Sihir, Astronomi, Rune Kuno, Arithmancy, Telaah Muggle, Ramalan, Pemeliharaan Satwa Gaib, Terbang&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://i479.photobucket.com/albums/rr153/fuhrii/AEC.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Arvid  E. Corleone&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;((Visualisasi: James Harris))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pureblood&lt;br /&gt;Stockholm, Swedia&lt;br /&gt;18 November 1967&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Panggilan:&lt;/strong&gt;  Arvid, Corleone, Excal.&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suku Bangsa Karakter:&lt;/strong&gt; Swedia&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asrama:&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="color:green;"&gt;Slytherin&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahun Masuk Hogwarts&lt;/strong&gt;: 1978&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peliharaan&lt;/strong&gt;: Burung Hantu Elang -- Sven.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tongkat sihir:&lt;/strong&gt; Reed, 30 centimeter, Inti sisik naga Hungaria.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Ayah:&lt;/strong&gt; Sven Corleone -- Pureblood&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Ibu:&lt;/strong&gt; Charlotte Nobel, nee. Corleone -- Pureblood&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Saudara:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Anthony Corleone, Kakek, Pureblood.&lt;br /&gt;- Lucia Corleone, Nenek, Pureblood. [R.I.P]&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://z15.invisionfree.com/hogwartsnox/index.php?showuser=857" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Mia. A. Corleone&lt;/a&gt;, Saudara Kembar , Pureblood.&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://z15.invisionfree.com/hogwartsnox/index.php?showuser=535" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Polarish C. Quinn&lt;/a&gt;, Sepupu jauh, Halfblood.&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://z15.invisionfree.com/hogwartsnox/index.php?showuser=864" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Sienna Immanuella Duske&lt;/a&gt;, Sepupu jauh, Pureblood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keluarga Corleone merupakan salah satu dari &lt;em&gt;The Fifth Great Family&lt;/em&gt; (Lima keluarga besar) Mafia yang menguasai hampir seluruh aspek di dunia hitam Italia dan Amerika, serta Swedia. Diantara keluarga-keluarga Mafia tersebut, Keluarga Corleone adalah keluarga yang paling besar dan paling kuat pengaruhnya. Pengaruhnya tidak hanya tertancap di dalam dunia &lt;em&gt;Muggle&lt;/em&gt; melalui &lt;em&gt;regime-regime&lt;/em&gt;nya yang luar biasa, tetapi juga di Dunia penyihir melalui banyaknya para keluarga Pureblood murni yang berada di bawah naungannya. Keseimbangan dan konsistensi diantara para pengikut &lt;em&gt;Muggle&lt;/em&gt; dan penyihir keluarga Corleone dalam tugas-tugasnya menjadikan keluarga Corleone salah satu keluarga Mafia paling berkuasa di Dunia. Keluarga Corleone sendiri merupakan keluarga Penyihir berdarah murni yang sangat disegani. &lt;u&gt;Namun, fakta kalau mereka adalah keluarga penyihir hanya diketahui sebagian kecil keluarga penyihir berdarah murni lainnya&lt;/u&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja karena kemahiran puluhan intel Keluarga Corleone yang dengan mudahnya memanipulasi informasi di dalam Kemetrian dunia Sihir maupun &lt;em&gt;Muggle&lt;/em&gt;. Para intel tersebut mengubah identitas keluarga Corleone menjadi keluarga &lt;em&gt;Muggle&lt;/em&gt;. Kenapa mereka melakukan hal itu? Jawabannya &lt;em&gt;simple.&lt;/em&gt; Karena dengan cara itulah keluarga Corleone akan lebih mudah dalam menjalankan 'bisnis'nya. Menurut mereka, menjadi keluarga Muggle bisa diartikan lolos dari pengawasan Kementerian Sihir yang dianggap merupakan bahaya besar dalam kelancaran bisnis Keluarga Corleone.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bisnis keluarga Corleone sendiri bervariasi, dan melingkupi banyak aspek. Diantaranya perjudian (Dengan membangun 4 Hotel berbintang di Las Vegas, Amerika), penjualan obat-obat terlarang (termasuk diantaranya Ramuan Ilmu hitam dan benda-benda berbahaya lainnya), dll. Kebangkitan keluarga Corleone sendiri dimulai di tahun 1950-an ketika kakek buyut Arvid, &lt;strong&gt;Michael Corleone&lt;/strong&gt;, memindahkan Markas Keluarga Corleone dari New York City menuju Las Vegas yang saat itu masih belum berkembang. Keputusannya saat itu merupakan pilihan yang sangat tepat karena dari Las Vegas itulah Keluarga Corleone memperoleh dana yang sangat besar untuk melebarkan sayap mereka di seluruh Amerika. Dimulai dengan diskusi dan gencatan senjata dengan Al Capone di Chicago sampai pembantaian sisa-sisa Keluarga Tattaglia di New York. Setelah itu keluarga Corleone memasuki masa tenang dengan lahirnya Anthony Corleone dan Mary Corleone, anak dari Michael Corleone. Setelah beberapa tahun berlalu, pengangkatan Anthony Corleone menjadi &lt;em&gt;capofamiglia&lt;/em&gt; atau kepala Keluarga pun dilangsungkan. Dan kebijakannya yang pertama adalah menjalin hubungan dengan keluarga Penyihir berdarah murni lainnya dengan berbagai cara, diantaranya melalui pernikahan. Karena itulah keluarga Corleone memiliki hubungan darah dengan Keluarga Harvath di Norwegia, Keluarga Quinn serta Keluarga Duske.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anthony Corleone yang menjalin hubungan dengan Lucia Lampone menikah, dan dari pernikahan itulah Sven Corleone, ayah Arvid, lahir. Setelah beberapa tahun, Anthony menyerahkan jabatan sebagai &lt;em&gt;Capofamiglia&lt;/em&gt; atau kepala keluarga pada Sven sementara Anthony sendiri hidup di Sicillia, Italia. Tak lama setelah pengangkatan, Sven menikah dengan Charlotte Novel, salah satu keluarga penyihir besar di Swedia untuk membina hubungan baik dengan keluarga tersebut. Pernikahan itu melahirkan Arvid dan Mia. Sayangnya, pernikahan tersebut tidak berlangsung lama karena perbedaan pandangan yang menyebabkan mereka bercerai. Mia pergi bersama dengan ibunya, Charlotta Nobel dan pindah ke Inggris sementara Arvid bersama dengan ayahnya, Sven, tinggal di Swedia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Data Personal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Personaliti Karakter&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendiam, sedikit &lt;em&gt;psikopatis&lt;/em&gt;. Tidak banyak bicara dan kurang terbuka kepada orang yang tidak ia kenal dengan baik. Mempunyai sisi &lt;em&gt;melankolis&lt;/em&gt; yang hanya muncul sesekali. &lt;em&gt;Pyromaniac&lt;/em&gt;. Dan tambahan terakhir: Sangat menyukai Galleon.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bakat dan Kekurangan&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mempunyai bakat merata hampir di semua pelajaran, kecuali Herbologi. Mempunyai ketertarikan tersendiri terhadap PTIH.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;*Karakter SID adalah buatan PM yang bersangkutan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Toki&lt;/span&gt;  :)&lt;br /&gt;**karakter AEC adalah buatan PM yang bersangkutan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ajur&lt;/span&gt; :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-4632910513522576459?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/4632910513522576459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=4632910513522576459' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4632910513522576459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4632910513522576459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/cousins.html' title='Cousins'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-8221684041080748255</id><published>2009-03-12T19:45:00.000-07:00</published><updated>2009-04-05T19:39:58.429-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Friends'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sylar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Szent'/><title type='text'>Childhood Friends</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://img22.imageshack.us/img22/4721/2si.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Szent Corvinus Istvan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;((Visualisasi: Jermy Young)&lt;br /&gt;Pureblood&lt;br /&gt;Budapest, Hungaria&lt;br /&gt;10 Desember 1967&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Panggilan:&lt;/strong&gt;  Szent&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Suku Bangsa Karakter:&lt;/strong&gt; Hungaria-Transylvania&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asrama:&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:green;"&gt;Slytherin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tahun Masuk Hogwarts&lt;/strong&gt;: 1978&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peliharaan&lt;/strong&gt;: burung hantu elang&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tongkat sihir:&lt;/strong&gt; elder 271/2 cm, inti sisik naga Hungaria&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Posisi di Tim Quidditch:&lt;/strong&gt; Chaser&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Ayah:&lt;/strong&gt; Corvinus Walfaren Istvan (pure-blood)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Ibu:&lt;/strong&gt; Joannes Laurencii Rozsa (pure-blood)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Saudara:&lt;/strong&gt; --&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keturunan langsung pendiri Hungaria, Santo Istvan yang merupakan keluarga ayahnya dan ibunya yang merupakan cicit langsung Vlad Draculya. Ayahnya berprofesi sebagai dokter bedah (yang membuat Szent memiliki obsesi terhadap organ tubuh manusia maupun hewan) sementara ibunya merupakan perawat yang bekerja di rumah sakit yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Data Personal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Personaliti Karakter&lt;/strong&gt;: anak aneh yang psycho, jarang bicara dan sangat menyukai darah atau hal yang berhubungan dengan organ dalam makhluk hidup. Menyukai kesempurnaan (hingga memotong seluruh jari pelayannya karena merusak buku warisan keluarga Istvan).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bakat dan Kekurangan&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bakat: transfigurasi, mantra, ramuan, arithmancy. Sangat tertarik pada pemeliharaan satwa gaib (diam-diam berusaha membedah hewan-hewan itu untuk melihat organ dalamnya yang berbeda dengan hewan biasa). Tidak tertarik pada telaah muggle (orang tuanya sudah meninggalkannya sebelum sempat memberitahu hal-hal yang berhubungan dengan sihir. Dengan kata lain ia dibesarkan tanpa mengenal sihir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kekurangan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;pelajaran terbang, astronomi dan ramalan, sejarah sihir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;*Semua mengenai SCI adalah milik PM yang bersangkutan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Haru&lt;br /&gt;**&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Edit soon: Sylar Lazarus&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-8221684041080748255?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/8221684041080748255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=8221684041080748255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8221684041080748255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8221684041080748255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/childhood-friends.html' title='Childhood Friends'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-9051143727499990</id><published>2009-03-12T19:27:00.000-07:00</published><updated>2009-07-04T10:57:41.262-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Brynhild</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Other/mfs1.jpg" /&gt;&lt;strong style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mi&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;chelline &lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: bold;"&gt;Fa&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ra &lt;/span&gt;&lt;strong style="font-weight: bold;"&gt;Sola&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;thel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;((Visualisasi: Leah Dizon))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Half-blood&lt;br /&gt;Avallon, France&lt;br /&gt;September 14th 1965&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Panggilan:&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; Michelle / Sola&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Suku Bangsa Karakter:&lt;/strong&gt; Perancis - Korea&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asrama:&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:green;"&gt;Slytherin&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peliharaan&lt;/strong&gt;: anak kucing Russian Blue, berbulu abu-abu dengan mata bulat besar berwarna biru, &lt;a href="http://th02.deviantart.com/fs45/300W/i/2009/060/9/8/Kitten_and_Faucet_no__3_by_Mischi3vo.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Azure&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tongkat sihir:&lt;/strong&gt; Vine, 28.5 cms, inti helaian rambut emas Unicorn&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sapu terbang:&lt;/strong&gt; Nimbus 1001&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Posisi di Tim Quidditch:&lt;/strong&gt; Chaser&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 100%;font-size:130%;" &gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Ayah:&lt;/strong&gt; Jean-Édouard Crosette (Pure-blood)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Ibu:&lt;/strong&gt; &lt;a href="http://www.dvdasian.com/images/synopsis_082007/23625.p4.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Kimberly Kim, Eun-soo&lt;/a&gt; (Muggle)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama Saudara:&lt;/strong&gt; --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latar Belakang Keluarga:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jean-Édouard merupakan satu-satunya keturunan yang tersisa dari keluarga Crosette, keluarga penyihir yang menyandang status pure-blood. Entah kutukan apa yang menghantui dua generasi terakhir keluarga ini, seluruh anggotanya terbunuh satu persatu secara misterius. Sebagai salah satu keturunan terakhir keluarga ini, Jean-Édouard dapat merasakan bahwa keadaannya tengah terancam. Seusai menyelesaikan pendidikan sihir di Hogwarts, lelaki ini kemudian melarikan diri ke Asia untuk menjalani kehidupan normal. Dalam penyembunyian identitasnya sebagai seorang penyihir, ia bertemu dan menjalin hubungan dengan seorang muggle berkebangsaan Korea, Kim Eun-soo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya sebelum mereka sempat mengecap kehidupan yang tenang, kementrian memanggil Jean-Édouard untuk kembali ke dunia sihir. Dalam kondisi yang amat sulit, ia memaksa diri untuk memboyong istrinya berdiam di negaranya, selagi ia menyelesaikan segala masalah yang perlu ia selesaikan di dunia sihir menyangkut keberadaan keluarga Crosette. Namun sesaat berselang usai kelahiran putri mereka, Jean-Édouard tidak pernah kembali lagi ke dunia muggle untuk menemui keluarganya. Juga tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Bahkan masih hidup atau tidaknya pun tidak diketahui. Sejak saat itu Kim Eun-soo terpaksa bekerja seorang diri di negara asing, membanting tulang untuk dapat menghidupi diri dan putrinya, sementara masih dengan setia tetap menanti kepulangan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 100%;font-size:130%;" &gt;&lt;strong&gt;Data Personal&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Personaliti Karakter&lt;/strong&gt;:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Michelle yang sebenarnya (sebelum lupa ingatan) lebih dikenal dengan panggilan Sola, merupakan gadis yang sangat cuek, keras kepala, pecinta kebebasan dan temperamental. Apa yang ia kehendaki harus tercapai, dengan cara yang ia sukai. Sering seenaknya dan mementingkan diri sendiri. Menemukan dan membalaskan dendam kepada ayahnya adalah tujuan terbesar dalam hidupnya, sekaligus alasan mengapa ia rela meninggalkan ibunya dan memasuki dunia sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia mengalami kecelakaan dalam lupa ingatan, Michelle yang sekarang jauh lebih fleksibel dan periang, namun tidak ia tunjukkan. Dari luar ia dapat terlihat sangat judes dan menyebalkan, meski sebenarnya tidak sejauh itu. Suka melakukan hal-hal yang bertujuan untuk menarik perhatian orang lain, juga pandai menjilat. Ingatannya yang kembali tak lama kemudian membentuknya menjadi sosok yang lebih matang. Hal yang masih kentara dari seorang Michelle kini adalah kecerdasan pertimbangannya dalam melakukan segala hal, agar keinginannya dapat tercapai. Ambisi dan obsesi terbesarnya adalah menjadi seorang tuan putri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Bakat dan Kekurangan&lt;/strong&gt;: Sepertinya berbakat pada pelajaran: Terbang, Transfigurasi dan Mantra. Pelajaran favorit: Telaah Muggle, Astronomi dan Ramalan. Tidak berbakat dan akan melakukan apa saja agar dapat lolos dari pelajaran: Herbologi, Arithmancy, Pemeliharaan Satwa Gaib dan Sejarah Sihir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 100%;font-size:130%;" &gt;&lt;strong&gt;Keterangan Lain&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengalami kecelakaan saat libur Natal di Perancis pada tahun pertamanya, menyebabkan ia terbaring koma selama enam bulan dan kehilangan ingatannya. Ia terpaksa harus mengulang tahun pertama di Hogwarts pada tahun ajaran selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat petunjuk bahwa kemungkinan ayahnya masih hidup. Perlahan mulai dapat mengesampingkan dendam dan kebenciannya terhadap sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah putus dari Nathan K. Harvarth. Membuat sebagian besar hidupnya kacau, berusaha keras untuk menutupinya dengan berpura-pura baik-baik saja. Kepribadiannya banyak kembali pada dirinya yang dulu (Sola), dan sebisa mungkin melupakan hal yang menyangkut mantan kekasihnya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;*Semua hal mengenai MFS adalah ciptaan PM karakter ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;a href = "http://www.plurk.com/amefeirii"&gt;Ameh&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; ;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-9051143727499990?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/9051143727499990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=9051143727499990' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/9051143727499990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/9051143727499990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/brynhild.html' title='Brynhild'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Other/th_mfs1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-693363505762686723</id><published>2009-03-12T06:40:00.001-07:00</published><updated>2009-04-06T03:33:15.999-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Repletion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Repletion 8 - Nate</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Rasa sayang… harapan agar perasaan ini tidak pernah berubah. Aku mengharapkan kebahagiannya. Lalu kapan aku siap melepasnya? Dia selalu menarikku. Akhir-akhir ini apapun yang kulakukan, aku selalu mengambil langkah mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begini terus, tidak akan bisa lepas. Diriku sendiri yang membuatku... kian dililit oleh rasa ingin memiliki. Perasaan yang membuatmu bagaikan mengejar ilusi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Dear princess, don’t you understand? He’s not good enough. Nate tahu dengan pasti, gadis itu bukan gadis biasa yang bisa ditemukan di tiap sudut daratan Eropa. Helen of Sparta, banyak—kalau bukan semua orang, mengakui kecantikannya, pembawaannya yang anggun dan memikat, dan kepandaiannya. Sempurna, memikat. Bukan cuma Nate yang menginginkan gadis itu untuk dirinya seorang. Ia tahu dengan pasti, banyak anak laki-laki yang melirik gadis itu dengan kagum—terpana dengan kecantikannya. Keegoisan sebesar apa, kepercayaan diri yang sebesar apa, hingga Nate pernah percaya ia cukup baik untuk sang putri? Ia terlalu memandang tinggi dirinya—tapi ia sadar sekarang, selama ini ia hanya mengejar sebuah ilusi. Imajinasi yang tidak akan pernah terjadi dalam kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian mana dari dirinya yang pantas untuk disandingkan dengan seseorang yang begitu surreal—sosok sempurna yang ia kira hanya ada dalam dongeng?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tampan, selama ini ia percaya hal itu. Pintar, kalau bukan jenius. Keluarganya terpandang, Harvarth—keluarga tertua di Skandinavia, kaya raya. Tiga aspek itu bisa ia banggakan, memang. Tapi—ia tidak seperti itu. Kalau ia cukup pantas—tidak akan ada orang yang mengatakan bahwa ia seharusnya tidak dilahirkan. Kalau ia memang sehebat yang dikiranya, ayahnya tidak akan merasa kecewa terhadapnya. Kalau ia memang cukup baik, tidak akan ada yang mengatakan dirinya memuakan, kotor, sampah. Ia tidak cukup baik. Ia mengerti, sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;Memories fade like yesterday to the setting sun&lt;br /&gt;Picture us in a still frame&lt;br /&gt;with every sigh it's done&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Hm… menurutmu bagaimana?” Tanya sang pemuda, membalas pertanyaan yang diajukan padanya dengan sebuah pertanyaan lain. Matanya masih terpejam, menikmati suasana senja yang hening dan sentuhan jemari gadis itu. Di sana hanya ada mereka berdua. Tidak ada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu aku tipe yang sudah mengerjakan esai sebelum detik-detik terakhir atau bukan?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja yang diharapnya tidak akan usai. Gadis itu menikmati detik-detik yang bergerak lambat dalam kedamaian ketika bibirnya perlahan menggumamkan jawaban, "Karena selama ini aku belum pernah dengar para profesor mengomentarimu tidak mengerjakan tugas jadi... kurasa ya, atau aku salah?" Senyum tipis terbentuk di wajahnya. "Jangan lupa mengembalikan esai Sylar tepat pada waktunya, dear."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemarinya bergerak menyisikan poni yang menutupi kening pemuda yang duduk di sisinya—memutar lehernya sedikit untuk dapat mendaratkan sebuah kecupan disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelak tawa yang sempat keluar dari mulut sang pemuda ketika mendengar perbuatannya menyalin esai orang lain diketahui langsung terhenti. Ia membuka matanya dan mendongak—menatap gadis itu beberapa detik sebelum nyengir senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sayang kamu, benar, deh.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Satu. Dua. Tiga. Sudah berapa kali Nate menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Michelle? Entah. Dia sendiri sudah tidak bisa menghitung lagi berapa kali ia telah menghindar dari pertanyaan yang diajukannya pada dirinya sendiri. Semakin dihindari, semakin banyak pertanyaan yang timbul. Mati satu, tumbuh seribu—kalau menurut peribahasa. Ia tidak pernah tahu arti sesungguhnya dari kalimat itu hingga sekarang. Ketika setiap pertanyaan yang ditepisnya hanya menghadirkan seribu pertanyaan baru yang menanti jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;I'm the one who understands&lt;br /&gt;Yeah, I'm the one without chance&lt;br /&gt;Now I know I could never be your man&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin kalimat yang tidak bertanggung jawab itu bisa keluar dari mulut seorang Michelline Fara Solathel? Bagaimana bisa? Nate terdiam. Kaku—tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Setengah bagian dari dirinya ingin memukul gadis itu untuk mengatakan hal-hal seperti itu—seolah, seolah Michelle menganggapnya seorang laki-laki brengsek. Tapi setengah dirinya yang lain ia tahu, ia memang brengsek. Sudah sewajarnya gadis itu menganggap rendah dirinya. Bukankah itu yang ia tunggu-tunggu? Dianggap rendah, dibenci. Apapun boleh ‘kan? Asalkan memang itu keinginan Michelle—asalkan sang putri bahagia, Nate rela menanggung segala resikonya. Meskipun itu berarti merelakan gadis itu, meskipun dia harus menyerahkan jiwanya pada setan sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi egonya sekali lagi mengambil alih dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya sekali lagi menyelip ke belakang gadis itu, merengkuhnya dengan lembut. Ia egois—sangat egois. Sekali lagi, ia melakukan hal yang tidak bisa ia pertanggung jawabkan. Tapi, demi Merlin, ia tidak bisa diam saja—tanpa mengatakan apa-apa, tanpa berbuat apa-apa. Dua kutub dirinya masing-masing tidak bisa menang melawan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Will you keep that promise, still?” tanyanya pelan pada gadis di dalam rengkuhannya—berharap ilusi yang ada di depan matanya bisa ia rengkuh meskipun hanya sekejap. Egois. Bukankah yang terpenting adalah kebahagiaan sang putri?&lt;br /&gt;APA YANG KAU LAKUKAN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tersambar listrik—ia melepas gadis itu. Berdiri dengan cepat tanpa memandang bola mata bening milik gadis itu. Tidak berani menatap gadis itu lebih lama. Lagi-lagi. Ia melakukan kesalahan lagi. Anak laki-laki itu mengumpat pelan dan melangkah pergi dengan cepat, kembali ke kastil. Tanpa kalimat perpisahan, tanpa... apa-apa. Pergi begitu saja. Berusaha tidak berbalik apapun, &lt;em&gt;apapun&lt;/em&gt; reaksi dari gadis ikal itu. Sudah saja. Nate meninggalkan sosok yang mengisi bagian besar dari dirinya di tepi danau hitam—tempat kenangan mereka. Sudah. Selesai. Lagipula—Prince Harvarth tidak memerlukan siapa-siapa bukan? Ia sudah memiliki semuanya. Semuanya. Ketika semuanya itu tidak berarti apa-apa. Ini yang ia inginkan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang surya bersembunyi. Senja berganti malam, siang telah berakhir. Hari telah berakhir—seperti mereka berdua... berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;With all I try still I know I can't&lt;br /&gt;Cause I'm not good enough&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-693363505762686723?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/693363505762686723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=693363505762686723' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/693363505762686723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/693363505762686723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/repletion-8-nate.html' title='Repletion 8 - Nate'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-8026415395953518417</id><published>2009-03-11T07:32:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T03:33:22.716-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Repletion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Repletion 7 - Michelle</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;Oh, how about a round of applause?&lt;br /&gt;Yeah, standing' ovation?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelline Fara Solathel, generasi terakhir keturunan langsung keluarga bangsawan Crosette yang tersohor di Perancis. Di usianya yang baru lima belas tahun lewat sedikit, ia tergolong gadis yang istimewa. Tidak sedikit gadis-gadis muda yang memandang iri pada wajah campuran oriental yang mempesona miliknya, dilengkapi dengan uraian rambut cokelat panjang mencapai pinggang yang sangat sepadan dengan tubuh semampainya. Ramping dan cantik. Penampilannya sangat terjaga, namun tidak hanya itu. Otaknya cerdas, dan orang-orang takkan meragukan bakat sihirnya yang mengundang decak kagum kemungkinan berasal dari warisan keluarga ayahnya yang notabene berdarah murni—sekalipun ia sendiri akan bersikeras bahwa hal ini tak ada hubungannya dengan silsilah keluarga terkutuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang memandangnya takjub. Semua orang memandangnya kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah ia merasa dirinya tidak cukup beruntung dengan semua berkat yang diturunkan kepadanya ini? Tidak. Karena asal tahu saja, selama ini apa yang menjadi keinginannya tidak pernah terwujud dengan baik. Ambisi-ambisi terbesarnya dalam hidup masih jauh dari genggaman. Dan selagi ia berusaha keras mengejar semua obsesi itu, satu persatu hal yang ia miliki terlepas; tanpa pernah memberinya kesempatan untuk mendapatkannya kembali. Hmph, ralat. Mungkin dari awal justru tidak pernah sekalipun digenggamnya. Hanya delusi semata, delusi yang mengizinnya merasakan seolah-olah ia pernah memiliki sesuatu yang begitu berharga. Seolah-olah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia betul-betul tidak tahu harus berbuat apa atas drama yang dikemas dengan demikian manis di hadapannya—semenjak satu tahun yang lalu hingga detik ini. Tak pernah sekalipun terendus olehnya semua ini hanya suatu plot untuk membodohi dirinya. Jadi begitu. Semuanya dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak pernah benar-benar menjadi seorang tuan putri. Dalam dongeng dan khayalanpun tidak. Entah seberapa sempurnanya ia nampak di luar, ternyata tidak cukup baik untuk dapat bersanding di sisi Sang Pangeran yang terhormat. Ia kira selama ini mereka pasangan serasi. Ia kira selama ini ia berhasil membuat Nate bahagia, bangga akan keberadaannya di sisinya. Ia kira selama ini mereka pemilik kisah &lt;em&gt;happy ending, happily-ever-after&lt;/em&gt;. Namun ia salah. Dan ia bisa bilang apa? Pemuda itu sukses membuatnya percaya dengan semua ucapan manisnya. Bahkan membuatnya menjanjikan dirinya, oh Merlin, ia tidak berani membayangkan bagaimana gelinya Nate saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;Oh, and the award for the best liar goes to you&lt;br /&gt;For making me believe that you could be faithful to me&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bercanda. Sikap macam apa ini? Kau kira siapa dirimu? Kau kira dengan siapa kau berhadapan? Nate, tidak akan pernah bersikap seperti ini di hadapan Michelle dan terutama—bersikap seperti ini kepada Michelle. Jangan samakan dirinya dengan Anya atau entah siapa lagi gadis-gadis lemah di luar sana. Bukankah Michelle tuan putrinya? Bukankah ia bilang hanya Michelle satu-satunya? Bukankah ia tahu Michelle tidak akan tersipu dan merunduk malu saat menghadapi Nate yang berkata-kata seperti barusan? Tentu, ia tahu. Ia sengaja. Michelle hanya tidak tahu alasan mengapa ia sengaja berlaku menyebalkan seperti itu. Untuk menyakiti Michelle? Untuk mengatakan bahwa cukup sudah, ia bosan dengan permainan membodohi Michelle?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum cukup puas ia menyakiti Michelle atas satu tahun penuh adegan sandiwara ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu dapat merasakan bagaimana peraaan campur aduk yang meliputi kekecewaan, rasa pedih dan kemarahan perlahan meluap dan memenuhi dadanya. Tidak ada emosi dan airmata, juga tidak ada tamparan. Namun manik cokelat itu jelas menatap dengan penuh rasa sakit terpatri di permukaannya. Tatapan yang menghujam pada sepasang bola mata lain yang tengah bertemu pandang dengannya—tatapan terluka. Bola mata yang disangkanya selalu mengungkap ketulusan dan kejujuran. Rasa sayang dan perlindungan. Kemana semua itu? Semua itu kini hanya terganti oleh keangkuhan, merendahkan dan mengintimidasi. Sebagaimana tatapannya pada orang-orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kira tatapan itu tidak akan pernah ditujukan untuknya. Ia kira hanya senyuman manis yang akan dihadiahkan Nate kepadanya. Sekali lagi, ia salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt; &lt;em&gt;Please, just cut it out&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"&lt;em&gt;I am&lt;/em&gt;."&lt;/strong&gt; Michelle mendongak, lekat-lekat mendaratkan tatapannya pada pemuda di hadapannya, &lt;strong&gt;"Lakukan apa saja—&lt;em&gt;I'm yours, anyway, ain't I?&lt;/em&gt;"&lt;/strong&gt; lanjutnya dengan suara bergetar, namun tegas. Kalau ia mengharapkan Michelle akan sekali lagi jatuh terpuruk dan berlinang airmata, ia salah besar. Michelle memang lemah, Michelle memang rapuh. Namun tak pernah sekalipun akan ia tunjukkan. Setidaknya tidak sekarang, tidak di hadapan orang yang telah begitu keji menyakitinya. Toh, ini bukan kali pertama. Hatinya sudah lebih dulu tercungkil, dan ia sendiri tak yakin apakah matanya masih menyimpan persediaan airmata untuk dihabiskan. Lakukan apa saja... Michelle terlalu naif untuk dapat menyadari dirinya hanya sebuah mainan.&lt;hr /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:Maiandra GD;"&gt;Raut cemas sedikit memudar dari wajah gadis dengan sentuhan Asia itu, ketika kemudian ia mengambil posisi duduk di sisi pemuda berambut cokelat. "Kau membuatku khawatir," jemarinya kembali merengkuh tangan kekasihnya, "jangan bicara yang bukan-bukan lagi, oke?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian ia memandang ke dalam wajah pemuda itu dan seperti memikirkan sesuatu, "kau mirip dengan ibumu, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin,” jawab sang pemuda sambil mengangkat bahu. Ia menatap jemari mereka yang bertautan—seperti memikirkan sesuatu sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya ke bahu gadis di sebelahnya. “Aku belum pernah bertemu dengannya,“ ujarnya lagi dengan mata terpejam seperti mengantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm... Aku berani bertaruh kau pasti mirip dengan ibumu,“ lanjutnya membelokan percakapan—sepertinya tidak ingin pembicaraan menjadi terlampau serius. Pemuda itu menarik genggaman mereka dan mengecup punggung tangan gadis ikal itu. “Cantik, sih.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang gadis mengulum senyum, perlahan mengangkat tangannya yang bebas, "Aku tambah tidak mengerti kalau kau yang seperti ini bisa membuat ibuku tidak menyukaimu," jemarinya kini menyentuh ikal-ikal cokelat milik pemuda yang bersandar di pundaknya. "eh, sudah mengerjakan tugas Binns belum?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-8026415395953518417?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/8026415395953518417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=8026415395953518417' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8026415395953518417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8026415395953518417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/repletion-7-michelle.html' title='Repletion 7 - Michelle'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-3241642340202860784</id><published>2009-03-10T09:10:00.000-07:00</published><updated>2009-04-05T19:37:38.212-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Signatures'/><title type='text'>Signatures</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;NKH &amp;amp; MFS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1106623596700324206&amp;amp;postID=3241642340202860784"&gt;Blogger: Mr. Harvarth - Edit Entri " Signatures "&lt;/a&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/MFScopy.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nate_idwlygcopy-1.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/mfs_key.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/NKH_key.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendra Scarlett A. Caramelle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/a607c.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/x51d1.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/35mh404.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loraine Ziegmowit's&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nate_rhea.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OTHER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nathankh.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/NAte.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/NateKharvarth.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-3241642340202860784?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/3241642340202860784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=3241642340202860784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3241642340202860784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3241642340202860784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/signatures.html' title='Signatures'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/th_MFScopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-6369512709654737832</id><published>2009-03-10T09:02:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T03:33:33.096-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Repletion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Repletion 6 - Nate</title><content type='html'>&lt;em&gt;Kenapa kau menciumnya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kau melakukan itu, Nathan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kau tidak pernah dapat melakukan sesuatu dengan benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kau harus dilahirkan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa—ia juga tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;Don’t love me because I’m lost&lt;br /&gt;Because it’s my destiny&lt;br /&gt;Because I can’t change&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Siluet dua orang di tepi danau menghiasi pemandangan senja kelabu itu. Seorang yang berdiri dengan tangan di dalam kantung celananya tampak menggigil meskipun tidak terlalu kentara. Wajahnya menghadap ke arah danau meskipun kedua bola mata mahogani sesekali bergulir ke sudut matanya—menatap sosok seorang putri berambut panjang yang duduk tidak terlalu jauh darinya. Tampak ragu-ragu untuk mengenakan benda abu-abu di tangannya. Si laki-laki ingin merenggut benda itu dan langsung menyampirkannya ke bahu gadis itu—tapi pada akhirnya ia tetap berdiam diri saja. Tidak mungkin ia melakukan hal itu—bagaimana kalau ia ditolak? Membayangkannya saja sudah membuat kepalanya tidak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kau harapkan, Nate? Bahwa apapun yang kau lakukan—Michelle akan terus ada di sampingmu? Dia tidak akan meninggalkanmu seperti yang lain? Sungguh harapan yang sangat tinggi untuk seseorang sepertimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya, ia bahkan tidak mengerti dirinya sendiri. Di satu sisi, ia ingin bersama Michelle—tidak ada yang lebih diinginkannya dari itu. Tapi di sisi yang lain, ia tahu ia tidak cukup baik untuk mengharapkan hal itu. Karena di cerita manapun sang putri tidak pernah berakhir dengan seorang penyamun—atau seorang rakyat jelata. Meskipun sang penyamun mencoba untuk berpura-pura menjadi pangeran sekalipun—pada akhirnya penyamarannya akan terungkap. Dongeng dengan tegas menyatakan putri hanya bisa bersama pangeran. Dan siapalah dia untuk mengubah hal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;Don’t love me&lt;br /&gt;Because my heart is breaking&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate tahu—lebih dari siapapun—bahwa ia bukanlah tipe yang akan menjadi prontagonis dalam suatu cerita. Lantas apa yang membuatnya berpikir bisa menjadi pangeran berkuda putih untuk sang putri? Ia tidak cukup dalam semua aspek untuk menjadi seseorang yang bisa disetarakan dengan Michelle. Tapi semua hari-hari yang telah mereka lewati—setahun yang penuh dengan semua kenangan akan mereka berdua—apa itu semua tidak bisa terulang kembali? Siapa yang membuat hari-hari itu berakhir—kesalahannya kah? Apa yang telah ia lakukan…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi—apapun yang terjadi, ia tidak ingin melepaskan Michelle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;small&gt;Si pemuda terdiam mendengar jawaban sang putri. Bukan masalah kata-katanya tapi justru gerak-gerik gadis itu yang membuatnya sedikit merasa tidak enak. Genggamannya terlepas dalam suasana yang canggung itu. Ia memalingkan wajahnya ke arah danau dan berujar ringan, menyembunyikan rasa was-was yang menyelimuti hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak menyukaiku juga tidak apa-apa. Asalkan kau merasa senang meskipun harus mengikuti keegoisanku—kurasa aku bisa menerimanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi gadis itu jelas tidak secerah sebelumnya. Tersapu rona heran dan keterkejutan yang tidak dapat ia sembunyikan, mata cokelatnya mengawasi pemuda di hadapannya dengan hati-hati. "Kenapa? Tidak biasanya kau begini," nada khawatir yang kini terdengar, sebelum ia melanjutkan dengan suara yang dalam—sepertinya menyadari pembicaraan ini sudah bukan bagian dari candaan riang lagi. "Bukankah aku sudah pernah berjanji? Selama kau menginginkannya, aku selalu disini. Selalu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kalau kau merasa terpaksa—“ kata-katanya terputus di tengah-tengah. Ia mengangkat bahu dan duduk bersila di tanah sebelum mengisyaratkan gadis itu untuk duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah—entah kenapa musim semi jadi membuatku melankolis. Gawat sekali ini, ya,” candanya diikuti dengan gelak tawa.&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;Don’t love me&lt;br /&gt;You have suffered enough&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala pemuda berambut cokelat itu tertunduk. Matanya tidak lagi menatap kiri dan kanan—berharap bisa melihat wajah yang menghantuinya selama ini. Mungkin ini klise. Dulu Michelle—adalah gadis yang dipilihkan Sylar untuk taruhan mereka. Kemudian Michelle menjadi orang yang paling sering melewatkan waktu bersamanya. Sekarang Michelle menjadi orang yang paling penting baginya. Nate tidak sanggup—ia bukan orang yang pantas. Cukup sudah egoisme yang ada padanya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan masa lalu lepas, untaian waktu tiada kembali. Ini adalah akhir dari keegoisannya. Michelle tidak menyukainya—membencinya—juga tidak apa-apa. Asalkan dia bahagia... Nate bisa menerimanya. Harus bisa. Sakit juga tidak apa-apa. Biar sajalah... Bukankah seharusnya ia sudah biasa? Hanya saja ini tentang Michelle—dan segalanya tentang gadis itu selalu berbeda. Tapi kalau memang ia harus memanggul penderitaan ini—tidak apa, selama gadis itu bahagia. &lt;em&gt;Anything for your happiness, princess, anything.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate berjalan mendekati gadis itu dan membungkuk di hadapannya—perlahan mendekatkan wajahnya yang dihiasi dengan cengiran angkuh, “kenapa Michelle, &lt;em&gt;dear&lt;/em&gt;? Cemburu? Ingin aku melakukannya padamu juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salazar, biarkanlah Michelle membencinya kalau itu dapat membuat gadis ini bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 255);font-family:times;" &gt;Don’t love me&lt;br /&gt;Don’t love me&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu, aku menyesal telah meraihmu dengan suatu alasan yang murahan. Waktu itu, kau sama sekali tidak tahu kalau aku... menyatakan perasaan dengan hati yang kotor. Aku tahu aku manusia yang tidak tertolong. Aku tahu sikapku ini hanya akan menyakitimu. Meski begitu... Aku menginginkanmu, tidak ingin melepaskanmu... selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya aku cukup memendam perasaan ini. Cukup membayangkan kebahagiaanmu dan tidak ingin apa-apa lagi. Tapi entah sejak kapan, aku jadi tidak bisa melepasmu. Meski tidak bisa menatap wajahmu lagi... aku selalu gelisah kalau tida ada kau. Aku ketakutan karena merasa dekat denganmu... tidak tahu harus bagaimana. Harusnya kau merasa jijik dan menjauhiku. Lebih baik kau berikan hatimu pada orang lain dan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tinggalkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 255, 255);font-family:times;" &gt;Don’t love me.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-6369512709654737832?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/6369512709654737832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=6369512709654737832' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6369512709654737832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6369512709654737832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/repletion-6-nate.html' title='Repletion 6 - Nate'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-6646990480183585532</id><published>2009-03-08T05:09:00.001-07:00</published><updated>2009-04-06T03:33:42.022-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Repletion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Repletion 5 - Michelle</title><content type='html'>&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;It never crossed my mind at all&lt;br /&gt;That's what I tell myself—&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle belum menyerah. Selama ini ia hanya menunggu, memendam begitu banyak lontaran pertanyaan. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan kemampuan otaknya yang tergolong di atas rata-rata, pertanyaan sama yang juga tidak bisa dijawab oleh harga dirinya. Ia memendam begitu banyak ketidakpuasan. Kemarahan. Dan rasa cemburu. Mungkin jiwa dalam dirinya sendiri menolak menyatakan bahwa ia sudah menerima semua fakta dan kenyataan bahwa seseorang yang telah begitu ia percayai, dicintainya dengan sepenuh hati akan dapat meninggalkannya sampai seperti ini untuk seorang... seorang lain yang tidak berharga—setidaknya dilihat dari sudut pandangnya. Namun kenyataannya hal itu terjadi, dengan sangat jelas di depan batang hidungnya. Jadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;—what we had has come and gone&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyesal sudah berpikir akan menyerah atas pencarian jawaban tersebut. Sudah saatnya ia sadar bahwa ia harus tahu, alasan mengapa dirinya ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah sangat melelahkan? Menjawab pertanyaan yang sudah jelas &lt;em&gt;nonsense&lt;/em&gt;. Apa yang pada diri musang belang-belang itu yang tidak terdapat pada diri Michelle? Jejerkanlah semua kemungkinan yang dapat kau temukan dan lihat apakah ada bahkan satu dari seribu hal yang dimiliki gadis itu yang luput dari kecemerlangan dirinya. Cantik? Pintar? Hmph! Kalau salah satu dari opsi yang kalian maksud adalah manja, genit, dan memalukan—jelas Michelle tidak memilikinya. Dan maaf, maaf saja. Ia juga tak mengira kalau mantan kekasihnya lebih merekomendasikan sifat-sifat semacam itu yang tercantum di dalam daftar tipe gadis atau selingkuhan idamannya. Ia pikir ia segalanya yang diinginkan Nate. Ia pikir mereka sempurna untuk saling mengisi satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;You're with her now&lt;br /&gt;I just can't figure it out&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mungkin itu hanya bayangan yang mengisi pemikirannya saja. Hanya dirinya yang berpikir seperti itu. Ingat apa yang dikatakan Nate saat mereka berpisah? Ia lelah. &lt;em&gt;Excuse moi—he's tired&lt;/em&gt;—saudara-saudara, lelah pada hubungannya dengan Michelle. Tidakkah itu menjelaskan bahwa sesungguhnya semua kisah indah bak dalam dongeng itu hanya khayalan dari satu pihak saja? Dan ia merasa sangat konyol setiap kali teringat hal ini. Siapa yang dibodohi dalam cerita ini? Setiap kali ia merasa luarbiasa girang hanya karena sekiranya dapat duduk di sebelah pemuda itu saat pelajaran Ramuan, atau karena malam ini mereka akan tertawa bersama sambil menikmati akhir pekan di ruang rekreasi asrama—ia samasekali tidak menyadari bahwa satu-satunya hal yang berada dalam pikiran kekasihnya adalah, &lt;em&gt;ia lelah dan akan sangat bersyukur jika si gadis musang datang dan membuyarkan semua adegan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damn hell—&lt;/em&gt;mana Michelle tahu!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kenyataan ia jelas-jelas belum pernah mempelajari kemampuan Legilimency, siapa pula yang dapat menduga kalau semua senyum manis, tutur kata lembut yang ditawarkannya pada Michelle selama ini kemungkinan hanyalah sandiwara belaka?&lt;hr /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family:Maiandra GD;"&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;Senja itu terasa lebih lama dibanding hari-hari lain di musim semi pada tahun yang sama. Pemandangan yang terpantul di permukaan danau hitam masih belum berubah. Teduh, hangat. Seakan dipeluk oleh semburat merah jingga yang terlukis di sana. Ketenangan yang menghiasi, hanya sesekali percik air dan gemerisik daun yang terdengar. Dan gelak tawa kecil yang berasal dari sepasang remaja di tepi danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya seorang Nathan Harvarth bisa takut juga?" Kata yang perempuan, suara soprannya bernada ringan dan riang. Ia mengayunkan tangannya yang saling berkait dengan milik seorang lain yang berdiri di hadapannya, tatapannya menyorot pada rona merah yang tergurat di pipi lawan bicaranya. Diam sesaat, gadis itu berhenti bergerak dan menunduk sedikit, menimpali di dekat telinga pangerannya. "Kukira tidak ada hal yang bisa membuat orang lain tidak menyukaimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tanpa sadar, gurat yang sama kini terpeta di wajahnya setelah mengucapkan kalimat terakhir. Kini terlihat jelas ia nampak salah tingkah, mungkin merasa kata-katanya agak berlebihan sekalipun terdengar begitu tulus ketika dilontarkan olehnya. Senyum manisnya jadi terlihat agak sedikit grogi, dan tatapan bolamata cokelatnya yang bening teralih sesaat ke arah danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu begitu?” ujar yang laki-laki dengan sedikit heran tapi senang juga mendengar ucapan gadis itu. Bola matanya bergulir meneliti wajah gadis itu yang terlihat agak salah tingkah, mungkin. “Tapi kurasa, aku memiliki lebih banyak orang yang membenciku ketimbang menteri sihir sekalipun,” ujarnya ringan seolah itu hal yang biasa atau mungkin hanya sebuah lelucon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku senang, kalau Michelle memang berpendapat begitu. Itu berarti—kau benar-benar menyukaiku kan?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis pemilik nama Michelle terlonjak sedikit, kembali menyatukan pandangan keduanya selama sepersekian detik sebelum kembali pura-pura merasa sangat tertarik pada pemandangan di sekitarnya. "Kau ini bicara apa sih," jemarinya bergerak gelisah di bawah genggaman kekasihnya, "sudah pasti, kan?"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr /&gt;Michelle tidak mau mempercayai, kalau pada momen itupun Nate hanya berpura-pura &lt;em&gt;tidak lelah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia dengan naif-nya membiarkan tubuhnya direngkuh, sekali lagi terbenam dalam pelukan Nate, merasakan semua rasa yang tidak pernah berhenti menggelegak di dasar dadanya. Tak lagi peduli, Michelle lebih memilih untuk mempercayai bahwa pernyataan &lt;em&gt;'Fine. I'm tired of this, anyway!'&lt;/em&gt; yang terucap hari itulah yang salah—dan bukannya harapan yang selama ini diberikan oleh Nate. Dan, &lt;em&gt;please&lt;/em&gt;—sekalipun Michelle tahu dengan jelas bahwa ia terdengar tolol saat menyadarinya—ia masih berharap bukan hanya dirinya yang mendera rasa sakit akibat perpisahan ini. Bukan hanya dirinya... yang ingin menganggap semua itu tidak pernah terjadi. Lupakan saja, dan mereka dapat kembali ke masa-masa dimana hanya ada Michelle dan Nate. Nate dan Michelle. &lt;em&gt;The end&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;Tell me why—&lt;br /&gt;you're so hard to forget&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu mengangkat wajahnya, berusaha menghujam Nate dengan luapan emosi campur-aduk yang ia tembakkan melalui tatapan mata cokelat pekatnya pada sosok yang mengambil beberapa langkah mundur ke belakang. Sudahkan Michelle katakan bahwa ia belum menyerah? Ia akan membuktikan kalau apa yang ia percayai selama inilah yang benar—Nate dan perasaannya yang berbalas adalah nyata—dan bukannya kekonyolan bahwa selama setahun terakhir ia hidup dalam dunia khayal. Michelle tidak akan, melepaskan kesempatan untuk mendapatkan miliknya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;Don't remind me—&lt;br /&gt;I'm not over it&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus mengawasi dalam diam, dengan tatapan tajam sekaligus penuh harapnya, siluet anak laki-laki yang beranjak dari posisinya dan menjauh selama beberapa saat. Sedikitpun tidak ia indahkan—sekalipun menyadari—pandangan bola mata lawan bicaranya yang jelas menghindarinya. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal. Kalimat yang cepat atau lambat akan meluncur keluar dari bibir pemuda itu—jawaban. Nate takkan dibiarkan melarikan diri dengan mudah dari tentunya, kalau memang ia berniat begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle menarik napasnya perlahan, teratur. Tubuhnya sudah mulai mendapatkan kembali panas yang hilang, meski tentu saja belum kering betul. Untunglah angin nampaknya juga enggan bertiup sehingga ia tidak perlu bergelut lebih lama dengan sensasi bulu kuduknya yang meremang; seakan tak pula berniat mengusik dua insan yang tengah terlibat situasi yang serius di tepi danau pada senja hari itu. Ia menggerakkan tangan, kini jemari-jemarinya ditautkan satu sama lain dan diletakkan di atas kedua lututnya yang terlipat di depan dada. Kedua maniknya masih membayangi punggung Nate ketika sosok itu memungut sesuatu, dan sesaat berselang berbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;strong&gt;“Seingatku, kau yang pertama melempar dan menginjak kalung itu.”&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cih. Gadis itu menelengkan kepala, melemparkan pandangnya ke arah lain saat pemuda di hadapannya mengulurkan jaket abu-abu yang sepertinya tadi ia campakkan sesaat sebelum menceburkan diri ke dalam danau. Ia tidak bergeming, diam selama beberapa detik dalam posisi seperti itu—kedua tangannya masih menelungkup di atas lutut. Jelas bukan itu jawaban yang ia inginkan akan terlontar dari mulut mantan kekasihnya tersebut—meski ketika dipikir ulang apa yang Nate katakan memang ada benarnya. Secara harfiah, memang ia yang memutuskan untuk mengakhiri semua hubungannya dengan pemuda itu. Merenggut dan membuang kalung miliknya yang menjadi simbol ia pernah menjadi milik Nate. Pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;Maybe I regret&lt;br /&gt;Everything I said&lt;br /&gt;No way to take it all back&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekarang Michelle mengatakan bahwa ia menyesal sudah melakukan hal itu, apa semuanya akan kembali seperti dulu? Hmph, &lt;em&gt;you wish&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Bukan itu yang ingin kutanyakan,"&lt;/strong&gt; Ia mendengus kecil berkata dalam nada mendekati bisikan, matanya kembali menatap Nate dan nampak ragu beberapa saat sebelum menerima tawaran jaket yang diserahkan padanya, &lt;strong&gt;"kukira kau tidak lupa alasan mengapa aku melakukan hal itu."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle terdiam, mau tidak mau kelebatan kejadian di Hogwarts Express hari itu tereka ulang dalam ingatannya. Ia tidak sanggup menatap wajah sosok di hadapannya yang begitu menyakitkan—mengingat perannya sebagai tokoh utama dalam adegan itu. Maka pandangannya berpindah sejenak pada jaket dalam genggamannya, tidak ia gunakan. Terakhir kali Nate menyampirkan—ralat, melemparkan—pakaian miliknya ke tubuh Michelle, itu terjadi di ruang rekreasi pada tengah malam dan sampai sekarang Michelle belum memiliki kekuatan untuk dapat mengembalikan milik pemuda itu. Keberadaan sebuah benda yang merupakan milik Nate di dekatnya membuat ia merasa tidak pernah ditinggalkan oleh pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;Tell me why—&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan merasa pertanyaannya sebelum ini masih terasa ambigu dan mungkin dihindari, Michelle sekali lagi membuka mulut. &lt;strong&gt;"Kenapa kau menciumnya?"&lt;/strong&gt; Kali ini suaranya terdengar lebih keras dan bergetar, dan sorot matanya masih terpaku pada benda di tangannya. Masih belum dikenakan. Pikirannya terlalu sibuk mempertimbangkan jawaban apa yang dapat dilontarkan lawan bicaranya setelah ini dan mempersiapkan diri untuk mendengarnya. &lt;em&gt;'Karena aku mau'? 'Karena ia manis'? 'Karena aku bosan denganmu'?&lt;/em&gt; Apapun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia tak bisa membohongi diri sendiri dengan mengatakan ia tidak mengharapkan pernyataan maaf keluar dari mulut seorang Nathan Harvarth—seberapapun egoisnya ia terdengar sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;—I'm just a little too not over you&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-6646990480183585532?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/6646990480183585532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=6646990480183585532' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6646990480183585532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6646990480183585532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/repletion-5-michelle.html' title='Repletion 5 - Michelle'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-3848091036797536914</id><published>2009-03-05T04:58:00.002-08:00</published><updated>2009-04-06T03:33:49.825-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Repletion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Repletion 4 - Nate</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;Hei, Michelle, sudah tiga bulan dua puluh empat hari dan lima jam sejak kita berpisah hari itu. Mungkin di sudut hatiku—aku tahu aku tidak ingin ini terus berlangsung. Mungkin sebenarnya aku sadar aku ingin kau—kita tetap seperti hari itu. Tapi kau tahu kan betapa egoisnya aku untuk hal-hal yang seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis, sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya seperti baru kemarin kita duduk bersama di menara astronomi—menatap bintang-bintang. Rasanya baru beberapa saat yang lalu kita masih berjalan di tepi danau. Aku bahkan masih bisa merasakan kehangatanmu dalam genggamanku. Heh, kurasa aku terlalu banyak hidup dalam mimpi—dalam kebohongan. Aku bertanya pada diriku sendiri:&lt;br /&gt;Apa aku melakukan sesuatu yang salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mengerti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Nafasnya masih tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat seakan habis berlari. Habis berenang lebih tepatnya. Anak laki-laki itu mendongak ke langit dengan mata terpejam—sebelah tangannya menyapu rambutnya yang basah ke belakang. Sulit dipercaya dia masih hidup setelah masuk ke dalam danau yang suhunya mungkin entah berapa minus di bawah nol derajat. Yang jadi pertanyaan adalah kenapa ia melakukan hal itu? Bukankah seharusnya ia tidak peduli lagi dengan apapun yang menimpa gadis di sebelahnya itu—seharusnya. Tapi sepertinya takdir selalu mempermainkannya. Kenapa ia harus lewat di tempat itu di saat yang begitu tepat—kenapa bukan gagak jelek itu yang menolong Michelle, atau siapapun—Lightdarker sekalipun juga tidak apa-apa. Ia tahu gadis itu cukup populer—pasti banyak anak lain yang akan menolongnya. Tapi kenapa Nate yang harus lewat di tempat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhenti membohongi diri sendiri. Memangnya dia akan senang jika ada orang lain yang menyentuh gadisnya? Tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mendengus pelan—membayangkan orang-orang itu berada dalam radius lima meter dari Michelle saja sudah membuatnya muak. Anak laki-laki itu membuka matanya tepat ketika terdengar jawaban dari sebelahnya. Ia kira gadis itu tidak sadar. &lt;span style="color:gray;"&gt;"Begitu? Mungkin lain kali aku coba dengan pecahan kaca saja. Setidaknya kelak tidak akan membuatmu ikut basah dan kedinginan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu. Bagaimana setelah ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa gadis itu—ternyata yang diselamatkan justru mengatakan akan menggunakan pecahan lain kali. Berkata dengan mudahnya seolah nyawa itu hanya mainan yang bisa digantikan dengan mainan baru. Berkata seolah Nate lebih mementingkan dingin yang menusuk-nusuk tubuhnya daripada keselamatan gadis itu. Usahanya tidak dihargai sama sekali. Nihil, nul. Ia memang manusia yang tidak berguna, bahkan orang-orang yang ia anggap penting berpikir seperti itu. Sedih—kecewa? Apa sebelumnya ia tidak pernah mengatakan bahwa ia akah melindungi Michelle apapun yang terjadi? Bagaimanapun, kebahagian sang putri adalah prioritasnya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anything for your happiness, princess, &lt;strong&gt;anything&lt;/strong&gt;.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar, seolah tangannya bergerak atas keinginan orang lain, Nate merengkuh gadis itu tiba-tiba. Dan sesaat ia merasa seperti kembali ke masa-masa ketika mereka masih bersama. Seolah tidak ada yang terjadi—semuanya sempurna. Hanya ada Nate dan Michelle, Michelle dan Nate. Dan saat itu sang pangeran pun hanya bisa berbisik dengan suara bergetar, “bodoh. Syukurlah kau tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;Memories of our time together&lt;br /&gt;this way, they don’t go away&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;“I-Ibumu?!”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Tanya anak laki-laki itu sambil terbatuk-batuk dengan mata terbelak menatap sang gadis—mencari-cari bukti bahwa dia sedang bercanda di bola matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Er... apa itu tidak terlalu cepat?”&lt;/em&gt; tanyanya ragu dengan ekspresi gugup sambil mengacak rambutnya dengan tangannya yang bebas—sebuah kebiasaan di saat ia merasa salah tingkah sebelum melanjutkan lagi, &lt;em&gt;“maksudku—bukannya aku tidak mau, pasti menyenangkan. Tapi a—ah, itu... er...”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal, situasi berbalik. Kilat jenaka kini ganti bermain-main di atas kedua bola mata milik gadis dengan rambut ikal yang mencapai pinggang. Tampak jelas ia menikmati ekspresi lawan bicaranya yang nampak gugup dan salah tingkah. &lt;em&gt;"Menurutmu begitu? Hmm, jadi kau lebih suka kalau bertemu denganku berdua saja—tanpa ada ibuku?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya ia tidak tahan untuk tidak menampilkan seringai geli sekarang.  &lt;em&gt;"Aku bercanda, tapi aku memang ingin mengenalkanmu pada ibu—yah tapi kalau kau sibuk sih..."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Bukan,”&lt;/em&gt; sergah yang laki-laki dengan cepat. Rona kemerahan muncul sekilas di wajahnya yang disembunyikannya dengan menundukan kepalanya. Kali ini gilirannya mempererat genggaman tangannya dan sedikit menarik gadis di sebelahnya agar mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Aku—sedikit, hanya sedikiiit saja, takut ibumu tidak menyukaiku.”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;This is not where it ends, I’m missing you&lt;br /&gt;please don’t let go of my hand&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Kenapa?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kata itu membuatnya menyadari tempatnya dan melepas pelukannya. Ia cepat-cepat berdiri dan mengambil sedikit jarak dari gadis berambut ikal itu. Ini bukan tempatnya—ia sudah kehilangan hak itu sejak lama. Sejak ia menyadari kehadirannya hanyalah beban untuk semua orang—sejak ia menyadari, ia tidak bisa diam saja ketika semua orang menyerang eksistensinya. Nate ada, ia hidup—ia pantas untuk dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate tidak mengatakan apa-apa. Tidak perlu kata-kata lagi—ia tahu apa yang ditanyakan oleh gadis itu. Tapi ia juga tidak mengerti. Kenapa dia melompat ke danau hitam meskipun seharusnya di antara mereka sudah tidak apa-apa lagi? Kenapa Nate masih merasa kacau seperti ini walaupun seharusnya ia merasa puas dengan kehidupannya yang sempurna? Mengapa ia seperti ini? Kenapa kehadiran Michelle membuatnya kacau seperti ini? Kalau ia mengeluarkan semua pertanyaan itu—mungkin pensieve ukuran paling besar pun tidak akan cukup untuk menampungnya. Ia merasa semua goresan dalam hidupnya adalah sebuah kesalahan. Apa seharusnya ia tidak dilahirkan saja? Dengan begitu tidak akan ada orang yang merasa kesal atau kecewa padanya—semua orang akan bahagia. Lagipula, tidak seperti akan ada orang yang merindukannya atau apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Kenapa kita putus?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Ia tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Bahkan melihat ke arah gadis itu pun ia tidak bisa. Seolah gravitasi juga menarik bola mata cokelatnya hingga ia hanya bisa menatap tanah yang diinjaknya. Ia benci semua hal ini—bagaimana gadis itu selalu membangkitkan bagian terburuk dan terbaik darinya secara bersamaan. Tidakkah Michelle mengerti—Nate tidak bisa berada dekat dengannya. Memangnya kalian pikir mudah—menjauh dari sesuatu yang sudah terbiasa ada dalam genggamannya, hanya dapat memperhatikan dari jauh—merasakan tertusuk setiap kali melihat bandul perak yang dulu tergantung di leher mereka berdua? Tapi bagaimanapun—Michelle adalah miliknya. Ia akan memastikan hal itu. Tapi—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus membuktikan bahwa ia bukanlah sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bukan orang yang tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak ingin dipandang sebelah mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak ingin menyakiti Michelle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak cukup baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ia—adalah antagonis dalam cerita ini.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center; color: rgb(204, 204, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;“You love nobody but yourself—you’re selfish, to you there’s nothing more important than your well being—egoist, self-centered—you’re the worst person—"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Langit senja yang menjadi latar belakang mereka semakin gelap seiring dengan bersembunyinya sang surya. Sisa-sisa sinar matahari menyinari kedua sosok itu—membuat mereka terlihat sureal. Seperti sebuah lukisan yang diciptakan oleh goresan kuas Sang Maha Kuasa. Sosok yang sedang berdiri terlihat bergerak—tangannya mengacak-acak rambut bagian belakangnya. Terlihat ia berusaha memalingkan wajahnya dari sosok yang kedua. Ia tahu—kalau ia menatapnya lebih lama lagi, ia tidak akan bisa menahan egonya lebih lama. Ini adalah takdirnya—dan ia akan menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seingatku,” mulainya dengan nada datar sambil beranjak dari tempatnya berdiri—tidak menatap gadis itu sama sekali. Anak laki-laki itu mengambil jaket abu-abu yang tadi ia lemparkan asal dan akhirnya menoleh ke arah sang gadis sebelum meneruskan, “kau yang pertama melempar dan menginjak kalung itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengulurkan jaketnya ke arah Michelle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;If I could just tell you I miss you&lt;br /&gt;It’s so hard to say I’m sorry&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-3848091036797536914?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/3848091036797536914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=3848091036797536914' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3848091036797536914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3848091036797536914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/repletion-4-nate.html' title='Repletion 4 - Nate'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-8027260779146465884</id><published>2009-03-05T04:58:00.001-08:00</published><updated>2009-04-06T03:33:57.614-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Repletion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Repletion 3 - Michelle</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ia tidak bergerak. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada ketakutan. Tidak ada apapun. Rasanya begitu lepas dari segala batasan di satu sisi, sekaligus terbelenggu dalam saat yang bersamaan. Bukankah tak ada yang mencengkramnya? Meski demikian ia terperangkap dalam kegelapan, sekitarnya sunyi. Dingin. Matanya tidak terpejam, namun tidak ada yang dapat dilihatnya. Terjaga. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Kekosongan, kehampaan, ketiadaan—dan dingin. Sejenak ia mengira tengkuknya akan bergidik, bibirnya bergetar dan tubuhnya jatuh lemas, namun ternyata tidak. Masih bergeming, tubuhnya tidak merasakan apa-apa. Tidak, ia bahkan tidak merasakan tubuhnya. Lantas darimana rasa dingin itu berasal? Dingin. Dingin sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia—ada dimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua bola matanya bergerak dalam gerakan yang terasa sangat perlahan, mengawasi sekitarnya. Masih sama. Tidak ada apapun. Atas, bawah, depan, belakang—ke arah manapun—yang ada hanya kegelapan. Seharusnya ia mulai merasa panik sekarang; memikirkan apa yang sedang terjadi, di mana dirinya, ke mana ia harus pergi... dan pertanyaan-pertanyaan lain yang mustahil dijawab atau paling tidak melakukan sesuatu terhadap sinyal dingin yang terus menerus berdentang di dalam kepalanya tanpa makna yang jelas. Namun tidak dari keduanya berhasil ia lakukan. Lagi-lagi—satu-satunya yang terjadi hanya tidak terjadi apa-apa. Geming.&lt;/em&gt;&lt;hr /&gt;&lt;span style="font-family:Maiandra GD;"&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;"Tidak ada,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sang gadis mengibaskan rambutnya yang panjang; sebuah bandul berbentuk gembok kecil yang melingkar di sekitar lehernya kini berkilau tertimpa sinar matahari. Suara soprannya terdengar tenang ketika berucap, menjawab pertanyaan yang baru saja diajukan kepadanya. Sesaat kemudian ganti dirinya melemparkan kerlingan disertai senyum yang menarik pada lawan bicaranya, "mau mengajakku pergi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inginnya sih, begitu," ujar anak laki-laki di sisi si gadis dengan nada iseng, meskipun sedikit pengharapan dalam suaranya mungkin terdengar kalau ada yang benar-benar memperhatikan. Bola mata cokelatnya mengikuti gerakan tangan sang gadis sampai perhatiannya teralihkan pada bandul perak itu. Ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman puas di wajahnya sebelum ia akhirnya meneruskan kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anyway, kau tinggal di mana?&lt;br /&gt;Apa aku harus datang ke sana dan memanjat menggunakan rambutmu untuk menculikmu saat liburan atau sesuatu seperti itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadisnya tertawa kecil, menelengkan kepala dan kemudian menyeloroh dengan senyum manis tersungging di bibir, "Avallon, Perancis—eh, memangnya aku belum pernah cerita, ya?" Ia kemudian terdiam sesaat, sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain selama selang waktu tersebut sebelum mengeratkan genggaman pada tangan kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibuku akan lebih suka kalau kau datang dengan cara yang normal, meski kuakui ide menggunakan trik Rapunzel itu boleh juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gadis itu belum berhenti tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr /&gt;&lt;em&gt;Seperti sebuah film yang diputar di depan matanya, potongan ingatan itu bergulir begitu saja dan ia hanya mampu terkesiap. Bahkan sendirinyapun ragu, apakah ia benar-benar dapat menampilkan ekspresi 'terkesiap' dalam situasinya saat ini. Ada apa? Konon orang-orang mengatakan manusia akan mengingat kembali kenangannya yang berkesan selama hidup saat menjelang kematiannya. Bukannya ia ingin berspekulasi dengan menyatakan kenangan barusan adalah adegan berkesan dalam hidupnya, tapi toh gadis itu kini terpancang di tempatnya berdiri—kalau memang ia tengah berdiri dan sejak tadi belum dikategorikan dalam kondisi terpancang—dan merasa terpanggil untuk menyadari satu hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maut—tengah menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kenyataan ini belum cukup juga untuk mengembalikan nalurinya untuk bertahan—kalau memang fungsi tubuhnya itu masih ada—karena toh ia tetap tidak melakukan suatu apa yang berarti. Kalau saja masih bisa. Mungkin justru sudah terlalu terlambat baginya untuk menyelamatkan dirinya sekarang, atau &lt;em&gt;simply she doesn't want to help herself from the very beginning&lt;/em&gt;. Kenyataannya ia sendiri yang mengantarkan raganya pada kematian, mengeluarkan jiwanya dari tempat dimana seharusnya bercokol, sekalipun tanpa dorongan yang jelas. Mungkinkah ada secuil penyesalan yang masih tersisa?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;In my dearest memories—&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;"Michelle!"&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;—I see you reaching out to me&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tercekat. Sepertinya tidak menyangka sebentuk suara dapat menggema dari dalam kegelapan yang menyelimutinya, dan terlebih merupakan milik seseorang yang dikenalinya betul. Mungkinkah berasal dari dalam ingatannya sendiri? Kegelapan pekat yang membelenggunya mengendur sedikit, membawa suatu firasat akan datangnya sesuatu dari jauh. Mau tak mau kondisi ini membuatnya wajib membulatkan kedua bola mata lebar-lebar untuk dapat menyambut sesuatu yang diyakininya akan segera muncul—entah apa—sekalipun ia tidak ingin repot-repot memikirkan darimana firasat ini berasal mengingat merasakan saja ia sudah tak mampu. Namun... benarkah? Benarkah ia sudah tak bisa merasa lagi? Lantas mengapa berharap adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan keadaannya saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menajamkan telinganya. Mendengarkan dengan seksama, menikmati suara-suara yang kian lama terdengar semakin nyata. Mendekat, mendekat. Ia tidak ingin—atau tidak bisa—memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya. Menyerahkan sepenuhnya jiwa miliknya pada tangan yang mengulur dan menjangkau. Pasrah dan mempercayai. Ia memejamkan matanya erat-erat, bersiap membebaskan diri dari ruang hampa yang kini perlahan melepaskan permukaannya. Bolehkah ia berharap bahwa takdir yang telah meninggalkannya, kini datang kembali untuk melarangnya melewati batas di belakang garis kegelapan ini?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;Though you're gone,&lt;br /&gt;I still believe that you can call out my name&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr /&gt;Langitnya berkabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penglihatannya yang mendadak mendapatkan cahaya kembali spontan memicing, berusaha menyesuaikan diri sebagaimana sekujur tubuhnya yang tengah terbaring memberontak ketika tanpa peringatan sekonyong-konyong disergap rasa beku dan nyeri. Ia melirihkan rintihan pelan melalui bibirnya yang membiru dan pecah-pecah, namun paru-parunya yang rupanya sudah siap ingin mengeluarkan genangan air di dalamnya—sehingga detik selanjutnya ia bangkit, membalikkan tubuh menghadap tanah dan langsung terbatuk-batuk tanpa henti selama beberapa lama. Nyaris membeku. Basah kuyup, bulu kuduknya meremang dan seluruh pori-pori tubuhnya terbuka—menyimpulkan secara keseluruhan kondisinya setelah separo tenggelam di dalam danau saat musim dingin jelas menyedihkan dan kritis, namun ia tidak dapat menyembunyikan perasaan yang mendekati rasa syukur dan bahagia karena mendapati seseorang berada di sisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? Sosok tersebut adalah satu-satunya orang yang ia butuhkan; orang yang diharapkannya untuk menyelamatkan—dan ia benar-benar muncul. Kalau bukan takdir, lantas ini pasti mukjizat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle terengah, berhasil mengeluarkan sebagian besar air yang sempat masuk melalui rongga mulut dan hidungnya. Masih dalam posisi menunduk, ia mengerling pada seseorang yang baru saja menyelamatkannya. Entah mengapa detik itu ia terpancing untuk menanggapi pernyataan pertama yang ditangkap telinganya begitu kembali menjejak ke alam sadar. &lt;strong&gt;"Begitu? Mungkin lain kali aku coba dengan pecahan kaca saja,"&lt;/strong&gt; Ia menyeloroh sambil lalu, tidak memedulikan suaranya yang terdengar parah—sengau dan diselingi batuk-batuk kecil. &lt;strong&gt;"setidaknya kelak tidak akan membuatmu ikut basah dan kedinginan."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam sebentar, ia menyeka dagunya dan balik berganti ke posisi duduk. Pandangannya bergerak mengamati kondisi Nate yang memang tidak lebih baik darinya—wajahnya sepucat Banshee, meski tentu saja tidak mengurangi ketampanan yang melekat pada diri remaja lelaki itu. Ia belum membuka mulut lagi, masih terlalu sibuk mengumpulkan keping-keping kesadarannya... atau melelehkan kembali isi otaknya yang membeku. Lebih tepatnya lagi, semakin ia dijejali fakta bahwa pemuda di dekatnya itu adalah orang yang pernah menjadi kekasihnya selama tahun sebelumnya, yang selalu membuatnya dipenuhi dengan perasaan campur aduk, dan baru saja rela mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya di tengah danau dengan suhu di bawah nol derajat—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—ia semakin tidak tahu harus mulai bicara dari mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle duduk sambil memeluk kedua lututnya, menggosok-gosok lengannya yang menggigil dengan kedua telapak tangan. Meski kepalanya lurus menghadap ke arah danau, tatapan matanya masih belum beranjak dari sosok yang sama. Setengahnya sibuk memikirkan apa yang harus ia katakan, setengahnya lagi berusaha menebak apa yang tengah dipikirkan Nate. Bukannya tidak ada yang ingin ia bicarakan dengan pangerannya ini, justru sebaliknya—mulai dari apa kabar hingga mengapa ia bisa ada disini, mengapa ia menyelamatkan Michelle, bagaimana perasaannya sekarang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;In your dearest memories—&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kenapa?"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;—do you remember loving me? &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, ada satu pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan sejak mereka tidak benar-benar pernah bicara lagi semenjak hampir enam bulan lamanya. Pertanyaan itu terus muncul, tidak pernah berhenti merongrongnya. Selalu, selalu dan tak berhasil dijawabnya; sampai ia nyaris menyerah. Sekarang ia tahu, alasan mengapa tentu ia tidak bisa menjawab—Nate tidak pernah memberitahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kenapa kita putus?"&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-8027260779146465884?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/8027260779146465884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=8027260779146465884' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8027260779146465884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8027260779146465884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/repletion-3-michelle.html' title='Repletion 3 - Michelle'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-8901848169073788803</id><published>2009-03-05T04:56:00.000-08:00</published><updated>2009-04-06T03:34:27.939-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Repletion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Repletion 2 - Nate</title><content type='html'>Secarik perkamen yang sudah kumal tergenggam erat di kepalan tangannya. Sekali—dua—tiga kali anak laki-laki itu meluruskan kembali perkamen di tangannya dan membaca ulang kalimat-kalimat yang tertera di atasnya. Seolah ia berharap dengan membaca ulang tiap kalimat, kenyataan yang terbentang di hadapannya itu akan berubah. Tangannya yang gemetar kembali meremas perkamen itu sekuat tenaga—sekuat yang ia bisa. Sesaat ia mengangkat tangannya, siap untuk melemparkan gumpalan di tangannya jauh-jauh—siap untuk membuang, menolak, setiap kebohongan dalam goresan tinta hitam itu. Kebohongan yang ia tahu betul adalah sebuah kebenaran yang tidak ingin ia akui. Detik berikutnya ia menurunkan kembali kepalannya. Manik cokelatnya menatap tangannya dengan pandangan nanar. Pada akhirnya ia tetap tidak bisa menang dari takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;I could try to hide in a strange town,&lt;br /&gt;But I'd still be full of doubt.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya kembali terdengar ketika akhirnya anak itu mulai berjalan menuju tujuannya semula: danau. Tempat terakhir yang ingin ia datangi ketika ia sendiri—mungkin ia takut tidak akan bisa menahan diri untuk mengakhiri episode tidak berarti dari hidupnya, mungkin kegelapan dalam danau itu terlalu memikat untuk dilewatkan. Nate kembali terhenti sebelum mencapai tujuannya. Ia kembali mengerling kepalan tangannya dan menutup matanya. Cairan merah pekat keluar dari bibir bawahnya yang ia gigit secara tidak sadar. Ini tidak seharusnya terjadi. Kenapa? Apa? Kapan? Begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat ia hitung jumlahnya muncul di benaknya—semakin menyeretnya ke lubang tanpa dasar yang disebut keputus-asaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;This can’t be true.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu menyandarkan tubuhnya ke pohon di belakangnya. Tangan kirinya yang dibalut sarung tangan tebal bewarna abu tua memukul batang pohon itu sekuat tenaga—berkali-kali hingga tangannya tidak terasa lagi. Detik berikutnya mendadak seluruh kekuatan yang ada padanya menguap begitu saja—seperti api obor yang padam tertiup angin kencang. Nate menutup wajahnya dengan tangannya. Ia tidak akan menangis. Ayah dirawat di St. Mungo. Sakit. Penyembuh yang bertanggung jawab mengatakan tidak ada jaminan bisa sembuh. Ia harus pulang. Gisselle di mana? Cassandra menangis—tahun depan ia mulai sekolah.. Miranda tidak ada. Ia harus pulang. Ayah menginginkannya. Ia harus pulang. &lt;em&gt;Michelle… tidak ada&lt;/em&gt;. Sialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sialan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;All this pain makes me want to cry.&lt;br /&gt;Now an urge to chase tomorrow springs up. .&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu menurunkan tangan yang menutupi wajah pucatnya. Bola mata kecokelatannya yang lebih hampa daripada biasanya menatap danau gelap yang kontras dengan warna salju—mendominasi pemandangan di tempatnya berdiri. Hitam kelam—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupilnya terbelak begitu melihat sesuatu yang tidak biasa di tengah danau itu. Bukan cumi-cumi raksasa yang tinggal di danau—kecuali kalau cumi-cumi itu mengenakan wig cokelat yang sewarna dengan rambut—Michelle...? Tidak mungkin. Pasti hanya bayangannya saja. Gadis itu tidak terlalu sering berada di luar kastil seperti kaum wanita barbarik macan Windstroke dan Rainier. Benarkan—danau dan Michelle...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;small&gt;&lt;em&gt;“Memangnya kenapa dengan danau yang membeku?“&lt;/em&gt; tanya anak laki-laki itu dengan kilatan jenaka di matanya. Angin yang berhembus hari itu mengacak-acak rambut kecokelatannya, sementara seulas senyum muncul di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Berani taruhan, kau tidak suka es karena tidak bisa main&lt;/em&gt; ice skate&lt;em&gt;!”&lt;/em&gt; ujarnya lagi sebelum diikuti dengan gelak tawa. Anak itu hanya bercanda tentu saja—ia hanya ingin melihat seulas senyum muncul di wajah gadis yang berdiri di dekatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelah alis gadis berambut ikal itu terangkat, sementara kedua manik cokelatnya ganti mengerling pada pemuda di sisinya dengan tatapan protes bercampur geli, &lt;em&gt;"sebagian ada benarnya, aku memang tidak bisa main&lt;/em&gt; ice skate&lt;em&gt;,"&lt;/em&gt; kedua tangannya kini bersidekap di depan dada—sekedar memastikan ia tidak akan disela oleh tawa geli—&lt;em&gt;"meski tidak sepenuhnya begitu—kalau mau jujur.&lt;/em&gt; Anyway, &lt;em&gt;memangnya kau main skate di atas danau?"&lt;/em&gt; Balasnya bertanya. Seringai kecil tercipta di bibirnya; setengah mencibir, setengah penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Yah, yang penting ada benarnya,“&lt;/em&gt; ujar yang laki-laki sebelum tertawa lagi. Ia cepat-cepat membelokan arah pembicaraan seolah tidak mendengar pertanyaan yang terakhir tadi. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia tidak pernah mencoba skate sebelumnya ‘kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Sudah musim semi—kemudian libur musim panas.&lt;br /&gt;Ada rencana untuk liburan kali ini?”&lt;/em&gt;&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;If I follow the scraps of my memories,&lt;br /&gt;I can return to those innocent days,&lt;br /&gt;Like a little boy in another life. .&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ia lakukan di sini? Bagaimana kalau yang ada di danau itu benar-benar gadis itu? Dia bisa mati. Dia—Michelle membutuhkannya—Nate.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;One can’t live without other.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate berlari ke danau itu. Ia tidak perlu—tidak bisa berpikir lagi. Memang mungkin ia hanya membayangkan sosok itu, mungkin saja itu hanya duyung iseng yang kebetulan berenang terlalu dekat dengan permukaan, mungkin itu hanya tipuan matanya yang ingin melihat sosok itu—mungkin hanya ganggang yang mengapung atau apa, kelpie yang lupa jalan pulang ke sumur dan tersesat ke Hogwarts atau lebih bagus lagi—seorang murid yang sok jago dan akhirnya tenggelam seperti kapal karam. Mungkin—tapi bagaimana kalau itu memang benar-benar gadis itu? Apakah ia rela mempertaruhkan sedikit kemungkinan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bukankah sudah jelas?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaket abu-abu muda dilemparkannya begitu saja, diikuti dengan sepasang boot hitam dan sarung tangannya—sebelum akhirnya anak laki-laki itu melompat ke danau yang setengah membeku itu. Dingin—demi Valhalla. Tubuhnya seakan ditusuk-tusuk dengan ribuan jarum. Tapi kali ini ia tidak akan mengeluh, apa artinya dingin yang seperti ini jika dengan ini ia bisa menyelamatkan sang putri? Pada akhirnya Nate hanya bisa mengutuki nasib mengapa ia tidak pernah berpikir untuk mempelajari mantra gelembung-kepala sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;Iif I have to take this pain&lt;br /&gt;to make my dreams come true—.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok di depannya semakin jelas. Bocah itu memicingkan matanyanya dengan harapan bisa melihat pemandangan di depannya dengan lebih jelas—tangannya menggapai-gapai hingga akhirnya menyentuh lengan orang itu. Ternyata memang sang putri. Nate menarik lengan yang dipegangnya dengan segala kekuatan yang tersisa dan melingkarkan tangannya di sekeliling bahu gadis itu—menyeretnya dengan susah payah hingga sampai di daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 204, 255);font-family:times;" &gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;—it’s not so bad... .&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate duduk di samping danau dengan nafas terengah-engah, matanya masih tidak fokus meskipun sudah keluar dari jeratan cairan yang membuatnya setengah beku. Tubuhnya mati rasa—dinginnya musim itu sudah tidak bisa ia rasakan lagi. Satu hal yang ada di kepalanya adalah sebuah pertanyaan—apakah ia berhasil tepat pada waktunya—atau...? Tidak—ia masih bernafas. Terima kasih, Salazar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan. Sialan. Sialan.” Satu kata itu diulang-ulangnya terus dengan suara lirih, seakan itu sebuah mantra untuk menghapus kejadian barusan dari benaknya. Matanya terpejam selama beberapa detik—ia menarik nafas, mengumpulkan oksigen untuk memenuhi paru-parunya yang terasa ikut membeku setelah terjun ke danau dengan suhu entah berapa derajat di bawah celcius. Begitu membuka matanya lagi, anak laki-laki itu memukul tanah di sisi kepala gadis itu dengan sisa kekuatanya yang masih bersisa. Tidak peduli apakah gadis itu sadar atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar-benar tidak lucu, Solathel.“&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-8901848169073788803?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/8901848169073788803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=8901848169073788803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8901848169073788803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8901848169073788803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/repletion-2-nate.html' title='Repletion 2 - Nate'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-6909181271945047229</id><published>2009-03-05T04:55:00.000-08:00</published><updated>2009-04-06T03:34:33.613-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Repletion'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><title type='text'>Repletion 1 - Michelle</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;span style="font-family:Maiandra GD;"&gt;"Sudah musim semi, ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu tersenyum kecil, menoleh pada seorang lain yang melangkah di sisinya. Bola mata cokelatnya berkilau, memantulkan cahaya matahari yang agak redup karena terhalang kabut senja. Sesaat pandangannya bertemu dengan bola mata dengan warna senada, milik ia yang kemudian balas berujar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pemuda mengiyakan perkataan gadis di sampingnya tanpa benar-benar mengatakan apa-apa. Hanya membalas senyum si gadis dengan cengiran lebar—pelan-pelan meraih tangan miliknya dan digenggamnya lembut seiring dengan langkah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Michelle suka musim semi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang dipanggil 'Michelle' nampak mengangguk. Sesaat ia mengalihkan pandangannya dari pemuda di sampingnya ke arah lain; ke suatu titik pada permukaan danau di kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih suka musim gugur—tapi oh &lt;em&gt;well&lt;/em&gt;, setidaknya danaunya tidak membeku."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang ia lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;Alone for a while I've been searching through the dark&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;For traces of the love you left inside my lonely heart—&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah berubah, permukaan danau hitam selalu setengah membeku saat musim dingin. Sinar matahari senja terpantul di beberapa bagiannya, menimbulkan semburat warna teduh yang lembut. Kini tanah di sekitarnya terselimuti bantalan tebal salju, tanpa sedikitpun mengizinkan sepetak tanah kecoklatan masih menyembul dari antaranya. Santa pasti tidak sabar ingin mendekorasi hari pertunjukannya dengan putih salju, yang seakan menghapus segala kekotoran dunia dengan tiap serpihannya. Minggu terakhir di awal musim dingin, beberapa hari sebelum Natal. Benar-benar waktu yang tepat untuk membangkitkan kembali ingatan yang serasa sudah lama sekali. &lt;em&gt;How nostalgic&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uap putih mengepul dari napas yang ia hembuskan. Dingin—tak diragukan lagi. Semestinya ia tidak berada di tempat semacam ini; bukankah ia tak menyukai sensasi ketika ujung-ujung jemari kakinya mati rasa? Namun toh kenyataannya ia tidak mendekam di ruang rekreasi asramanya, menikmati secangkir teh panas di depan perapian... ah. Entah mengapa. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu &lt;em&gt;boot&lt;/em&gt; tebal—dengan warna yang tak jauh berbeda jika disandingkan dengan timbunan salju yang mengitarinya—meninggalkan jejak-jejak berpola di sepanjang tepi danau. Kepalanya yang sejak tadi tertunduk kini sedikit terangkat, menengadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;—to weave by picking up the pieces that remain&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;Melodies of life—love's lost refrain&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepi sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, siapa yang mau berkeliaran di luar pada cuaca seperti ini?—kalau bukan seseorang dengan kesadaran yang nyaris melewati batas seperti dirinya. &lt;em&gt;Kenapa?&lt;/em&gt; Pertanyaan semudah itu entah mengapa sangat manjur untuk membuatnya tidak berkutik. Seharusnya bukan masalah besar bagi orang lain. Seharusnya dapat dilupakan dengan mudah oleh orang lain. Lantas, kenapa tidak dengan dirinya? &lt;em&gt;Blank&lt;/em&gt;. Michelle tidak dapat menjawab pertanyaan itu, alasan apa yang sebetulnya membuat dirinya kerapkali berkutat dengan perasaan yang sama. Tidak mengerti, sampai kapanpun hanya itu yang dapat ia mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya terhenti. Perlahan ia memutar tubuhnya dan menghadap ke tepi danau. Kabut mulai turun mendekati permukaannya, sementara matahari nampak semakin lemah termakan pekat awan di sisi lain, jauh di seberang sana. Mulai gelap. Sesaat ia menggigil, membuatnya harus memeluk kedua lengannya sendiri. Aneh, tahun lalu ia tidak perlu menghangatkan diri. Tahun lalu ia tidak merasakan bibirnya pecah-pecah, dingin dan tanpa dilihatpun ia tahu warnanya sudah sepucat warna ungu violet. Tahun lalu... ia tidak seorang diri, ia tidak diam dan dihinggapi perasaan yang penuh kecamuk seperti yang ia rasakan sekarang saat memandangi danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang berubah, &lt;em&gt;right&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;Our paths they did cross, though I cannot say just why&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;We met, we laughed, we held on fast, and then we said goodbye&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;And who'll hear the echoes of stories never told?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, untuk kedua kali dalam hidupnya sebuah pertanyaan yang sama muncul di dalam benaknya. &lt;em&gt;Bagaimana rasanya kematian?&lt;/em&gt; Mengapa ia merasa begitu dekat, seakan ada sesuatu tak nampak yang menariknya ke dalam lubang tersebut. Begitu menggoda, menjanjikannya dengan hal-hal yang terbayang sangat indah dan jauh lebih baik daripada apa yang dapat ia peroleh di dunia—baik dunia Muggle, maupun sihir. Napas yang dihelanya semakin berat, matanya terpejam. Kakinya kembali melangkah—lurus ke depan. Benar, ia sudah pernah hilang ingatan sekali, ia sudah pernah terselamatkan dari maut sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Michelle mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya, sebagian besar ruas-ruasnya sudah mati rasa. Tidak lagi terasa dingin, tidak terasa sakit—tidak terasa apa-apa. Hanya ada perasaan nyaman dan ringan. Air sudah mencapai tinggi pelupuk matanya; ketika alih-alih berusaha meronta atau berbalik, ia terus maju. Seakan suatu magnet yang ganjil tengah menariknya untuk berjalan lebih jauh ke kedalaman di bawah permukaan danau hitam, atau ada rantai tak terlihat kini mencengkram pergelangan kakinya. Tentu, padahal ia tahu dengan jelas—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—ia tidak bisa berenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;Let them ring out loud till they unfold&lt;/em&gt;...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-6909181271945047229?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/6909181271945047229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=6909181271945047229' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6909181271945047229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6909181271945047229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/03/repletion-1-michelle.html' title='Repletion 1 - Michelle'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-4548876048243962069</id><published>2009-02-11T02:42:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T19:35:44.752-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pet'/><title type='text'>Pet: Fenrir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3a/Eagle_Owl.jpg/423px-Eagle_Owl.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 295px; height: 418px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3a/Eagle_Owl.jpg/423px-Eagle_Owl.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fenrir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jantan&lt;br /&gt;Jenis: Eurasian Eagle Owl&lt;br /&gt;Panjang sayap: 187 cm&lt;br /&gt;Tinggi: 67 cm&lt;br /&gt;Berat: 3.1 kg&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;The Eagle Owl is largely nocturnal and is found in mountains and forests with cliffs and rocky areas, usually nesting on cliff ledges. They live for around 20 years although like many other bird species in captivity they can live much longer, perhaps up to 60 years.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Although Eagle Owls are usually considered to be a bird of the wilderness, they have been observed hunting vermin on open landfills in Northern Europe. This poses a certain risk for the owls as any pollutants the rats they feed on have ingested may be enriched in the owls. Eagle Owls that hunt on landfills have also sometimes been seen flying with waste entangled around their feet.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-4548876048243962069?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/4548876048243962069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=4548876048243962069' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4548876048243962069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/4548876048243962069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/02/pet-fenrir.html' title='Pet: Fenrir'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-7164390787019022834</id><published>2009-01-28T04:34:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T19:35:38.888-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Michelle'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Mine</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;i&gt;“I just want to be happy, Nate—please?”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Dimana kakakmu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Hee? Siapa?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;Gurat-gurat kemarahan tampak jelas di wajah wanita berambut keemasan itu—suaranya terdengar bergetar sedikit ketika berkata lagi, “aku tahu kau pasti ada hubungannya dengan semua ini, Nathan. Di mana Gisselle?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Saa…”—&lt;i&gt;who knows?&lt;/i&gt; Wajah laki-laki itu tidak tampak peduli—hanya mengangkat bahunya sedikit tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari buku yang baru ia beli di salah satu toko majalah di dekat hotel Karuizawa yang mereka tinggali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Nathan—I swear, if you don’t tell me right away—“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Berisik. Mana aku tahu kemana Gisselle pergi—aku bukan orang tua yang bertugas mengawasinya—bukankah seharusnya itu tugasMU.“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;hr /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Nathan—kau yang paling dekat dengan Gisselle, kau pasti tahu kakakmu ada di mana sekarang—kan?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Aku tidak tahu, Ayah,” ujar Nate tanpa benar-benar menatap mata ayahnya. Maaf, tapi ia sudah berjanji pada Gisselle—dan Merlin tahu ia tidak pernah mengingkari apa yang sudah ia janjikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Benarkah?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“T-tentu saja, untuk apa aku berbohong!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Begitu. Aku kecewa padamu, Nathan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;hr /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Kau—memuakkan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Berisik! Mau apa lagi sekarang?! Belum puas memakiku, eh?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Semuanya—Gisselle menghilang—semua ini karena kau... Kenapa bukan kau saja yang pergi dari sini?!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Apa hubunganku dengan ini semua—dia sudah cukup besar untuk memilih jalannya sendiri—bagaimana mungkin itu salahku?!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Pasti kau yang menanamkan ide-ide gila itu dalam otaknya—anak kotor, seharusnya aku tahu di dalam pikiranmu pasti kau merencanakan rencana gila!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Berhenti berkata seolah kau mengenalku!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate menatap gadis di depannya—menunggu jawaban dari pertanyaannya yang tidak pernah terjawab. Kenapa ini berakhir seperti ini—apa yang ia sudah melakukan sesuatu yang salah…? Matanya terlihat hampa—tapi seringai angkuh di bibirnya tetap bertahan. Ia tidak mengerti—tolong.seseorang.jelaskan. Setan mana yang berani mengusik Nate? Kepalanya terasa penuh. Ayah. Ibu. Miranda. Gisselle. Cassandra. Sylar. Szent. Michelle. Apa semua ini belum cukup? Tidak mau, tidak bisa. Don’t leave… Apa salahnya—kenapa semua orang, semua—apa ia begitu memuakkan hingga pantas ditinggalkan. &lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;i&gt;"Sorry for always getting in your way—won't happen again, for sure."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; Nate mengangkat alisnya dengan ekspresi tenang. Kosong. Ia tidak pernah mengerti apa yang terjadi padanya—semua bertubi-tubi datang dan pergi. Semua orang pada ahirnya meninggalkannya begitu saja—karena ia tidak cukup berarti. Pada akhirnya ia hanya mengibas-ngibaskan tangannya dengan ekspresi yang bisa dikatakan bosan dan berkata acuh tak acuh, &lt;i&gt;“fine, fine. Whatever.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membungkuk dan mengambil headphone putihnya yang tadi terjatuh. Menggantungkannya di sekeliling lehernya sebelum pemiliknya merapikan t-shirt garis-garisnya yang sedikit berantakan tadi. Matanya melirik ke arah benda mengkilap yang tergeletak di lantai begitu saja. Perlahan ia memungut benda itu—wajahnya tetap tidak menampakan emosi. Hanya senyum angkuh tidak wajar seolah tubuhnya hanya bertindak sesuai memori saja—tanpa perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Whatever. You’re still mine anyway. That, you promise me.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:white;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;I want to wipe away the moment,&lt;br /&gt;But I want to cling to it all the same.&lt;br /&gt;I don't understand myself.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak laki-laki berumur dua belas tahun itu membawa sebuah tas hitam yang dipegangnya melewati bahunya. Sebuah t-shirt bergaris-garis putih hitam yang tidak terlalu ketat ataupun longgar membalut bagian atas tubuhnya, berhenti tepat di atas ikat pinggang bewarna hitam yang menahan celana jeans gradasi abu-abunya. Sebuah wristband bewarna hitam membelit pergelangan tangan kanannya yang menggenggam tas Mon Blanc hadiah dari ayahnya sebelum pergi berlibur di musim panas. Di kepalanya, sebuah headphone bewarna putih berdiam mencolok di antara rambut cokalat gelapnya—tanpa mengalunkan musik. Hanya bertengger di sana tanpa suara—seolah memberikan ketenangan yang dibutuhkan pemiliknya untuk berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Drap. Drap.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya berderap sepanjang koridor yang sunyi—hanya terdengar suara celoteh riang dari pintu-pintu kompartemen yang penuh. Dahi anak itu sedikit berkerut—tahun kemarin ia adalah salah satu yang mengeluarkan tawa riang itu. Kenapa sekarang rasanya untuk tersenyum pun sudah sulit—eh? Sesak. Dan semua ini karena orang-orang brengsek yang merusak semua kesenangannya—menjatuhannya ke jurang terdalam. Bibirnya mengatup hingga membentuk garis tipis, matanya menatap tajam ke pemandangan di luar jendela—seakan-akan penyebab semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini ada di luar kereta. Menertawakannya dengan raut muka puas. Entah kenapa—di dalam pikirannya terlihat sosok Miranda yang tersenyum puas dan Mic—Solathel yang juga sedang tertawa mencemooh. Yang benar saja. Nate mendengus kesal, kalau ada yang harus tertawa—ialah yang akan melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:white;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;I dreamed a world in my childhood.&lt;br /&gt;I was born to make it come true.&lt;br /&gt;I'm a baby, and I want to cry. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia membuka pintu kompartemen yang tampak masih sepi dan menemukan beberapa orang yang sudah ada lebih dahulu. Sienna dan Szent. Bocah itu memajukan bbirnya dan membuang muka begitu melihat Szent—duduk di samping gadis yang mengenakan kemeja dan rok putih pura-pura tak melihat salah satu sahabatnya ada di sana. Kok, mereka—ia dan Sienna &lt;i&gt;obviously&lt;/i&gt;—bisa-bisanya kembaran dengan warna hitam putih begini, ya? Meskipun celana jeans-nya bewarna abu-abu, sih. Ia mengangkat bahu dan menoleh ke arah Sienna—siap untuk menyapanya seperti biasa hingga ia melihat mata sepupunya itu. Sienna itu… sahabatnya kan? Apa dia juga akan mengambil Sienna dari Nate—meninggalkannya lagi seperti yang ia lakukan barusan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya merayap ke liontin berbentuk anak kunci yang masih bergantung dengan bangga di sekeliling lehernya. Tenggorokannya tercekat—ia memaki dalam hati sementara pandangannya jatuh ke lantai. Apa gunanya memiliki kunci yang tidak bisa dipakai? He feels lost. Seolah ia sedang mencari sebuah pintu keluar di dalam sebuah labirin—kuncinya sudah ada di tangannya, namun ia tidak dapat menemukan pintu yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate meletakan tas hitam di tangannya di kursi sebelahnya—perlahan mengalihkan pandangannya ke wajah sepupunya. &lt;i&gt;Don’t leave me&lt;/i&gt;. Mungkin ia memang tidak pantas memiliki siapa-siapa, tapi setidaknya—jangan biaran ia sendiri. Anak laki-laki yang biasanya berwajah angkuh itu mengangkat tangannya dan menarik pelan kemeja bagian lengan gadis di sebelahnya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu gadis itu tiba-tibat—wajahnya tidak terlihat di balik potongan rambutnya yang cukup panjang dan bewarna gelap itu. Bisikan pelan hampir tidar terdengar keluar dari bibir anak laki-laki yang mengesampingkan tingkahnya yang biasanya selalu mendatangkan akibat buruk itu—sebenarnya tetaplah seorang anak kecil, “Sien… it hurts…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:white;"&gt;&lt;span style="font-family:times;"&gt;But if I have to take this pain&lt;br /&gt;To make my dreams come true,&lt;br /&gt;It's not so bad...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nate menyandarkan diri di dinding koridor berpenerangan remang-remang itu. Pintu masuk ruang rekreasi asrama tidak begitu jauh darinya—tapi ia ingin diam dulu di situ untuk beberapa saat. Meskipun malam sudah larut—ia hanya mengenakan t-shirt bewarna hitam meskipun malam sudah larut, sweater cashmere warna perak kesayangannya tersampir di bahunya. Hadiah ulang tahun yang diberikan ibunya. Kepalanya terasa berat—mungkin akibat kurang tidur beberapa akhir ini. Fenrir—burung hantu elangnya—belum membawa kabar apa-apa dari rumah. Apa ia benar-benar sudah dibuang sekarang? Bagus. Sangat bagus. Sampai muak rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mengacak-acak rambutnya dan mendesah pelan sebelum akhirnya melangkah memasuki ruang rekreasi. Tempat itu sudah sepi—seperti yang sudah sewajarnya. Anak itu menatap sekelilingnya dengan wajah &lt;i&gt;cengo&lt;/i&gt;—seolah menunggu seseorang melompat dari balik kursi dan berkata ‘Kejutan! Semua ini hanya lelucon!’. Tidak lucu. Pikirannya seperti bercabang-cabang—ia mulai berpikir ia bisa gila kalau terus menerus seperti ini. Terserah. Tidak peduli. Kalaupun ada banshee mengerikan yang muncul tiba-tiba dari balik sofa dan mencekik lehernya sampai mati kehabisan nafas, mungkin yang Nate katakan hanyalah terima kasih. Setidak waras itulah ia saat ini. Matanya menatap sosok sesuatu berambut panjang—bukan banshee, sayangnya. Tapi lebih baik lagi—atau lebih buruk? Ia tidak yakin. Tapi &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt; laki-laki berambut kecoklatan itu tetap mendekat dengan cengiran angkuh yang sudah menjadi &lt;i&gt;trademark&lt;/i&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menungguku pulang sampai selarut ini? Ck, ck... Michelle memang calon istri yang baik,“ ujarnya dengan wajah sok prihatin seolah tidak ada yang berubah di antara mereka. Seolah. Right. Nate melangkah ke arah asrama siswa—sebelum ia berhenti dan menatap sweater perak di bahunya beberapa saat. Cashmere buatan Perancis—kata Gisselle cukup mahal, lembut dan terlihat &lt;i&gt;classy&lt;/i&gt;. Sweater kesayangannya. Nate mengernyit sesaat sebelum akhirnya berbalik dan melemparkan benda itu ke arah gadis berambut ikal yang entah kenapa masih ada di tempat itu. Menunggunya? Tidak mungkin—ia terlalu banyak bermimpi. Anak laki-laki itu meneruskan langkahnya ke asramanya—tidak berbalik untuk melihat bagaimana reaksi gadis itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-7164390787019022834?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/7164390787019022834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=7164390787019022834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7164390787019022834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7164390787019022834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/01/mine.html' title='Mine'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-6677771521712954246</id><published>2009-01-11T05:36:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T19:35:05.990-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Pertama'/><title type='text'>His Secret</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bocah sebelas tahun itu—bukan, hampir dua belas tepatnya, hanya tinggal beberapa bulan lagi—merapatkan jaket abu-abunya yang cukup tebal hingga membuat tubuhnya tampak lebih besar daripada yang seharusnya. Alisnya mengernyit sedikit, tampak tidak terkesan dengan keadaan di sekitar jalan yang dilaluinya—kenapa ia mau merepotkan dirinya sendiri dengan melewati tempat yang seperti ini Nate sama sekali tidak tahu. Anak laki-laki berambut kecoklatan itu mengangkat bahunya sedikit dan mulai menyusuri jalannya menuju ke kastil, sesekali menepis salju yang jatuh di atas kepalanya dengan tidak sabar. Sarung tangan hitam yang dipakainya rasanya hampir-hampir tidak bisa menahan dinginnya cuaca hari itu, atau mungkin kondisi tubuhnya memang sedang tidak cocok untuk berjalan di tengah salju begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya yang cokelat menyusuri lautan salju yang terhampar di depannya. Ada yang membuat orang-orangan salju—entah siapa yang kurang kerjaan begitu. Seulas senyum kecil muncul di wajahnya. Pikirannya menelusuri kenangan beberapa tahun yang lalu, di hari bersalju seperti kali ini—beberapa hari menjelang Natal ketika untuk pertama kalinya, Ayahnya menghabiskan waktu satu hari penuh hanya untuk Nate seorang—dan keluarga yang lain sebenarnya, tapi sampai sekarang Nate tetap menganggap hari itu sebagai hari miliknya dan ayah, berdua saja. Beliau menemaninya bermain perang salju di halaman, meskipun awalnya pria itu sempat ingin menolak dan terlihat kaku. Ia ingat ketika itu ia yang masih berumur lima tahun sangat gembira karena ia berhasil &lt;i&gt;membeli&lt;/i&gt; waktu ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Ayah, berapa uang yang ayah hasilkan dalam waktu satu jam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu mengangkat wajahnya dan mengerutkan dahinya, menatap putra tunggalnya dengan tatapan tidak sabar. Pertanyaan macam apa itu, apa anak itu tidak bisa melihat bahwa ia sedang sibuk? “Untuk apa kau menanyakan pertanyaan macam itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Um... hanya ingin tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Odien menarik nafas panjang. Ia tahu ia bersikap tidak adil kalau ia sampai mengusir anak itu hanya karena merasa Nate mengganggunya. “Mungkin 100 Galleon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh—“ mungkin Odien salah dengar, tapi ia merasa mendengar nada kecewa dalam ucapan anaknya “—boleh aku minta 45 Galleon, ayah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidak sabarannya meluap lagi. Ia menatap putranya dengan dingin dan berkata keras, “kalau kau hanya mencoba untuk mendapat uang saku tambahan, itu tidak akan berhasil, Nathan. Kembali ke kamarmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembali ke kamarmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu menatap kepergian putranya yang tampak lesu dengan sedikit bersalah. Ia tidak bermaksud sekeras itu—tapi akhir-akhir ini pekerjaannya menumpuk dan ia merasa tidak punya waktu untuk menghadapi omong kosong anak kecil. Odien memijat-mijat pelipisnya dan mendesah pelan. Mungkin Nate memang memerlukan uang itu, mungkin anak itu ingin membeli sesuatu yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan sifatnya, tapi pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi mendatangi putranya. Krieet. Pintu terbuka menampilkan kamar anak-anak yang didominasi warna laut, suara tarikan nafas yang terdengar memberitahunya bahwa anak itu belum tidur. “Nate, maaf soal yang tadi. Ini 45 Galleon yang kau minta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok di tempat tidur berbalik—senyum yang muncul di wajah bocah lima tahun itu membuatnya hampir ikut tersenyum, meskipun rasa itu hilang seketika melihat Nate menarik kantung dari bawah bantalnya yang ketika dibuka berisi kepingan galleon. Kemarahannya muncul ke permukaan lagi, “kalau kau sudah memiliki uang, kenapa kau minta lagi?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi uangku belum cukup, tapi sekarang sudah,” jelas anak laki-laki itu dengan cengirannya yang khas dan mata penuh kegembiraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada 100 Galleon, boleh aku meminta ayah untuk pulang satu jam lebih awal besok? Aku ingin merayakan natal dengan ayah.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah jadi rahasia umum bahwa Nate menghormati dan menyayangi ayahnya lebih dari siapapun. Tapi kejadian itu—titik balik dari keakraban mereka—adalah rahasia kecil mereka berdua. Senyumnya tetap bertahan kalau tidak semakin lebar mengingat tahun-tahun ke belakang, beberapa hari sebelum Natal waktu ia menghabiskan waktu bersama keluarganya. Mereka berenam adalah keluarga yang sempurna, Nate tidak bisa membayangkan keluarga yang lebih akrab dibandingkan mereka. Paling tidak, waktu itu. Sampai semuanya mulai berubah, sampai ia akhirnya mengerti apa maksud dari semua perkataan—sikap, semua kebenaran dan fakta yang selama delapan tahun terkunci rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa—kenapa ia harus memiliki darah terkutuk ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum miris muncul di wajahnya. Sesaat ia menatap langit yang kelabu, seolah ingin tenggelam di dalamnya—melupakan kenangan yang paling ingin ia hapus dari memorinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir usianya yang kesembilan, Nate baru mengerti betapa besar kekuasaan yang di bawanya dalam namanya. Betapa besar pengaruh yang ia timbulkan dengan hanya satu kalimatnya. Kejadiannya waktu ia dimasukan ke dalam sekolah muggle, setelah tragedi yang menimpa keluarga Lazarus—dan juga setelah Nate mengetahui tentang darah terkutuk yang mengalir dalam dirinya. Satu hal yang tidak berubah adalah hubungan Nate dan ayahnya—dan ia bersyukur untuk hal itu. Suatu ketika Nate mengeluh pada ayahnya bagaimana seorang gurunya bersikap tidak adil dengan menghukumnya—apa alasannya ia sudah lupa—dan bagaimana anak itu tidak menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 153); font-style: italic;"&gt;"I hate her, father."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Besoknya ia tidak pernah melihat atau mendengar tentang guru itu lagi. Tampaknya Odien menganggap bahwa tindakan kecil melawan anaknya adalah penghinaan terhadap nama keluarganya, sehingga ia sendiri yang memastikan—dengan uang dan kekuasaan yang ia miliki—bahwa guru itu tidak akan pernah mengajar lagi—sesuatu yang sangat ekstrim untuk sesuatu yang sangat sepele, namun Odien memang tidak dikenal karena kebaikan hatinya. Sisi itu, hanya ia tunjukan pada keluarga dan sahabat keluarga. Di lain waktu, ketika Nate dan duo S—yang juga masuk ke sekolah yang sama—memukul beberapa siswa yang mengejek mereka—mereka mengatai Szent dan Sylar anak yatim dan berkata Nate, Sylar, dan Szent tidak bisa apa-apa kalau ayah mereka tidak ada—gurunya sama sekali tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya tersenyum dengan wajah sedikit ketakutan dan meminta mereka tidak melakukan hal seperti itu lagi. Pengaruh ayahnya sebagai donatur terbesar—bersama dengan Lazarus dan Istvan—membuat Nate merasa superior, ia tahu ia bisa melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa ada seorang pun yang merintangi jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi pusat dari seluruh dunia—atau begitulah yang ia coba tanamkan dalam dirinya sendiri. Satu-satunya cara agar ia bisa melupakan keberadaan darah terkutuk yang mengaliri nadinya—satu-satunya cara agar ia bisa menerima eksistensinya tanpa merasa bahwa ia adalah anak yang tidak pantas hidup. Ini rahasia terbesarnya—ini rahasia yang ia kunci rapat-rapat sehingga tidak akan ada seorang pun yang tahu, agar dunia tidak membuangnya—agar keberadaannya tetap memiliki arti meskipun semu. Darah terkutuk ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate memejamkan matanya sesaat sebelum menyusuri jembatan yang seolah mengejeknya dengan mengatakan bahwa takdirnya pun akan berjalan lurus—ia tidak bisa lari, ia hanya bisa memperlambat langkahnya untuk mencapai akhir yang sudah ditentukan. &lt;i&gt;Accursed.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-6677771521712954246?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/6677771521712954246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=6677771521712954246' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6677771521712954246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/6677771521712954246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/01/his-secret.html' title='His Secret'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-3717381424458779102</id><published>2009-01-09T20:08:00.001-08:00</published><updated>2009-04-05T19:34:32.178-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Detensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Pertama'/><title type='text'>Another Detention</title><content type='html'>Nama: Nathan Kehl Harvarth&lt;br /&gt;Asrama: Slytherin&lt;br /&gt;Tahun ajaran: 1978-1979&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ALASAN MENGAPA AKU MENGACAU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alasan mengapa aku mengacau di pesta Hufflepuff adalah karena aku mau. Aku mau jadi aku melakukannya. Simpel saja. Tapi kalau hanya ini, esainya belum mencapai 10 inchi, jadi akan aku pikirkan alasan lain. Alasan lainnya adalah karena warna asrama itu kuning. Kuning, demi Salazar. Maksudku, siapa sih, orang yang memakai warna kuning? Memangnya mereka pisang apa, mau saja dengan warna kuning-kuning norak begitu. Warna mencolok yang bikin mata katarak itu, apa tidak bisa warna asrama itu diganti dengan yang lebih kalem? Meskipun warna merah juga cukup mencolok, tapi paling tidak—tidak membuat sakit mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain lagi, karena mengacau terdengar menarik. Anggap saja sebagai pembalasan karena Mbah Suprapto tidak mau mengajarkan mantra HumbadaHumbada padaku, jadi kupikir akan menyenangkan kalau aku sendiri saja yang membuat bunyi-bunyian aneh yang DhuarDhuar begitu—yang meskipun jauh dari Humbada, tapi paling tidak feel-nya masih ada. Aku juga ingin mencoba kostum ranger yang keren itu, apalagi aku mendapat warna merah (meskipun itu warna Gryffindor) yang notabene-nya selalu menjadi pemimpin dalam super sentai. Aku jadi merasa seperti Gorou Sakurai atau lebih dikenal sebagai Spade Ace dalam ranger formnya. Tahu tidak kalau serial J.A.K.Q. sudah hampir tamat? Semoga ada seri baru yang lebih seru sebagai penggantinya. Teknologi muggle memang terkadang cukup berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum 10 inci, ya? Ah, alasan yang terakhir mungkin supaya kelihatan keren. Naik sapu, mengenakan kostum, lalu mengatakan hal-hal yang terdengar keren. Ha, seperti antagonis dalam film bukan? Biasanya peran antagonis itu lebih keren daripada peran baik, pengecualian dalam film super sentai. Aku jauh lebih keren daripada monster-monster itu. Ah, lagipula yang lain juga tampak antusias dengan kegiatan kali ini, apa masalahnya, sih? Bukankah bagus kalau asrama kita semakin kompak?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-3717381424458779102?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/3717381424458779102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=3717381424458779102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3717381424458779102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3717381424458779102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2009/01/another-detention.html' title='Another Detention'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-7880198858956008828</id><published>2008-12-21T05:17:00.000-08:00</published><updated>2009-04-15T21:46:10.739-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>010 #Nate's Family</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20Family/odin.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20Family/odin.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;ODIENEER HYPERION HARVARTH&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;((visualisation: Hayden Christensen ))&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pureblood&lt;br /&gt;Oslo, Norwegia&lt;br /&gt;25 Desember, 43 yrs&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tongkat Sihir :&lt;/span&gt; Elm, nadi jantung naga, 13,5 inchi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Ayah :&lt;/span&gt; Sverrir Ormr Harvarth (PB)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Ibu :&lt;/span&gt; Cammile Bruadarr Harvarth nee. Chevarone (PB)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Saudara : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Thorr –adik (PB)&lt;br /&gt;Sigurd –adik (PB)&lt;br /&gt;Sindri –adik (PB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Personaliti    :&lt;/span&gt; tegas, perfeksionis, kaku di depan kebanyakan orang namun bisa menjadi sosok yang humoris di depan anak-anaknya, sosok pria yang kebapakan dan sangat menjunjung tinggi keluarganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bakat &amp;amp; Kekurangan    :&lt;/span&gt; pengusaha yang sukses, tipe yang lebih memilih untuk merencanakan daripada melakukan, seorang jenius dengan IQ di atas rata-rata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun berada dalam lingkungan keluarga darah murni, tapi keluarga Harvarth yang memang memiliki pandangan berbeda dengan keluarga darah murni kebanyakan, tidak membanggakan status darah mereka. Dan meskipun mereka memang menikahi sesama darah-murni, itu lebih dikarenakan oleh kedudukan keluarga tersebut. Menurut mereka, tidak peduli bahwa orang itu adalah penyihir berdarah murni, kelahiran muggle, atau muggle, yang terpenting adalah kedudukan orang itu dalam masyarakat. Pandangan itu juga yang menurun kepada Odin, sehingga ia tidak membeda-bedakan status darah dari kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahannya dengan Arianna di usinya yang ke 23, adalah pernikahan yang diatur oleh kedua orang tuanya. Dengan alasan menyatukan dua keluarga besar itu untuk membina hubungan baik diantara keduanya. Mengingat keluarga Duske adalah keluarga penyihir yang terkenal di Itali dan pernikahan itu bisa menjembatani hubungan bisnis antara penyihir Norwegia dengan Italia. Meskipun lambat laun ia memiliki perasaan pada istrinya itu, sampai mereka memiliki dua orang putri. Beberapa tahun setelahnya, ia bertemu dengan Freedreth. Ia sangat tertarik pada pribadi wanita muda itu sehingga tanpa sadar ia juga jatuh cinta padanya, meskipun ia juga tetap mencintai istrinya. Tapi ia sedikit kecewa pada Arianna yang hingga saat itu belum bisa memberikannya anak laki-laki.Sehingga ia senang sekali pada waktu Freedreth dikatakan mengandung anak laki-laki. Meskipun pada akhirnya wanita itu mengorbankan nyawanya untuk anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kerap kali merasa bersalah pada Arianna, namun ia juga tidak menyesalinya. Sebab kalau bukan karena Freedreth, ia tidak akan memiliki Nathan sebagai anaknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20Family/arianna.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20Family/arianna_DH.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;ARIANNA DALMACE HARVARTH nee. DUSKE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;((visualisation: http://intergalacticstock.deviantart.com))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pureblood&lt;br /&gt;Surrey, England&lt;br /&gt;16 Juni, 39 yrs&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tongkat Sihir:&lt;/span&gt; Walnut, pembuluh nadi naga, 12 inchi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Ayah:&lt;/span&gt; Aloysius Cathal Duske (PB)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Ibu:&lt;/span&gt; Sabina Elba Duske nee. Gaetanna&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Saudara: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-Benvennuto –kakak (PB)&lt;br /&gt;-Luana –adik (PB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Personaliti:&lt;/span&gt; Angkuh dan tegas, wanita mandiri yang sangat mendambakan keluarga yang sempurna, anggun, menyukai kerapihan, lembut namun tetap bisa marah ketika ia menginginkannya, menghargai status darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bakat &amp;amp; Kekurangan:&lt;/span&gt; Seorang Lady di antara Lady, tuan putri dari keluarga terhormat yang sangat menghargai kesopanan, suka membaca sehingga pengetahuannya luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterangan lain:&lt;/span&gt; Meskipun awalnya pernikahannya dengan Odin hanyalah sekedar kesepakatan bisnis di antara keduanya, Arianna dengan cepat jatuh hati pada kepribadian tegas yang dilihatnya pada diri Odin. Pernikahan yang bahagian hingga Miranda dan Giselle lahir. Sejak kedua putrinya lahir, beberapa kali ia mengandung namun semuanya keguguran sebelum waktunya. Hal itulah yang membuat suaminya yang sangat menginginkan putra yang kelak akan mewariskan namnya, akhirnya berpaling pada Freedreth. Arianna membenci Nate karena ia menganggap Freedreth sebagai penghancur rumah tangganya, meskipun sebenarnya dalam hati ia memiliki sedikit rasa sayang pada Nate. Namun karena anak itu bertingkah ugal-ugalan dan tidak tahu aturan, semakin membuatnya memiliki alasan untuk membenci anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan sehari-harinya adalah mengurus salah satu anak perusahaan keluarganya dan suaminya. Selain itu ia juga sibuk mengurus acara amal yang sering diselenggarakan oleh perkumpulan penyihir wanita bangsawan Eropa. Meskipun jarang berada di rumah, sama seperti suaminya ia tetap berusaha untuk meluangkan waktunya untuk anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20Family/miranda.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 145px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20Family/miranda_SH.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MIRANDA SEVILLENNE HARVARTH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;((visualisation: http://intergalacticstock.deviantart.com))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pureblood&lt;br /&gt;Paris, Perancis&lt;br /&gt;4 Januari, 19 yrs&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tongkat Sihir:&lt;/span&gt; Ash, hati basilisk, 10 inchi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Ayah:&lt;/span&gt; Odieneer&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Ibu:&lt;/span&gt; Arianna&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Saudara:&lt;/span&gt; Gisselle, Nathan, Cassandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Personaliti:&lt;/span&gt; intelek dan anggun, sangat memuja ibunya sehingga sering meniru tingkah lakunya tanpa tahu alasannya, dewasa , namun kolot dan tidak berpikiran terbuka, agak tidak sabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bakat &amp;amp; Kekurangan:&lt;/span&gt; suka membaca buku dan memiliki ingatan yang kuat, pintar dalan transfigurasi, karena lebih mementingkan logika ia tidak memiliki feel yang tepat sebagai ahli ramuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterangan lain:&lt;/span&gt; Miranda sangat menghormati ibunya, bisa dibilang memuja. Sosoknya pun sangat mirip dengan ibunya, perbedaannya hanya pada warna rambutnya yang lebih cokelat sementara ibunya sedikit pirang. Ia bisa melihat ketidak sukaan ibunya pada Nate yang membuatnya juga tidak menyukai adiknya itu tanpa alasan yang benar-benar jelas. Meskipun setelah dia lebih tua, dia menyadari bahwa Nate bukan benar-benar saudaranya. Dan ia juga akhirnya mengetahui bahwa kehadiran Nate membuatnya kehilangan sebagian besar warisan keluarga Harvarth kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya ia iri pada adik-adiknya, Gisselle dan Nate, yang memiliki otak cemerlang. Mendapat nilai-nilai bagus tanpa perlu terlalu berusaha, sedangkan dia hanya hebat di bagian hapalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Miranda bersekolah di Beauxbatons, sekarang bekerja di kementrian di departemen pelaksanaan hukum sihir, sekaligus mengurus perusahaan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Other/Gbharvarth.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 145px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20Family/Gisselle_BH.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;GISELLIENE BRUNHILLDE HARVARTH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;((visualisation: Tricia - http://slumberdoll.deviantart.com))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pureblood&lt;br /&gt;Stavanger, Norwegia&lt;br /&gt;9 Mei, 18 yrs&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tongkat Sihir:&lt;/span&gt; Elder, bulu ekor pheonix, 11,5 inchi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Ayah:&lt;/span&gt; Odieneer&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Ibu:&lt;/span&gt; Arianna&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Saudara:&lt;/span&gt; Miranda, Nathan, Cassandra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Personaliti:&lt;/span&gt; pemberontak, periang, berpikiran terbuka dan tidak terlalu peduli dengan orang lain, cuek dan egois, jarang memikirkan hal-hal yang serius&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bakat &amp;amp; Kekurangan:&lt;/span&gt; pemusik yang berbakat terutama biola dan piano, meskipun ia juga bisa memainkan banyak alat musik lainnya, pintar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterangan lain:&lt;/span&gt; Gisselle tidak membenci keluarganya. Namun ia seringkali kesal dengan ibu dan kakaknya yang tampak tidak menyukai Nate. Karenanya dia sangat menyayangi adik laki-lakinya itu. Meskipun dampak dari kasih sayangnya itu adalah Nate mengikuti macam-macam kebiasannya seperti sering kabur di malam hari. Gadis ini jugalah yang bertanggung jawab dengan percobaan merokok pertama Nate dan macam-macam tindakan melanggar peraturan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik (mirip seperti neneknya, Cammile) dan berkepribadian menarik dilengkapi dengan keintelekannya, Gisselle adalah seorang gadis yang memiliki banyak pengagum pria. Sering berganti-ganti pacar, main kesana-kemari, dan berfoya-foya. Namun sekarang ia sedang memiliki hubungan dengan seorang laki-laki asal Filipina, Lodeva Giosingtiao. Berasal dari keluarga bangsawan, yang tidak terlalu terkenal. Hubungan keduanya sepertinya cukup serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Gisselle bersekolah di sekolah sihir kecil di Norwegia. Sekarang bekerja sebagai violinist di Glenn Miller Orchestra.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20Family/cassadra.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20Family/Cas__WH.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;CASSANDRA WILEENDRIANT HARVARTH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;((visualisation: Crissey - http://crissey.deviantart.com))&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pureblood&lt;br /&gt;London, England&lt;br /&gt;13 September, 8 yrs&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tongkat Sihir:&lt;/span&gt; -&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Ayah:&lt;/span&gt; Odieneer&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Ibu:&lt;/span&gt; Arianna&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nama Saudara:&lt;/span&gt; Miranda, Gisselle, Nathan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Personaliti:&lt;/span&gt; polos dan ceria seperti anak kecil lainnya, tidak egois dan sangat menyayangi kakak-kakaknya, agak egois, pengagum Nate, suka menonton televisi, baik, sangat menyukai permen dan makanan manis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bakat &amp;amp; Kekurangan:&lt;/span&gt; pintar menggambar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan lain: Sebagai anak bungsu dalam keluarga Harvarth, sudah pasti ia sangat dimanja. Dicurahi segala kasih sayang dari kedua orang tuanya, ditambah lagi tiga kakaknya. Cassandra paling dekat dengan Nate sebagai satu-satunya kakak laki-laki, juga karena perbedaan umur mereka paling dekat. Ia mengagumi kakaknya yang selalu terlihat keren dengan kebiasaan seperti mugglenya. Ia juga suka meniru kebiasaan kakaknya menonton televis yang berujung pada kebiasaanya menonton film-film yang sebenarnya tidak cocok ditonton oleh anak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kedua orang tuanya sibuk dan kakak-kakaknya juga bekerja, ia menjadi dekat dengan para peri rumah yang memanggilnya dengan sebutan ‘princessa’. Setelah Nate masuk Hogwarts dan tidak dapat menemaninya lagi, ia lebih sering bermain dengan Gisselle yang sering berada di rumah jika tidak ada latihan konser dan tidak ada kegiatan dengan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-7880198858956008828?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/7880198858956008828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=7880198858956008828' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7880198858956008828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7880198858956008828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/010-nates-family.html' title='010 #Nate&apos;s Family'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20Family/th_odin.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-3768021141037855429</id><published>2008-12-14T02:49:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T19:34:13.668-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Pertama'/><title type='text'>009 #Kelas Mantra</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mantra~ Mantra~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Gryffindor dan Slytherin sekelas. Yang artinya lagi-lagi ia akan bertemu dengan orang ini dan itu yang super menyebalkan. Lalu ada pangeran musang --wait. Nate harus benar-benar melupakan panggilan itu. Karena seperti yang ia baru ketahui setelahnya, mus--anak laki-laki itu ternyata Arvid Corleone. Yeah, Corleone. Yang berarti, ia dan Arvid itu masih bersaudara. Entah hubungan mereka apa, tapi mengingat nama itu dimiliki neneknya dulu, berarti mereka masih memiliki hubungan keluarga. Yang sebenarnya tidak mengherankan, mengingat biasanya keluarga-keluarga penyihir tua memang saling berhubungan. Sienna misalnya, ia baru tahu sepupunya juga masuk ke Hogwarts tahun ini, satu asrama dengannya pula! Ck, bisa-bisanya ia tidak sadar. Entah ada apa dengannya, padahal biasanya ia paling tahu masalah beginian. Maklumlah, ayahnya dari dulu selalu mengatakan, family means more than blood. Meskipun ia tahu hal itu lebih merujuk pada Nate sendiri daripada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mengerling ke sekeliling kelas, dengan pandangan aku-lebih-hebat-daripada-kalian-nya yang biasa. Sombong? Bukan, bukan. Hanya sekedar menyampaikan kenyataan yang ada. Oh, great, sudah ramai. Lightdarker, tuan ingin-jadi-ular-Dutie, gadis Gryffindor sok pahlawan yang belakangan ia ketahui bernama Rainier, Arvid, Michelle dan beberapa orang lain. Lucky. Masih ada tempat di kursi paling depan. Seperti yang ia bisa katakan, ia memang pemilik keberuntungan langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Morning, princess..." ujarnya dengan cengirannya yang biasa saat ia melewati Solathel--Michelle dan duduk di kursi paling depan, meskipun sesaat ia sebenarnya ingin pergi ke meja dekat gadis itu. Nate bukan murid yang baik, ia tahu hal itu. Melanggar peraturan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Namun nilai adalah hal yang lain lagi. Nate harus, HARUS mendapat nilai bagus. Bukannya ia anak menyedihkan yang harus belajar dengan sangat sangat keras untuk mendapat nilai bagus, tapi ia tahu ia harus memenuhi permintaan ayahnya yang meskipun tidak diucapkan tapi bisa sangat dimengerti oleh Nate. Jadi mengesampingkan hobinya berbuat ini dan itu yang bisa mendatangkan detensi, ia bukan hanya memikirkan senang-senangnya saja, kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini kita akan mempraktekkan mantra dasar untuk murid tahun pertama,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wingardium Leviosa. Mantra melayang. Oke. Lalu sekarang mereka harus mencobanya pada bulu-bulu putih yang tampak lembut dan akan sangat empuk untuk dijadikan isi bantalnya. Tapi kembali pada tugasnya yaitu mengangkat bulu-bulu putih ini. Nate menggenggam tongkatnya. Hawthorn, ekor unicorn, 10 inchi. Baiklah, menurut buku Kitab Mantra Standar Tingkat Satu oleh Miranda Goshawk yang terbuka di depannya di halaman lima, pelafalan dan gerakan tongkat sangat berpengaruh pada keberhasilan mantra ini. Jadi pertama, mari kita berlatih mengucapkan mantra ini (sekaligus mendengar suara Nate yang memang enak untuk didengar)!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Win-GAR-dee-um lev-ee-OH-sa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, palafalan sempurna (tentu saja, Nate memang selalu sempurna) lalu sekarang apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;---------------------------&lt;br /&gt;----------------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kali ini ia benar-benar serius dalam mengikut kelasnya. Inginnya sih begitu. Tapi beberapa Gryffindor sial benar-benar mengganggunya, dan Nate benar-benar tidak terima kalau harus dipermainkan tanpa ia bisa membalas. Jadi ia melakukannya, hanya mantra simpel 'Petrificus Totalus' dan beberapa kalimat untuk membalas perkataan orang-orang itu. Tapi pada akhir pelajaran ia malah jadi yang sakit. Hipertensi-nya kambuh. Sialan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-3768021141037855429?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/3768021141037855429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=3768021141037855429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3768021141037855429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3768021141037855429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/009-kelas-mantra.html' title='009 #Kelas Mantra'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-2511412771398645935</id><published>2008-12-13T04:41:00.001-08:00</published><updated>2009-04-05T19:43:12.054-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Detensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Pertama'/><title type='text'>008 #First Detention</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Detensi untuk keributan di kandang burung hantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Cemberut. Mendengus kesal. Ia mendelik ke sana kemari dengan penuh tatapan membunuh seolah ia sedang mencari mangsa dan orang yang pertama kali bertatapan dengannya akan ia gigit sampai mati. Sialan. Ini semua sungguh menyebalkan. Detensi. Detensi. DETENSI. Baru beberapa minggu dia bersekolah di sini dan ia sudah mendapatkan detensi! Dengan guru pemeliharaan satwa gaib pula. Sungguh sial. Apa yang akan dikatakan oleh ayahnya jika mendengar hal ini? Bisa-bisa ia langsung dicoret dari silsilah keluarganya. Oke, tidak, sih. Mengingat Nate satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Siapa lagi yang bisa mewarisi nama keluarga Harvarth kalau bukan dia? Tapi kembali mengenai masalah detensi ini. Sungguh, ini menyebalkan sekali. Dan ini semua gara-gara perbuatan orang-orang di kandang burung hantu itu! Lupakan soal dia yang pertama kali menarik tongkat dari jubahnya dan memantrai orang-orang di sana. Seharusnya mereka tidak terpancing! Semua hal ini disebabkan oleh mereka yang asal menyerang sembarangan. Sial. Sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua gara-gara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmpf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate menendang-nendang tanah di depannya. Menunggu dengan tidak sabar untuk mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam detensi ini. Oh tentu saja, ia sangat tidak sabar. Semoga saja detensi yang tidak pantas, sehingga nanti ia bisa mengirimkan surat pada ayahnya dan mengatakan bahwa guru di Hogwarts ini tidak bisa mengajar dan BUM! Orang itu dipecat. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak kalau terjadi hal seperti itu Nate akan merasa bahwa detensi kali ini tidak sia-sia belaka. Yeah, yeah. Detensi. Kata yang sungguh menyebalkan. Ia tidak seharusnya mendapat detensi. Kata 'Nate' dan 'detensi' tidak pernah bisa diletakan dalam satu kalimat yang sama. Kenapa orang-orang tidak bisa menyadari hal itu, sih? Argh, ia ingin menggigit lengan orang lain sampai putus rasanya. Kira-kira mau tidak ya, Sylar digigit olehnya? Tapi tidak, lebih baik ia menggigit lengan salah satu orang penyebab ia terjerumus dalam masalah ini. Kalau begitu kan ia puas, dendam juga terbalas. Mudah kan? Dan semua orang pun akan puas. Lalu Nate bisa tertawa terbahak-bahak dan mulai mencari target baru dalam kisah epiknya di Hogwarts. Ia sekali lagi hanya bisa mendengus dan menatap tajam ke arah prefek yang sedang berbicara dengan profesor ceret atau apapun namanya itu. Ceret. Nama yang sangat aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan dengan tanah yang sudah tak tampak menarik lagi di matanya ia mulai melihat-lihat ke sekeliling tempat itu. Ini... gubuk tempat si oaf itu tinggal, ya? Lalu dekat danau... Semoga saja detensinya tidak berhubungan dengan cumi-cumi raksasa yang katanya hidup di danau itu. Ih... Membayangkannya saja Nate sudah tidak mau, apalagi menghadapinya betulan. Ia mengalihkan pandangan matanya ke arah lain tapi justru menangkap sosok orang-orang yang juga kena detensi sepertinya. Ia mulai cemberut lagi. Padahal ia kira tadinya ia bisa menghindar dari detensi ini, tapi ternyata kena juga. Huuh, dasar prefek tidak adil! Sudah jelas Nate tidak seharusnya terkena detensi tapi tetap saja... Puhf.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tidak adil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-2511412771398645935?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/2511412771398645935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=2511412771398645935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/2511412771398645935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/2511412771398645935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/008-first-detention.html' title='008 #First Detention'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-8064809860459776582</id><published>2008-12-11T21:07:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T19:43:02.656-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>007 #Harvarth &amp; Akhersus</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HARVARTH FAMILY    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Harvarth –dari kata Havarth yang berarti ‘high defender’ adalah sebuah keluarga penyihir yang berasal dari daerah Scandinavia lebih tepatnya Norwegia. Keluarga Harvarth sudah ada sejak awal tahun 1300an. Tepatnya dimulai dari putra Raja Leaf Eriksson, pemimpin Swedia dan Norwegia di tahun 1319. Adanya pandemik ‘black death’ tahun 1349, dikatakan adalah perbuatan dari putra Raja Eriksson yang kecewa karena tidak mendapatkan tahta sehingga dia memutuskan hubungan dari keluarganya dan mengganti namanya menjadi, Ormarr Rig Harvarth. Dia inilah pendiri keluarga Harvarth yang sampai sekarang masih  menjadi  keluarga penting di wilayah Scandinavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, keluarga Harvarth adalah keluarga penyihir yang paling berpengaruh di daerah Scandinavia. Kebanyakan bergerak dalam bidang perdagangan internasional baik dengan penyihir maupun muggle. Meski tempat tinggal keluarga besar ini tersebar di seluruh dunia, tapi kebanyakan masing-masing tetap memiliki rumah di Norwegia. Keluarga Odieneer Harvarth misalnya, tinggal di kastil Arkhesus, Oslo.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;AKERSHUS CASTLE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Oslo, Norwegia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/800px-Akershus_festning.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 316px; height: 211px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/800px-Akershus_festning.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kastil ini dibangun pada awal tahun 1290-an oleh King Håkon V untuk menggantikan benteng Tonsberg sebagai pusat pertahanan yang paling penting di Norwegia. Pembangunan benteng ini dikarenakan serangan Earl Alv Erlingsson dari Sarpsborg pada Oslo.Benteng ini pertama kali digunakan pada tahun 1308 oleh Duke  Eriksson (ayah dari Ormarr Rig Harvartg) dari Södermanland, yang pada tahun itu juga mendapatkan gelar sebagai raja Swedia. Letak benteng yang dekat dengan laut ini menyebabkan benteng ini menjadi pusat pertahanan Norwegia yang kekuatan militernya terletak pada angkatan lautnya. Karena itulah benteng ini sangat openting untuk ibu kota sekaligus untuk Norwegia. Sehingga dikatakan bahwa orang yang memerintah benteng ini sama saja dengan memerintah Norwegia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ormarr Rig Harvarth merebut benteng ini pada tahun 1350, menganggap bangunan ini adalah haknya mengingat seharusnya ia yang menjadi raja dari Scandinavia. Hingga saat ini benteng Akershus ini masih didiami oleh keluarga Harvarth turun menurun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;.::Akhersus Castle::.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/Classique_Bedroom_by_SHEROOO299.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/pond-willow.jpg"&gt;Garden&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/398787.jpg"&gt;Ballroom&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/BeverlyHills-Four-Seasons-Beverly-H.jpg"&gt;Living room 1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/warm_C2.jpg"&gt;Living room 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/Study_room_Harem_Dolmabahce_March_2.jpg"&gt;Meeting room&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/400-state-dining-room.jpg"&gt;Dining room&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/LibraryoftheNationalPalaceofMafra.jpg"&gt;Library&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/Classique_Bedroom_by_SHEROOO299.jpg"&gt;Master bedroom&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/bedroom_by_gerhanaxz.jpg"&gt;Miranda's bedroom&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/R2_Master_Bedroom_2_by_Semsa.jpg"&gt;Gisselle's bedroom&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/R2_Master_Bedroom_4_by_Semsa.jpg"&gt;Nate's bedroom&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/Kids_by_RanaJudishtira.jpg"&gt;Cassandra's bedroom&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/RenaissanceAlexandria_Library-Loung.jpg"&gt;Odien's room&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-8064809860459776582?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/8064809860459776582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=8064809860459776582' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8064809860459776582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/8064809860459776582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/007-harvarth-history.html' title='007 #Harvarth &amp; Akhersus'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Harvarth%20House/th_800px-Akershus_festning.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-77165341040735188</id><published>2008-12-11T09:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T09:43:50.060-08:00</updated><title type='text'>007 #Cut Scene 1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Nate... &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_0"&gt;tongkat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_1"&gt;sihir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_2"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_3"&gt;bukan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_4"&gt;musuh&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_5"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_6"&gt;kau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_7"&gt;kalahkan&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_8"&gt;kau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_9"&gt;sadar&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_10"&gt;akan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_11"&gt;hal&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_12"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_13"&gt;kan&lt;/span&gt;?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"I'm trying to, father... I'm trying..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_14"&gt;Tongkat&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_15"&gt;sihir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_16"&gt;adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_17"&gt;bagian&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_18"&gt;tubuhmu&lt;/span&gt; yang &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_19"&gt;lebih&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_20"&gt;penting&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_21"&gt;daripada&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_22"&gt;kaki&lt;/span&gt;, &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_23"&gt;kau&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_24"&gt;harus&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_25"&gt;memahaminya&lt;/span&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"I AM trying."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Then just do it!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_26"&gt;Argh&lt;/span&gt;! I will if you just please stop talking &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_27"&gt;everytime&lt;/span&gt; I want to do it!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"...I did?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:78%;" &gt;&lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_28"&gt;Odieneer&lt;/span&gt; Hyperion &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_29"&gt;Harvarth&lt;/span&gt; &amp;amp; Nathan &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_30"&gt;Kehl&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_31"&gt;Harvarth&lt;/span&gt; (8)&lt;br /&gt;1976 -- &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_32"&gt;Menggunakan&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_33"&gt;sihir&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_34"&gt;pertama&lt;/span&gt; &lt;span class="blsp-spelling-error" id="SPELLING_ERROR_35"&gt;kali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-77165341040735188?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/77165341040735188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=77165341040735188' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/77165341040735188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/77165341040735188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/007-cut-scene-1.html' title='007 #Cut Scene 1'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-2138681917812395925</id><published>2008-12-11T04:34:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T19:42:37.637-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Pertama'/><title type='text'>006 #Incident at the Owlery</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya secarik perkamen pendek yang berisi tidak lebih dari tiga kalimat. Tapi Nate tahu ia harus mengirimkannya sesegera mungkin. Hanya Merlin yang tahu apa yang akan dilakukan ayahnya kalau ia tidak membalas surat beliau secepatnya. Alasan kedua, karena ia menginginkan sapu balap. Mari kita berharap ayahnya akan membelikannya sapu baru, yang sebenarnya pasti akan dilakukan oleh ayahnya. Oke, dia memang masih kelas satu. Tapi benar-benar deh, ia tidak mengerti kenapa murid kelas satu tidak boleh memiliki sapu. Peraturan yang sangat konyol, menurutnya. Mungkin ia akan tetap memaksa ayahnya membelikan satu untuknya dan menyembunyikan benda panjang itu dengan suatu cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm? Ada beberapa orang tiba di kandang burung hantu terlebih dahulu. Gadis di Diagon Alley waktu itu, seorang yang ia tidak kenal, dan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Jangan khawatir, Dutie. Bahkan di Slytherin ada juga yang kucurigai sebagai half-blood. Bahkan ada juga di antara mereka yang pure-blood, berlagak membela half-blood hanya karena half-blood itu seorang anak perempuan cantik! Sungguh menjijikkan! Topi Seleksi benar-benar sudah tua dan payah!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---goddamn all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate tergelak mendengar kalimat yang tercetus lagi-lagi dari seorang Mr. Lightdarker yang budiman. Manusia berotak bebal yang lagi-lagi mengatakan omong kosong mengenai darah murni dan segala hal remeh yang n cemoohan pada orang yang sudah mencari masalah dengannya untuk kbenar-benar membuatnya ingin muntah. Sayang sekali kali ini ia sedang mengenakan sweater cashmere perak hadiah dari ayahnya yang harganya sangat mahal, kalau tidak mengingat hal itu, mungkin di sudah benar-benar akan memuntahkan seluruh sarapannya tadi pagi. Berlagak membela darah-campuran hanya karena dia seorang anak perempuan cantik. Kita sependapat dalam hal ini tuan, Solathel memang perempuan yang cantik. Tapi mengatakan bahwa hal yang ia lakukan --menjijikan. Kata yang seharusnya ia lontarkan pada laki-laki brengsek itu, adalah perbuatan yang menjijikan. Orang ini benar-benar mencari masalah dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya merogoh kantung jubahnya, menyentuh benda dingin yang ada di sakunya. Bagus sekali. Selama ada benda ini, ia tidak perlu takut akan kalah. Yang sebenarnya, sudah pasti. Nate dan kalah tidak bisa dimasukan dalam kalimat yang sama. Seharusnya semua orang sudah mengetahui hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:white;"&gt;"Membicarakan tentang seseorang yang kukenal, Lightdarker?"&lt;/span&gt; ujarnya enteng seolah ia hanya mengomentari keadaan cuaca hari itu. Nate mengangkat kepalanya sedikit sementara matanya memancarkan cemoohan untuk dua kalinya, dan kali ini ia tidak berjanji akan memaafkannya semudah itu. Ia tersenyum dengan keramahan yang dibuat-buat, &lt;span style="color:white;"&gt;"aku harus sependapat denganmu, topi seleksi memang payah. Aku heran betapa banyaknya &lt;i&gt;mahluk-mahluk idiot&lt;/i&gt; yang ditempatkan di asrama kebanggan Salazar. Mereka lebih buruk daripada seorang Hufflepuff. Menurutku pribadi, seharusnya mereka tidak usah diterima di tempat ini, hanya akan mendatangkan aib untuk keluarga darah-murni mereka yang &lt;i&gt;tersayang&lt;/i&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harvarth adalah keluarga penyihir tua dengan kebiasaan keluarga darah-murni pada umumnya tapi juga sekaligus tidak umum, karena mereka adalah penyihir Norwegia yang berbeda dengan penyihir Eropa kebanyakan. Tapi cerita itu akan kita simpan untuk lain kali. Yang perlu ditekankan adalah, semua keturunan keluarga Harvarth adalah orang-orang yang memiliki harga diri yang sangat tinggi. Berani macam-macam dengan mereka, maka tanggunglah akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Yeah, kau sudah dengar sendiri kan dari Mr. Chuck, nona Rainier? Jadi, aku nggak perlu repot-repot mengatakannya kepadamu! Aku sangat alergi berbicara dengan seorang Gryffindor, apalagi setelah kutahu kau adalah seorang pembela darah-lumpur! Aku memang Gryffindor, seharusnya kau tau itu, karena jelas-jelas seekor singa jelek telah menangkring di jubahku ini. Dimana kau letakkan matamu, nona?"&lt;/span&gt; Orang yang malang. Dunia tidak pernah berputar sesuai keinginanmu, ya? Yeah, memang banyak orang yang tidak memiliki keberuntungan, nasib, dan takdir yang dimiliki oleh Nate yang memiliki segalanya. Tapi sungguh deh, mendengar orang-orang mengatakan darah-lumpur begini, darah-murni begitu, ia jadi semakin muak. Kalian ingin membela Pangeran Kegelapan? Then go! Tidak usah merusak nama baik Salazar yang terhormat. Pergi sana menyembah Pangeran Kegelapan, dan matilah kalian ketika Pangeran Kegelapan tahu betapa tidak berharganya orang-orang seperti kalian yang hanya bisa berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar.Idiot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:white;"&gt;"Alergi berbicara dengan seorang Gryffindor, eh? Tapi anda sendiri seorang Gryffindor. Apa itu berarti anda juga alergi pada diri anda sendiri?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahan emosi, Nate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:white;"&gt;"Lagipula, anda &lt;b&gt;baru saja&lt;/b&gt; berbicara dengan nona itu, apa alergi anda akan kumat sekarang?"&lt;/span&gt; tanyanya lagi dengan keingin tahuan yang dibuat-buat. Demi Salazar, dia ingin benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak sekarang. Tapi tidak, Nate. Jangan sekarang. Kalau ingin menertawakan mereka, tunggulah beberapa saat lagi. Salazar yang agung, ini sungguh menggelikan. Bahkan mengatakan hal yang tidak kontradiktif saja tidak bisa. Hmpf, dosa apa sih yang ia lakukan sampai harus dipertemukan dengan mahluk semacam ini? Tapi sudahlah Nate, nikmati saja pertunjukan kecil ini. Lagipula, Tuan Muda Harvarth sudah lama tidak beraksi kan? Kita lihat saja, bagaimana kerennya Nate setelah ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;---------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baiklah, kejadian di kandang burung hantu itu memang salahnya. Dan semoga saja ia tidak mendapatkan detensi karenanya. Tapi demi Salazar yang agung, siapa sih yang tidak akan naik darah mendengar seseorang mengataimu 'menjijikan', perlu diulang? Menjijikan. Seperti ia hanya selevel dengan cacing tanah. Dan itu hanya dikarenakan ia membela Michelle pada waktu transfigurasi. Oh, apa dia sudah menyebutkan sebelumnya kalau nona Michelle sekarang sudah menjadi pacarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali masalah kandang burung hantu itu, memang sih, Nate inilah yang terlebih dahulu melancarkan mantera (dengan dukungan Sylar dan Szent tentu saja). Tapi situasi semakin tidak terkendali dan macam-macam terjadi termasuk pingsannya Michelle karena pisau yang dilemparkan oleh si Lightdarker itu. Akhirnya Nate memanggil prefek (tiga prefek dari tiga asrama datang! Wow!) dan mengatakan semua ini kesalahan si brengsek dan kroni-kroninya. Entah apakah pada akhirnya ia akan kena detensi atau tidak. Semoga saja tidak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-2138681917812395925?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/2138681917812395925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=2138681917812395925' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/2138681917812395925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/2138681917812395925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/006-incident-at-owlery.html' title='006 #Incident at the Owlery'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-1833798507630540033</id><published>2008-12-08T08:35:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T19:42:12.430-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Signatures'/><title type='text'>005 #Signature</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Signature of Nate made by other IH's members&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ramon Boulstridge's work:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nathansig1.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nathansig1.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nathansig2.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nathansig2.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nathansig3.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/nathansig3.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Voe Goscinny's work:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/2a7eg4n.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/2a7eg4n.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ivy Alexey Robson's work:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/mme642.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 350px; height: 150px;" src="http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/mme642.png" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Thanks a lot, guys!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-1833798507630540033?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/1833798507630540033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=1833798507630540033' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/1833798507630540033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/1833798507630540033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/005-signature.html' title='005 #Signature'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i376.photobucket.com/albums/oo210/NateHarvarth/Signature/th_nathansig1.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-7406019629739009725</id><published>2008-12-07T09:35:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T19:42:03.683-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Quotation'/><title type='text'>004  #Quote</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tapi aku, &lt;i&gt;tidak sepertimu&lt;/i&gt;, memiliki banyak hal yang lebih membanggakan daripada darah yang mengalir didalam tubuhmu. Dan aku, &lt;i&gt;tidak sepertimu&lt;/i&gt;, punya sopan santun yang lebih baik daripada mengatakan hal-hal seperti yang kau katakan itu di depan umum. Karena aku, &lt;i&gt;tidak sepertimu&lt;/i&gt;, adalah orang yang sangat keren, sementara kau, &lt;i&gt;tidak seperti aku&lt;/i&gt;, adalah orang yang sangat memuakkan. ---&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nathan K. Harvarth&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*credits to J.K. Rowling atas kalimat Draco di buku 5*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-7406019629739009725?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/7406019629739009725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=7406019629739009725' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7406019629739009725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7406019629739009725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/004-quote.html' title='004  #Quote'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-7708394306723633263</id><published>2008-12-07T02:40:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T19:41:59.809-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Pertama'/><title type='text'>003 #Kelas Transfigurasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelas transfigurasi bersama si nenek keriput. Pelajaran pertama tahun ini pula. Malasnya... Semoga tidak akan ada tugas, pekerjaan rumah atau apapun. Kalau ada, semoga saja Szent atau Sylar mau berbaik hati untuk 'meminjamkan' pekerjaan mereka. Ah, tapi kalau hanya pekerjaan kelas satu seperti ini sih, bukan masalah besar untuk Nate. Tidak ada hal yang tidak bisa ia lakukan, tentu saja. Seolah hal sepele itu sulit baginya. Meskipun dia berandalan (atau apapun sebutan yang pantas untuknya) bukan berarti ia anak bodoh, kan? Tidak. Ia sangat pintar, jenius bahkan. Transfigurasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mengangkat bahu dan melenggang masuk ke dalam kelas dengan gayanya yang cuek seolah dia memiliki seluruh dunia seperti biasa. Bocah itu sempat melayangkan pandangannya pada seisi kelas yang sudah lumayan ramai. Setelah mengambil posisi duduk di tengah kelas, tepat di sebelah Sylar dan tidak jauh dari Szent ia mengeluarkan tongkatnya dan memutar-mutarnya dengan ekspresi santai. Tampaknya sama sekali tidak takut kalau-kalau tongkat itu tiba-tiba menyihir seseorang dan menyebabkan kekacauan. Sekali-sekali ia melirik kanan-kiri, mengamati beberapa orang yang sudah berada di sana. Sampai ia menangkap sosok nenek keriput yang mulai memberikan ceramah mengenai mantra pengubah tisue menjadi perkamen. Puhh. Sungguh mantra yang tidak penting... apa gunanya mengubah tisue menjadi perkamen kalau dia punya cukup banyak uang untuk membeli segudang perkamen kualitas nomor satu? My, my... tampaknya sekolah ini hanya mengajarkan hal-hal merepotkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya ayah mendengar hal ini, pasti beliau akan berpikir dua kali sebelum memasukannya ke sini. Bagaimanapun, katanya kualitas murid-murid Dumstrang lebih baik daripada sekolah mainan ini. Apalagi kepala sekolah Dumstrang sekarang adalah kenalan beliau... Ah, seandainya ia dulu berpikir lebih jauh mengenai bersekolah di tempat ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate menatap selembar tisue yang melayang ke meja di depannya. Ia menatapnya dengan tatapan bosan, hampir-hampir tidak punya niat untuk mengangkat tongkatanya dan mengatakan mantra pengubah itu. Bocah berambut kecoklatan itu hanya memutar-mutar tongkatnya dengan tatapan bosan, sebelum cengiran sombong muncul di wajahnya. Ia menoleh ke arah Sylar dan berkata cepat, "eh, Sylar... menurutmu kali ini siapa yang lebih cocok jadi targetku? Meskipun sebenarnya membosankan, ya. Sama sekali bukan tantangan kalau mereka begitu saja meleleh dengan satu dua kata manis dariku. Kalau bukan karena wajah mereka yang cantik, Arlyn, Milliane, dan yang lain, kurasa aku tidak akan pernah tertarik pada mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nate mengatakan semua itu dengan nada merendahkan, seolah tingkatannya jauh di atas nama-nama yang ia sebut. Dalam pandangannya, memang begitulah adanya. Kesombongan yang kelak mungkin akan menghancurkannya. Tapi untuk saat ini, ia tidak merasa hal itu akan terjadi padanya. Dia hebat, ayahnya salah seorang penyihir paling sukses dalam sejarah. Siapa yang berani berada di jalannya? Tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fan.Dan.Go."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tisuenya bergetar sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Crap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;--------------------------------------------------&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas pertama di tahun ajaran ini dan dia sudah bertemu dengan mahluk-mahluk menyebalkan yang merasa diri mereka hebat karena mereka menyebut diri mereka sebagai darah murni. Oke, memang salah satu diantaranya akhirnya mengajaknya berdamai. Tapi ia rasa itu karena mereka tidak mengetahui... forget it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin ia memberitahukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tebak, ada dua orang saudara jauhnya yang satu angkatan dengannya. Corleone dan Duske. Nice, nice... Meskipun ia sempat bertengkar dengan musang--er, Corleone itu. Tapi yang paling disukainya di kelas itu adalah, saat ia mengajak seorang gadis cantik bernama Michelline Fara Solathel yang sudah menerima ajakannya untuk menjalin hubungan. Yang berarti ia memenangkan taruhannya dengan Sylar dan ia bisa menyuruh temannya itu untuk melakukan apapun yang ia mau. Yeah!&lt;i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-7708394306723633263?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/7708394306723633263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=7708394306723633263' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7708394306723633263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/7708394306723633263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/003-kelas-transfigurasi.html' title='003 #Kelas Transfigurasi'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-3817310960651370496</id><published>2008-12-03T06:33:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T19:41:44.477-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Pertama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Slytherin'/><title type='text'>002 #Slytherin here I come!</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Slytherin!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itu yang diteriakan oleh topi berkutu itu. Hmpf, sudah ia duga. Bagaimana ia tidak dimasukan ke dalam asrama ular itu? Semua orang tahu keluarga Harvarth turun temurun bercokol di sana. Dan dia tentu saja mengikuti tradisi itu yang pastinya akan membuat ayahnya bangga padanya dan ibu tirinya tersayang hanya bisa menjambak rambutnya karena frustasi atas prestasi yang diraihnya. Nah, itu baru yang ia sebut kemenangan. Telak. Hahaha, ia tidak sabar menunggu pulang ke rumah untuk melihat ekspresi wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih tentang asrama, ini hebat sekali. Semua orang tahu Nate paling cocok mengenakan jubah warna emerald. Dan bayangkan kalau nanti ia masuk ke dalam tim quidditch? Wow. Ayah pernah bilang, adalah suatu kejahatan kalau ia sampai tidak terpilih masuk ke dalam tim asrama. Dan Nate harus setuju dengan perkataan beliau. Bagaimanapun dia adalah sang Nathan Kehl Harvarth yang sudah bermain quidditch sejak masih sangat-sangat kecil, tentu saja dia HARUS terpilih. Oke, dia memang masih kelas satu. Tapi benar-benar deh, ia tidak mengerti kenapa murid kelas satu tidak boleh memiliki sapu. Peraturan yang sangat konyol, menurutnya. Mungkin ia akan tetap memaksa ayahnya membelikan satu untuknya dan menyembunyikan benda panjang itu dengan suatu cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu apa lagi yang hebat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga seasrama dengan Sylar dan Sent! Bayangkan segala hal yang dapat mereka kerjakan nanti... Apalagi kalau sudah senior nanti... bisa membully anak baru, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cool&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-3817310960651370496?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/3817310960651370496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=3817310960651370496' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3817310960651370496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3817310960651370496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/002-slytherin-here-i-come.html' title='002 #Slytherin here I come!'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1106623596700324206.post-3602079331694057508</id><published>2008-12-02T03:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-02T03:44:06.164-08:00</updated><title type='text'>001 #Seleksi Asrama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya hari ini datang juga. Ia kini berdiri di aula megah yang disebut-sebut aula besar kebanggaan Hogwarts dengan langit-langit sihirnya yang terkenal itu. Pufh. Ternyata tidak sehebat yang ia banggakan, oke. Mungkin memang lebih besar daripada aula rumahnya, tapi ia pernah melihat yang lebih besar. Tepatnya waktu ayahnya --Mr. Harvarth senior mengajaknya ke rumah bangsawan Italia yang sangat SANGAT kaya dan terkenal itu beberapa waktu yang lalu. Hogwarts ini, masih kalah megah dengan kastil tersembunyi di Vatikan itu! Tahu apa yang lebih hebat lagi? Pemilik kastil, sang bangsawan Itali yang terkenal itu, adalah sepupu jauh dari ayahnya. Mengertikan betapa hebatnya keluarga Harvarth tempat ia dilahirkan ini? Tentu saja bukan hanya di Itali. Di banyak negara-negara besar di Eropa dan Asia timur, penyihir-penyihir kelas atas di sana pun masih ada hubungannya dengan keluarga besar Harvarth. Sebutlah nama keluarga kebanggaanya itu di sana, tidak akan ada yang mengatakan tidak mengetahuinya. Apalagi kalau pergi ke Norwegia, di mana keluarga Harvarth adalah keluarga penyihir yang PALING dihormati di sana. Hebat? Tentu saja. Memangnya kalian pikir kenapa Nate sangat, sangat, menjunjung tinggi nama keluarganya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;But enough about that.&lt;/i&gt; Tahu tidak hal apa yang membuatnya benar-benar berpikir sekolah ini benar-benar sialan? Tradisi menyebrangi danau. Wow. Sangat menarik, inspiratif, menyenangkan... &lt;i&gt;Like hell&lt;/i&gt;. Dia memang sudah berpikir bahwa tradisi ini konyol, tapi dia salah. Tradisi ini mengerikan dan harusnya sudah dihapus dari ratusan tahun yang lalu. Menyebrangi danau yang hitam pekat.... brr... kalau bukan karena berusaha mempertahankan imej di depan gadis yang kebetulan seperahu dengannya, ia pasti tidak akan mau naik ke perahu itu. Ufh, lebih baik ia pulang dan meminta dipindahkan ke Dumstrang --dimanapun sekolah itu berada. Yang sebenarnya bukan ide yang buruk kalau saja Sylar dan Szent juga ikut pindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ngomong-ngomong soal sekolah, guru yang mengantar murid-murid baru tadi dan juga kebanyakan guru-guru lainnya yang duduk di meja panjang (yang sepertinya diperuntukan untuk para staff pengajar), kenapa tidak ada yang memiliki selera yang bagusan sedikit, sih? Memang sih, Nate sendiri lebih suka pakaian muggle yang menurutnya lebih bergaya dan keren. Tapi bahkan jubah pun ada yang bagus, seperti yang dibelikan ayahnya waktu itu. Jubah buatan penjahit Perancis yang terkenal: Theophile --yang untuk mendapatkan satu saja jubah buatannya harus mengantri kira-kira setahun. Ah, tapi karena tentunya upah sebagai guru memang rendah... Hahaha, padahal kalau mereka mau bekerja sebagai assisten pribadi ayahnya (kata yang lebih baik daripada pelayan atau pembantu) upah mereka bisa lebih besar! Tapi tentu saja di antara mereka yang mengatakan mengajar adalah sebuah berkah, ilmu harus diturunkan, mendidik karena mereka suka, dan segala macam omong kosong lainnya. Hmpf. Padahal melihat seribu galleon di depan mata saja, mereka pasti sudah berteriak-teriak seperti kesetanan untuk mengambil emas itu. Kasihan sekali orang-orang yang tidak memiliki kekayaan sepertinya. Malang, malang... bermimpilah kalian agar bisa seperti seorang Nathan Kehl Harvarth yang kehidupannya bergelimang harta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;"Harvarth, Nathan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oops, dia sudah dipanggil. Seleksi asrama, ya? Memakai topi buduk ini, ew... semoga saja ia tidak jadi kutuan. Sehabis ini ia benar-benar HARUS mencuci rambutnya 3 kali. Kuman dan kutu, adalah dua hal yang paling tidak bisa ia tolerir. Bagaimana ia bisa menggaet kaum hawa kalau tubuhnya dipenuhi mahluk-mahluk menjijikan itu? Ew. Jangan.Sampai.Hal.Itu.Terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bicara tentang seleksi asrama, katanya tidak akan ada seorang pun yang tahu akan ditempatkan di mana sampai mereka dihadapkan pada topi seleksi (yang entah bagaimana caranya bisa jadi penentu asrama mengingat wujud topi itu sudah sangat abstrak, kumal dan sejuta kata lain yang cocok untuk menggambarkan ketidak-beradabannya topi itu). Tapi kembali soal asrama, dari empat asrama kira-kira ia akan masuk kemana, ya? Ia tahu tiap asrama memiliki kualitasnya tersendiri (ia masih sempat mendengarkan lagu yang dinyanyikan si topi meskipun sambil meringis karena lagu yang aneh itu). Berani, pintar, ambisius, dan loyal. Berani? Ia memang berani! Selama di belakangnya ada Sylar dan Szent yang bisa menghajar siapapun yang berani menghalangi jalan mereka, tentu saja Nate sangat berani! Siapa yang takut? Menghadapi trol saja dia berani, kok. Ehm, oke, selama ada pasukan auror yang siap melindunginya sih, dia berani. Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAPI dia itu pemberani. Awas kalau ada yang mengatakan sebaliknya. Nate akan mengutuknya hingga melewati tujuh samudera! Lalu kualitas kedua, pintar. Tentu saja Nate ini sangat pintar. Lihat saja dari mukanya yang tampan dan cerdas. Ia ini didikan keluarga hebat, mana mungkin ia tidak pintar. Selama pengawasan ujian tidak ketat, ia pasti dengan mudah akan mendapatkan nilai sempurna! Ah, tapi peduli setan dengan asrama dan kualita yang diinginkan. Ia masih bisa berkumpul bersama Sylar dan Szent, bisa melakukan kekacauan dan menggoda nona-nona yang banyak berseliweran di Hogwarts, bisa melakukan apa saja yang ia inginkan, itu saja sudah cukup. Pufh. Memangnya ada apa dengan asrama, sih? Tidak sepenting itu kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau bisa, ia ingin mendapat asrama yang tempatnya bisa digunakan untuk macam-macam aktifitas &lt;i&gt;menyenangkan&lt;/i&gt;. Mencari orang dan menyudutkan mereka, kalau perlu mengeroyok orang itu sampai mereka menyembah-nyembah minta ampun... Pasti sangat seru. Ia jadi ingat beberapa hari sebelum ia mendapat surat dari Hogwarts. Ibu tirinya yang brengsek itu baru saja mencelanya di depan wanita-wanita perkumpulannya, bahwa Nate itu tidak berguna, karena tentu saja dia kan anak hasil perselingkuhan. Sejak kapan anak haram berguna untuk orang-orang? Sialan. Mengingat perkataan itu saja sudah membuat darahnya mendidih. Ia benar-benar sudah tidak sabar menanti ulang tahunnya ke 17 nanti, saat ia bisa mengusir wanita jalang itu dari tanah Harvarth. Lalu ia akan menyuruh anak buah ayahnya (yang nanti sudah akan menjadi bawahannya juga) untuk menemukan mantan ibu tirinya itu dan memastikan wanita itu sampai di tempat yang paling pantas untukknya, &lt;i&gt;neraka.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh, tapi bukan itu yang penting (oke, itu penting, tapi akan ia pikirkan nanti kalau sudah lebih besar), jadi di hari itu ia langsung kabur mendatangi kediaman Lazarus. Untungnya, seperti biasa, Sylar hanya ditemani pesuruh dan peri rumah. Jadi Nate bisa menculiknya dari rumah itu -yang sebenarnya sudah sering ia lakukan-- dan mengajaknya (dan Szent yang bergabung kemudian) bermain ke tempat bilyard muggle di tengah kota. Tidak ada anak seumuran mereka di sana. Tapi itu bukan halangan untuk mereka bersenang-senang. Di sana, ia pertama kali mengenal apa yang kemudian diketahunya disebut rokok. Benda muggle itu keren. Sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia jadi ingin menghisapnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seulas senyum culas muncul di wajahnya. Merasa sudah menunggu terlalu lama, ia akhirnya duduk di kursi dan memakai topi kumal --yang benar-benar ia harapkan tidak memiliki kutu. Dari tempat itu ia bisa melihat sekeliling aula, membuatnya merasa superior sehingga ia sedikit menengakkan kepalanya. Sudut bibirnya melengkung, memberikan senyuman angkuh lainnya. Sampai ia mendengar suara dari dalam kepalanya (suara topi itu, kah?), dan ia akhirnya membatin, &lt;i&gt;'sebenarnya kemanapun aku masuk adalah kehormatan untuk asrama itu, tapi bayangkan tinggal di Hufflepuff.... euh, aku akan pindah sekolah kalau aku benar-benar terpilih masuk asrama musang itu.'&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1106623596700324206-3602079331694057508?l=nathankharvarth.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/feeds/3602079331694057508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1106623596700324206&amp;postID=3602079331694057508' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3602079331694057508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1106623596700324206/posts/default/3602079331694057508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nathankharvarth.blogspot.com/2008/12/001-seleksi-asrama.html' title='001 #Seleksi Asrama'/><author><name>Frilla</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09385393382319425008</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_nRf0fLQziUY/SRGoOFjvInI/AAAAAAAAAA8/7zdk6SQbT74/S220/AL.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
